
Siang ini Anton menghampiri Sarmi di kebun. Ia sengaja ke sana untuk membawakan langsung oleh-oleh dari Halim, suaminya untuk mereka.
Anton pergi ke kebun di temani oleh Syakila. Dalam perjalanan ke kebun Syakila selalu bertanya tentang keseharian papanya di kota A tersebut.
Anton dengan suka rela menceritakan keseharian Halim tanpa di lebihkan ataupun di kurangi pada Syakila.
"Kita hampir sampai di kebun, Om." ucap Syakila dengan senang.
"Oh yah, baguslah kalau begitu. Om tidak sabar ingin bertemu mamamu dan adik-adik mu." sahut Anton.
Syakila tersenyum, "Itu, rumah-rumah itu, disitu kebun mamaku, Om. Om, kota A itu besar kah Om?" tanya Syakila ingin tahu.
"Iya, kota A itu besar walau tidak sebesar ibu kota J." sahut Anton, "Syakila mau jalan-jalan ke kota A?" tanyanya.
Syakila sangat antusias menjawab, "Mau Om, mau!"
Anton tersenyum, "Kamu nanti akan kesana, bukan hanya kamu, mamamu, juga adik dan kakak mu juga akan kesana."
"Masa sih, Om? Bagaimana bisa?" sahut Syakila tidak percaya.
Anton yang ingin menjawab pertanyaan polos Syakila. Terabaikan oleh sapaan Sarmi yang menyambut kedatangannya. Dan Syakila ia langsung naik ke rumah menemui nenek dan adiknya.
"Anton," Sarmi bingung dengan kedatangan Anton, karena tidak biasanya.
"Sarmi, maaf aku datang kesini menemui mu." ucap Anton.
"Tidak apa-apa, duduk dulu!" ajak Sarmi.
Anton segera duduk di gode gode yang ada di sana. Sedangkan Sarmi pergi sebentar membuatkan teh untuk Anton beserta kukusan ubi jalar.
"Ibu mana Sar? Anak-anak mu yang lain juga pada kemana?" tanya Anton setelah melihat Sarmi kembali padanya dengan membawa secangkir teh dan piring berisi kukusan ubi jalar.
"Ibu dan anak-anak ada di rumah. Oh ya ada hal apa yang membuat mu datang kesini?" tanya Sarmi, "Dan bagaimana kabarnya suamiku?" tanyanya lagi.
"Kabar suamimu baik-baik saja. Dan tujuanku datang kesini, aku membawakan kiriman ini dari suamimu untuk kalian." jawab Anton menjelaskan kedatangannya sambil menunjuk karton tersebut.
Anton menyodorkan satu karton ukuran sedang pada Sarmi, "Ini sedikit kiriman dari suami mu."
Sarmi menerima kiriman itu dengan senyum manisnya mengucapkan terima kasihnya, "Terima kasih Anton, silahkan di minum dan di cicipi makanannya!"
"Sama-sama," sahut Anton. Ia meraih gelas tehnya dan meminumnya seteguk lalu ia memakan satu kukusan ubi jalarnya.
Sarmi membuka kiriman itu di depan Anton. Pertama ia buka ia melihat sepucuk surat. Ia mengambil dan menyimpannya di sakunya.
Lalu ia mengeluarkan semua pakaian pakaian dari dalam karton. Semua pakaian itu sudah tertera nama penerima. Sarmi memisahkan baju-baju tersebut sesuai nama anaknya, dirinya, dan ibunya. Lalu ia memisahkan pakaian untuk kedua mertuanya dan untuk anak ponakan Halim. Lalu Sarmi pergi ke rumah mengambil tiga bungkusan plastik untuk membungkus pakaian tersebut.
"Anton, mungkin aku akan merepotkan mu lagi." ucap Sarmi dengan sedih.
Anton terkekeh kecil, "Tidak apa-apa, katakan saja apa yang harus ku lakukan."
__ADS_1
Sarmi memberikan tiga bungkus plastik yang berbeda warna itu kepada Anton, "Ini tolong di bawa kembali ke kampung, yang plastik putih itu tolong berikan kepada mertua saya. Dan yang warna hitam tolong berikan kepada Nanda dan plastik kuning kasihkan Ikshan. Dan bilang pada mereka ini kiriman dari Halim." ucap Sarmi menjelaskan.
"Ok, tidak masalah." sahut Anton sambil meraih tiga bungkus plastik itu. Ia kembali meminum teh dan memakan habis kukusan ubi jalarnya.
"Oh, ya kapan kamu akan kembali ke kota A." tanya Sarmi kemudian.
"Sepertinya masih agak lama, aku masih ada urusan disini, nanti lah kalau aku akan kembali ke kota, aku akan memberikan pesan pada Syakila, jika ia pergi ke kebun." jawab Anton. "Memangnya kenapa?" tanyanya.
"Em, itu. Aku berniat untuk menitipkan surat buat suamiku, jika kamu ingin kembali ke kota." sahut Sarmi.
"Hum, jangan sungkan untuk menitipkannya padaku nanti." ucap Anton. Lalu ia meneguk habis tehnya. "Terima kasih atas teh dan ubinya. Aku permisi pulang, sekarang!" pamitnya.
"Iya terima kasih banyak sudah meluangkan waktu mu untuk kesini. Dan hati-hati di jalan, salam buat anak dan istrimu." sahut Sarmi lembut.
"Hum," Anton menjawab singkat. Lalu ia pergi pulang kembali ke kampung. Sepeninggal Anton, Sarmi naik ke rumah membawa baju-baju kiriman dari Halim, suaminya.
"Ibu, anak-anak." panggil Sarmi. "Ibu, ini ada kiriman baju untuk ibu dari mas Halim." ucapnya sambil memberikan baju yang bertuliskan nama sang ibu. Si ibu menerima dan membukanya, ia mencoba tes bajunya. "Bajunya bagus, ibu suka." ucap ibu memuji pemberian Halim.
Sarmi tersenyum senang. Adik-adik Syakila berlari cepat menemui Sarmi, mamanya. Mereka meminta bagiannya.
"Mama baju ku mana?" ucap adik Syakila kompak menanyakan baju untuk mereka.
Sarmi tersenyum, anaknya begitu gembira. "Kalian mau bajunya?" Sarmi ingin menggoda anaknya. "Mau..!" jawab mereka kompak.
"Kalau mau bajunya, cium Mama dong!" Sarmi menunjuk pipi kiri, kanan, dan jidatnya untuk di cium. Dengan antusias anak-anaknya semua berlomba untuk mencium Sarmi, kecuali Syakila.
Papa, terima kasih. Papah tidak melupakan kami, kali ini papa memberikan oleh-oleh. Syakila berharap lain kali papa yang datang sebagai oleh-oleh yang berharga. Syakila rindu papa, papa baik-baik disana, cari uang yang banyak.
batin Syakila.
Setelah Yuli, Ita, Hardin, dan Endang mencium Sarmi, ia langsung membagikan baju kepada mereka sesuai nama mereka dan juga mainannya.
"Hore, ada baju. Ada mainan." ucap mereka senang setelah mendapat baju dan mainannya.
"Kalian tahu, baju dan mainan itu dari siapa?" Sarmi bertanya kepada anaknya. Anaknya terdiam dan menggeleng. Sarmi tersenyum lalu memberitahu mereka jika itu pemberian dari papanya. "Baju-baju itu, dan mainan yang kalian pegang sekarang. Adalah pemberian dari papa kalian."
"Hore! Papa banyak uang, papa belikan mainan."
Sarmi tersenyum melihat kepolosan anaknya. Lalu ia melihat Syakila dan memanggilnya untuk dekat padanya.
"Syakila, mari sini Nak!"
Syakila mendekat. "Ini, baju untuk mu dari papa." ucap Sarmi sambil memberikan baju pada Syakila. Syakila menerima Baju itu dengan tersenyum. "Mama, kalau baju untuk kakak, ada?" tanya Syakila. Sarmi mengangguk dan mengangkat baju kiriman untuk Fatma, "Ini, nanti Syakila yang antar untuk kakak yah." pinta Sarmi. Syakila mengangguk, "Iya Mah."
Syakila mencoba baju barunya, ia sangat senang. Karena papanya memilihkan baju yang pas untuknya dan warnanya juga warna kesukaan Syakila.
Sedangkan Sarmi, ia menyimpan bajunya di rak pakaiannya yang terbuat dari kayu itu. Lalu ia keluar dari rumah menuju gode gode.
Sarmi duduk dan mengambil amplop yang di simpan di sakunya. Sarmi membukakan, ia melihat isi amplop itu berisi secarik kertas dan beberapa lembar uang. Sarmi mengeluarkan suratnya, sedangkan uangnya masih berada di dalam amplop.
__ADS_1
Ia membuka surat dari suaminya itu dan membacanya.
Teruntuk, istriku
Sarmi
Yang tercinta.
Assalamu 'alaikum, istriku.
Datangnya surat ini mewakili ke tidak hadiran ku di sisimu. Bagaimana kabarmu, sayangku? Dan bagaimana dengan kabar ibu, dan anak-anak ku? Papa harap kalian dia sana sehat selalu. Seperti Papa yang selalu sehat disini. Apa kalian merindukan Papa di sisi kalian, istriku? Anakku? Ketahuilah, Papa sangat merindukan kalian, senyum kalian, canda kalian, tawa kalian. Itu semua sangat menyiksa kalbuku.
Istriku, berkat doamu, dan doa dari anak-anakku, sekarang ini Papa sudah punya usah sendiri, Anton mempercayai Papa dan memberikan Papa usaha. Tunggulah Papa dalam waktu tiga bulan ke depan. Papa akan menjemput kalian semua untuk kesini. Kita akan tinggal bersama di kota ini. Jadi, tetaplah doakan Papa, agar Papa bisa secepatnya menjemput kalian.
Istriku, ini Papa memberikan sedikit uang untuk membeli kebutuhan mu dan kebutuhan anak-anak. Maaf, papa baru bisa mengirimkan dua juta untuk Mama. Dan ini Papa membelikan beberapa lembar baju untuk Mama, anak-anak, dan ibu. Juga ada beberapa lembar untuk Mama dan Papa juga untuk anak keponakan ku. Tolong di berikan kepada mereka. Papa sudah menuliskan masing-masing nama pada baju tersebut. Dan ada beberapa mainan untuk Yuli, Ita, Hardin dan Endang. Papa harap, kalian menyukai oleh-oleh pemberian dari Papa ini.
Wassalamu 'alaikum wr.wb.
Tertanda, suamimu
Halim.
Sarmi tersenyum sendiri membaca surat dari suaminya yang tercinta itu. "Kami menyukai apapun pemberianmu, suamiku." gumam Sarmi.
Ia kembali melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Lalu Sarmi masuk kembali ke dalam rumah menghampiri anak dan ibunya.
"Kamu tersenyum sendiri saat membaca kertas, apa itu surat dari suamimu?" tanya si ibu kepada Sarmi setelah ia duduk di samping ibunya memperhatikan anaknya bermain permainan yang di berikan oleh papahnya.
Sarmi menunduk malu, "Iya Bu, itu surat dari mas Halim. Ia menanyakan kabar kita semua disini. Dan mas Halim juga mengirim uang dua juta, uang itu Sarmi akan berikan kepada ibu lima ratus ribu, dan kepada kedua orang tua mas Halim lima ratus ribu juga." sahut Sarmi menjelaskan.
"Alhamdulillah, semoga rezekinya di permudah disana. Aamiin." doa sang ibu untuk kelancaran usaha Halim.
"Aamiin." Sarmi mengamini doa ibunya dengan tersenyum bahagia. Sarmi mengeluarkan uang dari amplop senilai lima ratus ribu dan memberikannya kepada ibunya. "Ini Bu uangnya, ini untuk membeli kebutuhan ibu." Si ibu menerima dan berucap syukur.
"Asya," Sarmi memanggil Syakila yang lagi menemani adiknya bermain. "Iya Mama," sahut Syakila.
"Ini sudah sore, Asya tidak pulang?" ucap Sarmi mengingatkan Syakila.
Syakila menggeleng, "Besok hari Minggu, Mama. Dan Asya sudah mencuci pakaian sekolah tadi sebelum ke sini. Jadi Asya tidur di kebun malam ini." ucapnya tanpa melihat mamanya, ia malah asyik menemani adiknya bermain.
"Oh, tidak apa-apa kalau begitu." sahut Sarmi. "Asya temani adikmu bermain dulu yah, Mama ingin tidur sebentar."
"Iya Mama," sahut Syakila. Sarmi akhirnya beristirahat. Ia memang begitu capek karena pekerjaan rumah yang ia lakukan sendirian.
__ADS_1