
Di taman kediaman Sarmi, kota S.
Geo memandang langit yang mulai menampakkan senja. Ia menghela nafas.
Sudah beberapa jam aku duduk di kursi roda ini, aku ingin berpindah dan berbaring di ranjang. Tapi, aku tidak ingin merepotkan mama mertuaku, adik, juga kakak ipar ku.
Ia melihat hapenya. Hardin memperhatikan Geo dari tempat duduknya yang berjarak dua meter dari tempat Geo.
Kenapa kak Geo melihat hapenya terus yah? Apa dia ingin menghubungi kak Syakila tapi ia ragu? Atau apa kak Geo lagi menunggu telfon atau chat dari seseorang?
”Jika kakak ingin menghubungi kak Syakila, jangan ragu kak, telfon aja langsung.” ucapnya.
”Siapa yang ingin menelfon dia?” elak Geo.
Hardin berjalan mendekati Geo, ” Kak, kadang kalau gengsi terlalu kita tinggikan, meski orang itu ada di genggaman kita, dia bisa lepas loh kapan saja dari tangan kita.”
Geo memukul jidat Hardin saat ia berada di depannya, ”Anak kecil, tau apa kamu tentang gengsi? Jangan menggangguku! Apa kamu tidak bosan berada di sini terus mengamati ku? Apa gak ada pekerjaan lain yang menunggu mu?”
”Apa kakak tidak merasa bosan seharian berada di taman ini?”
Hardin mengabaikan pertanyaan Geo, ia membalikkan pertanyaan itu untuk diri Geo sendiri.
”Tidak,” sahut Geo dengan cepat.
”Jadi, aku juga tidak merasa bosan menemani kakak disini.” ucap Hardin di selingi senyum tulusnya.
Geo mengedikan kedua bahunya, ”Terserah mu! Yang penting jangan ganggu aku! Dan jangan banyak bicara dengan ku!”
”Baiklah, aku akan duduk kembali di sana, jika kakak ingin masuk ke rumah, bilang saja, aku akan mengantar kakak.” sahut Hardin sambil berjalan kembali ke tempat duduknya.
Geo tidak menyahuti ucapan Hardin. Ia kembali melihat hapenya.
Wanita itu, bukankah nomorku ada padanya? Mengapa ia tidak menghubungi ku? Apa dia tidak memikirkan ku sedikit pun?
Geo mengirim pesan kepada anak buahnya.
”Apa kalian masih berada di rumah sakit?” Geo.
”Iya, Tuan. Tuan, boleh kah aku meninggalkan nyonya sebentar untuk membeli makanan?” pamit sang anak buah lewat via SMS.
Kening Geo mengerut.
”Kamu belum makan siang? Apa Syakila juga belum makan? Ini sudah jam berapa? Mengapa kamu tidak mengajak Syakila untuk mencari makan?” Geo.
”Maaf, Tuan. Nyonya melarang ku untuk masuk ke dalam ruangan. Nyonya masih tetap berada di posisinya di samping Sardin, ia tidak pernah keluar dari ruangan itu. Orang tua Sardin juga belum datang dari empat jam yang lalu pulang ke rumah.” anak buah Geo.
”Kamu pergilah makan. Setelah orang tua Sardin datang, paksa Syakila untuk kembali pulang. Jika dia menolak mu, jangan ragu untuk menggunakan namaku untuk mengancamnya.” Geo.
”Baik, Tuan!”
Geo hanya membaca saja balasan chat dari anak buahnya itu.
Syakila, apa selera makan mu menghilang di samping orang yang kamu cintai? Kamu tidak menjaga kondisi tubuh mu sendiri! Huft mengapa aku begitu peduli padamu?
Hardin terus memperhatikan Geo.
”Kakak, ada apa? Kenapa kening kakak mengerut? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya penasaran, ia memandang Geo.
”Tidak ada.” sahut Geo singkat.
”Benar tidak ada? Raut wajah kakak selalu berubah-ubah, pasti ada yang kakak pikirkan. Iya kan?”
Geo menghela nafas, ”Jangan sok tahu!”
Mengapa aku seperti ini kepada Syakila? Ini bukan lah diriku, aku tidak pernah tidak berdaya terhadap wanita, meskipun aku tidak dekat dengan perempuan, tapi, bersama mantan ku, mereka tidak pernah membuat ku mengalah seperti ini untuk mereka. Merekalah yang selalu mengalah dan menuruti semua perkataan ku. Mengapa semua tampak berbeda terhadap Syakila?
”Hardin, ayo kita masuk, hari sudah mulai gelap.” ucapnya lagi.
"Ok,” sahut Hardin.
Ia beranjak berdiri, ia mendorong kursi roda Geo.
Huft, akhirnya ia meninggalkan taman ini. Sebenarnya sih, aku bosan duduk disini tanpa di ajak bicara. Syakila, apa kakak gak merasa bosan dengan suami mu yang irit bicara ini? Aku pusing jika seharian penuh bersama dia, dia tidak pernah mengajak orang untuk berbicara dan di ajak bicara pun, dianya marah. Membosankan!
”Apa kamu sedang mencibir ku, Hardin?” tanya Geo.
Hah, kok dia tahu? Apa dia bisa membaca isi hati orang?
”Em, ti..tidak kak. Mana berani!” elak Hardin.
”Sudahlah, kamu sama saja seperti Syakila, suka mencibir orang di dalam hati.”
”Em, maaf, kak.” sahut Hardin dengan pelan. Ia merasa bersalah.
Mereka masuk ke dalam rumah, rumah masih terlihat sepi.
”Kak, aku bawa kakak ke kamar yah.” tawar Hardin.
”Tidak usah, disini saja. Aku akan pergi sendiri ke kamar.”
__ADS_1
Geo mendorong kursi rodanya ke kamar Syakila. Ia masuk dan terus mendorong kursi rodanya ke dispenser, ia mengambil air minum dan meminumnya.
Hardin duduk di kursi sofa. Tidak lama, kakak iparnya datang menemani dirinya, Fatma sedang berada di dapur untuk memasak makan malam bersama Ita dan Yuli juga bersama Endang.
Sarmi keluar dari kamar usai mengerjakan sholat Maghrib. Ia duduk di kursi bergabung dengan anak dan anak mantunya.
”Di mana Geo, Hardin?” tanyanya.
”Kak Geo ada di kamarnya, Mah.”
”Apa Syakila belum pulang?”
”Iya, Mah. Sebentar lagi pasti dia pulang kok, Mah.”
Johansyah dan Hardin tahu jika mama mereka sedang menahan amarah. Terlihat jelas dari raut wajahnya.
Kakak, cepatlah datang! Jangan membuat mama semakin marah padamu.
”Assalamu 'alaikum,” ucap Syakila sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
”wa 'alaikum salam,” sahut Hardin dan Johansyah.
Sarmi berdiri dari duduknya, dengan cepat ia menampar pipi Syakila dengan kuat.
Plak!
”Mama!” Syakila, Hardin, Johansyah sama-sama terkejut.
Mereka sama-sama melihat Sarmi. Geo yang berada di kamar pun terkejut mendengar teriakan Hardin dan Johansyah. Ia mendorong kursi rodanya dengan cepat keluar dari kamar dan pergi ke depan.
”Apa Mama mengajarkan kamu untuk berbuat kurang ajar kepada suami mu?! Mengapa kamu jadi tidak tahu malu begini?!” ucap Sarmi dengan marah.
”Mama!!” teriak Johansyah dan Hardin.
Ketika mereka melihat Sarmi ingin menampar kembali pipi Syakila. Namun, Geo menarik Syakila hingga Syakila terduduk di pangkuannya. Ia melindungi Syakila dari tamparan Sarmi. Hingga Sarmi hanya menampar udara.
”Geo, kamu jangan membelanya!!” bentak Sarmi, ia gemetar karena marah pada Syakila.
Geo mengabaikan ucapan Sarmi, ia memperhatikan wajah Syakila yang menunduk. Ia mengelus pipi Syakila yang memerah, sekaligus menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Geo melihat Sarmi dengan muka datarnya.
”Mama, apa yang Mama lakukan? Mama tidak berhak memarahi istriku!”
”Geo! Jangan membelanya! Dia sudah keterlaluan padamu! Dia masih menganggap dirinya masih sendiri! Dia__”
”Mah, Syakila tidak bersalah, ia pergi dan pulang sesuai dengan izinnya padaku! Aku tidak mempermasalahkan itu, mengapa Mama yang malah emosi terhadap istriku?!” ucap Geo menyela ucapan Sarmi.
”Geo, aku hanya ingin mendidiknya! Dia bukan wanita yang masih sendiri, dia sudah menikah, seharusnya dia lebih mementingkan dan memperhatikan dirimu daripada orang lain!!” sahut Sarmi. Ia masih di sulut emosi, terlebih Geo membelanya.
Sarmi terdiam. Ia tidak berani berkata apa-apa lagi, memang benar apa yang barusan Geo bicarakan. Syakila adalah istrinya, kemanapun dia pergi atas izin suaminya. Dan Syakila telah izin dan sudah mengatakan jam pulangnya kepada Geo, Geo Mengizinkan. Itu memang tidak salah.
Badan Sarmi melemas, ia terduduk di kursi sofa. Hardin dan Johansyah tidak berani membuka suaranya untuk menyela ataupun ingin membela Syakila ataupun Sarmi. Mereka berdua menghela nafas.
”Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Geo pada Syakila.
”Aku, aku tidak apa-apa,” jawab Syakila.
Namun, ia masih menangis, ia berdiri dari pangkuan Geo. Ia duduk di lantai menghadap Sarmi. Sarmi mengacuhkan Syakila, emosinya masih belum mereda.
”Mama, maaf kan Syakila. Syakila sudah membuat Mama marah.”
Sarmi melihat Syakila sejenak, lalu ia memalingkan wajahnya.
”Apa kamu sudah tahu kesalahan mu? Minta maaf lah pada suami mu, bukan padaku!” ucapnya datar.
Trrtrtrrt
Di sela-sela pembicaraan mereka, handphone Syakila berbunyi, Syakila meraih handphonenya. Ia dan Sarmi melihat ke layar handphone Syakila. Tertulis Sardin menelfon.
Sarmi dan Syakila saling memandang.
”Apa Sardin sudah sadar?” tanya Sarmi.
”Waktu Syakila meninggalkan rumah sakit, Sardin belum sadar. Mungkin ini tante Nesa yang ingin bicara.” jawab Syakila dengan pelan.
Syakila mengangkat telfonnya. Namun, Sarmi meraih handphone Syakila dan mengaktifkan loud speakers nya, dan mengembalikan kembali hape Syakila padanya.
”Halo, Kila.” sapa si penelepon.
”Iya, Tante. Ada apa, Tante?”
”Syakila, bisakah kamu datang ke rumah sakit sekarang? Sardin sempat mengigau menyebut nama mu. Tante...Tante ingin kamu datang berbicara padanya, panggil dia untuk kembali. Dia mendengar mu.”
Syakila melihat mamanya. Sarmi menggeleng. Syakila menoleh melihat Geo.
”Syakila, bisakah kamu datang kemari?” ucap Nesa lagi, suaranya bergetar.
Syakila masih terdiam melihat Geo. Geo menghela nafas, ”Jika kamu ingin pergi, pergilah! Aku mengizinkan mu.” ucapnya pelan.
Sarmi menatap tajam Geo, lalu ia melihat Syakila dengan marah. Syakila menunduk melihat raut marah dari Sarmi yang kembali menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
”Tante, maaf, Syakila baru tiba di rumah. Besok, baru Syakila akan datang menjenguk Sardin. Maaf kan Syakila, Tante.” ucap Syakila kemudian menyahuti Nesa.
”Syakila,” pelan Nesa menyebut nama Syakila.
”Sudah lah, Mah. Jangan paksa Syakila jika ia tidak bisa datang malam ini. Yang penting, kehadiran Syakila tadi sudah memancing Sardin untuk kembali bersemangat hidup.”
Terdengar suara papa Sardin di telfon itu.
”Baiklah! Syakila, Tante sangat menantikan kedatangan mu, besok. Tante sudahi telfonnya.”
”Iya, Tante.” sahut Syakila.
Tut tut tut telfon terputus. Syakila berdiri dari duduknya. Ia pergi ke kamar tanpa berpamitan kepada mamanya maupun Geo.
Geo, Sarmi, Hardin, dan Johansyah sama-sama melihat punggung Syakila yang menjauh dari pandangan mereka.
Syakila, aku tahu, kamu sangat ingin pergi ke rumah sakit 'kan, sekarang?
”Mama, makan malam sudah siap.” ucap Yuli. Ia baru datang dari arah dapur.
”Hum, semuanya, mari kita makan malam.” ucap Sarmi.
Ia berdiri dari duduknya, ia berjalan ke arah dapur. Johansyah dan Hardin menyusul di belakang Sarmi. Geo kembali mendorong kursi rodanya menuju kamar. Ia masuk, ia melihat Syakila yang berbaring tengkurap di atas ranjang. Di lihat dari punggungnya, wanita tersebut masih menangis.
Geo mendekati Syakila.
”Asya, kamu belum makan semenjak siang, mari kita makan.”
”Aku tidak lapar, Geo. Kamu pergilah makan.” sahut Syakila tanpa mengubah posisinya.
”Syakila, kamu jangan ke kanak-kanakan begitu! Kamu sudah salah masih ingin merajuk lagi?” ucap Sarmi yang masuk ke kamar Syakila.
Geo terkejut dengan hadirnya Sarmi yang tiba-tiba di kamarnya. Syakila bangun dari tidurnya, ia duduk dan menunduk.
”Apa kamu tahu? Siang tadi Geo tidak selera makan, dan sekarang, kamu membiarkan ia makan tanpa kamu temani? Kemana perasaan mu, Syakila?!” ucap Sarmi lagi.
”Syakila tidak lapar, Mah. Sya__”
”Berhenti bicara! Baru sehari kamu pergi menjenguk Sardin, sikapmu sudah seperti ini! Kamu, Mama melarang mu untuk menemui Sardin! Mama juga melarang mu untuk memegang handphone! Keluar dan pergi makan bersama!!”
”Mama, Mama tidak berhak untuk melarang Syakila!” sahut Syakila dan Geo bersamaan.
Sarmi melihat Syakila dan Geo bergantian dengan wajah datarnya. Ia melihat handphone Syakila yang ada di atas ranjang, di samping Syakila.
Ia meraih handphone Syakila, ”Mama tidak peduli dengan ucapan kalian berdua! Keluar, bawa suami mu makan bersama!” tegasnya.
Sarmi melangkah keluar dengan membawa handphone Syakila di tangannya. Geo mengiba melihat Syakila.
”Ayo kita keluar untuk makan, menurut lah, jika tidka ingin memperburuk suasana.” ucapnya pelan.
Tanpa bersuara Syakila beranjak berdiri, ia mendekati Geo, ia mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar menuju dapur.
Syakila melihat semua keluarga telah berkumpul di meja makan, tinggal dirinya dan Geo yang sedang di tunggu oleh mereka. Syakila meletakkan kursi roda Geo pada tempatnya, dan ia duduk di kursi kosong samping Geo.
Sarmi mulai menyendok makanan untuknya, yang lain menyusul. Syakila mengambilkan makanan untuk Geo. Ia juga mengambil makanan untuknya sendiri. Mereka makan dalam keheningan.
Sesekali Geo dan Sarmi melirik Syakila yang memakan makanannya tanpa berselera, Syakila juga mengambil makanan sedikit. Bahkan sesekali Syakila menghela nafas. Membuat Geo sendiri kehilangan selera makannya. Ia menyudahi makannya. Membuat kening Sarmi mengerut melihat Geo.
”Kenapa gak di habisi makanan mu, Geo?” tanyanya.
”Aku masih agak kenyang, Mah.” jawab Geo.
Geo melihat Syakila yang telah menghabiskan makanannya. Geo menggeser piring makanannya ke hadapan Syakila. Syakila menoleh melihat Geo.
”Kamu habiskan makanan ku.” ucap Geo pada Syakila.
”Tidak, aku sudah kenyang.” tolak Syakila.
”Makanlah, mubazir membuang makanan.” ucap Geo. Ia memaksa Syakila untuk memakan makanannya.
”Aku sudah kenyang! Jangan memaksaku!” sahut Syakila dengan ketus.
”Redakan suaramu! Suami mu berbicara dengan pelan, mengapa kamu menyahutinya dengan kasar?” ucap Sarmi.
Syakila terdiam.
”Mah, jangan ikut campur dalam urusan kami berdua. Mama cukup melihat saja apa yang kami lakukan, dan Mama cukup mendengar saja apa yang kami bicarakan!” ucap Geo sambil melihat Sarmi dengan wajah datar.
Sarmi terdiam. Jika Geo berbicara serius, ia mengeluarkan aura yang menakutkan. Geo mengambil sendok, ia menyendok nasi dan mengarahkannya ke mulut Syakila.
”Ayo buka mulut mu, aku akan menyuapi mu.” ucapnya.
Syakila enggan membuka mulutnya untuk makan, ”Aku benar-benar sudah kenyang, geo.” ucapnya pelan.
”Jika kamu tidak ingin makan dengan cara ini, aku masih ada cara untuk menyuapi mu makan. Tinggal kamu pilih, mau cara ini atau cara lain?”
Syakila melihat Geo.
Cara lain? Cara apa maksudnya?
__ADS_1
”Aku akan makan sendiri.”
Ia merebut sendok itu dari tangan Geo. Geo menolak. Syakila membuka mulutnya, ia menerima suapan dari Geo. Ia merasa malu di suapi Geo di hadapan keluarga.