Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 156


__ADS_3

Di dapur kediaman Sarmi.


Semua anggota keluarga sedang menikmati sarapannya. Syakila hari ini tampak berbeda sekali sikapnya terhadap Geo. Bukan hanya Geo, tapi, Fatma, Hardin, juga Sarmi dan kakak ipar Syakila menyadari hal itu.


Itu semua terlihat dari sikap kaku Syakila yang memperlakukan Geo tidak seperti biasanya.


”Bagaimana dengan pengobatan mu di gurunya Syakila, Geo? Apakah ada perubahan?” tanya Sarmi.


”Iya, Mama, ada perubahan sedikit meski belum bisa berdiri dan berjalan. Hanya saja, kaki ku sudah tidak kaku seperti sebelumnya, Mama.” jawab Geo.


”Bersabarlah, waktu kalian di sini juga masih ada beberapa hari lagi. Berobat secara perlahan saja, Mama yakin, kamu bisa pulih seperti semula.” ucap Sarmi lagi, menyemangati. Ia melirik Syakila yang terus menunduk dan diam.


”Maaf, Mama. Setelah ini, aku dan Syakila akan kembali ke kota A. Ada urusan mendadak yang harus aku urus di sana.” sahut Geo.


”Setelah ini? Apa gak terlalu cepat?” tanya Sarmi, tidak percaya. Ia melihat Syakila, namun, anaknya itu masih saja menunduk dan tidak berbicara apapun.


”Iya, Ma. Maaf, jika selama aku dan Syakila berada di sini, sudah merepotkan Mama dan sekeluarga. Maaf, jika Geo dan Syakila sudah menyusahkan Mama.” ucap Geo, tulus.


”Tidak ada yang direpotkan! Hanya saja...kalian sudah mau kembali secepat ini...Mama sedikit tidak ikhlas.” sahut Sarmi, sambil melirik Syakila.


Syakila mendongak, melihat mamanya. ”Ma, jangan bicara begitu! Syakila pasti akan kesini lagi untuk menjenguk Mama dan menjenguk kakak serta adik-adik ku.” ucapnya.


”Iya, seringlah untuk menelfon kami di sini, Syakila.” sahut Sarmi, ”Apakah kalian tidak berpamitan pada ayah Johan dan bibi Biah, Nak, sebelum pergi?” tanyanya.


”Tolong, Mama saja yang wakilkan kami untuk berpamitan dengan paman dan bibi. Kami harus segera pergi. Pesawat ku sudah datang semenjak tadi.” ucap Geo.


”Baiklah.” sahut Sarmi, mengalah.


”Oh, iya, Syakila, mengapa handphone mu gak bisa di hubungi?” tanya Fatma.


”Itu karena hape kakak Syakila sudah rusak, kak.” ucap Hardin, ia yang menjawab pertanyaan Fatma, mewakili Syakila.


”Iya, hape nya Syakila rusak sejak kemarin. Dan untuk berbicara dengan Syakila, silahkan hubungi nomor ku saja.” sambung Geo, sambil mengeluarkan kartu pengenalnya, yang lengkap dengan nomor handphone dan nomor kantornya.


Fatma mengambil kartu pengenal Geo dan membacanya sebentar, Orang ini! Pantas saja kepala polisi di sini tunduk padanya. Orang ini memang hebat. benaknya.


”Oh, pantas saja di hubungi berkali-kali gak masuk-masuk!” ucapnya, kemudian. Ia menyimpan kartu itu.


”Baiklah, semua orang telah selesai makan. Maaf, Syakila tidak bisa membantu kalian membersihkan meja dan dapur! Kami akan berangkat sekarang!” ucap Geo.


Semua mata tiba-tiba melihat Syakila, ketidakrelaan terpancar dalam pandangan tersebut.


Syakila beranjak berdiri, ia tersenyum pada seluruh anggota keluarganya. ”Syakila pergi dulu, kalian baik-baiklah di sini, jaga Mama untukku.” ucapnya, matanya berkaca-kaca.


Tanpa menunggu sahutan keluarganya, Syakila mendorong kursi roda Geo keluar dari dapur.


”Aku ambil pakaian dulu, boleh?” tanya Syakila, ia menghentikan langkah di depan pintu kamarnya.


”Tidak perlu bawa pakaian! Pakaian mu dan pakaianku, biarkan saja disini. Jika kita kesini lagi, tidak perlu membawa pakaian dari sana. Kamu ambil saja tas mu dan laptop ku di dalam.”


Syakila terdiam, Lain kali? Lain kali hanya aku sendiri yang kembali ke sini. Pakaian mu, aku akan membuang semuanya. Yang tersimpan di dalam lemari pakaian ku hanyalah pakaiannya Sardin. benaknya.


”Baiklah!” ucapnya kemudian. Ia masuk ke dalam kamar. Ia terus melangkah ke dalam kamar mandi.


Ia mengeluarkan handphone, mengetik nomor Sardin, ia menghubunginya. Telfon tersambung.


”Ya, ada apa Hardin?” tanya Sardin di sebrang sana.


”Kakak, ini Kila, Kila berangkat hari ini. Kakak, jaga diri kakak untuk Kila, jaga kesehatan kakak.”


”Iya, jangan khawatir! Kakak akan menjaga diri dengan baik. Kakak tahu, diri ini milikmu, raga dan jiwa ini juga milik mu, aku akan menjaga milik mu dengan baik.”


Syakila tersenyum, ”Terima kasih, kakak. Kila juga akan menjaga milik kakak dengan baik.” sahutnya.


”Iya, kakak tidak meragukan mu! Oh, iya, Kila, mengapa nomormu gak aktif kakak hubungi?” tanya Sardin.


”Hapenya Syakila rusak kak, kita komunikasinya lewat nomor ini saja kak. Kak, aku matikan telfonnya, yah. Kila pergi dulu.” ucapnya, berpamitan.


”Iya, hati-hati di jalan, sayang. Beritahu aku jika sudah sampai. Kakak mencintai mu, kakak akan merindukan mu.”


”Iya, kakak. Rasa yang sama untuk kakak.” tut tut tut, Syakila memutuskan sambungan setelah berucap.


Ia menghela nafas dan mencuci mukanya, ia melihat pantulan dirinya di cermin, ada ketidakrelaan dirinya untuk pergi lagi ke kota A. Ia menyimpan hape kembali ke dalam sak celana.


Ia keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat Geo yang sudah berada di dalam kamar. Apakah Geo sudah mendengar percakapan ku barusan? benaknya.


”Geo..maaf, aku agak lama.” ucapnya, kemudian.

__ADS_1


”Cepatlah!” sahut Geo.


Oh, mungkin saja dia baru masuk ke kamar, jadi, dia tidak mendengar percakapan ku barusan. benak Syakila.


Syakila mengangguk, ia mengambil tas dan menyandang nya. Ia memberikan laptop Geo padanya. Mereka keluar dari kamar dan terus pergi ke luar rumah, menemui Gun di parkiran.


Mereka masuk ke dalam mobil. Gun mulai menyalakan mobil dan menjalankannya perlahan meninggalkan kediaman Sarmi.


Hening! Dalam perjalanan ke bandara terasa hening, dari Syakila maupun Geo, tidak saling bicara. Hanya sesekali Geo yang melirik Syakila yang sedang memusatkan perhatian pada jalanan.


”Kamu tidak rela meninggalkan kota ini?” tanya Geo, memulai pembahasan.


”Iya, di sini hidup ku, saudara ku, keluarga ku berada. Aku tidak rela meninggalkan mereka semua yang aku cintai.” jawab Syakila, masih memandang di luar kaca mobil.


”Apakah hidup mu itu ”Sardin”?” tanya Geo lagi.


”Iya, tidak perlu kamu pertanyakan lagi kan? Bukan kah kamu sudah tahu siapa yang aku cintai?” jawab Syakila, masih memandang jalanan.


Geo cemburu, ”Jika aku tidak sembuh dari penyakit ku ini, apakah kamu akan pergi meninggalkan aku?” tanyanya lagi.


Syakila menoleh, melihat Geo. ”Jika dalam enam bulan ini, kamu tidak kunjung sembuh, aku akan meninggalkan mu.” jawabnya, dengan jujur.


Geo tersenyum kecut, ”Jujur sekali! Jika aku tidak mengizinkan mu meninggalkan aku, apa yang akan kamu lakukan?” tanyanya.


”Aku tidak peduli, aku akan menggugat perceraian dengan mu! Aku tidak mau hidup dengan orang yang tidak aku cintai!” jawab Syakila.


Geo terdiam, Syakila juga terdiam, keheningan kembali tercipta. Gun melirik Syakila dari kaca spion. Syakila menyadari itu, ia balas melihat Gun.


Syakila tidak takut akan tatapan membunuh Gun padanya.


”Gun, perhatikan di depan mu!” tegur Geo, ia menyadari tatapan Gun pada Syakila.


Gun menurut, ia kembali memperhatikan setirnya. Nyonya ini memang tidak tahu di untung! Seharusnya dia bersyukur bisa hidup di samping tuan ku, banyak gadis yang berebut posisi ingin menjadi Nyonya Geo. Tapi, wanita ini malah tidak sedia menjadi nyonya dari tuan ku. Apa sebenarnya yang dia inginkan? Mengapa tidak bisa dia melihat cinta tulus dari tuan ku? benaknya.


Geo kembali melirik Syakila, Syakila! Kita lihat saja nanti! Apakah kamu bisa lari dari genggaman tangan ku? Aku sudah memutuskan kamu lah yang terus mendampingi ku sampai mati, maka tetap kamu. benaknya.


Gun menghentikan mobilnya di parkiran bandara. Beberapa anak buahnya yang lain bersama Ijan, datang membungkuk di saat Geo turun dari mobil.


”Tuan, pesawatnya sudah siap!” lapor Ijan.


”Baik, Tuan!” jawab Gun dan Ijan.


”Ayo kita berangkat!” titah Geo.


Gun mendorong kursi roda Geo dan membantu Geo naik ke pesawat. Setelah Geo dan Syakila tiba di kamar pribadi Geo, Gun dan Ijan segera turun dari pesawat.


Gun dan Ijan menyaksikan Jet pribadi Geo telah mengudara. Mereka berdua kembali ke dalam mobil, mereka kembali ke markas.


.. ...


Di rumah sakit.


”Tuan, Geo baru saja berangkat ke kota A dan nona Syakila ikut bersamanya.” lapor Seva.


”Jadi, mereka sudah kembali ke kota A? Tunggu setelah Vian sadar, kita menyusul ke sana!” sahut Antonio.


Setelah melewati operasi, Vian di pindahkan ke ruang rawat inap. Ia telah melewati masa kritis. Antonio selalu merawat paman satu-satunya yang tersisa dalam keluarganya itu dengan baik.


”Apa kita akan menghancurkan usaha Geo di kota ini sekarang, Tuan?” tanya Seva.


”Hancurkan perlahan!” jawab Antonio, matanya penuh dengan dendam dan amarah untuk Geo.


”Baik, Tuan! Sesuai rencana!” sahut Seva. Ia mulai menjalankan rencana membuat Geo bangkrut di kota S.


Ia mulai dengan menguasai anak perusahaan Geo yang paling terkecil. Karena perusahaan itu jarang di perhatikan, perusahaan itu jatuh ke tangan Seva dengan begitu mudah.


Perusahaan itu sekarang menjadi tempat pengoperasian Seva yang baru, dan itu belum di sadari oleh Gun dan Ijan. Semua karyawan yang ada di sana tunduk dengan perintah Seva.


Seva memanipulasi para karyawan itu dengan cap yang sah dari Geo, sebagai pemimpin baru dari perusahaan itu.


Setelah berhasil menguasai perusahaan itu, Seva mulai mengincar perusahaan sedang milik Geo. Ia mulai meretas dan memblokir pasukan dana yang masuk ke perusahaan itu.


.. ..


Di kota A.


Akhirnya aku kembali lagi ke kota ini, kota kenangan manis dan pahit sewaktu aku kecil. benak Syakila, ia menginjakkan kakinya di tanah kota A itu.

__ADS_1


Setelah menempuh beberapa jam dalam perjalanan, pesawat pribadi Geo mendarat dengan sempurna di bandara kota A.


Beberapa anak buah Geo berjejer rapi, membungkuk, menyambut kedatangan Geo. Hingga Geo menaikkan tangannya ke atas, mereka kembali berdiri tegak.


”Tuan, mobilnya telah siap!” ucap salah satu anak buah Geo.


”Hum, di mana Beni dan mama ku? Kenapa mereka tidak datang menjemput ku?” tanya Geo.


”Nyonya dan tuan Beni sedang berada di perusahaan, nyonya dan tuan, sedang membahas kerja sama dengan pihak dari negara B.” jawab sang anak buah.


”Hum, ayo jalan!” titah Geo.


”Baik, Tuan!”


Syakila mendorong kursi roda Geo menuju mobil, ia di bantu dengan anak buah Geo, menaikkan Geo ke dalam mobil.


Sang anak buah mulai menjalankan mobil. Perjalanan dari bandara ke kediaman Albert di temani dengan keheningan.


Beberapa jam berlalu, mobil terparkir sempurna di halaman rumah kediaman Albert. Syakila turun dari mobil. Begitu juga Geo, ia turun dari mobil dengan bantuan anak buahnya.


Syakila mendorong kursi roda Geo masuk ke dalam rumah. Rumah yang besar, namun, serasa sepi.


Aku merindukan rumah ku yang tidak besar, namun, selalu terasa ramai. benak Syakila.


Seperti biasa, mereka pergi ke kamar Geo melewati lift khusus.


”Geo, aku sudah lupa dengan kata sandi pintu mu ini.” ucap Syakila, setelah tiga kali ia gagal memasukkan kata sandi.


”Sini, biar aku saja yang buka.” sahut Geo, ia mulai menekan angka kata sandi itu, Syakila memperhatikan dengan cermat. ”Kamu sudah lihat kan? Jika kamu masih lupa lagi, kamu tidur di luar saja.” ucapnya.


”Itu lebih bagus, apakah masih ada kamar kosong di rumah ini? Aku ingin kamar ku sendiri.” sahut Syakila, sambil mendorong kursi roda Geo masuk kedalam kamar.


”Berhenti bermimpi untuk tidur selain di kamar ini!” ucap Geo dengan ketus. ”Baringkan aku, aku ingin istirahat!” titahnya.


Syakila menurut, ia membaringkan Geo di ranjang.


”Kau juga istirahatlah!” titah Geo lagi.


Syakila melihat sofa biasa yang ia pakai untuk tidur, sofa itu sudah tidak ada. Bahkan kursi di kamar Geo sudah tidak ada satupun, meskipun itu kursi untuk meja hias.


”Aku mau tidur bagaimana jika sofa ku sudah tidak ada!” ucap Syakila.


”Istirahatlah di ranjang!” jawab Geo.


Syakila melihat Geo, pria itu sudah memejamkan matanya. ”Satu ranjang dengan mu?” tanyanya.


”Iya, bukankah di kota S, kita juga tidur seranjang?”


”Tapi, ranjang ini terlihat sempit! Lebih besar dari ranjang di kamar ku! Bagaimana kita berdua bisa tidur di ranjang mu sekarang!” protes Syakila.


”Tidak perlu protes! Naiklah dan istirahat!” mata pria itu masih terpejam.


”Di mana ranjang mu yang besar itu? Dan di mana sofa yang ada di sana? Apakah kamu sengaja mengatur ini, sebelumnya?”


Geo membuka mata, melihat Syakila, ”Entahlah! Apa menurut mu aku tahu dengan hal ini? Mungkin saja ini mamaku yang mengaturnya. Sudah! Aku tidak ingin berdebat dengan mu! Naik dan tidurlah! Jangan coba untuk tidur di lantai! Mama ku mengetahui kata sandi dari kamar ku.” ucapnya, ”Apakah kamu ingin mama ku kecewa melihat anak menantunya yang di sayangi tidur di lantai?” tanyanya, kemudian.


Syakila menghela nafas. ”Aku ke toilet dulu!” sahutnya.


”Hum,” singkat Geo menyahuti, ia kembali memejamkan matanya.


Syakila pergi ke toilet, sesampainya di sana, ia mengeluarkan handphone dan mengetik sebuah pesan di kirimkan kepada Sardin.


”Kakak, Syakila sudah tiba di kota A. Sekarang Kila berada di kamar. Kila istirahat dulu ya kak.” Syakila.


Ia melihat layar handphone menyala, ia membuka pesan masuk dari Sardin.


”Alhamdulillah! Kakak senang dengarnya. Iya, Kila istirahat saja dulu. Kakak sekarang lagi ada kerjaan di kantor.” Sardin.


Syakila membalas pesan tersebut.


”Oh, kakak jangan terlalu capek bekerja! Kila gak mau dengar sakit kepala kakak kumat! Jangan lupa, meskipun kakak sibuk bekerja, kakak harus sempatkan waktu untuk makan!” Syakila.


”Iya, Kila, sayang! Kakak akan ingat dan turutin semua ucapan mu! Pergilah istirahat!” Sardin.


Syakila hanya membaca pesan tersebut, ia kembali menyimpan handphone ke dalam sak celananya. Handphone tersebut sengaja Syakila atur dalam mode diam dan getaran tidak aktif. Jadi, meskipun ada pesan, atau ada yang menelfon, Syakila tidak akan tahu, kecuali ia sedang memegang handphone tersebut.


Ia keluar dari kamar mandi, di lihatnya Geo telah tertidur. Ia melirik jam dinding, pukul 14 : 30. Ia keluar dari kamar.

__ADS_1


__ADS_2