
Kevin dan anak buahnya sedang bergerak menuju toko di mana Halim bekerja. Mereka telah menunggu selama dua jam lebih untuk kedatangan Halim dan Mulfa di Eagle, tapi Halim tidak kunjung datang.
Mobil mereka telah sampai di depan toko Halim. Namun toko itu sudah tertutup. Denis yang mendengar suara deru mobil di depan toko, ia mengintip mereka dari jendela kamar dengan menyibakkan sedikit kain gorden.
Ternyata orang itu datang lagi dengan membawa pasukan. Bagaimana ini? Jika dia mengamuk dan menghancurkan toko, apa yang harus ku lakukan? Mana Abang Halim tidak ada pula.
batin Denis.
”Bos, tokonya sudah tutup. Apa bos tahu dimana rumahnya Halim? Kita datangi saja bos di rumahnya, atau kita hancurkan saja bos toko ini.” usul Dion salah satu anak buah Kevin.
”Biar kita hancurkan toko ini, kita tidak akan dapat apa-apa. Ini tokonya orang, kita yang akan bertambah Kasus jika kita menghancurkan toko ini. Sial!” Kevin memukul setir. ”Aku lupa menanyakan rumahnya pada Denis.” ucap Kevin.
”Jadi, bagaimana selanjutnya bos?” tanya Dion.
”Kita kembali.” sahut Kevin.
Trrtrtrrt
Bunyi handphone Kevin berbunyi. Ia melihat ke layar tertulis Halima is calling.
”Ck, kenapa lagi orang ini menelpon. Apa dia sudah mendengar kabar adiknya di tahan polisi? Cepat sekali dia mendapatkan kabar.”
Dengan malas Kevin mengangkat telfon dari Halima.
”Halo Kevin.” sapa Halima dari sebrang sana.
”Ya, ada apa?” sahut Kevin.
”Apa kamu sedang sibuk? Jika tidak, datanglah ke Club di tempat pertama saat kamu membawaku masuk ke Club. Aku ingin bicara sesuatu dengan mu.” ucap Halima.
”Hum, tunggu aku disana. Aku segera meluncur.” sahut Kevin. Kevin mematikan sambungan telfonnya secara sepihak. Kevin memandang anak buahnya.
”Kalian, kembali ke Eagle. Aku akan ke Club.” ucap Kevin.
”Ok, bos!”
Mereka kembali ke Eagle sesuai perintah Kevin. Dan Kevin sendiri ia pergi ke Club. Setelah Kevin mematikan telfon, Halima sedang memikirkan kira ia akan membicarakan apa kepada Kevin untuk menahannya, sebelum Halim datang.
Kevin tiba di Club. Ia melangkah masuk ke dalam, sambil mengetik sesuatu di hapenya. Setelah ia mengirim pesan, ia menyimpan hape dan terus melangkah masuk ke dalam Club.
Halim dan Fahroni memperhatikan setiap orang yang masuk di Club. Hingga Halim sekilas melihat wajah orang yang di kenalnya. Halim menatap bingung melihat sosok pria itu.
Itu, dia, bukankah dia kaki tangan dari bos Eagle? Bikin apa dia disini?
batin Halim.
Halima sekarang pergi ke tempat bertemunya dengan Kevin, setelah Kevin mengirimkan SMS bahwa ia telah sampai di Club. Halima melewati lorong temaram dan sepi itu seorang diri. Ia melihat Kevin sudah berdiri disana, bersandar pada dinding sambil merokok.
”Kamu sudah membuatku menunggu sepuluh menit Halima.” ucap Kevin.
”Kamu baru menunggu sepuluh menit sudah kesal, bagaimana dengan aku yang sering menunggu kamu datang untuk menemui ku tapi kamu tidak pernah datang, Kevin?” sahut Halima.
”Tidak usah basa basi! Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan.” kata Kevin
”Aku ingin bertanya padamu. Pertanyaan yang sudah lama ingin ku tanyakan ketika kita akan bertemu. Mengapa kamu menjebak ku masuk disini sebagai wanita penghibur? Sementara di kertas yang sudah kita tandatangani, pekerjaan ku sebagai sekretaris di perusahaan mu. Dan setelah kamu menempatkan aku disini kamu menghilang begitu saja. Mengapa Kevin? Mengapa?” ucap Halima.
__ADS_1
Kevin menyeringai jahat. ”Kamu ingin tahu alasan ku, Halima? Benar, kamu ingin tahu?” Halima mengangguk. Kevin menghisap sisa batang rokoknya itu sampai habis, lalu ia membuang puntung rokok kelantai dan menginjaknya. Ia berjalan mendekati Halima.
Anak buah Fahroni yang di tempatkan di situ untuk merekam pembicaraan Halima dan Kevin, ia mengirimkan pesan kepada Fahroni jika target sudah di posisi jebakan.
Setelah Fahroni membaca pesan anak buahnya, ia memberitahu Halim jika semua berjalan sesuai rencana.
Halim dan Fahroni pergi ke tempat dimana Halima dan Kevin berbicara. Saat mendekati lokasi, Roni dan Halim berjalan pelan tanpa suara agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Fahroni dan Halim mendengar kan pembicaraan mereka terlebih dahulu sebelum nantinya Kevin akan di borgol.
Setelah Kevin berjarak tiga centi dari Halima, ia menghentikan langkahnya. Ia memegang dagu Halima, membuat Kevin dan Halima saling memandang.
”Itu, karena kamu menolak cintaku tiga tahun yang lalu. Apa kamu tidak ingat dengan lelaki yang sering mencuri pandang dengan mu? Yang selalu membantu mu dari gangguan lelaki lain? Yang kamu berikan aku harapan jika kamu menyukai ku, hingga aku berani mengatakan cintaku padamu? Tetapi, kamu menolak ku dan membuat ku malu di hadapan teman-teman ku dengan menggandeng tangan pria lain. Apa kamu ingat dengan perkataan mu, jika Kamu hanya memanfaatkan ku saja untuk mencari perhatian dari lelaki yang kamu cintai agar ia merasa cemburu padaku? Apa kamu ingat itu, Halima?!”
Halima terkejut mendengar ucapan Kevin. Halima mengingat kejadian itu. Di mana Darman mengutarakan cintanya.
”Da, Da, Darman, kamu Darman?” Halima bertanya memastikan.
”Iya, aku Darman. Aku mengubah namaku untuk mengelabui mu. Aku sangat kecewa padamu saat itu, aku sangat sakit hati di perlakukan seperti itu oleh kamu, wanita yang ku cintai! Kamu tahu, karena mu wajah ku hancur sebelah dan aku harus menjalani operasi plastik di wajah ku untuk menutupi wajah ku itu. Jadi, aku bertekad untuk membalas dendam dengan menghancurkan harga dirimu!” ucap Kevin dengan suara lantang.
”Maaf, atas sikapku yang dulu. Aku tidak bermaksud untuk melukai mu. Kamu, kamu yang datang padaku untuk berteman dekat denganku. Bukan kah, kita sudah sepakat untuk kita tidak saling suka? Dan kita bisa memanfaatkan satu sama lain untuk keuntungan kita sendiri, bukan kah seperti itu kesepakatan kita, Darman? Jadi, aku memanfaatkan mu untuk menarik perhatian kekasih ku. Bukankah, itu seharusnya bukan menjadi masalah? Jika memang kamu sakit hati padaku, aku minta maaf, Kevin.” ucap Halima dengan sedih.
Kevin tertawa kecil. ”Heh, sayang sekali semuanya sudah terlambat. Permintaan maaf mu sekarang tidak bisa mengembalikan harga diriku waktu itu, Halima!? Iya, kamu benar. Kita sudah sepakat untuk itu, tapi setidaknya kamu bisa hargai perasaan ku, Halima!” Kevin Melepaskan kasar tangannya dari dagu Halima.
Oh, jadi Kevin, nama pria itu. Dia yang sudah menjebak Halima dengan sengaja, hanya karena cintanya di tolak. Ck kekanakan sekali.
batin Halim.
”Kamu sudah menahan ku selama setahun disini, lepaskanlah aku, Kevin.” pinta Halima. Dengan suara rendah.
Halima terdiam. Ia menunduk di tatap tajam. ”Apa maksudmu Kevin? Apa kamu belum puas menyiksaku disini? Apa mau mu Kevin?” nada suara Halima merendah.
Kevin menyeringai jahat. ”Melihat kamu dengan tidak berdaya akan membuat ku terhibur, Halima.”
Halima mendongak, ia menatap Kevin. Perasaannya sudah bercampur aduk. ”A-a-apa m-maksudmu Kevin?”
Kevin memajukan dirinya mendekat Halima. Halima berjalan mundur ketika Kevin jalan mendekatinya dengan tatapan membunuh.
Dug
Tubuh belakang Halima menubruk dinding, ia tidak bisa mundur lagi. Tubuhnya tertahan dinding. Halima merasakan deru nafas Kevin di wajahnya.
Kevin menahan Halima dengan menyandarkan kedua tangannya di dinding. Kevin memiringkan wajahnya, hingga bibirnya tepat berada di telinga Halima. Kevin berbisik padanya.
”Bagaimana jika Mulfa melihat mu melayani dua pria sekaligus di dalam kamar hotel, lalu di depan mu aku akan mengajak Mulfa untuk menikmati enaknya surga dunia. Lalu aku menjadikan dia seperti mu!” Halima menggeleng.
”Tidak, Kevin. Ku mohon jangan kamu ganggu adik ku, lampiaskan amarahmu padaku. Tapi aku mohon lepaskan adikku, Kevin.” ucap Halima memohon dengan pandangan mengiba.
Kevin kembali tertawa melihat wajah pucat Halima. Ia menjauhkan dirinya dari Halima.
”Aku baru mengatakannya saja Halima, tapi lihatlah wajahmu. Hahahaha, bagaimana jika aku benar-benar melakukannya, Halima?”
Halima menggeleng. ”Tidak Kevin. Ku mohon jangan ganggu adikku!” ucap Halima memohon. Ia menjatuhkan tubuhnya yang lemah ke lantai.
Halim, kemana kamu Halim. Mengapa kamu belum datang juga. Aku sudah menahannya disini begitu lama. Mengapa kamu tidak datang Halim? Datang lah Halim, aku tidak mau adikku ternodai. Halim..
__ADS_1
batin Halima. Ia menunduk menangis.
Kevin menyalakan rokoknya. Ia berbalik melihat Halima.Ia tersenyum senang melihat Halima yang tidak berdaya seperti itu.
”Apa masih ada yang ingin kamu bicarakan lagi denganku, Halima?” tanya Kevin.
Halima menggeleng pelan.
”Jika tidak, aku akan pergi sekarang. Dan jangan hubungi aku jika tidak ada keperluan penting! Ingat adikmu masih ada di tangan ku!” ancam Kevin.
Kevin beranjak pergi dari sana namun dengan tiba-tiba Fahroni menghadang langkah Kevin dan dengan gerakan cepat ia membawa kedua tangan Kevin ke belakang dan langsung memborgolnya. Hingga tidak ada kesempatan bagi Kevin untuk melawan.
”Brengsek! Siapa kamu, lepaskan aku! Apa kamu tidak tahu siapa aku, hah!” bentak Kevin.
”Berhenti bicara Kevin, akhirnya aku bisa menangkap mu juga. Sudah lama sekali tangan ku gatal untuk menangkap seekor tikus seperti mu.” ucap Fahroni.
Kevin menoleh kebelakang, ia sedikit meronta karena badannya di tekan begitu kuat oleh Fahroni. Kevin tertawa kecil. Di saat itu Halim keluar dari tempatnya dan mendekati Halima.
Halima langsung memeluk tubuh Halim. Halim membiarkan Halima memeluknya namun Halim tidak membalas memeluk Halima. Setelah Halima agak tenang baru Halim melepas pelukan Halima.
”Kamu tidak apa-apa?”
”Aku tidak apa-apa, terima kasih kamu sudah datang. Aku kira kamu membohongi ku.” sahut Halima.
”Tidak, jangan ragukan ucapan ku.” ucap Halim. Halima mengangguk menanggapi.
Kevin yang melihat Halim bersama Halima, ia terbelalak. Ia tersadar sesuatu. Jika ia masuk dalam jebakan Halima.
”Brengsek! Apa kamu yang merencanakan ini Halima?” tanya Kevin tidak percaya. Halima tidak menjawab. Ia terdiam.
”Pak polisi Fahroni. Anda benar-benar tidak punya seni yang bagus, Pak. Anda menangkap ku dengan cara licik seperti ini.” ledek Kevin. Kevin tertawa. ”Apa Pak Fahroni berpikir bisa memenjarakan aku dengan mudah?”
Fahroni tidak menggubris ucapan Kevin. Ia mengkode anak buahnya untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Mereka semua keluar, Kevin menatap tidak percaya.
”Apa kalian merekam pembicaraan mereka dengan jelas?” tanya Fahroni kepada anak buahnya.
”Iya Pak, dan ini bisa menjadikan bukti yang kuat untuk memenjarakan Kevin, Pak.” sahut anak buah Fahroni.
”Brengsek!” kembali Kevin berteriak marah. Ia benar-benar sudah masuk dalam jebakan yang di buat Halima. Ia memandang Halima dengan tatapan tajam. ”Jangan harap kamu bisa hidup dengan tenang Halima!” ancam Kevin.
Halima hanya memandang Kevin tanpa ingin menggubrisnya. Halima melihat Halim.
”Sekarang keluarkan aku dari sini. Aku harus menemui adikku.” pinta Halima dengan panik.
”Kamu tenanglah, adik mu aman sekarang. Aku sudah memikirkan dengan matang sebelum aku memutuskan untuk membantu mu.” sahut Halim.
”Benarkah? Adikku sekarang dimana?” tanya Halima lagi.
”Ada di kantor polisi. Dia aman disana. Setelah aku mengeluarkan mu dari sini, kamu bisa bertemu dengan adikmu.” jawab Halim.
Halim memandang Roni. ”Pak Roni, mari kita keluar dari sini. Lewat jalan di samping saja, Pak. Jalan itu langsung mengarah ke mobil kita.” ucap Halim menunjukan jalan.
Mereka keluar dari sana. Dan benar, itu langsung menuju mobil mereka. Fahroni memasukan Kevin ke dalam mobil polisi yang tertutup. Fahroni mendudukkan Kevin dengan kasar di bangku yang terbuat dari besi itu. Lalu ia memborgol kaki Kevin sebelah, dan borgol sebelahnya ia kaitkan pada besi kursi itu.
Fahroni memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi Kevin. Sementara ia masuk kembali ke dalam Club di tempat di mana para wanita penghibur berkumpul, bersama Halim dan Halima.
__ADS_1