
Sarmi yang telah selesai menunaikan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu, dan anak-anaknya juga sudah tertidur nyenyak bersama neneknya, Sarmi kini sedang menyendiri di gode gode sambil memandang cahaya bintang bintang di atas langit juga bulan yang bersinar indah menghiasi langit malam yang gelap gulita.
Apa yang sedang kamu lakukan sekarang, suamiku? Apa kau sudah tertidur lelap disana? Adakah kamu juga memikirkan diriku disini yang merinduimu? batin Sarmi.
"Aku merindukanmu selalu suamiku!"
"Kau tahu, godaan saat jauh darimu sungguh sangat banyak, aku ingin bersandar di dada mu dan mencurahkan rasa gelisah ku ini padamu, suamiku."
"Ku harap ini semua cepat berlalu, jaga dirimu selama disana, aku juga akan menjaga diriku dan anak-anak kita dengan baik disini."
Gumam gumam Sarmi yang sedang memikirkan suaminya di sebrang sana. Sarmi hendak istrahat namun matanya tidak mengizinkan ia untuk tidur. Matanya masih setia memandang cahaya bulan, karena disana tergambar wajah suaminya.
Bagaikan jiwa yang menyatu Halim pun berdiri tegak sambil bersedekap dan bersandar di dinding balkon kamarnya. Ia juga sedang memandang bulan yang bersinar terang di atas sana. Seperti halnya Sarmi, Halim juga melihat wajah cantik istrinya disana.
Apa kamu juga sedang memikirkan diriku, Sarmi? Ku harap itu benar! Aku merindukanmu, istriku. Ingin rasanya ku memeluk dirimu, membelai wajahmu, dan memanjakan mu disisi ku.
batin Halim.
"Biasanya di malam hari aku selalu mendengar keluh kesah mu. Aku rindu akan hal-hal kecil yang sering kita lakukan bersama untuk menguatkan cinta kita, Sarmi."
"Semoga cinta kita tetap terjaga dengan baik, meski kita terpisah oleh jarak dan waktu."
"Ku harap engkau menjaga diri disana, dan jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting yang bisa merusak suasana hatimu, Sarmi."
Gumam gumam Halim. Sudah terlalu lama ia berdiri di balkon kamarnya, sekarang ia memilih untuk pergi istrahat. Agar esok hari ia terbangun dengan segar dan dengan semangat ia menjalani aktivitasnya.
Begitupun Sarmi yang sudah mengantuk, ia juga pergi untuk mengistirahatkan dirinya.
.. ..
Sesuai dugaan Sarmi berita tentang kepergian suaminya di kota A kini tersebar di telinga telinga masyarakat lain di desa, bahkan sampai ke desa sebelah. Rumor memang cepat sekali beredar secepat angin berhembus.
Berita tersebut juga sampai ke telinga Nanda, mantan saudara ipar Sarmi. Lebih tepatnya mantan istri dari saudara Halim.
"Apa benar kabar yang ku dengar ini? Ah kasihan sekali Sarmi jika ini benar, dia akan bernasib sama denganku dulu."
"Besok aku akan menemuinya di kebun untuk membahas dan menanyakan langsung kebenaran berita ini."
gumam gumam Nanda. Ia sangat kecewa sekali dengan mantan suaminya itu. Bagaimana tidak! Tujuan pertamanya ke kota A untuk mencari nafkah, tapi apa yang terjadi setelah setahun lamanya ia pulang dengan membawa seorang perempuan yang sedang hamil dua bulan karena tingkahnya.
Meskipun Ikhsan sudah mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada Nanda, Nanda tidak bisa menerima jika ia akan berbagi suami dengan wanita lain. Ia menolak keinginan suaminya yang ingin tetap mempertahankan dia dan juga menikahi perempuan yang sudah dihamilinya.
Nanda tidak ingin ia semakin kecewa jika tinggal bersama dengan istri keduanya dalam satu atap rumah. Dengan kepahitan dan kekecewaan yang meliputi hati dan pikirannya, Nanda memilih untuk bercerai dengan Ikhsan.
Kedua anak mereka memilih ikut sang mama, dan sekarang Nanda hidup bahagia dengan Askur, suami keduanya. Dari pernikahan dengan suami keduanya, Nanda di karuniai dua anak pula. Askur, suami kedua Nanda sangat menyayangi Nanda juga menyayangi kedua anak Nanda dari hasil pernikahan pertamanya. Begitu juga Nanda ia sangat menyayangi Askur, juga anak Askur dari pernikahan pertamanya. Kini Nanda dan Askur memiliki 5 anak, dua cowok dan tiga cewek.
Lelah memikirkan mantan saudara iparnya, kini Nanda masuk ke dalam rumah dan menemani suaminya yang sudah tertidur. Sebelumnya ia pergi melihat anak-anaknya dulu di kamarnya masing-masing, barulah ia pergi ke kamarnya.
Nanda memperbaiki selimut sang suami yang merosot dari tubuhnya, baru ia mencium hangat kening dan membelai rambut suaminya baru ia berbaring tidur sambil memeluk suami yang sangat di cintainya.
.. ..
__ADS_1
Ciit ciit ciit
Bunyi suara merdu burung burung kecil yang membangunkan semua makhluk yang sedang tertidur pulas di atas permukaan bumi.
Di tambah dengan cahaya mentari pagi yang menyeruak menembus ventilasi ventilasi di setiap rumah-rumah penduduk yang ada di seluruh dunia.
Seperti halnya si gadis kecil yang cantik jelita ini, ia terbangun saat mendengar suara burung burung kecil yang singgah di tanaman bunga di bawah jendelanya.
"Hoam," Syakila menguap, Ia mengucek matanya lalu ia pergi ke sungai untuk mandi, setelah mandi ia bersiap pergi ke sekolah, itulah rutinitas setiap hari yang di lakukan oleh Syakila.
"Hai Syakila, sepertinya kamu kurang semangat hari ini." sapa Arianti saat ia melihat Syakila di pagar masuk sekolah. Mereka jalan beriringan dari pagar sampai ke kelas.
"Hai juga Anti, ia aku kurang semangat, aku tidak tau tiba-tiba saja badanku lemas begini." jawab Syakila.
"Kok bisa? Apa kamu tidak tidur semalam?" tanya Arianti
"Aku juga tidak tahu, mungkin ini karena ada yang sedang memikirkan aku," katanya nenekku, "Kalau badan tiba-tiba lemas begini itu karena ada yang sedang memikirkan dan merindukan kita." ucap Syakila menjelaskan.
"Apa mungkin Sardin yang memikirkan mu, Syakila?" sahut Arianti antusias.
"Ih kamu ini, tidaklah! Dia disana pasti sudah dapat teman baru lagi," ucap Syakila mengelak. "Pasti papaku yang sedang merindukan aku." lanjutnya lagi berucap.
"Oh iya, aku lupa papamu kan tidak berada disini." ucap sesal Arianti.
"Hum," sahut Syakila. "Aku masuk ke kelasku dulu, yah!" lanjutnya lagi. Mereka pun berpisah, Syakila masuk ke kelasnya dan Arianti juga pergi ke kelasnya.
Untuk hari ini Syakila memanglah kurang semangat dalam menghadapi aktivitasnya. Bagaimana tidak, papanya yang sedang berada di kota A sedang merindukannya, juga Sardin yang berada di kota S juga merindukannya.
.. ..
Setelah selesai menyusun barang, Halim duduk pada kursi di dalam untuk menunggu para pelanggan untuk berbelanja.
"Alhamdulillah, selesai juga menyusun barang-barangnya. Huh! Lumayan capek ternyata." keluh Halim pada dirinya sendiri.
Belum lama ia mendudukkan pantatnya dikursi, para pembeli datang untuk membeli. Halim mendekatinya, ia tersenyum kepada pembeli itu.
"Cari apa Mbak?" tanyanya dengan sopan.
Pembeli itu melirik Halim sebentar, lalu matanya kembali meneliti barang yang di carinya pada rak-rak yang tersedia di sana.
"Ini Mas, saya lagi mencari handbody citra botol besar yang mutiara, sama sampo head and shoulder yang renteng, apakah ada?" sahut pembeli itu.
"Oh iya ada Mbak, bentar ya saya ambilkan." Halim langsung pergi ke rak tempat handbody untuk mengambilnya, setelahnya ia pergi ke rak sampo khusus yang renteng untuk mengambil sampo yang di maksud.
"Ini Mbak barangnya," ucap Halim sambil menyerahkan kedua barang tersebut.
"Apa masih ada yang lain? Odol, sikat gigi, parfum misalnya?" tawar Halim pada pembeli itu.
"Oh iya betul hampir lupa," sahut mbaknya. "Ini apa, parfum yang tidak pakai alkohol yah, merek soft, ada?" tanyanya.
"Kebetulan lagi habis Mbak, hanya merek Selema Gomes, Love Sarah, Lovely, Bulgari Aqua aja Mbak adanya." jawab Halim menjelaskan.
__ADS_1
"Ya uda deh, ambil yang Bulgari Aqua aja, tapi yang bukan semprot nya yah, yang di oles aja." sahut si pembeli.
"Iya Mbak, masih ada yang lain?" tawar Halim lagi.
"Itu aja Mas, berapa semuanya?" tanya si pembeli.
"Parfumnya harganya 10.000, handbody harganya 25.000, dan samponya harganya 14.000 satu renteng, jadi total semuanya Rp 49.000 rupiah." jawab Halim.
Si pembeli itu membuka dompetnya dan mengeluarkan selembar uang yang bernilai 50.000 untuk membayar barang yang di ambilnya. Halim menerima uang itu dan mengembalikan 1000 rupiah padanya.
"Terima kasih Mbak," ucap Halim sambil menyerahkan uang kembaliannya.
"Sama-sama, Mas." sahut si pembeli dengan ramah pula. Halim kembali duduk di bangkunya setelah si pembeli itu telah pergi.
Tidak lama dari kepergian pembeli tadi, kini ada beberapa pembeli yang singgah di tokonya untuk mencari barang keperluannya.
Dengan sopan dan ramah Halim melayani mereka satu persatu, hingga akhirnya jam makan siang telah tiba. Halim menutup jualannya menggunakan tenda-tenda dan memalangnya dengan kayu-kayu penjolok. Baru ia pergi makan siang di warung yang tempatnya melewati empat toko dari tokonya.
Setelah selesai makan, Halim kembali ke tokonya, namun ia belum membuka penutup barangnya. Ia pergi ke samping tokonya, memutar kerang air dan mengambil wudhu.
Setelah selsai wudhu, ia menunaikan sholat zhuhur nya.
Setelah selsai sholat, barulah ia kembali membuka penutup tokonya. Ia kembali menjaga jualannya.
.. ..
Syakila yang sudah pulang dari sekolah, ia langsung istrahat di kamarnya tanpa mengganti baju sekolahnya dulu. Badannya masih saja lemas.
"Lebih baik aku bawa tidur, semoga setelah bangun dari tidur nanti badan ku kembali segar." gumamnya.
Kini ia tertidur pulas. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan papanya juga bertemu dengan Sardin.
"Papah, ini benaran Papa?" tanya Syakila tidak percaya.
"Iya ini Papa, Nak! Bagaimana kabarmu? Kamu tidak rindu sama Papa mu, ini?" sahut Halim sambil mencubit hidung mancung Syakila.
"Syakila rindu sama Papa! Kabar Syakila baik-baik saja, Pa!" jawab Syakila. "Bagaimana dengan Papa?" sambungnya lagi bertanya.
Halim tertawa kecil sambil mengelus-elus kepala Syakila. "Papa? Alhamdulillah, Papa baik-baik saja, sayang." sahut Halim dengan tersenyum.
Dalam mimpi itu Halim kembali lagi ke kota A untuk mencari nafkah. Setelah kepergian papanya, Sardin datang menghampiri Syakila yang masih berdiri di depan rumahnya.
"Hai Kila, sedang lihat apa?" tanya Sardin lembut sambil mengikuti pandangan mata Syakila. Tapi sejauh memandang Sardin tidak melihat siapapun, akhirnya ia kembali melihat Syakila.
"Kakak? Kapan kakak datang? Kila tadi melihat kepergian papa," sahut Syakila. "Gimana kabarnya kakak?" tanyanya kemudian.
"Kakak baru datang, kabar kakak baik-baik saja. Kalau kamu?" sahut Sardin.
"Kabar Kila baik-baik juga kak!" jawab Syakila.
"Oh, syukurlah! Kila kakak pergi dulu, yah! Kila tetap jaga diri baik-baik, dan tetap ingat sama janji Kila pada kakak, yah!" ucap Sardin berpamitan sekaligus mengingatkan Syakila pada janjinya. Dan saat Syakila menjawab ucapan Sardin, saat itu juga Syakila terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Oh, ternyata cuma mimpi aku bertemu dengan papa dan kak Sardin." keluh Syakila.