Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 206


__ADS_3

Di ruangan rawat Syakila.


Syakila ingin istirahat, namun, mata dan pikirannya enggan bersahabat dengan tubuhnya yang ingin istirahat.


Matanya selalu mengajaknya untuk melihat wajah Geo yang datar, dingin padanya. Ini bukan hal pertama kali Syakila melihat wajah Geo yang seperti itu.


Pria itu sering menampakkan wajah datar, dingin, tajam padanya. Tetapi, tidak seperti semalam dan tadi pagi. Bukan hanya menampakkan wajah begitu, tetapi juga enggan untuk melihat dirinya.


Pikirannya selalu mengajaknya berpikir tentang apa yang menjadi perubahan pada sikap suaminya itu. Syakila melihat Sardin yang sedang berdiri di jendela.


Apakah karena ada Sardin di sini, yang membuat Geo menjauh? Apakah dia cemburu dan tidak enak hati juga enggan untuk mengusir Sardin dari sini? Karena Sardin adalah teman masa kecilku dan pria yang aku cintai. Jadi, daripada aku dan dia bertengkar karena Sardin, dia memilih untuk mengalah?


Apakah aku masih istri yang dia inginkan? Apa dia tidak merindukan aku, yang sudah tertidur selama dua belas hari ini? Sikapnya benar-benar berubah padaku.


Saat aku tersadar semalam, dia sangat bersemangat sekali dan bahagia. Dia ingin memelukku. Tapi, kenapa dia menghentikan gerakannya saat tubuhnya dan tubuhku sudah dekat? Apakah karena ada Sardin, makanya dia enggan memelukku? Apakah dia menjaga perasaan Sardin?


Sardin berbalik arah melihat Syakila. Wanita itu malah melamun, tidak tidur. Sardin melangkah menghampirinya.


”Apa yang kamu pikirkan? Kenapa gak istirahat?” Sardin duduk di sisi ranjang Syakila.


Syakila bangun dan duduk bersandar di sandaran ranjang. ”Tidak ada, hanya tidak bisa tidur saja. Aku bosan berbaring, duduk, makan, tidur saja di ranjang ini. Tanpa berbuat apapun.”


Sardin membelai kepala Syakila, ”Kamu bosan? Bersabarlah! Tujuh jam lagi kamu bisa keluar dari rumah sakit ini.” bujuk Sardin.


”Kak Sardin. Bukankah, selama aku tidak sadar, Geo selalu ada di sini?” tanya Syakila.


Benar dugaan ku, Syakila masih memikirkan perubahan sikap Geo padanya. benak Sardin.


”Iya.”


”Dia juga mengerjakan semua pekerjaan kantornya di ruangan ini, menemaniku, kan?” tanya Syakila lagi.


”Iya.”


”Tapi, kenapa di saat aku sadar, dia malah pergi menjauh?” tanya Syakila lagi, penasaran.


”Aku juga tidak tahu hal itu. Kamu bisa pertanyakan dengan dia saat bertemu nanti.” ucap Sardin.


”Aku ingin pergi menemui nya sekarang. Aku tidak tenang melihat sikapnya yang seakan-akan menjauhi ku.” Syakila beranjak dari ranjang.


Sardin menahan tangannya. ”Kamu ingin mencintai nya?” ia melihat kedua mata Syakila dengan serius.


Deg deg deg! Syakila tidak menyangka Sardin akan menanyakan hal itu padanya. Apakah itu sangat nampak jelas terlihat?


Ia melihat Sardin. ”Aku...kakak. Aku...apakah kakak akan marah padaku?” bukannya menjawab, Syakila malah berbalik bertanya.


”Kenapa kakak harus marah padamu? Kakak percaya sama kamu.”


Syakila kembali duduk di sisi ranjang. ”Kakak, sekarang aku masih status istri dari Geo. Aku tahu, kita sudah mengikat janji...”


”Janji kita kapan-kapan bisa kita penuhi. Contohnya janji kamu pada ayah mu, bukan kah itu makan beberapa tahun baru terpenuhi? Kakak tidak akan menyalahkan mu. Kakak percaya apapun yang kamu lakukan adalah yang terbaik.” ucap Sardin serius, memangkas ucapan Syakila.


”Kakak. Aku...aku...minta maaf, aku baru sadari perasaan ku pada suamiku...aku...aku menyukai nya.” ucap Syakila sambil menunduk.


Suami...kamu menyebutnya suami mu, sekarang? Aku cemburu Syakila. Bisakah kamu melihat rasa cemburuku ini? benak Sardin.


”Tapi...aku tidak ingin melihat kakak bersama wanita lain.” lanjutnya berucap, masih menunduk. Ia tidak berani melihat wajah Sardin.


Sardin menghela nafas, tebakannya benar. Cinta Syakila tidak akan berkurang untuknya. Sardin menarik tubuh Syakila ke dalam pelukannya.


”Kakak tahu, cintamu tidak akan berkurang pada kakak. Kakak tidak meragukan cintamu. Kakak juga tidak marah akan hadirnya rasa baru untuk Geo. Kalian tinggal bersama, status kalian adalah suami dan istri. Perasaan itu akan tumbuh begitu saja tanpa permisi dari hatimu.”


Sardin kembali menghela nafas sambil melepaskan pelukannya. Ia menatap dalam mata Syakila, kedua tangannya memegang kedua pundak Syakila.


”Lalu, kamu mau kakak bagaimana? Kamu tidak ingin kakak mencari kebahagiaan untuk diri kakak sendiri?”


Syakila melepas tangan Sardin dari pundaknya dengan kasar. Ia berdiri menghadap Sardin, ”Kakak ingin menikahi wanita lain untuk bahagia?” wajahnya sangat sedih. Matanya berkaca-kaca.


Tentu saja Syakila tidak rela, dia masih sangat mencintai Sardin. Melihatnya bahagia dengan wanita lain, ia tidak rela.


”Kamu ingin kakak seperti ini terus? Melihat mu dengan pria lain? Dan hanya sendiri? Hanya berteman sepi dengan bayang mu?”


Tubuh Syakila melemah, seketika dia ambruk, terduduk di lantai sambil menunduk lemas. Dia tahu dia sangat egois. Dia menangis.


Sebelum dia mencintai Geo. Mati-matian dia ingin bercerai dengan Geo dan menikah dengan Sardin.


Di saat dia mencintai Geo. Dia tidak ingin bercerai dari Geo. Namun, dia tidak ingin Sardin menikah dengan wanita lain. Dia sangat egois.


Sardin bingung. Ia membantu Syakila berdiri dan mendudukkan Syakila di ranjang. Sardin duduk di lantai, ia sedih melihat Syakila yang menangis.


Sardin memegang kedua pipi Syakila, kedua ibu jarinya menghapus air mata Syakila yang berderai di pipi mulus wanita itu. Mata Sardin berkaca-kaca. ”Kamu tidak ingin bercerai dengan Geo, kan?”


Syakila tidak menjawab. Ia masih saja menangis.


”Kamu ingin menikah dengan kakak?” tanya Sardin lagi.


Syakila masih tidak menjawab, tangisnya semakin pecah.


”Kamu ingin bagaimana dengan situasi ini? Hum?” tanya Sardin lagi.


Sardin memang tahu Syakila dan Geo telah bercerai. Dan Geo sudah menyerahkan Syakila padanya. Tapi, ia ingin memastikan perasaan Syakila yang sebenarnya.


Dan dia juga ingin mendengar pendapat Syakila tentangnya, jika Syakila memilih tidak ingin bercerai dengan Geo. Ia juga ingin Syakila menyiapkan hatinya agar menerima keputusan Geo, saat Geo mengatakan pada Syakila, jika mereka berdua sudah bercerai.


”Aku ingin mati saja kak. Aku sudah membuat keputusan yang salah. Seharusnya aku membiarkan diriku terkurung dalam dasar hatiku sendiri yang dingin dan gelap daripada menghadapi kenyataan yang pahit ini. Hu...hu..hu...”

__ADS_1


Sardin berdiri dan memeluk erat tubuh Syakila. ”Jangan berkata seperti itu! Jangan berpikiran untuk meninggalkan aku, meninggalkan dunia. Syakila...”


Ia mencium bibir Syakila, *******, dan menggigitnya lembut lalu ia lepaskan.


”Jangan kamu bicara seperti itu di hadapan ku lagi. Ok?”


Syakila tidak menjawab.


”Kakak akan mengalah, kamu tetaplah menjadi istri dari Geo.” ucap Sardin lagi.


”Lalu kakak akan menikahi wanita yang sudah di jodohkan dengan kakak, oleh kedua orang tuanya kakak?” kembali air mata Syakila mengalir deras membasahi pipinya.


Sardin mengangguk pelan.


”Kakak, tinggalkan aku sendirian. Aku ingin sendiri.” ucap Syakila. Ia masih menangis.


”Tidak! Kakak akan di sini.” tolak Geo.


”Tinggalkan aku kak! Pergilah! Pergi!” suara Syakila meninggi.


Sardin berdiam diri melihat Syakila. Baru pertama kali wanita itu berbicara nada tinggi dan membentak nya. Dan ini pertama kalinya Syakila mengusir dirinya di saat Syakila marah.


Beni menyeka air matanya. Dia ikut sedih mendengar pembicaraan antara Syakila dan Sardin. Dia gak sengaja mendengar percakapan antara dua insan itu, dia di suruh oleh Geo untuk mengambil handphone Geo dari Syakila.


Rupanya, Syakila juga mencintai Geo. Bagaimana kalau Geo tahu kalau Syakila mencintainya, sementara dia sudah menceraikan Syakila? benak Beni.


Beni tersadar saat mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekati pintu ruangan. Ia bergegas pergi dari sana sebelum Sardin menyadari jika dia telah menguping.


Sardin membuka pintu. Dia menoleh, melihat Syakila. Gadis itu terduduk, menangis di lantai. Suaranya begitu pilu. Sardin memilih keluar. Dia bersandar di daun pintu yang tertutup itu. Matanya berkaca-kaca.


Di dalam ruangan.


Tidak! Aku tidak rela melihat Sardin menikah dengan wanita lain. Hu...hu...hu...


Aku juga tidak mau bercerai dari Geo. Hu...hu...hu...


”Aa..aaa...aa...ha...ha...ha...hu...hu...”


Di luar ruangan.


Sardin sangat sedih mendengar suara tangisan Syakila. Matanya berkaca-kaca. Ia memijit pangkal hidungnya.


”Sardin.” tegur Beni. Beni memberanikan diri keluar dari tempat sembunyi nya dan mendatangi Sardin. Dia tidak tega melihat Sardin seperti itu.


Sardin melepas tangannya dari memijit. Ia melihat Beni. ”Beni? Ada apa kemari? Maaf, kamu melihat aku dalam kondisi buruk.”


”Tidak usah pura-pura tegar di hadapan ku. Kita sudah seperti saudara. Apa yang membuat mu bersedih begini?” tanya Beni.


”Ah! Em...aku...aku hanya bingung dan sedih mau ninggalin Syakila di sini atau harus ke kota S. Ibuku menyuruhku segera kembali, aku sudah lama berada di sini.” alibi Sardin, menutupi kebohongannya.


”Ah! Begitu...yah...mungkin sebaiknya kamu kembali dulu ke kota S. Setelah itu, nanti kamu kesini lagi. Kamu tidak usah khawatir kan Syakila, dia akan baik-baik saja di sini. Kalaupun Syakila meminta pulang ke kota S. Kami akan membawanya ke sana.” usul Beni.


”Terima kasih, aku akan mempertimbangkan usulan mu.” sahut Sardin, sambil tersenyum.


”Sama-sama. Em...apa Syakila sedang istirahat?” tanya Beni.


”Tidak. Kamu ingin menemuinya?”


”Aku kesini hanya ingin mengambil handphone Geo. Ada file yang di kirim dari kolega kami di email Geo. Dan itu...”


”Ah...aku mengerti. Em...aku akan masuk mengambilkan untukmu.” ucap Sardin.


”Baiklah. Aku tunggu di sini saja.” sahut Beni. Ia tahu, Sardin tidak ingin aku melihat Syakila yang sedang terpuruk di dalam sana.


”Ok.” Sardin berbalik, membuka pintu. Ia terkejut, dia tidak melihat Syakila di ruangan itu. ”Syakila?” panggilnya.


Beni ikut masuk ke dalam ruangan, melihat apa yang terjadi. Ia juga ikut terkejut Syakila tidak terlihat di ruangan itu. Sementara jendela ruangan tertutup rapat.


Beni melihat Sardin melangkah ke kamar mandi. Ia sendiri melangkah ke toilet. Namun, Syakila tidak ada di kedua ruangan tersebut.


Sardin bergegas ke tempat Syakila terduduk menangis terakhir kali. ”Syakila! Astaghfirullah! Ya Allah, Syakila. Apa yang sudah kamu lakukan?!” hatinya pedih teriris melihat Syakila yang mencoba membunuh diri.


Beni ikut terkejut. Syakila sudah tidak sadarkan diri, darah keluar banyak dari pergelangan kedua tangannya. ”Sardin, kamu baringkan Syakila di ranjang! Aku akan memanggil dokter!” ia langsung bergegas keruangan dokter.


Sardin menggendong Syakila ke atas ranjang. ”Ya ampun...Kila..! Mengapa pikiran mu dangkal begini, sayang?! Kalau begini aku juga tidak berdaya Kila...!”


Tidak lama kemudian, Beni kembali ke ruangan Syakila bersama dokter.


Dokter mulai mengobati Syakila. Pertama-tama dia mencoba menghentikan darah yang keluar dari kedua nadi tangan Syakila. Luka goresan di kedua tangan Syakila cukup besar, namun, untungnya tidak dalam.


Setelah darahnya berhasil di hentikan. Dokter mengobati lukanya dan memberikan perban. Dokter kembali memberikan darah tambahan untuk Syakila. Dan juga memberikan infus pada Syakila.


”Aku tahu...kamu orangnya nekat! Tapi...aku tidak bayangkan kamu juga nekat mengakhiri hidup mu sendiri.” lirih Sardin berbicara.


Drrrtrrt! Bunyi nada dering di handphone Geo terdengar. Beni melangkah maju mengangkat telfon tersebut.


”Halo...Geo..maaf, aku masih berada di rumah sakit. Ada sedikit hal yang terjadi pada Syakila.” ucap Beni menjawab pertanyaan Geo.


Geo menghubungi nomornya lewat nomor Beni. Geo menahan memegang handphone Beni. Ia sudah menunggu kedatangan Beni, namun, pria itu belum juga datang.


”Apa yang terjadi pada Syakila?” Geo terdengar khawatir dan panik.


”Syakila....dia...dia mencoba bunuh diri dengan mengg.... tut tut tut!” Beni melihat layar. Geo telah memutuskan sambungan.


.. ..

__ADS_1


Di kantor Geo.


”Apa dia sudah gila? Ada apa dengannya?” Geo mengambil jas nya dan mengambil kunci mobil dan bergegas pergi ke rumah sakit.


Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. ”Apa sih yang ada di pikirannya? Mengapa mencoba membunuh diri?”


Ia mengemudikan mobil dengan terus berbicara pada dirinya sendiri. ”Kamu harus baik-baik saja, Syakila.” ucapnya lagi khawatir.


Ia membelokkan mobil masuk ke halaman parkir rumah sakit. Ia menghentikan mobil dan lekas turun dari mobil.


Ia berlari menuju ruangan rawat Syakila.


Di ruangan Syakila.


”Apa yang yang terjadi padanya? Apa kamu mengatakan sesuatu pada Syakila?” tanya Geo pada Sardin.


Kini ia telah duduk di sisi ranjang Syakila. Ia sedih melihat perban yang membungkus kedua tangannya.


”Tidak ada. Dia hanya menceritakan isi hatinya padaku.”


”Isi hati?”


”Iya. Dia bilang tidak ingin bercerai darimu. Dan aku meminta izin padanya untuk mencari bahagia ku sendiri. Tetapi, dia tidak izinkan. Dia tidak terima aku menikah dengan orang lain. Itulah yang membuat dia menggores tangannya sendiri.” ungkap Sardin.


”Kamu gila! Kau tahu Syakila sangat mencintai kamu, mengapa kamu mengatakan itu padanya?”


”Lalu? Apa kita harus menjalani kehidupan yang seperti ini terus? Hum? Aku tidak bisa. Dia tidak ingin cerai darimu, aku mengalah. Dia tidak terima. Menurut mu apa yang harus kita lakukan? Kita bertiga menikah dan hidup bersama di satu atap?”


”Itu tidak mungkin!” jawab Geo.


”Dia tidak akan apa-apa jika aku yang menikah dengan wanita lain. Kamu teruslah bersamanya. Kamu hidupnya, cintanya, jiwanya dan nafasnya. Jangan membuat dia sedih dan seperti ini lagi.” ucap Geo.


Geo melihat Beni. ”Beni, pergilah ke rumah. Ambil surat cerai yang ada di kamar ku.” titahnya pada Beni.


”Iya.” Beni keluar dari ruangan.


”Semua harus jelas hari ini! Semua keputusan yang ku ambil, tidak akan ku tarik lagi.” ucap Geo.


”Ugh! Um...” Syakila sadar.


”Syakila, kamu sudah sadar?” tanya Sardin.


Geo sengaja mengabaikan Syakila. Lagi pula, Syakila belum menyadari kalau Geo ada di ruangan itu. Sardin yang bangkit dan mendekati Syakila, menutupi Geo.


”Um..kakak yang memanggil dokter? Mengapa kak? Biarkan saja aku mati!” ketus Syakila berkata.


Geo mengepalkan erat tangannya.


”Sudah! Jangan bicara begitu! Gak baik!” nasehat Sardin.


”Apa kakak akan menikahi wanita lain?” tanya Syakila.


Sardin terdiam.


”Kenapa diam kak? Jawab Kila, kak.” desak Syakila.


”Apa kamu akan bercerai dengan Geo?”


Kini giliran Syakila yang terdiam.


”Jawab kakak? Jika kamu bisa jawab, kakak juga akan menjawab pertanyaan mu.” desak Sardin.


”Kakak...”


”Jika kamu bisa menerima perceraian dengan Geo, kakak akan nikahi kamu.” pangkas Sardin.


”Tidak perlu bertanya padanya seperti itu.” Geo mulai bersuara.


Deg deg deg! Detak jantung Syakila berdetak dengan cepat mendengar suara Geo.


Geo berdiri dan melihat Syakila tanpa ekspresi. ”Aku sudah mengabulkan keinginan mu. Kita sudah bercerai. Kamu bisa dengan leluasa menikahi pria yang kamu cintai ini.” ungkapnya.


Sakit...hati Syakila sakit mendengar ucapan Geo. Matanya berkaca-kaca melihat wajah pria tanpa eksepsi yang memandangnya itu.


”Aku tidak setuju!” ucap Syakila.


”Kamu setuju ataupun tidak! Itu keputusan ku...dan kamu harus terima. Ingat...kamu yang selalu mendesak ku untuk menceraikan mu.” tegas Geo.


Geo melangkah keluar setelah berucap. Ia menunggu Beni di luar sana. Ia tahu hati Syakila sangat sedih sekarang, seperti yang ia rasakan.


Namun, semua harus jelas. Harus ada yang mengalah. Jika Sardin yang mengalah, Syakila akan bunuh diri. Jika dia yang memiliki mengalah, Syakila akan baik-baik saja.


”Tidak! Geo, tunggu!” Syakila melepas selang darah dan infus yang menempel di tangannya.


Sardin cepat mencegahnya, menahan tangan Syakila. Syakila berontak. ”Lepaskan aku kak!”


”Apa yang kamu lakukan? Hum? Jika kamu tidak bisa lepaskan dia, maka lepaskan aku!” tegas Sardin.


Syakila berhenti berontak. Ia menatap Sardin yang menatapnya serius. ”Aku tidak bisa!” jawabnya.


Sardin terdiam. Jelas terlihat di mata Syakila jika Syakila tidak rela melepaskan dirinya


Geo yang berada di luar ruangan tersenyum kecut.


Sudah ku duga, jika aku yang mengalah. Dia akan baik-baik saja. Asal itu jangan Sardin. Cinta nya padaku, mungkin hanya perasaan sesaat saja. benak Geo.

__ADS_1


__ADS_2