
Sore hari, di kediaman Albert.
Syakila merasa gerah, seharian, ia hanya duduk diam di rumah. Kesempatannya untuk keluar dari dinding belakang taman, sirna.
Rosalina masih duduk di teras rumah, memperhatikan dirinya. Belum lagi, para pria yang bertugas menjaga pagar, selalu melihat ke arahnya. Ia begitu stres berada di rumah. Ia ingin keluar, ingin bertemu dengan Sardin.
Rosalina berdiri, berjalan, menghampiri Syakila. ”Syakila, ayo kita pergi berbelanja!” ajaknya.
Syakila terdiam melihat Rosalina. Jika aku ikut Mama keluar dan menipu Mama untuk pergi menemui Sardin, aku merasa bersalah! Jika itu Beni, aku berani melakukannya. benaknya.
”Tidak usah, Mah! Mama pun sebenarnya takut untuk membawa Syakila keluar dari rumah, kan?” tangannya memetik satu bunga mawar merah dan mencium harumnya. ”Syakila tidak mau Mama di marahi sama Geo.”
Rosalina terdiam. Aku memang sedikit takut! Tapi bukan takut di marahi Geo. Anakku baru saja pulih dari trauma nya, aku tidak ingin memancing amarahnya. Apalagi, jika niat mu keluar hanya untuk menemui pria lain. Aku takut hal itu akan memicu ulang pada trauma anakku. Tapi, melihat mu yang terus melihat pagar rumah, aku tahu, kamu ingin keluar, kan? Meski aku tahu niat mu, aku tetap mengajak mu keluar, biar kamu tidak suntuk di rumah terus. Dan aku tahu, kamu tidak akan menipu ku. benaknya.
Ia tersenyum, ”Bukan kah kamu ingin pergi berbelanja? Geo tidak akan memarahi Mama. Ayo, kita keluar!” ajaknya lagi.
”Siapa yang mau keluar?”
Rosalina dan Syakila menoleh ke samping, melihat Geo. Mereka berdua lantas berdiri. Syakila membuang mawar yang di petiknya itu. Ia membuang muka saat bertatapan dengan mata Geo.
”Geo? Kamu sudah pulang? Kamu sendirian? Di mana Beni?” Rosalina mendekati anaknya yang baru pulang itu.
”Siapa yang ingin keluar?” Geo mengulang pertanyaannya. Tatapannya menuju Syakila.
”Em...” Rosalina menengok kebelakang, melihat Syakila yang masih berdiri di depan taman bunga. ”Syakila ingin berbelanja kebutuhannya. Mama juga kebetulan ingin berbelanja, jadi, Mama mengajaknya untuk pergi. Apa Mama boleh keluar bersama Syakila?”
Geo masih melihat Syakila yang memandang bunga. Ia mengingat perkataan Sardin. ”Hum, pergilah!” ia mengizinkan.
Syakila menoleh melihat Geo, Mau pergi sekarang? Waktu sudah menunjukkan pukul enam belas lewat lima puluh lima menit, ingin pergi sesore begini? Tidak, aku tidak mau! Jika memang dia izinkan, besok saja baru aku pergi. benaknya.
Syakila kembali membuang muka ketika tatapannya bertemu kembali dengan tatapan Geo.
Rosalina tersenyum, melihat Syakila. ”Syakila, kamu dengar sendiri, kan? Geo mengizinkan mu pergi bersama Mama. Ayok kita pergi!”
”Tidak, Mah! Besok saja baru Syakila perginya. Syakila masuk ke dalam dulu, Mah.” ia melenggang masuk ke dalam rumah, melewati Geo. Wajahnya tampak datar. Terlihat sekali jika ia mengabaikan Geo.
Rosalina dan Geo terdiam, melihat punggung Syakila.
Rosalina melihat Geo, anaknya terlihat marah. ”Geo! Kamu dari mana saja? Apa kamu tidak bertemu dengan Beni? Beni pergi keluar untuk mencari mu.” ia mengalihkan perhatian Geo.
”Geo pergi menemui seseorang, Mah. Ada hal yang Geo urus.”
Rosalina mendorong kursi roda Geo ke teras rumah. Ia duduk di kursi. ”Siapa yang kamu temui? Apa dia seorang wanita? Kamu menemui Dawiyah lagi?” ia menatap Geo dengan marah.
”Dawiyah? Geo tidak menemuinya! Lagian untuk apa Geo menemui dia?”
Rosalina memandang Geo tidak percaya, ”Benar, kamu tidak menemui wanita itu? Apa tadi kamu pergi ke apartemen mu?”
”Geo tidak pergi ke apartemen!”
”Kamu tidak bohong? Mama dan Beni keluar mencari mu pagi tadi ke apartemen mu. Sampai di sana, kami mendapati Dawiyah ada di dalam apartemen mu dan sedang tidur di dalam kamar.” ungkap Rosalina. Ia menatap Geo dengan tajam, ”Jadi, kamu jangan membohongi Mama! Katakan! Katakan dengan jujur, apa kamu masih mencintainya? Masih berhubungan dengannya?”
”Mah, Geo tidak mencintainya lagi! Geo sudah mengusir dia dari apartemen! Geo juga tidak tahu, kenapa dia ada di dalam apartemen Geo!” ia menjeda ucapannya.
Geo ingat, jika ia belum sempat mengganti kata sandi pintu apartemennya itu.
”Mama, Geo belum sempat mengganti kata sandi pada pintunya, makanya dia bisa masuk bebas di apartemen Geo.” ia mengambil hape dari saku celananya dan mengaktifkan hapenya.
Rosalina memperhatikan. ”Pantas saja! Saat Beni dan Mama menghubungi kamu tidak masuk-masuk, ternyata hape mu memang gak aktif.”
Geo melihat mamanya, ”Maaf, Mah! Geo tidak ingin di ganggu, jadi, Geo sengaja menonaktifkan hape.” jelasnya.
Ia menghubungi Beni. Telfon tersambung.
”Halo! Geo, kamu ada di mana sekarang? Mengapa hapemu baru aktif? Geo, Tante dan aku sangat khawatir padamu! Kamu pulang, yah?” nada suaranya terdengar khawatir.
”Apa aku begitu rapuh? Sehingga ingin meninggalkan rumah dan bunuh diri? Begitu? Beni, apa kamu tidak mengenaliku dengan baik?” Geo berbicara ketus. Beni meremehkan dirinya.
”Em...bukan! Aku bukan meremehkan kamu, Geo! Em...ok! Maaf, maaf! Kamu di mana sekarang?”
”Di rumah!” jawabnya masih ketus, ”Kamu pergi ke apartemen sekarang dan ganti kata sandi pintu ku! Aku tidak ingin ada orang lagi yang sembarangan masuk ke dalam apartemen ku!” titahnya.
”Ok! Ok! Aku ke apartemen sekarang! Tapi...aku akan menggantinya dengan kata sandi apa?” Beni menjadi bingung.
”Tanggal lahir mu saja!” tut tut tut! Ia memutuskan sambungan secara sepihak.
__ADS_1
.. ..
Di perjalanan ke apartemen Geo.
”Pria es itu kapan sih akan mencair? Mencairnya hanya saat beberapa bulan saja! Setelah itu, kembali lagi membeku! Apa dia gak punya perasaan?” Beni begitu kesal! Geo memutuskan sambungan telfon begitu saja, padahal, ia masih ingin berbicara.
Beni memutar arah, kembali ke apartemen. Padahal, dia baru saja dari apartemen Geo untuk mengecek kembali, mungkin saja Geo ada di sana. Namun, saat sampai, ia tidak menemukan siapapun di apartemen. Akhirnya, ia memilih kembali ke kediaman Albert.
Beberapa menit kemudian, Beni telah sampai di apartemen. Ia bergegas turun dari mobil dan bergegas pergi ke apartemen Geo.
Ia telah sampai di depan pintu apartemen. Tangannya memencet angka dan huruf, membuka pintu apartemen itu.
Pintu terbuka. Beni masuk dan kembali mengecek di dalam sana. Mungkin saja Dawiyah kembali masuk. Semuanya aman!
Ia pun mengganti kode sandi pintu tersebut dengan tanggal lahirnya. Setelah selesai, ia pergi dari sana. Ia berjalan dengan cepat menuju lift.
”Antonio, ku mohon!”
Beni menghentikan tangannya yang memencet tombol pada pintu lift. Ia berjalan pelan mendekati arah suara.
Langkahnya terhenti, saat melihat ada bayangan orang di tangga darurat apartemen. Ia mengintip, melihat orang itu adalah Dawiyah dan Antonio.
”Sudah ku bilang! Kamu dan aku sudah selesai! Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan!”
Beni melihat raut wajah Antonio yang marah.
”Tidak! Kamu tidak bisa campakkan aku seperti ini, Antonio! Aku sudah banyak berkorban untuk kamu! Kamu berjanji untuk menikahi ku, tetap mencintai ku! Tapi, kenapa sekarang kamu berubah, Antonio?”
Beni mendengar Dawiyah terisak.
”Aku tidak mencintai mu lagi! Aku mencintai wanita lain!” ucap Antonio dengan santai.
”Apa? Kamu mencintai wanita lain? Apa Syakila?”
Antonio terdiam. Syakila? Yah, aku mencintai nya! Tapi, mengingat dia adalah anak dari musuh ayah ku, cinta itu tertutup dengan dendam ku! Bagaimana kamu tahu tentang Syakila! Aku tidak perduli! benaknya.
”Iya, aku mencintai Syakila! Dia jauh lebih baik darimu!” jawabnya, kemudian.
Beni terkejut! Ia tidak menyangka, kalau Antonio mengenal Syakila, bahkan, Antonio menaruh hati pada Syakila.
Antonio mencubit kedua pipi Dawiyah dengan satu tangan, ia sangat marah pada wanita itu.
”Bagaimana kamu bisa tahu tentang Syakila, aku tidak peduli! Tapi, kamu jangan keterlaluan di hadapan ku! Jangan coba-coba untuk mengetes kesabaran ku!” ia menekan tangannya lebih keras, lalu, melepaskannya dengan kasar.
Bagaimana pun, dia tidak ingin membuat wanita yang pernah ia cintai, dan juga sering membantu dirinya itu, terlihat menyedihkan.
Dawiyah terhuyung, tubuhnya kehilangan keseimbangan, sehingga membuatnya jatuh berguling dari tingginya tangga tersebut.
Antonio terkejut.
Beni pun ikut terkejut. Ia tidak menyangka akan menyaksikan hal itu. Ia segera melaporkan hal itu ke polisi dan pergi dari sana.
”Dawiyah!” Antonio berlari cepat menuruni anak tangga, menghampiri Dawiyah. Ia membalikkan tubuh Dawiyah. Dawiyah sudah tidak bernafas lagi. Darah segar bercucuran dari jidat dan kepalanya yang bocor.
Tidak butuh waktu lama, polisi segera datang ke apartemen, karena jaraknya yang dekat.
Antonio terkejut. Ia menyimpan jasad Dawiyah ke lantai dan ia segera pergi dari sana, bersembunyi.
Beberapa polisi datang menghampiri TKP.
Satu polisi, yang merupakan ketua, mendekati jasad Dawiyah, memeriksanya. ”Sisir lokasi! Pembunuhannya masih di sekitar sini!” titahnya.
”Baik, Pak!” sahut para polisi lain.
Mereka berpencar mencari pembunuhnya di area terdekat dengan TKP.
Antonio tidak dapat bersembunyi lagi, ia mengendap keluar dari tempat persembunyiannya dan lari keluar dari apartemen.
Naas, ia terlihat oleh seseorang yang mengenalinya.
”Itu dia!! Dia yang membunuh gadis itu!! Bajunya masih menempel darah dari gadis itu!!” teriaknya, sambil menunjuk Antonio.
”Sial!!” umpat Antonio, ia mempercepat larinya dan kembali bersembunyi, di lorong kecil, perumahan warga.
Ia melihat ada jemuran pakaian warga. Ia mengambil baju dan celana juga topi yang ada di jemuran itu. Ia membuka baju dan celananya yang kotor dan di gantikan dengan pakaian yang di ambilnya dari jemuran.
__ADS_1
Setelah berganti, ia berjalan dengan santai di keramaian orang. Ia terus berjalan, hingga meninggalkan lokasi apartemen.
”Lapor, Pak! Kami tidak menemukan tersangka!” polisi itu melapor pada atasannya.
Sang atasan berdiri, ”Angkut mayat ini!” ia melihat semua bawahannya, ”Apa kalian mengenali pelaku?” tanyanya.
”Siap, Pak! Pelaku samar-samar terlihat seperti tuan Antonio! Saya sering melihat korban jalan berdua dengan tuan Antonio. Dan ciri-ciri pelaku, sama persis seperti tuan Antonio!” jawab salah satu dari mereka. Dia memang mengenal Dawiyah dan Antonio, ia tinggal beberapa jarak dari apartemen Antonio.
”Baik! Selidiki! Jika sudah jelas pelaku itu adalah dia, buat surat penangkapan dirinya! Jika pelaku telah kabur dari kediamannya, buatkan surat edaran DPO dengan tulisan pelaku pembunuhan di apartemen xx 12!!” titah sang kepala polisi tersebut.
”Siap, Pak!”
Jasad Dawiyah di angkut. Dan beberapa dari mereka mencari bukti kejahatan Antonio. Mereka mengambil rekaman cctv di sekitar tangga dan juga mengautopsi jasad Dawiyah.
.. ..
Malam hari, di kediaman Anton.
”Apa kepalamu masih sakit?” tanya Serlina.
”Tidak, Bi. Setelah meminum obat dan beristirahat tadi, sakitnya sudah berkurang.” jawab Sardin.
”Apa selama ini kamu sudah pernah memeriksakan kepalamu ke dokter saraf?” tanya Anton.
Sardin menggeleng.
”Sebaiknya, kamu periksakan dulu sakit kepalamu itu. Jangan memandang enteng sebuah penyakit!” Anton memberi nasehat.
”Tidak perlu, Paman! Kepalaku sudah sering sakit begini, setelah sembuh dari kecelakaan waktu itu. Hal ini sudah biasa. Jika sudah kambuh sakitnya, tinggal meminum obat yang di berikan dokter dari rumah sakit dan di bawa tidur. Setelah terbangun nantinya, aku sudah segar kembali, sakitnya mulai berkurang dan sembuh.” ungkap sardin.
”Hum, terserahlah! Jika sakitnya tidak tertahan lagi, Paman sarankan, kamu harus cek ke dokter ahli saraf.”
”Iya, Paman!”
Anton beranjak berdiri dan pergi dari dapur. Sardin dan Serlina juga berdiri.
”Sardin, minum obat mu dan kembali ke kamar untuk istirahat. Kamu harus banyak istirahat dan jangan banyak berfikir.” ucap Serlina.
”Iya, Bibi!”
Ia dan sang bibi sama-sama keluar dari dapur. Serlina mencari keberadaan suaminya dan Sardin pergi ke kamarnya. Ia meminum obatnya dan beristirahat.
.. ..
Malam hari, di kediaman Albert.
Kening Geo mengerut melihat mamanya yang datang seorang diri ke dapur. ”Syakila tidak turun makan?” tanyanya.
Rosalina menarik kursi dan duduk. Ia menghela nafas, ”Katanya dia gak lapar! Kamu makanlah, nanti bawakan makanannya saja di kamar.”
”Dia bukan seorang putri, Tante! Mengapa kak Geo harus membawakan makanan untuknya? Biarkan saja dia! Sampai kapan dia akan menahan lapar? Dia akan turun sendiri mencari makanan, jika perutnya sudah sangat lapar!!” Marlina meninggikan suaranya.
”Sejak kapan dia tidak makan?” Geo dan Beni sama-sama bertanya, melihat Marlina.
”Sejak pagi tadi.” jawab Marlina.
Geo terlihat marah, kedua rahangnya mengeras. Ia menggebrak meja dan pergi dari dapur. Ia mendorong kursi rodanya dengan cepat ke lift.
Beni, Rosalina, dan Marlina masih terkejut.
”Ah, Syakila!” Rosalina dan Beni tersadar. Mereka segera berdiri, mengejar Geo.
Marlina begitu kesal, ”Makan malam dengan tenang saja, tidak bisa!! Sudahlah, bukan urusan ku! Aku sangat lapar, lebih baik, aku makan saja.” ia mulai menyendok makanan nya sendiri dan makan dengan tenang.
Beni dan Rosalina sampai di depan lift. Liftnya sudah berjalan.
”Liftnya masih berjalan ke atas! Kita lewat tangga saja, Tante!” ucap Beni.
”Iya, ayok!”
Rosalina dan Beni berlari menaiki anak tangga tersebut. Mereka berdua sampai di depan kamar Geo. Mereka berdua istirahat sebentar, naik tangga dengan berlari dan tergesa-gesa, membuat mereka kelelahan.
”Beni, buka pintunya! Aku takut Geo akan menyakiti Syakila.” titah Rosalina, kemudian.
Beni membuka pintu, kata sandi salah. ”Tante! Kata sandi salah! Geo telah mengganti kata sandi pintunya! Apa yang akan di lakukan Geo? Kamarnya kedap suara.” ia sangat khawatir.
__ADS_1
”Semoga Geo tidak bertindak bodoh!” Rosalina pun sama khawatirnya.