
Geo meninggalkan dapur setelah kepergian Syakila. Ia pergi ke depan, ia tidak melihat Syakila di sana, ia pergi ke kamar, Syakila juga tidak berada di sana.
”Kemana perginya dia? Apa dia berada di taman bunga?”
Geo pergi ke taman bunga, meskipun agak sedikit susah jalan untuk pergi kesana, ia tetap pergi kesana dengan berhati-hati mendorong kursi rodanya sendiri. Ia melihat Syakila sedang duduk melamun memandang bunga-bunga di depannya.
”Apa yang kamu lamun kan?” tanyanya.
Ia sekarang berada di belakang Syakila. Syakila menoleh, melihat Geo.
”Geo, mengapa kamu kesini? Kamu kan tahu jalan menuju kesini kurang bagus. Apa kamu tidak takut jika terjatuh nanti?”
Geo tersenyum tipis, ”Apa kamu mengkhawatirkan suami mu ini? Tenanglah, aku bisa berhati-hati, jalanan ini tidak begitu menyusahkan ku.”
”Apa yang kamu pikirkan?” tanyanya lagi pada Syakila.
”Tidak ada!”
Geo menghela nafas, ”Apa seperti ini pertemanan kita? Bukankah kita sudah sepakat semalam untuk saling berbagi sebagai teman? Atau kamu sudah melupakan pembicaraan kita semalam?”
Syakila mendengus, ”Kita berteman, tapi, ada hal yang bisa ku bicarakan dengan mu dan ada juga yang tidak bisa ku bicarakan padamu. Untuk pribadi ku, cukup aku sendiri yang tahu.”
”Apa kamu juga membatasi Sardin seperti itu?”
Syakila melihat Geo yang memandangnya dengan serius.
Apa arti tatapannya itu? Wajahnya terlihat datar namun sedih. Apa dia mengira tempat ku berbagi segalanya adalah Sardin? Pria yang belum menjadi suami ku? Iya, jika Sardin adalah suamiku atau siapapun yang akan menjadi suamiku, aku akan bersandar dan menjadikan dia tempat ku berbagi segalanya. Apa Geo mengharapkan dia tempat ku berbagi? Tidak, aku tidak bisa, dia bukan suami kami hanya diikat dengan tali pernikahan, tapi, kami bukan suami istri yang sesungguhnya. Lagi pula, kami berdua sama-sama tidak saling mencintai.
”Iya,” jawabnya seketika.
Geo terdiam, Syakila memalingkan wajah.
Seperti apa yang di katakan Hardin, Syakila memang tertutup untuk urusan pribadinya kepada orang lain. Tempat ia bercerita bebas tentang kehidupannya tanpa ada keraguan hanyalah Halim, almarhum ayahnya. Syakila, bisakah aku menjadi pria beruntung yang bisa kamu jadikan tempat untuk berbagi susah dan senang mu?
”Syakila, jika kamu butuh tempat untuk berbagi, jangan ragu untuk mendatangi ku. Aku akan mendengarkan mu. Jangan kamu membatasi dirimu karena status suami istri kita yang palsu.” ucap Geo
Tanpa di sadari oleh Syakila dan Geo, Fatma yang juga sedang berada sisi lain taman bunga tersebut, mendengar pembicaraan mereka.
Apa? Jadi, hubungan Syakila dan Geo hanyalah sepasang suami istri palsu!! Ada apa ini? Apakah benar pernikahan mereka beberapa bulan yang lalu itu palsu? Tidak, ini tidak benar!!
Fatma benar-benar terkejut mengetahui status pernikahan antara adiknya, Syakila dan Geo. Ia masih tetap berada di posisinya untuk lanjut mendengar pembicaraan mereka.
Syakila menoleh melihat Geo, ia tersenyum tipis.
”Iya, jika aku merasa kan nyaman untuk berbagi dengan mu, barulah aku akan berbagi.” Ia kembali melihat ke arah bunganya lagi.
Semenjak kami berada di sini. Sikap Geo memang berubah padaku, dia menampakkan kasih sayangnya padaku juga perhatian padaku. Dia juga berucap lebih lembut dan mengontrol emosinya, apakah dia tulus? Ataukah hanya karena ia memenuhi permintaan ku saja?
Syakila menghela nafas, ia memejamkan mata.
Tapi aku tidak bisa membalas perhatiannya yang lembut itu padaku. Aku hanya akan perhatian kepada kekasihku saja. Sikap ku padanya selama ini hanyalah sikap karena statusku adalah istrinya.
”Geo, jika kamu pingin istrahat, bilang saja, aku akan membawamu ke kamar.” ucapnya kemudian.
”Aku memang ingin istrahat, tetapi, aku ingin kamu menemani ku di kamar.”
”Baiklah,” Syakila menurut.
Ia mendorong kursi roda Geo ke rumah. Fatma melihat punggung mereka berdua yang berjalan menjauh dari taman dengan pandangan bingung, iba, sekaligus pandangan tak percaya.
”Lalu, apa arti kemesraan yang mereka berdua tunjukkan beberapa hari ini? Apakah mereka berdua hanya berakting bahagia di hadapan keluarga? Bagaimana bisa mereka berdua hidup seperti itu? Apa hati mereka tidak sakit menjalani pernikahan bohongan seperti itu? Apa mamanya Geo mengetahui pernikahan mereka yang seperti ini? Bahkan, kami pun tidak tahu mereka menjalani pernikahan palsu, jika aku melewatkan pembicaraan mereka, aku juga tidak akan tahu tentang ini. Apa aku harus beritahu mama?” gumamnya.
.. ..
Di Hotel kota S.
”Hum, suasana di kota ini boleh juga. Aku ingin menjelajah kota ini dulu. Ingin merasakan hawa angin, udara di kota ini.” gumam Antonio.
Ia keluar dari hotel, ia menyewa sebuah mobil untuk dia kendarai sendiri dari jasa penyewa mobil.
Ia benar-benar meluangkan waktunya untuk berkeliling dan mempelajari jalan-jalan yang ada di kota S dan tempat wisata yang menarik dari kota S.
”Disini memang menyenangkan, pantas saja Geo membangun sebuah villa disini.”
Trrtrtrrt
Handphonenya berbunyi, ia meraih hapenya, melihat sekilas di layar. Dahinya mengerut.
”Vian? Mengapa ia menghubungiku? Apa dia sudah tahu keberadaan ku disini?”
Antonio mengangkat telfonnya.
”Halo,” sapanya.
__ADS_1
”Kamu di mana? Jemput aku di hotel xxx.”
”Apa? Kamu berada di kota S?” ucap Antonio terkejut.
”Lekas lah menjemput ku!”
”Ok, tunggulah.”
Telfon terputus. Antonio memutar arah, dia kembali ke hotel yang ia sendiri tempati.
Apa yang dia lakukan disini? Apa dia membuntuti ku disini? Oh, tunggu! Apa dia kesini juga untuk melenyapkan Geo? Tidak, Geo harus mati di tangan ku!”
Beberapa menit kemudian ia sampai di hotel. Ia memarkirkan mobilnya di halaman parkir hotel. Ia masih berada di dalam mobil, ia meraih handphone menelfon seseorang.
”Kamu di mana? Aku sudah berada di parkiran hotel.” ucapnya.
”Ok, tunggu, aku kesana.” sahut Vian.
Antonio menunggu Vian di parkiran. Tidak lama kemudian, ia melihat Vian keluar dari pintu masuk hotel. Ia keluar dari mobil, berdiri di sisi mobil.
”Vian,” panggilnya sambil mengangkat tangannya ke atas. Agar Vian tahu keberadaannya.
Vian melihat Antonio saat memanggilnya. Ia mempercepat langkah mendekat ke Antonio.
”Kamu yang nyetir,” ucap Antonio setelah Vian berada di hadapannya. Ia memutari mobil dan membuka pintu mobil satunya dan masuk ke dalam.
Vian ikut masuk ke dalam mobil, ia duduk di kemudi. Vian menyalakan mesin mobil, perlahan ia menjalankan mobil keluar dari parkiran.
”Kamu cari apa disini? Tidak mungkin kan kamu membuang uangmu untuk berlibur kesini?” tanya Antonio.
”Aku kesini untuk syakila.”
Kening Antonio mengerut, ”Syakila? Syakila, gadis yang kamu ceritakan padaku itu?”
”Iya, dia ada disini, bersama Geo. Kamu kesini untuk Geo kan? Syakila bersama dia, aku tidak ingin kamu ikut melenyapkan Syakila saat kamu membunuh Geo.”
”Kamu sangat tertarik dengan wanita itu, aku jadi penasaran dengan bentuk rupa nya. Hingga membuat satu-satunya paman ku ini tergila-gila padanya.”
Vian terkekeh kecil, ”Lebih baik kamu tidak usah bertemu ataupun melihatnya. Aku tidak ingin wanita seperti dia terperdaya dengan pria playboy yang suka mempermainkan wanita, seperti mu ini.”
”Kamu mengatai ku? Aku tidak mempermainkan mereka, tapi, mereka lah yang melemparkan dirinya padaku. Aku seorang lelaki yang tidak bisa menolak kesenangan itu. Lagi pula, aku membayar mereka, bukankah itu sudah sepadan?”
”Terserah lah.”
”Ngawur kamu! Mana mungkin Geo tertarik dengan wanita pendek. Jika Syakila berdiri dengan Geo, paling tidak, Syakila berada di dada Geo saja. Sedangkan Geo, kamu tahu kan dia paling tidak suka dengan wanita yang pendek, standard nya, tinggi wanitanya sampai di pundaknya dan di dagunya.”
”Iya juga sih!” sahut Antonio.
”Yang terpenting adalah, kamu jangan mencoba untuk mendekati Syakila, Syakila adalah milikku!”
Antonio terkekeh, ”Hahaha, kita lihat saja nanti, apakah pesona yang dia miliki bisa membuat ku memperhatikan dia atau tidak? Lagi pula, dia pasti sama saja dengan wanita-wanita yang sudah ku temui, mereka hanyalah wanita murahan yang menginginkan uang.”
”Kamu jangan menilai Syakila sama dengan wanita murahan mu itu!” ucap Vian dengan marah.
”Sudahlah, tidak usah bahas Syakila ku. Katakan, di mana letak restoran terenak dan terpopuler di kota ini. Aku lapar.” ucapnya lagi.
”Kau jalankan saja mobilnya, nanti aku arahkan jalannya.”
Vian tidak menyahuti lagi ucapan anak kemenakannya itu. Ia fokus mengendarai mobil.
.. ..
Di rumah sakit kota S.
Sepulang dari kantor, Sarmi singgah di rumah sakit tempat Sardin di rawat.
”Bagaimana keadaan Sardin sekarang, Nesa?” tanya Sarmi.
Ia sedang duduk di kursi panjang di depan pintu ruangan rawat Sardin menemani Nesa. Setelah ia sampai di ruangan Sardin di rawat, ia melihat Nesa sedang duduk sendirian di sana dengan sedih.
”Belum ada perubahan lagi semenjak kemarin waktu Syakila menjenguknya.” jawab Nesa, suaranya pelan, terdengar sedih.
”Dengan kehadiran Syakila, ia menunjukkan tanda-tanda untuk hidup, ia mengigau satu kali menyebut nama Kila dengan pelan. Setelah itu, dia tidak bergerak ataupun mengigau lagi.” ucapnya lagi.
Sarmi terdiam memandang pintu ruangan Sardin yang tertutup.
Hubungan Syakila dan Sardin sudah terjalin semenjak kecil. Pasti hubungan mereka sangat dalam, apa aku salah melarang Syakila menjenguk Sardin? Mereka memang termasuk sahabat semenjak kecil terlepas dari berpacaran.
”Kamu yang sabar, Sardin pasti akan pulih seperti semula. Maaf, Syakila belum sempat lagi untuk menjenguknya.” ucapnya kemudian dengan pelan.
”Terima kasih, Sarmi. Tidak perlu minta maaf, aku tahu status Syakila sekarang apa. Ada yang lebih penting lagi yang dia perhatikan selain Sardin. Syakila datang menjenguknya, aku sudah senang. Syakila adalah gadis yang selalu membuatnya semangat. Ia tidak pernah dekat dengan perempuan lain selain sama Syakila.” ungkap Nesa.
Sarmi kembali terdiam.
__ADS_1
Sama halnya dengan Syakila, ia tidak pernah dekat dengan pria lain selain Sardin. Dari cerita Anton, Syakila dan Sardin sudah mengikat janji sewaktu kecil. Apakah karena itu, mereka menutup hati untuk menerima godaan dari pria dan wanita yang lain? Oh, ya Allah, berikan kebahagiaan untuk mereka berdua, meskipun kebahagiaan itu berasal dari orang lain.
”Nesa, aku pulang dulu. Anakku pasti sudah menunggu ku. Jika waktu luang, aku akan datang lagi menjenguk Sardin.”
Ia berdiri dari duduknya.
”Iya, hati-hati di jalan, Sarmi. Terima kasih, sudah menjenguk anakku.”
”Iya,”
Sarmi melangkah pergi setelah menyahuti Nesa. Nesa menghela nafas sedihnya.
Syakila, tante berharap, kamu datang untuk menjenguk Sardin lagi. Kamu adalah orang yang membuat ia semangat menjalani hidupnya.
.. ..
Perjalanan menuju kediaman Sarmi.
Sarmi duduk sambil melamun di dalam taksi. Ia terlalu banyak berfikir tentang hubungan anaknya, Sardin, dan Geo, anak menantunya itu.
Apakah aku sangat kelewat batas melarang Syakila menjenguk Sardin? Bahkan hapenya ku sita. Sardin, ia sekarang memang membutuhkan seseorang yang terdekat dengan hatinya sekarang untuk kembali menyemangati hidupnya. Sayangnya, Geo tidak bisa menemani Syakila ke rumah sakit untuk menjenguk Sardin bersamanya. Nesa, dia pasti sangat sedih dengan kondisi anaknya sekarang.
Sardin adalah anaknya satu-satunya, hanya ia harapan orangtunya. Jika apa yang di alami Sardin di alami oleh Syakila, apakah aku akan melakukan hal yang sama dengan Nesa? Mengharap seseorang yang begitu dekat dengannya untuk datang menyemangati hidup Syakila? Ya, itu pasti aku akan lakukan demi kesembuhan anakku. Nesa, Sardin, memang sedang membutuhkan Syakila, tapi, Geo juga membutuhkan Syakila.
Jadi, apakah aku yang egois disini? Aku...
Sarmi menghela nafas.
Aku hanya khawatir dengan perasaan anak mantu ku itu. Aku takut dia terluka dan cemburu karena Sardin adalah mantan tunangan dari istrinya. Aku tidak ingin Geo terluka hatinya karena perhatian Syakila terpusat untuk mantan tunangannya.
Sang supir menghentikan mobilnya di depan gang kediaman Sarmi.
”Ibu, kita sudah sampai di gang rumah ibu.” ucap sang supir.
Namun, ucapan sang supir tidak di respon oleh Sarmi yang masih terhanyut memikirkan Sardin, Syakila, dan Geo.
”Ibu,” panggil sang supir lagi dengan memukul belakang kursi duduknya dengan pelan.
Sarmi tersadar dalam keterkejutannya, ”Oh, iya, Pak supir, ada apa?” tanyanya.
”Kita sudah sampai, Bu.” jawab sang supir.
”Oh, iya, maaf. Aku sedang memikirkan sesuatu hingga tidak sadar.” ucap Sarmi kemudian, setelah ia melihat sekeliling adalah lokasi tempat tinggalnya.
Ia mengeluarkan sejumlah uang pas untuk membayar taksi tersebut.
”Terima kasih, bang!”
”Sama- sama, ibu.” sahut sang supir sambil mengambil uangnya.
Setelah Sarmi membayarnya, ia turun dari mobil. Ia berjalan dari gang hingga ke rumahnya.
Ia masuk ke dalam rumah yang pintunya tidak tertutup itu.
”Mama, Mama sudah pulang?” tanya Fatma yang sedang duduk di kursi sofa.
”Iya, apa adik-adik mu sudah pulang dari sekolah? Apa makan siang sudah siap?”
”Iya, Mah. Adik-adik ku sudah pulang dari sekolah. Makanan sudah siap di atas meja. Tinggal suami ku yang belum pulang, tapi, aku akan menyiapkan makanan untuknya, jadi, kita tidak perlu menantinya pulang untuk makan.”
”Syakila dan Geo, apakah mereka belum keluar juga dari kamar?”
”Sudah, Mah. Mereka baru saja masuk ke kamar satu setengah jam yang lalu. Setelah mereka makan pagi, mereka duduk bersantai di taman bunga.” ungkap Fatma.
Apakah aku harus katakan tentang hubungan Syakila dan Geo pada mama? Tapi, aku takut, mama akan semakin marah kepada Syakila.
”Kita makan saja Mah, Syakila dan Geo sedang istrahat. Jika mereka bangun, baru mereka akan makan.” ucap Fatma lagi.
”Hum, panggil lah adikmu untuk berkumpul di meja makan, Mama akan berganti pakaian dulu.”
"Iya, Mah.”
Sarmi berdiri, ia pergi ke kamarnya. Fatma melihat punggung mamanya yang sudah berada di balik pintu.
Mama, maaf kan Fatma, Fatma membantu Syakila dan Geo menyembunyikan kebenaran tentang pernikahan mereka. Suatu hari, jika mama sudah tahu itu, ku harap mama bisa mengerti mengapa aku menyembunyikan ini dari mama.
Ia berdiri dari duduknya, memanggil adik-adiknya untuk makan. Mereka telah berkumpul di meja makan. Sarmi memulai menyendok makanan untuk dirinya. Yang lain menyusul setelahnya.
Hardin terdiam memandang anggota keluarganya, juga mamanya. Kemudian, ia memandang arah masuk ke dapur.
Lagi-lagi makan siang seperti tadi pagi, tanpa Syakila dan Geo. Aku belum melihat mereka berdua. Apakah mereka baik-baik saja?
Mereka semua makan dalam keheningan. Hanya suara denting sendok dan piring yang berbunyi.
__ADS_1