
Di kediaman Sarmi, kamar Syakila.
Syakila dan Geo saling memandang dengan pemikiran masing-masing.
”Ehm, a..aku memang tidak takut padamu. Mengapa aku harus takut? Nyawaku bukan kamu yang tentukan!” ucap Syakila seketika, sambil memandang arah lain, memutuskan pandangan mata di antara dia dan Geo.
Geo tersenyum tipis melihat Syakila, mungkinkah gadis di depannya yang berstatus istri nya ini sedang malu? Karena mereka berdua saling memandang cukup lama. Di dalam benak nya mungkin wanita ini sedang mengagumi ketampanannya itu.
”Yah, meskipun kamu sudah tahu aku marahnya seperti apa, kamu tetap saja terus membuat ku marah. Jadi, kamu memang tidak takut padaku.” sahut Geo sambil tersenyum kecil.
Syakila terdiam, kembali melihat Geo.
Aku takut padamu jika kamu sedang marah. Jika kamu sudah marah, kamu bisa melakukan apapun itu, membunuh...menghancurkan...sangat mudah untuk mu.
”Ehm, cairan infus mu sedikit lagi akan habis. Bagaimana luka di perut mu, apa masih nyeri?” tanya Geo seketika, mengalihkan pembicaraan.
Syakila melihat botol infus yang tergantung di sampingnya. ”Tidak lama lagi Al pasti datang untuk membuka infus ini. Jika infus ini sudah terbuka, aku bisa bergerak dengan bebas. Perut ku tidak terasa nyeri lagi.”
”Al? Mengapa kamu memanggilnya dengan Al? Mengapa kamu tidak lanjut memanggilnya guru saja? Apakah teman mu yang lain juga memanggilnya dengan Al?” ucap Geo tidak senang.
Syakila melihat Geo.
Apakah pria ini sedang cemburu?
”Nama Al mudah untuk di sebut. Dia meminta ku untuk menggantikan nama panggilan untuknya, aku menyetujui nya. Jadi, apakah itu masalah buat mu? Kamu tidak senang? Di tempat silat dulu, ia di panggil guru Rival. Ada juga yang terang-terangan memanggilnya kak Valdi tanpa embel-embel guru di depannya. Sedangkan a__”
”Mengapa kamu tidak memanggilnya dengan Rival atau Valdi seperti yang lainnya?” pangkas Geo.
Kening Syakila mengerut melihat pria yang duduk di kursi roda, di depannya itu. ”Kamu cemburu? Itu hanya sebuah panggilan.”
Geo memalingkan wajah, ”Tidak! Untuk apa aku cemburu? Tidak penting! Aku hanya bertanya saja.” elaknya.
”Oh. Aku kira kamu sedang cemburu, aku senang saja memanggilnya Al, nama panggilan itu yang terlintas di pikiran ku untuknya.” sahut Syakila sambil tersenyum kecil.
”Apakah hanya karena itu?” selidik Geo.
Syakila memicing melihat Geo.
Apakah pria ini sedang cemburu? Mengapa ia terus mempertanyakan itu?
Tok tok tok, terdengar ketukan di pintu kamar. Mengalihkan pembicaraan mereka berdua. Syakila dan Geo sama-sama memandang ke arah pintu.
”Syakila, ini aku. Aku boleh masuk?”
Syakila dan Geo saling pandang saat mendengar suara di balik pintu kamar mereka. Suara yang mereka kenali, suara pria yang sedang mereka bahas.
Kurang ajar! Pria itu datang tepat waktu sekali! rutuk Geo dalam hatinya.
”Masuk saja, Al. Pintunya gak di kunci.” sahut Syakila, matanya masih beradu pandang dengan Geo. Ia tahu pria di depannya itu sedang tidak merasa senang. Perubahan mimik wajahnya cepat sekali.
”Tolong, jaga sikap mu di depan guru ku. Bisa kan? Ku mohon!” ucap Syakila pelan memohon pada Geo, sebelum pintu kamar terbuka dari luar.
Geo tidak menyahuti, ia justru meraih kepala Syakila dan mencium bibirnya saat ia mendengar pintu kamar mulai terbuka. Syakila terkejut dengan ciuman Geo yang tiba-tiba.
Dia mencium ku lagi secara tiba-tiba! Pria ini, jika aku melepaskan paksa ciumannya, maka Al pasti akan semakin berpikir jika hubungan kami tidak baik. Tetapi, aku juga tidak ingin di cium pria ini.
Rivaldi berdiam mematung di tempatnya berdiri, melihat keromantisan yang di tunjukan Geo.
Dia sengaja mencium bibir Syakila saat aku membuka pintu kamar. Apa yang ingin dia perlihatkan padaku? Apa dia ingin memperlihatkan bahwa Syakila miliknya? Bahwa hubungan mereka baik-baik saja?
Syakila menarik kepalanya pelan untuk melepas ciuman Geo saat ia merasakan Geo menggigit pelan bibir bawahnya. Namun, Geo semakin menahan kepala Syakila, meneruskan ciuman nya, ia memainkan bibir Syakila dengan lembut.
Tanpa sadar, Syakila mulai terbuai dengan ciuman mesra Geo, perlahan ia membalas ciuman Geo. Ia menikmati ciuman itu hingga ia lupa jika seseorang sedang melihat mereka berciuman dengan wajah datar.
Geo merasa senang saat Syakila membalas ciumannya. Sedangkan Rivaldi, pria itu tidak merasa senang. Jika saja Syakila tidak membalas ciuman Geo, ia tahu, jika Syakila tidak menyukai Geo dan rumah tangga mereka tidak baik. Tetapi, ia melihat sendiri Syakila membalas ciuman Geo dan menikmati ciuman itu.
”Ehm,” Rivaldi sengaja berdekhem memutuskan ciuman di antara mereka berdua. Ia sudah tidak kuat lagi melihat sepasang suami-istri yang berciuman di depannya itu, apalagi wanita itu adalah wanita yang masih bersemayam di lubuk hatinya.
Syakila tersadar, ia menggigit bibir bawah Geo. Geo melepaskan tautan bibirnya saat ia merasakan sakit di bibir bawahnya. Ia melihat Rivaldi yang melangkah mendekati Syakila.
”Oh, maaf. Kamu sudah menyaksikan apa yang seharusnya tidak kamu saksikan.” ucapnya sambil menyentuh bibirnya.
__ADS_1
”Geo,” tegur Syakila.
”Aku sudah terbiasa melihat adegan ciuman.” sahut Rivaldi. Ia mengacuhkan Geo. Ia melihat botol infus yang menggantung di samping Syakila, infusnya tinggal sedikit.
”Aku buka infusnya sekarang atau tunggu infus ini benar-benar habis baru ku buka?” ia meminta pendapat Syakila.
”Kalau bisa buka sekarang tanpa menunggu infus ini benar-benar habis, buka saja Al.”
”Baiklah, ini tas dan handphone mu.” ia menyimpan tas dan handphone Syakila di atas meja.
”Oh, iya, tadi siang Beni dan Rosalina menelfon. Maaf, aku lancang mengangkat telfon mereka berdua.” ucapnya lagi sambil melepas infus yang ada di tangan Syakila.
”Apa yang mereka bicarakan?” tanya Syakila.
Geo merasa tidak senang di abaikan. Dirinya bagaikan nyamuk yang sedang mengganggu dua insan yang sedang berpacaran.
”Jika sudah selesai melepas infusnya, keluarlah!” ucapnya, mengusir Rivaldi.
”Geo!” kembali Syakila menegur Geo.
Geo terdiam.
Syakila melihat Rivaldi. ” Al, maafkan sikap suamiku, begitulah jika ia sedang cemburu.”
”Siapa yang cemburu? Aku tidak suka jika aku sedang berbicara dengan mu ada yang mengganggu.” elak Geo.
Rivaldi tersenyum kecut, ” Hum, aku bisa mengerti itu. Siapa yang tidak cemburu jika melihat gadis istimewa yang cantik seperti mu dekat dengan pria lain, bahkan aku juga cemburu.” pandangannya sendu melihat Syakila.
Syakila melihat kesedihan di mata Rivaldi, ”Al,” tegur nya.
Geo memandang tajam pada Rivaldi. Ia tidak suka cara pandang Rivaldi kepada Syakila, juga ia tidak senang dengan ucapan pria itu. Apalagi, Syakila merasakan sedih yang di rasakan pria itu.
Pria ini! Terang-terangan sekali menyampaikan cinta dan cemburunya. Ada hak apa dia cemburu terhadap ku, aku suami sahnya Syakila.
Rivaldi tersenyum, ”Infusnya sudah ku lepas, bagaimana dengan luka di perut mu? Apa masih terasa nyeri? Perih di bagian luka atau di sekitar area lukanya?”
Syakila menggeleng, ”Tidak Al, setelah aku meminum obat rebusan daun yang kamu berikan, juga luka ku di bersihkan dan di obati kembali oleh suamiku, lukaku tidak terasa perih lagi.”
Geo tersenyum, Syakila mengakui dirinya sebagai suami. Sedangkan Rivaldi nampak kecewa. Ia kembali tersenyum, senyum yang terpaksa.
”Lagi pula, kamu tidak pantas mengkhawatirkan istriku.” sela Geo.
”Geo,” lagi-lagi Syakila menegur Geo akan sikapnya. Sikap Geo ke kanak-kanakan sekali.
Rivaldi mengacuhkan Geo, ia tersenyum melihat Syakila, ”Aku pamit dulu, ada pasien yang harus ku temui.”
Syakila mengangguk, ”Iya, Al. Terima kasih. Oh, iya Al, nanti aku akan datang ke klinik mu bersama suamiku setelah lukaku membaik.”
”Oh, baiklah, aku menantikan kedatangan mu. Aku pergi dulu, cepat sembuh.” sahut Rivaldi sambil membelai kepala Syakila.
Syakila mengangguk. Sedangkan Geo, ia menatap tajam melihat Syakila dan Rivaldi.
Rivaldi mengacuhkan Geo, ia tersenyum kepada Syakila sebelum ia pergi dari kamar Syakila.
”Aku akan membuat perhitungan dengan nya, lihat saja!” ucap Geo.
Kening Syakila mengerut, ” Jangan macam-macam dengan Al, Geo!”
”Dia tidak mendengar ucapan ku, Syakila! Dia berani menyentuh mu seenaknya saja, dan itu di hadapan ku!”
”Ge..Geo! Jangan ke kanak-kanakan begini! Ada apa dengan mu? Apa kamu cemburu pada Al?” selidik Syakila.
Cemburu? Apakah sikap ku itu mencerminkan cemburu? Apakah benar aku cemburu?
”Cemburu? Tidak, sudah ku katakan aku tidak cemburu!” elak Geo.
”Hum, kamu tidak cemburu. Apa kamu mau istirahat sekarang? Aku akan membantumu berbaring.”
”Tidak, kamu jangan bergerak dulu! Nanti lukamu akan terbuka!”
Syakila tidak menghiraukan perkataan Geo. Ia turun dari ranjang. Memapah Geo bukan pekerjaan berat, dan itu tidak akan membuat lukanya terbuka. Ia mendekati Geo.
__ADS_1
”Peringan tubuh mu! Aku akan memapah mu, kamu belum beristirahat dengan benar, dari aku belum pulang ke rumah sampai sekarang.”
Geo pasrah, ucapan Syakila memang benar, dia belum beristirahat dengan baik, apalagi sebentar sore ia harus pergi ke villa nya.
”Baiklah!”
Ia memperingan tubuhnya, Syakila mulai memapah tubuh Geo, membantu Geo berdiri dari kursi roda dan membaringkan Geo di ranjang.
”Kamu semakin berat, Geo.” keluh Syakila. Ia berbaring sebentar menyandarkan sebagian badannya di tubuh Geo.
Geo tersenyum, ia meraih tubuh Syakila dengan kuat. Syakila terkejut. Badannya mengikuti tarikan Geo hingga tubuhnya tepat berada di atas tubuh Geo.
Geo menahan tubuh Syakila di atasnya dengan memeluk Syakila, pelukannya semakin erat tatkala Syakila menggerakkan badannya untuk terlepas darinya.
”Geo, lepaskan aku.” ucapnya pelan.
Geo tidak menyahuti Syakila, ia semakin merapatkan pelukannya, ia merasakan kehangatan. Nalurinya sebagai seorang pria terpanggil, ia kembali mencium bibir Syakila.
Syakila tidak terima, ia berontak, berusaha melepas ciuman Geo dan terlepas dari pelukan Geo. Geo semakin menguatkan pelukannya di setiap Syakila bergerak. Ia tidak melonggarkan sedikitpun pelukannya. Syakila pasrah, ia menerima dirinya yang di peluk dan di cium oleh Geo. Ia menikmati ciuman itu.
”Geo, lepaskan aku. Kamu istahatlah dengan baik.” ucap Syakila, setelah Geo melepas tautan bibirnya. Suaranya sedikit berbeda, ada rasa yang menggelitik di hatinya merasakan kehangatan dan ciuman intens dari Geo. Ia juga merasakan sesuatu yang ada pada diri Geo mengeras.
Geo menelan salivanya, ia merasakan aliran hangat di sekujur tubuhnya. Memeluk, mencium Syakila membangkitkan hasratnya. Ia menarik kepala Syakila, menempelkan jidat Syakila ke jidatnya.
”Jika aku bisa menggerakkan kaki ku, aku menginginkan mu.” ucapnya, suaranya pun sama dengan nada suara Syakila.
Deg deg deg detak jantung Syakila saat ini, detakan jantung itu juga yang di rasakan Geo. Syakila terdiam, ia memang merasakan milik Geo yang mengeras dan bergerak-gerak. Ia tahu pria yang sedang memeluknya itu memiliki hasrat yang lebih. Beruntung, Geo tidak bisa melakukan hal itu padanya.
”Geo, jangan berbicara yang tidak-tidak! Ingat hubungan dasar kita. Kita punya perjanjian. Jangan membuat ku membenci mu karena kamu tidak menepati janji mu.”
Geo terdiam, ia tahu maksud Syakila. Ia tidak akan membuat Syakila berwaspada padanya. Ia akan membuat Syakila menerima dirinya di hati Syakila dan perlahan Syakila akan mencintainya.
”Kamu, lepaskan aku. Istirahatlah!” ucap Syakila lagi.
”Aku akan beristirahat, tetaplah begini!” pinta Geo.
”Aku..aku tidak nyaman, Geo! Biarkan aku turun dari badan mu, kamu juga tidak akan nyaman tertidur jika aku berada di atas mu.”
Geo menggeleng, ” Aku nyaman! Biarkan aku tertidur seperti ini.”
Syakila pasrah, ”Baiklah, tapi...longgarkan sedikit pelukan mu, aku terasa sesak bernapas. Pelukan mu terlalu erat!”
Geo memperlonggar pelukannya. Ia dan Syakila sama-sama menghela nafas.
”Tidurlah!” ucapnya lagi. Ia menempelkan wajah kanannya di dada Geo. Detak jantung Geo jelas terdengar di telinganya, detak jantung Geo seirama dengan detak jantungnya.
Geo menurut, ia memejamkan mata. Syakila tidak berani bergerak sedikitpun dari atas tubuh Geo, milik Geo masih terasa mengeras. Ia juga memejamkan mata.
”Geo, apa kamu sudah tidur?” tanya Syakila kemudian.
”Kenapa?”
”Geo, berjanjilah pada ku, jangan sakiti guru ku. Dia hanya ku anggap sebagai guru ku, tidak ada perasaan lebih padanya.”
”Apa kamu tahu dia mencintai mu?”
”Iya. Dia menyatakan perasaannya padaku saat aku berpacaran dengan Sardin. Dia menunggu ku putus dari Sardin. Dia ingin, dialah orang pertama yang tahu aku putus dari Sardin dan ia ingin menjalin hubungan dengan ku. Aku sudah berjanji padanya untuk itu. Tapi, saat aku putus dari Sardin, justru aku menikah dengan mu. Dia meminta penjelasan dari ingkar janji ku__”
” Kamu menjelaskan jika kamu terpaksa menikah dengan ku di hari kamu putus sama Sardin padanya?”
”Tidak, aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang di hari aku putus dengan Sardin, kamu hadir meminang ku dan menikah saat itu juga.”
Mereka berdua berbicara dengan mata masih terpejam. Geo senang di benaknya, Syakila benar-benar sudah mulai terbuka berbicara padanya.
Tanpa sadar, Syakila memeluk tubuh Geo. Memperbaiki posisi tubuhnya agar nyaman berada di atas tubuh Geo. Geo membiarkan Syakila yang bergerak di atas tubuhnya.
”Apa kamu pernah mencintai guru mu?” selidik Geo.
Syakila terdiam, tidak menyahut. Geo membuka matanya, ”Syakila,”
Masih gak ada sahutan dari wanita yang berada di pelukannya saat ini. Ia tersenyum, Syakila tertidur dengan nyaman di atas tubuhnya, ia membelai belakang Syakila juga rambut Syakila dengan lembut.
__ADS_1
Tidurlah dengan nyenyak di pelukan ku.
Geo kembali memejamkan matanya. Perlahan ia tertidur.