
"Aku heran kenapa dia ingin menemui ku?"
"Sempat ku perhatikan tatapan matanya tadi, tatapannya begitu sedih? Apa dia menyimpan sebuah rahasia? Dan ingin aku mengetahui rahasia itu?"
"Ah tidak, tidak! Aku harus menjauh darinya. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara aku dan dia di mata orang lain."
Halim bergumam sendiri setelah kepergian Halima.
"Sebaiknya aku segera tutup toko ku, aku ingin beristirahat. Tubuhku sangat lelah hari ini. Membersihkan satu toko yang ukuran tidak besar seperti ini, padahal capeknya luar biasa."
Halim masih bergumam. Lalu ia menyusun barang seperti biasanya dan menutup tokonya.
Ia segera pulang kerumah dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Semestinya kapal malam ini sudah tiba di pelabuhan kota B. Besok anak dan istriku sudah bisa menerima oleh-oleh yang ku kirimkan pada mereka lewat Anton."
"Aku sangat merindukan kalian, kalian baik-baik disana dan tunggu Papa menjemput kalian nanti."
gumamnya sambil tersenyum membayangkan wajah ceria anak dan istrinya.
Lama kelamaan ia tertidur dengan terlentang. Kini ia memasuki alam di bawah sadarnya.
Ia sedang berjalan di sebuah jalan yang sempit dan sedikit gelap. Ia mendengar suara seorang perempuan yang sedang menangis.
Halim mencari asal suara tersebut, setelah sampai pada suara itu, Halim menghampiri perempuan itu. Ia menangis mengapit wajahnya pada kedua lututnya. ia mengangkat wajahnya. Halim terkejut, ia mengenali sosok perempuan itu.
"Halima?" ucapnya pelan. Halim berdiri dan melangkah meninggalkan Halima sendiri.
"Tunggu! Jangan pergi!" Halima menahan Halim dengan suara sendu.
Halim berhenti, namun tidak menoleh. Ia menanti kalimat apa yang akan di utarakan oleh Halima.
Namun Halima tidak kunjung berbicara, Halim menjadi bingung. Ia memutar badannya dan melihat ke arah Halima.
Ia terkejut karena ia melihat darah mengalir keluar dari pergelangan tangan Halima. Dengan cepat Halim mendekati Halima yang sudah terbaring. Ia memangku kepala Halima.
"Halima, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu begini?" Halim bertanya panik dan juga khawatir.
"Halim, aku tidak ingin hidup! Aku ingin mati!" Halima menjawab pertanyaan Halim dengan suara rendah menahan sakit dan perih yang di rasakan dari pergelangan tangannya yang dia iris sendiri.
"Jangan gila! Hidup dan mati bukan urusan mu! Itu urusan yang maha kuasa!" Halim menasihati Halima yang kesadarannya sudah lemah. "Bertahanlah! Aku akan membawamu ke rumah sakit!" Halim menggendong Halima dan berjalan keluar dari lorong gelap itu.
Halima menggeleng, "Jangan menolongku! Aku tidak ingin hidup! Tolong, kuburkan jasadku dengan baik nanti jika aku sudah mati." ucapnya lalu ia tidak sadarkan diri, sedangkan Halim tidak mengetahuinya.
Halim terus melangkah hingga ia keluar dari lorong gelap. Ia berhenti sejenak. Ia melihat wajah Halima yang sudah pucat dan dingin.
"Halima! Halima, bangun! Halima!"
"Halima!" Halim tersadar dari mimpinya dengan memanggil nama Halima. Ia terduduk di ranjangnya.
"Astaghfirullah! Ini mimpi seperti nyata sekali!" ucapnya sambil menyapu wajahnya dengan kedua tangannya. "Bagaimana bis a-aku memimpikan dia?" Ia melirik jam dinding pukul 6:15 sore.
"Sudah mau Maghrib, sebaiknya aku mandi."
Halim segera mandi dan bersiap untuk ke masjid untuk menunaikan shalat Maghrib berjamaah dengan para jamaah lain.
__ADS_1
Usai shalat ia duduk-duduk sebentar di dalam masjid. Ia memikirkan kembali mimpinya itu.
"Kamu sedang memikirkan sesuatu, Halim?" tanya seseorang sambil duduk di sampingnya Halim.
Halim terkejut mendengar suara di dekatnya, ia melirik di sampingnya. Halim menyapanya pria itu karena ia mengenal nya.
"Bapak? Bapak baru kelihatan lagi disini? Bapak darimana?" ucapnya bertanya kepada pria tua yang pernah di temui nya dulu.
Bapak tua itu tersenyum, "Bapak tidak kemana-mana, hanya kamu saja yang tidak mengenali Bapak." jawabnya dengan santai.
"Tidak mungkin! Aku tidak, tidak mengenali Bapak." Halim membela diri.
"Buktinya, kalau bukan Bapak yang menghampirimu, kamu tidak akan menghampiri Bapak, kan? Padahal Bapak ada disana." Bapak tua menjelaskan sambil menunjuk tempat duduknya sebelum ia menghampiri Halim.
"Maaf, Halim tidak menyadarinya." ucap sesal Halim.
Bapak tua itu tertawa kecil, "Tidak apa anak muda! Bapak perhatikan kamu sepertinya sedang memikirkan sesuatu, apa yang kamu pikirkan?" ucap Bapak tua itu ingin tahu.
"Bapak lebih tahu apa yang sedang ku pikirkan." ucap Halim merendah. Ia tahu Bapak tua itu pasti tahu apa yang ada di pikirannya. Seperti yang ia tahu akan istri dan anaknya.
Bapak tua itu kembali tersenyum kecil lagi, "Kamu terlalu memuji anak muda! Sebentar lagi akan masuk Isya. Bapak ingin berpesan sesuatu, apakah kamu ingin mendengarnya?"
"Iya, dengan senang hati," jawab Halim tulus, "Silahkan berbicara, aku mendengarkan." lanjutnya mempersilahkan bapak tua itu untuk berbicara.
"Kamu memang orang baik, Nak! Kamu boleh menolong orang, tetapi kamu juga harus memperhatikan dirimu. Jangan sampai kebaikan mu di salah artikan oleh orang. Dan jangan kamu tergoda dengan bujukan setan, karena mereka musuh nyata bagi manusia." ucap pria tua itu dengan serius.
Halim merasa bingung untuk mengartikan ucapan bapak tua itu. Ia ingin bertanya lebih lanjut tapi sayangnya, adzan Isya sudah berkumandang.
"Mari kita ambil wudhu dan shalat bersama-sama." ajaknya pada Halim.
Terpaksa Halim memendam penasarannya lagi akan ucapan itu. Ia berpikir hal ini akan terulang lagi seperti waktu itu. Bapak tua akan menghilang saat mereka akan bersalaman usai shalat. Jadi tidak ada kesempatan baginya untuk bertanya lebih lanjut.
Sebenarnya siapa pria tua itu? Selalu menghilang di saat selesai shalat. Apa aku akan bertemu dengannya lagi nanti? Katanya dia tidak kemana-mana, hanya aku saja yang tidak mengenalinya. Ini sungguh teka teki yang sulit untuk ku jawab.
batin Halim sambil berjalan pulang kerumahnya.
Karena ia melamun, ia tidak memperhatikan sekitarnya, hingga ia di tabrak oleh seorang wanita yang sedang berlari dengan ketakutan. Beruntung nya ia hanya bergeser saja dari tempat berdirinya.
"Maaf!" ucap wanita itu tanpa memandang Halim dan lanjut berlari dengan kuat. Halim hanya berdiri mematung memperhatikan wanita yang sedang berlari itu.
"Hei! Berhenti di sana!"
Halim menoleh ke asal suara yang menyuruh wanita yang menabraknya tadi untuk berhenti.
Ia melihat tiga orang pria sedang berlari dengan ngos-ngosan melewati dirinya mengejar wanita yang menabraknya itu.
Halim tidak ingin ikut campur urusan orang lain. Ia acuh saja dan lanjut berjalan hingga sampai ke rumah.
Halim segera masuk ke dalam rumah, ia langsung bergabung Denis dan yang lainnya di meja makan. Ia mengambil piring dan menyendok nasi juga lauk pauk, lalu ia makan dengan diam bersama Denis dan yang lainnya.
Setelah selesai makan, para karyawan Anton masuk ke kamarnya untuk istrahat meninggalkan Denis dan Halim di meja makan.
Denis menyeduh dua cangkir teh dan mengajak Halim untuk duduk sebentar di teras rumah sambil menikmati secangkir teh.
"Bang, kedepan yuk! Kita duduk sebentar di sana menikmati angin sambil minum ini." ajak Denis sambil menaikan kedua tangannya yang memegang dua cangkir teh.
__ADS_1
Halim mengikuti Denis. Mereka duduk bersampingan. "Bang, tadi Denis pergi ke tokonya Abang, tapi Abang sudah tutup, Abang kemana?" tanya Denis penasaran.
"Oh, Abang tidak kemana-mana, Abang memang tutup tempo tadi, Abang capek habis membersihkan toko. Jadi Abang pulang kerumah untuk istrahat." jelasnya sambil melirik Denis. "Mengapa kamu ke tokonya Abang?" tanyanya sambil meneguk tehnya.
"Tidak ada apa-apa, Bang. Denis hanya jalan-jalan saja ke tokonya Abang." jawab Denis sambil menunduk.
Lagaknya itu membuat Halim berpikir sesuatu, "Jangan bohongi Abang! Abang tahu ada yang ingin kamu bicarakan, dan ini juga alasan kamu membuatkan Abang teh, dan mengajak Abang kesini, iya kan?"
Denis tersenyum kecut, "Ah Abang ini, selalu saja bisa membaca gerak gerik Denis. Ab_"
"Udah, katakan saja! Jangan membual yang tidak jelas lagi!" sanggah Halim. Ia kembali menyesap tehnya.
Denis berdecak, "Abang, aku melihat Samnia mencium Abang. Apa Abang menyukai Samnia?" tanya Denis sambil menunduk, ia tidak berani memandang Halim.
Halim memukul jidat Denis. "Aduh, sakit Bang!" keluh Denis, "Kenapa memukulku?" tanyanya bingung.
"Isi kepala mu sangat kotor, makanya Abang pukul." jelas Halim sambil memukul pelan jidat Denis dengan telunjuknya.
"Kamu kan tahu Abang sudah punya istri dan anak. Mengapa Abang harus menyukai wanita lain? Apalagi si Samnia, tidak ada alasan untuk Abang menyukainya." jelas Halim.
Halim terfikir sesuatu, ia tersenyum mengejek Denis, "Abang tahu, kamu sedang cemburu sama Abang? Kamu naksir Samnia?" tanyanya sambil memandang wajah Denis.
Muka Denis memerah, menahan malu. Memang tidak sewajarnya ia cemburu pada Halim yang sudah berkeluarga. "Tapi kenapa Samnia mencium Abang?"
"Abang tidak tahu, dia mencium Abang dengan tiba-tiba." jelas Halim. "Kamu tenang saja. Nanti Abang bantu kamu jadian sama Samnia."
Denis tersenyum senang, "Benarkah Abang akan membantu ku?" tanyanya memastikan.
Halim menghabiskan sisa tehnya lalu menjawab pertanyaan Denis. "Tergantung sih dari sikapmu!"
"Yah, Abang gimana sih! Denis kan selalu baik sama Abang! Masa Abang gak bis bantu Denis!" sahut Denis tidak terima.
"Abang akan membantu, tapi semua tergantung dari Samnia nya sendiri, untuk bisa menjadikanmu pacarnya. Dan satu lagi, kamu gak cemburu jika Abang berdekatan dengan Samnia?" Halim sengaja menggoda Denis.
"Abang!" Denis menjadi malu. Halim tertawa senang karena sudah menggoda Denis. Ia melangkah masuk kedalam rumah yang sebelumnya mengucapkan terima kasihnya kepada Denis karena sudah membuatkan teh untuk dirinya.
"Terima kasih tehnya. Sesuai dengan kesukaanku. Abang masuk duluan, kamu jangan lama-lama disini. Cepat habiskan teh mu dan segera masuk istrahat. Ingat! Kunci pintu baik-baik, dan periksa jendela sebelum kamu tidur." pesannya kepada Denis.
"Ok, Bang!" sahut Denis.
Halim segera masuk dan menuju ke kamarnya.
Ia kembali memikirkan mimpinya, dan juga perkataan pria tua di masjid.
"Apa mimpiku dan nasehat bapak tua itu ada hubungannya, yah?"
"Bapak tua itu sungguh ia membuat otak ku berfikir lebih keras. Tapi aku senang, karena ada seseorang yang selalu menasihati ku."
"Jika aku pikir-pikir lagi, suara wanita yang menabrak ku sama persis dengan suara Halima. Apa mungkin itu dia?"
Halim berbicara sendiri. Puas beragumen dengan pikirannya, ia memutuskan untuk beristirahat.
Sedangkan Denis, ia masih asyik duduk sendiri di teras sambil memikirkan Samnia.
"Samnia, kamu pasti jodoh ku yang dikirim Allah untuk ku."
__ADS_1
Denis menghabiskan tehnya dan masuk kedalam rumah. Ia mengunci pintu dan memeriksa semua jendela lalu ia pergi ke kamarnya untuk istirahat.
"Samnia, mau kah kamu hadir dalam mimpi ku, malam ini? Aku ingin memimpikan mu!" gumam Denis sebelum ia tertidur.