
Syakila memakaikan pakaian Geo sambil melihat luka-luka kecil yang terukir di tubuhnya itu. Geo memperhatikannya. Ia berdekhem.
”Waktu kamu memandikan ku, pandangan mu tidak begitu. Mengapa sekarang kamu memandang tubuh ku dengan tatapan lapar begitu?”
Syakila memicing melihat Geo. ”Siapa juga yang terpana dengan tubuh mu ini? Aku tidak tergiur sama sekali. Aku hanya melihat luka-luka yang terukir indah di tubuh mu itu.” Syakila membela diri.
”Lalu, bagaimana menurutmu?”
”Menurutku luka-luka itu sudah tidak apa-apa, tidak perlu di obati lagi. Lukanya sudah kering.” sahut Syakila sambil mengancing baju Geo.
”Bukan itu maksud ku.”
Syakila memandang Geo dengan bingung. Karena ia tidak mengerti maksud ucapannya.
”Sudah lah, tidak usah di pikirkan. Kamu mungkin hanya pura-pura tidak mengerti saja dengan ucapan ku.”
Geo melihat sprei nya yang telah terganti. Namun ia tidak ingin mempertanyakan itu. Karena ia sudah mengerti itu dengan sendirinya.
Syakila memutar kedua bola matanya. Ia sungguh tidak mengerti maksud laki-laki di hadapannya itu.
”Aku bersihkan luka di telapak tangan mu dulu.”
Syakila mengambil kotak obat yang dia simpan di laci nakas. Ia meraih tangan Geo. Syakila membuka perban lama. Ia meringis melihat luka di telapak tangan tersebut.
Geo memperhatikan Syakila yang lagi serius membersihkan lukanya.
”Lukamu lumayan besar Geo, jika kamu tidak keberatan, ada beberapa obat yang ku lihat di kotak obat ini. Aku akan mencampurkan obat itu untuk mengobati luka mu, tapi obat itu akan perih saat tersentuh di lukamu ini. Bagaimana? apa kamu mau aku..aku...m....”
Ucapan Syakila terhenti saat ia melihat ke Geo ternyata pria itu sedang memperhatikan dirinya dengan seksama. Ia menunduk.
Sudah berapa lama pria angkuh ini memperhatikan aku? Mengapa dia harus melihat ku seperti itu? Membuat orang tidak konsen saja.
”Ehm,” Geo berdekhem, ”Lakukan saja sesukamu yang penting tidak merugikan ku.” ucap Geo. Ia tahu wanita itu sedang salah tingkah sekarang akibat pandangannya.
”Iya,” sahut Syakila. Ia mengambil dua macam obat lalu ia hancurkan sampai halus, kemudian ia basahi dengan sedikit alkohol.
Setelah itu, ia mengoleskannya pada luka di telapak tangan Geo dengan pelan-pelan.
”Argh!” keluh Geo. Ia menarik sedikit tangannya.
”Sakit?” Geo mengangguk, ”Maaf, aku akan lebih pelan-pelan lagi mengoleskannya.” Geo kembali mengangguk.
Sakit? Luka seperti ini tidak ada apa-apanya untuk ku. Aku hanya ingin melihat bagaimana reaksi mu jika aku kesakitan. Ternyata bisa juga kamu menampakkan wajah panik dan khawatir untuk ku.
Syakila mengoleskan obat itu dengan pelan dan lembut sambil meniupnya untuk mengurangi sedikit rasa perih. Geo terus memperhatikan Syakila. Ia menelan kasar salivanya. Syakila mendengarnya.
”Kamu haus? Aku akan ambilkan air.”
Aku memang haus, tapi bukan ingin minum air. Kamu terus menggoda ku semenjak memandikan ku. Untuk pertama kalinya, kamu melayani ku dengan penuh kelembutan.
”Hum,” sahut Geo.
Syakila berdiri mengambilkan air minum yang di atas nakas. Ia memberikannya pada Geo. Geo mengambil dan meminumnya. Ia memberikan gelas kosong pada Syakila, Syakila menyimpan gelas itu kembali di atas nakas. Dan ia kembali mengoleskan luka pada telapak tangan Geo.
”Sudah selesai, maaf lukamu ini tidak akan ku perban. Biarkan saja begitu.”
”Hum,” sahut Geo.
”Aku ke bawah dulu, apa kamu mau ikut?”
”Hum,” sahut Geo lagi.
”Apa tidak ada jawaban yang lebih mudah untuk ku mengerti selain kata hum, Geo? Kepala ku pusing dengar hum, hum terus dari mulut mu.”
”Kamu sudah mulai untuk berdebat lagi dengan ku, Syakila? Bukankah sudah bagus kita berbicara dengan lembut semenjak semalam. Kamu mau merusaknya sekarang dengan memulai berdebat dengan ku?”
”Aku tidak bermaksud seperti itu.”
”Kamu tidak bermaksud seperti itu? Tapi kamu memang ingin berdebat dengan ku, kan?”
Syakila memandang Geo dengan bingung.
”Sudahlah, terserah kamu saja. Awas, aku masih bisa turun ke bawah tanpa bantuan mu!” ketus Geo.
”Apa kamu mengira aku akan membantu mu untuk turun ke bawah? Tidak!” sahut Syakila dengan ketus pula.
”Dan apa kamu kira aku akan selalu butuh bantuan dari wanita seperti mu? Tidak!” Geo menatap Syakila.
”Dan apa kamu kira aku sudi memberi bantuan kepada pria seperti mu? Tidak!” balas Syakila. Ia juga menatap Geo.
”Kamu!” Syakila dan Geo saling tatap dengan tajam. Geo memutuskan pandangannya. Ia selalu kalah jika sudah melihat pandangan mata Syakila yang begitu tajam dan penuh kebencian saat memandangnya. ”Minggir!”
__ADS_1
Geo mendorong kursi rodanya sendiri hingga ke pintu. Syakila juga melangkah sampai ke pintu. Syakila yang terlebih dahulu membuka pintu. Ia segera keluar dari kamar tanpa memperdulikan Geo.
Geo juga keluar dari kamar tanpa menghiraukan Syakila. Langkah mereka terpisah saat Syakila berbelok arah ke anak tangga. Syakila turun ke bawah menggunakan tangga.
Geo melihat punggung Syakila yang menuruni anak tangga tersebut.
”Apa kakinya tidak lelah menuruni anak tangga yang tinggi itu? Hum, terserah dia mau lakukan apa.”
Ia kembali mendorong kursi rodanya menuju lift untuk turun ke bawah. Syakila menuruni anak tangga dengan sedikit berlari.
Ia sampai di bawah bertepatan dengan Geo juga yang sudah sampai di lantai dasar. Mereka saling memandang sejenak.
”Syakila, Geo, rupanya kalian sudah datang. Mama baru saja mau ke atas untuk membangunkan kalian berdua.”
Rosalina bingung melihat mereka yang berbeda jalur.
Apa Syakila turun menggunakan tangga? Dan Geo menggunakan lift? Apa benar ucapan Beni, jika mereka berdua terus saja bertengkar dan berdebat?
”Em, karena kalian berdua sudah ada disini, ayok kita pergi makan di dapur.”
”Iya Mama,” sahut Syakila.
”Hum,” sahut Geo.
Rosalina mendorong kursi roda Geo, sedangkan Syakila, ia sudah melangkah ke dapur duluan.
”Apa Syakila turun menggunakan tangga?”
”Iya Mama, kenapa?”
”Apa kalian bertengkar?”
”Tidak Mah,”
”Lalu mengapa dia turun menggunakan tangga? Tidak ikut menemani mu menggunakan lift?”
”Syakila lebih suka menggunakan anak tangga untuk turun dan naik ke atas, Mah. Mama jangan terlalu banyak berpikir.” jelas Geo.
Rosalina menghentikan langkahnya mendorong kursi roda Geo. Ia pergi ke hadapan Geo dan duduk menggunakan kakinya menghadap Geo. Membuat Geo terkejut sekaligus bingung.
”Mama, apa yang Mama lakukan? Berdiri Mah, jangan begini.”
”Geo, bisakah kamu dan Syakila tidak saling bertengkar dan berdebat? Syakila akan membantu kesembuhan mu, kamu juga bantu dia dengan tidak mengajaknya bertengkar ataupun berdebat. Apa kamu bisa?” Rosalina menatap Geo dengan penuh harap.
”Kamu sebagai laki-laki bersabarlah dalam menghadapi sifat istrimu. Lama-lama dia akan memahami mu dan mengertikanmu. Tolong berhentilah berdebat yang tidak perlu dengan nya.” Rosalina memotong ucapan Geo.
”Baiklah Mah, Geo lakukan ini untuk Mama.” Geo mengalah. ”Mama berdirilah, jangan ulangi seperti ini lagi. Geo tidak suka Mama duduk berlutut seperti itu di hadapan Geo.”
Rosalina tersenyum, ia berdiri. Ia kembali mendorong kursi roda Geo menuju dapur. Hawa kulit Geo mulai merasakan hawa kulit orang lain saat memasuki dapur.
Ia melihat Beni, Syakila, dan Marlina yang sudah duduk di tempatnya masing-masing.
”Mama, kalian makan lah. Geo akan ke ruang tengah. Setelah kalian makan, baru Geo akan makan sendiri.”
Geo memutar arah kursi rodanya. Ia ingin keluar dari dapur.
”Tapi Nak!”
”Pergilah, kamu memang lelaki pengecut!” ucap Marlina. Ia tahu Geo menghindar dari dirinya.
”Jika kamu tidak ingin mati di tangan ku, jaga sikap mu!” ucap Geo sambil berlalu dari dapur.
Beni dan Rosalina terdiam memandang punggung Geo yang menjauh.
Dia sengaja menghindari Marlina untuk tidak menampakkan keburukannya di hadapan Syakila.
”Kita lanjut makan saja, abaikan Geo.” ucap Rosalina.
”Tidak bisa begitu Tante! Dia harus ikut makan bersama kita!” sahut Marlina. Ia berdiri, melangkah keluar dari dapur.
”Beni, cegah dia! Jika tidak, entah apa yang akan di lakukan Geo padanya!” ucap Rosalina.
Beni berdiri. Ia mengejar Marlina. Ia membawa Marlina kembali ke dapur dengan menarik tangannya. Marlina terus meronta minta di lepaskan.
”Lepaskan aku!”
Beni melepaskan Marlina setelah tiba di dapur.
”Duduk dan makan lah! Tidak usah mengurus Geo!” ucap Beni sambil mendudukan paksa Marlina di kursi.
Dengan kesal Marlina menurut. Ia menyendok makanan dan memakannya tanpa minat. Syakila, Beni, dan Rosalina juga ikut bersendok dan memakan makanannya.
__ADS_1
Usai makan, Syakila mengambil makanan dan menatanya di nampan. Ia membawa makanan itu untuk Geo. Marlina, Beni, dan Rosalina masih tetap di meja makan.
”Marlina, sebaiknya kamu hindari dulu untuk bertemu dan berhadapan dengan Geo. Itu untuk kebaikan mu, Marlina.”
”Tapi Tante, jika di biarkan terus seperti ini, bagaimana Geo akan beradaptasi dengan wanita lainnya?" sahut Marlina dengan ketus.
”Marlina, dengarkan ucapan Tante! Jangan membantah nya! Kami melarang mu untuk berhadapan langsung dengan Geo, untuk kebaikan mu dan kebaikan Geo sendiri!” ucap Beni.
"Terserah Tante saja!” sahut Marlina dengan kesal. Ia bersedekap sambil menyandarkan punggung di sandaran kursi.
.. ..
Syakila menyimpan nampan makanan di atas meja. Ia menghampiri Geo yang sedang melihat arah luar dari jendela.
”Geo, aku sudah bawakan kamu makanan. Kamu makan lah dulu.”
Ia mendorong kursi roda Geo. Syakila duduk di kursi sofa. Geo melihat makanannya di atas meja.
"Kamu bisa suapi aku?”
Syakila mengangguk. Ia mulai menyuapi Geo. Rosalina dan Beni tersenyum senang melihat kedekatan mereka.
"Sebaiknya kita jangan ganggu mereka.” ucap Rosalina. ”Mari kita pergi ke balkon lantai dua.”
Rosalina mengajak Beni dan Marlina untuk ke atas. Marlina dan Beni menurut. Mereka bertiga naik ke lantai dua melewati tangga samping dari dapur.
Geo sudah selesai makan. Syakila membawa nampan yang berisi piring kosong ke dapur. Ia mencuci piring kotor Geo. Setelah itu ia kembali ke ruang tengah untuk melihat Geo.
”Kita jalan-jalan ke halaman depan yuk.” ajak Syakila.
"Hum, jika kamu bersedia mendorong kursi roda ku.”
Syakila mendorong kursi roda Geo ke halaman depan. Ia berhenti di depan taman bunga yang ada di sana. Rosalina, Beni, dan Marlina bisa melihat Geo dan Syakila dari atas balkon.
Semoga hubungan Geo dan Syakila bisa semakin dekat.
”Geo, ada yang ingin aku bicarakan dengan mu.” ucap Syakila seketika.
"Apa?”
”Geo, seperti yang kamu tahu pernikahan kita hanyalah pernikahan yang terpaksa. Dan aku hanyalah pembantu yang berstatus istri di sisimu.” Syakila menjeda ucapannya.
Syakila tidak tahu jika Geo sudah memancarkan wajah tidak bersahabat. Entah kenapa wajahnya berubah murung dan tidak senang mendengar ucapan Syakila.
”Aku akan melakukan tugas ku sebagai pembantu mu dengan baik. Aku akan mengurus dan merawat mu juga berusaha menyembuhkan penyakit mu. Jika kamu sudah sembuh dari sakit mu, maka lepaskan lah aku. Aku tahu kamu tidak mencintai ku, aku juga begitu. Aku tidak mencintai mu, jadi kita bercerai saja setelah kamu sembuh.” Syakila melanjutkan ucapannya.
"Baguslah, tadinya aku akan membuat surat perjanjian pernikahan dengan mu. Tapi sepertinya itu tidak perlu lagi, kamu sudah sangat tahu dengan posisi mu. Aku setuju.” sahut Geo.
Namun, ia menampakkan wajah tidak senang. Entah kenapa hatinya merasa seperti kehilangan sesuatu setelah mengucapkan kata itu.
"Ok," sahut Syakila. Ia tersenyum bahagia. Syakila mendekati bunga mawar merah yang ada di sana. Ia memetiknya dan mencium wanginya. Senyum terukir manis di bibirnya.
Deg!
Jantung Geo berdetak cepat. Apalagi saat melhat senyum manis Syakila yang menampakan lesung pipit di pipi dan di dagunya.
Sungguh manis, cantik.
Syakila memikirkan Sardin saat menghirup aroma mawar tersebut.
Kakak, kamu pasti akan senang kan mendengar ini nanti? Aku akan berusaha untuk secepatnya membuat Geo sembuh. Setelah itu, kita berdua bisa hidup bersama-sama.
”Em, Geo ada hal lain yang masih ingin ku bicarakan dengan mu.” ucap Syakila lagi.
"Apalagi?” sahut Geo dengan kesal.
”Di samping aku merawat mu, aku ingin bekerja. Boleh kan?"
”Bekerja? Kamu bekerja saja mengurus ku dengan baik. Aku akan menggaji mu nanti. Kamu mau meminta gaji berapa sebulan? Aku sanggup untuk menggaji mu!”
Dasar wanita matre. Tidak bisa kah kalau tidak memikirkan uang? Kamu sengaja kan bilang cari kerja untuk memancing ku memberikan uang pada mu? Sialan!
”Tidak Geo, untuk mengurus mu itu kewajiban ku dan juga itu sebagai bentuk pembayaran hutang ayah ku pada keluarga mu. Aku tidak membutuh kan gaji mu. Aku tidak ingin berhutang budi lagi dari keluarga mu. Aku akan mencari pekerjaan di luar sana.”
Geo memicingkan mata memandang Syakila.
Cari kerjaan di luar sana? Kamu ingin mencari pria hidung belang untuk memuaskan mu, Syakila? Wanita sialan! Kamu bukan hanya wanita matre, kamu gak ada bedanya dengan mantan pacar ku dan wanita-wanita murahan lainnya.
”Terserah kamu! Lakukan sesukamu!” ketus Geo menjawab. Ia mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumah meninggalkan Syakila di halaman.
Syakila tersenyum bahagia karena Geo mengizinkannya untuk bekerja. Ia membiarkan Geo masuk ke rumah sendirian. Toh Geo bisa naik ke kamarnya dengan menggunakan lift. Pikir Syakila.
__ADS_1
Dengan adanya kebebasan ini. Aku bisa leluasa untuk mendatangi keluarga ku. Aku juga berkesempatan untuk mencari tahu tentang kejadian enam tahun lalu dari Om Denis dan Om Anton.