
Sore hari di kamar Syakila, kediaman Sarmi, kota S.
Syakila membuka mata, merasakan kehangatan di tubuhnya, juga merasakan hembusan nafas lembut seseorang yang menerpa foni nya. Ia mengangkat kepalanya, melihat wajah Geo yang masih tertidur.
Ah, Geo. Pria ini sangat tampan bahkan di saat tertidur, dia memang tampan...
Syakila tersenyum.
Yah...dia memang tampan. Eh tunggu! Apa yang ku pikirkan tentangnya? Dan aku masih berada di atas tubuhnya memuji ketampanan pria ini. Aku...aku berada di atas tubuhnya! Ah iya, dia menahan ku untuk tetap begini agar dia bisa tidur, dan aku menyetujuinya begitu saja. Ini bukan aku. Dan gak tahunya aku merasa nyaman dan malah tertidur di atasnya karena hangatnya tubuhnya. Hum, Geo..
Ia menarik tangannya yang ingin menyentuh pipi Geo dan bangun dari atas tubuh Geo dengan cepat saat ia melihat pergerakan di mata Geo.
Geo membuka mata, ia melihat raut wajah Syakila yang menahan malu, yang kini duduk di samping ranjang sambil menunduk.
”Ada apa? Mengapa wajah mu merah begitu? Apa kamu sedang merasa malu?” tanyanya tanpa sungkan.
”Ah, ti..tidak apa-apa. Kamu...kamu sudah bangun. Aku...aku pergi mandi dulu, badan ku sangat gerah.” jawab Syakila dengan gugup.
Geo tersenyum melihat raut wajah Syakila yang masih malu juga gugup itu, ia terus melihat punggung Syakila yang menjauh hingga punggung wanita itu menghilang di balik pintu kamar mandi.
Apakah dia sedang malu padaku? Malu saat dia tersadar jika dia tertidur di atas tubuh ku? Syakila, wajah malu mu sangat cantik dan imut.
Ia melihat jam dinding, pukul 17.10.
Sudah sore, tidak lama lagi anak buah ku akan datang. Setelah Syakila mandi, aku akan memintanya untuk memandikan aku, setelah itu, aku tinggal menunggu kedatangan Ijan dan pergi.
Syakila telah selesai mandi, ia berjalan keluar dari kamar mandi. Ia berhenti dari langkahnya saat mendengar suara Geo. Ia melihat ekspresi yang tajam dari wajah dan pandangan Geo.
”Antonio, tunggulah aku di villa ku! Jika aku masih ada rasa iba terhadap mu, kamu masih akan ku ampuni! Akan tetapi, aku akan memberikan pelajaran untuk mu, agar kamu tidak akan lupa kekejaman ku!” gumamnya.
Antonio? Antonio siapa yang Geo maksud?! Apakah dia Antonio yang ku kenal? Ada dendam apa di antara mereka berdua? Villa? Dia punya villa di kota ini? Mengapa aku tidak tahu hal ini? Setahuku dia disini hanya nginap beberapa malam saja di hotel. Gak tahunya, dia punya properti di kota ini. Apa lagi yang dia punya selain villa? Eh.. mengapa aku memikirkan properti dia?
benak Syakila.
Tanpa Geo sadari Syakila mendengar gumamnya. Syakila meneruskan jalannya hingga ke meja hias. Geo memperhatikan gerak geriknya. Wanita itu sedang memakai handbody dan menyisir rambutnya.
”Syakila,” panggilnya, setelah Syakila selesai menyisir dan memakai handbody.
Syakila menoleh tanpa menyahut.
”Datanglah kemari,”
Syakila berjalan ke arah Geo. Ia berdiri di samping ranjang, masih belum bersuara, hanya melihat dan menunggu ucapan apa yang akan di ucapkan Geo.
”Bantu aku mandi.”
Syakila mengangguk. Ia mengambilkan kursi roda Geo, membantunya duduk dan membawa Geo ke kamar mandi.
Ia memandikan Geo seperti biasanya, tanpa memperhatikan bentuk dan rupa tubuh dari pria itu. Bahkan untuk area itu, dia meminta Geo sendiri yang membersihkannya.
Setelah selesai mandi, ia mengambilkan pakaian dan membantu Geo memakai kan pakaiannya.
”Bagaimana luka perut mu?”
”Ah, tidak sakit lagi. Lukanya juga sudah mulai mulai untuk kering.” Syakila menjawab sambil mengancingkan baju Geo.
”Sudah kamu obati kembali?”
”Em, setelah ini baru ku obati.”
”Ambilkan obatnya, biar ku bantu olesi di luka mu.”
Syakila menghentikan gerakan tangannya yang hampir mengancing kancing baju yang terakhir. Ia melihat Geo.
”Em, tidak usah. Aku bisa olesi sendiri.”
Tok tok tok. Terdengar suara ketukan di pintu kamar, Syakila dan Geo sama-sama memandang ke arah pintu yang masih tertutup rapat itu. Setelah itu Syakila lanjut mengancingkan baju Geo.
”Tuan, saya sudah datang. Saya masuk, Tuan!” terdengar suara di balik pintu, yang ternyata adalah suara dari Ijan, bawahan Geo.
”Tunggu aku di luar!” ucap Geo menyahuti.
”Baik, Tuan!” terdengar suara langkah kaki yang menjauh dari pintu.
”Kamu mau pergi?” tanya Syakila.
”Hum, ambilkan obat mu, biar ku baluti luka mu sebelum aku pergi.”
”Tidak perlu, kamu pergi saja, aku bisa obati sendiri lukaku.” tolak Syakila.
Geo tidak menyahuti, ia melihat Syakila dengan tatapan tidak senang juga aura yang tidak ingin di bantah. Syakila melihat Geo yang tidak berbicara.
__ADS_1
Pandangan mata ini!
Tanpa berkata, Syakila mengambil obat yang sudah halus itu dan memberikannya pada Geo.
”Kau sudah mengerti tentang ku. Itu bagus untuk mu dan kedepannya nanti.” ucap Geo sambil mengambil mangkuk berisi obat daun itu.
”Sini, duduk diam disini. Biar ku obati luka mu.” ucapnya lagi sambil menepuk pahanya.
”Hah! Tidak, tidak! Aku duduk disini saja!” tolak Syakila sambil duduk di pinggir ranjang.
”Syakila!”
”Baiklah!” Syakila berdiri dan pindah duduk di paha Geo, saat melihat muka yang gak bersahabat dari raut wajah pria itu.
Geo tersenyum senang, Syakila menurut padanya hari ini.
”Angkat baju mu!” ucapnya.
Syakila membuka dua buah kancing bajunya dari bawah dan menyingkap bajunya memperlihatkan luka yang ada di perutnya dengan gugup. Ini pertama kalinya ia memperlihatkan perutnya kepada Geo, pria yang berstatus suaminya.
Geo menyadari ke gugupan Syakila dari badan Syakila yang gemetar.
”Setiap kali kamu bersama ku, dekat seperti ini, mengapa tubuh mu selalu gemetar? Apa kamu tidak pernah bersentuhan dengan lelaki manapun sebelumnya?”
”Tidak, aku dan Sardin sering berdekatan, tapi, ini pertama kalinya aku membuka kancing bajuku sendiri dan memperlihatkan kulit perutku kepada seseorang dalam keadaan sadar.”
Geo tersenyum, ”Jadi, aku yang pertama?”
Syakila terdiam.
”Apa tidak perlu di bersihkan pake alkohol lagi lukanya?” tanya Geo.
”Em, tidak perlu! Sudah ku bersihkan saat mandi tadi.”
”Kalau begitu aku mulai saja oleskan luka ini dengan obat, jika perih, kamu remas baju di bahu ku saja.”
Geo mulai mengoleskan obat daun itu di sekitar luka. Setelah itu ia mengoleskannya di tempat yang luka. Ia merasakan bahunya di remas.
”Seharusnya, kalau luka ini tidak sakit lagi, saat di obati gak kan perih lagi, kan?” ucapnya masih sambil mengoleskan obat di perut Syakila.
Syakila tidak menyahuti, tangannya sesekali meremas bahu Geo saat merasakan perih di area luka. Setelah selesai mengobati luka itu, Geo menyimpan mangkok obat di atas ranjang. Ia meletakkan tangan kirinya di pinggang Syakila dan tangan kanannya membelai perut Syakila.
Syakila terkejut, badannya membeku dan gemetar. Geo merasakan tubuh Syakila yang membeku dan gemetar itu. Namun, ia tetap meneruskan mengelus kulit mulus Syakila dari belakang Syakila, terus mengelus sampai tangannya menyentuh benda kenyal yang masih tertutup bra.
Geo tidak menghiraukan ucapan Syakila, ia justru menarik kepala Syakila dan mencium bibirnya dengan lembut.
Syakila tidak menolak ciuman Geo, tetapi, ia tidak membalas ciuman tersebut dan ia juga tidak marah atas perlakuan Geo. Tangan Geo masih menelusuri kulit mulus dan lembut Syakila. Syakila merasakan di bawahnya sana ada yang mengeras.
Yah, milik Geo kembali mengeras dan bergerak. Geo melepas ciumannya, ia turun menciumi leher Syakila.
Ada rasa aneh yang mengalir di aliran darah Syakila, ”Ehm, Ah.” jerit Syakila saat Geo meninggalkan bekas merah di kedua leher Syakila.
”Ge..Geo. Berhentilah, Ku mohon!”
Geo menghentikan tangannya yang bergerilya di kulit Syakila. Ia memeluk erat tubuh Syakila. Syakila tidak menolak pelukan Geo, juga tidak membalasnya.
”Kamu tidak menolak ciuman ku, sentuhan ku, dan pelukan ku. Apakah kamu sudah bisa menerima ku sebagai suami mu?” ucap Geo, suaranya serak.
Syakila terdiam.
Eh, iya, tubuh ku tidak menolak perlakukan Geo. Apa ia aku sudah menerima dia sebagai suami ku?!
”Geo, bukan kah kamu ingin pergi? Ijan telah menunggu mu di depan.” ia mengalihkan pembicaraan.
”Jangan mengalihkan pembicaraan ku, Syakila! Jawab aku!”
”Geo. Aku tidak menolak itu, bukan berarti aku menerima mu. Geo, kita punya perjanjian dan kita memiliki orang yang kita cintai. Jadi__”
”Aku pergi dulu! Aku tidak tidur di sini malam ini dan besok aku belum kembali.” pangkas Geo.
Syakila berdiri dari pangkuan Geo, ”Kamu mau pergi kemana? Dan nginap di mana? Selama berapa hari?” tanyanya selidik.
Geo tersenyum, ”Kamu mengkhawatirkan ku?” goda Geo.
”Hah, tidak. Aku hanya bertanya saja, jadi, jika mama menanyakan mu, aku bisa jawab.”
"Ada urusan mendadak. Tidak perlu kamu tahu. Aku pergi.” pamit Geo. Ia mendorong kursi rodanya keluar dari kamar.
Syakila terduduk di ranjang setelah kepergian Geo.
”Bisa gila aku jika Geo tidak menghentikan aktivitasnya. Hah, tubuh ku ini, berkhianat padaku. Bagaimana bisa tubuh ku menerima perlakuan Geo.”
__ADS_1
Ia membaringkan tubuhnya.
”Tidak, tidak! Di antara kami tidak boleh terjadi sesuatu. Tubuh ku, hati ku, jiwa ku hanya milik Sardin seorang. Sama seperti dia, tubuhnya, jiwanya, hatinya hanya milik Dawiyah, jadi di antara kami tidak boleh terjadi apa-apa. Lain kali, aku akan menolak setiap sentuhannya.”
Ia bangun dari baringnya dan kembali duduk tegak di pinggir ranjang.
”Kemana dia akan pergi?”
Ia mengingat kembali gumaman Geo. ”Villa? Di mana letak villanya? Apa dia akan berseteru dengan Antonio? Apakah Antonio dan Geo saling mengenal dan menyimpan dendam? Tapi, apakah Antonio yang Geo maksud adalah Antonio yang ku kenal?”
”Ah, sudah lah. Lebih baik aku membantu kakak di dapur, menyiapkan makan malam dan merebus obat ku.”
Ia beranjak berdiri dan melangkah keluar kamar menuju dapur.
.. ..
Di perjalanan ke villa Geo, kota S.
”Bagaimana persiapan di sana?” tanya Geo.
”Aman, Tuan! Masing-masing di setiap sudut villa terdapat dua orang yang berjaga di sana lengkap dengan senjatanya.”
”Bagus! Bilang pada mereka jangan berjaga di depan jendela! Mereka harus tetap berada di tempat gelap. Senjata ku?”
”Baik, Tuan. Senjata Tuan, semua ada di dalam tas, di samping Tuan!”
Geo melihat tas itu, mengambil, dan membukanya. Semua isinya lengkap. Ia mengambil pisau kecil yang dilipat dan memasukkan dalam sak. Ia juga mengambil pistol andalannya. Ia juga mengambil dan memakai handset bloototh yang terhubung dengan semua anak buahnya.
”Apakah kita akan lewat dari depan, Tuan?”
”Tidak, dari belakang kanan villa. Langsung terhubung dengan ruang rahasiaku, dari sana aku akan menuju kamar.”
”Baik, Tuan.”
Ijan mengambil handphone nya, mengirim pesan kepada semua yang ada di villa dan mengatur posisi sesuai dengan keinginan Geo.
Geo menekan tombol biru yang terhubung langsung dengan 4 orang pelindung rahasianya. Mereka berempat di tempatkan pada sisi gelap kamar Geo. Mereka adalah anggota dari the cobra yang di latih khusus oleh Geo untuk pelindung bayangan.
”Kita hampir sampai, Tuan. Para anak buah Antonio sudah ada di beberapa pintu villa.” ungkap Ijan.
Geo menghela nafas, ”Biarkan mereka datang. Percepat laju mobil!”
Ijan mempercepat laju mobil, mereka sampai di belakang sisi kanan villa. Geo memencet remote control yang di arahkan pada dinding besar di depannya. Dinding terbelah menjadi dua, Ijan menjalankan mobil masuk ke dalam. Dinding yang terbelah itu kembali utuh menjadi dinding.
Dinding itu yang tahu hanya Geo, Ijan, dan ke empat penjaga bayangan Geo. Selain mereka, yang lainnya tidak ada yang tahu, bahkan Rosalina, mama kandung Geo yang sering tinggal di villa itu ketika berada di kota S, ia tidak mengetahuinya.
Ijan turun dari mobil dan membantu Geo turun dari mobil. Ia mendorong kursi roda Geo melewati lorong yang lebarnya hanya delapan puluh centi meter saja.
Ddorr ddorr, mereka berdua mendengar suara tembakan yang memecahkan kaca villa.
”Mereka sudah mulai menyerang, Tuan!” ucap Ijan.
”Aku sudah dengar, biarkan saja mereka masuk. Dan kita kepung mereka di dalam villa.”
Geo kembali menekan remote control yang di arahkan ke dinding, dinding bergeser. Nampak kamar Geo yang bersih terawat, yang cahaya lampunya temaram.
”Kamu keluarlah! Biarkan aku sendiri di sini. Ingat, jangan halangi Antonio yang ingin pergi ke kamar ku.” ucap Geo.
”Baik, Tuan.”
Ddorr ddorr kembali terdengar suara tembakan yang kembali memecahkan jendela. Beruntung Geo tidak menempatkan anak buahnya berdiri di setiap sisi jendela, jika tidak, mereka sudah pasti akan mati tertembak.
”Saya keluar, Tuan. Saya akan ke sisi belakang villa untuk menyambut kedatangan mereka. Tuan, jaga diri baik-baik.” ucap Ijan.
”Hum,” singkat Geo menyahuti.
Ijan keluar dari kamar Geo.
”Kalian sudah datang?” tanya Geo.
”Sudah, Tuan. Kami berada di sisi gelap kamar Tuan.” jawab ke empat pria yang berdiri di tiap sudut gelap kamar Geo.
”Hum, jangan bertindak tanpa ku perintah!”
”Siap, Tuan.”
Geo duduk di kursi rodanya, ia menyalakan laptop dan melihat monitor yang terhubung di setiap sudut ruangan di villanya.
Ia tersenyum sendiri melihat beberapa anak buah Antonio yang bergerak maju menuju pintu villa dari depan. Ia juga melihat anak buahnya yang masih tetap berdiri di posisinya dengan siaga.
Geo melihat monitor yang ada di belakang villa, ia melihat ada pergerakan di sana, juga di pintu samping kiri dan kanan villanya.
__ADS_1
”Oh, rupanya mereka ingin mengepungku dari segala arah jalan keluar villa ku! Heh, masuklah! Aku sudah menunggu kedatangan kalian!” gumamnya, masih melihat monitor di depannya.