
Di bandara.
Syakila dan Geo turun dari mobil. Mereka berjalan ke pesawat pribadi Geo.
”Tuan. Perbelanjaan Tuan, sudah ada di dalam pesawat, saya letakkan di kamar Tuan.” lapor anak buah Geo pada Geo.
Geo berhenti di tangga pesawat sebentar, melihat anak buahnya tersebut. ”Hum! Kalian tidak apa-apain dia, kan?” tanyanya.
”Tidak, Tuan!”
Kening Syakila mengerut? Ingin mengerti maksud ucapan Geo dan anak buahnya. Namun, dia sama sekali tidak mengerti. Dia pun mengabaikannya.
”Bagus! Kalian, jaga diri kalian dan kelola usaha ku dengan baik. Dan kirim satu orang untuk memantau mall istriku.” titah Geo.
”Baik, Tuan.”
Syakila dan Geo pergi dari pintu pesawat. Melangkah masuk ke dalam. Pintu pesawat di tutup. Pesawat mulai bergerak maju. Dan perlahan mulai mengudara, meninggalkan bandara kota S.
Di kamar Geo.
Geo membuka bajunya. Syakila menunduk. Entah mengapa setelah mereka melakukan hubungan suami istri, di setiap Geo membuka baju di hadapannya, Syakila selalu terpukau dan ingin berlari memeluk, menyentuh, meraba pemilik tubuh kekar tersebut.
”Syakila, sayang. Kamu kenapa?” Geo heran melihat Syakila yang tiba-tiba menunduk, setelah melihatnya membuka baju.
”Hum? Aku gak apa-apa.” jawab Syakila, pandangannya menatap di luar jendela pesawat.
Kening Geo mengerut. Kenapa Syakila seperti menghindari kontak mata dengannya?
”Apa aku ada salah padamu, sayang?” Geo mendekati Syakila, duduk di hadapan gadis itu.
Syakila masih tetap menatap di luar jendela pesawat. ”Tidak ada. Aku hanya ingin memandang awan-awan saja.” jawabnya.
Anak ini! Mulai menutup diri lagi kah? benak Geo.
Geo memegang kedua pipi Syakila dan memutar kepala Syakila menghadap dirinya. Namun, Syakila malah menundukkan wajahnya, tidak menatap wajah Geo.
”Hei! Jujurlah, sayang! Ada apa dengan mu? Hum?”
”Bisa gak, kalau gak membuka bajumu?”
”Hum? Kenapa? Aku kepanasan makanya membuka baju. Apakah ada masalah?” Geo penasaran.
”Iya, sangat bermasalah.” jawab Syakila, memandang wajah Geo
”Hah! Di mana masalahnya?”
”Masalahnya adalah tubuhmu menggoda ku, di setiap kamu melepas bajumu.”
Alis kiri Geo terangkat melihat Syakila yang kembali menunduk. Apakah wanita ini sedang....
”Puft! Sayang! Apa kamu....em...apakah tubuh ku membuat mu berimajinasi pada hubungan kita dua jam yang lalu?” tanya Geo. Lebih tepatnya dia menggoda sang istri.
Syakila tidak menjawab. Meskipun dia menunduk, Geo dapat melihat jelas wajah Syakila yang sedang memerah saat ini. Wanita di hadapannya sedang malu.
Geo menghela nafas dan menggendong Syakila secara tiba-tiba. Syakila terkejut dan cepat berpegangan pada leher Geo.
Geo membaringkan tubuh Syakila dengan pelan di atas ranjang. Dia mencium kening, pipi kiri, pipi kanan, lalu mencium bibir Syakila. Ciumannya sangat lembut.
Syakila membalas ciuman lembut Geo.
”Um...” lenguh Syakila.
Geo melepaskan ciuman mereka. Dia melihat wajah istrinya. Syakila membuka mata, pandangan matanya mendamba, nafasnya memburu.
”Geo....”
”Hum. Ada apa, sayang.”
”Kedepannya, aku tidak mau melihat kamu bertelanjang dada di hadapan orang lain. Tubuh mu.. tubuh mu sangat menggoda. Wanita-wanita pasti akan mendamba mu.”
Geo tersenyum. Dia kembali mencium bibir istrinya itu. Kemudian melepaskannya. ”Tentu. Tubuh ku hanya kamu seorang yang bisa melihatnya, menyentuhnya, menikmatinya.”
”Apa tadi yang kamu pikirkan saat melihat ku membuka pakaian?” tanya Geo.
”Aku...aku ingin menyentuh tubuh mu. Aku menginginkan mu.”
Geo tersenyum manis. Di peluknya tubuh Syakila. Di ciumnya leher Syakila dan memberikan tanda di sana.
”Ah!” desiran darah hangat mengalir di sekujur tubuh Syakila. Dia menginginkan hal lebih dari sekedar ciuman.
Geo sangat tahu apa yang di inginkan oleh istrinya. Dia membuka satu persatu kancing baju Syakila. Memegang kedua buah dada Syakila, meremasnya, mencium, menghisapnya dengan lembut.
”Uhm!” nafas Syakila semakin memburu.
Geo sendiri terbuai pada lenguhan Syakila. Dia kembali menjamah tubuh Syakila. Memuaskan birahi yang membara antara dirinya dan Syakila.
__ADS_1
Mereka bersenggama selama satu jam lamanya. Geo mencium kening Syakila dan mencium singkat bibir wanita itu. Dia menarik dirinya dari atas tubuh Syakila.
Syakila pergi membersihkan dirinya di kamar mandi.
Geo tersenyum senang. Akhirnya dia bisa mendapatkan cinta Syakila. Matanya memandang Syakila yang baru keluar dari kamar mandi.
”Mari sini!” Geo menepuk kasur di sampingnya.
Syakila menurut. Dia duduk di samping Geo. Syakila menunduk, tidak sengaja matanya melihat luka di perut Geo. Tangannya terulur memegang luka itu. ”Ini...kenapa perut mu?” dia melihat wajah Geo.
Geo melihat perutnya sendiri. ”Oh, ini. Ini aku cubit sendiri tadi siang.” jawabnya.
”Hum? Cubit sendiri?” Syakila tidak percaya.
”Iya. Tadi siang itu, aku terkena bius obat perangsang. Seorang wanita menjebak ku, memasukkan obat ke dalam jus minuman ku. Agar kesadaran ku tidak hilang semua, aku melukai diri ku sendiri.” jelasnya.
”Ah! Siapa dia? Kok bisa dia punya kesempatan menaruh obat pada minuman mu? Beraninya melakukannya di rumah ku! Kamu juga kenapa tidak bilang padaku sebelumnya! Lalu, di mana mama, Hardin, Fatma saat itu?” tanya Syakila.
”Em...aku tadi pergi sebentar setelah kamu masuk ke dalam rumah. Aku pergi ke mall untuk membelikan mu pakaian, tas, dan sendal. Pas aku sedang duduk di depan kafe, ada seorang wanita dan ibunya menghampiri ku. Mereka berdua orang yang pernah aku tolong sewaktu aku masih berpacaran dengan Dawiyah. Ibunya mengajak ku ke rumahnya sebagai rasa terima kasih. Aku menuruti kemauan ibunya. Jadi, anaknya itu punya kesempatan untuk mencelakai ku, di rumahnya. Sebelumnya wanita itu pernah menemui ku di apartemen ku dengan pakaian yang....yah... menggoda. Aku mengusirnya.” ungkap Geo.
”Kok ada yah wanita seperti itu! Yah...siapa yang tidak akan tergila-gila sama seorang Geovani Albert yang tampan, cool, seperti kamu ini? Semua wanita akan tergoda dan mendambakan mu. Bahkan ingin memiliki mu. Aku cuma kasian sama mereka, mereka tidak akan punya kesempatan untuk bisa mendekati mu dan mengganggu mu.”
Geo tersenyum-senyum mendengar perkataan Syakila. ”Ada orang yang sedikitpun tidak tertarik padaku.”
”Ada? Siapa?” Syakila penasaran.
”Yang pertama saat aku sakit dan lumpuh. Yang kedua, kamu.” Geo menghentikan ucapannya sebentar saat melihat perubahan di wajah istrinya.
Syakila terdiam.
”Kamu sedikitpun tidak menoleh padaku, padahal kita tidur satu kamar. Dan bukan hanya sekarang ini aku bertelanjang dada di depan mu. Tapi, dari dulu. Bukannya kamu tergoda dengan ku, malah ingin lari dan pisah dariku.”
Syakila tersenyum kecut. ”Em...iya. Itu...aku...em...”
”Tidak apa-apa. Tidak usah katakan, aku sudah tahu apa yang ingin kamu katakan. Sekarang aku bersyukur, karena kamu, cintamu, hatimu semua milikku.” pangkas Geo. Dia mencium pucuk kepala Syakila.
”Hemp! Aku dulu memang tidak memperhatikan mu. Tapi sekarang, aku baru tersadar ternyata suami ku ini sempurna. Dan sepertinya, aku harus menempel padamu tiap hari. Agar tidak ada wanita yang akan mengganggu mu.”
Geo terkekeh. Dia sangat gemas dengan istrinya itu. ”Em.. setelah sampai di kota A, kamu akan kembali mengajar?” dia sengaja mengalihkan pembicaraan.
”Hum... kayaknya tidak. Aku akan menjaga toko ayah ku saja.” jawab Syakila.
”Toko ayah mu masih ada di kota A? Kok aku gak tau ya?”
”Iya, ada dua tokonya ayahku. Satu toko pecah belah, satunya toko kosmetik. Selama ini yang menjaganya adalah anak buah om Anton. Setiap bulan, di rekening ku, kakak ku, dan adik-adikku selalu di transfer kan uang dari hasil pemasukan kosmetik dan pecah belah. Semua di atur oleh om Anton. Tentu saja kamu tidak tahu, aku tidak pernah cerita dan kamu tidak pernah bertanya padaku.” jelas Syakila.
”Hehehe tidak.” jawab Syakila.
”Biarpun begitu. Kamu harus mau menerima uang dariku. Karena aku suamimu, semua kebutuhan hidupmu adalah tanggung jawabku.” ucap Geo, tangannya memeluk tubuh Syakila.
”Iya. Itu harus! Siap-siap saja uang mu akan ku habiskan.” sahut Syakila sambil tersenyum.
Geo mencubit hidung Syakila. ”Jika uang ku habis kan masih ada uang mu! Lagi pula, biarpun kamu ingin membeli semua supermarket, minimarket, mall, restoran, bahkan hotel di seluruh kota A, uangku tidak akan habis.”
”Aku baru tahu kamu sekaya itu. Kalau tahu, dari awal aku pasti morotin uang mu.”
”Sepertinya kamu sudah tahu dari awal. Tapi, kamu bukan tipe cewek matre. Kamu istirahatlah. Aku juga ingin istirahat.” titah Geo.
”Iya. Geser sedikit, biar aku bisa berbaring dengan benar.”
Geo menggeser badannya. Syakila berbaring dengan memeluk tubuh suaminya. Dia mencium leher Geo dan memberi tanda di sana, lalu ia memejamkan mata.
Geo terkejut, namun, dia tersenyum. Di ciumnya pucuk kepala Syakila dan memeluknya erat. ”Tidurlah, jangan menggoda ku. Jika tidak, sepenjang perjalanan aku akan memakan mu.” ancamnya.
Syakila membuka mata, mendongak, melihat Geo. ”Aku tidak menggoda mu. Aku hanya mencium lehermu saja. Tidak boleh? Dasar pelit! Katanya tubuh ini milikku, baru cium sedikit saja aku sudah di ancam.” keluhnya.
”Sudah, tidur! Aku tidak ingin berdebat dengan mu. Kamu gadis pintar, sangat mengerti dengan maksudku.”
”Hum.” Syakila kembali memejamkan mata.
.. ..
Di bandara kota A.
Syakila merentangkan kedua tangannya setelah turun dari pesawat. ”Alhamdulillah! Sudah sampai di kota A.”
Geo tersenyum melihat antusias istrinya itu.
”Tuan! Silahkan, mobil di sebelah sini!” beberapa anak buah Geo berjas hitam menunduk, mempersilahkan Geo untuk berjalan ke arah mobil yang tersedia.
”Di mana Beni?”
”Tuan muda kedua masih ada di perusahaan. Masih ada urusannya, Tuan.” jawab sang anak buah.
Geo meraih tangan Syakila. ”Sayang! Ayok!”
__ADS_1
”Ah, iya.” Syakila mengikuti langkah kaki suaminya.
Mereka berjalan ke mobil.
”Biar aku sendiri yang setir. Kalian tidak perlu mengikuti ku. Kembalilah ke tempat kalian.” ucap Geo pada semua anak buahnya.
”Baik, Tuan!” dia menyerahkan kunci mobil pada Geo. Dia pergi ke mobil yang ada di belakang.
Geo membukakan pintu depan untuk Syakila.
”Ah, Geo. Tidak perlu seperti ini. Aku bisa membukanya sendiri.”
”Sudah, ayo masuk.”
Syakila menurut. Dia masuk ke dalam mobil. Geo sendiri masuk ke dalam mobil. Dia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
”Sayang, kamu tidak usah jaga toko ya. Kamu bekerja di kantor ku saja. Menjadi asisten pribadi ku. Ok?” pinta Geo.
”Hum? Jadi asisten pribadi mu? Apa tidak apa-apa? Aku orang baru langsung masuk bekerja sebagai asisten pribadi mu, di perusahaan mu, tanpa memasukkan lamaran kerja?”
”Tidak apa-apa sayang. Siapa yang ingin protes, aku pecat!” Geo tersenyum melihat Syakila.
”Hah! Arogan sekali. Kasian dong, karyawan mu yang sudah lama mengabdi, tiba-tiba di pecat hanya karena memprotes ku. Aku akan terlihat sebagai karyawan pembawa masalah.”
Geo terkekeh. Beberapa menit dalam perjalanan, mereka sampai di kediaman Albert. Geo menghentikan mobil di halaman parkir.
”Sayang. Ayo turun. Nanti baru kita lanjut bicarakan pekerjaan.” Geo sendiri telah turun dari mobil. Syakila juga turun dari mobil.
Geo dan Syakila berjalan memasuki teras rumah.
”Tuan, Anda sudah kembali. Saya senang melihat Anda sudah datang. Mari Tuan, nyonya ada di dalam, di dapur.” dia menggeser tubuhnya agar Geo bisa masuk ke dalam rumah.
Syakila terbengong melihat wanita yang menyambut suaminya. Dia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya.
”Hum.” singkat Geo menyahuti.
Geo menggenggam tangan Syakila mengajaknya ke dapur.
Di dapur.
Geo melihat mamanya sedang berdiri di depan open listrik. Geo memberi isyarat pada Syakila untuk terdiam. Dia sendiri berjalan pelan-pelan mendekati mamanya. Dia menutup kedua mata mamanya.
”Ah! Siapa ini? Hei...jangan main-main yah! Beni? Ani?” Rosalina terkejut. Namun, orang di belakangnya tidak bersuara. Dia mengikuti arah orang di belakangnya untuk jalan. Orang itu mengarahkan dirinya untuk duduk di bangku. Dia duduk. ”Siapa sih? Jangan main-main yah! Cepat lepaskan tangan mu! Kamu belum tahu kan bagaimana marahnya kedua anakku? Cepat lepaskan tangan mu dari mataku!” titah Rosalina.
Namun, Geo masih enggan melepaskan tangannya. Dia memberi isyarat pada Syakila untuk duduk di hadapan mamanya. Syakila geleng-geleng namun, dia tetap menurut. Dia duduk di depan Rosalina.
Perlahan Geo melepaskan tangannya, tanpa bersuara. Rosalina membuka matanya. Dia terkejut sekaligus senang melihat Syakila di depan matanya.
”Syakila? Ini kamu, sayang? Sama siapa kamu datang? Mana suami mu? Mana Geo? Kamu benar-benar membuat Mama terkejut. Untungnya Mama tidak berteriak. Kalau berteriak, kamu gak bisa tersenyum seperti itu.”
”Iya, Mama. Ini Syakila. Itu suami Syakila, di belakang Mama. Dialah yang membuat Mama terkejut, bukan Syakila.”
Rosalina menoleh ke belakang. Dia memukul perut Geo. Anaknya itu membuatnya terkejut.
Geo hanya tertawa sambil duduk di kursi, di samping ibunya.
”Tunggu! Kamu tadi bilang apa?” Rosalina baru tersadar, ”Suamimu siapa?” dia melihat Syakila lalu melihat anaknya.
”Iya, Mama. Aku adalah suaminya Syakila.”
”Hah! Benarkah? Syakila, anakku tidak berbohong kan? Lalu, Sardin?” tanyanya pada Syakila.
Wajah Syakila berubah sedih. ”Sardin sudah meninggal, Ma.....” Syakila menceritakan semuanya pada Rosalina tanpa ada yang di sembunyikan.
Rosalina ikut sedih mendengar tuturan Syakila. Tangannya terangkat memegang jemari tangan Syakila yang ada di atas meja. Dia menghela nafas, ” Mama bahagia kamu menjadi istri Geo lagi. Mama juga ikut sedih pada kenyataan Sardin. Mama ikut turut berduka cita. Hidup, mati, jodoh, rezeki semua adalah ketentuan Allah.”
”Iya, Mama benar. Em..Mama lagi memasak apa? Dari baunya seperti nya sudah masak dan dari wanginya sangat enak.” Syakila berdiri, dia mencabut kabelnya oven dan mengangkat roti dari dalam oven.
”Oh, Mama lupa! Mama sedang memanggang roti.” Rosalina berdiri mengambil piring ceper dan memberikannya pada Syakila.
Syakila memindahkan roti tersebut di piring ceper dan menaruh rotinya di atas meja.
”Kenapa Mama yang memanggang roti nya? Kenapa tidak bilang Ani saja yang panggang? Dan kenapa Ani bisa ada di sini?” tanya Geo.
”Beni yang memanggilnya ke sini. Untuk menemani Mama.” ungkap Rosalina.
”Sejak kapan?”
”Sejak kamu berangkat ke kota S.”
”Lalu pekerjaannya?”
”Ada orang yang baru yang menggantikan posisi Ani.”
”Orang baru? Kapan perusahaan ku membuka lowongan kerja untuk merekrut karyawan baru? Kok Beni tidak beritahu aku?”
__ADS_1
Rosalina terdiam. Nanti dia akan menjelaskan pada Geo.