
Keesokan paginya, saat Halim baru saja beberapa menit selesai membuka toko, Mulfa datang berkunjung ke tokonya.
Selain ingin membeli barang keperluannya, ia memberikan kertas yang di bilang oleh Halima kepada Halim. Mulfa melihat Halim sedang membersihkan barang, dengan membelakanginya. Mulfa menyapanya.
”Kak Halim.”
Halim yang lagi membersihkan debu di rak-rak barang, terhenti saat mendengar namanya di sebut. Halim menoleh.
”Mulfa.”
Halim, menyimpan serbet yang di gunakan untuk membersihkan barang tadi di atas meja laci, lalu ia menghampiri Mulfa.
”Bagaimana Mulfa?” tanya Halim.
”Kak, aku kesini ingin membeli parfum, apa ada parfum soft kak, yang ukuran besarnya?”
"Ada, bentar yah aku ambilkan.” sahut Halim. Ia pergi ke deretan parfum dan mengambil parfum yang di perlukan Mulfa. Lalu ia kembali dengan membawa parfum itu yang sudah ia masukan kedalam kantong plastik.
”Ini parfumnya.” Halim memberikan kantong plastik itu pada Mulfa.
Mulfa mengambilnya, dan mengeluarkan kembali parfum itu untuk di lihat. Ia memasukan kembali parfum itu ke dalam kantong plastik. ”Berapa harganya kak?”
”Tiga puluh lima ribu saja.” jawab Halim.
Mulfa mengambil uang dari dompet dan memberikan kepada Halim. Halim pergi ke laci uangnya dan mengambil kembalian untuk Mulfa.
Apa Mulfa tidak membawakan kertas kontrak kerja kakaknya padaku? Apa Halima membohongiku? Atau ia belum mengatakan itu pada Mulfa? Atau Mulfa yang lupa?
batin Halim.
”Ini uang kembaliannya.” Halim menyerahkan uang senilai lima belas ribu kepada Mulfa.
Mulfa mengambil dan memasukan ke dalam tas. Lalu ia mengeluarkan sebuah map dari tasnya.
”Kak Halim, kak Halima menyuruhku untuk memberikan ini untuk kakak.” Mulfa memberikan map itu kepada Halim.
Halim mengambilnya. Ia membuka map tersebut untuk melihat isinya. Halim membacanya.
Ternyata benar, Kevin menjanjikan pekerjaan yang bagus untuk Halima. Tapi ia di tipu dengan mempekerjakan Halima sebagai wanita penghibur.
batin Halim.
”Terima kasih, Mulfa.” ucap Halim tulus. ”Duduk dulu Mulfa, ada yang ingin aku bicarakan padamu.” pinta Halim.
Mulfa duduk dan menyimpan tas di sampingnya. Halim masuk ke dalam, ia menyimpan map yang di berikan Mulfa ke dalam laci besarnya. Dan ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sana dan menghampiri Mulfa. Halim duduk di samping tas Mulfa.
”Kamu, sama kakak mu sudah lama kah tinggal di kota ini?”
”Belum tapi lama kak, baru satu tahun kami disni.” jawab Mulfa. ”Memangnya kenapa kak?”
”Tidak apa-apa.” ucap Halim. ”Di mana orang tua kalian?”
Mulfa terdiam saat mendengar pertanyaan itu. Ia memandang ke arah luar. Dan saat itu tanpa sepengetahuan Mulfa, Halim menyimpan kotak kecil yang di ambilnya dari laci tersebut ke dalam tas Mulfa.
”Ayah dan ibu kami sudah lama meninggal.” jawab Mulfa. ”Waktu itu, aku duduk di bangku kelas enam SD, sedangkan kakakku Halima ia sekolah kelas dua SMP. Lalu, kami tinggal berdua saja. Kak Halima bekerja paruh waktu untuk mencari uang untuk menghidupi ku dan dirinya, dengan membantu mencuci pakaian-pakaian orang. Setelah kakak Halima lulus SMA, kakak di ajak sama temannya kesini.” jelas Mulfa.
Halim terdiam. ”Oh, maaf aku tidak tahu jika orang tua kalian sudah tiada.” sesal Halim. ”Kamu tadi bilang, kalian tinggal berdua. Apa disini tidak ada keluarga kalian? Dari pihak ayah kalian? Atau ibu kalian mungkin?”
”Tidak ada kak, disini kami hanya sendirian. Keluarga dari pihak ibuku ada, tapi mereka berada di kota D. Kami berencana untuk kesana. Tapi, kak Halima bilang, dia tidak gampang keluar dari pekerjaannya sekarang.” jelas Mulfa.
”Oh,” sahut Halim singkat. ”Bagaimana kehidupan di tempat tinggal mu? Apakah aman saja disana?”
”Tidak terlalu aman sih kak, cuman selama aku tinggal di sana ada seseorang yang sering memantau ku. Dan kalau ada apa-apa, kak Halima selalu datang membantu ku.” jelas Mulfa lagi.
”Kamu tidak ingin pindah dari sana?”
__ADS_1
”Ada keinginan untuk itu kak, karena aku malas tinggal di sana. Tapi, di saat aku ingin keluar dari sana, aku di tahan dengan alasan kak Halima melarang ku keluar dari sana.” ucap Mulfa.
”Oh, maaf aku sudah menyita waktumu dengan mengajak mu berbicara. Sebaiknya kamu pulang sekarang. Terima kasih sudah bersedia berbicara dengan ku.” ucap Halim.
”Iya sama-sama kak.” sahut Mulfa. ”Aku pergi dulu.” ucapnya lagi berpamitan.
”Iya, hati-hati di jalan!” sahut Halim.
”Iya kak.” Mulfa berdiri dan menyandang kembali tasnya.
Mulfa pun pergi dari toko Halim. Halim memandang punggung Mulfa dengan perasaan iba.
Kasihan sekali mereka, baiklah. Sepertinya aku tidak sia-sia membantu kalian.
batin Halim.
Setelah kepergian Mulfa, kini Hamid yang datang berkunjung ke toko Halim. Halim langsung menyapanya.
”Hamid, kamu sudah datang?”
”Iya, sepeti yang kamu lihat, aku baru saja tiba.” jawab Hamid. ”Bagaimana? Apa kita pergi sekarang di kediaman Albert.”
”Hamid, menurut mu bagusnya berbicara langsung sama Albert atau sama istrinya? Aku jadi ragu.” ucap Halim.
”Kalau kamu ragu, tidak usah repot-repot membantu mereka,” sahut Hamid. ”Toh, mereka juga sudah lama tinggal di sana dan sepertinya mereka baik-baik saja selama ini. Kenapa setelah kamu ada di kota ini, dia langsung meminta bantuan mu untuk mengeluarkan dia dari sana.” jelas Hamid.
”Jangan bicara seperti itu. Kita tidak tahu apa yang sudah di alami oleh mereka. Mungkin dengan kehadiran ku di kota ini, dan pertemuan ku dengan mereka adalah suatu jalan untuk mereka keluar dari sana.” ucap Halim.
”Terserah mu lah!” sahut Hamid. ”Yang penting kamu tidak berniat menduakan Sarmi kelak, jika Halima memintamu untuk menjadikan dia istri keduamu.”
”Ngaco kamu! Aku sangat mencintai istriku. Aku tidak ada niat sedikit pun untuk menduakan istriku.” jelas Hamid. ”Kamu tunggu disini, aku panggil Denis dulu untuk menggantikan ku, menjaga toko. Baru kita pergi menemui Albert.”
”Hum, cepatlah datang! Jangan bercerita panjang sampai disana! Aku tidak tahu harga barang mu jika ada orang belanja nanti.” ucap Hamid.
Setelah bicara itu Halim pergi menemui Denis di toko Anton. Kebetulan sekali, Denis lagi duduk santai disana setelah mereka selesai menyusun barang baru di tempatnya. Halim tanpa sungkan menyuruh Denis untuk menggantikan dirinya sebentar untuk menjaga toko.
Denis tidak menolak kemauan Halim, dengan senang hati ia pergi bersama Halim ke toko Halim. Sesampainya di toko Halim. Tanpa banyak bicara lagi, Halim dan Hamid langsung pergi.
”Mereka pergi kemana sih? Di tanya cuman jawab ada urusan sedikit. Sepertinya ada yang mereka sembunyikan dari kami, tapi apa yah? Mereka membuat ku penasaran saja.”
Halim memang tidak menceritakan tentang Halima kepada Anton maupun Denis. Ia hanya bercerita saja kepada Hamid.
Kini Hamid dan Halim sampai di kediaman rumah Albert. Halim memperhatikan rumah itu secara detail. Ia mengagumi rumah Albert. Rumah yang besar, memiliki kolam ikan dan juga taman bunga di samping kiri dan kanan di pekarangan rumah tersebut.
”Kamu tidak ingin turun?”
Mereka sudah dari lima belas menit yang lalu sampai di rumah Albert, namun Halim masih duduk di dalam mobil memperhatikan rumah Albert.
”Kalau kamu gak mau turun, kita pulang saja sekarang.”
Halim menoleh melihat Hamid. Halim menghempaskan nafas kasarnya. Ia menyandarkan badannya di sandaran kursi mobil.
”Kamu yakin mereka ada di dalam, dan apa kamu yakin mereka akan meminjamkan aku uang sebanyak itu?” ucap Halim ragu.
”Untuk meminjamkan uang, mereka pasti akan memberikannya, tapi tentu saja tidak gampang. Mereka itu pebisnis, jadi mereka memperhitungkan keuntungan yang mereka peroleh nanti baru mereka memberikan uang pada peminjam. Dan di jam segini mereka ada di dalam rumahnya.” jelas Hamid. ” Turunlah cepat, jangan buang-buang waktu!”
”Kamu tunggu aku disini, jangan kemana-mana!” titah Halim. Hamid mengangguk.
Dengan di liputi keraguan, Halim turun dari mobil. Ia berjalan pelan memasuki halaman pekarangan rumah alber, hingga sampai ke pintu rumah.
Halim di cegah oleh dua orang lelaki yang memakai baju bertuliskan satpam, yang tengah duduk meminum secangkir kopi.
”Anda siapa? Apa tujuan Anda kemari?” tanya salah satu satpam itu.
”Namaku Halim, saya ingin mencari tuan Albert, apakah tuan kalian ada di dalam?” sahut Halim.
__ADS_1
”Apa sudah ada janji sebelumnya dengan tuan Albert?” tanya mereka lagi.
”Belum.” jawab Halim singkat. ”Tapi, saya ingin bertemu dengan tuan Albert.”
Tampak sesama satpam saling memandang. Salah satu di antara mereka mengangguk.
”Baiklah, Anda silahkan tunggu disini. Saya akan memberitahu tuan Albert dulu.”
Halim mengangguk mengerti. Ia duduk di kursi yang di duduki oleh satpam yang baru masuk ke dalam rumah itu. Halim duduk dengan berbagai keraguan. Apakah Albert akan menemuinya atau tidak? Apakah Albert akan memberikan uangnya atau tidak?
Tidak lama kemudian, satpam tadi keluar kembali.
”Saudara Halim, silahkan masuk! Tuan Albert dan Nyonya sudah menunggu Anda di dalam.”
”Terima kasih.” sahut Halim.
Halim melangkah masuk ke dalam rumah, di bawah oleh satpam tadi. Setelah mereka sampai di hadapan tuan Albert, satpam itu pamit keluar.
Halim merasa takut melihat muka sangar dari tuan Albert. Tapi tidak saat melihat muka ramah dari sang istrinya.
”Duduk!” perintah tuan Albert.
Halim duduk dengan sopan di kursi sofa tunggal.
”Kamu tidak ingin memperkenalkan dirimu? Dan memberitahu ku apa keperluan mu datang kesini?” suara Albert terdengar berat dan dingin.
Dengan menenangkan hati dan pikiran, Halim berbicara tanpa keraguan dan ketakutan di hadapan Albert dan istrinya.
”Nama saya Halim, Tuan. Saya datang kesini untuk meminjam uang kepada Anda, Tuan.”
Albert memandang Halim. Ia salut dengan keberanian yang dimiliki Halim. Ia berbicara dengan memandang Albert tanpa rasa takut. Tidak seperti kebanyakan orang. Yang takut saat berbicara dengannya. Bahkan mereka tidak berani memandang wajah Albert ketika berbicara, mereka hanya menunduk.
”Mengapa kamu harus datang padaku, untuk meminjam uang? Sedangkan masih banyak tempat lain yang bisa kamu datangi. Dan mengapa kamu berfikir aku akan memberikan uang itu pada kamu?”
”Saya tahu, Anda adalah orang yang bijaksana, Tuan. Saya sudah mendengar Anda selalu membantu orang yang memerlukan bantuan Anda. Jadi karena itu, saya juga yakin Tuan akan memberikan saya pinjaman.” jelas Halim.
”Hahahaha hahahaha” Albert tertawa mendengar penjelasan Halim. ”Kamu terlalu memuji ku, Halim! Kamu tahu, tidak gampang buat aku meminjam kan uang untuk membantu orang-orang.”
”Saya tahu Tuan. Jika keperluan saya tidak penting, dan mendesak, saya tidak akan datang menemui mu, Tuan.” ucap Halim.
”Kamu butuh berapa? Dan keuntungan apa yang bisa ku peroleh darimu?” tanya Albert.
”Saya butuh uang satu milyar, Tuan. Saya tidak bisa menjanjikan keuntungan apapun kepada Tuan.” jawab Halim tegas memandang Albert.
Albert terdiam. Ia memandang istrinya. Halim memperhatikan mereka.
”Apa kamu sudah berkeluarga?” tanya Albert seketika.
”Iya Tuan.” jawab Halim. ”Saya sudah menikah dan memiliki enam anak. Lima perempuan dan satu laki-laki. Anak-anak ku masih kecil-kecil.” jelas Halim.
”Apa pekerjaan kamu?” tanya Albert lagi.
”Saya hanya seorang pedagang biasa saja, Tuan.” jawab Halim.
”Bagaimana caramu untuk membayar uang yang kamu pinjam?”
”Saya akan membayar dengan mencicil perbulannya dengan kemampuan saya, Tuan.” jawab Halim. ”Tapi, jika itu uangnya saya pakai. Saya meminjam uang untuk menebus seseorang. Saya membutuhkan uang itu untuk menjebak mereka. Saya pastikan uang itu tidak terpakai dan saya akan langsung mengembalikan uang itu pada Anda.” jelas Halim.
”Kamu terlalu percaya diri Halim. Tapi, aku suka dengan tingkat kepercayaan diri mu. Baik, kamu akan mendapatkan uang itu. Tapi kamu harus menandatangani kontrak perjanjian mengenai uang itu.” ucap Albert.
”Dengan senang hati, saya akan menandatangani kontrak itu.” sahut Halim.
”Kamu tunggu disini.” titah Albert.
Halim mengangguk. Albert berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Meninggalkan Halim dan istrinya di ruangan tersebut.
__ADS_1