Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 152


__ADS_3

Di dalam rumah Rivaldi.


”Loh, Non, belum pulang?” tanya sang bibi. Ia terkejut melihat Syakila yang kembali lagi di rumah tuannya. Padahal Syakila telah berpamitan padanya untuk pulang.


”Tidak jadi Bi. Bibi, tolong antar kan aku ke kamar Rivaldi. Malam ini aku nginap di sini Bi.” jawab Syakila, mukanya terlihat kusut.


”Oh, pantas mukanya Nona terlihat kusut begitu. Apakah tuan Rivaldi atau tuan Geo yang menahan Nona di sini? Mari ikut saya, Nona. Saya akan tunjukan kamarnya tuan untuk Nona.” ucap sang Bibi.


Ia berjalan menunjukkan arah, Syakila berjalan di belakangnya.


”Mereka berdua, Bi.” jawab Syakila dengan enggan.


Sang bibi berhenti di depan sebuah kamar, ”Ini Non kamarnya tuan Rivaldi. Non masuk saja, Bibi kembali ke bawah.” ucapnya.


”Iya, Bi. Terima kasih.” sahut Syakila.


”Sama-sama, Non. Saya pergi dulu.” ucap sang bibi berpamitan. Ia pergi dari sana.


Syakila membuka pintu kamar Rivaldi, ”Harumnya kamar ini, sama seperti harumnya kamar ku.” gumamnya.


”Tapi, sepertinya dalam ruangan ini ada obat penenang lainnya. Aromanya tidak tercium, tapi, bagi orang yang sedikit tahu ilmu pengobatan, bisa menyadari ini. Apakah dia kesusahan tidur, sehingga menggunakan obat penenang?” gumaman lagi


Ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Syakila semakin menghirup aroma di dalam ruangan itu sambil memejamkan mata. Aroma yang kalem, yang bisa membuat orang tenang.


Beberapa menit kemudian, ia membuka matanya, melihat seisi kamar Rivaldi sambil melangkah pelan.


Ia terkejut melihat di dinding sebelah kanan dari pintu kamar tersebut, terdapat semua foto-foto dirinya. Foto-foto di saat ia berlatih dan beristirahat sewaktu ia masih di tempat silat. Ada juga foto dirinya yang sedang duduk di taman, juga fotonya sewaktu ia menyendiri di sebuah kafe.


Hah, ternyata guru ku itu seorang stalker! Lihatlah, ini semua foto-foto ku, dia ambil di lokasi yang berbeda-beda.


Aku tahu, Rivaldi memang mencintai ku. Tapi, aku tidak menyangka ia akan mengoleksi foto-foto ku seperti ini.


Apakah aku harus marah dengan ini? Wajarkah jika aku marah padanya? Tapi, biarlah, nanti dia juga yang akan menurunkan foto-foto ini dan di gantikan dengan foto wanita lain, yang menjadi istrinya.


Semoga saja Geo tidak pernah masuk ke dalam kamar ini. Jika tidak, bisa-bisa dengan temperamen yang di miliki Geo, dia akan menghancurkan semua foto ini, bahkan Rivaldi pun menjadi pelampiasan amarahnya.


Syakila lanjut melangkah ke arah ranjang. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang tersebut.


”Sardin. Aku harus beritahu dia jika hapeku sudah rusak. Untuk sementara tidak bisa komunikasi dengannya. Geo brengsek!! Hape belum lama ku beli dia hancurkan begitu saja dan kartuku dia patahkan. Lelaki gila!!” gumamnya.


”Sabar-sabar! Sabar Syakila, semoga saja lelaki gila itu cepat sembuh. Kalian bercerai dan kamu bisa bersama dengan Sardin selamanya.” gumamnya lagi.


Ia berusaha untuk memejamkan mata, mengistirahatkan tubuhnya. Karena ada aroma tenang di dalam kamar Rivaldi, ia dapat tertidur dengan tenang.


.. ..


Di depan gerbang rumah Rivaldi.


”Tuan, sepertinya nona Syakila bermalam di rumah ini untuk menemani Geo. Lalu, bagaimana? Apakah kita tetap pada rencana?” tanya salah satu anak buah Vian.


”Biarkan dia tertidur lelap! Tidak mungkin dia tidur sekamar dengan Geo! Tengah malam kita masuk dan culik Geo! Jangan lupa bawa obat biusnya.” jawab Vian.


”Baik, Tuan! Tuan, bagaimana jika kita sekalian menculik nona Syakila? Bukankah Tuan sangat menginginkan nona?” sahut anak buah tersebut, mengusulkan.


Vian terdiam. Syakila bukan wanita polos yang tidak tahu ilmu beladiri. Jika tidak bisa mendapatkan wanita ini dengan cara baik-baik, maka tidak ada salahnya menggunakan cara licik untuk menahan dia di sisi ku. benaknya.


”Syakila adalah urusan ku! Kalian tidak boleh menyentuh dia!” ucap Vian.


”Baik, Tuan.”


Mereka tetap pada posisinya berjaga, memantau kediaman Rivaldi.


Di dalam klinik.


”Apa kamu sudah mengirim pesan pada mereka?” tanya Geo pada Ijan.


”Sudah, Tuan. Mereka dalam perjalanan ke sini.” jawab Ijan.


”Hum!” singkat Geo menyahuti.

__ADS_1


Apakah mereka meminta gangster nya untuk datang ke sini? Seberapa kuat jaringan yang di miliki Geo? Bukan kah dia tinggal di kota A? Tetapi, kenapa ia seperti penguasa juga di kota ini? Tunggu-tunggu! Jika Sardin orang ketiga yang diakui di kota ini, maka yang pertama dan yang kedua siapa yah? benak Rivaldi.


Ia menyalakan laptopnya, mencari di internet siapakah pihak pertama dan kedua posisi tertinggi di kota S.


Ia terkejut saat membaca tulisan di layar laptopnya tersebut, bahwa Geovani Albert adalah orang pertama yang tertinggi di kota tersebut. Posisi kedua di duduki oleh Stevan dan posisi ke tiga adalah Sardin.


Ternyata pria ini memang tidak bisa di singgung. Itu sebabnya ia memberiku satu buah rumah sakit jika aku bisa menyembuhkan penyakitnya itu. Jika begitu, bolehkah aku meminta kepemilikan rumah sakit yang terbesar kedua di kota ini darinya? Apakah dia akan menyetujuinya? Atau....ah, sebaiknya tidak usah serakah! Aku tidak tahu bagaimana nanti dia akan membereskan ku kalau aku membuatnya murka. benak Rivaldi.


”Em.. Geo, lalu apakah kita akan tetap berada di sini?” tanyanya.


”Lalu, kamu ingin bagaimana?” Geo menjawab dengan pertanyaan.


”Bagaimana kalau kita pergi ke ruang bawah tanah ku saja. Di sana terdapat cctv yang menghubungkan seluruh ruangan kediaman ku. Kita bisa memantau keberadaan mereka dari cctv. Jika mereka sudah pergi, kita kembali lagi ke sini.” jawab Rivaldi, mengusulkan.


”Aku lumpuh, tapi, tidak sepengecut dirimu! Tidak perlu menyembunyikan diri! Jika kamu takut, kamu pergi saja!” sahut Geo.


”Aku tidak takut! Juga bukan pengecut! Aku hanya ingin melindungi mu saja! Bukan kah saat ini kamu masih duduk di kursi roda? Bagaimana jika aku, Syakila, Ijan, dan anak buah ku sedang melawan mereka. Sedangkan kamu tidak ada yang menjaga mu di sisi mu, salah satu di antara mereka akan punya kesempatan untuk membunuh mu!!” ucap Rivaldi, khawatir. ”Lagi pula, target mereka adalah dirimu, pikirkan lah lagi ucapan ku, Geo!” ucapnya lagi.


”Terima kasih, tapi, aku tidak butuh perlindungan mu! Aku masih bisa melindungi diriku sendiri meski aku berada di kursi roda!” sahut Geo, ia tetap bersikekeh tetap ingin berada di tempatnya.


”Baiklah, terserah mu saja! Yang penting aku telah memperingatkan mu! Jika sesuatu terjadi padamu, aku bisa menikahi Syakila dan bertanggung jawab padanya, seumur hidupnya.” ucap Rivaldi.


”Tuan, bicaralah yang sopan!!” tutur Ijan, ia memegang kerah baju Rivaldi. Tangan kanannya terangkat meninju wajah Rivaldi.


”Ijan! Lepaskan dia!” cegah Geo.


Ijan menarik lagi kepalan tangannya yang hampir mengenai pipi kanan Rivaldi.


”Tapi, Tuan...” ucapannya terpotong saat Geo menatapnya tajam, ”Baik, Tuan. Maaf!” ucapnya lagi. Ia melepaskan tangannya dari kerah baju Rivaldi. Ia mundur perlahan ke samping Geo.


”Aku tahu kamu khawatir padaku, Rivaldi. Kamu jangan risaukan aku, aku masih mampu menjaga diriku. Aku tidak selemah itu. Berhentilah bersikap khawatir, ok!” ucap Geo.


”Ok,” sahut Rivaldi dengan terpaksa, mengalah.


Brumm!! Ciiit!


Ijan, Geo, dan Rivaldi memasang telinga, saat mendengar beberapa buah mobil berhenti di depan gerbang rumah. Mereka bertiga saling melihat.


Ia melihat Ijan yang berjalan ke arah jendela. Wajah Ijan pun sama seperti wajahnya, pucat pasi. Namun, Ijan tetap bersikap tenang. Ia masih melihat Ijan, begitu juga Geo, ia melihat Ijan.


Ijan menyingkap sedikit kain gorden, melihat keluar. Ia melihat salah satu di antara mobil yang berjejer di depan gerbang itu ada yang keluar dari mobil.


Ia terlihat lega sekaligus senang, yang datang adalah Gun dan yang lainnya. Ijan menoleh ke belakang, melihat Geo.


”Tuan, Gun dan yang lainnya sudah datang, mereka ada di depan gerbang.” ucapnya.


”Kamu pergilah, bawa mereka masuk. Kamu, ambil beberapa orang untuk berjaga di tempat kemoterapi. Bilang pada Gun membagi anggotanya dalam beberapa bagian. Tiga orang tugaskan khusus berjaga di depan pintu kamar Rivaldi, melindungi Syakila.” sahut Geo, memerintah.


”Baik, Tuan.” ujar Ijan. Ia keluar dari klinik Rivaldi menghampiri Gun di depan gerbang sana.


”Rivaldi, ayo kita pergi ke ruang kemoterapi.” ucap Geo.


”Apa? Geo, kamu tidak salah meminum obat kan?” tanya Rivaldi, ia terkejut dengan permintaan Geo yang tidak masuk akal itu.


”Apa kamu memberikan ku obat yang salah?” sahut Geo.


”Tidak!” elak Rivaldi.


”Jika tidak, segeralah bawa aku ke ruang kemoterapi.”


Rivaldi terpaksa menurut, ia mendorong kursi roda Geo menuju tempat kemoterapi nya, tanpa menyahuti ucapan Geo.


”Geo, ini sudah malam, tidak bisa kah nanti subuh saja baru kita mulai lagi kemoterapi? Itu pun jika kita masih bisa selamat malam ini! Di luar sana ada musuh mu menanti untuk membunuh mu, Geo!!” ucap Rivaldi.


”Tidak terima alasan dalam bentuk apapun itu! Buka pintunya!” sahut Geo.


Dasar!! Sialan!! Brengsek!! Kamu tidak peduli dengan keselamatan orang-orang? Hanya peduli saja pada kesehatan mu? Mereka berjaga, bersiap melawan jika musuh menyerang, dan kamu ingin bersantai di sini? Rasanya mau ku cekik saja lehermu sampai mati!! benak Rivaldi.


”Kamu mengutuk ku dalam hatimu?” tanya Geo, pandangannya tajam melihat Rivaldi.

__ADS_1


”Ah, tidak! Kamu begitu suuzon padaku, Geo. Aku...untuk apa memaki mu dan mengutuk mu, aku mana berani, meskipun di dalam hati.” jawab Rivaldi, berbohong.


”Baguslah, jika itu benar!!” sahut Geo.


Rivaldi membuka pintu. Ia mendorong masuk kursi roda Geo.


”Malam ini aku akan terus berlatih sampai aku bisa melangkah.” ucap Geo.


”Geo, apakah kamu tidak khawatir sama sekali? Bahaya sudah di depan matamu! Bukankah kamu bilang di depan sana ada musuh mu yang sedang mengintai? Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menyerang mu! Dan kamu malah ingin melakukan kemoterapi di saat seperti ini?” sahut Rivaldi, suaranya sedikit meninggi.


”Aku tidak perlu khawatir, di sana ada Ijan dan Gun sudah bisa menghadapi para tikus-tikus kecil di luar sana. Jika mereka bisa masuk dengan aman ke dalam rumah mu, berarti, mereka semua akan ku pecat dari pekerjaannya.” ucap Geo.


”Hah, bicara mu enteng sekali!!” sahut Rivaldi, ia mulai membantu Geo melakukan kemoterapi.


Di depan gerbang.


Vian nampak tidak senang. Anak buah Geo tiba-tiba saja datang memenuhi kediaman Rivaldi.


Apakah Geo sudah menyadari keberadaan kami di sini? benaknya.


”Tuan...” tangan Vian yang di angkat ke atas menghentikan ucapan anak buahnya.


”Kita tidak bisa menyerang sekarang! Mundur!” ucap Vian.


Anak buahnya mengangguk. Ia mendekati para anggotanya, memberitahu mereka untuk mundur perlahan.


Mereka semua mundur dari setiap posisinya, kembali ke mobil dan meninggalkan kediaman Rivaldi.


”Mereka sepertinya sudah pergi.” ucap Gun.


”Hum, hanya tikus kecil, berani menantang harimau?” sahut Ijan.


”Mengapa tidak menyerang mereka saja? Dalam satu kali serangan, mereka sudah mati semua.” ucap Gun dengan berapi-api.


”Ada nyonya Syakila di dalam, dia sedang istirahat. Tuan tidak ingin mengganggu tidurnya, niat Tuan hanya ingin mengusir mereka dari sini. Tapi, jika mereka nekat, tetap ingin menyerang, maka tidak ada cara lain, kita balik menyerang.” sahut Ijan, menjelaskan.


”Apakah ini baik untuk tuan? Adanya nyonya muda, tuan nampak mulai bermurah hati.”


”Kamu tenanglah! Nyonya bukan kelemahan tuan.” sahut Ijan.


”Apakah kamu tidak ingin mengawas ruang kemoterapi lagi?”


”Mereka juga sudah pergi. Apa yang harus kita khawatirkan sekarang? Lagi pula, di sana ada beberapa orang yang berjaga.” sahut Ijan, menjelaskan.


”Baiklah, kalau begitu kita duduk di sini beberapa jam ke depan. Siapa tahu saja mereka mendadak kembali dengan membawa lebih banyak anak buah lagi.” ucap Gun, mengusulkan.


”Hum,” sahut Ijan dengan singkat.


Mereka berdua masih duduk dan teras klinik Rivaldi sambil berbicara, bertukar pikiran. Waktu terus berlalu. Geo dan Rivaldi masih berada di ruang kemoterapi. Ijan dan Gun masih tetap di posisinya. Begitu juga dengan beberapa anak buah Gun yang lain, mereka masih berjaga di posisinya masing-masing.


”Sepertinya mereka memang benar-benar telah pergi, dan tidak akan berani kembali lagi.” ucap Gun.


”Kamu benar, mereka tidak akan berani kembali lagi.” sahut Ijan.


”Kalau begitu, aku akan pulang dulu. Semua anak buah ku, akan ku tarik dari sini.”


”Hum, kamu pulanglah! Ini juga sudah larut sekali, sudah jam tiga malam. Pulang dan istirahatlah!” sahut Ijan.


”Ok,” sahut Gun. Ia menyalakan alarm untuk menarik anak buahnya kembali. Setelah alarm itu berbunyi, semua anak buah Gun yang berada di beberapa titik rumah Rivaldi telah datang berkumpul di depan rumah Rivaldi.


”Semua kembali ke mobil, pulang dan istirahatlah!” ucap Gun pada anak buahnya.


”Baik,” sahut mereka. Mereka semua bergegas naik ke mobil.


”Ijan, aku pergi dulu. Kamu hati-hati di sini. Jika ada sesuatu, cepat aktifkan alarm bantuan. Kami akan segera ke sini.” ucap Gun.


”Baik, kalian juga berhati-hati dalam perjalanan pulang.” sahut Ijan.


Gun mengangguk. Ia berjalan ke arah mobilnya, ia masuk ke mobil, perlahan mobil tersebut bergerak menjauh dari kediaman Rivaldi.

__ADS_1


Ijan masuk ke dalam klinik, ia terus berjalan menuju tempat kemoterapi. Ia berhenti di depan pintu itu.


Ia berjaga di sana, ia dapat melihat betapa gigihnya tuanya berlatih dari dinding kaca yang setinggi bahunya.


__ADS_2