Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 92


__ADS_3

Beni telah sampai di kediaman Albert. Ia segera turun dari mobil, ia melihat Geo dan Rosalina sedang duduk bercengkrama sambil menikmati secangkir teh. Ia jalan pelan menghampiri mereka berdua dan menyapanya.


”Geo, Tante.”


Beni menarik kursi di depan Rosalina dan duduk berhadapan dengannya.


”Hum,” sahut Geo.


”Beni, kamu sudah datang? Dimana Syakila? Mengapa ia tidak pulang bersama mu?” sahut Rosalina.


”Maaf Tante, aku hanya mengantar Syakila saja ke rumah omnya, aku berniat menunggunya tapi, ia melarang ku dan menyuruhku untuk pulang.” jelas Beni.


”Di rumah omnya yang mana? Apa kamu tahu?”


”Iya Tante, Di rumahnya Anton yang pernah kita datangi.” ungkap Beni.


”Oh, apa kamu tahu apa tujuannya kesana?”


Beni menghela nafas, ia melihat Geo sebentar.


”Maaf Tante, Beni tidak tahu apa tujuannya? Syakila tidak bercerita apa-apa dengan ku, tapi, barangkali Geo tahu apa tujuan Syakila kesana.”


Geo berdekhem, ”Sayang sekali dia pergi tidak meminta izin padaku juga tidak memberitahu ku apa-apa tentang urusan pribadinya.” sahut Geo.


”Oh, ku kira kamu tahu.” ucap Beni.


”Sama sekali tidak,” sahut Geo cepat.


Rosalina menuangkan secangkir teh untuk Beni dan memberikannya padanya.


”Beni, minumlah teh mu. Setelah itu, pergilah ke perusahaan, ada sedikit masalah di sana. Mungkin ini bersangkutan dengan masalah proyek yang di tangani oleh saudara mu, Antonio. Bantulah dia, biar bagaimanapun, perusahaan yang dia pimpin adalah salah satu perusahaan dari ayah mu. Dan Tante harap, kamu tidak melibatkan Geo di dalamnya, kamu sangat tahu Geo dan Antonio tidak pernah untuk akur.”


”Mengerti Tante, jika masalah ini berkaitan dengan Antonio, maka aku akan meninjau langsung ke pusat.”


”Ke pusat? Kau ingin meninggalkan aku disini, Beni?” tanya Geo.


”Tidak akan lama Geo, paling hanya beberapa hari saja. Tapi, sebelumnya aku akan cari tahu letak persoalannya dari sini. Dan jika Tante setuju, aku akan batalkan kerja sama dengan perusahaan yang di pimpin kakak dengan perusahaan yang di pimpin Geo. Jadi, jika perusahaan kakak bangkrut tidak akan berakibat atau berimbas pada perusahaan milik Geo. Apa Tante dan Geo setuju dengan usulan ku?”


”Apa kamu serius, Beni? Antonio adalah saudaramu.” sahut Rosalina.


”Geo juga adalah saudara ku, Tante. Aku tahu Antonio tidak pernah serius mengurus perusahaan yang papa berikan padanya. Ia hanya menghamburkan hasilnya saja untuk kesenangannya tanpa memikirkan konsukuensinya.” ungkap Beni.


”Jika bukan kita, siapa lagi yang akan membantu dia, Beni? Biarkan saja perusahaan ku dan perusahaannya bekerja sama, hanya saja batasi pemasukan uang di rekeningnya. Dan rekening perusahaannya, biarkan kita yang mengaturnya.” ucap Geo.


”Mengapa kamu masih mengasihani dia setelah beberapa kali dia mencoba menyakiti mu? Bahkan, Dawiyah__”


”Jangan kamu menyebut nama wanita itu di depan ku, Beni!” sahut Rosalina ketus memangkas ucapan Beni.


”Maaf Tante,” sesal Beni.


Suasana menjadi canggung seketika. Beni meminum tehnya dalam diam, Rosalina berdiri dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam rumah. Geo, ia tetap berada di posisinya.


”Lain kali, jika ada Mama jangan menyebut namanya. Bagaimana kehidupan dia sekarang? Mengapa ia tidak datang mencari ku?” ucap Geo.


”Maaf, aku keceplosan. Mengapa kamu selalu menantikan dia untuk datang padamu? Bukankah sudah ada Syakila di sampingmu sekarang?”


Geo menarik nafas, ia memejamkan mata. ”Kamu tahu aku dan Syakila tidak akan pernah bersama. A__”


”Kalau begitu, lepaskan Syakila dan biarkan aku yang menjaganya. Untuk Dawiyah, aku akan menyeretnya dan membawanya ke hadapan mu.” sahut Beni memotong ucapan Geo.


Kamu menyia-nyiakan wanita yang baik seperti Syakila, Geo. Dia tidak sama seperti gadismu yang terdahulu, Syakila memiliki hati yang lembut dan tulus. Jika kamu mengabaikan wanita seperti itu, aku akan mengambilnya dari mu.


Geo membuka mata, ia menatap Beni yang sedang menatapnya.


”Kamu sangat berterus terang padaku akan perasaan mu padanya, Beni. Apa yang membuat mu tertarik dengan wanita matre dan penggoda itu?”


”Pertanyaan itu ku kembalikan padamu, apa yang membuat mu tertarik dan tidak berpaling dari seorang Dawiyah, yang nyata-nyatanya sudah mengkhianati mu?”


Geo terdiam.


”Jika kamu menginginkan Syakila, tunggu setelah ia selesai membayar lunas hutang ayahnya dan menyembuhkan ku. Setelah itu, kamu boleh mengambilnya dari ku.” ucap Geo.


Ada apa dengan ku? Aku mengucapkan kata itu dengan lancar, tapi mengapa di hati ku serasa lain? Serasa aku akan menyesali ucapan ku.


Ia mendorong kursi rodanya sendiri bergegas masuk ke dalam rumah setelah mengatakan itu pada Beni. Rosalina mendengar pembicaraan mereka berdua tanpa mereka sadari.


Jadi benar, Beni menaruh perasaan pada Syakila. Dan Geo, dia...dia masih mengharapkan wanita sialan itu. Geo tidak menyukai Syakila, Syakila juga tidak menyukai Geo. Jika Geo sembuh, Syakila akan...akan....Tidak, aku tidak akan biarkan Geo dan Syakila berpisah.


Rosalina menyembunyikan dirinya di balik gorden agar Geo tidak melihat dan menyadari keberadaannya.

__ADS_1


Setelah Beni menghabiskan tehnya, ia pergi ke perusahaan untuk meninjau masalah yang terjadi yang terkait dengan perusahaan Antonio.


.. ..


Kediaman Denis.


Syakila sedang bermain dengan si kembar Rey dan Roy. Samnia sedang menyusui anaknya, sedangkan Denis, ia sedang berada di balkon belakang rumah memandang laut.


”Bibi, coba Bibi setiap hari kesini dan bermain dengan Rey.” ucap Rey.


”Iya Bibi, baru Bibi ajarin kami lagi menggambar.” ucap Roy.


”Eh, baiklah, Bibi janji kalau Bibi sudah bekerja nanti, Bibi akan sempatkan waktu singgah kesini untuk bermain dan mengajari kalian berdua menggambar.” sahut Syakila.


”Yeah, Bibi memang yang terbaik.” ucap kedua bocah tersebut sambil memeluk Syakila.


Samnia tersenyum-senyum melihat interaksi Syakila dengan kedua anak kembarnya itu.


Tok tok tok


”Assalamu 'alaikum.”


Terdengar seseorang mengetuk pintu sambil memberi salam. Denis menoleh dan berjalan ke arah pintu.


”Syakila, coba lihat, siapa yang datang bertamu?” ucap Samnia.


Syakila mengangguk, ia berdiri dan berjalan ke keluar kamar. Langkahnya bertemu dengan Denis, mereka berdua sama-sama ke arah pintu. Denis yang membukakan pintunya.


”Dian.”


”Iya Om, Dian datang ingin bertemu Syakila.”


”Hum, masuklah, istrahat dulu sebelum kalian pergi. Kamu baru pulang dari sekolah?”


Dian masuk ke dalam rumah, mereka bertiga duduk di kursi sofa.


”Iya Om, Dian baru pulang dari sekolah. Ganti baju langsung kesini.”


”Kamu belum makan siang dong? Lebih baik kamu makan dulu, aku akan menunggu mu.” ucap Syakila.


”Tidak, Kila, aku sudah makan siang di kantin sekolah. Ayo kita pergi sekarang! Ada beberapa sekolah yang akan kita kunjungi. Jangan sampai keburu senja kita belum selesai mengunjungi sekolah-sekolah tersebut. Bukankah kamu ingin ke kuburan Om Halim kan?”


”Em, Syakila tidak lupa, Om. Syakila memang berniat untuk berkunjung kesana, tapi tidak berdua saja dengan Dian. Syakila akan pergi kesana dengan Om Anton, dan Om Denis, setelah Syakila pulang dari melihat sekolah.” jelas Syakila.


”Oh, begitu. Ingat kalau ada orang asing yang bertanya padamu tentang ayahmu. Kamu jawab saja tidak tahu, dan tidak kenal. Mengerti!?” ucap Denis.


”Iya Om, Kila mengerti. Baiklah Om, kami berangkat dulu.” pamit Syakila.


Ia dan Dian berdiri duduknya dan menyalim punggung tangan Denis.


”Iya, hati-hati di jalan. Dian, kamu jangan mengebut jalankan mobilnya.”


”Dian tidak memakai mobil Om, Dian memakai motor.”


”Entah motor atau mobil, jangan ngebut saat menjalankannya.”


”Iya Om,” sahut Dian.


”Kami berdua pergi dulu Om. Assalamu 'alaikum.” pamit Syakila lagi.


”Wa 'alaikum salam.” sahut Denis.


Syakila dan Dian keluar rumah, Denis mengantar mereka sampai ke motor Dian yang terparkir. Dian menyalakan motor, ia memakai helm. Ia juga memberikan helm pada Syakila, Syakila memakainya dan naik di atas motor.


Dian menjalankan motornya dengan kecepatan sedang. Ia membawa Syakila ke sekolah-sekolah SD yang sudah di rekomendasikan oleh Anton, ayahnya.


”Syakila, ini adalah SD negri 5. SD ini sudah sama dengan SD negeri 1, jika kamu mengajar disini sangat bagus. Hanya kalau SD negri 1 berdekatan dengan SMA ku. Jika kamu mengajar di sana, aku bisa menunggu dan mengantar mu jika pulang nanti.” ucap Dian menjelaskan tentang beberapa SD yabg di ketahuinya.


Mereka berdua sekarang berada di SD negeri 5.


”Hum, sekolah disini tampaknya bagus. Selain dua SD yang kamu sebutkan, apa masih ada SD yang menjadi rekomendasi mu, untukku?”


”Ada, ada SD Al Ikhsan, SD inpres, SD Kartika. Kamu mau aku bawa kemana dulu?”


”Em, coba di SD Al ikhsan saja.”


”Baiklah, kita ke motor sekarang, aku akan mengantar mu kesana.”


Syakila mengangguk. Mereka berdua berjalan keluar dari SD tersebut dan melanjutkan perjalanan ke sekolah lain. Dia mengantar Syakila ke sekolah SD Al Ikhsan. Setelah itu, Dian mengantar Syakila melihat SD inpres dan SD Kartika.

__ADS_1


”Aku sudah melihat beberapa SD yang kamu sebutkan, tinggal SD negri 1 yang belum ku lihat. Coba kita kesana.”


”Sesuai perkataan mu, ayo berangkat.” sahut Dian semangat.


Mereka lanjut ke SD negeri 1. Dian menghentikan motornya.


”Nah, ini dia SD negri 1nya. Dan yang sana itu, itu adalah sekolah ku.” ucap Dian sambil menunjuk sekolah SMA yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


”Oh, jadi itu sekolah mu. Ternyata tidak jauh juga dari SD ini. Dan sepertinya aku tertarik dengan tawaran mu.” sahut Syakila dengan tersenyum.


Dian terlihat gembira. ”Benarkah? Itu artinya kamu akan mendaftar untuk mengajar di SD ini?” tanyanya antusias.


”Hum, sepertinya begitu. Baiklah, kamu tahu di mana kepala sekolahnya berada? Aku ingin mengajukan diri secara pribadi padanya.”


”Kamu tidak usah risaukan itu. Papa sudah menyiapkan semuanya untuk mu, kamu tinggal tunggu telfon saja dari pihak sekolah untuk langsung bekerja.” jelas Dian.


”Hah, gak nyangka, anak seperti mu bisa bicara arogan seperti ini.”


”Hehehe, jangan bilang begitu Syakila,” sahut Dian sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. ”Ayo kita pulang sekarang.” ajaknya kemudian.


”Ok,” Syakila melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam yang baru di kasihkan oleh Denis. ”Ini juga sudah jam 4, ayok kita segera pulang. Mungkin papamu dan Om Denis sudah menunggu kita di rumah mu.”


”Hum,” sahut Dian singkat.


Dian kembali menjalankan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya.


Gak nyangka, sudah seharian aku berada di luar. Bagaimana keadaan si pria angkuh itu sekarang yah? Ah, pasti dia baik-baik saja.


Dian menghentikan motornya tepat di depan rumahnya. Mereka berdua turun dari motor. Mereka melihat Denis dan Anton duduk di teras rumah. Syakila dan Dian menyapanya.


”Assalamu 'alaikum, Om, Papa.” ucap Dian.


”Assalamu 'alaikum ,Om.” ucap Syakila.


Mereka berdua menyalim punggung telapak tangan Denis dan Anton bergantian. Mereka menarik kursi dan ikut duduk di sana.


”Bagaimana, apa kamu sudah menemukan sekolah yang cocok untuk mu mengajar?” tanya Anton.


”Iya Om, Syakila tertarik untuk mengajar di SD negri 1.” jawab Syakila.


”SD negri 1? Itu sekolah yang tidak jauh dari sekolah mu kan, Dian?” tanya Denis.


”Iya Om, jadi, nanti Syakila pulangnya sama aku.” sahut Dian sambil tersenyum senang.


”Hum? Apa kamu yang merayu Syakila untuk mengajar di SD itu, Dian?” tanya Denis


”Eh, tidak Om, itu kemauan Syakila sendiri kok. Iya kan, Syakila?” sahut Dian.


”Iya Om Denis, itu kemauan Syakila sendiri. Syakila juga baru tahu kalau sekolah Dian berada tidak jauh dari SD itu.” jelas Syakila.


”Hum, selanjutnya kamu serahkan saja semuanya sama Om. Tapi, Om minta nomor hapemu.” ucap Anton.


”Nanti Dian saja yang kasihkan nomornya ke Papa. Dian ada nomornya syakila.” sahut Dian.


”Hum, baiklah. Kamu tinggal tunggu dapat telfon dari pihak sekolah saja. Om akan mengatur mu untuk mu, kamu akan mengajar di kelas berapa?” ucap Anton.


”Em, Syakila ingin mengajar anak-anak kelas satu saja Om, kebanyakan dari siswa kelas satu ada yang belum lancar membaca, menghitung, mengenal huruf dan lain-lain. Jadi, Syakila ingin mengajar mereka untuk bisa mempelajari dasar huruf dan membaca juga menghitung.” jelas Syakila.


”Baiklah, sesuai keinginan mu.”


”Tapi Om, Syakila belum tahu apa saja yang menjadi syarat pendaftarannya.”


”Kamu tidak usah pikirkan itu, serahkan saja semuanya sama Om Anton, dia akan mengurus semuanya. Dan, kamu di daftarkan sebagai adik dari Om Anton, kamu masuk dalam KK keluarga Anton.” ucap Denis.


”Kenapa harus masuk di kk nya Om Anton? Kenapa tidak mengikuti KK yang Syakila punya, KK dari mamaku?”


”Ini untuk kebaikan mu juga untuk ketenangan mama mu di kota S, Syakila. Dan sebaiknya, sekarang saatnya kita berkunjung ke kuburan ayah mu.” ucap Anton.


”Apa boleh Syakila tahu sebenarnya ada apa di sekitar enam tahun silam?” tanya Syakila penasaran.


”Itu, nanti saja baru kita bicarakan setelah kita pulang dari kuburan ayah mu. Ayo kita jangan buang-buang waktu lagi.” sahut Denis.


”Hum, Denis berkata benar, kita jangan buang-buang waktu dengan berbicara. Sebaiknya kita pergi sekarang, ini sudah setelah jam lima sore.” sahut Anton.


”Hum, baiklah.” ucap Syakila.


”Kita kesana pakai apa, Pa?” tanya Dian.


”Pakai mobil saja. Denis, kamu yang bawa mobilnya.” ucap Anton.

__ADS_1


Ia memberikan kunci mobilnya pada Denis. Denis mengambilnya. Mereka berempat berjalan bersama ke arah mobil.


__ADS_2