
Geovani terus menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi hingga ia tidak melihat jika di samping kanannya ada sebuah motor yang sedang melaju dengan kecepatan sedang.
Motor dan mobil sama-sama berhenti di persimpangan empat. Motor menunggu sang mobil untuk jalan ke haluan kanannya. Sedangkan mobil menunggu sang motor berjalan duluan ke haluan kiri.
Kerena kesal di antara mereka belum ada yang mengambil langkah. Geovani menurunkan kaca mobil.
”Hei brengsek! Cepatlah jalan di jalanmu."
Sardin yang di katai kasar begitu, ia tidak terima. Ia membuka helm dari kepalanya dan menatap pria yang di mobil dengan tajam.
”Hei Bang! Apa mulutmu tidak bisa berbicara dengan sopan? Apa perlu ku ajari untuk berlaku sopan?”
Geovani yang amarahnya selalu meledak-ledak, ia tidak terima di nasehati orang lain. Ia membuka sabuk pengaman dari badannya. Dan membuka pintu mobil dengan marah.
Sardin menepikan motor, ia tahu dari lagat pria itu, ia ingin menantangnya berkelahi. Namun, ia memakai helm kembali saat telfonnya berdering, dan saat ia melihat ke layar tertera 'Adik kecil sayangku' is calling. Ia mengangkatnya.
”Halo sayang, tunggu bentar yah, aku hampir sampai di sana.” tut tut tut Sardin langsung menutup telpon. Dan menjalankan motor dengan kecepatan cepat saat langkah Geovani hampir mendekati dirinya.
Sardin menoleh sebentar dan memberikan senyum mengejeknya untuk Geovani sebelum ia pergi meninggalkan Geovani. Geovani semakin kesal.
”Brengsek! Akan ku ingat wajahmu, jangan sampai kita bertemu lagi. Jika tidak, jangan salahkan aku jika hidupmu akan tragis di tangan ku.” Geovani menendang juga memukul angin untuk melampiaskan kesalnya.
Ia melanjutkan jalannya di haluan kanan. Ia pergi menjemput sahabat karibnya yang berprofesi sebagai guru karate di The Cobra di rumahnya.
Setelah sampai di sana. Opan langsung turun dari mobil ketika ia melihat sosok temannya sudah berdiri di depan rumah untuk menunggu dirinya. Ia di sambut langsung oleh Zariesta putra, sahabatnya.
”Hai bro, lama tak jumpa." Zarie mengepalkan tangannya dan menyodorkan ke depan, Geovani menyambut dengan hal sama mengepalkan tangannya dan meninju kepalan tangan Zarie. ”Bagaimana kabar mu?”
”Kabarku, baik. Ayo masuk! Tidak usah berlama-lama disini." titah Opan. Opan masuk ke mobil mendahului Zarie. Ia duduk di sebelah setir.
Zarie masuk ke mobil dan duduk di bangku setir. Ia sudah tahu maksud dari sahabatnya itu. Ia ingin dirinya yang menyetir. Zarie menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobil.
”Ternyata temperamen buruk mu masih melekat pada diri mu, Gege. Apa tidak bisa kamu mengubahnya?”
”Jangan memanggil ku dengan nama sialan itu lagi, Zarie! Panggil saja Aku Geo atau Opan.” ucap Opan dengan kesal.
”Kenapa? Nama itu lebih bagus daripada Opan atau Geo." Ia melirik Opan.
”Tidak usah banyak tanya! Cukup ikuti saja ucapan ku, mengerti? Terlalu lembek kamu jalankan mobilnya, tambah kecepatan!”
”Baik, Bos tempramen buruk.” sahut Zarie.
Ia menambah kecepatannya, hingga mereka tiba di gedung Cobra. Zarie menghentikan mobil dan mereka turun dari mobil. Bersamaan dengan itu Sardin dan Syakila juga tiba di sana.
Syakila berlari cepat memasuki gedung tanpa menunggu Sardin. Hingga ia menabrak lengan Geovani dengan keras, hingga tubuh mereka berdua sama-sama terhuyung namun tidak terjatuh.
”Maaf yah. Aku tidak sengaja!” ucap Syakila.
”Brengsek! Kalau jalan tuh lihat-lihat juga dengan orang!” bukannya memaafkan Geovani justru mengomeli Syakila.
Syakila menjadi kesal. ”Hei, aku tidak sengaja menabrak mu, aku juga sudah minta maaf. Mengapa kamu masih marah? Kamu juga tidak terjatuh ataupun terluka, seharusnya untuk bilang ”Oh iya tidak apa-apa, aku maaf kan kamu” tidak begitu sulit kan?” Syakila memandang tajam pada Geovani.
Geovani sudah mengepalkan tangannya. Zarie menyadarinya. ”Syakila, maaf kan teman ku ini, temperamen nya memang buruk.” ucap Zarie sambil menepuk pundak Geovani, ”Kamu pergilah latihan.”
”Baik, guru!” sebelum Syakila pergi dari hadapan mereka berdua, Syakila memandang tajam pada Geovani.
”Apa Lo lihat-lihat!” bentak Geo pada Syakila. Syakila cuek dan tetap berlalu.
Geovani menoleh pada Zarie. ”Kamu juga, apaan sih? Lepasin tangan mu dari pundak ku!” bentaknya pada Zarie. Zarie melepas tangannya dari pundak Geo
”Udah ayok kita pergi ke lapangan.” ajak Zarie. Dengan kesal Geo jalan beriringan ke lapangan. Mereka sedang menonton para murid yang sedang latihan.
Mereka duduk di bangku yang telah di khususkan untuk para petinggi karate. Geo mengedarkan pandangannya memandang para murid yang masih memakai sabuk hijau itu berlatih di lapangan. Tatapannya terhenti saat melihat Syakila.
Gadis itu. Ternyata dia baru sabuk hijau. Cih, baru sabuk hijau saja sudah berlagak.
Ia kembali mengedarkan pandangannya ke para murid yang memakai sabuk kuning, biru, orang yang sedang duduk berbaris di bangku menyaksikan latihan dari sabuk hijau.
Dalam barisan mereka, ia melihat pria yang memakai jaket coklat juga duduk di antara mereka.
__ADS_1
Cowok sialan itu juga ada disini.
”Cowok yang mengenakan jaket coklat itu siapa dia?” Geo bertanya pada Zarie tanpa melepaskan pandangannya dari Sardin. Zarie mengedarkan pandangannya ke arah yang di pandang Geo.
”Oh, itu Sardin. Dia salah satu murid disini juga, dia sudah tingkatan sabuk coklat. Dan dengar-dengar gosip bilang, dia adalah kekasih dari cewek yang menyenggol mu tadi.” terang Zarie.
”Atur kan aku dan dia untuk bertanding!” titah Geo.
Zarie terbengong melihat Opan.
”Sekarang juga!” titahnya lagi. Ia berdiri dari tempatnya dan pergi mengambil baju karate di ruangan khususnya baju karate dengan sabuk Hitam. Sabuk yang merupakan tingkat tertinggi sebagai judan.
Zarie memanggil Sardin untuk menemuinya di ruangan pribadinya. Dengan menitipkan pesan pada anak muridnya. Sardin pergi menemui Zarie, sedangkan Geovani sudah siap dengan pakaiannya.
”Ada apa kak memanggil ku?”
”Apa kamu ada masalah dengan Geovani?” tanya Zarie.
”Geovani? Siapa Geovani? Aku tidak mengenalnya.” sahut Sardin dengan bingung.
”Dia menantang mu untuk bertanding. Dia termasuk salah satu murid tertinggi disini. Kamu berhati-hatilah dengannya.” Zarie memperingati. Membuat Sardin semakin bingung. ”Bersiaplah memakai pakaianmu, lapangan akan segera di kosongkan.” Sardin mengangguk tanpa melawan.
Ia pun bersiap.
”Harap lapangan di kosongkan dengan segera! Latihan untuk kali ini, selesai sampai disini!”
Terdengar pengumuman menggema di seluruh ruangan gedung. Para murid yang berlatih saling pandang memandang dengan bingung, terutama Syakila.
”Mari kita saksikan bersama-sama pertandingan antara Geovani dan Sardin!”
Kembali terdengar pengumuman. Syakila bertambah bingung. Geo telah berada di tengah lapangan. Sementara Sardin baru memasuki lapangan. Ia terkejut setelah tahu pria yang menantangnya adalah yang di temui nya di jalan. Begitu juga dengan Syakila, ia terkejut melihat siapa lawan tanding Sardin. Lebih terkejut lagi, hari ini Sardin tidak punya jadwal untuk latihan tetapi malah di panggil untuk bertanding.
Pertarungan di mulai. Sardin bersikap tenang sedangkan Geo, ia tenang namun emosi juga menguasainya. Ia menyerang Sardin, namun Sardin memangkasnya. Ia menyerang Geo saat dia lengah. Geo terjatuh.
Pertarungan semakin berlanjut. Meskipun Sardin baru sabuk coklat, ia mampu menahan dan menangkis serangan Geo. Membuat Geo semakin marah. Ia tidak ingin di kalahkan.
Namun, belum sempat Sardin berdiri, Geo kembali melayangkan serangannya. Membuat Zarie, Syakila, dan yang lain keheranan sekaligus ketakutan. Karena itu bukan lagi pertarungan biasa. Darah segar keluar dari kedua sudut bibir Sardin dan tampaknya, Sardin sudah kewalahan dalam menahan serangan Geo. Namun, kenapa pertarungan terus berlanjut? Kenapa tidak ada yang menghentikan pertarungan ini? Pikir Syakila.
Syakila maju kedepan di tengah lapangan. Ia menendang Geo hingga Geo terjatuh pada saat ia ingin kembali menyerang Sardin yang sudah tidak berdaya.
Membuat Sardin dan Geo sama-sama terkejut dengan hadirnya Syakila di tengah lapangan. Geo berdiri.
”Hei, kamu!”
”Apa? Mengapa kamu terus menyerangnya, sedangkan dia sudah tidak berdaya? Bukankah ini hanya pertarungan biasa? Tapi lihatlah apa yang sudah kamu lakukan padanya?”
Syakila mendekati Sardin dan memapah tubuhnya. ”Sayang, kamu tidak apa-apa?” Sardin menggeleng.
Geo berlari dan ingin membalas menendang Syakila dari belakang karena ia telah menendangnya. Zarie dan semua yang hadir di sana terkejut dengan melihat murka Geo di wajahnya.
Namun di saat Syakila berbalik melihat dia, langkah tendangan Geo terhenti tepat di perut datar Syakila. Ia menurunkan kakinya perlahan dari depan perut Syakila. Membuat Zarie menghempaskan nafas lega.
Syakila kembali memutar badan dan membawa Sardin ke ruang UKS yang ada di sana. Diam-diam Geo mengikuti mereka dari belakang.
Syakila mendudukkan Sardin di atas ranjang di sana. Ia mengambil perlengkapan obat. Geo mengintip mereka berdua. Syakila mengobati Sardin dengan cemberut.
”Sayang? Kenapa kamu cemberut begitu? Aku tidak apa-apa, sayang.” ucap Sardin.
”Kakak, kenapa tidak menghindar dia? Kakak tau kan kalau pertarungan tadi bukan pertarungan biasa lagi? Mengapa kakak tidak menyudahinya saja.” kesal Syakila sambil membersihkan luka kecil di bibir Sardin.
”Kenapa? Kamu takut kehilangan kakak?” Sardin menggoda Syakila.
”Tidak, Kila hanya tidak mau kehilangan kartu ATM Syakila.” jawab Syakila dengan ketus.
Geovani yang mendengar ucapan Syakila ia tersenyum kecut.
Rupanya cewek matre.
Ia pergi dari sana.
__ADS_1
”Benar, hanya takut kehilangan ATM saja?” Sardin semakin menggoda.
”Kakak, berhentilah bercanda! Aku khawatir sama kakak, kakak malah bercanda begini.” masih dengan kesal Syakila mengomeli Sardin. Karena kesal ia membersihkan luka di bibir sebelah Sardin dengan kasar.
”Aduh, pelan Kila! Perih dan sakit nih.” keluh Sardin.
”Makanya, diam aja!” titah Syakila. Setelah membersihkan lukanya, Syakila mengambil air hangat untuk mengompres wajah memar Sardin.
.. ..
Geo keluar dari gedung Cobra. Ia pulang ke villa. Akan tetapi, ia tidak kosen mengendarai mobilnya. Tatapan Syakila, wajah Syakila, senyum Syakila terbayang di matanya.
”Brengsek! Wanita matre itu terbayang di mataku."
”Sial! Tendangannya sangat kuat, masih terasa sakitnya di perut ku sampai sekarang.”
Ia mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Hingga ia tiba di villa. Ia masuk langsung pergi ke kamar yang kuncinya masih tergantung di pintu. Dan itu kamar yang tepat berada yang paling depan. Kamar di tengah di tempati Rosalina, dan Beni menempati kamar di depan kamar Rosalina.
Geo masuk ke kamar langsung menuju kamar mandinya. Tanpa melepas pakaian ia mengguyurkan tubuhnya di bawah air shower.
Kembali terbayang senyuman, wajah, dan tatapan tajam Syakila di matanya. Ia meninju dinding.
”Brengsek! Cewe matre itu terbayang lagi di wajah ku.”
Ia menghentikan mandinya. Dan keluar dari sana, ia langsung bergantian dan keluar dari kamar. Ia pergi ke dapur untuk melihat apakah ada makanan di atas meja. Sesampainya disana, ia terkejut rupanya mamanya dan Beni sudah berada di sana. Ia duduk di kursi berhadapan dengan Rosalina.
”Baru pulang, sayang? Seharusnya kamu senang kan bertemu dengan temanmu, tapi kenapa wajahmu kusut begitu?”
”Mama, Geo ingin makan. Tidak ingin mendengar perkataan apapun.” sahut Geo. Ia mengambil piring dan menyendok makanan untuknya dan memakannya dengan diam. Lagi-lagi terbayang tentang wanita yang sudah berani menendangnya. Ia menggeleng kepala. Rosalina menyadari.
”Ada apa sayang? Kamu kenapa?”
”Tidak apa-apa, Mah. Geo sudah kenyang. Geo ke kamar dulu.” Ia beranjak dari tempatnya dan berlalu dari sana tanpa mendengar sahutan mamanya.
Rosalina dan Beni saling memandang. Ada apa dengan anak itu? Pikir mereka berdua. Ia baru memakan tiga suap nasi dan katanya sudah kenyang, sementara sebelumnya ia bilang sangat lapar.
”Apa kamu tahu apa yang terjadi dengan sepupumu itu?” Rosalina bertanya pada Beni dengan bingung. Beni menggeleng yang artinya, ia tidak tahu.
Mereka melanjutkan makannya. Geo di buat frustasi dengan wajah Syakila.
”Brengsek! Brengsek! Brengsek! Jauh dari pikiran ku wanita matre!”
Tok tok tok!
Terdengar pintu terketuk. Geo membukakan pintu.
”Mama!”
Rosalina melenggang masuk ke dalam kamar. Geo membiarkan. Setelah mamanya masuk, ia menutup pintu. Dan menyusul mamanya yang sudah duduk di atas ranjang.
”Ada apa dengan mu, Nak? Apa yang sudah mengganggu pikiran mu?”
”Geo tidak apa-apa, Mah. Mama sudah berbelanja?” Geo mengalihkan pembicaraan.
"Belum! Bukankah kamu bilang, mama harus menunggu mu.”
”Kalau begitu, ayo kita pergi Mah. Geo akan mengantar Mama berbelanja di tempat yang terpopuler di kota ini.” ajak Geo.
”Dengan senang hati, sayang!” ucap Rosalina dengan tersenyum.
Mereka pun pergi berjalan-jalan di kota S, setelah puas berkeliling baru Geo membawa mamanya ke salah satu mall yang besar di kota itu. Geo mengajak mamanya langsung menuju tempat koleksi baju wanita setelah mereka tiba disana.
Namun perhatian Geo tertuju pada gadis yang sedang tersenyum memamerkan lesung pipit di pipi dan dagunya itu pada seorang pria yang ada di di sampingnya. Dengan memegang dua buah paper bag di tangannya.
Heh, cewek matre ini, tinggi juga seleranya. Jadi pria kok bego sih. Mau-maunya jadi mesin ATM buat cewek matre seperti itu. Apa sih yang harus di banggakan dari wanita matre, dan pendek itu.
Geo tersenyum mengejek melihat mereka. Dan itu terlihat oleh Rosalina. Rosalina melihat ke arah yang di lihat anaknya itu. Ia terpukau dengan wajah teduh dan anggun dari wajah wanita yang tertangkap oleh Indra penglihatannya.
Hati Geo terasa panas saat ia melihat Syakila mengacak rambut Sardin dengan riang. Dan Sardin mencubit dagu Syakila dengan lembut juga di bumbui dengan senyum. Geo mengepalkan tangannya tanpa ia sadari. Rosalina menyadari sikap Geo.
__ADS_1