Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 129


__ADS_3

Di kediaman Sarmi.


”Rivaldi, aku sudah menggantikan pakaian Syakila.” ucap Sarmi yang sudah duduk di samping Biah.


”Hum,” singkat Rivaldi menyahuti. Ia beranjak berdiri dan bergegas ke kamar Syakila.


Ia masuk ke dalam kamar, ia melihat Syakila yang memejamkan mata dan Geo yang berada di sisi ranjang sedang menatap Syakila.


”Ehm.” Rivaldi berdekhem.


Syakila membuka matanya, melihat Rivaldi yang berjalan mendekat ke arahnya. Geo pun memandang ke arah Rivaldi dengan tidak senang.


Mengapa dia kesini lagi, sih?


Rivaldi mengabaikan tatapan Geo, ia mendekati Syakila, memasang kembali infus di tangan Syakila. Setelah selesai memasangnya, ia duduk di tepi ranjang, di samping Syakila.


”Bagaimana keadaan mu? Apa masih terasa sakit lukamu, hum?” tanyanya lembut pada Syakila.


Syakila mengangguk, ”Sedikit, guru.”


”Seharusnya kamu beristirahat sehari di rumah ku. Setelah agak baikan baru ku antar kamu pulang.” kembali Rivaldi mengomeli Syakila.


”Kalau aku tidak cepat pulang, orang-orang di rumah akan tambah khawatir, guru. Dan lagi prasangka buruk akan lebih buruk lagi dari ini pada kita berdua nantinya.” sahut Syakila, ia melirik Geo.


Geo menyadari lirikan Syakila, ia memalingkan wajahnya menatap arah lain.


Rivaldi menghela nafas kasar, ia membenarkan ucapan Syakila dalam benaknya. Baru gak pulang beberapa jam saja sudah seperti ini situasinya, apalagi kalau sehari Syakila gak pulang?!


”Kamu benar. Tapi aku malah suka jika kita berdua di kabarkan begitu, akan lebih gampang untuk aku menikahi mu.”


”Apa?” Syakila dan Geo berucap bersamaan memandang Rivaldi.


Rivaldi mengacuhkan Geo. Ia tersenyum tipis melihat Syakila, ” Istrahat lah. Setelah baikan, ada banyak hal yang ingin ku bicarakan berdua dengan mu.” tangannya membelai rambut Syakila.


”Tidak ada hal yang harus kamu bicarakan berdua dengan istriku.” Geo yang menyahuti ucapan Rivaldi. ”Kalaupun ingin berbicara dengan istriku, berbicaralah di hadapan ku, sekarang! Dan jauhkan angan mu untuk menikahi istriku!!”


”Geo, tidak cukupkah kamu berlaku kasar pada guruku? Ingat batasan dalam hubungan kita, Geo!” sahut Syakila.


Kening Rivaldi mengerut.


Batasan dalam hubungan? Sepertinya hubungan pernikahan mereka memang tidak baik-baik saja. Apa ini artinya aku ada kesempatan bisa mendapatkan Syakila?


”Jangan mengingat kan aku tentang hubungan kita, Syakila! Aku tidak akan melepaskan kamu begitu saja! Jan__”


”Geo! Kita sudah sepakat!” sahut Syakila menyangga ucapan Geo.


Geo terdiam memandang Syakila.


Sebaiknya aku menahan emosiku, aku akan tetap menahan Syakila di sisiku dengan caraku sendiri nanti. Untuk sekarang aku mengikuti setiap ucapannya dulu.


”Sudah lah, kamu istrahat lah. Nanti baru kita bicara lagi.” Geo melihat Rivaldi, ”Kamu pergilah dari sini. Kami berdua ingin istrahat!”


”Geo, bersikap baiklah pada guru ku.” Syakila yang menyahut.


Rivaldi beranjak berdiri, ia mencondongkan badannya mendekati Syakila yang berbaring. Ia mengelus lembut pipi Syakila.


”Hei, jauhkan tangan mu dan badan mu dari istriku!” ucap Geo marah. Ia tidak senang melihat Syakila di dekati dan diperhatikan pria lain, apalagi di hadapannya.


Rivaldi mengacuhkan ucapan Geo. ”Cepatlah sembuh, aku menantikan kesembuhan mu, Syakila.” ucapnya lembut sambil membelai pipi Syakila.

__ADS_1


Syakila mengangguk sambil tersenyum. Rivaldi membelai kepala Syakila dengan lembut dan mencium kening Syakila sebelum ia keluar dari kamar Syakila. Membuat Geo dan Syakila terkejut bersamaan.


”Hei!” ucap Syakila


”Brengsek! Beraninya kamu mencium istriku! Kau ingin mati?” ucap Geo.


Rivaldi menghentikan langkahnya tepat di bibir pintu, ”Apa kamu lupa, Syakila semalam tidur di ranjang ku. Tentunya kamu paham kan maksud ku?” sahutnya sambil tersenyum tipis melihat Geo. Setelah itu ia pergi dari sana, mengabaikan Syakila yang masih terbengong dan Geo yang menatap tajam pada dirinya.


Sepeninggal gurunya, Syakila memejamkan mata, ia ingin beristirahat. ”Panggil lah Hardin untuk membantumu berbaring.” ucapnya pelan pada Geo


”Apa maksud ucapannya tadi?” tanya Geo. Ia mengabaikan ucapan Syakila. Pikirannya masih berputar dengan perkataan pria yang di panggil guru oleh Syakila itu.


Syakila membuka mata, melihat Geo. Wajah pria yang berstatus suaminya itu terlihat marah. ”Bukan apa-apa! Tidak terjadi apa-apa di antara kami berdua.” jelas Syakila, ia kembali memejamkan mata.


Jawaban Syakila melegakan pikiran Geo, ia menghela nafas lega.


”Apa sekarang kamu mencintai guru mu? Kamu tidak mencintai Sardin lagi?” tanya Geo lagi. Ia menyelidiki perasaan Syakila kepada pria muda yang rupawan yang di panggil guru oleh Syakila.


”Bukan urusan mu, Geo. Kita tidak bisa mengurusi urusan pribadi masing-masing. Itu perjanjian kita kan, Geo?” jawab Syakila, masih memejamkan mata.


”Apa kamu mencintainya?” sekali lagi Geo menanyakan hal yang sama.


Syakila membuka mata melihat Geo. Wajah pria itu datar, namun, pandangan matanya meminta penjelasan atas hubungan antara dirinya dan sang guru.


”Aku menyayanginya, menghormatinya, menghargainya sebagai guru ku. Siapapun yang aku cintai, itu masalah hati ku sendiri, dan tidak perlu aku memberitahu mu tentang perasaan ku ini.” ia kembali memejamkan mata usai berbicara.


Mengapa aku harus menjelaskan hubungan ku dan pria lain kepada Geo? Tanpa sadar aku menjelaskan tentang sesuatunya agar Geo tidak salah paham padaku. Ada apa ini? Apa aku sudah mulai terbuka pada Geo? Tidak, tidak! Ini tidak ada kaitannya. Aku hanya tidak ingin kami berpisah dengan kesalahpahaman nantinya. Aku ingin dia dan aku berpisah dengan baik-baik.


Geo kembali menghela nafas lega.


Syukurlah, dia tidak memiliki perasaan lebih terhadap pria itu. Saingan ku hanya Sardin, pria yang masih melekat erat di hati Syakila. Akan tetapi, meskipun Syakila tidak memiliki perasaan terhadap pria itu, pria itu pasti akan mencari cara untuk mengambil hati Syakila, agar Syakila mencintainya, begitu juga dengan Beni. Dia akan melakukan hal yang sama untuk mendapatkan Syakila. Tidak akan ku biarkan! Syakila milikku, hanya milikku!


Geo memandang Syakila. Kedua rahangnya mengeras, tangannya terkepal erat.


Ikatan berakhir? Heh, jangan berharap, Syakila! Aku tidak akan membiarkan kamu lepas dari sisiku! Aku membutuhkan mu dalam hidupku, terlebih hatiku tidak menginginkan pisah dengan kamu. Jadi, berhenti berharap untuk lepas dari genggaman ku!


”Aku minta maaf, aku salah, aku sudah menuduh mu yang tidak-tidak.” ucapnya kemudian.


Syakila membuka mata, melihat Geo. Ada ketulusan yang terpancar di mata pria itu.


Dia merendah dan meminta maaf padaku. Biasanya, biar dia salah pun, dia tidak akan meminta maaf pada siapapun. Justru dia memaksa orang lain untuk meminta maaf walau orang itu tidak salah.


”Tapi, ini semua karena mu juga. Seandainya kamu menelfon ku di saat kamu di serang orang, ini semua tidak akan terjadi. Dan jika saat aku menelfon mu, tidak mendengar lenguhan mu dan suara seorang pria, aku tidak akan mencurigai mu.”


Syakila terdiam.


Susah sekali dia meminta maaf dengan tulus! Minta maaf tapi menyalahkan orang. Iya, dia adalah Geovani Albert, pria angkuh, sombong, dan suka semaunya sendiri. Mana mungkin dia akan benar-benar meminta maaf dengan tulus!! Seandainya, aku juga yang mengangkat telfonnya dan ia mendengar suara pria tentu saja kan pikirannya tetap menuduh ku yang bukan-bukan.


Syakila memejamkan mata sambil menghela nafas, ia membuka kembali matanya, melihat Geo.


”Aku memaafkan kamu. Tapi, kamu harus minta maaf pada guru ku.” ucapnya kemudian.


”Apa?” ucap Geo terkejut. Dia tidak pernah meminta maaf pada orang lain, yang ada orang lain yang selalu meminta ampun dan memohon maaf padanya. Ia meminta maaf pada Syakila karena ia tidak ingin kehilangan wanita itu.


”Iya, aku akan memaafkan mu setelah guru ku memaafkan mu.” Syakila mengulang kembali ucapannya.


”Tidak akan!” sahut Geo.


Syakila tidak berkata lagi, ia kembali memejamkan matanya. Ia tidak ingin berdebat hal yang tidak penting dengan pria seperti Geo.

__ADS_1


Hah, mana mungkin dia akan meminta maaf pada orang lain dengan begitu mudah!


Geo keluar dari kamar tanpa berkata apapun dan menutup pintu kamar dengan kasar.


Membuat Syakila terkejut dan membuka mata melihat ke arah pintu. Geo pergi ke depan, ia berhenti saat mendengar suara Sarmi.


”Rivaldi, maaf kan Tante, Tante sudah menuduh mu yang bukan-bukan.” ucap sesal Sarmi.


Rivaldi tersenyum simpel, ”Iya Tante, aku maafkan Tante. Aku juga minta maaf, tidak sempat mengabari Tante tentang kondisi dan keberadaan Syakila, pada Tante.”


Geo mendengar pembicaraan antara Rivaldi dan Sarmi dari balik dinding antara ruang tengah dan ruang depan.


”Bagaimana kamu bertemu dengan Syakila?” tanya Sarmi penasaran.


Bukan hanya Sarmi, Biah, Hardin, dan Johan pun penasaran dengan kejadian yang sebenarnya.


”Kebetulan aku baru pulang dari rumah sakit tempat ku bekerja, aku melihat beberapa pria sedang berkelahi dengan seorang wanita, tidak jauh dari rumah sakit tempat dimana Sardin di rawat. Aku mendekati mereka, berniat membantu wanita tersebut. Dan setelah aku dekat, aku terkejut ternyata wanita itu adalah Syakila. Aku membantunya. Namun, setelah mereka terkalahkan, gak tahunya ada teman mereka yang datang membantu mereka. Mereka berjumlah lebih dari 10 orang. Untungnya ada seorang pria lagi yang datang membantu kami, namanya Antonio, dia teman baru Syakila. Di saat aku dan Antonio masih melawan mereka, tanpa kami sadari jika salah satu dari mereka memegang pisau dan secara tiba-tiba langsung menikam Syakila.”


Rivaldi menjeda ucapannya. Geo terkejut mendengar nama Antonio yang di sebut oleh Rivaldi.


Antonio? Itu artinya Antonio memang ada disini. Tapi, jika tujuannya untuk mencelakai Syakila, mengapa ia justru membantu Syakila melawan anak buahnya sendiri? Ini..apakah siasat dia untuk membuat Syakila percaya padanya dan membuat Syakila mencintainya? Dan lama kelamaan dia akan menghancurkan Syakila! Atau mungkin benar pemikiran Beni, mungkin saja anak buah Antonio ini di suruh oleh Marlina untuk menghabisi Syakila tanpa sepengetahuan dari Antonio.


”Untunglah, di saat itu teman ku yang berprofesi polisi datang tepat waktu. Semua pria yang ada di sana di amankan ke kantor polisi. Kecuali aku dan Antonio. Aku dan Antonio bersikeras membawa Syakila ke rumah sakit, tapi, Syakila menahan ku, dia tidak ingin di bawah kerumah sakit. Jadi, aku membawanya ke rumah ku untuk ku obati sendiri.” lanjut Rivaldi bercerita.


”Tante, mengapa Syakila menolak saat ku bawa ke rumah sakit untuk berobat?” tanyanya penasaran.


”Itu, karena Syakila punya pengalaman yang buruk tentang itu. Jadi, dia tidak ingin berobat ke rumah sakit jika dia sakit.” jawab Sarmi.


”Oh, boleh aku tahu, pengalaman seperti apa itu Tante, sampai-sampai membuat dia trauma?”


”Ayahnya dulu di bunuh oleh orang lain, dia di tikam dua kali di perutnya di mata Syakila, Fatma dan saya sendiri. Kami melarikan dia ke rumah sakit. Namun, naas bagi kami, nyawanya tidak tertolong. Saat itu Syakila terkejut melihat dokter menutup seluruh tubuh ayahnya dengan kain panjang dan ia tidak percaya dengan dokter di rumah sakit. Dia tidak ingin hidupnya sama seperti ayahnya. Berakhir di rumah sakit.” ungkap Sarmi.


”Oh, pantas saat dia sadar, dia mengira dirinya sudah tiada dan dia sangat berterima kasih aku tidak membawanya ke rumah sakit.” sahut Rivaldi.


”Apa baju yang dikenakan Syakila, kamu yang menggantinya dengan pakaian baru?” tanya Sarmi selidik.


Rivaldi menggeleng, ”Aku hanya membelikan baju untuknya, yang menggantikan adalah bibi rumah tanggaku. Aku menghargai dia, menghormati dia sebagai anak murid ku dan sebagai wanita yang ku cintai.”


Deg! Perkataan Rivaldi mengejutkan Sarmi, Biah, Hardin, dan juga Geo yang masih mengutip pembicaraan Rivaldi dengan keluarga Syakila.


Sarmi menatap Rivaldi, Rivaldi memasang wajah seriusnya. ”Iya Tante, aku sudah lama mencintai Syakila. Syakila tahu itu, tapi, saat itu Syakila berpacaran dengan Sardin. Setelah aku tahu Syakila putus dengan Sardin, aku mencarinya ke rumah. Tapi, Syakila sudah menikah dengan orang lain.”


Sarmi mengingat kembali seorang pemuda yang berkunjung ke rumahnya setelah seminggu kepergian Syakila ke kota A bersamanya suaminya.


”Kamu kah pria yang datang mencari Syakila waktu itu?” tanya Sarmi selidik.


”Iya, Tante. Itu aku.” jawab Rivaldi. Ia beranjak berdiri. ”Tante, Paman, Bibi, aku pamit pulang dulu.”


”Em, kita sarapan pagi saja disini, Nak. Jangan menolak permintaan Tante.” ucap Sarmi menahan Rivaldi.


Rivaldi mengangguk, ”Baiklah Tante.” sahutnya. Ia kembali duduk.


”Kalian berbincang-bincang lah, aku akan membuat sarapan pagi.” ucap Biah.


”Em, Sarmi. Kau tetaplah disini menemani mereka. Biar aku sendiri saja yang ke dapur.” ucapnya lagi mencegah Sarmi saat Sarmi ikut berdiri.


Sarmi mengangguk, ia kembali duduk. Sebelum Biah ke dapur, Geo telah kembali ke kamar Syakila. Ia tidak ingin orang-orang tahu jika ia sudah menguping pembicaraan mereka.


Geo melihat wajah pulas Syakila yang tertidur.

__ADS_1


Syakila, selama ini aku selalu mengaggap mu wanita murahan, wanita yang gampang di sentuh oleh pria manapun. Ternyata aku salah, lagi-lagi kamu membuat ku kagum akan dirimu. Syakila, tetaplah berada di sisiku meski aku telah sembuh nanti. Jika kamu tidak ingin berada di sisiku dengan cara baik-baik, jangan salahkan aku, jika aku menahan mu dengan caraku sendiri untuk tetap berada di sisiku.


__ADS_2