Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 72


__ADS_3

Setelah beberapa jam pesawat mengudara di udara, kini mereka telah tiba di bandara kota S. Sesampainya mereka di sana, mereka di sambut oleh anak buah dari Geo dan Beni.


Beni dan Rosalina selalu setia dan siaga dalam mengurus segala keperluan Geo. Perjalanan yang cukup jauh dari bandara kota A ke bandara kota S, hingga ke villa milik Geo, membuat mereka bertiga benar-benar capek. Terutama Beni dan Rosalina. Membuat mereka langsung tertidur pulas. Rosalina tertidur di kamarnya sendiri sedangkan Beni, ia tidur sekamar dengan Geo, semenjak Geo sakit.


Keesokan paginya.


Rosalina terbangun dengan senyum yang merekah di bibir.


”Apakah ini suatu pertanda pertanda hal yang baik? Semoga saja seperti itu.”


Senyum terus mengembang di bibir Rosalina. Ia beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar Geo, untuk melihat anaknya itu. Geo masih terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Beni, ia sudah tidak terlihat di sudut kamar itu.


Rosalina mengelus kepala Geo dengan lembut sembari tersenyum. Tanpa ia sadari, Geo terbangun saat merasakan sentuhan di kepalanya. Namun, ia masih memejamkan matanya.


”Mama menantikan kesembuhan mu, sayang.” Rosalina mengecup kening Geo.


Ceklek


Bunyi suara pintu terbuka, Rosalina melihat ke arah pintu, ia melihat Beni yang berjalan masuk ke dalam kamar.


”Tante, Tante ada disini?” tanya Beni.


”Iya Ben, kamu dari mana?”


”Beni, dari depan villa, Tante. kelihatannya Tante sangat gembira hari ini?” Beni duduk di kursi di samping ranjang. Ia melihat Geo yang .asih terpejam lalu ia memandang tantenya. ”Apa ada kabar baik, Tante?”


”Iya Beni, Tante sedang bahagia, apa itu sangat terlihat di wajah Tante?” Beni mengangguk. ”Semalam Tante bermimpi kalau Geo sudah kembali pulih seperti semula, sepertinya keputusan kita kesini sangat tepat, Beni. Tante sudah tidak sabar menunggu saat itu, Beni.” Rosalina kembali mengelus lembut kepala Geo.


Geo tersentuh dengan ucapan mamanya. Ia masih setia memejamkan mata untuk mendengar pembicaraan mamanya dan adik tirinya itu.


”Insya Allah Tante, Geo pasti akan sembuh seperti sedia kala. Beni sangat yakin Geo pasti akan sembuh, jauh di lubuk hati Geo, ia tidak serapuh itu, Tante. Geo adalah orang yang sangat kuat.” jelas Beni, ”Hanya saja, ia menyembunyikan jati dirinya karena ia kehilangan kepercayaan diri karena wanita. Dan itu membuat tubuhnya ikut terangsang hingga ia seperti ini.” ujar Beni dengan sedih.


Geo pun ikut sedih mendengar penuturan Beni, begitu juga dengan Rosalina. Mereka berdua sama-sama melihat Geo yang masih terlelap di mata mereka.


Mama dan Beni begitu peduli padaku, mereka berdua sangat yakin akan kesembuhan ku. Tapi, aku sulit untuk menerima wanita sekarang dalam hidupku. Aku merasa jijik di dekati mereka. Mama, Beni, aku berjanji apapun yang kalian ucapkan aku akan turuti, aku berjanji


”Beni, apa sudah ada kabar dari anak buah mu? Apa mereka sudah menemukan alamat itu?" tanya Rosalina.


”Belum ada Tante, mereka masih mencari, kota S bukanlah kota yang kecil, Tante.” jawab Beni.


Rosalina menghela nafas panjang.


”Tante, sebaiknya Tante siapkan sarapan untuk makan pagi kita Tante, perutku sangat lapar. Aku akan membangun kan dan mengurus Geo selama Tante memasak. Beni, sudah menelfon chef itu hari untuk datang kesini, tapi ia sempatnya jam sepuluh pagi baru bisa ia datang.” ucap Beni.


”Baiklah, Tante akan membuat sarapan, kamu urus lah kakak mu itu.” ujar Rosalina.


”Iya Tante.”


Rosalina pergi ke dapur untuk memasak.


”Bangunlah, tidak usah pura-pura tidur lagi. Aku tahu kamu sudah terbangun.” ucap Beni pada Geo.


Geo membuka matanya.


”Kamu dengar sendiri kan, betapa berharapnya Tante untuk kesembuhan mu? Tidak bisakah kamu tanamkan kembali kepercayaan dirimu untuk Mamamu, Geo?”


”Beni, urus lah terapi untu ku, tapi aku tidak mau ke rumah sakit, bawa ia datang ke rumah.” ucap Geo.


”Tidak bisa Geo, kita yang harus datangi dokter di rumah sakit terapi. Mengapa kamu yang kecewa dengan orang, tetapi kamu membuat dinding di hidup mu untuk keterbatasan mu, Geo?”


Geo tidak berbicara lagi, ia terdiam. Beni juga tidak mengajak Geo berbicara lagi. Ia mengurus Geo, memandikan, dan memakaikan pakaiannya.


Setelah selesai, ia mendorong kursi roda Geo ke dapur, bertepatan sekali saat mereka tiba di dapur makanan baru tersusun di meja makan.


”Geo, Beni, kalian sudah datang? Mari duduk kita makan bersama.”


Geo tetap duduk di kursi rodanya, Beni dan Rosalina pun duduk di kursi. Mereka menyendok sendiri makanannya, termasuk Geo. Mereka nampak menikmati santapan pagi mereka.


Setelah selesai makan, mereka pergi ke teras rumah untuk bersantai.


”Geo, pembangunan pabrik di kota ini sudah lima puluh persen jadi dan usaha papa mu di pusat berjalan dengan baik. Tapi, kakak tiri mu tidak terlihat serius dalam menjalankan usahanya. Ia hanya mengharapkan kinerja asistennya saja.” ungkap Beni.


”Aku tidak perduli dengan dirinya, terserah apa yang dia lakukan. Yang jelas, untuk pusat itu sudah tanggung jawabnya dan untuk tanggung jawabku ada di kota A.” sahut Geo.

__ADS_1


”Tapi, sepertinya dia tidak ingin kamu sukses. Pria, yang bersama dengan Dawiyah di pantai...pria itu adalah suruhan dari Antonio Albert, tidak lain kakak tiri mu.” ungkap Beni lagi.


”Tidak usah sebut nama wanita murahan itu di depan ku. Dan untuk Antonio, awasi saja terus. Apa dia sudah tahu tentang keadaan ku sekarang?”


”Tidak, jika dia tahu, aku yakin dia sudah pasti mendatangi mu untuk mengejek dan semakin membuat mu terpuruk, hingga kamu tidak berniat untuk hidup lagi.” jelas Beni.


”Brengsek Lo.”


Rosalina hanya menjadi pendengar pembicaraan antara Geo dan sepupunya itu. Tapi dalam pikirannya selalu berpikir tentang anak-anak Halim. Mereka bercerita hingga tidak sadar waktu sudah memasuki waktu siang hari saat mereka mendengar suara tahrim dari masjid.


Di saat itu juga chef yang di telfon Beni, baru datang. Sangat terlambat sekali dari waktu yang telah ia tentukan. Untungnya, Geo, Beni, dan Rosalina memakan banyak saat sarapan pagi tadi. Jadi, perut mereka masih kenyang.


Ting


Notifikasi nada pesan dari handphone Beni berbunyi. Beni merogoh handphone dari sakunya dan melihat di layar tertulis ada satu pesan. Ia membuka dan membacanya.


”Bos, kami sudah menemukan rumah dari alamat tersebut. Jaraknya cukup jauh dari villa, perjalanan dari sana kesini memakan waktu enam jam.”


”Kerja bagus! Jangan beranjak dari sana. Share lokasi kalian, kami akan kesana.” Beni


”Tante, mereka sudah menemukan alamat tersebut.” ujar Beni.


Rosalina sangat senang mendengarnya.


”Bagus, ayo kita berangkat kesana.” sahut Rosalina. Ia sudah beranjak dari tempat duduknya.


”Baik, Tante. Beni ambil kunci pintu dulu, Tante dan Geo duluan lah ke mobil.”


Rosalina mendorong kursi roda Geo ke mobil, Beni masuk kedalam rumah dan mengambil kunci mobil, lalu ia keluar lagi dengan cepat.


Ia mengangkat tubuh Geo dan memasukkan dia dalam mobil, Rosalina menyusul. Lalu Beni pun masuk dalam mobil, ia memegang kemudi.


Beni menjalankan mobilnya mengikuti arah dari lokasi yang di share oleh anak buahnya.


”Mama, kita akan kerumahnya siapa?” tanya Geo.


”Kita akan kerumahnya Halim untuk menemui anak dan istrinya.”


”Mama akan meminta salah satu putri dari Halim untuk mendampingi ku?”


”Mama menggunakan itu untuk menekan, keluarga mereka?”


”Iya, jika diperlukan.” Rosalina menatap tajam pada kaca jendela mobil. Geo terdiam.


Bagaimana jika tubuh ku menolak berdekatan dengan anak-anak Halim?


Suasana hening seketika.


.. ..


Musik masih terdengar dari bilik rumah Johan, meski musiknya tidak senyaring tadi. Anak-anak masih terdengar berlarian dan tertawa ke sana kemari. Para tamu yang menghadiri undangan juga sudah berkurang.


Rumah Sarmi nampak indah dengan dekorasi khas pengantin, karena kamar pengantin berada di rumah Sarmi. Sedangkan tempat berlangsungnya pernikahan berada di rumah Johan, kakak Halim. Hari ini, sedari pagi, telah berlangsung akad nikah Fatma dan Johansyah sekaligus resepsinya.


Seharusnya pernikahan mereka di adakan dari empat Minggu yang lalu, tapi berhubung Johansyah masih sibuk dengan pekerjaannya, akhirnya pernikahannya terlaksana juga pada hari ini.


Keluarga besar dari Johansyah, Keluarga besar dari Sardin berkumpul di kediaman Johan. Mereka bersama-sama memeriahkan acara perkawinan Fatma dan Johansyah. Meskipun lelah dalam menyambut para tamu undangan, tapi tidak membuat mereka mengeluh, tetapi justru membuat mereka berbahagia.


Pengantin baru sekarang sedang berada di dalam kamarnya di rumah Sarmi. Syakila dan Sardin sedang duduk berdua di samping rumah Johan. Mereka bercanda tawa.


Orang tua Sardin, orang tua Johansyah, Sarmi, Johan dan istrinya, Biah sedang terlibat sebuah percakapan yang penting.


Sebenarnya, percakapan itu hanya di antara orang tua Sardin dan Sarmi juga Johan, selaku wali dari anak-anak Halim.


”Bagaimana Sarmi, Johan, apa kalian setuju dengan usulan kami berdua?” tanya Alimin.


”Untuk masalah ini, sebaiknya kita bicarakan bersama dengan anak-anak. Siapa tahu di antara mereka berdua ada yang belum siap untuk menikah.” jawab Johan.


Ia mengingat sudah berkali-kali Johan menyindir Syakila tentang pernikahan, tetapi Syakila tetap bersikukuh untuk belum ingin menikah. Cukup bertunangan saja dulu.


”Baiklah, kalau begitu kita panggil anak-anak untuk membicarakan ini.” ucap Nesa. Ia beranjak dari duduknya dan mencari keberadaan Sardin dan Syakila. Sepanjang ia mencari, ia belum menemukan sosok anak dan calon anak mantunya itu.


”Endang, apa kamu melihat kakak Syakila dan Kak Sardin?” Nesa menghentikan Endang yang sedang berlari dan bertanya tentang Sardin dan Syakila padanya.

__ADS_1


”Iya Tante, Endang lihat mereka di sana.” jawab Endang, adik Syakila yang paling kecil. Ia menunjuk arah di samping rumah Johan, Nesa mengikuti arah tunjuk itu.


”Oh mereka disana?” Nesa memastikan kembali. Endang mengangguk. ”Terima kasih, Endang. Pergilah bermain lagi.”


Endang kembali berlari menemui temannya, Nesa segera menghampiri Sardin dan Syakila yang berada di samping rumah Johan.


”Sardin, Syakila, kalian berdua disini rupanya. Sedari tadi Mama mencari kalian.” ucap Nesa.


”Mama, ada apa mencari kami?" Sardin yang menjawab.


”Nanti sampai di dalam rumah baru kalian tahu. Ayok, masuk ke dalam rumah semua keluarga sedang menunggu kalian berdua.” ajak Nesa dengan tersenyum.


Sardin dan Syakila mengikuti Nesa dengan wajah bingung mereka. Mereka masuk ke dalam rumah. Mereka berdua duduk di samping Sarmi. Dan Nesa kembali duduk di samping suaminya.


”Ada apa ini Mah, Om, Bibi.” tanya Syakila.


”Asya, Sardin, kami sedang membicarakan pernikahan kalian berdua. Jika kalian setuju pernikahan kalian akan di adakan awal bulan depan. Bagaimana menurut kalian berdua, Asya, Sardin?” ucap Sarmi.


Ia melihat sepasang kekasih itu bergantian.


Deg


Jantung Syakila berdetak cepat dalam keterkejutannya, ia terdiam. Sedangkan Sardin tersenyum bahagia. Orang tua Sardin, orang tua johansyah yang berada di sana memamerkan senyum indah mereka. Johan, Biah, terdiam memandang Syakila.


”Kalau untuk Sardin pribadi, Sardin sudah siap Tante, Bibi, Mah, Pa. Tapi, tidak tahu dengan Syakila.” Sardin memberikan tanggapannya.


Semua mata melihat Syakila. ”Bagaimana dengan mu, Nak?” tanya Nesa, Johan, Biah, dan Sarmi bersamaan.


Apalagi yang kupikirkan? Bukankah Sardin sudah berjanji akan membantu ku untuk menemukan pembunuh papaku, kan? Jadi, kenapa aku masih ragu untuk menjawab iya.


”Nak?” Sarmi menyentuh bahu Syakila yang terdiam. Syakila melihat mamanya. ”Bagaimana menurut mu?”


”Syakila... Syakila menurut saja, Mah.” jawab Syakila.


Sardin sangat bahagia mendengarnya, begitu juga dengan orang tua Sardin. Tetapi tidak dengan Sarmi, Johan, dan Biah. Mereka tahu putri mereka belum siap untuk nikah.


Di depan rumah Sarmi, sudah berdiri Rosalina, Beni, dan juga Geo bersama empat orang anak buah Geo dan Beni.


”Apa benar ini rumahnya?" Rosalina memastikan ulang.


”Iya Nyonya, inilah rumahnya,” jawab salah satu anak buah mereka.


Hardin yang keluar dari rumah terkejut melihat beberapa orang telah berdiri di depan rumahnya, dan satu pria sedang duduk di kursi roda.


”Om, Tante, undangannya di rumah atas, bukan di rumah sini Tante. Mama, ibu dan ayah juga ada di rumah atas.” ucap Hardin dengan polosnya, ia mengira mereka adalah tamu undangan.


Beni maju ke depan Hardin, ”Nak, ini benar rumahnya, Halim?" tanyanya.


Hardin mengangguk, ”Halim adalah papaku, Om dan Tante ini siapa?”


”Kami ada perlu dengan mamamu, apa kami bisa bertemu dengan mamamu?” Rosalina yang menyahut.


”Ayo ikut Hardin, Mama, ibu dan ayah ada di rumah atas.” ucap Hardin dengan polos.


Ia sudah berjalan di depan. Beni, Rosalina, mengikuti langkah Hardin dari belakangnya.


”Sepertinya, mereka baru selesai mengadakan acara.” ujar Beni, saat ia melihat tenda yang masih terpasang, juga melihat rumah yang di hiasi dengan indah.


”Sepertinya memang begitu.” sahut Rosalina.


”Iya benar Tante, acara pernikahan baru saja berlangsung, lihatlah foto itu, mereka berdua pengantinnya.” tunjuk Beni. Rosalina membenarkan.


Mereka berhenti saat melihat Hardin berhenti di depan pintu rumah yang penuh dengan hiasan itu.


”Apa kita sudah sampai?” tanya Beni pada Hardin.


”Iya Om, Tante, sahut Hardin.”


Hardin masuk ke dalam rumah. Ia mendekati mamanya.


”Mama, Mama, ada orang yang mencari Mama, orangnya ada di luar.” ucap Hardin.


”Lihat dulu Sarmi, siapa tahu teman kantor mu yang datang.” ucap Johan. Sarmi mengangguk.

__ADS_1


Ia berdiri dan pergi di luar melihat siapa yang sedang mencarinya. Dari depan pintu Sarmi melihat seorang wanita yang memegang kursi roda, dan beberapa pria lainnya berdiri disisi kiri, kanan dan belakang wanita tersebut.


__ADS_2