
Tiga hari telah berlalu. Kini Syakila dan Geo telah kembali ke kediaman Albert.
Selama di kediaman Anton. Syakila selalu memperhatikan Geo, dari makanannya, pakaiannya, dan lainnya kebutuhan Geo. Syakila meminta izin dari pihak sekolah untuk tidak mengajar sampai Geo sembuh total.
Selama mereka berada di kediaman Anton. Anton, Serlina, dan Samnia memang melihat sikap Geo yang lembut pada Syakila. Bahkan tanpa ragu Geo menunjukkan betapa lemahnya dirinya di hadapan Syakila.
Namun, Syakila tidak sedikit pun menunjukkan perasaannya kepada Geo. Ia tetap merawat Geo seperti seorang istri pada umumnya jika suaminya sedang sakit. Di luar itu, Syakila bersikap biasa kepada Geo. Geo hanyalah teman yang berstatus suami di kertas baginya, tidak lebih.
Syakila melakukan hal itu untuk menjaga perasaan pria yang di cintai nya, yang sama-sama tinggal di kediaman Anton.
Yah, dia adalah Sardin. Dia memang bersikap lembut pada Sardin. Selama Syakila berada di rumah Anton, waktu untuk Sardin dan Syakila selalu ada. Dari sama-sama memasak, membersihkan dapur dan merawat tanaman bunga-bunganya Serlina dan Anton.
Hal itu membuat Geo cemburu, namun, Geo tidak ingin marah kepada Syakila. Ia ingin membuat Syakila merasa nyaman dulu bersamanya. Setelah itu perlahan-lahan ia akan membuat Syakila percaya pada dirinya dan lambat laun ia akan membuat Syakila bergantung padanya.
Geo juga selalu memperhatikan bagaimana sikap Sardin kepada Syakila. Diam-diam ia belajar dari sikap Sardin yang menyenangkan dan selalu mendukung, bersikap lembut, dan bagaimana cara Sardin membuat Syakila nyaman berbicara dan terbuka padanya.
Sementara Antonio, ia selalu berusaha untuk bisa bertemu dengan Syakila. Ia ingin mengajak Syakila berbicara berdua. Namun, kesempatan itu tidak ia dapatkan. Ia tidak pernah melihat Syakila di sekolah, tempat Syakila mengajar.
Ia juga memantau kediaman Albert, ia tidak melihat Syakila keluar masuk di kediaman Albert. Begitu juga dengan Geo, ia tidak melihat Geo keluar dari kediaman. Hal itu membuatnya sangat kesal.
Ia mencari keberadaan Geo di berbagai rumah sakit di kota A tersebut, namun, ia tidak menemukan nama pasien yang bernama Geovani Albert.
Pasalnya ia mendapat kabar dari orang-orang jika Geo mengalami banyak luka-luka di badannya. Dan Geo kehilangan banyak darah, Sehingga Geo di bawah ke rumah sakit.
Karena tidak menemukan nama Geo di rumah sakit manapun. Ia mengintai kediaman Albert. Namun, usahanya juga sia-sia, ia tidak mendapatkan informasi apapun tentang Geo maupun Syakila.
Selama Syakila dan Geo berada di kediaman Anton, Hamid, Halima, Denis datang beberapa kali untuk menjenguk Geo. Di saat mereka datang, Syakila selalu keluar menemui Sardin. Jelas terlihat jika Syakila menghindari mereka bertiga.
Serlina dan Anton merasa heran dengan perubahan sikap Syakila kepada Halima, Hamid, dan Denis yang tidak biasanya. Membuat Anton dan Serlina tidak tahan untuk bertanya ada apa? Mengapa begitu sikap Syakila kepada Hamid, Halima, dan Denis? Apakah mereka sedang bertengkar?
Namun, meskipun Anton dan Serlina selalu bertanya, mereka tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Hamid, Denis, dan Halima atas pertanyaannya itu. Dengan kata lain, mereka bertiga tidak menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
Mereka hanya menjawab, ”Itu hanya perasaan kalian saja! Syakila dan kami tidak terjadi apa-apa. Jangan banyak berpikir yang tidak-tidak! Bukan kah Syakila pergi karena ada urusan? Bukan kah teh dan kue yang kami makan di suguhkan oleh Syakila? Itu artinya di antara kami tidak terjadi apa-apa. Hanya perasaan kalian saja yang merasa seperti itu.”
Anton dan Serlina tidak menyangkal perkataan mereka. Memang yang menyuguhkan teh dan kue pada mereka adalah Syakila. Syakila memberikan senyum ramah pada mereka bertiga. Tapi, tetap saja di hati Anton dan Serlina merasakan kejanggalan perubahan sikap Syakila pada Hamid, Halima, dan Denis.
Karena tidak mendapatkan kepuasaan atas kejanggalan mereka. Mereka tidak banyak bertanya lagi dan tidak ingin mencari tahu lagi kebenarannya. Serlina dan Anton menganggap perkataan mereka sudah benar.
Mendengar keinginan Geo, Anton dan yang lain membatalkan pertemuan dua keluarga untuk membahas pernikahan Geo dan Syakila. Mereka juga tidak memberitahukan kepada Sarmi tentang perjalanan pernikahan Syakila dan Geo yang sebenarnya.
Mereka sepakat memberikan kesempatan untuk Geo memperbaiki pernikahannya. Geo menjanjikan akan mengulang kembali menikahi Syakila dengan benar jika Syakila sudah berbalik mencintainya.
Sebagai paman dan bibinya Syakila, mereka semua mendukung dan menyemangati Geo untuk niat baiknya itu.
.. ..
Di kediaman Anton.
” Kenapa? Merasa sepi sekarang?” Serlina duduk di kursi menemani Sardin yang lagi duduk sendirian di kursi depan ruang praktek Samnia.
”Bibi? Em...” Sardin tertawa kecil. ”Mengapa harus merasa sepi? Sardin hanya sedang memikirkan pekerjaan Sardin yang ada di kota S saja, kok!”
”Oh, yah?” Serlina nampak tidak percaya. ” Dia baru pergi beberapa jam yang lalu. Sudah rindu kah padanya? Hum?” Serlina menaikkan sebelah alisnya, menggoda Sardin, anak kemenakan dari suaminya itu.
Sardin kembali tertawa sambil melihat arah lain, tidak berani melihat wajah bibinya itu.
Ia menghela nafas. Iya, aku merindukan nya, Bi. benaknya.
”Bibi ada-ada aja pertanyaannya! Mengapa Bibi bertanya seperti itu?” ia salah tingkah.
Serlina tersenyum, ”Bibi tahu, kamu masih mencintainya, kan? Bibi juga melihat cinta Syakila untuk mu. Kalian berdua masih saling mencintai. Jangan sembunyikan dari Bibi. Jujurlah!”
”Em..” Sardin menjadi gugup. Ia memegang leher belakangnya. ”Bibi, apakah Bibi marah pada Sardin? Apakah paman juga tahu hal ini?” tanyanya, penasaran.
Serlina mengangguk.
Sardin sedikit terkejut. Ia tidak akan menyembunyikan itu pada bibinya. ”Ah... rupanya paman dan Bibi tahu! Bibi, mungkin di pikiran Bibi dan paman, Sardin adalah pria yang egois. Menginginkan, mengharapkan, dan mendambakan istrinya orang.” ia menunduk.
Serlina tersenyum, ”Bibi tidak berpikiran seperti itu...paman mu juga tidak.”
Sardin terkejut, ia mendongak, melihat Serlina, bibinya. ”Apakah begitu? Bibi dan paman tidak marah pada Sardin?”
Serlina menggeleng. ”Bibi dan paman pernah muda dan merasakan apa yang kamu rasakan ini. Paman dan Bibi memahami mu. Tapi, walau bagaimanapun, Syakila sudah menikah, ia terlihat bahagia dengan suaminya. Kamu juga pantas mendapatkan kebahagiaan mu, kan?”
Sardin terdiam. Mendapatkan kebahagiaan? Kebahagiaan nya ada pada Syakila. Haruskah ia mengalah dan berhenti berharap pada Syakila? Haruskah ia membuka hatinya untuk wanita lain?
__ADS_1
”Jika Syakila yang mengatakan itu pada Sardin, Sardin akan berhenti berharap padanya.” Sardin terlihat serius namun juga ada ketidakrelaan, terlihat jelas di matanya.
”Bibi tidak memaksa mu untuk berhenti berharap pada Syakila. Bibi hanya ingin kamu juga menggapai kebahagiaan mu dengan pasangan mu, membina rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan warahmah bersama istri dan anak-anak mu.”
”Sardin mengerti, Bi.”
”Em.. ngomong-ngomong, kapan kamu akan kembali ke kota S? Sudah berapa Minggu kamu menelantarkan pekerjaan mu? Apa kamu gak takut para karyawan mu akan mendepak mu sebagai bos?” Serlina sengaja merubah topik pembicaraan.
Sardin tertawa kecil, ”Apakah mereka berani berbuat seperti itu? Aku akan memecatnya!” ia menjeda ucapannya, ”Insya Allah, tiga hari kedepannya, Sardin akan kembali. Karena ada urusan yang harus Sardin urus.”
”Oh... baiklah, Bibi masuk ke dalam dulu. Kamu jangan melamun sendirian di sini, nanti kerasukan setan, loh!”
Sardin kembali tertawa kecil, ”Bibi ada-ada aja! Masuklah, Bi! Jangan ganggu Sardin!”
”Ok, sayang!” Serlina beranjak berdiri, ”Baiklah, Bibi masuk dulu.” ia berjalan masuk ke dalam rumahnya, setelah Sardin mengangguk.
Sardin kembali melamun.
Tinggal tiga hari lagi aku berada di sini. Hah... Syakila baru beberapa jam kepergian mu, aku sudah sangat merindukan dirimu.
Sardin memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya di dinding.
Jika aku sampai di kota S, alasan apa yang harus aku katakan pada mama untuk menolak perjodohan ku dengan wanita itu, yah? Aku tidak ingin menikah dengan orang lain selain Syakila.
Ia kembali membuka matanya.
Apa yang di lakukan Syakila sekarang yah? Aku ingin bertemu dengan Syakila, tapi, tidak mungkin kan aku pergi ke kediaman Albert untuk menemuinya? Apakah besok Syakila akan kembali mengajar? Aku akan mencoba ke sekolah, tempat mengajarnya besok untuk menemuinya.
.. ..
Di kediaman Albert, kamar Geo.
”Mama senang sekali, akhirnya kamu kembali lagi ke rumah. Mama kira kamu sudah nyaman berada di rumah mertuamu, hingga melupakan rumah ibumu.” ucap Rosalina.
”Mah, Mama bicara apa sih? Mana mungkin Geo akan melupakan Mama ku yang terhebat ini!” sahut Geo.
Syakila tersenyum saja mendengar percakapan ibu dan anak itu sambil terus membersihkan kamar.
Ia mengganti seprai lama dengan yang baru dan juga kain gorden yang baru.
Mereka tiba-tiba terdiam mendengar suara langkah kaki yang bergerak cepat menuju ke kamar.
”Geo, apa kamu baik-baik saja?”
Geo, Syakila, dan Serlina melihat ke arah pintu kamar yang terbuka semakin lebar. Juga melihat seorang perempuan yang tampak lelah, yang berdiri di pintu itu.
Bagaimana bisa dia datang kemari? Bukan kah dia di larang keluar dari kota pusat tanpa seizin Beni? Apakah Beni yang mengizinkan dia ke sini? benak Geo. Ia membuang muka, sangat malas baginya untuk melihat Marlina.
”Marlina?” Rosalina berdiri menghampiri Marlina. Ia sengaja mencegah agar Marlina tidak masuk ke kamar Geo. ”Ayo ikut Tante ke bawah.”
”Tapi, Tante! Bagaimana keadaan Geo? Marlina sangat khawatir mendengar kabar kecelakaan Geo dari Beni. Apakah Geo baik-baik saja?” tatapannya mendalam, menatap Geo. Ia tetap bertahan berdiri di pintu.
Syakila melihat Geo, Geo nampak acuh saja dengan kehadiran Marlina. Ia bahkan menganggap Marlina seperti tidak ada. Ada apa dengan Geo? Mengapa dia tampak acuh dengan Marlina?
Jika aku bukan memandang Beni, kamu sudah mendekam dalam penjara. Jika kamu datang kesini untuk mencelakai Syakila lagi, maka jangan salahkan aku, jika aku bertindak kejam padamu! benak Geo.
”Geo sudah baikan sekarang! Dia baru pulang dari rumah sakit. Biarkan dia istirahat dulu! Kamu ikutlah Tante ke bawah.” jawab Rosalina.
Ia memegang tangan Marlina dan mengajaknya ke bawah. Marlina terpaksa menurut. Ia tidak berani juga melangkah masuk ke dalam kamar Geo.
Ia tahu Geo masih tidak menyukainya.
Syakila telah selesai membersihkan kamar. Ia duduk beristirahat di tempat duduk Rosalina tadi. ”Mengapa kamu tidak menjawab pertanyaan Marlina? Dia sedang khawatir padamu.”
”Aku tidak butuh perhatian dan rasa khawatir dari orang lain, selain mama, Beni, dan kamu.” jawab Geo dengan datar.
”Apa kamu masih marah dengan Marlina karena terakhir kalinya dia masuk ke kamar mu dengan diam-diam? Itu sudah lama Geo, maaf kan lah dia! Aku.. meski marah dengan saudaraku..tapi, tidak pernah lewat dari tiga hari marah ku pada mereka. Jadi, bersikap baiklah pada adik mu!”
”Kamu menasihati ku?” tatapannya tajam menatap Syakila.
”Em...”
”Sudahlah! Temani aku tidur, aku ingin istirahat!” Geo tidak tega melihat muka Syakila yang menunduk.
Syakila menurut, ia mendorong kursi roda Geo ke ranjang dan membantu membaringkan Geo di ranjang.
__ADS_1
”Kamu takut padaku?” tanya Geo.
Syakila melihat Geo, Jika kamu tidak sedang marah, siapa yang takut padamu! benaknya.
”Em...kenapa aku harus takut? Memangnya kamu siapa?” jawabnya.
”Yah, hanya kamu yang berani terhadap ku. Berani membantah ku, membuat ku marah, membuat ku cemburu, membuat ku ingin menghancurkan dunia.”
”Apa iya aku bisa membuat mu seperti itu?” Syakila tidak percaya.
Geo tersenyum, ia menarik tangan Syakila sehingga Syakila terjatuh menindih tubuhnya. Syakila terkejut, wajahnya dan wajah Geo hampir bertemu, mereka saling memandang.
Perlahan jemari Geo menyentuh bibir Syakila, pandangannya mengarah bibir ranum Syakila. Ia semakin mendekatkan wajahnya, sambil menelan pelan saliva nya.
Syakila tersadar, ia menarik dirinya dari atas tubuh Geo. Geo menahannya dengan memeluk erat tubuh Syakila.
Syakila berontak, ”Lepaskan aku!”
”Tidak akan! Temani aku tidur.”
”Lepaskan aku, Geo! Ku mohon!” tatapannya mengiba.
Geo semakin mengeratkan pelukannya. ”Temani aku tidur! Aku ingin istirahat di temani istriku.”
”Baiklah!” Syakila mengalah, ”Aku akan menemani kamu tidur, tapi, lepaskan aku dulu.”
Geo menurut, ia melepaskan Syakila. Syakila memperbaiki posisinya, ia berbaring di sebelah Geo, namun berjarak. ”Tidurlah!”
”Kesini, aku tidak bisa memelukmu jika kamu jauh di situ.” ucap Geo.
”Geo...”
”Pleasa! Aku ingin memeluk dirimu.” pandangannya mengiba.
Tanpa berkata, Syakila menggeser tubuhnya, mendekat pada Geo. Geo langsung memeluk tubuh Syakila.
Debaran jantung Syakila berdetak cepat, Geo dapat merasakannya. ”Apa kamu merasakan debaran jantung ku, Syakila?”
”Geo, tidurlah! Jangan berbicara lagi.”
”Syakila, istriku. Aku mencintai mu!” pelukannya semakin erat.
Syakila terkejut, ia terdiam. Tubuhnya menjadi kaku. Ia tidak percaya jika Geo mengutarakan perasaannya.
”Syakila, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Kamu orang pertama yang mampu menarik simpati ku.”
Syakila menelan saliva nya dengan kasar. ”Ge.. Geo...pelukan mu terlalu erat! Aku tidak bisa bernafas.”
Geo melonggarkan pelukannya.
”Geo...jangan bicara itu lagi padaku. Kamu tahu, aku tidak mencintai mu. Kita hanyalah sepasang suami isteri di atas kertas. Kita punya....” ucapannya terhenti ketika Geo menempelkan bibirnya pada bibir Syakila.
”Aku menarik kembali ucapan ku! Kontrak dan perjanjian itu tidak berlaku lagi, aku akan merobeknya! Mari kita sama-sama membangun rumah tangga kita lagi dari awal dengan rasa cinta. Ok.”
Perlahan, Syakila melepas tangan Geo dari badannya. Ia bangun dari baringnya, duduk di atas ranjang.
Ia melihat Geo dengan serius. ”Geo, itu tidak mungkin! Kamu tidak mencintai ku, aku juga tidak mencintai mu. Kita akan berpisah!”
”Aku mencintai mu! Sungguh, aku serius! Aku mencintai mu. Aku ingin pernikahan kita terus berlanjut tanpa bayang-bayang kontrak dan perjanjian.” ia melihat dalam mata Syakila yang memandangnya.
”Tapi aku tidak mencintai mu! Em... Geo, mari kita jalani hari-hari kita seperti biasa. Jangan ada pembahasan seperti ini lagi...”
”Aku tidak bisa! Tolong, beri aku kesempatan untuk memposisikan diriku di hatimu. Aku tahu.. kamu sebenarnya memiliki perasaan untukku.”
Syakila menggeleng, ”Tidak! Aku tidak mencintai mu! Aku tidak akan memberikan harapan padamu. Jangan membuat ku menghindar dari mu, Geo! Aku sudah nyaman kita seperti teman yang dekat. Jangan membuat ku menjauhi mu...aku masih terikat kontrak dan perjanjian dengan mu. Aku ingin kita baik-baik saja menjalani hari-hari kita.”
Syakila turun dari ranjang.
”Kamu mau kemana? Jangan pergi!”
”Kamu istirahatlah! Aku keluar sebentar, aku... hatiku untuk saat ini tidak nyaman bila aku di sini.” Syakila berjalan keluar dari kamar.
”Tapi...” ucapan Geo terhenti. Syakila sudah berlalu dari kamar. Ia bangun dan duduk bersandar di sandaran ranjang.
Ia memikirkan kembali perkataan Syakila. ”Bahkan untuk memberikan aku kesempatan, kamu tidak bisa! Syakila, aku iri pada Sardin!” gumamnya.
__ADS_1
Rupanya, aku harus bekerja lebih keras lagi untuk meluluhkan hati mu, Syakila. Tadi salahku, aku terlalu buru-buru! benaknya.