
Trtrt trrtrtrrt
Dering handphone berbunyi. Membuat tidur sang pemilik jadi terganggu, dengan malas ia meraih handphone yang berada di sampingnya dan melihat identitas pemanggil.
”Mama? Apa mama sudah sampai di apartemen?” Dia buru-buru menjawab telepon dari mamanya. ”Halo Mah.”
”Nak, kamu di mana? Mama sudah ada di depan apartemen mu. Sedari tadi Mama menekan bel tapi tidak ada yang membukakan pintu. Apa di apartemen mu tidak ada orang?"
"Mama, maaf kan Opan, Mah. Opan masih ada di kantor, sepuluh menit lagi Opan kesana, Mah.”
Geovani beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar dengan terburu-buru. Handphone masih berada di telinganya.
"Baiklah sayang, Mama tunggu.”
Tut tut tut telpon terputus. Opan memasukkan hape ke dalam sak celana. Lalu ia meraih kunci mobil dari dalam laci meja kerjanya.
Ia keluar dari sana dengan terburu-buru. Langkahnya terhenti sejenak saat ia berpapasan dengan Beni di pintu lift lantai dasar, Opan ingin keluar dari lift, sedangkan Beni ingin masuk.
”Opan, kamu mau kemana? Buru-buru begitu.”
”Beni, kamu urus segala keperluan ku untuk berkunjung di kota S, pastikan sebelum kesana pekerjaan disini sudah beres. Aku harus ke apartemen sekarang, Mama sudah lama menunggu ku di depan pintu apartemen. Jika sudah waktunya berangkat telfon. Ok.” ucap Geovani.
Ia pergi begitu saja. Mengabaikan Beni yang masih ingin berbicara. Beni geleng-geleng kepala sambil masuk ke dalam lift.
”Untung saja bos ku, sekaligus saudara ku, jika bukan saja untuk apa mendampingi pria seperti dia, temperamen nya susah diatur.” gumamnya.
Opan terus saja berjalan mengabaikan sapaan dari para karyawan. Ia masuk ke mobil dan menjalankannya dengan kecepatan tinggi.
Setibanya di parkiran apartemen dan memarkirkan mobil di sana. Opan keluar dari mobil, ia berlari dengan cepat hingga masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka sembilan.
Ting!
Lift berhenti di lantai sembilan, pintu lift terbuka, ia berjalan sedikit berlari menuju apartemen. Ia melihat sosok wanita yang sedang bersedekap berdiri di depan pintu apartemen.
”Mama, maafkan Opan. Opan lupa jika Mama akan tiba siang ini.” ucapnya sambil mengatur nafas.
”Uda cepat buka pintunya, Mama sudah pegal berdiri terus.” Rosalina menyingkir sedikit dari depan pintu membiarkan anaknya membuka pintu.
Pintu terbuka. ”Masuk, Mah.”
Rosalina melenggang masuk dengan mendorong kopernya, Opan menyusul. Rosalina langsung duduk di sofa panjang. Opan mengambil kan air hangat untuk mamanya.
”Ini Mah, minum dulu.” semenjak kecelakaan yang di alami kedua orang tua Geovani. Mamanya tidak meminum air dingin lagi, jus dingin, apapun itu yang berupa minuman dingin selain air hangat. Begitu juga dengan makanan, makanan yang masuk ke perutnya harus makanan yang hangat pula.
”Mama, kenapa Mama tiba-tiba ingin datang kesini?”
”Mama hanya ingin menemui mu, apa tidak boleh?” Rosalina memasang wajah cemberut.
”Boleh Mah, tapi gak biasanya kan Mama bepergian sendiri. Biasanya Mama selalu menunggu Opan jemput kesana baru sama-sama kita berangkat kesini.” jelas Opan.
”Sudah berapa hari Mama menunggu jemputan mu, apa kamu datang jemput Mama?” kini Rosalina memasang wajah kesal yang berbaur marah memandang putranya.
Opan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil cengar-cengir. ”Maaf Mah, Opan lupa.”
”Semenjak kaburnya kekasih mu, kamu sudah mengabaikan Mama, sayang. Kamu sudah sibuk mencari keberadaan perempuan yang sudah meninggalkan mu.” keluh Rosalina dengan kesal.
”Maaf Mama, Opan tidak mengabaikan Mama. Ma__”
”Itu kenyataannya, Geovani Albert!” Rosalina memandang Opan dengan tajam. Opan terdiam. Ia hanya mendesah kan nafas kasar di udara sambil melirik mamanya.
”Kemana perginya siti? Mengapa dia tidak ada disini? Kamu mengusirnya?” lagi-lagi Rosalina memandang tajam Geovani, anak satu-satunya.
”Maaf, Mah. Geovani tidak menerima wanita, gadis, untuk masuk ke apartemen pribadi Opan selain Mama dan dirinya.” jelas Opan.
”Mama mengirimkan dia untuk membersihkan apartemen mu ini dan memasak untukmu, sayang!?”
”Tidak perlu Mama ku, sayang. Geo bisa mengerjakan itu sendirian, kalau Geo merasa malas kan ada Beni yang mengerjakannya. Untuk dapur disini yang boleh menyentuhnya hanya dia saja Mah, Dawiyah. Apartemen ini ku beli khusus untuk tempat tinggal kami setelah menikah, Mama.” jelas Opan.
__ADS_1
Rosalina menghempaskan nafas kasar. ”Opan sayang, berhentilah tergila-gila dengan perempuan itu! Ingat, dia yang pergi meninggalkan kamu tepat di hari pertunangan mu! Jangan cari dia lagi, jangan peduli padanya lagi. Carilah wanita lain. Masih banyak gadis-gadis dan wanita-wanita yang lebih baik darinya.”
”Tapi tidak ada yang seperti dia, Mah. Dia mengerti aku, pahami aku, dan dia tidak seperti gadis lain yang hanya mendekatiku untuk menaikan derajat dan status sosial, Mah. Dan dia juga tidak mengandalkan namaku untuk kepentingannya. Dan hawa kulit ku bisa menerima sentuhan dari dia.” Opan membela Dawiyah.
”Lalu kenapa wanita baik seperti itu bisa kabur di hari pertunangan mu, sayang? Berpikirlah dengan rasional, sayang! Jika dia memang wanita baik, hari ini dia ada disini menyambut kedatangan Mama.” tukas Rosalina.
”Itu lah yang lagi menghantui pikiran ku, Mah. Apa yang membuat dia tiba-tiba meninggalkanku? Aku ingin penjelasannya.” Opan memandang mamanya yang mendesah kan nafas kasar.
”Terserah mu saja, Mama memberikan waktu untuk mu satu bulan, jika dalam sebulan kamu tidak menemukan dia. Maka kamu harus mau menerima wanita pilihan Mama.”
”Mah, berikan aku waktu dua bulan.” tawar Geovani.
”Kamu tidak dalam posisi tawar menawar, sayang! Sebulan atau tidak sama sekali!” tegas Rosalina.
Geovani mendesah kan nafas pasrah. ”Baiklah, Mah. Satu bulan, tapi jika wanita pilihan Mama itu tidak bisa di terima oleh hawa kulit ku, bagaimana, Mah?”
”Kalian sering-sering berdekatan saja, lama-lama hawa kulit mu akan menerima dia. Bukan kah Yulia dan Dawiyah melakukan hal yang sama?”
”Yah, terserah Mama, tapi jika sudah berdekatan, kulitku tetap tidak bisa menerima dia, bolehkan aku menolak perempuan pilihan Mama itu?”
”Tentu saja, sayang. Dan Mama akan mencarikan mu wanita lainnya lagi.” ucap Rosalina sembari tersenyum.
Trrtrtrrt trrtrtrrt
Handphone Opan berbunyi. Ia merogoh hape dari kantong, ia melihat ke layar. Rupanya telfon dari Beni, ia menjawabnya.
”Ada apa?”
”Saatnya berangkat, Bos. Pesawat sudah siap, Bos.” ucap Beni.
”Hum, jemput aku sekarang.”
”Baik, Bos.”
Telepon terputus. Opan memandang mamanya yang sedari tadi memandang dirinya saat menerima telepon dengan mengernyit heran.
”Ada apa Mah? Kenapa memandang Opan seperti itu?”
Geovani memandang mamanya dengan lembut. ”Mama sayang, Opan pergi karena hal pekerjaan Mama. Tapi, kalau Mama ingin ikut Opan pergi ke kota S, Opan dengan senang hati akan membawa Mama kesana.”
Rosalina berbinar. ”Mama mau sayang, Mama ingin reflesing disana.”
”Kalau gitu, ayo Mah kita tunggu Beni di bawah.”
Rosalina dan Geovani berjalan bersama ke lantai dasar apartemen. Tepat, sampai disana Beni telah datang. Beni membukakan pintu mobil untuk mereka, mereka masuk. Setelah masuk, Beni kembali menjalankan mobilnya.
”Kita pergi ke sana menggunakan apa sayang?”
”Jet pribadi, Mah. Kita memakai Gulfstream G650. Kenapa? Mama tidak suka?” Opan melirik sang Mama.
”Bukan begitu sayang, Mama hanya bertanya saja.” Rosalina tersadar jika koper pakaiannya lupa di apartemen. ”Beni, putar balik ke apartemen, koperku ketinggalan.”
”Tidak usah Beni, lanjutkan saja jalannya.” cegah Opan. Ia melihat mamanya. ”Sampai di kota S, Mama beli pakaian baru saja.” tawarnya.
”Hahaha, dengan senang hati sayang. Tapi, apa kamu tidak takut Mama menghabiskan uangmu sayang? Karena Mama tidak membawa kartu limited milik Mama.”
”Tidak apa-apa, Mama. Uang Geovani gak akan habis hanya untuk membeli kebutuhan Mamaku tersayang.” ucap Opan dengan tersenyum.
Beni tersenyum senang melihat interaksi antara ibu dan anak itu. Mereka layaknya sepasang kekasih bila saling berbicara.
Dalam waktu empat puluh lima menit mereka tiba di bandara. Mereka segera turun dari mobil. Disana, sepuluh orang anak buah Geovani sudah menanti mereka.
Salah satu anak buahnya mengambil alih mobil yang di kendarai Beni untuk di bawa pulang. Sedangkan Beni, Geovani, dan Rosalina berjalan dengan beriringan ke pesawat pribadi mereka.
Rosalina terpukau dengan pesawat jet pribadi putranya.
”Sayang, sejak kapan kamu punya jet pribadi ini? Ini sangat bagus.” pujinya.
__ADS_1
”Baru setahun Mah. Ayo masuk!"
Mereka masuk ke dalam pesawat, setalah masuk tangga pesawat di naikkan dan pintu pesawat tertutup rapat. Pesawat di nyalakan dan bertolak belakang dari bandara kota A.
Dengan kecepatan sembilan ratus kilometer perjam, dan mengudara selama satu jam dua puluh lima menit mereka tiba di bandara kota S.
Sesampainya di sana, beberapa anak buah Geovani pun sedang menanti mereka. Dan mereka menyediakan sebuah mobil milik pribadi Geovani.
”Selamat datang Bos di kota ini.” sapa salah satu anak buah Opan sambil menunduk.
”Hum.” singkat Opan menyahuti.
”Silahkan Bos, mobilnya sudah di siapkan.” ia membuka pintu mobil dan mempersilahkan mereka untuk masuk. Rosalina sudah masuk, Opan masih berdiri di pintu mobil yang terbuka itu. Ia melihat anak buahnya yang berjejer rapi.
”Kembalilah pada pekerjaan kalian, tidak perlu untuk mengikuti ku.” titahnya kepada anak buahnya yang menjemput dirinya.
”Baik Bos!” sahut mereka sambil menunduk. ”Bos, ini kunci vila yang baru.” ia menyerahkan kunci itu pada Opan. Opan mengangguk dan mengambilnya.
"Beni, ambil alih setir.” titahnya lagi pada Beni.
Tanpa perlu di beritahukan lagi, supir yang selalu menjalankan mobil itu segera keluar dari sana dan berganti dengan Beni.
Beni masuk dan menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Dalam waktu tiga puluh menit di perjalanan, kini mereka telah tiba di vila pribadi milik Geovani di kota S tersebut.
Vila Geovani tidak terlalu mewah, vila dengan interior multiple options available itu berdiri di atas tanah yang luas tanahnya sembilan puluh meter kuadrat dan luas bangunan hanya enam puluh meter kuadrat. Meskipun hanya berlantai dasar, namun vila itu nampak indah.
Beni menghentikan mobil di halaman parkiran. Kemudian, ia turun dari mobil untuk membukakan pintu mobil buat Tante dan Bosnya.
Opan segera turun, disusul Rosalina, Opan membuka kunci vila tersebut. Mereka segera masuk ke dalam. Khusus untuk vila di kota S yang baru saja ia beli dengan perantara anak buahnya itu memang khusus untuk dirinya. Dan untuk kunci vila hanya dia sendiri yang memegangnya.
”Mama, Mama istrahat dulu. Opan akan pergi menemui teman lama. Jika Mama ingin berbelanja, tunggulah Opan pulang. Opan sudah memesan salah satu chef yang terkenal di kota ini untuk menjadi juru masak kita selama kita disini. Sebentar lagi dia akan datang, apa yang ingin Mama makan, pesan saja padanya. Dia akan masakan untuk Mama. Tapi, ingat Mah jangan coba-coba meminta makanan yang dokter larang.”
”Oh ya ampun sayang ku, hari ini kamu banyak sekali berbicara, Mama pusing mendengarnya. Kau ingin pergi temui temanmu? Pergilah! Jangan banyak berbicara lagi. Mama mau istrahat. Yang mana kamarnya Mama?” Rosalina berucap kesal.
”Kamar disini ada tiga. Mama pilih saja kamar mana yang Mama sukai. Mama bisa melihat-lihat kamarnya sebelum memilihnya. Kunci kamar masih tergantung di masing-masing pintu.” jelas Opan.
”Baiklah sayang. Kamu pergilah, cepat kembali.”
”Ok, Mama. Opan pergi.”
Opan yang di ikuti Beni di belakangnya melangkah keluar dari villa dan berhenti di depan mobil.
”Mana kuncinya, aku setir sendiri. Kamu jagalah Mamaku. Kalau ada apa-apa, telfon. Ok.” ucap Geo
Beni memberikan kunci mobil padanya. Geo mengambil nya, ia membuka pintu mobil dan masuk. Beni menahan pintu yang ingin di tutup itu.
”Opan, berhati-hati dalam berkendara. Mohon jangan ngebut, kurangi kecepatan mu. Dan cepat kembali, Tante lebih membutuhkan perhatian mu daripada diriku.” Beni menasihati Opan yang notabenenya masih kakak tirinya.
”Iyah, cerewet sekali. Awas jangan halangi pintunya.” Beni menggeser badannya menjauh dari pintu mobil. Lalu Opan menutup pintu mobil sedikit keras.
Beni geleng-geleng kepala. Ia mengumpat kesal setelah melihat Opan menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.
”Bocah sialan! Baru saja di nasehati untuk tidak mengebut, malah ia melajukan kendaraanya dengan kecepatan tinggi di hadapan ku.”
Ia kembali masuk kedalam villa namun langkahnya terhenti saat tiba di pintu. Ia mendengar deru mobil yang terhenti di depan villa yang di tempati nya sekarang.
Ia menoleh dan menanti siapa yang turun dari mobil. Dan setelah ia melihat seorang pria yang usianya sekitaran lima puluh tahunan, dengan memakai pakaian putih ala chef, ia tahu jika dia pria yang di panggil oleh Opan untuk memasak.
”Selamat sore, Tuan. Maaf baru tiba. Perkenalkan nama saya chef Holy. Sa__”
”Langsung masuk saja,” Beni memangkas ucapan chef Holy. Ia lanjut melangkah masuk. Chef Holy mengikuti dari belakang.
Beni menerangkan makanan dan minuman apa saja yang bisa dia masak dan tidak bisa untuk di masak buat mereka. Terutama, buat Nyonya Rosalina.
”Apa sudah faham dengan penjelasan ku?” tanyanya dengan tegas.
”Paham, Tuan.”
__ADS_1
”Hum, sekarang pergilah ke dapur. Lihatlah keperluan apa yang kurang, maka pergilah beli, sekalian berbelanja lah bahan-bahan dapur. Ini, pakai kartu ini untuk berbelanja.” Beni memberikan kartu kredit biasa untuk di pegang chef Holy selama menjadi koki disana.
Chef mengambil kartu itu. ”Baik, Tuan!” ucapnya sambil menunduk. Setelah itu ia pergi ke dapur. Dan Beni, ia pergi beristirahat di salah satu kamar yang ada disana.