Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 114


__ADS_3

Di dapur, kediaman Sarmi.


Geo tersenyum senang di dalam hatinya, Syakila hampir menghabiskan makanan miliknya, ia lebih senang lagi Syakila memakan dari suapannya.


Aku tahu kamu pasti masih lapar, hanya saja rasa lapar mu tertutupi dengan khawatir mu pada Sardin. Asya, aku iri dengan besarnya cintamu pada Sardin. Andaikan itu adalah aku, apakah cintamu akan sebesar itu juga untukku?


Fatma, Johansyah, Hardin, Sarmi dan adik Syakila yang lainnya terdiam menyaksikan kemesraan yang di tunjukan oleh Geo pada Syakila.


Syakila pasrah menerima suapan demi suapan dari Geo di hadapan keluarganya. Meskipun malu, ia tidak bisa menolak. Semua anggota keluarga telah menyelesaikan makanannya, tinggal Syakila seorang.


”Ita, Yuli, kalian berdua bersihkan meja makan, yang lainnya istirahatlah.” titah Sarmi.


Ia berdiri meninggalkan dapur. Semua anggota keluarga telah selesai makan. Hardin, Syakila, Geo, Fatma dan Johansyah meninggalkan dapur. Endang, tetap di posisinya beserta Yuli dan Ita. Setelah semua pergi dari meja makan, barulah ketiga putri Sarmi itu bergerak membersihkan meja makan, juga membersihkan dapur bersama-sama.


Syakila dan Geo pergi ke kamar.


”Bantu aku berbaring, pinggangku rasanya mau patah seharian duduk di kursi roda.” keluh Geo.


Syakila mengiba melihat Geo. Ia memapah Geo ke ranjang. Ia menyelimuti tubuh Geo.


”Maaf kan, aku. Aku.. tidak memperdulikan kamu hari ini, aku....”


Geo menghela nafas, ”Tidak apa-apa. Tidak usah di bahas lagi. Naiklah, aku ingin istrahat.”


Syakila menurut. Ia naik ke sisi ranjang sebelah. Ia menatap langit-langit kamarnya, sambil memikirkan sesuatu.


Apa mama akan benar-benar melarang ku menemui Sardin? Handphone ku, apakah mama akan mengembalikannya padaku, besok? Bagaimana jika tante Nesa menelfon? Ah, mengapa nasib cintaku seperti ini? Sardin, ku mohon, kamu harus sadar.


Lima belas menit kemudian, ia bangun dari baringnya. Ia menoleh melihat Geo yang telah memejamkan mata.


Apakah dia sudah benar-benar tidur? Atau hanya memejamkan matanya saja? Aku tidak menyangka pria sombong ini membelaku di hadapan mama. Terima kasih, Geo.


Ia mendekati Geo, menyentuh wajahnya. Geo merasakan sentuhan lembut tangan Syakila, tapi ia tidak terbangun, ia tetap memejamkan matanya.


Ia sudah tidur. Seharian berada di kursi roda, pasti menyakitkan sekali, maaf kan aku, Geo. Pinggang mu pasti lelah, istrahat lah.


Ia membenamkan kepalanya di dada Geo dengan sadar, Geo membuka mata merasakan bajunya yang basah.


Apa yang dilakukan Syakila? Mengapa harus diam-diam begini memelukku, bahkan menangis di dadaku. Apa yang membuatnya menangis? Apa dia masih memikirkan hal tadi?


Namun, ia tidak bersuara. Ia membiarkan Syakila dalam posisi itu.


”Maaf kan aku Geo, aku bersalah padamu. Tapi, apa yang harus ku lakukan? Kamu tahu sendiri, pernikahan kita seperti apa. Kita juga sudah sepakat untuk berpisah nanti. Maaf kan aku, aku tidak bisa menerima mu sebagai suamiku. Aku tidak mencintai mu, aku hanya mencintai Sardin.”


Geo terdiam mendengarkan ucapan Syakila tanpa menyahutinya.


Aku sudah tahu dari awal, Asya. Tidak perlu kamu mengingatkan ku lagi.


Syakila mengangkat kepalanya melihat wajah teduh Geo saat terpejam, dengan cepat Geo kembali memejamkan mata. Ia tidak ingin Syakila tahu jika ia sadar dan mendengar ucapan Syakila.


”Terima kasih, kamu telah membelaku di hadapan mama. Terima kasih, kamu telah mengerti aku, dan maaf, aku malah menyakiti mu.”


Mengapa tidak berbicara langsung padaku? Apa kamu merasa lega bila sudah berbicara begitu? Tanpa mendengar ucapan aku memaafkan mu?


Geo menggerakkan badannya. Syakila menjauh dari tubuh Geo, Geo membuka matanya.


”Syakila, kamu belum tidur?” ucapnya sambil menguap dan menggosok matanya.


Ia berpura-pura baru terbangun dan tidak mendengar ucapan Syakila barusan. Syakila menggeleng.


”Kenapa? Apa kamu sedang menangis? Apa yang kamu pikirkan? Berbaringlah di sampingku, aku meminjamkan dadaku untuk tempat mu bersandar.”


Tanpa ragu, Syakila kembali mendekati tubuh Geo, ia berbaring dan kembali menyandarkan kepalanya di dada Geo. Malam ini, ia memang butuh tempat untuk bersandar. Geo mengelus punggung Syakila.


”Apa yang kamu pikirkan? Berbagilah dengan ku, meskipun kita bukan pasangan suami istri yang sesungguhnya. Tapi, status kita sekarang adalah pasangan suami istri, berbagilah dengan ku apa yang kamu rasakan. Mari kita berteman dan saling berbagi dan bertukar pikiran tentang apa yang kita berdua rasakan, kamu mau?”


”Baiklah, aku setuju. Aku ingin tidur seperti ini, aku merasa nyaman begini saat ini, apa kamu keberatan?”


”Tidak, tidurlah.”


Justru jika kamu mau, setiap malam tidur seperti ini, aku sangat senang. Sedih rasanya melihat mu yang sedih tidak berdaya seperti ini. Syakila, aku sudah mulai menyukai mu. Bolehkah aku berharap kita terus bersama seperti ini? Bisakah, kamu mencintai ku, Syakila? Aku sudah terlanjur menyukai mu, Syakila. Tapi, aku tidak bisa menahan mu untuk berada di sisi ku.


Syakila menurunkan kepalanya ke lengan Geo, ia menghirup aroma di leher Geo. Ia merasa nyaman dengan aroma dari tubuhnya. Ia memeluk tubuh Geo, perlahan matanya terpejam.


Geo merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya. Ia menelan salivanya, dalam kondisi seperti ini, Syakila memancing gairahnya. Ia ikut memejamkan mata menghalau perasaannya.


.. ..


Apartemen Dawiyah, kota A.


Marlina sedang berfikir sendirian di balkon kamarnya. Ia sedang memikirkan Geo, kakak tirinya, yang ia cintai.


Apa yang sedang Geo lakukan sekarang? Apa dia bersenang-senang di sana bersama Syakila? Jika saja Tante tidak keburu mencarikan pasangan untuk Geo, aku ingin mencoba untuk mendekati dan mencari perhatian Geo. Jika saja, Dawiyah tidak muncul, mungkin aku dan Geo sekarang sudah menikah. Sekarang, jangankan mengharap menikah dengan Geo, mendekatinya saja, aku tidak bisa. Geo histeris seperti monster.


”Mumpung Syakila berada di kota S, aku ingin meminjam anak buah Antonio untuk melenyapkan Syakila di sana. Jika Syakila tiada, tidak ada lagi penghalang untuk aku mendekati Geo. Tapi, Antonio kemana yah? Nomornya tidak aktif ku hubungi, mencarinya di apartemen Dawiyah ini pun tidak ada. Bahkan, Dawiyah juga menanyakan keberadaan Antonio padaku.”


Marlina menghubungi nomor Antonio. Telfon tersambung.


Baguslah, sekarang nomornya terhubung.


”Halo, kak.” sapa Marlina.

__ADS_1


”Hum, ada apa?” sahut Antonio.


”Kakak ada dimana? Mengapa nomornya kakak baru aktif sekarang?”


”Kakak mendadak kembali ke kota pusat. Hapenya kakak lowbat dan ini baru selesai di cas. Ada apa mencari kakak?”


”Kenapa kakak tidak bilang kalau kakak kembali ke pusat? Marlina ingin pulang bersama kakak.”


”Tidak sempat, katakan, ada apa mencari ku?”


”Kakak, bolehkah aku meminjam anak buah kakak dua atau tiga orang, begitu?”


”Bisa, tapi, untuk apa kamu meminjam mereka?”


”Bukan apa-apa, kak. Hanya menyelidiki sesuatu, ini tentang teman ku.” jawab Marlina berbohong.


”Baiklah, ada beberapa anak buah kakak yang berada di situ, kakak akan menelfon nya untuk mendengarkan semua perintah mu.”


Marlina tersenyum senang, ”Ok, terima kasih, kak. I love you.”


"Masih ada keperluan lain? Jika tidak, kakak matikan telfonnya.”


”Tidak ada lagi,”


Tut tut tut telfon terputus dari sebrang sana. Marlina tersenyum licik.


”Syakila, aku memang tidak ada dendam dengan mu, tapi, kehadiran mu, mengganggu hubungan ku dengan Geo. Maaf, aku tidak akan sungkan untuk menghabisi mu.”


gumam Marlina. Ia berjalan masuk ke dalam kamar dengan senang. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Di kediaman Vian.


”Lapor, Tuan.”


”Ada apa? Apa kalian sudah tahu di mana Syakila berada?” sahut Vian.


”Iya, Tuan. Nona Syakila sekarang berada di kota S bersama Geovani Albert.”


”Apa! Bersama Geovani?” ucap Vian dengan terkejut dan mengerut.


”Iya, Tuan. Dan sekarang, tuan Antonio berangkat ke kota S untuk mencari Geovani.”


”Apa Dawiyah mengikuti Antonio?”


”Tidak, Tuan.”


”Keluarlah!” titah Vian.


Anak buah Vian keluar dari ruangan Vian. Vian nampak memikirkan sesuatu.


”Aku akan pergi ke kota S sekarang!”


Ia keluar dari ruangan. Ia menemui semua anak buahnya.


”Kalian, jaga markas dengan baik! Aku akan pergi ke kota S.” ucapnya.


”Baik, Tuan.”


”Siapkan mobil, antar aku ke bandara.”


”Siap, Tuan.”


Anak buah tersebut keluar dengan cepat menyiapkan mobil. Vian juga berjalan keluar markas sambil menelfon seseorang.


”Halo, aku akan berangkat ke kota S, sekarang. Kamu jalankan perusahaan dengan baik. Dan tetap pantau pergerakan anak buah Geo. Dan satu lagi! Pantau anak buah Antonio.”


Ia mematikan handphone setelah berucap. Ia masuk ke dalam mobil. Tanpa di perintah lagi, sang supir menjalankan mobil, membelah jalanan kota A menuju bandara.


Antonio memesan tiket pesawat lewat online, beruntung ia mendapatkan tiket pesawat yang terakhir dan penerbangan terakhir tujuan kota S di malam itu.


.. ..


Di bandara kota S.


Antonio berdiri di sendirian di tengah luasnya bandara kota S. Ini pertama kali ia pergi ke kota itu.


”Sekarang aku sudah berada di kota ini. Tapi, aku tidak tahu kemana tujuan ku. Dan aku juga tidak tahu di mana letaknya Geo tinggal. Kota ini lumayan besar dan luas. Penduduknya juga padat.”


”Taksi.”


Antonio menahan sebuah taksi yang melintas. Taksi berhenti. Antonio masuk ke dalam mobil.


”Kemana, Bang?” tanya sang supir.


”Bawa aku ke hotel yang bagus di kota ini.”


”Baik, Bang.”


Sang supir menjalankan mobil menuju hotel yang jaraknya tidak jauh dari bandara kota S. Antonio meraih handphonenya dari saku.


”Apa kalian sudah menemukan di mana lokasi Geovani berada?” Antonio.

__ADS_1


Ia mengirim pesan kepada anak buahnya yang mencari tempat tinggal Geovani di kota S.


Ting, notifikasi pesan berbunyi. Antonio melihat ke layar handphonenya.


”Sudah, Tuan. Villa Geovani berada di puncak hanya beberapa menit saja dari bandara.” anak buah Antonio.


Antonio tersenyum senang. Ia telah sampai pada hotel yang di maksud oleh sang supir. Antonio turun dari mobil setelah ia membayar biayanya.


”Bagus! Apa dia sendirian di sana? Kamu pantau dia, dan laporkan padaku!” Antonio.


”Tuan, sepanjang kami memantau, kami tidak melihat Geovani. Hanya beberapa anak buahnya saja yang sering keluar masuk ke villa.” anak buahnya.


”Terus pantau!” Antonio


”Baik, Tuan.” anak buahnya.


Antonio hanya membaca pesan tersebut. Ia masuk ke dalam hotel. Ia menyewa satu kamar untuknya. Ia masuk ke dalam kamar, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


”Marlina, kakak sudah menyiapkan empat orang ku untuk menerima perintah mu. Temui mereka di halaman parkir apartemen Dawiyah, besok. Mereka memakai pakaian dengan lambang huruf Eg di dalam lingkaran merah.”


Antonio mengirimkan pesan kepada Marlina. Namum, Marlina belum melihat ataupun membaca pesan tersebut.


.. .. ..


Keesokan paginya. Di apartemen Dawiyah.


”Marlina, apa kamu benar-benar tidak tahu, mengapa kakak mu tiba-tiba pergi ke pusat?”


”Tidak tahu, kakak cuma bilang ada urusan mendadak. Memangnya kenapa? Kamu mau nyusul kesana?”


”Tidak, aku belum bertemu dengan Geovani, bagaimana bisa aku duluan meninggalkan kota ini?” jawab Dawiyah dengan tersenyum angkuh.


”Kamu, tumben semalam menginap di sini? Apa kamu gak khawatir di cariin sama adik tiri mu dan mama tiri mu?” ucapnya lagi.


”Jika kamu ingin bertemu dengan Geovani, maka kamu tunggulah sebelas hari lagi. Karena Geovani tidak berada dalam di kota ini sekarang.”


”Apa? Geovani tidak ada disini? Lalu, dia pergi kemana?” tanya Dawiyah ingin tahu.


”Entahlah, tante Rosalina tidak memberitahukan di mana Geovani berada sekarang. Ia hanya bilang, bahwa Geovani sedang melakukan perjalanan bisnis selama dua Minggu.”


”Tapi, setidaknya, Beni tahu kan di mana keberadaan Geovani sekarang? Mengapa kamu tidak bertanya padanya saja?”


”Sayangnya, Beni juga tidak tahu, tante mengatakan itu di hadapan kami berdua.”


”Benarkah Beni tidak tahu?” tanya Dawiyah penasaran memandang Marlina.


”Hum, dia tidak tahu.” jawab Marlina berbohong.


”Baiklah, selama dia masih melakukan bisnis, aku akan menunggunya disini.” tukas Dawiyah sembari tersenyum.


"Terserah mu!” ucap Marlina sembari berdiri. Ia melangkah ke kamarnya meninggalkan Dawiyah. Ia mengambil tasnya yang berada dalam atas ranjang. Ia meraih handphonenya. Ia melihat ada satu pesan dari Antonio. Ia membacanya.


Marlina tersenyum senang, ia memasukan hapenya kembali ke dalam tas lalu menyandangnya. Ia keluar kamar.


”Kamu sudah ingin pulang?” tanya Dawiyah.


”Iya, aku pergi dulu.” sahut Marlina.


Ia melenggang pergi dari apartemen Dawiyah. Ia mempercepat langkahnya menuju lift. Ia masuk ke dalam lift dan menekan tombol satu, lantai dasar. Lift tiba di lantai satu, ia keluar dari lift dengan terburu-buru hingga ke halaman parkir.


Ia mencari ke empat pria yang di maksud oleh kakaknya itu. Marlina tersenyum melihat ke empat pria tersebut sedang bersandar di sebuah mobil dengan mengenakan pakaian hitam dan juga topi. Marlina berjalan mendekati mereka.


Ia melihat ada huruf Eg di dalam lingkaran di baju yang mereka kenakan pada bagian dada kiri mereka.


”Apa arti dari Eg?” tanya Marlina kepada pria-pria itu, di saat Marlina sudah berhadapan dengan mereka.


”Eagle!” jawab ke empat pria itu dengan kompak.


Marlina tersenyum. Mereka memang adalah orang Antonio, setelah Eagle dulu hancur, Antonio mengambil alih dan menyingkat Eagle dengan Eg. Ia kembali mengumpulkan anak buahnya dan melatih mereka.


”Berarti kalian telah tahu aku ini siapa?”


"Anda adalah adik dari Antonio.” jawab salah satu di antara mereka.


”Bagus, jadi aku tidak perlu memperkenalkan diriku lagi.”


”Apa tugas kami, Nona?”


”Kalian lihatlah foto gadis ini baik-baik.” ucap Marlina, ia memperlihatkan foto Syakila kepada ke empat pria tersebut. ”Apa kalian sudah menghafal wajah wanita ini?”


”Hum,” sahut mereka.


”Kalian pergilah ke kota S dan cari dia. Bunuh dia jika ada kesempatan bagus. Dan, Antonio tidak boleh tahu jika aku menugaskan kalian untuk membunuh wanita ini!”


”Baik, Nona!”


”Pergilah sekarang! Beritahu tahu jika kalian sudah berada di kota S dan jika sudah menemukan target.”


”Baik, Nona.”


Mereka berempat masuk kembali ke dalam mobil. Mobil tersebut memutar arah meninggalkan halaman parkir apartemen. Marlina memandang belakang mobil yang perlahan menjauh dari pandangan matanya.

__ADS_1


Ia tersenyum bahagia, ”Syakila...aku akan selalu mengingat tentang mu. Semoga kamu menemukan kedamaian di alam baka.”


Marlina berjalan ke arah mobilnya. Ia masuk, dan menyalakan mesin mobil. Perlahan ia menjalankan mobil keluar dari area parkiran. Ia pergi ke kediaman Albert.


__ADS_2