Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 219


__ADS_3

Di rumah sakit.


Geo, Rivaldi, dan suster mendorong brangkar Syakila dengan cepat ke ruangan UGD. Raut wajah Geo dan Rivaldi tak terlepas dari khawatir dan cemas.


”Maaf, pak. Bapak tidak bisa masuk ke dalam ruangan. Hanya suster dan dokter yang boleh masuk.” suster tersebut mencegah Geo untuk masuk ke dalam ruangan UGD.


Geo sangat marah. Dia menatap tajam suster itu.


Rivaldi menoleh, melihat Geo. ”Biarkan dia masuk!” titahnya pada suster.


Suster tersebut terkejut. Baru kali ini ada keluarga yang di izinkan masuk ke ruangan UGD, selain dokter dan suster.


Suster itu lebih terkejut lagi saat melihat Geo masuk ke dalam ruangan, padahal Geo belum di persilahkan masuk.


Sang suster menutup pintu ruangan UGD. Pemeriksaan kepada Syakila sementara berlanjut.


Geo melihat dan mendengar jelas detak jantung Syakila yang semakin lemah. Dia sangat frustasi. ”Selamatkan dia, bagaimanapun caranya! Jika tidak, rumah sakit ini akan ku tutup untuk selamanya!” ancamnya.


Semua dokter ahli yang ada di dalam ruangan itu tercengang, termasuk Rivaldi, si pemilik rumah sakit itu.


Apalagi suster tadi, dia benar-benar terkejut mendengar Geo mengancam para dokter di rumah sakit ini, dengan mudahnya. Siapa dia? Ancamannya membuat para dokter terdiam dan ketakutan!


Tiiit....tiit...tiit...suara detak jantung Syakila semakin kecil. Semua dokter menggeleng. Ada beberapa dokter yang terlihat menyerah dan mundur.


Tiiiiiiiiiiiiiit! Detak jantung Syakila berhenti berdetak!


Mata Geo terbelalak tidak percaya. ”Lakukan segala cara! Kembalikan detak jantungnya! Atau...kalian yang ada di sini terkubur bersama jenazah Syakila!” kembali dia mengancam para dokter.


Para dokter kembali terkejut dan ketakutan. Rivaldi mencoba untuk tenang dan tidak ketakutan pada ancaman Geo. Dia melakukan CPR untuk Syakila. Lalu, dia menyuruh dokter lainnya untuk mengaktifkan alat Aed, dan menempelkan dua lempeng elektroda Aed ke dada Syakila dan di sambungkan ke Aed.


Syakila, apakah ini bentuk dari cintamu yang kuat pada Sardin? Apakah ini arti dari kata kalian sehati? Sejiwa? Senyawa? Sardin telah pergi, kamu juga ingin ikut pergi? benak Geo. Wajahnya sangat sedih.


Rivaldi menghentikan CPR dan menekan tombol "analis", setelah alat Aed di aktifkan. Saat terjadi proses analisis, tidak seorang pun yang menyentuh tubuh Syakila.


Syakila, apakah masih ada sisa rasa cintamu padaku, sehingga kamu tidak ingin ku ceraikan? Jika masih ada cinta mu padaku, ku mohon berjuanglah untuk hidup. Demi aku! Aku di sini membutuhkan mu. benak Geo.


Tidak lama kemudian, terdengar arahan untuk memberikan kejut listrik untuk pasien dari Aed.


Rivaldi menekan tombol "Shock" di Aed, memberikan kejut listrik pada Syakila.


Tidak berselang lama, terlihat lagi perintah untuk memeriksa pernapasan dan denyut nadi Syakila. Rivaldi memeriksanya.


Dia menggeleng lemah. Denyut nadi dan nafas Syakila belum kembali. Terlihat lagi perintah untuk memberikan cpr pada Syakila dari Aed.


Ya Allah, jika memang Syakila adalah takdir ku di dunia ini, maka berikanlah kesembuhan padanya. Kembalikan dia ke sisi ku. benak Geo.


Rivaldi kembali memberikan cpr. Dua menit berlalu, dari Aed kembali memerintah memberikan kejut listrik pada Syakila.


Setelah empat kali melakukan CPR dan kejut listrik, detak jantung dan nafas Syakila telah kembali.


Rivaldi bernafas lega. Dengan cepat dia menangani Syakila. Geo sendiri sudah terlihat sedikit tenang.


Alhamdulillah, terima kasih, Allah. Terima kasih, Syakila. Aku anggap kamu memang takdir ku dan kamu masih mencintai ku. benak Geo. Dia menetaskan air mata bahagianya.


Dia selalu berada di sana melihat langsung proses penanganan untuk Syakila, istrinya itu.


.. ..


Di kediaman Sarmi.


”Biah, aku minta maaf, aku tidak bisa membantu mu mengisi makanan di kotak itu. Pikiran ku sedang tidak tenang. Pikiran ku sangat kacau sekarang.” ucap Sarmi.


”Tidak apa. Ini juga sudah hampir selesai, berkat bantuan dari Ita, Yuli, dan Endang. Apa kamu akan ikut kami untuk mengantar makanan ini ke panti asuhan?” tanya Biah.


”Aku tidak ikut. Aku hanya ingin ke rumah sakit, memastikan sendiri kalau Syakila baik-baik saja. Aku tidak mau kehilangan Syakila, Biah. Hu...hu...hu...”


Biah terdiam. Dia tidak bisa berkata-kata untuk menyahuti Sarmi. Bahkan untuk berkata bahwa "Syakila akan baik-baik saja" untuk menghibur Sarmi, terasa begitu berat untuk di ucapkan.


Urusan ajal, rezeki, jodoh dan usia hanyalah Allah yang tahu. Bahkan Sardin yang terlihat baik-baik saja setelah kembali dari kota A, justru meninggal di hari pernikahannya.


”Setelah kami mengantar makanan ini ke panti asuhan, kami akan pergi ke rumah Alimin. Apa kamu tidak apa-apa sendirian di rumah?”


”Kalau begitu, aku akan ikut kalian. Meskipun sudah ada Johan, Hardin, dan Johansyah di sana, akan terasa tidak baik jika aku tidak hadir di pemakaman mantuku.”


Biah mengangguk mengerti. Mereka telah selesai mengisi kotak makanan. Dan mereka memasukkannya ke dalam plastik besar.


”Yuli, pergilah ke depan, cari satu mobil angkot yang kosong untuk kita.” titah Biah pada Yuli.


”Iya, Mama.” Yuli bergegas keluar dan pergi ke jalan besar. Dia menunggu mobil angkot yang kosong, yang lewat di sana.


Sarmi, Biah, Ita, dan Endang keluar dari rumah dengan memegang dua kantung plastik besar berisi kotak makanan tersebut dan membawanya ke depan jalan besar.

__ADS_1


”Ini mau ke mana, Bu?” tanya supir angkot yang di tahan oleh Yuli.


”Kita ke panti asuhan, Bang.” Biah yang menjawab pertanyaan sang supir. Kebetulan, saat mobil tersebut berhenti di depan Yuli, mereka hampir sampai pada tempat Yuli berdiri.


”Oh, baik Bu, mari masuk.” ucap sang supir mempersilahkan.


Sarmi dan Biah, membawa masuk bungkusan plastik makanan di dalam mobil. Lalu, dia menyuruh Ita, dan Endang masuk ke dalam mobil bersama Sarmi.


”Bang, sebentar yah. masih ada empat bungkus plastik makanan yang harus saya ambil lagi di rumah.” ucap Biah.


”Iya, Bu.” sahut sang supir.


Biah memanggil Yuli ikut bersama nya ke rumah untuk mengambil bungkusan makanan yang tertinggal.


Tidak lama kemudian, mereka kembali ke mobil dengan memegang bungkusan-bungkusan makanan di tangan mereka.


Yuli dan Biah masuk ke dalam mobil.


”Sudah selesai, Bu?” tanya sang supir.


”Iya, Bang.” jawab Biah.


Sang supir pun menyalakan mesin mobilnya dan menjalankannya menuju panti asuhan.


.. ..


Di kediaman Alimin.


Jenazah Sardin sudah selesai di mandikan dan dikafani.


”Bagaimana, Pak penghulu, mau di salatkan di rumah saja atau di masjid?” tanya Alimin.


”Di masjid saja kalau bisa. Shalat di sini, takutnya tidak muat menampung banyaknya warga yang ingin ikut menyalatkan almarhum.” usul pak penghulu.


Setelah jenazah Sardin sampai di rumah Alimin, para tetangga rumah yang jauh maupun dekat, yang mengetahui Sardin telah tiada, mereka datang ke kediaman Alimin untuk melayat.


Begitu juga dengan para karyawan Mitra tv, semua hadir untuk ikut mengantar CEO mereka ke tempat pembaringannya yang terakhir.


Bahkan mereka merekam semua proses pemakaman CEO nya sampai selesai. Mereka menyiarkannya secara besar-besaran. Mereka juga mengabadikan momen terakhir ceo-nya ke dalam bentuk Video.


”Baiklah.” sahut Alimin.


Alimin mengangkat tandu mayat di bagian depan bersama Johan, sementara Hardin dan Johansyah memegang tandu yang di belakang.


Tepat sekali yang di usulkan oleh pak penghulu, jika saja mereka tetap memilih menyalatkan jenazah di rumah, mereka tidak akan muat. Bahkan, untuk di masjid yang luas itu tidak muat menampung mereka.


Para pelayat bahkan mengisi teras dan halaman parkir masjid untuk menyalatkan almarhum. Masjid pada hari itu sangat ramai dengan para pelayat. Bahkan para ibu-ibu mereka duduk, menunggu di depan pagar masjid.


.. ..


Perjalanan ke rumah Alimin.


”Apa kita tidak akan terlambat pada pemakamannya, Biah?” tanya Sarmi.


”Kalaupun terlambat, tidak akan apa-apa, Sarmi. Yang penting, niat kita tulus untuk berbelasungkawa pada besan mu.” jawab Biah.


Sarmi mengangguk.


Biah melihat banyaknya manusia yang berkumpul di masjid. Dia melihat Nesa yang duduk bersedih di depan pagar.


”Mereka sementara melakukan shalat jenazah di masjid. Kita turun di sini saja.” usul Biah.


Sarmi mengangguk.


”Bang, stop di sini.” titah Biah pada sang supir.


Sang supir menghentikan mobilnya. Sarmi membayar biaya angkot dan mereka semua segera turun dari taksi.


Sarmi dan Biah berjalan menghampiri Nesa.


”Sarmi? Biah? Kalian datang? Bagaimana Syakila?” tanya Nesa.


”Belum tahu kabarnya. Syakila jatuh pingsan saat jenazah Sardin di bawa. Rivaldi tidak menemukan detak nadi Syakila pada pergelangan tangan dan sikunya. Rivaldi menemukannya pada bagian leher dalam Syakila, tetapi, nafas dan detak nya sangat lemah sekali. Mereka membawa Syakila ke rumah sakit.” ungkap Sarmi, sambil menangis.


”Astaghfirullah! Semoga Syakila baik-baik saja. Setelah pemakaman selesai, kita pergi ke rumah sakit sama- sama menjenguknya.” sahut Nesa.


”Tapi, aku tidak tahu di rumah sakit mana Syakila di rawat.” ungkap Sarmi.


”Shalat jenazah sudah selesai. Tandu keranda mayat sudah di angkat.” ucap Biah.


Mereka semua berdiri. Mereka semua mengikuti langkah pak penghulu yang membawa jenazah Sardin di pemakan umum, tempat istirahat terakhir almarhum.

__ADS_1


Mereka telah sampai di TPU. Pak penghulu memulai prosesi pemakaman almarhum. Almarhum telah selesai di kebumikan.


Para pelayat juga berangsur-angsur meninggalkan TPU. Pak penghulu sendiri telah pulang di antar Hardin menggunakan motor Almarhum.


Di pusara almarhum tinggal Nesa, Alimin, Johan, Johansyah, Biah dan Sarmi saja.


”Istirahatlah dengan tenang di sana anakku. Sesuai dengan semua permintaan mu, aku tidak akan membantah satu pun. Maaf kan Mama, jika Mama selama merawat mu, ada hal yang membuat mu kecewa dan tidak puas pada pelayanan Mama.” ucap Nesa.


”Sudah, Mah. Mari kita pulang sekarang.” ucap Alimin.


Nesa mengangguk. Mereka semua berdiri dan pergi meninggalkan pusara Sardin. Mereka pulang ke rumah Alimin, dengan berjalan kaki, karena memang tidak terlalu jauh jaraknya tempat tinggal Alimin dan TPU tersebut.


.. ...


Kediaman Alimin.


Mereka telah sampai di rumah Alimin. Mereka duduk di teras rumah.


”Semuanya terjadi secara tiba-tiba. Sardin sudah mempersiapkan dirinya sebelum pergi. Dia sudah mengatur semuanya. Rumah terasa akan semakin sunyi tanpa dia.” ucap Nesa.


”Mah, jangan memperburuk suasana hatimu sendiri. Semuanya sudah terjadi dan berjalan sesuai dengan kehendak -Nya. Kita mencintai Sardin, tapi, Allah yang lebih mencintai Sardin dari pada kita.” sahut Alimin.


”Sarmi, bagaimana keadaan Syakila?” tanya Johan.


”Belum tahu kak ipar. Apakah dia sudah sadar dari pingsannya atau belum. Dia sangat sedih saat melihat jenazah Sardin di bawa pergi.” ucap Sarmi.


”Alhamdulillah, proses pengurusan jenazah di adakan di rumah ku. Jika kita tetap melakukan prosesnya di rumahmu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.” ucap Alimin.


”Syakila dan Sardin saling mencintai. Mereka selalu saling merasakan apa yang terjadi pada pasangannya masing- masing...”


”Mah, ssstttss! Jangan di lanjutin lagi.” pangkas Alimin. Dia tidak enak hati dengan Sarmi dan Johan.


Nesa terdiam.


Sarmi menghela nafas, ”Tidak apa. Aku juga tahu mereka berdua saling mencintai sampai terhubung jiwa dan hati satu sama lain. Itu juga yang aku khawatirkan sekarang. Gak tau bagaimana kabar Syakila.” ucapnya sedih.


”Semuanya serahkan saja sama sang Khalid. Semoga Syakila baik-baik saja dan bisa melewati ini semua dengan baik dan sabar.” ucap Johan.


”Baiklah, maaf, Nesa, Alimin, kami pulang dulu.” Johan beranjak berdiri.


Sarmi, Biah, dan anak- anak Sarmi ikut berdiri.


”Iya, terima kasih untuk segalanya. Sebentar malam, kami akan datang ke rumah mu, Sarmi.” ucap Alimin.


”Iya, pintu rumah ku selalu terbuka untuk kalian. Kapan pun, datanglah berkunjung.” sahut Sarmi.


”Kami pergi dulu.” pamit Johan.


Alimin mengangguk.


Johan, Johansyah, Biah, Sarmi dan anaknya pergi dari teras rumah Alimin. Johansyah bersama adik iparnya naik ke mobil Geo. Sarmi, Biah, dan Johan naik ke mobil Johan sendiri.


Mesin kedua mobil telah menyala dan mobil berjalan pelan meninggalkan halaman parkir kediaman Alimin.


.. ..


Di rumah sakit.


Alhamdulillah, penanganan Syakila berjalan lancar. Sekarang dia telah di pindahkan ke ruangan rawat inap khusus pasien VIP.


”Kira-kira, kapan Syakila akan sadar?” tanya Geo pada Rivaldi.


”Sekitar empat lima jaman, dia akan sadar.” jawab Rivaldi.


Mereka berdua sedang duduk di kursi panjang, di dalam ruangan rawat Syakila.


”Semoga dia cepat sadar. Terima kasih, Rivaldi. Kamu telah berjuang untuk menyelamatkan istriku.” ucap Geo dengan tulus.


”Sama- sama. Alhamdulillah, ada keajaiban dari sang Khalid, makanya Syakila terselamatkan.”


”Iya, alhamdulillah!” sahut Geo.


”Tapi...sayangnya aku tidak bisa mengantar Sardin ke tempat peristirahatan terakhirnya almarhum.”


”Aku juga tidak mengantar Sardin ke tempat peristirahatan terakhir almarhum. Semua terjadi dengan tiba-tiba. Tapi, syukurnya tadi aku tidak ikut mengantar jenazah ke kediaman Alimin. Jika tidak, mungkin kita juga akan kehilangan Syakila.” tutur Geo.


”Iya, syukur alhamdulillah.” sahut Rivaldi.


Sekarang, aku tinggal menunggu empat, lima jam tersebut. Semoga saja benar Syakila akan sadar. Jika tidak....


Ah..pikir apa aku ini? Mengapa seketika aku teringat waktu Syakila tidak sadarkan diri, di kota A? Waktu itu...hanya almarhum yang membuat Syakila kembali sadar. Bagaimana dengan sekarang? Apakah aku bisa menyadarkannya? benak Geo.

__ADS_1


”Ku lihat kamu sangat lelah dan mengantuk. Kalau kamu ingin tidur, tidurlah dulu. Syakila, biar aku yang jaga.” tawar Rivaldi.


”Baiklah, terima kasih, Rivaldi. Aku istirahat dulu.” Geo beranjak berdiri dan melangkah ke ranjang pasien, di sebelah Syakila.


__ADS_2