
Namun, kini Syakila sadari jika itu hanyalah harapan palsunya saja, karena sudah dua jam ia menunggu Beni untuk datang menjemput. Namun, Beni tidak kunjung datang.
”Huff,” Syakila menghela nafas. Ia tampak murung, ”Beni pun tidak datang menjemput. Apa pria tanpa jantung itu yang melarangnya? Sudah dua jam aku disini, lama-lama duduk pegal juga.”
Ia berdiri, mengedarkan pandangan ke dalam pasar, siang-siang begini pasar sudah mulai sepi pembeli. Pikir Syakila.
”Eh, toko yang tepat di pinggir jalan itu penjual aksesoris, aku ingin lihat-lihat barangnya dulu, siapa tahu ada yang ku suka.”
Syakila bergumam sambil berjalan ke arah toko tersebut. Ia masuk ke dalam dan melihat-lihat aksesoris yang ada di dalam toko tersebut. Ia mengambil beberapa buah ikat rambut dan jepit rambut. Ia masih menjelajahi isi toko.
”Permisi Mbak, Mbak sedang mencari aksesoris apa ya, Mba? Biar saya bantu ambilkan.”
”Sebentar yah Mas, aku lihat-lihat dulu,” Syakila menjawab dengan membelakangi sang penjual. Ia masih melihat-lihat barang yang ada di hadapannya.
”Mba, katakan saja Mba barangnya apa? Biar saya bantu cari. Saya harus menutup toko ini sebentar, jadi mohon kerja samanya, Mba.”
”Mas, aku sebagai pelanggan, aku merasa sangat kecewa dengan ucapan Mas sebagai penjual.” Syakila berucap kesal, ia berbalik melihat si penjual tersebut.
”Maaf Mba, jika ucapan saya sudah menyinggung Mba. Tapi ini adalah jam makan siang, saya harus pulang di rumah, istriku sudah menungguku.” jelas si penjual.
Penjual tersebut menatap Syakila sebentar, ia baru tersadar akan sesuatu.
”Syakila?” ucapnya kemudian.
”Iya, namaku Syakila, Mas kenal aku?” Dahi Syakila mengerut.
Penjual itu tersenyum, ” Kamu anaknya Halim dan Sarmi, kan?” Penjual itu ingin memastikan apakah tebakannya benar atau tidak.
Syakila kini memandang Denis dengan semakin bingung. Ia bukan hanya mengenaliku tetapi juga mengenal orang tuaku, pikir Syakila.
”Iya, aku anaknya Halim dan Sarmi. Mas mengenal kedua orang tua ku?”
”Syakila, kamu sudah melupakan Om? Ini Om Denis mu, Kila! Om Denis!” ucap Denis bersemangat.
Syakila mencoba mengingat-ingat tentang Denis, tapi pikirannya buntu. Ia melupakan bagaimana bentuk wajah orang yang di kenalnya dulu, ia hanya mengingat namanya saja.
”Maaf Om, Syakila sudah lupa dengan wajah Om. Syakila hanya mengingat nama saja. Ini Om Denis yang dulu tinggal serumah sama kami, kan?”
”Iya, anak pintar! Ingatan mu gak terlalu buruk juga.” Denis membelai rambut Syakila sambil tersenyum.
”Om, Syakila sudah besar, jangan belai kepalanya Syakila lagi seperti anak kecil.” protes Syakila.
Denis tertawa, ”Hahaha, bagi Om, kamu tetap anak kecilnya Om, sayang.” Denis kembali membelai kepala Syakila. ”Kamu ikut Om ke rumah ya,” Denis menarik tangan Syakila keluar dari toko.
”Tunggu Om!” Denis berhenti, ia menoleh melihat Syakila, ”Ini, Syakila belum membayarnya, ini berapa harganya, Om?” Syakila memperlihatkan tiga macam ikat rambut yang berbeda-beda juga tiga macam jepit rambut kepada Denis.
"Sudah, kamu ambil saja itu, Om kasih gratis. Ayok kita ke rumah, kamu belum makan siang kan?”
Syakila mengangguk, ”Iya Om, Syakila belum makan siang.”
Mau makan siang bagaimana? Aku masih berada di sini. Warung makan juga aku tidak tahu di mana letaknya.
”Ya sudah, ayo ikut Om. Nanti, setelah selesai makan siang, baru kita kembali kesini untuk memilih lagi barang yang kamu inginkan, ok.” tawar Denis.
”Tidak Om, terima kasih, sudah cukup ini saja.” Syakila tersenyum canggung. Ia sangat malu mendapatkan barang dengan gratis. Syakila memasukan ikat dan jepit rambut itu kedalam plastik belanjaannya.
”Jangan sungkan, Syakila!”
”Tidak Om, bukan begitu.”
Denis dan Syakila keluar dari toko, Denis menutup dan mengunci pintu tokonya. Dengan menggunakan motor, mereka berdua kini telah sampai di rumah Denis. Syakila menjadi heran karena Denis berhenti di depan toko kosmetik papanya.
”Om, masih tinggal disini?” Syakila menunjuk rumah yang berdiri di atas toko tersebut.
”Iya, ayo ke rumah,”
Syakila mengangguk. Ia mengikuti langkah Denis dari belakang. Syakila berjalan sambil memandang setiap sudut, dinding rumah tersebut. Matanya berkaca-kaca.
Papa, aku merindukan kehangatan papa di rumah ini. Masih tergambar dengan jelas di mataku akan canda dan tawa papa, mama, kakak, dan adik-adik di rumah ini. Aku merindukan suasana hangat itu, pa.
”Syakila, kenapa bengong di depan pintu saja? Ayo masuk!”
Syakila terkejut dengan sentuhan tangan Denis di bahunya.
”Oh, iya Om. Maaf, Syakila melamun.”
Syakila melangkah kan kakinya masuk kembali ke dalam rumah yang sudah enam tahun lalu ia tinggalkan. Rumah yang di bangun oleh mendiang papahnya.
”Duduk, Kila.”
__ADS_1
Syakila mendudukkan pantatnya di kursi sofa. Denis pergi ke kamar menemui istrinya. Istrinya sedang menidurkan baby kecil.
”Sayang, kamu sudah pulang?” Samnia bangun dari baring, ia merapikan bajunya. Ia baru saja habis memberikan asi untuk buah hatinya yang ke tiga dengan Denis.
Denis menghampiri Samnia yang kini sudah berjalan ke arahnya. Denis mencium kening Samnia setelah Samnia menyium punggung telapak tangannya.
”Iya sayang, aku sudah pulang. Apa makanan sudah masak, sayang?”
”Iya sudah masak, mau makan sekarang? Atau tunggu kedua jagoan mu pulang dari sekolah baru makan?”
”Sebentar lagi mereka akan datang, kita tunggu saja. Oh ya sayang, ada Syakila di depan, bisakah kamu buatkan secangkir teh untuk nya?”
Samnia tersenyum senang, ”Tentu saja sayang, aku sangat senang dia bisa berkunjung kesini,” Samnia tersadar sesuatu, senyumnya memudar. ” Sayang, bagaimana bisa Syakila kesini? Bukannya Sarmi melarang anak-anaknya untuk kesini yah?”
”Oh iya ya, aku gak kepikiran sampai ke situ. Buatkan lah teh dengan untukku juga, kita ngobrol di depan sambil nunggu si jagoan pulang.” Denis melangkah mendekati putrinya yang tertidur nyenyak. Ia mencium keningnya.
”Baiklah, tunggulah di luar. Aku pasangkan kelambu anakmu dulu baru buatkan teh.” Samnia berjalan ke lemari pakaian untuk mengambil kelambu bayi. Denis keburu sampai duluan di lemari.
”Sayang, biar aku aja yang lakukan. Kamu buatlah teh saja.” Denis mengambil kelambu tersebut.
”Baiklah,”
Samnia keluar dari kamar, Denis membuka kelambu dan memasang kelambu tersebut untuk melindungi putrinya dari gigitan nyamuk.
”Tidur nyenyak putri kecilku,” Denis kembali mencium kening anaknya lalu ia merapikan kelambu dan keluar dari kamar. Ia pergi menemui Syakila.
Tidak lama dari Denis keluar kamar, Samnia juga datang dengan membawa nampan berisi tiga cangkir teh. Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja.
”Loh, Syakila kemana, sayang?”
”Aku disini Bibi,” Syakila menyahut dari arah balkon yang mengarah ke laut. Ia beranjak masuk dan menghampiri Denis dan Samnia. Ia duduk berhadapan dengan pasangan tersebut.
Samnia memberikan teh untuk Syakila. ”Di minum, Kila.”
”Iya Bibi, terima kasih.” Syakila mengambil cangkirnya. Ia meneguknya, lalu meletakkan kembali cangkirnya di atas meja.
”Bagaimana kabar kalian semua di sana, Kila?” Samnia yang bertanya.
”Baik-baik saja, Bibi.”
”Bagaimana bisa kamu sampai ke kota ini, Kila?” kini Denis yang bertanya. ”Apa sudah lama kamu berada disini?”
”Sudah dua bulanan? Kenapa kamu gak jalan-jalan ke rumah, Kila? Siapa nama suamimu?” tanya Samnia.
”Iya, sudah dua bulanan. Maaf, Kila kira rumah papa sudah lama tidak di huni. Jadi Kila tidak singgah di rumah, Kila hanya singgah di toko untuk membeli sesuatu. Nama suami Kila Geovani.” jelas Syakila.
” Kila, Kila tahu gak, kenapa mama mu melarang kalian untuk kembali ke kota ini?” tanya Denis dengan serius.
”Tidak Om, Mama tidak memberitahu kan apa-apa kepada kami. Mama memang melarang kami untuk kesini. Tapi, takdir ku membawaku kembali kesini.” Syakila menatap Denis dengan serius, ”Apa Om tahu mengapa Mama sangat melarang kami untuk kesini?”
Denis dan Samnia saling memandang. Lalu mereka sama-sama memandang Syakila.
”Syakila, kamu berada di kota ini harus hati-hati, jika ada yang bertanya padamu tentang papa mu, dan menanyakan info tentang keluarga mu, jangan kamu menjawabnya langsung. Akan berbahaya bagimu, ka__”
”Mengapa bisa berbahaya, Om?” pangkas Syakila.
"Anak dari almarhum Kevin sedang mencari keberadaan istri dan anak-anak dari Halim, itulah sebabnya mamamu melarang kalian untuk kesini. Itu juga karena Om, Om Anton, dan Om Hamid yang melarang mamamu untuk mengizinkan kalian kesini, meskipun hanya untuk jalan-jalan.” ungkap Denis.
”Kevin? Siapa Kevin? Apa Om tahu sesuatu tentang peristiwa enam tahun silam? Tolong ceritakan pada Syakila, Om!”
”Assalamu 'alaikum,”
Denis, Samnia, dan Syakila teralihkan dengan suara dua anak kecil yang memberi salam.
”Wa 'alaikum salam, Nak.” sahut Samnia, Denis dan Syakila. ”Sudah pulang dari sekolah yah jagoan nya Mama dan Papa.” lanjut Samnia berucap.
Kedua anak kecil itu jalan perlahan mendekati Samnia dan Denis. Ia mencium punggung telapak tangan kedua orang tuanya.
”Iya, Mah. Mah, Rey lapar.” adu Rey dengan mengelus perutnya.
”Roy juga lapar, Mah.” keluh Roy.
”Anak Mama dan Papa sudah pada lapar? Makanan sudah Mama siapkan di atas meja. Kalian berdua sapa Bibi dulu, lalu ganti pakaian dan datanglah ke meja makan.”
Roy dan Rey menurut. Mereka berdua menyapa Syakila dan mencium punggung telapak tangan Syakila. Syakila tersenyum melihat tingkah imut bocah kembar itu.
”Kalian berdua sangat imut,” Syakila mencubit kedua pipi bocah kembar tersebut.
”Bibi, jangan cubit pipiku. Aku tidak suka ada orang lain yang mencubit pipi ku selain Papa dan Mama ku.” ucap Roy dan Rey bersamaan.
__ADS_1
Membuat Syakila tercengang, ia melihat Denis dan Samnia bergantian.
”Roy, Rey, gak sopan Nak bicara begitu pada Bibi. Ayo minta maaf pada Bibi dan ganti baju kalian.”
”Iya Mama,” Roy dan Rey menjulurkan tangan ke depan. Syakila menyambutnya dengan tersenyum.
”Maaf kan Roy, Bibi.”
”Maaf kan Rey, Bibi.”
”Bibi akan maaf kan kalian berdua, jika kalian mencium pipi Bibi.”
”Gak mau,” Rey dan Roy berlarian masuk ke kamar. Syakila terkejut, Samnia dan Denis tersenyum kecut.
”Syakila, maaf kan Rey dan Roy. Mereka berdua tidak suka bila bersentuhan sama orang lain. Selain orang tuanya dan kerabat dekatnya. Bahkan mereka berdua tidak mau bergaul dengan anak perempuan.” jelas Denis.
”Hah, masih kecil saja sudah membatasi diri dengan wanita. Bagaimana besarnya nanti?” ucap Syakila tanpa sadar.
”Iyah, itulah yang kami takutkan, Kila. Dia mengikuti sifat kakeknya dari ku,” ucap Samnia. ”Sudah mending kita makan siang dulu sekarang, nanti baru kita lanjut lagi bicaranya.”
Samnia beranjak berdiri, Syakila dan Denis juga beranjak berdiri. Mereka berjalan ke dapur. Di sana kedua anak kembar Denis sudah duduk di bangkunya. Mereka bertiga juga duduk di bangku masing-masing.
”Syakila, ayok sendok nasinya. Jangan malu-malu.”
Syakila menyendok nasinya. Ia memakan makanannya sambil memikirkan ucapan Denis.
Kevin? Siapa Kevin? Apa dia yang membunuh papa enam tahun lalu? Lalu siapa Gege? Apa Gege yang menyuruh Kevin untuk membunuh papaku. Tapi, apa kesalahan papaku?
.. ..
Sementara di kediaman Albert, Beni sedang mondar mandir di hadapan Geo.
”Beni, berhentilah mondar mandir! Kamu tidak sedang menyetrika, kan?” ketus Geo berucap.
”Geo, bagaimana kamu setenang ini? Sementara istri mu masih di luar sana, yang kita tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang! Apa dia sudah makan atau belum? Aku akan mencari dia!”
Geo terdiam.
Cih, wanita itu pasti sedang bersenang-senang dengan pria yang baru di kenalnya itu. Mengapa aku harus khawatir padanya? Kalau bukan untuk mengurusku, aku tidak sudi di sentuh wanita murahan itu.
”Tidak usah mencarinya, paling dia sedang bersenang-senang dengan pria di luar sana!”
Beni geleng-geleng kepala, ”Terserah kamu, aku mau cari dia kembali ke pasar.”
Beni meraih kunci mobil dari laci. Ia melangkah keluar. Geo menyusul Beni dengan segera.
”Beni, tunggu aku!”
Beni tersenyum senang dalam hatinya. Geo dan Beni kembali ke pasar. Sesampainya di pasar, mereka tidak menemukan sosok Syakila di parkiran.
”Geo, kamu tunggulah disini. Aku akan mencari Syakila ke dalam pasar.”
Geo mengangguk. Beni keluar dari mobil. Ia mencari Syakila di setiap sudut pasar. Tapi ia tidak menemukan atau melihat Syakila di sana. Beni lelah mencari, ia kembali ke mobil dengan wajah sesal dan kusamnya.
Geo sudah bisa menebak dari raut wajah Beni, jika Beni gagal menemukan Syakila. Beni masuk ke mobil.
”Huff,” Beni menghempaskan nafas kasar ke udara sambil menyapu kedua tangannya di wajah. Ia bersandar di sandaran kursi yang di dudukinya. ”Kemana kamu Syakila?”
Sementara Syakila, ia, Samnia dan Denis kembali ke ruang tamu setelah mereka selesai makan. Mereka menghabiskan sisa tehnya.
”Om, bisa antar Syakila pulang di kediaman Albert? Syakila ingin pulang, tapi Syakila takut untuk naik taksi.”
”Hum, Om akan mengantar mu kesana.” sahut Denis. ”Hah, apa tadi yang kamu bilang Kila? Coba ulang!” tiba-tiba Denis terkejut setelah tersadar sesuatu.
”Apa Om?” Syakila menjadi bingung.
”Kamu tadi bilang kediaman Albert?” Syakila mengangguk, ”Kamu anak mantunya Albert dan Rosalina?” kembali Syakila mengangguk.
”Kenapa memangnya?”
”Eh, tidak. Gak nyangka saja padahal kamu anak mantu dari orang terpandang di kota ini.”
”Apa? Orang terpandang di kota ini?” kini Syakila yang terkejut.
Pantas saja, waktu itu dia bisa menghubungi orang kepala kepolisian di kota A sekaligus kepala kepolisian di kota S. Ternyata, mereka punya kedudukan tinggi. Ck orang kaya suka seenaknya. Pantas saja temperamen nya sangat buruk!
”Ayo, Om akan antar kamu pulang.”
Denis beranjak berdiri, Syakila juga berdiri. Syakila berpamitan kepada Samnia, berpamitan kepada kedua anak kembar Denis. Denis mengantar Syakila menggunakan motor.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu pula Beni dan Geo pulang kembali ke rumah.