Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 146


__ADS_3

Di aula belakang gedung the cobra.


Syakila duduk termenung, matanya masih berkaca-kaca, tangannya memegang dan mengelus kalung yang bertengger di lehernya. Kalung pemberian dari Sardin ketika mereka masih kecil, ketika mereka berdua akan berpisah.


Teringat kembali permintaan Nesa yang meminta bantuannya untuk membujuk Sardin menikahi wanita lain. Apa dia bisa melakukan itu? Apa Syakila akan benar-benar membantu Nesa membujuk Sardin untuk menikah?


Ia menghela nafas, memejamkan mata, ”Sardin!” ucapnya lirih.


Pikirannya saat ini hanya berpusat pada Sardin, tidak sedikit pun memikirkan Geo, perasaan Geo dan amarah Geo sewaktu di klinik rumah Rivaldi.


”Kenapa tante memohon padaku untuk membujuk Sardin menikahi wanita lain? Apa tante sengaja?”


”Akan lebih baik bila aku tidak mendengar kata itu!! Bagaimana mungkin tangan Sardin yang ku pegang, ku genggam, dengan tangan ku sendiri memberikan tangan Sardin pada tangan wanita lain untuk menggenggamnya erat?”


”Aku tidak bisa memberikan Sardin pada wanita lain! Aku tidak bisa...hu..hu..hu...Sardin...” gumamnya lirih, sambil menangis.


Ia menatap langit malam, tiada bintang satu pun yang hadir menghiasi langit, seperti hatinya yang sekarang terasa sepi.


.. ..


Di halaman parkir the cobra.


Ijan masih setia duduk menunggu Syakila di dalam mobil. Ia tidak berani meninggalkan nyonya nya itu seorang diri di dalam gedung.


Selama di dalam gedung, keamanan Syakila terjaga, tetapi, bagaimana jika Syakila keluar dari gedung? Siapa yang akan menjamin keselamatan wanita itu? Meskipun ia tahu Syakila memiliki seni bela diri, tetap saja itu membuatnya khawatir.


Apalagi keselamatan Syakila adalah tanggung jawabnya sekarang, jika terjadi sesuatu padanya, dialah yang akan menanggung akibatnya dari Geo.


Drrrrrt drrrrrt! Suara nada dering handphonenya berbunyi. Ia melihat ke layar tertulis ”Tuan besar memanggil...” ia mengangkat telfon tersebut.


”Halo, Tuan!” sapa nya.


”Mengapa kamu lama kembalinya? Kamu sudah tidak ingin bekerja lagi? Maka ambillah gaji terakhir mu!!” ucap Geo, nada suara pria itu terdengar tidak bersahabat sama sekali.


Apakah karena tuan masih marah kepada nyonya Syakila? Mengapa di lampiaskan pada ku? Pikir Ijan.


”Maaf, Tuan! Saya masih berada di gedung the cobra. Nyonya Syakila belum pulang ke rumah. Setelah Nyonya pulang, baru saya kembali pada Tuan!” sahutnya.


”Apa?!” ucap Geo terkejut. Ia tidak menyangka jika Syakila tidak pulang ke rumah. Ia tahu, perasaan Syakila mungkin sedih sekarang, makanya ia menyendiri sendiri di gedung the cobra. Ia memutuskan sambungan.


Ijan menghela nafas, melihat ke layar sambungan telfon dengan tuan nya tiba-tiba terputus. Apakah tuannya itu marah besar padanya? Karena ia mengantar nyonya nya di gedung cobra bukan di rumah! Pikirnya.


.. ...


Di kediaman Rivaldi.


Rivaldi menatap Geo tanpa bersuara. Ia takut pada aura yang menyebar di ruangannya, aura dingin yang menakutkan yang terpancar dari Geo.


Apalagi yang terjadi dengan Geo? Rivaldi hanya bertanya dalam benaknya saja. Ia terus melihat pria yang masih menatap layar hape di tangannya itu.


Geo mencari nomor telepon Syakila, ia menghubungi nomor tersebut. Sambungan terhubung.


”Halo, ini siapa?” terdengar suara Syakila yang serak, sehabis menangis.


Geo terdiam, Apakah dia habis menangis? Apa yang dia pikirkan? Apakah karena aku yang memarahinya tadi? benaknya.


”Ada apa dengan suara mu?” tanyanya ketus. Ia sama sekali tidak ingin berbelas kasih pada Syakila saat ini.


Syakila terdiam, Ini suara Geo! Dari mana dia tahu nomor ku? Aku tidak pernah memberikan nomor ku padanya! benaknya.


”Em, aku... suaraku....ukhuk... ukhuk...ini pengaruh batuk yang menyerang ku. Aku...aku tidak apa-apa.” jawabnya berbohong.


”Kamu di mana? Kenapa Ijan belum kembali ke sini?” tanya Geo, ia tahu wanita itu berbohong padanya.


”Ehm..aku...aku ada di rumah. Ijan...Aku...aku menahannya tadi. Aku akan menyuruhnya ke sana sekarang. Apakah ada yang kamu butuh kan?” lagi-lagi Syakila menjawab dengan berbohong.


”Sejak kapan kamu menjadi seorang pembohong?!” tanya Geo, suaranya terdengar lebih marah.


Syakila terdiam, Geo tahu aku berbohong? Apa dia memataiku? Atau apa..apa sebelumnya ia menelfon Ijan dan menanyakan keberadaan ku? benaknya.


”Aku...aku ada...di gedung the cobra...” ucapnya dengan ragu-ragu dan takut.


”Cepat pulang!! Aku menggaji Ijan bukan untuk melayani mu pergi bersantai!!” ucap Geo, memangkas ucapan Syakila. Tut tut tut, setelah berucap, ia memutuskan sambungan telfon.


Rivaldi geleng-geleng kepala, ”Kalau kamu khawatir, kenapa gak berbicara baik-baik saja sih sama dia! Mengapa harus peka acara marah-marah segala?” ucapnya.


”Bukan urusan mu!!” sahut Geo. Ia sangat marah dengan Syakila, wanita itu tidak pulang ke rumah, sedangkan ini sudah malam. Ia tidak ingin kejadian yang pernah menimpa Syakila, terulang kembali. Dan bukan hanya itu, wanita itu juga berani berbohong padanya.


Apa karena aku bersikap baik padanya, lalu ia berani kepadaku? benaknya.


Ia menghela nafas. ”Bisakah kamu menyembuhkan ku dalam waktu dua hari ini? Aku ingin kembali ke kota A.” ucapnya.


”Apa? Dua..dua hari? Aku...”

__ADS_1


”Kamu tidak sanggup? Berhentilah bermimpi untuk menjadi pemilik rumah sakit!!” ucap Geo, memangkas ucapan Rivaldi.


”Hah, mengapa kamu tidak berperasaan sekali jadi orang? Setelah kamu memberikan ku rumah sakit itu, sekarang kamu ingin mengambilnya lagi?”


”Bisa atau tidak!!” tanya Geo lagi.


”Ya, ya, ya...aku akan usahakan! Puas?”


Geo tidak menjawab.


”Sebaiknya kamu makan malam bersama ku saja, bibi pasti sudah menyiapkan makan malam. Setelah itu kamu istirahat, dan besok pagi setelah sarapan, aku akan membawa mu ke tempat terapi untuk melatih kaki mu.” ucap Rivaldi lagi.


Kening Geo mengerut, ”Di rumah sakit?”


Mata Rivaldi memicing melihat Geo, Apa dia tidak suka berobat di rumah sakit? Sepertinya anak ini pernah trauma! Terlihat dari tangannya yang gemetar saat mengatakan rumah sakit. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi padanya? Pantas saja ia sudah lama duduk di kursi roda, ia tidak ingin berobat di rumah sakit. benaknya.


”Tidak, masih di sini, di belakang klinik ini.” jawabnya.


”Hum,” sahut Geo.


Di saat mereka selesai berbicara, bibi rumah tangga Rivaldi datang memanggil mereka untuk makan.


Rivaldi mendorong kursi roda Geo keluar dari klinik dan pergi ke rumahnya untuk makan malam.


.. ..


Di parkiran the cobra.


”Ijan, apa Geo tadi menghubungi mu?” tanya Syakila. Setelah menerima telfon Geo, ia menghapus air matanya. Dan pergi menemui Ijan di halaman parkir.


”Iya, Nyonya.” jawab Ijan.


Syakila terdiam, Pantas dia menyuruh ku pulang dan mengatakan aku berbohong. benaknya.


”Kita pulang sekarang!” ucapnya.


”Baik, Nyonya!”


Syakila masuk ke dalam mobil, begitu pula dengan Ijan. Ijan mulai menyalakan mobil dan menjalankan mobilnya keluar dari gedung the cobra.


”Apa Geo memarahi mu?”


”Em...itu...”


”Tidak apa-apa, Nyonya.” sahut Ijan. Ia menjalankan mobil dengan kecepatan maksimum.


Beberapa menit kemudian, ia menghentikan mobil di depan rumah Syakila. Ia melihat Syakila yang tertidur.


”Nyonya, kita sudah sampai.” ucapnya pelan.


Syakila membuka mata, ”Oh, maaf. Aku ketiduran, baiklah. Terima kasih, sudah mengantar ku. Kamu segeralah kembali pada Geo, belikan makanan untuknya.” ucapnya.


”Iya, Nyonya.”


Syakila turun dari mobil. Ijan bergegas memutar arah mobil, dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan cepat meninggalkan kediaman Sarmi.


Syakila deg-degan ketika berada di depan rumahnya. Ia sangat takut jika Sarni, mamanya marah padanya karena ia pulang tidak bersama dengan Geo.


Tok tok tok!! Ia mengetuk pintu rumah, hanya sekali ketukkan pintu rumah terbuka.


”Syakila, kamu sudah pulang?” tanya Sarmi.


”I..iya, Mah.” jawab Syakila dengan gugup. Ia masuk ke dalam rumah.


”Kamu sudah makan?” tanya Sarmi lagi.


”Sudah, Mah.” jawab Syakila berbohong. Ia sebenarnya tidak nafsu untuk makan apapun sekarang.


”Kalau begitu, kamu istirahat lah! Geo tadi memberi tahu Mama jika kamu pulang sendirian. Dan dia bermalam di rumah Rivaldi.” ucap Sarmi.


Syakila terdiam, Jadi, Geo memberitahu mama seperti itu? Pantas saja mama tidak marah-marah padaku! Haruskah aku menelfon dan mengucapkan terima kasih padanya? benaknya.


”Iya, Mah. Kalau begitu, Syakila pergi ke kamar dulu, ingin istirahat.” sahutnya.


”Iya,” sahut Sarmi.


Syakila beranjak berdiri dan pergi ke kamarnya. Sarmi memandang punggung anaknya itu.


Apakah ini hanya perasaan ku saja? Aku merasa Syakila sangat sedih? Apakah akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengusik pikirannya? benaknya.


.. ..


Di perjalanan menuju kediaman Rivaldi.

__ADS_1


Drrrrrt drrrrrt! Handphone Ijan kembali berbunyi, ia mengangkat telfon tersebut.


”Halo, Tuan!” sapa nya.


”Apa Syakila sudah pulang?” tanya Geo.


”Iya, Tuan. Saya lagi dalam perjalanan menuju ke kediaman tuan Rivaldi. Tuan, saya ingin membelikan makanan apa untuk Tuan?”


”Tidak perlu! Aku sudah selesai makan. Kamu singgah lah di restoran untuk makan, baru ke sini.”


”Baik, Tuan.” tut tut tut, terdengar sambungan telfon terputus. Ijan memperlambat laju mobil setelah melihat restoran di depan sana. Ia berhenti dan turun dari mobil. Ia pergi makan di restoran tersebut.


Beberapa menit kemudian, ia keluar dari restoran dan kembali menyalakan mesin mobil. Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, perjalanan dari restoran ke kediaman Rivaldi tidak jauh lagi.


Beberapa menit kemudian, ia telah sampai di depan rumah Rivaldi, ia menghentikan mobilnya. Ia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam klinik Rivaldi menemui tuanya.


”Tuan!” ucapnya, ia berdiri di belakang kursi roda Geo.


Geo memutar kursi rodanya menghadap Ijan. ”Berlutut!” ucapnya.


Ijan menurut, ia duduk berlutut sambil menunduk di hadapan Geo.


Bugh! Bugh! Dua pukulan keras melayang di wajah Ijan. Namun, Ijan tidak melawan.


Rivaldi bergidik melihat itu.


”Kamu tahu di mana salah mu?” tanya Geo.


”Maaf, Tuan! Saya pantas di hukum! Saya tidak mendengarkan perintah Tuan dengan baik!” ucap Ijan, masih dengan menunduk.


”Belajar patuhlah dengan baik! Jika tidak, konsekuensi nya tidak mampu kamu tanggung!” ucap Geo.


”Baik, Tuan!” sahut Ijan.


”Berdirilah!”


Ijan berdiri, masih di hadapan Geo dengan menunduk.


”Katakan padaku yang kamu ketahui.” ucap Geo.


Rivaldi tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh kedua pria itu. Ia menyaksikan dan menjadi pendengar saja.


”Saudara tiri Tuan, telah sadar hari ini, tapi, kondisinya masih lemas. Sedangkan kedua anak buahnya yang patah kaki dan tangannya sudah kembali pulih. Namun, untuk sementara waktu mereka berdua belum di perbolehkan untuk berkelahi. Jika kondisi saudara tiri Tuan sedikit membaik, maka Seva akan membawanya kembali ke kota A.” ungkap Ijan.


”Untuk Nyonya, orang tua dari Sardin, meminta tolong kepada Nyonya untuk membujuk Sardin menikahi wanita yang bernama Nita.” ungkapnya lagi.


Ijan begitu mengerti apa maksud kata-kata Geo. Saudara tiri? Jadi, Geo punya saudara tiri? Oh..aku tidak pernah mendengar kabar jika tuan Alber mempunyai dua istri. Dan Syakila... Ijan tahu dari mana tentang itu? Bukan kah ia berada di sini siang tadi? Lalu, berita itu... Apakah orang yang duduk di kursi roda ini bukan orang biasa? benak Rivaldi.


Ia masih mendengarkan pembahasan dua pria itu.


Huh, jadi, dia menyendiri untuk memikirkan pria lain? Aku kira dia merenungi kesalahannya padaku! Ternyata...hanya Sardin yang ada di pikirannya. Rupanya, aku masih berhati lunak padanya! Baiklah, kamu yang meminta ini Syakila, jangan salah kan aku, aku keras padamu! benaknya.


”Oh, jadi itu yang membuat dia tidak bersemangat? Dia sedang memikirkan Sardin?” ucap Geo, tidak senang.


”Iya, Tuan!” sahut Ijan.


Geo menghela nafas. ”Aku ingin istirahat!” ucapnya.


Ijan mendorong kursi roda Geo ke ranjang, ia membantu Geo berbaring.


”Keluarlah!” ucap Geo.


”Iya, Tuan!” Ijan pergi keluar, ia duduk di kursi teras depan klinik Rivaldi.


Rivaldi melihat Geo yang tertidur. Betapa patuhnya Ijan pada Geo! Dia juga mengerti gaya bicara Geo. Apa Ijan terlatih? Meskipun di pukul seperti itu, dia masih tetap setia mengikuti Geo. Apakah Geo memang kejam? benaknya.


”Apa ada yang ingin kamu tanyakan? Mengapa melihat ku seperti itu?” tanya Geo, matanya masih terpejam.


Rivaldi terkejut, ”Tidak, istirahat lah, besok kita mulai melakukan terapi buat mu. Urat saraf mu tidak keras lagi. Tulang ekor mu juga sudah mulai membaik setelah di obati.” sahutnya.


”Hum, tidur lah! Bukan kah kamu yang akan bekerja lebih keras besok?”


”Iya, sebaiknya kita istirahat sekarang!” sahut Rivaldi. Ia berbaring di ranjang pasien miliknya.


Beberapa menit telah berlalu, sudah hampir satu jam Geo memejamkan mata, memaksa matanya untuk tidur. Namun, ia enggan untuk tidur, ia gelisah, ia sudah terbiasa dengan suhu hawa Syakila di sekitarnya. Tidak ada wanita itu, terasa hampa yang di rasakan.


Apa aku sudah gila? Aku ingin dia ada di sini. Bagaimana aku bisa tidur kalau begini. Mataku terpejam, tetapi tidak terlelap. Apa aku telfon dia saja? benak Geo.


Ia membuka mata dan menghela nafas. Ia menoleh, melihat Rivaldi. Pria itu telah tidur nyenyak.


Ia meraih hapenya, melihat jam di depan layar, pukul 23 : 44. Hampir jam dua belas malam.


Apakah Syakila sudah tidur? Apakah yang aku rasakan ini, dia juga merasakannya? Pikir apa aku ini? Mana mungkin dia merasakan apa yang ku rasakan sekarang! Kalau pun dia tidak bisa tidur sekarang itu karena memikirkan Sardin. benaknya.

__ADS_1


Tanpa sadar layarnya terpencet memanggil kontak Syakila, ia segera mematikan panggilan tersebut setelah terlewat lima menit.


__ADS_2