
Keesokan paginya.
Geo terbangun duluan di banding Syakila. Ia tersenyum senang, Syakila tertidur dengan nyaman di pelukannya. Padahal, semalam Syakila menolak untuk tidur di sampingnya, tapi, sekarang justru Syakila yang tidur sambil memeluk erat tubuhnya.
Ia membelai wajah Syakila dan mencium pucuk kepalanya. Ia mencium kening Syakila, namun, ia cepat-cepat kembali memejamkan mata saat melihat kedua bola mata Syakila bergerak.
Syakila membuka mata, ia menyium aroma mint yang menyegarkan dari leher Geo. Ia sangat menyukai aroma itu, selama beberapa kali Syakila selalu mengendusnya.
”Aroma mint ini sangat harum dan menyegarkan. Hum, aku suka aromanya.” gumamnya.
Tanpa ia sadari, Geo tersenyum senang dalam kepura-puraan tidurnya. Iya, geo mendengar gumaman Syakila.
Kamu menyukai aroma tubuh ku? Tidak ku sangka kamu akan menyukainya. Jika kamu memang menyukainya, tidurlah terus di sampingku, agar tiap pagi, kamu bisa menghirup aroma tubuh ku.
Menit berikutnya, Syakila tersadar jika ia semalam tertidur di dalam pelukan Geo. Ia melepas tangan Geo yang melingkar di perutnya dengan pelan. Ia bangun, terduduk di atas ranjang, masih di samping Geo.
”Gak nyangka, aku bisa merasa hangat dan tenang, bahkan tertidur dengan pulas dalam dekapan pria ini. Dan tanpa ku sadari, aku sendiri yang memeluk tubuh pria ini dengan erat, beruntung aku yang duluan bangun. Jika saja dia yang bangun duluan, betapa malunya aku jika dia tahu aku sedang memeluknya.” gumamnya lagi dengan pelan.
Geo tersenyum dalam hatinya.
Sayangnya, aku sudah tahu hal itu, Syakila. Tapi, karena kamu sudah bilang begitu, baiklah, aku akan pura-pura tidak tahu jika kamu sudah memeluk tubuhku bahkan menyukai aroma tubuh ku.
Syakila melihat Geo yang masih memejamkan mata. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangan membelai wajah Geo sambil tersenyum.
Wajahnya begitu ganteng di lihat dari jarak dekat begini. Apa ini, jantungku berdetak cepat hanya karena aku menyentuh wajahnya saja?
Syakila tersadar, ia menarik kembali tangannya. Ia turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Geo membuka mata, senyum lebar menghiasi bibirnya.
”Apa aku bisa berasumsi kamu mulai tertarik padaku, Syakila? Apakah dewa asmara sedang memanah kan panah asmaranya ke jantungmu, agar kamu menyukai ku, Syakila? Jika iya, aku akan sangat bersyukur.” gumamnya pelan.
Ia menyentuh wajahnya di mana yang di sentuh oleh Syakila tadi dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya.
”Saat dia membelai wajah ku, jantungku berdetak cepat. Apakah dia mendengar detakan jantungku tadi? Apa jantungnya juga berdetak cepat seperti detak jantungku?”
Entah, perasaan apa ini yang ku rasakan! Ini pasti hanya perasaan nyaman saja saat aku berada di dekatnya, ini bukan cinta, 'kan? Iya, ini bukan cinta, hanya perasaan tenang yang timbul sesaat karena nyaman di dekatnya, tidak lebih.
Geo memejamkan mata saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Syakila telah rapi setelah ia berganti, ia memakai handbody dan menyisir rambut, ia juga mengoleskan sedikit lipstik di bibirnya. Meskipun tanpa bermake-up, Syakila sudah terlihat cantik hanya dengan memakai bedak tipis.
Selesai menyiapkan keperluan mengajarnya, ia menghampiri Geo dan membangunkannya dengan menepuk pelan pundaknya.
”Geo, bangun!”
Geo menggeliat, ia membuka matanya.
”Eh, Syakila. Sudah jam berapa ini?” tanyanya sambil menguap.
”Em, sudah setengah tujuh. Bangunlah, aku akan membantumu untuk mandi. Setelah itu berganti dan kita sama-sama turun ke dapur, temani aku siapin sarapan pagi.”
”Ok,” sahut Geo.
Syakila memapah Geo dan mendudukkannya di kursi roda, ia membawa Geo ke kamar mandi. Syakila memandikan Geo, beberapa menit kemudian. Geo telah rapi setelah berganti.
”Sekarang, kita ke dapur.” ajak Syakila.
”Hum, ambilkan handphone ku.” sahut Geo.
Syakila mengambilkan handphone Geo dan memberikan padanya, ia juga menyandang tasnya. Lalu ia mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar. Mereka pergi ke dapur.
”Kamu duduklah di sini temani aku memasak.” ucap Syakila.
”Tumbenan kamu meminta ku untuk menemani mu memasak, biasanya juga tidak.” sahut Geo.
”Kalau kamu tidak mau menemani ku disini, maka pergilah ke depan. Tinggalkan saja aku!” ucap Syakila sambil mempersiapkan bahan-bahan untuk di pakai memasak.
”Tidak, tidak, biarkan aku di sini. Sini bawang dan bahan yang lainnya, biar aku saja yang kupas. Kamu kerjakan lah yang lainnya.”
Syakila memandang Geo dengan pandangan tidak percaya, ”Kau serius?”
”Iya, apa aku sedang bercanda?”
”Apa kamu benar bisa mengupas bahan-bahan dapur?”
”Kamu meremehkan ku? Bawakan aku itu, biar ku tunjukan kemampuan ku.”
__ADS_1
Syakila memberikan bahan dapur yang di perlukan pada Geo, berikut dengan pisaunya. Geo mengambil pisau dan mulai mengupas bawang.
”Wow, ternyata kamu bisa mengupasnya!” puji Syakila.
”Kamu terkesima? Kerjakanlah kerjaan mu yang lain, tak perlu kamu melihat ku lagi.” sahut Geo.
Syakila mengerucut kan bibirnya sambil membalik badannya. Geo tersenyum kecil. Tak di sangka oleh mereka berdua, di depan pintu dapur, Rosalina tersenyum lebar melihat interaksi antara Syakila dan Geo.
Aku yakin, perlahan-lahan Syakila dan Geo pasti akan saling menyukai.
Ia membiarkan dua sejoli itu bekerja berdua di dapur. Ia pergi ke depan menghirup udara pagi yang segar. Geo telah selesai mengupas bahan-bahan dapur yang di perlukan. Syakila juga selesai mencuci sayuran yang akan di masaknya. Nasinya juga sudah matang. Ia memindahkan nasi ke dalam penumbung nasi, agar uap nasinya berkurang.
”Bawangnya di bagaimana kan? Apakah di cincang halus, atau cincang kasar?”
”Menurutmu, mana yang cocok cincangan nya untuk membuat nasi goreng?” tanya Syakila sambil bertongka pinggang sebelah melihat Geo.
Ck, pesona wanita ini...
”Oh, kamu akan membuat nasi goreng? Baiklah aku akan memotong bawangnya sekarang.”
Geo mulai mencincang halus bawang merah, bawang putih, cili besar. Ia juga memotong kecil pentol bakso.
”Ini, sudah selesai.”
Ia mendorong bahan tersebut ke arah Syakila. Syakila mengambilnya dan melihat potongan-potongan bawang dan pentol tersebut.
”Ternyata kamu bisa di andalkan, ya.” ucapnya.
”Hum, kamu bisa mengandalkan apapun itu padaku, yang penting kamu percaya padaku.” sahut Geo sambil tersenyum tipis memandang Syakila.
Syakila mengabaikan ucapan Geo, ia membalikkan badan menghadap kompor. Ia menyalakan api pada kompor gas tersebut dan mengambil wajan. Ia mulai memasak nasi goreng.
Geo tersenyum kecut melihat punggung belakang Syakila.
Mengapa aku bisa kecewa dengan sikapnya yah? Dan aku pengen dia meminta maaf dan mengatakan ”aku akan mengandalkan mu dan aku akan percaya padamu” , heh, pikiran macam ini? Mana mungkin seorang Syakila akan berkata seperti itu padaku.
Beberapa menit kemudian, Syakila telah selesai memasak nasi gorengnya. Ia menyendok nasi goreng itu ke dalam tiga buah piring dan sisanya ia sendok pada penumbung nasi dan meletakkannya di atas meja.
”Kita tidak tahu kapan mama akan bangun, yang penting kita sudah siapkan makanan untuk mama. Kita makan saja sekarang, bukan kah sebentar lagi kamu akan berangkat ke sekolah?”
"Em, iya sih. Tapi, bukan kah mama tidak bisa mengkonsumsi makanan dingin?”
”Iya, kamu benar. Jika mama belum datang setelah kita selesai makan, nasi goreng mama simpan saja di dalam kulkas yang pemanas itu.” sahut Geo sambil menunjuk kulkas pemanas.
”Enak saja, Mama sudah bangun dan Mama ingin makan sekarang bersama kalian.” ucap Rosalina sambil berjalan masuk ke dalam dapur.
”Mama,” ucap Syakila dan Geo.
Rosalina duduk di kursinya dan mengambil nasi goreng miliknya.
”Ayo, silahkan di makan makanan kalian, tunggu apa lagi?” ucapnya.
Tanpa bersuara Syakila, Geo , dan Rosalina memakan makanannya. Beberapa menit kemudian mereka telah selesai makan.
”Syakila, kamu pergilah ke sekolah, piring kotor dan dapur ini, biar Mama saja yang bersihkan. Kebetulan, Mama hari ini tidak ke kantor.” ucap Rosalina saat melihat Syakila mengumpulkan piring kotor di atas meja.
”Tidak apa-apa, Mah. Biar Syakila selesaikan kerjaan di rumah dulu, baru berangkat kerja.”
”Katanya Mama benar, Syakila. Ini sudah hampir jam delapan pagi, pergilah! Mang Obi sudah menunggu mu di depan.” kini Geo yang berbicara.
”Baiklah, oh iya, Geo, bisakah Mang Obi tidak menunggu ku di sekolah? Berikan aku nomornya, jika aku sudah pulang dari mengajar, aku akan menghubungi dia untuk menjemput ku. Kasian dia, Geo jika dia menungguku di depan gerbang sekolah.”
Geo memicing melihat Syakila. ”Tidak, kamu pergilah, jangan sampai terlambat!”
Syakila menurut, tapi, sebelum ia keluar dari dapur, ia menyiapkan nasi goreng ke dalam rantang makanan. Ia menyalim punggung tangan Rosalina dan Geo. Geo mencium kening Syakila, saat Syakila mencium punggung tangannya. Rosalina tersenyum senang melihatnya.
”Aku pergi!” pamitnya.
”Hum, hati-hati!” sahut Rosalina dan Geo.
”Iya,”
Syakila keluar dari dapur. Ia mendatangi Mang Obi yang sudah menunggunya. Setelah Syakila masuk ke dalam mobil, Mang Obi menjalankan mobil, mengantar Syakila ke sekolah.
__ADS_1
.. ..
Di dapur, kediaman Albert.
Rosalina semakin tersenyum lebar melihat Geo setelah kepergian Syakila.
”Mama senang, kamu dan Syakila sudah mulai berdekatan dan membuka diri.” ucapnya.
”Mama, apa yang Mama lihat, tidak sesuai dengan pemikiran Mama. Aku dan Syakila berdekatan begini hanya untuk kebaikan dan tujuan kami saja. Mama tahu kan, kalau Syakila mencintai Sardin, bukan aku! Pasti, Mama juga tahu kan, setelah Geo sembuh, Syakila dan aku akan berpisah!”
”Mama tahu itu, tapi, tidak bisakah kamu menahan Syakila di sisi mu? Buat dia mencintai mu, Mama tidak ingin kehilangan menantu seperti Syakila.”
”Mama, aku tidak akan menahan Syakila di sisiku, aku tidak ingin Syakila kembali membenciku. Mama tenang saja, jika aku mencintai Syakila, aku akan membuat dia mencintai ku dan menetap di sisiku. Tapi, jika aku tidak mencintainya, aku akan melepas dia untuk mencari kebahagiaannya sendiri, begitu juga aku, aku akan mencari kebahagiaan ku sendiri.”
”Geo, kapan kamu akan pergi ke kantor untuk bekerja? Beni masih ingin meliburkan dirinya di pusat, entah kapan dia akan kembali.”
Rosalina sengaja mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin membahas hubungan Syakila dan Geo lagi. Ia tidak ingin, Geo berpikiran jika dirinya akan memaksakan Geo untuk menahan Syakila.
”Nanti Mah, setelah Geo kembali dari kota S, Geo akan akan kembali ke perusahaan.”
Rosalina memicing melihat Geo. ”Kota S? Kamu akan kesana, untuk apa?” tanyanya penasaran.
”Iya, Mah. Aku akan mengantar Syakila ke kota S sore ini, kami akan berada di sana selama dua Minggu. Jadi, selama itu, Mama lah dulu yang mengurus urusan kantor.”
”Mengapa tiba-tiba kalian ingin pergi ke kota S? Apa terjadi sesuatu pada keluarga Syakila? Jika begitu, Mama juga ikut kesana.”
”Tidak Mah, keluarga Syakila baik-baik saja semuanya. Hanya saja, sekarang Sardin sedang membutuhkan kehadiran Syakila di sisinya. Sardin mengalami kecelakaan, dan ia belum sadarkan diri, jadi, Syakila akan kesana untuk melihatnya.” ungkap Geo.
”Apa kamu tidak mengapa mengantar Syakila untuk menemui orang yang di cintainya?” tanya Rosalina dengan serius.
Ia takut anaknya akan kembali kecewa terhadap wanita, dan bukannya Syakila menyembuhkan Geo, tapi malah membuat penyakitnya semakin parah.
”Tidak, Mah. Aku sangat percaya kepada Syakila, ia gadis yang bisa di andalkan dan bisa di percayai. Meskipun dia tidak mencintaiku, ia tahu cara untuk menjaga perasaan ku dan menghormati ku sebagai suaminya.” jawab Geo dengan yakin.
”Jika kamu sudah yakin begitu, baiklah. Terserah mu saja, yang penting, kamu jangan kecewa jika kamu kembali terluka. Mama sangat berharap pada kesembuhan mu, Mama tidak ingin penyakit mu semakin parah.”
”Mama tenang saja, jika Geo berada di tengah-tengah keluarga Syakila, Geo akan cepat sembuh. Geo sangat yakin akan hal itu. Syakila dapat menyembuhkan penyakit ku ini, dengan kesungguhan Syakila, dia pasti akan membuat hawa kulit ku secara perlahan bisa menerima dan berinteraksi dengan hawa luar.” ungkap Geo lagi.
”Kamu sangat yakin padanya? Apa kamu tidak menyukai Syakila, Geo?”
”Iya, Mah. Setelah Syakila meyakinkan aku untuk percaya padanya, dan berkata aku akan baik-baik saja jika di dekatnya, aku sudah memutuskan untuk percaya padanya. Suka? Untuk suka, aku suka padanya, dia gadis yang baik, dia juga sangat menarik.” sahut Geo sambil melamun kan Syakila dengan tersenyum.
Rosalina tersenyum kecil.
Aku tahu, kamu sudah mulai menyukai Syakila. Hanya saja kamu belum bisa memastikan perasaan mu sendiri.
”Apa dia gadis yang cantik?” Rosalina sengaja memancing pertanyaan untuk Geo.
”Iya, dia gadis yang cantik, sangat cantik. Senyumnya begitu manis dengan terlihat lesung pipit di pipi dan di dagunya, menambah kecantikannya. Kecantikannya sangat alami, aku menyukainya.” jawab Geo masih dengan menghayal kan Syakila.
”Oh ya?”
”Iya, Mah. Eh, tunggu! Mama tadi bertanya apa? Mama, jangan mendengarkan bicara ku tadi. Aku tidak tahu apa yang ku ucapkan tadi.” ucap Geo dengan gugup.
”Sudah terlanjur, son. Mama sudah menangkap ucapan mu tadi. Sudahlah, Mama juga setuju jika kamu bersama Syakila. Lagi pula, dia adalah istri mu sekarang, tinggal bagaimana caramu untuk membuatnya menyukaimu.” sahut Rosalina dengan tersebut menang.
”Terserah Mama. Aku ke depan dulu.”
”Apa kamu sedang malu pada Mama sekarang, Nak? Baru kali ini kamu merasa malu, Mama tambah yakin kamu mencintai Syakila.” ejek Rosalina.
”Mah__”
”Em, baiklah, baiklah. Mari kita sama-sama ke depan.”
Rosalina memegang kursi roda Geo. Mendorongnya keluar dari dapur.
”Geo tidak jadi ke depan, Mah. Geo akan ke kamar. Mama pergilah ke depan sendirian.”
Geo mendorong kursi rodanya sendiri menuju pintu lift. Rosalina terkejut melihat sikap anaknya semata wayangnya itu.
”Apakah itu benar-benar Geo, putraku?” gumamnya.
Ia membiarkan Geo pergi ke kamarnya sendirian, dan ia, ia pergi ke depan dengan geleng-geleng kepala sambil tersenyum mengingat perlakukan anaknya yang tidak biasa itu.
__ADS_1