
Di rumah sakit kota S, tempat Sardin di rawat.
”Bagaimana ini, kak? Semenjak tadi kita melihat sekeliling halaman rumah sakit, kita tidak menemukan kakak Syakila. Apakah aku harus ulang cek di dalam sana keberadaan Syakila lagi, kak?” ucap Hardin bertanya.
”Iya, kamu masuklah cek di dalam sana, mungkin saja Syakila masih berada di ruangan Sardin. Kakak tunggu disini saja bersama kakak ipar mu. Siapa tahu, pas kamu masuk, Syakila malah keluar.” sahut Fatma.
”Ok, kalau seandainya kakak Syakila sudah keluar, kakak cepat-cepat hubungi aku yah.”
”Iya.” sahut Fatma.
Hardin turun dari motor, ia membuka helm dan menaruhnya di kaca spion motornya, kemudian, ia pergi masuk ke dalam rumah sakit. Fatma dan Johansyah tetap berada di atas motor menunggu kedatangan Hardin dan Syakila.
Tidak berselang lama, dari arah belakang motor, mobil Geo datang menghampiri mereka dan Geo menghentikan mobilnya sejajar dengan motor mereka.
Geo menurunkan kaca mobil belakangnya, Johansyah dan Fatma terkejut melihat pemilik mobil itu.
”Gimana kak, apakah Syakila masih berada di dalam sana?” tanyanya pada Fatma.
”Belum tahu, dik ipar. Hardin... sementara masuk di dalam untuk melihatnya. Tunggulah, sebentar lagi dia akan keluar. Semoga saja Syakila masih di sana.” sahut Fatma.
Geo terdiam. Ia tidak berucap apapun lagi. Ia menyalahkan dirinya sendiri sekarang. Kata-kata andai saja, jika saja, terbenam di pikirannya. Andai saja dia menuruti, jika saja ia mendengarkan perkataan dari Ijan, ini semua tidak akan terjadi.
Syakila, kamu di mana? Tahukah kamu, aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Ku mohon kamu baik-baik saja, Asya. Jika tidak, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri yang tidak bisa menjaga dan melindungi mu.
Ia mengedarkan pandangannya ke seisi halaman parkir rumah sakit dari dalam mobil, kiranya, ia dapat melihat sosok Syakila di antara orang yang berlalu lalang itu.
Ia juga mengedarkan pandangannya ke sekitar area kiri dan kanan jalanan. Akan tetapi, sejauh mana ia memandang, ia tidak menemukan sosok wanita yang di carinya itu. Syakila, wanita yang sudah mencuri sebagian hidupnya, wanita yang sudah mulai mengisi relung hatinya. Wanita yang diam-diam ia rindukan dan perhatikan.
Ia menghela nafas kasar sambil menyandarkan kepalanya di punggung kursi. Matanya terpejam, kedua tangannya meremas rambutnya yang hampir menutupi jidatnya itu.
Syakila...
Fatma memperhatikan Geo yang gelisah dan khawatir. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, ia bergumam di dalam hatinya sambil melihat Geo yang seakan frustasi itu.
Apakah dia benar-benar sedang merasa khawatir dan gelisah memikirkan Syakila? Ataukah dia hanya berakting sebagai seorang suami yang bertanggung jawab saja? Jika dia hanya berakting, tidak mungkin raut wajahnya, sikapnya, dan pandangannya memancarkan rasa khawatir dan gelisah seperti itu 'kan? Geo, Syakila, sebenarnya mana yang benar tentang hubungan kalian berdua? Haruskah aku percaya pada penglihatan ku yang sekarang? Ataukah aku percaya pada penglihatan ku yang dulu? Namun, apapun itu, aku sebagai seorang wanita dan seorang kakak bagi kalian berdua, aku hanya bisa berharap dan berdoa pada yang maha kuasa agar hubungan kalian kekal seumur hidup. Semoga kebahagiaan mewarnai rumah tangga kalian berdua.
Fatma memandang arah lain ketika ia melihat Geo membuka matanya. Beberapa menit kemudian, Geo, Fatma, Johansyah, dan Ijan, melihat Hardin yang keluar dari dalam rumah sakit dengan wajah lesu dan kusam.
”Bagaimana? Apakah Syakila ada di dalam sana?” Geo, Fatma, dan Johansyah sama-sama bertanya pada Hardin.
Meskipun mereka tahu dari raut wajah Hardin mengatakan bahwa Syakila tidak ada di sana. Namun, mereka merasa masih ada harapan jika Syakila berada di dalam sana, jadi, mereka tetap bertanya pada Hardin.
Hardin menggeleng lemah, wajahnya tampak sedih sekaligus cemas yang menyatu.
”Kakak, kakak ipar, Syakila...dia tidak ada di dalam, kak. Entahlah di mana dia sekarang! Aku...jadi khawatir padanya, kak.” jawabnya.
Geo, Fatma, Johansyah terdiam. Entahlah mereka akan menyahuti bagaimana pernyataan Hardin itu. Mereka sendiri tidak tahu di mana Syakila berada.
Ijan pun terdiam, ia melirik Geo dari kaca spion di dalam mobil. Muka tuannya itu nampak bingung, cemas, khawatir, dan gelisah.
Tuan, seandainya tuan mengikuti saran ku tadi, tuan tidak akan merasakan kecemasan yang seperti ini. Sekarang, kita tidak tahu di mana keberadaan nyonya, bahkan tuan juga tidak menyuruh penjaga bayangan untuk mengikuti dan menjaga nyonya. Jadi, sekarang malah kita yang mencari nyonya tanpa kejelasan yang benar arah tuju nya. Dimana kita harus mencarinya, tuan?
”Tuan, mengapa tidak mencoba menghubungi kontaknya nyonya saja?” usulnya.
”Jika nomornya bisa di hubungi, akankah kita akan berada disini sekarang?” sahut Geo.
Ijan terdiam, ucapan tuannya memang benar, jika nomornya nyonya bisa di hubungi, maka dia dan Geo juga saudaranya tidak akan mencari dia seperti ini, pikirnya.
Geo melihat Hardin, ia tahu, selama ini Syakila dekat dengan adik laki-laki satu-satunya itu. Jadi, Hardin pasti tahu juga kebiasaan yang sering di lakukan Syakila bila sedang bersedih, atau tempat saat Syakila ingin menyendiri.
__ADS_1
”Hardin, apa kamu tahu di mana saja tempat yang sering di datangi Syakila bila sedang sedih, atau sedang memikirkan sesuatu, gitu?” tanyanya.
Hardin terdiam sejenak untuk berfikir, ”Biasanya kakak pergi di taman yang tidak jauh dari rumah dan di tempat karate nya dulu, the cobra.” jawabnya seketika.
”Kamu yakin hanya dua tempat itu saja yang sering di datangi Syakila? Apa tidak ada tempat lain lagi yang ia datangi untuk sendirian? Dan apa dia tidak mendatangi seseorang untuk meluahkan perasaannya, gitu?”
”Tidak ada kakak. Kakak Syakila tidak pernah percaya pada orang lain untuk berbagi perasaannya, bahkan kepada mamanya sendiri atau pada kami saudaranya. Dia orangnya tertutup, bahkan terhadap kak Sardin, ia tidak terlalu terbuka padanya. Ia sering memendam sesuatunya sendirian. Hanya satu tempat dia curhat kan seluruh hidupnya, yaitu almarhum ayah.” ungkap Hardin.
”Kalau begitu, lebih baik kita pergi ke kuburan ayah mu dulu, siapa tahu Syakila ada di sana.” usul Geo dengan semangat.
Hardin dan Fatma saling memandang. Membuat Geo menjadi bingung. ”Ada apa? Mengapa? Apa ada yang salah?” tanyanya penasaran.
Fatma dan Hardin sama-sama menggeleng, ”Em, itu... kuburannya ayah kami tidak ada disini. Kuburannya ada di kota A, kak. Jadi, tidak mungkin kakak berada di kuburannya ayah sekarang.” sahut Hardin.
Geo terdiam.
”Ayo kita cari Syakila di tempat karate nya dulu.” ajak Fatma kemudian.
”Ok,” sahut Hardin.
Ia sudah menyalakan mesin motornya, begitu juga dengan Johansyah, ia menyalakan motornya.
”Kakak, tahu kan kedua tempat itu? Tempat the cobra dan taman yang tidak jauh dari rumah?” tanya Hardin pada Geo.
”Hum,” singkat Geo menjawab.
”Kita pergi ke tempat karate nya kakak dulu, baru kita pergi ke taman.” ucap Hardin kemudian.
Ia melihat Johansyah, ”Kakak ipar, ikuti aku dari belakang!”
”Hum,” singkat Johansyah menyahut.
Hardin kembali melihat ke arah Geo, ”Kakak, kami berangkat duluan!” pamitnya pada Geo.
”Hum,”
”Kita jalan, Tuan?” tanya Ijan.
”Hum,” sahut Geo.
Ijan menyalakan mesin mobil, dan perlahan ia menjalankan mobil tersebut. Tanpa perlu bertanya, Ijan terus menjalankan mobilnya, ia tahu di mana lokasi tempat karate nyonya nya berada. Karena ia juga adalah mantan murid dari the cobra sebelum akhirnya bekerja sebagai pengawal kepercayaan Geo selain Gung.
Sepanjang perjalanan menuju the cobra, Ijan terus melirik Geo yang selalu menghela nafas kasar.
”Ada apa, Tuan? Mengapa Anda selalu mendesah kan nafas kasar? Apa Anda kepikiran tentang nyonya muda?” tanyanya.
”Ijan, seandainya saja, aku mendengar usulan mu menjemput Syakila di rumah sakit, mungkin sekarang kita sudah tidur nyenyak di rumah. Tidak berkeliaran di luar seperti ini, mencari-cari tanpa arah dan tujuan yang benar.” ucap sesal Geo.
Ijan kembali melirik Geo dari kaca spion, pria itu sedang melihat jalanan dengan tidak berdaya.
Ucapan tuan itu benar adanya. Tuan terlalu menahan ego terlalu tinggi. Tuan mendengar ucapan ku, tuan juga ingin menjemput nyonya muda. Akan tetapi, tuan menjaga harga diri tuan dengan menempati janji yang tuan buat dengan nyonya. Mengapa tuan selemah ini terhadap nyonya muda? Seingat ku, tuan tidak pernah mengalah kepada mantan pacar tuan, dan tuan tidak pernah mencari mantan tuan jika mereka menghilang, terkecuali hilangnya Dawiyah di acara pertunangan tuan dan dirinya. Tetapi, itupun tuan tidak segelisah ini. Apakah tuan sudah mencintai nyonya muda?
”Tuan, semuanya sudah terjadi, tuan tidak perlu menyalahkan diri tuan sendiri. Sekarang yang penting adalah menemukan keberadaan nyonya muda.” ucapnya kemudian.
Geo terdiam. Kini mereka telah tiba di pagar the cobra. Geo mengingat kembali, waktu Syakila dan Sardin berdua di tempat itu. Mereka yang saling jatuh cinta, saling melepas perasaan, menguatkan, dan menghibur satu sama lain yang sama-sama sedang terluka karena hubungan asmara mereka berakhir dan Syakila akan menikah dengan dirinya.
Sial....mengingat itu... membuat ku tidak senang seperti ini. Melihat betapa besarnya cinta Syakila pada Sardin membuat ku marah.
Ijan menghentikan mobilnya di depan pagar tersebut, ia melihat ada dua motor yang terparkir disitu. Ia tahu, itu adalah motor Fatma dan Hardin.
__ADS_1
Ia melihat Fatma, suaminya Fatma, dan Hardin keluar dari dalam the cobra dengan wajah tanpa ekspresi apapun. Ia tahu, jika kedatangan mereka di tempat ini, hasilnya adalah kosong.
”Tuan, itu saudara nyonya muda, mereka baru keluar dari tempat itu. Sepertinya, nyonya muda tidak ada disini.” ucap Ijan lagi.
Geo melihat ke arah ketiga orang itu, ia melihat Hardin menatap ke arahnya, Hardin berjalan menghampiri mereka. Hardin berdiri bersandar di mobil dengan wajah sedihnya.
”Kakak, kakak Syakila tidak ada disini. Kini, harapan tinggal di taman itu. Jika kakak tidak ada di sana...” ucap Hardin
”Kamu jangan berpikiran dan berbicara sembarangan! Syakila adalah wanita yang kuat, tidak ada hal bahaya yang akan menghampirinya. Kalaupun ada, dia bisa mengatasi itu sendirinya. Jadi, kamu tenanglah!” sahut Geo, wajahnya datar.
”Tapi...kakak, ini sudah hampir tengah malam... handphonenya juga masih tidak aktif ku hubungi. Aku juga menghubungi mama dan bertanya apakah Syakila sudah pulang? Tetapi, mama menjawab belum. Kakak, kakak dan Syakila tidak berantem 'kan sebelumnya?”
”Apa? Mengapa aku harus bertengkar dengan kakak mu?” Geo balik bertanya.
”Kakak, aku tahu kakak dan Syakila tidak terlalu akur, meskipun kakak dan kakak Syakila terlihat mesra di hadapan keluarga. Aku bisa membaca tatapan mata Syakila juga raut wajahnya. Jadi, benarkah kakak tidak bertengkar dengan Syakila sebelumnya? Benarkah kakak sendiri yang menyuruh Syakila ke rumah sakit menjenguk Sardin?”
Fatma dan Johansyah terkejut mendengar tuturan Hardin. Johansyah memang tahu akting mesra yang di tujukan Geo dan Syakila dari Fatma, istrinya itu. Tetapi, mereka berdua menutupinya dari keluarga. Akan tetapi mereka tidak menduga jika Hardin menyadari itu.
Bagaimana bisa Hardin yang masih kecil ini menyadari hal itu? Jika Hardin tahu hal ini, tidak menutup kemungkinan mama juga menyadari hal ini. Aku juga ingin mendengar jawaban Geo. Benarkah dia sendiri yang menyuruh Syakila mengunjungi Sardin? Bukankah dia tahu sendiri jika Syakila dan Sardin masih saling mencintai?
Ia melihat percakapan serius antara dua pria itu yang berstatus adik dan adik iparnya.
Geo menghela nafas sambil memejamkan matanya. Hardin memandangnya dengan tajam.
”Jika terjadi sesuatu pada Syakila, aku orang pertama yang akan berurusan dengan mu, Geo! Selama ini aku berdiam diri ketika aku melihat kakak Syakila bersedih karena mu!” ucap Hardin dengan geram sambil menahan amarah.
Geo menatap Hardin dengan tajam.
Anak ini! Dia mengancam ku kah? Kalau saja bukan adik ipar ku, sudah ku bereskan sekarang juga.
Fatma terkejut mendengar dan melihat reaksi Hardin, ” Adik, apa yang kamu katakan? Apa kamu sadar dengan ucapan mu?”
”Aku sangat sadar, kakak!” sahutnya, tatapannya masih saling menatap tajam dengan Geo. ”Ayo kita pergi dari sini kak Fatma.” ucapnya lagi. Ia meninju keras dinding pintu mobil Geo baru ia berbalik berjalan ke arah motornya.
Ijan melirik Geo. Pria itu sedang menatap penuh marah kepada adik iparnya itu, meskipun kini Hardin telah pergi, tuan nya itu masih menatap tajam punggungnya.
Ini hal pertama kali aku melihat tuan mengalah seperti ini. Selama ini, ia tidak pernah di ancam oleh orang, jika berani mengancam, maka Geo tidak akan membiarkan orang itu hidup dengan nyaman.
”Bagaimana, Tuan? Aku akan memberikan dia pelajaran.” ucapnya.
Geo beralih melihat Ijan, ”Apakah kamu tidak ingin hidup lagi?”
Ijan terdiam. Geo menghela nafas, ”Anak muda sialan! Beruntunglah, kau adik dari Syakila.” gumamnya.
Fatma berjalan mendekati mobil Geo, Johansyah, suaminya menghidupkan motor.
”Adik ipar, aku jalan duluan yah. Perkataan Hardin tadi...ja__”
”Tidak apa kak, aku mengerti sikapnya.” sahut Geo menyela ucapan Fatma.
”Terima kasih, adik ipar. Aku pergi dulu. Adik ipar, tahu taman yang di maksud Hardin kan?” tanya Fatma lagi.
Geo mengangguk. Fatma pergi setelah melihat anggukan geo, ia naik motor dan berpegang pada pinggang suaminya. Sebelum mereka berlalu, Johansyah membunyikan klakson motornya, Ijan membalas bunyi klakson tersebut, dengan membunyikan klakson mobil.
”Tuan, kita berangkat sekarang?” tanya Ijan.
”Hum, langsung kerumah!”
”Kita tidak ke__”
__ADS_1
”Tidak!”
Tanpa berkata lagi Ijan langsung menyalakan mobil, perlahan ia menjalankan mobilnya menuju kediaman Sarmi.