Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 239


__ADS_3

Sore hari di apartemen Geo.


Drrttrrt! Drrttrrt! Suara nada getaran dari handphone Geo berbunyi. Geo membuka mata. Ia bangun dan duduk bersandar di ranjang.


Ia melihat istrinya masih tertidur pulas. Ia turun dari ranjang dengan pelan-pelan. Ia melihat layar hapenya tertulis mamanya memanggil. Ia pergi ke balkon untuk mengangkat telfonnya.


”Ya, Ma. Ada apa?” tanya Geo.


”Di mana Syakila? Kenapa dia tidak mengangkat telfonnya Mama? Apa kamu memukuli nya?”


”Mama, dia sedang tidur. Hapenya sengaja aku silent agar tidak menggangu tidurnya. Bagaimana bisa aku memukuli istri ku sendiri? Mama terlalu khawatir padanya,” jawab Geo.


”Mama. Kebetulan Mama menelfon, Geo langsung katakan keinginan Geo...”


”Kamu mau apa?”


”Mama datang ke apartemen Geo sekarang dengan Beni. Aku dan Beni ada urusan di luar,” tutur Geo.


”Geo, kamu tidak akan mempermasalahkan kesalahpahaman siang tadi saat di mall, kan?” tebak Rosalina.


”Mama. Ada tangan yang berani menyentuh tubuh istri ku, ada mulut yang berani menyatakan cinta pada istri ku, ada mata yang berani memandang lapar pada istriku. Apakah aku akan tinggal diam saja?” jelas Geo.


”Sayang ka__”


”Mama, mumpung istri ku masih tidur, Mama bergegaslah kesini dengan Beni. Geo berganti dulu,” sela Geo. Ia langsung memutuskan sambungan secara sepihak.


Geo masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia melihat Syakila masih tidur dengan nyenyak. Ia pergi ke ruangan khusus yang ada di dalam kamarnya itu. Ia berganti pakaian dengan pakaian serba hitam yang lengkap dengan alatnya.


Setelah berganti. Ia menunggu Beni dan mamanya di ruang depan.


*


*


*


Di kediaman Albert.


”Anak ini! Dulu dia tidak begitu gila seperti ini... sekarang ini... apakah aku harus beritahu Syakila untuk menghentikan Geo?” gumam Rosalina.


”Sebaiknya tidak usah Ma. Biarkan saja. Lagi pula kakak tidak mau Syakila tahu sisi gelapnya,” sahut Beni, ia mendengar gumaman Rosalina barusan.


”Apa? Kamu... kamu mendukung tindakan kriminal kakak mu?” Rosalina memandang tidak percaya pada Beni.


”Bukan Ma. Geo tidak akan membunuh pria itu seperti bawahannya yang beberapa hari lalu. Geo hanya akan memberikan pelajaran sedikit untuknya. Mama tenang saja, Geo hanya melindungi istrinya dan harga dirinya saja,” ucap Beni membela diri.


”Kamu... sudahlah! Terserah kalian berdua...” Rosalina pasrah.


”Kalau begitu, ayo kita pergi Ma. Geo tidak suka menunggu terlalu lama, kalau Mama dan Syakila yang membuatnya menunggu, tidak masalah untuk Geo. Tapi aku... dia akan menghukum ku jika aku membuatnya menunggu lama.” ucap Beni.


”Hum, ayo pergi!” Rosalina berdiri dari duduknya. Ia melangkah keluar rumah, Beni mengikuti di sampingnya. ”Kamu harus ingat, jangan biarkan kakak mu kelewatan dalam menghukum pria itu. pria itu adalah Ceo dari kota C,” ucapnya lagi.


”Iya, Ma. Geo bisa mengendalikan dirinya sendiri. Mama jangan khawatir pada kakak.”


Beni membukakan pintu mobil depan untuk Rosalina. Rosalina segera masuk ke dalam mobil. Beni juga segera masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.


*


*


*


Di apartemen Geo.


Beni dan Rosalina telah sampai di depan pintu apartemen kamar Geo. Tanpa mereka mengetuk pintu, Geo telah membuka pintu apartemennya duluan.


Rosalina melangkah masuk dengan wajah cemberut. Geo melirik Beni. Beni mengedikan kedua bahunya ke atas, tanda ia tidak tahu.


”Mama, istriku masih tidur di kamar. Jika dia bertanya tentang ku, Mama ku yang cantik ini sudah tahu menjawabnya, kan?” ucap Geo pada Rosalina.


”Tidak perlu memuji ku. Pergilah, segera selesaikan urusan mu dan cepat pulang!” ketus Rosalina berucap.


”Ok! Geo pergi dulu Ma.” Geo mencium kening Rosalina. Setelah itu, ia melangkah keluar dari apartemen.


”Mama, Beni pergi dulu,” pamit Beni. Ia juga mencium kening Rosalina.


”Kalian berdua hati-hati! Ingat pesannya Mama, Beni.” Rosalina mengingatkan kembali.


”Iya, Ma.” sahut Beni. Ia melangkah keluar dari apartemen Geo.


Rosalina pergi ke kamar Geo. Ia melihat Syakila masih tidur. Rosalina menyimpan tasnya di atas meja hias Syakila. Ia pergi duduk di balkon kamar Geo.

__ADS_1


Sekarang Geo sangat posesif pada Syakila. Sewaktu dia berpacaran dengan Dawiyah dan Yulia, dia tidak seperti ini. Dia bahkan merelakan Yulia pergi dengan pria lain. Apakah karena saat itu... dia tidak benar-benar mencintai Yulia?


Waktu Dawiyah juga kepergok berselingkuh darinya, dia tidak memberikan pelajaran pada pria itu. Dia justru melukai dirinya sendiri. Apakah mungkin dia juga tidak benar-benar mencintai Dawiyah?


Berbeda sekali saat dia mengenal Syakila, meskipun di awal mula ia sering menyakiti Syakila, ia sangat cemburu saat melihat Syakila dengan pria lain, meskipun itu pada Beni ataupun pamannya Syakila sendiri... dia pasti cemburu. Apakah baru Syakila ini Geo baru benar-benar merasakan yang namanya cinta? benak Rosalina.


Syakila membuka matanya, ia tidak melihat Geo di sampingnya. Ia melihat pintu balkon terbuka. Ia bangun dari tidur dan melangkah ke balkon.


”Biar bagaimana pun seharusnya Syakila mengetahui sisi lain suaminya. Jika Syakila mendengar dari orang lain... takutnya akan menjadi masalah sendiri buat Geo...”


Kening Syakila mengerut mendengar suara Rosalina.


Sisi lain dari Geo? benak Syakila. Ia penasaran.


”Mama. Mama di sini? Kapan datangnya?” tanya Syakila. Ia menarik kursi dan duduk di depan Rosalina.


”Syakila. Kamu sudah bangun? Mama belum lama datangnya, sekitar sepuluh menit yang lalu,” jawab Rosalina.


”Oh. Geo di mana Ma?” tanya Syakila lagi.


”Geo ada urusan di luar bersama Beni. Jadi Mama kesini menemani mu.”


”Apa yang di lakukan Beni dan Geo di luar sana?” Syakila serius menatap Rosalina. Ia benar-benar penasaran dengan maksud ucapan Rosalina tadi.


”Em...”


”Mama tidak usah ragu dan bingung untuk menjawab Syakila. Mama katakan saja pada Syakila apa yang di kerjakan Geo dan Beni di luar sana,” sela Syakila. Ia tahu mama mantunya dalam kebimbangan untuk menjawab pertanyaannya.


Sebaiknya aku katakan saja. benak Rosalina.


”Syakila. Beni dan Geo adalah ketua gangster di kota ini. Kekuatannya sudah mencapai puluhan bahkan ribuan yang tersebar di kota-kota yang merupakan tempat usahanya. Tetapi tidak banyak yang tahu identitas Geo dan Beni ini...”


Syakila melihat Rosalina dengan serius yang sedang bercerita tanpa menyelanya sedikitpun.


”Gangster itu sebelumnya adalah milik almarhum ayah Geo dan Beni. Setelah suamiku meninggal, Geo dan Beni yang menggantikannya. Sudah lama aku menyuruh mereka untuk tidak bergabung lagi dengan gangster itu. Tetapi... mereka diam-diam selalu berhubungan dengan timnya. Geo dan Beni berdarah dingin. Pekerjaannya di luar berkaitan dengan hal ini,” ungkap Rosalina.


”Apa yang akan dia lakukan?” tanya Syakila.


”Dia akan memberikan pelajaran kepada James Deon yang telah menyentuh mu dan mengatakan cinta padamu,” jawab Rosalina.


”Apa? Tidak mungkin! Tunggu...! Apakah...apakah pria yang meninggal beberapa hari yang lalu, itu... itu ulah Geo dan Beni juga?” Syakila tersadar jika pria yang meninggal beberapa hari lalu adalah pria yang ingin tidur dengannya. Rosalina mengangguk.


Rosalina mengangguk.


”Mama, apa Mama tahu di mana markasnya mereka?” tanya Syakila. Rosalina mengangguk.


Tentu saja Rosalina tahu karena suaminya sering membawanya ke markas jika Albert akan menghukum penjahat. Rosalina sendiri mendukung identitas suaminya sebagai ketua gangster saat itu.


”Mama antar Syakila ke sana. Syakila tidak mau Geo melakukan hal salah. James tidak bersalah,” ucap Syakila. Ia beranjak berdiri.


”... ini... Geo... Syakila, sebenarnya Geo tidak ingin kamu tahu hal ini. Jadi... anggaplah kamu tidak tahu apa-apa. Bisa?” pinta Rosalina.


”Mama, aku ingin melihat sisi gelapnya ini. Antar Syakila ke sana...”


Rosalina menatap netra Syakila. Jujur saja dia takut jika Syakila akan pergi dari Geo setelah Syakila melihat sisi lain Geo. Tetapi... melihat tatapan Syakila...


”Baiklah! Ayo kita pergi.” Rosalina menurut pada akhirnya. Lebih baik Syakila memang harus tahu segala sesuatu dari anaknya itu dengan mata kepalanya sendiri ketimbang Syakila tahu dari orang lain. Syakila mengangguk.


Syakila segera berganti pakaian. Setelah berganti, ia dan Rosalina keluar dari apartemen. Mereka bergegas turun ke lantai satu menggunakan lift.


”Mama, sebaiknya Mama telfon supirnya Mama untuk mengantar kita ke sana,” ucap Syakila.


”Ada mobilnya Beni di parkiran dan ada banyak anak buah Geo di sini. Kita tinggal menyuruh salah satu dari mereka untuk mengantar kita. Sebenarnya, apartemen ini adalah miliknya Geo. Kamar yang ada di lantai 15, semua adalah kamar Geo. Kamar dari lantai satu sampai kamar lantai 14, baru di sewa sama orang-orang. Tetapi, orang-orang tidak tahu kalau apartemen ini adalah milik Geo,” ungkap Rosalina.


Syakila terkejut. Seberapa kaya suaminya itu?


Ting! Pintu lift terbuka di lantai 1. Syakila dan Rosalina melangkah keluar dari lift. Rosalina melihat pria yang berdiri di depan masuk apartemen.


”Antar kami ke markas. Jangan beritahu dia,” titah Rosalina pada pria itu.


”Baik, Nyonya,” sahut Pria itu. Ia berjalan menuju mobil Rosalina. Rosalina mengikuti di belakangnya.


Syakila terbengong memperhatikan pria itu di tempatnya berdiri. Benarkah dia anak buah dari suaminya? Ia juga memperhatikan beberapa orang yang memakai baju yang sama dengan pria itu. Ia juga berpikir apakah mereka juga termasuk anak buah dari Geo?


”Nona muda, apa Nona muda tidak jadi pergi?” terdengar suara dari belakang Syakila. Syakila menoleh melihat pemilik suara itu.


”Kamu...”


”Iya, Nona muda. Saya adalah orang dari tuan muda,” sela Pria itu.


”Oh. Aku pergi dulu,” ucap Syakila sambil berjalan. Ia merasa ngeri saat menatap wajah anak buah suaminya tersebut. Wajahnya tampak datar dan mengeluarkan aura membunuh.

__ADS_1


Apa Nona muda takut melihat ku? Dia berjalan dengan cepat. benak pria itu.


Syakila masuk ke dalam mobil. Mobil berjalan meninggalkan halaman parkir.


Semoga saja semuanya belum terlambat. benak Syakila.


*


*


*


Di markas gangster Geo.


Syakila mulai merasa merinding saat mobil memasuki halaman parkir markas. Syakila dan Rosalina turun dari mobil.


Syakila merasa markas itu sangat angker. Apakah sudah banyak para korban di tempat ini? Tempat yang berlantai lima, yang terlihat kumuh dan tidak terurus.


”Bawa kami di tempat Geo berada sekarang,” titah Rosalina pada salah satu pria di sana.


”Baik, Nyonya. Mari, ikuti saya,” kata Pria itu.


Syakila melihat banyaknya para lelaki yang beraktivitas di tempat ini. Mereka juga sepertinya terbagi-bagi, terlihat dari berbagai macam pakaian yang berbeda-beda, yang mereka kenakan. Apakah mereka punya tugas masing-masing sesuai dengan pakaian yang di kenakan? pertanyaan yang mengundang di pikiran Syakila.


Suara auman anjing serigala terdengar di telinga Syakila. Membuat ia semakin merinding.


tempat apa ini sebenarnya? Apakah mereka memelihara hewan juga di sini? Ini... tempat apa sebenernya? benak Syakila.


Bugh! Duagh!


Bruk! ”Aaaa” terdengar suara orang yang terjatuh, yang menjerit kesakitan.


Apakah itu... itu suara nya James Deon? benak Syakila, ia khawatir sekarang.


Duagh!


Gedebug! ”Argh! Aaaa!” terdengar lagi suara yang menjerit kesakitan setelah terjatuh.


Syakila semakin panik dan khawatir. Mereka berhenti di satu ruangan yang pintunya tertutup.


Brak! Syakila membuka pintu itu dengan tiba-tiba.


Matanya membulat sempurna saat melihat darah yang keluar dari mulut James, kening James, tangan James, dan mata kiri James terlihat membengkak dan membiru.


Ia lebih terkejut lagi saat melihat pisau di tangan kanan Geo yang hendak di ayun kan pada jari-jari tangan James. Tubuh Syakila gemetar ketakutan. Kakinya lemas seketika untuk di gerakkan.


”Syakila!” gumam Beni dan Geo dengan pelan melihat Syakila. Mereka berdua terkejut melihat kedatangan Syakila di markasnya. Seketika Geo membuang pisau yang ada di tangannya. James menyeringai melihat Geo.


Aku sengaja tidak membalas mu. Dan membiarkan diriku di tahan oleh mu. Sebelum aku ke kota ini, aku sudah menyelidiki dirimu. Aku tahu istrimu tidak suka melihat kekerasan. Kamu, bersiaplah kehilangan istri mu... dan aku, welcome Syakila... jadilah istriku. benak James.


Geo melangkah mendekati Syakila. Tapi Syakila mencegahnya dengan menaikkan tangan kanannya ke atas. Syakila masih mengatur rasa takut dan gemetar yang ia rasakan saat ini.


Geo berdiam diri sambil menatap sedih wajah Syakila. Ia takut Syakila akan membenci dirinya sekarang dan pergi meninggalkannya.


”Mama, mengapa Mama kesini dengan membawa...” Beni melirik Syakila yang masih shock. Rosalina tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan anaknya dan anak mantunya saat ini.


”Syakila,” Geo melangkah perlahan mendekati Syakila. Syakila mundur beberapa langkah dari tempatnya.


Syakila teringat pria yang mati beberapa hari yang lalu sangat mengenaskan. Lidahnya, matanya tidak ada, kedua tangannya patah, di tubuhnya banyak bekas luka sayatan. Dan... apakah... apakah Geo akan melakukan hal yang sama pada James sekarang?


”Uwek! Uwek!” Syakila merasa mulas sekarang memikirkan itu.


”Syakila!” seru Geo, Beni, dan Rosalina dengan panik. Mereka bergegas cepat menghampiri Syakila.


”Jangan! Uwek...uwek... dekati aku...” ucap Syakila. Ia keluar dari ruangan itu. Geo tidak peduli, ia mengejar Syakila.


”Uwek! Uwek!” Syakila terus merasakan mules yang hebat. Dia muntah seketika saat merasakan tangan hangat menyentuh punggungnya.


Tubuh Syakila semakin lemas setelah muntah. Ia menyandarkan kepalanya di pundak pria yang duduk berjongkok di dekatnya itu.


”Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanya Geo. Syakila mengangguk pelan. Geo membelai wajah istrinya yang terlihat pucat. ”Benar kamu tidak apa-apa?” tanya Geo khawatir. Syakila kembali mengangguk.


”Ambilkan aku air hangat, cepat!” titah Geo pada anak buahnya. Anak buahnya mengangguk dan segera pergi mengambil air hangat.


”Sayang. Ayo berdiri, kita duduk di sana saja,” Ia membantu Syakila berdiri dan memapah Syakila berjalan di bawah pohon rindang yang terdapat bangku panjang. Ia mendudukkan tubuh Syakila dengan pelan, ia juga duduk di samping Syakila.


”Tuan, ini air minumnya,” ucap anak buah Geo sambil memberikan gelas berisi air pada Geo. Geo mengambilnya. Anak buah tersebut pergi dari sana.


”Sayang, minum dulu,” Geo menyuapi Syakila minum. Syakila meminumnya.


Syakila apa kamu takut dan jijik padaku sekarang? Ku harap kamu jangan tinggalkan aku karena ini, Asya. benak Geo.

__ADS_1


__ADS_2