
”Sayang, apa yang sedang kamu lihat?” Rosalina memegang lengan Geo. Geo tersadar. Ia melemaskan kepalan tangannya.
”Tidak ada Mah.” elak Geo, ”Mama, pilihlah baju mana yang Mama suka dan Mama inginkan.” Geo kembali memandang arah dimana Syakila dan Sardin berada. Tapi, mereka sudah tidak terlihat lagi.
Siapa wanita tadi? Dan pria yang di sampingnya apakah itu pacarnya? Apakah gadis itu yang sudah menganggu pikirannya anakku?
Rosalina mengambil enam buah lembar baju dan celana juga pakaian dalam. Kemudian ia membawanya ke kasir dengan menggandeng lengan Geo.
”Berapa semuanya?”
”Tig__”
”Tidak usah beritahu, gesek saja kartu ini untuk membayar pakaian itu.” Geo memangkas ucapan sang kasir sambil menyodorkan kartu limited miliknya.
Sang kasir mengambil kartu itu dan menggeseknya. Kemudian ia memberikan lagi pada pemiliknya, dengan mengucapkan terima kasih.
”Terima kasih, Tuan, Nyonya, sudah berkenan berbelanja disini.” ucapnya di bumbui dengan senyum di wajah.
”Sama-sama” sahut Rosalina.
Mereka keluar dari tempat pakaian wanita.
”Apa masih ada yang ingin Mama beli? Atau yang Mama perlukan?”
”Tidak ada sayang, sebaiknya kita pulang sekarang. Mama sudah lelah.”
”Mama lelah?” Geo mengulang ucapan mamanya. Rosalina mengangguk.
Tanpa berkata apa-apa, Geo menggendong mamanya dari pintu pakaian wanita hingga lantai dasar.
”Apa kamu gak malu Nak, menggendong Mama sepeti ini? Kamu akan menjadi pusat perhatian orang, Nak.”
”Geo tidak malu, Mah. Untuk apa Geo malu melakukan hal baik untuk orang tersayang ku.” Geo tersenyum melihat mamanya. Rosalina membalas senyum tulus anaknya itu.
Tinggal mama yang ku punya sekarang, aku tidak ingin Mama kenapa-napa.
Geo menggendong mamanya hingga ke parkiran mall baru ia turunkan mamanya. Geo membuka pintu mobil dan kembali menggendong mamanya masuk ke mobil. Ia menutup pintu mobil, dan mengitari mobilnya, ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
Ia menghentikan mobil di lampu merah. Tidak lama dari ia berhenti, sebuah motor juga berhenti di sampingnya. Ia menoleh melihat pasangan yang lagi berboncengan itu.
Ia memukul setir sambil melihat ke arah mereka. Ia tidak senang saat ia melihat Sardin yang menoleh melihat Syakila yang di belakangnya dan Syakila tersenyum manis padanya.
”Ada apa sayang? Mengapa kamu pemarah begini sayang? Sama lampu merah saja kamu marah. Sabar sedikit sayang, lampu hijau sebentar lagi menyala.” ngomel Rosalina. ”Nah, tuh lampu hijau sudah nyala, jalankan mobil mu Geo.” namun Geo tidak bergeming. Rosalina menoleh melihat anaknya. Ia mengikuti arah pandang dari anaknya itu.
Rosalina melihat sepasang remaja yang sedang berboncengan, yang kini sudah pergi. Rosalina sempat menangkap sosok perempuan itu, perempuan yang sama yang dilihatnya waktu di mall.
wanita itu lagi, apa anakku mengenalnya?
”Geo!” Rosalina memegang lengan anaknya.
"Eh, iya Mah, ada apa?” Geo terkejut.
”Ada apa?” Rosalina memandang Geo bingung. ”Kamu tidak dengar Geo, mobil yang ada di belakang mobil mu membunyikan klakson dari tadi. Apa yang kamu lamunkan? Hum?” Rosalina bertanya penuh selidik.
"Tidak ada Mah.” Geo menjalankan mobilnya. Kini mereka sampai di villa. Geo menghentikan mobil. Ia turun dari sana, dan membukakan pintu mobil untuk mamanya. Rosalina turun dari mobil dan memegang belanjaannya. Mereka masuk ke dalam rumah. Mereka melihat Beni duduk sendirian di sofa sambil menonton tv.
”Terima kasih sayang, Mama langsung masuk ke kamar, Mama ingin istrahat.” ucap Rosalina.
”Iya Mama, istrahat lah!”
Rosalina melenggang masuk ke kamarnya. Geo duduk di samping Beni.
”Apa ada kabar tentang dia?”
”Baru lima kota yang di konfirmasi tidak ada dia disana. Masih ada lima kota lagi yang belum memberikan informasinya. Kita tunggu saja.” terang Beni.
”Aku di kasih waktu satu bulan untuk menemukan dia, jika dalam sebulan belum ketemu Mama akan menjodohkan ku dengan wanita pilihannya.”
”Semoga saja tidak ketemu dalam waktu sebulan ini.” gumam Beni kecil, namun masih tertangkap indra pendengaran Geo.
”Apa katamu?” Geo memandang Beni dengan tajam.
”Em...tidak ada.” elak Beni.
”Tarik anak buah dari kota yang sudah di konfirmasi, kirim mereka untuk membantu pencarian di kota yang lain. Secepatnya temukan dia.” titah Geo.
Geo beranjak berdiri dan melangkah masuk ke kamar tanpa berpamitan lagi dengan Beni.
Maaf Geo, aku tidak menuruti perintah mu kali ini. Aku sudah menarik mereka kembali ke pusat. Tinggal beberapa orang saja yang tertinggal di kota B.
”Seharusnya kamu tidak memperdulikan wanita yang sudah kabur darimu, Geo. Jika dia wanita baik, dia tidak akan pergi meninggalkan mu, apalagi di hari penting kalian.”
Beni juga beranjak pergi masuk ke kamarnya.
.. ..
Keesokan paginya.
Pagi-pagi sekali Geo dan Beni meninggalkan villa. Hari ini mereka meninjau lokasi pembangunan pabrik baru mereka di kota S tersebut.
Geo tengah berdiri di lapangan kosong tersebut dan melihat sisi kanan, kiri, belakang dan depan dari tempat berdirinya.
"Bagaimana menurutmu, Tuan?” tanya Edo, penanggung jawab pembangunan lokasi di sana.
”Bagus, lokasinya strategis. Mulailah untuk pembangunannya!” titah Geo, ”Itu bangunan yang berada di sana, itu bangunan apa?” Geo menunjuk bangunan tinggi yang hanya sekitar ada tujuh lantai itu.
__ADS_1
”Oh, itu, itu studio siaran televisi milik seorang pemuda yang bernama Sardin Ampagara. Ia merupakan orang ke tiga di kota ini yang di akui usahanya. Nama siaran tv nya, Mitra TV.” terang Edo.
Oh, rupanya dia merupakan orang ketiga yang di akui usahanya di kota ini, pantas saja cewek itu lengket padanya dan meninggikan seleranya.
Trtrt trrtrtrrt
Terdengar suara handphone dari milik Beni. Geo melihat Beni yang sedang mengangkat telfon.
”Halo bos, kami menemukan Dawiyah.” ucap pria di sebrang sana. Beni melihat Geo yang masih melihatnya.
”Hum, katakan dimana lokasinya?"
”Dia berada di kota B. Tapi...bos....” pria di sebrang sana ragu untuk mengucapkannya.
”Katakan!” paksa Beni.
”Bos, dia bersama seorang pria.” Beni terbelalak mendengarnya dan masih melihat Geo. Geo memicingkan mata.
”Pantau dia, kemana perginya dan dapatkan alamatnya.” titah Beni.
”Baik, Bos.” tut tut tut Beni memutuskan sambungannya dan memasukkan handphone di sakunya.
”Apa sudah dapat kabar darinya? Dimana dia sekarang?”
”Geo, dia berada di kota B. Tap__”
”Beni, berikan handphone mu padaku.” Beni meraih kembali handphone nya dari sak. Geo mengambil handphone Beni dengan cepat dari tangan Beni. ”Antar aku ke bandara sekarang!”
”Apa!?” Beni terkejut.
”Sudah lah tidak perlu. Aku pergi sendiri. Sini kunci mobil.”
Beni kembali memasukan tangannya ke sak untuk mengambil kunci mobil. Lagi-lagi dengan cepat Geo merampas dari tangan Beni.
”Pak Edo, mulailah membangun pabriknya, perlu sesuatu hubungi Beni.” ucap Geo pada pak Edo. Ia melihat Beni. ”Beni, aku serahkan mamaku padamu, jika sudah selesai urusan disini, kembalilah ke kota A. Aku pergi!”
Tanpa menunggu sahutan Beni, Geo melenggang pergi dan masuk ke mobil. Dari handphone Beni, Geo menelpon anak buahnya. Telfon tersambung.
”Siapkan pesawat sekarang!” setelah bicara itu Geo mematikan sambungan. Ia mulai menghidupkan mesin mobil dan menjalankan mobilnya di kecepatan sedang. Tidak lama kemudian, ia menambah laju kecepatannya.
Beni geleng-geleng kepala melihat Geo yang seperti itu.
Baguslah, biar dia lihat sendiri bagaimana sebenarnya sifat asli dari wanita yang di puja-puji nya itu.
”Pak Edo, saya pamit mundur diri. Jika ada perlu, atau ada sesuatu hal hubungi saja saya.” Beni mengeluarkan kartu identitas yang sudah disertakan dengan beberapa nomor teleponnya disana, dan memberikan kepada Edo.
Edo mengambilnya dan melihat kartu itu sebentar. ”Baik, Pak Beni.”
Mereka bersalaman. Dan Beni segera pergi dari sana. Terpaksa ia kembali ke villa menggunakan taksi. Sesampainya disana di villa m, ia di sambut oleh Rosalina.
”Tante, Geo, dia pergi ke kota B menyusul Dawiyah.”
”Ke kota B? Dia meninggalkan ku di sini?” Rosalina memandang tidak percaya pada Beni.
Beni mengangguk, ”Iya, Geo menitipkan Tante padaku, kita akan kembali ke kota A sore ini, Tante” Rosalina terdiam. Ia pergi ke kamar.
Apa aku harus menerima wanita itu sebagai menantuku? Bagaimana mungkin anakku sangat tergila-gila padanya. Apalagi dia sudah membuat keluargaku malu dengan kabur di hari pertunangan. Geovani Albert aku tidak mengerti jalan pikiran mu, Nak.
.. ..
Geovani tiba di bandara. Anak buahnya sudah menunggu dirinya disana. Ia turun dari mobil. Dan langsung naik ke jet pribadinya bersama empat orang anak buahnya.
Sedangkan mobil pribadinya, di bawah kembali ke villa oleh anak buahnya yang lain.
Geo merasa gelisah dan tidak tenang selama dalam penerbangan. Ia ingin sekali bertemu dengan kekasih hatinya dan bertanya banyak hal padanya.
”Percepat kecepatannya!”
Pilot pesawat itu geleng-geleng kepala, ia menambahkan lagi kecepatannya. Setelah mengudara selama satu jam sembilan belas menit, akhirnya mereka sampai di bandara kota B. Geo turun dari pesawat disusul anak buahnya di belakang.
Mereka langsung di sambut oleh anak buahnya yang berada di kota tersebut.
”Tuan, silahkan mobilnya sudah siap!”
Geo mengangguk. Ia masuk ke mobil tersebut. Dan anak buahnya, mereka naik ke mobil lain yang berjejer dua disana.
Ting!
Notifikasi pesan dari handphone Beni berbunyi. Geo menyalakan layar dan menggeser ke pesan dan membacanya.
”Bos, Dawiyah sekarang berada di pantai Karma Kandara.”
”Kita ke pantai Karma Kandara.” titahnya pada sang supir. Sang supir mengangguk. Ia menjalankan mobil dengan kecepatan sedang.
Geo merasa laju mobil sangat lambat. ”Percepat lajunya!”
Sang supir melihat Geo dari kaca spion dan mengangguk. Lalu ia menambah kecepatan mobil. Hingga mobil melaju dengan sangat cepat.
Dalam waktu tempuh tiga puluh empat menit mereka tiba di tempat tujuan. Mobil belum berhenti dengan sempurna Geo langsung turun dari mobil.
Ia berlari cepat ke tepi pantai, ia berhenti di sana matanya di edarkan di segala arah untuk mencari sosok wanita yang sudah mengisi hatinya.
Ia melihat wanita itu sedang berjalan di pinggir pantai dengan menendang-nendang air yang singgah di kakinya sambil tersenyum.
Geo tersenyum lebar, ia berlari ke arah wanita tersebut.
__ADS_1
”Dawiyah sayang, apa kamu senang?”
Geo menghentikan langkahnya saat ia mendengar seorang pria dari arah depan Dawiyah memanggilnya dengan kata sayang. Perlahan senyumnya memudar.
Ia lebih terkejut lagi saat melihat Dawiyah menyambut pria itu dengan hangat. Dawiyah memeluk pria itu dengan erat dan mencium bibirnya. Geo mundur selangkah dari tempatnya.
”Iya, aku senang sayang”
Terdengar suara dawiyah menjawab pertanyaan pria di depannya itu. Ia sangat murka dan marah. Namun, ia tidak bisa melukai dan memarahi wanita yang di cintainya itu. Geo pergi dari sana dengan amarah yang memuncak di kepalanya. Geo kembali ke mobil.
”Keluar!” sang supir terkejut dengan nada marah Geo, ia juga ketakutan. Ia keluar dari mobil. ”Jangan ada yang mengikuti ku!” titahnya lagi pada anak buahnya.
Anak buahnya hanya saling memandang. Geo masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Anak buahnya mengikuti dia dari belakang dengan arah yang sedikit jauh. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh Geo sekarang. Namun, amarah sangat terlihat jelas di wajahnya, di matanya. Ia memukul setir berkali-kali.
”Brengsek! Semua wanita sama saja!"
”Da wi yah!” Ia kembali memukul setir dengan keras hingga tangannya lecet-lecet. Dari arah depan mobilnya ada sebuah mobil yang sedang melaju dengan kecepatan sedang.
Geo terkejut dan ia bingung untuk mengambil arah, akhirnya ia membanting setirnya ke kiri dan ia menabrak pembatas jalan. Mobil terbalik, dan jatuh ke jurang. Geo melihat ada satu dahan pohon yang kiranya bisa ia raih. Ia pun melompat keluar dari mobil dan memegang pohon tersebut.
Gedebum!
Buum!
Mobil terjatuh tepat di bawah Geo yang bergantung dengan cepat dan langsung meledak.
Geo terkejut hingga tanpa sadar ia melepas pegangannya.
Dug!
Dug!
Geo terbentur dua kali dan ia kembali berpegangan pada batu runcing agar ia tidak sampai jatuh ke dasar jurang mengikuti mobilnya.
Beruntung anak buah Geo mengikuti Geo dari belakang, hingga mereka datang tepat waktu di saat kesadaran Geo mulai menghilang. Dengan di bantu dari tim sar mereka mengangkat tubuh Geo dari sana. Dan membawa Geo ke rumah sakit.
.. ..
Kecemasan melanda hati Rosalina. Namun, Rosalina menenangkan hatinya. Ia keluar dari kamar. Dan melihat Beni masih duduk di kursi sofa.
”Beni, sebelum kita berangkat bisakah kamu mengantarku ke mall?”
”Bisa Tante,” Beni berdiri dari duduk. Rosalina sudah berjalan mendekati mobil. Beni menyusulnya.
Beruntung mobil di bawah pulang di villa. Jadi bisa ngantar Tante ke mall.
Beni membukakan pintu mobil, Rosalina masuk kedalam. Beni juga ikut masuk. Setelah itu ia mulai menjalankan mobilnya menuju mall.
Dalam waktu beberapa menit mereka tiba disana. Rosalina segera keluar dari mobil dan masuk kedalam mall. Beni mempercepat geraknya dan menyusul Rosalina ke dalam mall.
”Tante mau beli apa?" kini langkah Beni sejajar dengan Rosalina.
”Tante tidak beli apa-apa. Tapi Tante ada perlu sedikit disini. Kita ke lantai tiga, tempat pakaian wanita.” titahnya. Beni hanya mengikuti saja kemana arah Rosalina.
Mereka tiba di sana. Rosalina langsung mendatangi sang kasir.
"Bagaimana Mbak, ada yang bisa saya bantu?” sapa sang kasir.
”Bisakah saya melihat cctv di ruangan ini?"
”Tapi.. Mbak itu__”
”Mbak, ikuti apa kata Tante saya.” Beni yang maju berbicara memangkas ucapan kasir.
"Tapi, itu berada di ruang informasi di lantai bawah yang ada di sebelah kanan.” terang sang kasir.
Tanpa mengucapkan terima kasih lagi, Rosalina kembali melangkah turun ke lantai dasar, Beni dengan setia mengikuti.
Apa sebenarnya yang di cari Tante?
Mereka tiba di lantai bawah, dan sekarang berada di ruangan informasi.
”Mas, kami ingin melihat cctv yang ada di lantai atas tempat pakaian wanita.” Beni berbicara pada petugas disana.
”Mau lihat cctv hari ini atau hari apa?" tanya sang petugas.
”Cctv yang kemarin malam.” Rosalina yang menjawab.
Petugas menatap layar laptop dan membuka ccrtv yang di maksud.
”Nah, ini dia.” petugas itu menunjukan pada Beni dan Rosalina.
"Iya benar,” Rosalina terus melihat layar laptop. ”Perbesar sedikit di wanita itu.” titahnya.
Sang petugas mengikuti. Rosalina memotret wajah Syakila dengan jelas. "Ok, terima kasih.” ucapnya pada sang petugas. ”Beni ayo kita kembali.” Beni mengangguk.
Mereka kembali ke mobil. Beni kembali menyalakan mobil dan menjalankannya.
”Wanita itu siapa Tante?"
Beni melirik Rosalina yang sedang menatap layar hapenya.
”Foto wanita itu sudah ku kirim di hapemu, Beni. Tugasmu, suruh beberapa orang untuk mencari tau tentang dia. Laporkan segera setelah dapat informasinya.”
__ADS_1
Beni bingung namun tetap mengangguk.