
Setelah kepergian wanita itu, kini pembeli terus berdatangan silih berganti. Hingga waktu menunjukan pukul empat sore.
Halim segera menyimpan barang-barang untuk menutup tokonya. Setelah selesai menutup tokonya ia pergi menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.
Lalu ia masuk kembali ke pasar untuk mencari pakaian anak-anaknya. Biar tidak kewalahan Halim mencari pakaian hanya di salah satu toko yang berdiri tiga tingkat, tingkat paling atas untuk anak-anak, tengah untuk pakaian dewasa wanita dan di bawah untuk pakaian dewasa pria.
Halim memilih pakaian untuk anak-anaknya, ia meminta yang masih ada plastiknya. Begitu juga dengan pakaian untuk istri dan mertuanya, juga untuk kedua orangtuanya. Halim selalu meminta yang masih utuh dalam plastik.
Setelah selesai memilih pakaian, kini Halim pergi ke toko mainan untuk membelikan mainan anak-anaknya yang sesuai dengan kesukaan mereka. Tidak terasa waktu menunjukan pukul lima lewat tiga puluh menit.
Halim segera pulang ke rumah, tanpa istrahat lagi Halim langsung membersihkan badannya dan pergi ke masjid untuk shalat Maghrib.
Seusai shalat ia masih duduk di masjid menunggu waktu Isya sambil mendengarkan anak-anak mengaji untuk mengisi waktu.
Tumben untuk malam ini Anton tidak shalat di masjid. Apa ia sedang menyiapkan semua keperluan untuk pulang ke kampung? Hum, besok malam ia akan berangkat. Jadi malam ini kesempatannya untuk menyiapkan keperluannya.
batin Halim.
Saat adzan Isya di kumandang kan, Halim segera pergi berwudhu lalu ia bersama jamaah lain mengerjakan shalat Isya nya yang dipimpin oleh seorang imam masjid.
Usai shalat dan bersalaman di antara para jamaah, ia segera pulang ke rumah. Ia langsung di sambut oleh Anton dan Denis juga karyawan Anton yang lainnya di meja makan.
"Halim, ayok kesini kita makan!" ajak Anton.
Tanpa berganti pakaian Halim ikut bergabung dengan mereka di meja makan. Ia mengambil piring dan menyendok makanannya. Tradisi di saat makan, mereka tidak boleh bersuara, fokus pada makanan yang di depannya.
"Bagaimana Halim? Apa kamu sudah menyiapkan oleh-oleh untuk anak dan istrimu di kampung?" tanya Anton setelah mereka semua sudah selesai makan.
"Sudah, tinggal saya masukkan dalam karton saja, besok di saat kamu berangkat baru aku berikan." sahut Halim menjelaskan. "Jam berapa berangkatnya? Biar aku bisa menyesuaikan diri nanti untuk mengantarmu." lanjutnya bertanya.
"Tidak usah repot, biar Denis saja yang mengantarku di pelabuhan. Saya berangkat tepat jam tujuh malam, kapal masuk jam setengah enam di pelabuhan." jawab Anton menjelaskan.
"Insya Allah, aku akan ikut mengantarmu sampai ke atas kapal." kekeh Halim. "Jangan menolak ku!" lanjut Halim berucap ketika Anton akan berbicara untuk menolak keinginan Halim.
Maka Anton mengalah dengan menaikan kedua bahunya ia berkata, "Baiklah, aku tidak bisa menolak mu!"
__ADS_1
"Hum, itu lebih baik," sahut Halim dengan tersenyum melihat kepasrahan Anton. "Aku masuk ke kamar dulu, ingin merapihkan pakaian ke dalam karton biar muat pakaiannya, sekalian aku ingin istrahat." ucap Halim meminta izin.
"Hum," sahut Anton singkat.
"Ok Bang!" sahut Denis dan karyawan Anton lainnya.
"Kalian, cepat istrahat juga!" pinta Anton kepada Denis dan karyawannya.
"Ok," sahut mereka kompak. Mereka sama-sama membubarkan diri ke kamar masing-masing, meninggalkan Anton sendirian di meja makan.
Setelah kepergian mereka, Anton juga pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Setelah Halim masuk ke kamar, ia tidak langsung mengecek kembali pakaian yang di belinya tadi sore untuk memberikan nama dari masing-masing anaknya. Begitu juga pakaian untuk istri dan mertuanya. Juga pakaian untuk keponakannya dan kedua orang tuanya. Semua di tuliskan nama-nama mereka sesuai selera dan kesukaan mereka.
"Alhamdulillah urusan pakaian selesai, sekarang tinggal menulis surat untuk istriku." gumamnya
Halim mengambil pena dan secarik kertas untuk mulai menulis. Kata demi kata ia rangkai menjadi sebuah kalimat yang bermakna. Ia menyampaikan kerinduannya disana.
Setelah selesai menulis suratnya Halim memasukkan surat tersebut ke dalam amplop putih beserta sejumlah uang untuk kebutuhan anak istrinya.
Dengan tersenyum senang Halim merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuknya. Ia mulai membayangkan betapa bahagia dan gembiranya anak dan istrinya saat menerima oleh-oleh pertama darinya.
"Sebaiknya aku beristirahat sekarang, karena besok aku harus beraktivitas dengan semangat." gumamnya lagi. Ia memejamkan matanya dengan membayangkan wajah istrinya yang selalu di rindukan.
Perlahan-lahan, Halim mulai terbawa dalam suasana tidurnya.
.. ..
Sementara di kebun, Sarmi gelisah karena ia sedang memikirkan perkataan tetangganya sewaktu ia pergi ke kampung untuk melihat keadaan anaknya, Syakila.
Ia tidak menduga jika anaknya menjadi bulan-bulanan teman-temannya hanya karena ayahnya yang pergi merantau ke kota A.
Ibunya Sarmi yang melihat anaknya sedang duduk sendiri di gode gode dengan wajah sedihnya, ia mendekati dan bertanya padanya, "Ada apa lagi, Nak? Kenapa wajahmu murung lagi?"
Dengan terus memandang pada langit hitam yang tanpa hiasan sang bintang Sarmi menjawab pertanyaan ibunya, "Sarmi lagi memikirkan Syakila, Bu! Kasihan dia di katai anak yatim sama teman-temannya di sekolah. Sedangkan Fatma, kakaknya hanya diam saja melihat adiknya dikucilkan."
__ADS_1
Sarmi mulai meneteskan air matanya, "Terbuat dari apa hati anak itu, Mah?! Mengapa dia tidak membela adiknya, sedangkan dia juga anak dari dariku dan mas Halim."
Ibunya Sarmi tidak bisa berkata-kata untuk menyahuti ucapan Sarmi, ia hanya mengelus lembut punggung anaknya itu. Merasakan elusan lembut sang ibu, membuat Sarmi semakin menangis.
Ia memeluk ibunya, "Apa dosa Sarmi Mah, sehingga Fatma menjadi anak seperti itu?" tanyanya sambil terisak.
Dengan mengelus punggung anaknya, ibu Sarmi memenangkannya, "Sabar! Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri. Cobalah bicara baik-baik sama Fatma untuk menjaga adiknya!" usul sang ibu.
"Sarmi sudah bilang padanya, Mah! Tapi dia cuek saja. Tidak memberiku tanggapannya. Semakin lama anak itu semakin tidak patuh kepada kami, orang tuanya. Tapi ia begitu patuh sama bibi dan pamannya. Apa karena kami, orang tuanya miskin jadi kami gak di anggap, Mah?" ucap Sarmi mengeluarkan kegundahan hatinya.
"Kamu tidak boleh ngomong begitu, Nak! Istighfar! Itu sama saja kamu sudah menghina-Nya." sahut si ibu menasihati. "Lalu bagaimana dengan Syakila? Dia baik-baik saja?" tanyanya. Ibu Sarmi sengaja mengubah topik agar Sarmi tidak semakin menghina dirinya sendiri.
"Syakila, dia baik-baik saja, Mah! Dia sangat berbesar hati. Ia tidak mengambil pusing dengan cibiran temannya, karena ia tahu itu tidak benar. Papanya masih hidup dan sedang mencari uang untuk dirinya juga adiknya. Itu katanya Syakila, Mah padaku, saat ku menanyakan perasaannya." jawab Sarmi.
Ia menegakkan kepalanya, lalu menghapus air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Tapi Sarmi tahu, Mah. Anak itu menyimpan kesedihan di hatinya. Aku melihat pancarannya itu di mata Syakila saat ku melihat nya. Ia tidak mau membagikan kesedihan dan apa yang dia rasakan padaku. Ia justru meyakinkan ku jika dia baik-baik saja, agar aku tidak khawatir padanya, Mah." ucapnya lagi.
Ibu Sarmi menghela nafas panjang, "Mereka semua adalah anak-anak mu, sifat mereka berbeda-beda antara kakak dan adiknya. Tugasmu terus mendidik mereka dan mengajarkan mereka untuk saling menjaga, melindungi, memberi, dan menyayangi antara sesama saudara." sahut sang ibu menasihati.
"Ibu, jika aku memanggil Fatma untuk kembali tinggal bersama kami, apa dia akan mau, Bu?" tanya Sarmi dengan ragu pada ibunya.
"Dia anakmu, ibu yakin dia pasti mau." jawab si ibu menyemangati Sarmi.
"Kalau dia menolak, Bu?" tanya Sarmi tidak percaya diri.
"Jika ia tidak mau, biarkan saja dulu. Dia adalah anakmu, anak kandungmu. Biar bagaimanapun tempat ia pulang adalah kepada kalian, kedua orang tua kandungnya." ucap si ibu menenangkan.
"Bukankah adikmu itu contoh nyata? Dia tinggal sama sepupunya dulu, betah di sana tapi kemudian ia kembali kepada ibu." lanjutnya meyakinkan Sarmi.
"Iya Bu, Sarmi akan mencoba untuk berbicara padanya dan mengajak tinggal kembali bersama kami." sahut Sarmi menanggapi ucapan ibunya.
"Nah, kamu harus begitu, jangan mudah putus asa dan menyerah, apalagi belum mencobanya." sahut si ibu. Sarmi mengangguk.
"Sekarang lebih baik, kita masuk istrahat. Tidak baik jika kita terus disini sepanjang malam." ucap si ibu lagi menasihati.
__ADS_1
"Iya Bu, mari kita istrahat." ajak Sarmi sambil berdiri dari duduknya dan menghapus sisa-sisa air matanya.
Tanpa berkata lagi si ibu dan Sarmi segera masuk ke dalam rumah dan berbaring di antara anak-anak yang sudah tidur dengan lelap.