Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 177


__ADS_3

Di kediaman Denis.


”Baiklah, ini sudah hampir larut malam. Kami berdua pamit dulu.” ucap Hamid lagi, berpamitan.


”Iya, hati-hati di jalan.” sahut Samnia dan Denis.


Halima dan Hamid pun segera pulang.


Samnia mengunci pintu rumahnya. Ia kembali duduk di samping Denis, suaminya itu, yang sedang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil memejamkan mata dan memijat kedua pangkal hidungnya.


”Kenapa, Pa?” tanyanya.


Denis membuka matanya, melihat istrinya sambil menghela nafas kasar, ”Mah. Syakila pasti menyalahkan Papa dan Hamid, yang tidak membantu Halim saat itu! Papa tidak menyangka peristiwa silam akan membuat kita seperti ini.”


Samnia ikut menghela nafas, ”Semua sudah terjadi! Penyesalan pun tidak akan mengembalikan Halim ke dunia ini. Jika bukan dari keinginan Halim sendiri, Papa dan Hamid sudah akan menolong Halim saat itu bukan?”


Denis mengangguk.


”Jadi, Papa jangan menyalahi diri Papa sendiri. Oh iya, Pa. Masalah pernikahan Syakila dan Geo, bagaimana menurut Papa jika mereka bercerai?” tanya Samnia, meminta pendapat.


”Papa tidak tahu, Papa bingung! Syakila sepertinya tidak mencintai Geo. Dari nada bicaranya tadi, ia menyesal menikah dengan Geo. Tidak tahu dengan Geo, apakah dia sungguh-sungguh mencintai Syakila terlepas karena hutang itu atau tidak!!”


”Awalnya Geo memang tidak mencintai Syakila. Tetapi, karena mereka tinggal bersama, Geo telah mencintai Syakila.”


”Dari mana Mama tahu jika Geo mencintai Syakila?” tanya Denis.


”Dari Geo sendiri yang cerita Pa.” jawab Samnia.


”Apa kita masih harus percaya pada ucapannya? Dia pernah membohongi kita tentang alasan pernikahan mereka. Tapi, jika dia memang mencintai Syakila, maka jauhi perceraian!”


Samnia terdiam. Ia ragu untuk memberitahu Denis awal-awal pernikahan Syakila yang sengsara itu. ”Pa, sebaiknya kita istirahat sekarang. Malam semakin larut, besok Papa harus membuka toko. Urusan rumah tangga Syakila, kita percayakan saja pada Geo.”


”Iya. Ayok kita istirahat.” sahut Denis.


Mereka pun pergi ke kamar untuk beristirahat.


.. ..


Di perjalanan ke rumah Anton.


Syakila berjalan dengan cepat, air matanya mengalir pelan-pelan di kedua pipinya.


Di matanya terbayang lagi kenangan silam, di mana pertama kali ia dan keluarganya datang ke kota A, tinggal dengan damai di rumah baru mereka.


Kebahagiaan yang ia lalui bersama keluarganya hilang setelah peristiwa silam itu, peristiwa yang membuatnya menjadi anak yatim.


Ia teringat di mana Halima dan Hamid yang membungkam dan menahan dirinya dan Fatma untuk membantu ayahnya saat itu. Ia juga melihat Denis yang hanya berdiri menyaksikan ayahnya di pukul oleh Kevin dan anak buahnya Kevin, tanpa membantu.


”Syakila! Tunggu kakak!” teriak Sardin yang menyusul Syakila.


Syakila tidak mendengar, ia terus berjalan dengan cepat.


Sardin mempercepat langkahnya, berlari sedikit kuat mengejar Syakila. Ia berhasil mengejar Syakila. Ia membalikkan tubuh Syakila menghadap dirinya.


”Syakila! Kakak memanggil mu dari tadi, apa Kila gak dengar kakak?” tanyanya.


Syakila tidak menjawab. Ia terlihat sangat sedih, Syakila menunduk dengan air mata yang masih mengalir. Sardin tidak tahan melihat Syakila yang seperti itu.


Ia memberanikan diri menarik tubuh Syakila ke dalam pelukannya. ”Sudah! Jangan menangis seperti ini! Kakak tidak bisa melihat mu terpuruk seperti ini! Hati kakak sangat sakit!” ucapnya lembut.


Tangis Syakila semakin menjadi, ia membalas pelukan Sardin dengan erat. Menumpahkan kesedihannya ke dalam pelukan Sardin.


”Kakak tahu Ade lagi sedih, kecewa sama paman dan bibi mu. Tapi, Ade jangan menyiksa diri seperti ini! Apa dengan menangis seperti ini bisa mengembalikan ayah ke dunia?”


Syakila menggeleng.


”Apa dengan menangis seperti ini bisa mengembalikan semua yang sudah terjadi seperti semula?”


Syakila kembali menggeleng.

__ADS_1


Sardin melepas pelukannya, ia mencubit dagu Syakila dan mengangkat wajah Syakila agar melihatnya.


”Kalau begitu! Jangan menangis lagi, kakak di sini bersama Ade! Kita hadapi ini bersama-sama. Ok!” ucapnya sambil menghapus air mata Syakila.


Syakila ikut menghapus air matanya sendiri. Ia mengangguk. ”Terima kasih, kakak!” ucapnya.


”Iya, ayok kita pulang sekarang! Bibi Serlina dan om Anton sudah menunggu kita dari tadi.”


”Iya,”


Syakila dan Sardin kembali berjalan dengan saling menggenggam jemari tangan.


”Apa Ade benar-benar kecewa dengan bibi Halima? Kecewa dengan om Hamid dan om Denis?” tanya Sardin.


Syakila mengangguk, ”Iya, Syakila kecewa dengan mereka! Terutama Bibi Halima karena dia aku menjadi korbannya di sini. Dan om Hamid juga om Denis, aku kecewa karena mereka tidak membantu ayah saat itu.”


”Mengapa gak dari dulu Ade utarakan rasa kecewa Ade terhadap om Hamid dan om Denis? Kenapa harus sekarang?”


Syakila menghentikan langkahnya, Sardin ikut berhenti. Syakila melihat Sardin dengan tajam. ”Apa maksud kakak?”


”Iya, sebenarnya jika Ade memang kecewa dengan kedua om mu, kenapa tidak dari dulu kecewa dengan om Denis dan om Hamid? Mengapa harus sekarang? Bukan kah Ade lihat dengan mata kepala Ade saat itu bagaimana sikap om Hamid dan om Denis, kan?”


Syakila terdiam, ia menunduk. Memang benar apa yang di bilang Sardin. Mengapa baru sekarang dia bilang kecewa pada om Hamid dan om Denis? Kenapa tidak dari dulu? Sebenarnya, apakah dia benar-benar kecewa dengan om Denis dan om Hamid? Ataukah hanya karena emosinya sesaat?


”Om Hamid dan om Denis saat itu ingin sekali membantu ayah mu, tapi, om Denis dan om Hamid tidak berdaya karena keinginan ayah mu yang tidak ingin orang lain terlibat di dalamnya. Jadi, om Denis hanya bisa memberi tahu om Anton tentang kejadian itu. Makanya om Anton segera datang membantu ayah mu. Mengapa om Anton berani? Om Anton adalah kepala bagian pasar. Itu adalah lingkungannya, om Anton punya kekuatan.” ungkap Sardin.


Syakila mendengarkan ucapan Sardin.


”Bukan kah pada saat itu ayah mu juga membentak ibu mu dan menyuruhnya untuk pergi dan tidak boleh ikut campur?” tanyanya pada Syakila.


Syakila mengangguk. Sarmi, ibunya pernah bercerita itu. Saat itu Sarmi ingin menghentikan Kevin dan anak buahnya yang menghajar brutal Halim. Tapi, Halim membentaknya. Untuk pertama kali dalam pernikahan mereka, Halim membentak Sarmi bahkan mengusir Sarmi. Halim menganggap Sarmi orang luar. Sarmi dengan segala keterkejutannya dan perasaan sedih, terpaksa mengikuti langkah Denis yang membawanya ke rumah Anton.


”Itu karena ayah mu tidak ingin Kevin atau keturunannya mempunyai dendam dan untuk membalas dendam mereka, mereka menargetkan istri dan anak-anak Halim. Ibu mu pasti kecewa juga saat Halim menggertak dan mengusirnya saat itu. Tapi, itu semua untuk melindungi kalian dari bahaya.” ungkap Sardin lagi.


”Apa maksud kakak.. kekecewaan Syakila terhadap om Denis dan om Hamid tidak berdasar? Tidak pantas Syakila kecewa pada mereka?” tanya Syakila.


Syakila mengangguk, ”Syakila sudah mengerti! Terima kasih, kakak sudah menjelaskan hal ini pada Syakila.”


Sardin tersenyum, ia membelai lembut kepala Syakila. ”Kakak menyayangimu. Kakak tidak ingin Syakila punya salah paham kepada om Hamid dan om Denis. Karena mereka tidak bersalah sepenuhnya. Mereka tidak berdaya seperti Syakila yang tidak berdaya menikahi Geo karena perjanjian ayahmu pada keluarga Albert.”


”Tapi, Syakila membenci Bibi Halima. Karena dia Syakila jadi seperti ini!” ucap Syakila berapi-api.


”Apa itu artinya Syakila juga membenci ayah mu? Karena yang membuat perjanjian itu adalah ayah mu. Dan apa itu artinya Ade juga membenci kakak? Karena kakak sebagai tunangan Ade tidak mempertahankan Ade saat itu, saat mereka memaksa Ade menikahi Geo.”


”Apa maksud kakak?” tanya Syakila.


Sardin melihat kedua mata Syakila, ”Maksud kakak. Semua yang terjadi di masa lalu, itu semua sudah terjadi. Apapun yang akan Ade lakukan sekarang, tidak akan merubah dan mengembalikan semuanya. Sekarang kakak mau tanya, sekarang Ade membenci Halima, manfaat apa yang Ade dapatkan?”


Syakila menggeleng.


”Kakak sudah menemani Ade untuk mencari tahu pembunuhan ayah mu dulu. Sekarang Ade sudah tahu peristiwa yang sebenarnya terjadi di waktu itu. Apakah Ade masih ingin mencari keturunan Kevin dan membalas dendam?”


”Iya, Syakila ingin mencari keturunannya Kevin dan membalaskan kematian ayah!!” jawab Syakila.


”Bukan kah Ade sudah tahu jika yang membunuh ayah adalah Kevin? Dan Kevin juga meninggal di hari yang sama dengan hari meninggalnya ayah. Dan para anak buah Kevin separuh ada yang meninggal, yang terluka pun, masuk ke dalam penjara setelah diobati. Bukan kah mereka berdua sudah impas?”


Syakila terdiam, ia nampak berpikir.


”Sekarang, coba Ade pikir. Jika Ade sudah bertemu dengan keturunan Kevin, dan membunuh mereka. Bukan kah keturunan lainnya dari Kevin akan mencari mu dan keturunan mu untuk membalaskan dendam mereka, bukan?”


Syakila melihat Sardin, yang di katakan Sardin adalah benar! Jika dia berhasil membunuh keturunan Kevin. Keturunan yang lain akan mencari keturunannya untuk membalaskan dendam. Jika begitu, bukan kah keturunan Halim dan Kevin akan terus saling mencari dan saling membunuh untuk saling membalaskan dendam?


”Menurut kakak, Ade ikhlaskan apa yang sudah terjadi waktu itu. Ade hiduplah bahagia tanpa terbayangi oleh dendam masa lalu.”


”Tapi, aku masih penasaran dengan orang yang bernama Gege ini! Pasti dia yang menjadi atasan dari Kevin!!” ucap Syakila.


Sardin menggeleng, ”Jika dari cerita yang kakak dengar dari om Hamid dan om Denis tadi, Gege tidak ada hubungannya dengan kematian ayah mu. Kakak juga mendengar dari om Anton jika Kevin adalah satu-satunya pemimpin Eagle tanpa ada atasan lagi di atasnya. Meskipun nama Gege sempat panas dan heboh di saat itu, tapi, tidak ada bukti yang mengatakan jika Gege ikut terlibat dalam peristiwa naas itu.” ungkap Sardin.


”Apa kakak yakin begitu!”

__ADS_1


”Kakak sangat yakin! Om Anton bukan lah orang sembarang di kota ini. Om Anton juga mengenal beberapa anggota kepala gang di kota ini dan siapa-siapa saja yang menjadi atasan mereka. Dan om Anton tidak menemukan nama Gege, yang Ade cari-cari itu.” jelas Sardin.


Tanpa Syakila dan Sardin sadari, ada beberapa orang yang mencuri dengar pembicaraan mereka berdua.


”Syakila butuh waktu untuk memikirkan kata-kata kakak ini.”


”Hum, ayo lanjut jalan!” ajak Sardin.


Syakila mengangguk. Sardin dan Syakila kembali berjalan. Kali ini, mereka berjalan tanpa mengobrol lagi. Hingga akhirnya mereka sampai juga di kediaman Anton.


Kediaman Anton.


”Syakila, Sardin, mengapa lama sekali di rumahnya om Denis? Om dan Bibi sudah menunggu kalian dari tadi.” ucap Anton.


”Maaf, Om, Bibi. Syakila dan Sardin tidak sengaja sudah membuat Om dan Bibi menunggu.” jawab Sardin.


”Hum, ini sudah larut malam! Sardin, masuk istirahatlah! Syakila, kamu juga masuklah ke dalam sana, jaga dan temani suamimu! Om dan Bibi juga ingin masuk, ingin istirahat!” ucap Anton.


”Iya, Om.” jawab Syakila dan Sardin.


Sardin masuk ke dalam rumahnya Anton, sementara Syakila masuk ke dalam ruang praktek Samnia. Anton dan Serlina juga masuk ke dalam rumah.


.. ..


Di apartemen Antonio.


”Mengapa kamu datang larut malam begini di apartemen ku?” tanya Antonio dengan marah pada seorang pria yang datang bertamu di apartemennya di tengah malam.


”Bos, saya mempunyai kabar terbaru tentang Syakila.” jawab pria itu. Ia memang di tugaskan untuk memata-matai Syakila dan melaporkan kegiatan Syakila pada Antonio.


”Kabar apa?! Cepat katakan!!” ucap Antonio dan Vian, bersamaan.


Vian? Yah, Vian saat ini berada di apartemen Antonio, kemenakannya itu.


”Bos, Syakila ternyata adalah anak dari Halim! Dan dia sekarang sedang mencari tahu tentang seseorang yang bernama Gege.” ungkap pria itu.


”Gege? Kenapa Syakila mencari tahu orang ini?” tanya Antonio penasaran.


”Itu karena, menurut Syakila, Gege lah yang menjadi orang di balik kematian Halim, ayahnya Syakila.” jawab pria itu.


Antonio terdiam, Bukan kah ini bagus!! Syakila mencari Gege, pembunuh ayahnya. Apa reaksi Syakila jika dia tahu Gege itu adalah Geo, yang kini jadi suaminya?! benaknya.


Ia tersenyum licik, ”Bagus! Kamu keluarlah!” ucapnya, sambil melempar satu ikat uang senilai lima juta pada pria itu.


Vian memperhatikan reaksi Antonio yang berlebihan. Ia bisa menebak apa yang akan di lakukan oleh anak kemenakannya itu.


”Baik, Bos! Terima kasih, saya akan datang lagi jika ada kabar bagus lainnya.” ucap pria itu setelah mengambil uang lima jutanya.


”Hum,” sahut Antonio.


Pria itu keluar dari apartemen Antonio dengan tersenyum senang.


”Apakah kamu punya rencana dengan hal ini?” tanya Vian.


Antonio tersenyum licik, pandangannya menjadi tajam. ”Tentu saja! Aku tidak akan melewatkan kesempatan bagus ini! Aku ingin membunuh Geo dengan tangan Syakila, istrinya sendiri!” jawabnya.


”Lalu, bagaimana dengan Syakila? Apa yang akan kamu rencanakan padanya?” tanya Vian lagi, penasaran.


”Syakila? Aku mencintai Syakila, tapi, aku juga tidak bisa mengesampingkan rasa dendam ku pada keturunan Halim!”


”Lalu, apa yang akan kamu lakukan?”


”Menyiksanya! Tentu saja aku akan menyiksanya setelah aku menjadikan dia istriku!” jawab Antonio dengan tegas.


”Apa kamu serius!?”


”Tentu saja! Aku akan berhenti menyiksanya jika dia meminta ampun padaku dan meminta belas kasih padaku! Dengan senang hati aku akan melepaskan dia dan membawanya ke club, menjadikannya wanita penghibur di sana! Dia pasti akan menguntungkan untuk club kita!” jawab Antonio tanpa ragu.


Vian terdiam. Di lubuk hatinya, ia tidak terima jika Syakila akan di bawa ke club, menjadi wanita penghibur.

__ADS_1


__ADS_2