
Para dokter berusaha memancing jantung Halim dengan alat pacu jantung, namun gagal. Halim sudah tidak bernyawa lagi. Dokter menggeleng, menyerah, dan mendesah kan nafas sesal mereka.
Dokter menutup seluruh tubuh Halim dengan kain panjang. Syakila kebingungan.
”Dokter kenapa papaku di tutup begitu Dokter? Papa gak bisa bernafas.” protes Syakila.
”Syakila, papamu sudah tiada. Papamu sudah meninggal.” dokter menjelaskan.
”Tidak!” Syakila menangis histeris dan keluar dari ruangan UGD
Gubrak!
Syakila membanting pintu ruang UGD dengan keras dan berlari memeluk mamanya. Sikap yang di tunjukan Syakila membuat Sarmi, Denis, Anton, Serlina, Roni, Hamid, Halima, Mulfa dan Fatma bingung.
”Mama, dokter jahat! Dia menutup semua tubuh papa dengan kain putih panjang, Mah. Papa kan gak bisa bernafas nanti, Mah.” keluh Syakila. ”Mama bilangin dokter, jangan bikin Papa seperti itu.”
Deg deg deg!
Mereka yang mendengar ucapan Syakila terkejut. Sarmi terkulai lemas dan terduduk di lantai. Membuat Syakila yang sedang memeluknya juga ikut terduduk di lantai. Perlahan tanpa suara air mata Sarmi jatuh menetes.
Jantungnya seakan berhenti bekerja, darahnya seakan hilang dari tubuhnya. Ia tidak percaya apa yang baru di ucapkan anak keduanya itu. Perlahan kesadaran Sarmi menghilang. Mengejutkan mereka yang ada disana. Semua menjadi panik.
”Mama...Mama kenapa, Mah?” Fatma dan Syakila teriak histeris. Mereka menangis melihat mamanya.
Anton dan Denis menghampiri Sarmi. Anton menepuk pipi Sarmi pelan, mencoba menyadarkan Sarmi. Halima meraih tubuh Syakila dan memeluknya. Serlina meraih tubuh Fatma dan memeluknya. Mereka semua menangis.
”Sarmi... bangun Sarmi. Sarmi....”
Namun, Sarmi tidak merespon. Dokter keluar dari ruang UGD berniat memberitahukan jika Halim sudah menghembuskan nafas terakhir.
Denis yang melihat dokter ia berkata dengan khawatir.
”Dokter, tolong Sarmi, Dok! Dia pingsan!”
”Bawa dia keruangan!” titah dokter.
Anton mengangkat tubuh Sarmi dan membawanya masuk keruangan dimana suaminya Sarmi berada. Anton membaringkan tubuh Sarmi di ranjang yang berbeda, namun di samping Halim. Dokter memeriksa keadaan Sarmi.
Anton melihat tubuh Halim yang sudah terbungkus kain panjang. Ia mendekati dan membuka kain penutupnya. Ia melihat tubuh Halim yang sudah tidak bernyawa dengan wajah yang tenang dan senyum yang terukir di bibirnya. Ia seperti tertidur, tidak terlihat meninggal. Pikir Anton.
”Innalilahi wa Inna ilaihi raji'un. Tidak ku sangka kau begitu cepat pergi meninggalkan kami, Halim.”
Anton menutup kembali tubuh Halim. Ia berbalik melihat Sarmi yang masih di periksa dokter.
”Bagaimana, Dok? Apa dia baik-baik saja?”
”Tidak perlu khawatir, pasien hanya pingsan saja. Ia hanya syok, tidak lama lagi akan segera sadar.” jelas dokter sambil merapikan alatnya.
Dokter melihat jenazah Halim.
”Kami sudah membersihkan luka luka yang ada di tubuh Halim. Berikut dengan luka tusuknya, tapi kami belum menjahit lukanya tersebut.” ucap dokter lagi.
”Tidak perlu di jahit lukanya, Dok. Sudah cukup di bersihkan saja.” sahut Anton sambil melihat jenazah Halim.
”Papa, sayang. Papa!” Sarmi mengigau.
Anton dan dokter melihat Sarmi. Anton menepuk pipi Sarmi dengan pelan.
”Sarmi, bangun Sar.”
Sarmi terbangun. Ia menangis. ”Anton, mana suamiku, Anton?”
”Sarmi, kamu yang tenang dan sabar.” ucap Anton dengan lembut. Ia menunjuk ranjang di sebelah Sarmi. Sarmi mengikuti arah tunjuk Anton.
Sarmi turun dari ranjang dan mendekati ranjang sang suami. Tangis pilu Sarmi semakin menjadi, ia membuka penutup kain yang menutup tubuh suaminya.
Sarmi memeluk tubuh tak bernyawa itu.
”Mengapa Papa pergi secepat ini, Pa? Papa belum menjelaskan semua ini padaku dan Papa pergi begitu saja meninggalkan rasa penasaran di benakku. Papa bangun Pa, bangun jelaskan padaku apa yang sudah terjadi.”
"Sudah Sar, ikhlaskan kepergiannya. Kita harus mengurus jenazahnya sekarang, bukan menangisinya. Kamu sangat tahu suamimu kan, gimana perasaannya kalau melihat kamu menangis?”
Sarmi mengangguk. Ia menghapus air matanya. Mereka mengurus jenazah Halim dengan baik. Setelah mengkafaninya mereka membawa jenazah Halim ke masjid yang di dekat rumah sakit tersebut.
__ADS_1
Setelah para jamaah melaksanakan sholat Jum'at. Mereka menyolatkan jenazah Halim. Setelah usai, para jamaah bersama keluarga Halim, sama-sama mengantar jenazah Halim ke peristirahatan terakhirnya.
Sarmi dan Syakila sangat terpukul dengan kepergian Halim. Mereka hanya terdiam membisu semenjak jenazah Halim di mandikan. Tidak ada air mata yang terpancar di mata mereka. Namun, wajah mereka menampakkan kesedihan yang mendalam.
Anton, Denis, Hamid, Roni, Halima, Syakila dan Sarmi masih berada di kuburan. Mereka menatap tanah gundukan yang di depannya, dengan pikiran masing-masing. Tawa, canda, dan perbuatan baik yang Halim lakukan untuk mereka terngiang semuanya di pelupuk mata mereka. Sedangkan yang lain, telah pulang duluan.
Aku tidak tahu apa yang membuat kamu dan mereka saling bermusuhan. Hingga kamu berakhir seperti ini. Halim, terima kasih atas kebaikan mu untuk keluargaku.
batin Anton.
Abang, begitu cepat kamu pergi, Bang. Padahal tinggal beberapa bulan lagi hari pernikahan ku dengan Samnia. Aku berharap bisa melihat mu merestui kami, Bang. Tetapi, Abang sudah pergi meninggalkan kami.
batin Denis.
Halim, kamu adalah pria terbaik yang pernah ku temui. Sekarang aku akan curhat pada siapa lagi setelah kepergian mu? Pada siapa lagi aku akan meminta pendapat. Kamu sudah melindungi calon istriku, aku berjanji aku akan menjaga dan memperhatikan anak-anak mu nanti, Halim.
batin Hamid.
Terima kasih Halim, meskipun pertemanan kita di bilang singkat. Kamu akan selalu ku kenang. Terima kasih atas segalanya.
batin Roni.
Halim, kamu akan selalu ku kenang. Kamu adalah pria yang terbaik dan yang baik yang pernah ku temui. Terima kasih atas pengorbanan mu melindungi diriku, Halim. Aku akan menjaga diriku dengan baik, menghargai tubuhku sendiri untuk memenuhi janjiku padamu. Itu adalah kalimat terakhir yang berharga untukku, Halim.
batin Halima.
Papa, kenapa papa pergi meninggalkan Syakila, pa? Sama siapa lagi Syakila akan berbagi cerita, pa? Papa, Syakila akan memenuhi janji papa jika orang itu datang pada kami. Papa, siapa mereka semua yang sudah membunuh papa. Syakila akan membalasnya, pa. Gege, suatu saat kamu akan mati di tanganku.
batin Syakila.
Tatapannya tajam dan penuh dendam.
Papa, seminggu terakhir papa begitu manja pada Mama. Papa begitu kejam, mengukir hal indah sebelum pergi meninggalkan, Mama. Malam itu, malam terakhir kita bersama, malam terakhir aku menyuapi mu, malam terakhir aku memandikan mu dan memakaikan pakaian untukmu. Papa, jika Mama tahu itu akan menjadi hal terakhir untuk kita, Mama tidak melakukan hal itu, pa. Ini sangat sakit, pa. Sangat sakit. Bagaimana jika aku merindukan tubuh papa? Pelukan papa? Papa...
batin Sarmi.
Air mata yang ingin dia tahan, akhirnya tak terbendung lagi. Ia menangis.
.. ..
Dua Minggu telah berlalu semenjak kematian Halim. Sarmi dan anak-anak Halim tinggal bersama Anton. Serlina mengurus anak-anak Sarmi dengan baik. Sarmi masih mengurung dirinya di kamar. Dan Syakila masih menyendiri, entah itu di rumah maupun di sekolah. Toko Sarmi kosmetik dan pecah belah Halim, di jaga oleh karyawannya Anton. Dan Anton sendiri, memanggil karyawan baru untuk dirinya.
Anton, Serlina, dan Denis sangat sedih melihat Sarmi dan Syakila seperti itu.
”Jika Sarmi dan Syakila seperti ini terus Bagaimana, Pa? Kejiwaan mereka berdua bisa terganggu. Dan bagaimana dengan anak-anak, Sarmi yang lainnya, Pa?” keluh Serlina.
”Iya, Bang Anton. Kalau kita diamkan terus mereka seperti ini. Kejiwaan mereka berdua bisa terganggu, Bang. Dan ini sudah dua Minggu dari meninggalnya Abang Halim.” Denis ikut berkomentar.
”Papa akan menelfon saudara Halim yang ada di kota S untuk kesini. Sarmi sangat dekat dengan keluarga suaminya ketimbang saudaranya sendiri. Jika, saudara Halim yang berbicara, Sarmi pasti akan mendengar ucapan mereka.” jelas Anton.
"Kalau begitu jangan di tunda, Pa. Lekas lah hubungi mereka!” pinta serlina. Anton mengangguk.
Seminggu kemudian, saudara Halim datang ke kota A, ia sangat sedih mendengar kabar perihal yang menimpa diri adiknya itu, hingga membawanya pada maut. Ia juga sangat sedih melihat kondisi adik iparnya dan anak kemenakannya. Anton sedang bercerita dengan kakak Halim tentang peristiwa yang di alami Halim.
”Jadi, bagaimana menurutmu?" Anton meminta pendapat Johan, kakaknya almarhum Halim.
”Aku akan membawa mereka semua ke kota S. Dan untuk usahanya, kamu carikan orang siapa tahu ada yang minat untuk membelinya." Johan memberikan tanggapan.
”Sampai di sana, Sarmi akan buat apa untuk menghidupi anak-anaknya?” tanya Anton ingin tahu.
”Dia akan bekerja di kantorku. Untuk anak-anaknya kamu jangan risau kan itu, aku dengan senang hati akan menghidupi mereka. Lagi pula, aku tidak memiliki tanggungan apa-apa selain istriku.” tukas Johan.
"Baiklah, aku serahkan mereka padamu. Aku percaya padamu, Johan. Untuk usaha Halim yang ada disini akan menjadi tanggung jawabku. Jadi, kapan kamu akan kembali ke kota S?”
”Lusa, lusa aku akan kembali.”
"Naik kapal?”
”Tidak, aku naik pesawat.”
"Oh.” sahut Anton singkat.
Pembicaraan mereka terhenti.
__ADS_1
Kini Anton sedang berada di bank bersama Syakila, Fatma, Ita, Hardin, dan Endang. Anton menguruskan kartu kredit untuk mereka masing-masing. Sedangkan untuk Sarmi sendiri, ia memegang kartu kredit milik almarhum suaminya. Anton tidak akan menjual usaha Halim, tapi ia akan mengelolanya sendiri, dan memasukan tiap bulan ke rekening anak-anak Halim nantinya. Juga ke rekening Halim.
Selepas dari bank, Anton langsung ke bandara dan membelikan tiket pesawat untuk Sarmi dan anak-anaknya juga membelikan tiket untuk Johan. Setelah itu, Anton mengajak mereka makan di salah satu restoran yang terkenal di kota A untuk makan malam. Usai itu mereka pulang ke rumah.
Anton mendapati Johan sedang duduk di teras. Anton beserta anak-anak duduk di sana menemani Johan.
”Dari mana saja kalian anak-anak?" tanya Johan.
”Dari jalan-jalan Om, sama Paman Anton.” jawab mereka kompak dengan gaya masing-masing. Membuat Johan dan Anton tertawa.
”Anak-anak, kalian masuk sekarang yah. Istirahatlah. Besok subuh kalian akan berangkat ke kota baru bersama Paman Johan.” ucap Anton dengan lembut pada anak-anak.
"Iya, Om.”
Mereka pun masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya untuk istirahat. Anton mengeluarkan amplop berisi tiket pesawat dari sakunya. Lalu ia memberikan itu pada Johan.
”Johan, ini tiket pesawat untuk kalian semua.”
Johan mengambil dan membuka isi amplop itu, ia melihat satu persatu tiket pesawat itu.
”Terima kasih Anton, kamu pun membelikan ku tiket. Padahal rencana besok pagi baru aku akan membeli tiket untukku dan untuk mereka.” ucap Johan.
”Jangan sungkan, Johan. Aku titip Sarmi dan anak-anaknya kepadamu. Jika ada apa-apa tolong beritahu aku nanti.” tukas Anton.
”Tentu.”
Setelah berbicara mereka masuk ke dalam rumah untuk istrahat.
.. ..
Subuh ini Anton bangun dengan cepat. Ia pergi ke teras rumah. Ia bingung karena pintu rumah tidak terkunci.
Pintu tidak terkunci? Bagaimana bisa? Semalam perasaan pintunya ku kunci sebelum tidur.
”Mungkin ada orang yang sedang keluar.”
Anton membuka pintu, ia melihat di kursi tidak ada orang. Samar-samar ia mendengar suara tangis seseorang. Anton pergi ke samping rumahnya dan melihat di ayunan nampak Sarmi terduduk sendiri sambil menangis.
Anton menghampiri Sarmi. Ia duduk di ayunan satunya. Ia melihat Sarmi. Sarmi tahu tentang kehadiran Anton di sana. Ia menghentikan suara tangis dan menghapus air mata.
”Sar, apa yang kamu lakukan disini?”
”Aku hanya duduk-duduk saja, Anton. Tidak lama lagi aku akan meninggalkan kota ini. Jadi, aku__”
”Kamu merindukan suami mu?” Anton bertanya memangkas ucapan Sarmi.
Air mata Sarmi kembali menetes. ”Sedikit.”
Anton terdiam. Ia memandang Sarmi dengan iba. Ia sangat tahu apa yang di rasakan Sarmi.
”Aku tahu kamu masih bersedih dengan kepergian suami mu. Aku tidak akan banyak berbicara, aku hanya menasehati mu sedikit. Sar, biarpun kamu sedih bagaimanapun. Perhatikan anak-anak mu. Mereka buah hatimu dan Halim. Jangan menelantarkan mereka hanya karena ego mu. Sebentar kamu akan meninggalkan kota ini. Besok dan seterusnya hiduplah dengan baik di kota S.”
Sarmi mengangguk sambil menangis.
”Aku akan kesini nanti untuk baca doa di hari ke empat puluh dan keseratus harinya suamiku.”
”Iya, aku menunggumu untuk itu. Bagaimana dengan rumah mu, Sar? Apa aku harus menjualnya atau mengontrakkan orang saja?"
”Aku tidak rela rumahnya di jual ataupun di kontrakan, Anton. Biarlah Denis yang tinggal di sana, meskipun dia sudah menikah nanti. Bilang dia untuk tinggal di sana.”
”Kamu bicara sendiri saja nanti padanya. Hari dimana keseratus harinya Halim, besoknya adalah hari pernikahan mereka. Jadi kamu berkesempatan untuk memberikan restu padanya.” Sarmi mengangguk. ”Kamu masuklah dan bangunkan anak-anak, dan bersiaplah untuk berangkat. Aku akan mengantar kalian ke bandara.” Sarmi kembali mengangguk.
Ia masuk dan pergi mandi, setelah itu ia membangunkan anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk mandi dan bersiap. Setelah selesai, bertepatan juga dengan Johan yang sudah bersiap. Anton menyalakan mesin mobil. Lalu ia masuk ke dalam rumah.
”Apakah ini saja barang-barang mu, Sar?” Tanya Anton. Sarmi mengangguk.
Anton, di bantu Denis dan Johan menaikan barang-barang mereka di mobil yang dikendarai Denis. Sedangkan Sarmi, anak-anak, dan Johan naik ke mobil yang di kendarai Anton. Setelah semuanya naik. Anton menjalankan mobilnya mengantar mereka ke bandara. Denis menyusul di belakang.
Setibanya di sana pesawat mereka baru tiba. Mereka bersama dengan penumpang lain melakukan check-in. Anton mengantar mereka sampai ke dalam pesawat. Sedangkan Denis menunggu di ruang tunggu.
"Sarmi, ingat baik-baik pesanku.” Sarmi mengangguk. Anton turun dari pesawat. Pesawatnya pun berangkat meninggalkan bandar udara internasional Pattimura.A.
Selamat tinggal kota A. Aku akan kembali nanti kesini untuk menepati janjiku, membalaskan dendam ku.
__ADS_1