
”Sudah selesai, kamu istrahat lah.” ucap Syakila.
”Hum.” sahut Geo.
Syakila pergi ke tempat tidurnya, yaitu sofa. Ia membawa dengan kotak obat dan piring obat di tangannya.
Ia duduk, memangku kakinya yang terluka. Ia membersihkan lukanya sendiri. Setelah di bersihkan, ia mengobati lukanya memakai obat yang di buatnya. Kemudian, ia meminum obat pereda panas. Setelah selesai, ia pergi ke meja nakas, ia menyimpan kotak obat tersebut kembali ke tempatnya. Ia mengabaikan Geo yang melihatnya. Ia berjalan kembali ke sofa.
”Tidurlah di ranjang ku. Ranjang ku sangat luas, terlalu besar untuk ku gunakan sendiri.” ucap Geo tiba-tiba.
Langkah Syakila terhenti. Ia menoleh, dahinya mengerut melihat Geo yang sedang melihatnya.
”Tidak, terima kasih. Aku lebih nyaman tidur di sofa.” sahut Syakila lembut menolak ajakan Geo.
Ia terus berjalan menuju sofa.
Setelah dia tidur di samping ku kemarin malam, aku ingin dia terus tidur di samping ku. Mengapa aku rasakan perasaan ini tiba-tiba? Wanita ini, sangat waspada, dan aku tahu, aku tidak bisa memaksa dia untuk tidur di ranjang ku. Dia menemaniku tidur di ranjang kemarin malam karena aku sakit.
Syakila berbaring di sofa, ia masih belum tertidur, matanya masih memandang langit-langit kamar. Geo memperhatikan Syakila, ia juga belum tertidur.
Apa yang sedang dia pikirkan?
Ia terus memperhatikan Syakila. Perlahan matanya tertutup mengikuti mata Syakila yang terpejam. Mereka berdua tertidur setelah lelah memikirkan sesuatu.
.. ..
Keesokan paginya.
Syakila terbangun lebih awal. Ia sudah rapi dengan pakaian kemeja putih yang di padukan dengan celana jeans polos hitam. Terlihat biasa namun tetap membuatnya elegan.
Ia melihat Geo di ranjang, pria itu masih tertidur. Ia keluar dari kamar menuju dapur untuk membuat sarapan simpel untuk sarapan paginya juga membuatkan sarapan untuk Beni, Geo, dan Rosalina.
Usai membuat sarapan, ia kembali ke kamar. Sementara kakinya masih terasa sakit, ia selalu menggunakan lift untuk ke lantai atas dan dasar. Ia masuk ke kamar, di dekatinya ranjang Geo.
”Geo, ayo bangun!”
Syakila membangunkan Geo lembut dengan menepuk pelan pundaknya. Geo menggeliat, namun tidak membuat pria itu terbangun. Syakila memperhatikan detail wajahnya.
Pria ini sangat rupawan, kulit putih mulus, hidung mancung, bibir tipis dan seksi, matanya saat terpejam terlihat bulu matanya yang panjang. Tapi, sayang jika matanya terbuka, mata elangnya sangat tajam saat melihat orang. Seperti sedang melihat mangsa yang siap di terkam. Dan jika bibir tipis seksinya ini terbuka, kata-katanya sangat pedas juga tajam. Apakah itu sudah menjadi ciri khasnya? Jika saja dia lembut seperti kak Sardin, mungkin saja di antara kita tidak akan saling berdebat dan bertengkar. Eh, kenapa aku malah terpesona dengan pria ini.
”Geo, bangunlah.”
Syakila kembali membangunkan Geo. Perlahan mata Geo terbuka, ia terpana melihat Syakila yang cantik di saat ia membuka matanya, namun, ia mengahalau kekagumannya itu.
”Syakila? Ini jam berapa sih?”
”Ini sudah setengah tujuh. Bangunlah, aku akan memandikan mu, lalu turunlah sarapan.”
”Masih pagi sekali, aku ingin kembali tidur. Jam delapan baru bangunkan aku.” ucap Geo. Ia memejamkan kembali matanya.
”Geo, bangunlah. Aku tidak bisa membangunkan mu di jam segitu, setelah sarapan aku akan pergi keluar.” sahut Syakila.
Geo kembali membuka matanya, ia melihat Syakila dengan lebih seksama.
”Kamu mau pergi kemana? Pantas saja kamu terlihat rapi, ternyata sudah bersiap untuk pergi. Pergilah, jika kamu ingin pergi! Tidak usah pusingkan aku!” sahut Geo. Terdengar ketus.
Ada apa dengan nada bicara pria ini? Apa dia tidak inginkan aku pergi? Bukankah kami sudah sepakati hal ini? Ah, orang ini memang susah di tebak wataknya.
Syakila menarik nafas. Ia berbalik tanpa menyahuti Geo. Ia mengambil tas dan hapenya yang berada di atas sofa. Tanpa melihat Geo, ia keluar dari kamar. Geo menatap punggung Syakila hingga hilang di balik pintu.
”Dasar! Wanita ini.”
Syakila pergi ke dapur, di sana, ia melihat Beni yang sudah memakan sarapannya sendirian.
”Kak Beni, sendirian? Mama?”
”Oh, hai Syakila, kamu sudah bersiap? Em, aku bangun awal untuk membuat sarapan sebelum kita akan pergi. Ternyata, sarapan sudah tersaji di atas meja, aku tahu, pasti kamu yang membuatnya. Tante, sepertinya masih tidur. Makanlah sarapan mu, setelah itu kita pergi.” ucap Beni.
Syakila menarik kursi dan duduk, ia mengambil sarapannya.
”Iya kak, apa sarapannya enak kak? Aku membuat sarapan yang simpel saja.”
Syakila mulai memakan sarapannya.
”Hu um, sarapannya enak. Aku sudah selesai makan, kamu cepatlah makan, aku tunggu kamu disini. Apa Geo belum bangun?”
”Tadi sudah ku bangunin, tapi sepertinya dia masih sangat mengantuk. Jadi, dia ulang tidur.”
”Oh,” singkat Beni menjawab.
Syakila memakan makanannya, Beni memandang Syakila.
__ADS_1
Semakin di pandang wajahnya, semakin membuat hatiku bergetar, Syakila sihir apa yang kamu gunakan? Mengapa aku tergila-gila padamu? Cepatlah kamu sembuhkan Geo, dan terimalah cinta ku yang tulus ini untuk mu.
Syakila tahu dan menyadari itu, tetapi ia berpura-pura tidak tahu jika Beni sedang memandangnya.
Akhir-akhir ini beni selalu baik terhadapku, ia juga sering memperhatikan aku. Sekarang, dia sedang memandang ku, apa ini hanya perasaan ku saja ya, kalau dia menyukai ku? Tidak mungkin kan dia menyukai ku? Aku adalah kakak iparnya.
”Sudah selesai? Tidak usah cuci piring, biar aku saja nanti yang cuci piring kotornya. Rapikan meja makan saja, baru kita pergi.” ucap Beni.
”Iya,”
Syakila membersihkan meja makan. Setelah itu dia dan Beni beranjak dari dapur.
Apa tidak mengapa aku pergi begitu saja? Bagaimana jika mama bangunnya juga terlambat. Dan mama mengira Geo sudah selesai mandi dan sarapan. Padahal orangnya masih setia dengan tidurnya, bisa-bisa mati kelaparan nanti pria itu.
Syakila mengehentikan langkahnya.
”Em, kak Beni, kakak duluan lah ke mobil. Aku kembali ke dapur dulu.”
Beni menghentikan langkahnya. Ia menoleh melihat Syakila dengan bingung.
”Untuk apa? Sudah ku bilang, untuk piring kotor biar aku saja yang cuci nanti. Sudah, gak usah pikirkan dapur lagi, ayo kita berangkat.”
Beni memegang tangan Syakila dan menariknya.
”Tunggu kakak!” ucap Syakila, ia menarik tangannya. ”Tunggu aku di mobil, aku gak cuci piring kok, aku mau ke toilet sebentar.”
”Oh, kirain apa! Ya sudah, aku tunggu kamu di mobil.” sahut Beni.
Ia kembali berjalan keluar rumah. Syakila kembali ke dapur. Ia mengeluarkan pena dan selembar kertas dari tas. Ia mencatat sesuatu di kertas tersebut dan menyimpannya di dalam tudung nasi. Setelah itu, ia bergegas ke depan.
Beni yang melihat Syakila datang, ia segera membuka pintu mobil untuknya. Tanpa di perintahkan lagi, Syakila masuk ke mobil. Beni menjalankan mobilnya dan membawa Syakila ke pasar, lebih tepatnya di rumah Anton.
Geo mendengar deru mobil.
”Wanita itu pasti sudah pergi. Dia gak khawatirkan aku yang tidak berdaya ini.” gumamnya.
Rosalina terbangun mendengar suara deru mobil. Ia melihat ke dinding pukul 7 : 15.
”Siapa yang nyalakan mobil pagi-pagi gini?” gumamnya.
Ia segera bangun dan membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah itu, ia pergi ke dapur. Ia membuka tudung saji, ia melihat secarik kertas di sana. Ia membacanya.
Apa yang dia urus di luar sana? Apa Geo tahu hal ini? Sebaiknya aku lihat Geo dulu di kamarnya sebelum aku sarapan.
Rosalina pergi ke kamar Geo menggunakan lift. Ia menekan kata sandi di depan pintu, pintu terbuka. Rosalina masuk, ia melihat Geo yang masih memejamkan matanya. Ia berjalan mendekatinya.
”Geo, bangun sayang. Ini sudah setengah delapan.”
Geo membuka matanya.
”Mama,”
”Hum, bangunlah, Mama akan memandikan mu.”
Geo mengangguk. Rosalina membantu Geo mandi hingga memakaikan pakaian dan mendudukkannya di kursi roda.
”Sekarang kita turun di bawah untuk sarapan.”
”Iya, Mah.”
Rosalina mendorong kursi roda Geo.
”Apa kamu tahu kemana Syakila pergi sepagi ini, Nak?” tanya Rosalina penasaran.
”Hum, dia akan pergi ke rumah omnya, ada yang dia urus.”
”Apa kamu tahu apa yang sedang di urus nya?” tanya Rosalina lagi.
”Iya, dia ingin mendaftarkan diri menjadi seorang guru di salah satu SD di kota ini. Dia meminta adik kemenakannya untuk mengantar dirinya. Kami sudah membahas ini sebelumnya, Mah.”
Kini mereka telah tiba di dapur. Rosalina memberikan sarapan Geo dan mengambil sarapannya sendiri.
”Makanlah sayang.”
”Iya, Mah.”
Mereka berdua sedang makan.
. .. ..
Setelah menempuh beberapa menit dalam perjalanan, mereka sampai di area pasar. Beni terus menjalankan mobil sampai tepat berada di depan rumah Anton baru ia menghentikan mobil. Syakila memandang Beni dengan bingung.
__ADS_1
”Loh, kak Beni kok tahu tujuan ku kesini?”
”Kan kemarin kamu yang bilang mau kerumahnya om Anton. Makanya aku berhenti disini.” sahut Beni.
”Iya, tapi, aku kan belum kasih tahu kakak dimana alamat rumah om Anton ke kakak. Tapi, kakak berhenti tepat di rumah Om Anton. Apa kakak mengenal om Anton?”
”Em, itu, aku tidak kenal. Cuman, aku pernah sekali kesini dengan Tante Rosalina untuk mencari tahu tentang ayah mu. Dan untuk om mu sendiri aku tahu dari orang yang menjaga toko ayah mu itu.” ungkap Beni.
”Oh, pantas kalian menemukan keberadaan kami di kota S, ternyata kalian mencari informasi tentang tentang kami dari om anton.”
”Iya, kamu turunlah, aku akan menunggu mu disini.”
”Eh, tidak usah menunggu kak, mungkin aku akan lama. Nanti, kalau aku mau pulang baru telfon kakak untuk menjemput.”
”Baiklah, turunlah!” ucap Beni.
”Iya kak, makasih sudah ngantar Syakila.”
Syakila turun dari mobil. Beni melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah. Syakila berjalan masuk ke pekarangan rumah Anton.
Tok tok tok
”Assalamu 'alaikum,”
Syakila mengetik pintu rumah Anton. Pintu rumah terbuka. Serlina tersenyum melihat Syakila.
”Wa 'alaikum salam. Mari masuk Nak,” ajaknya.
Syakila menyalim punggung tangan Serlina, lalu masuk kedalam rumah. Mereka menuju ke ruang keluarga, di sana ada Anton. Anton tersenyum melihat Syakila.
”Duduk, Syakila.”
”Iya, Om.”
Anton melihat istrinya. ”Mama buatkan minuman dan kue untuk Syakila.”
”Em, tidak usah repot-repot Tante, Om. Syakila masih kenyang, sebelum kesini Syakila sudah sarapan.” tolak Syakila.
”Oh, baiklah. Om tidak akan memaksa mu.”
”Em, Om, tujuan Syakila kesini untuk meminta izin mewakili Dian. Syakila__”
”Sudah, sebelum kamu minta izin, Om sudah izinkan. Om sudah tahu, mamamu menelfon Om semalam memberitahukan niat mu. Nanti untuk ke kuburan almarhum ayah mu, Om tidak akan mengizinkan kamu pergi berdua saja dengan Dian. Om dan Om Denis akan ikut berkunjung ke sana.” ucap Anton memangkas ucapan Syakila.
”Oh, syukurlah kalau Om sudah tahu. Om, kalau begitu, Syakila pergi ke rumah Om Denis dulu.”
”Kenapa buru-buru sayang? Tunggu Dian di rumah saja, sekalian kita makan siang disini.” sahut Serlina.
”Em, itu, Syakila merindukan si kembar dan Syakila ingin bermain dengan mereka berdua Om.”
”Em, Syakila, masih ada yang ingin Om bicarakan padamu.” ucap Anton.
”Tentang apa itu, Om?”
”Mengapa kamu harus repot-repot melamar pekerjaan, sementara disini ada toko ayah mu? Kamu tinggal pilih mau menjaga di mana, toko kosmetik, atau toko pecah belah?” ucap Anton dengan serius memandang Syakila.
”Itu.. Syakila, Syakila senang mengajar Om, dan itu juga merupakan cita-cita Syakila, Om.” jelas Syakila.
”Kamu ingin mengajar di sekolah mana? Kelas berapa? Dan mata pelajaran apa, Kila?” tanya Anton lagi.
Syakila memicing melihat Anton.
Apa Sardin mengatakan sesuatu pada Om Anton?
”Em, Om, apa kak Sardin ada menghubungi Om dan mengatakan sesuatu pada Om?”
Anton tertawa kecil, ”Kila... Kila, apa kamu lupa? Bukan kah Om sudah bilang semalam mama mu menghubungi Om. Jadi, ini adalah inisiatif Om sendiri menawarkan bantuan untuk mu, tidak ada sangkut pautnya dengan Sardin.” jelasnya. ”Jadi, bagaimana? Jawab pertanyaan Om yang tadi.”
Syakila menghela nafas.
”Kila tahu Om bisa membantu Syakila dengan mudah untuk mendapatkan pekerjaan di kota ini. Syakila menurut saja, tapi, tunggu setelah Syakila memutuskan di sekolah mana Syakila akan mengajar. Jadi, biarlah Syakila dan Dian berkeliling dulu mengenal sekolah-sekolah SD di kota ini.”
”Baiklah, Om tunggu kabar dari mu. Bukan kah kamu ingin pergi ke rumahnya Om Denis?” Syakila mengangguk. ”Maka pergilah, si kembar pasti sudah pulang dari sekolah.”
”Baik, Om. Terima kasih ya Om, Syakila pergi dulu. Oh ya Om, nanti bilang sama Dian, kalau Syakila menunggunya di rumah Om Denis. Dan untuk berkunjung ke makam ayah, nanti setelah kami pulang dari survei sekolah. Assalamu 'alaikum.”
Syakila mencium punggung telapak tangan Anton dan Serlina.
”Wa 'alaikum salam. Hati-hati di jalan, Nak.” sahut Anton dan Serlina.
Syakila berjalan keluar rumah. Ia pergi ke rumah Denis.
__ADS_1