Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 96


__ADS_3

Keesokan paginya.


Syakila terbangun lebih awal dari biasanya, yaitu pada pukul 05 : 25 pagi. Senyum manis yang sempurna terukir indah di bibir mungilnya.


”Semoga hari ku menyenangkan hari ini sampai seterusnya.” gumamnya.


Ia melihat ke ranjang Geo. Pria tampan itu masih setia dengan tidurnya. Ia beranjak berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menyikat gigi. Setelah usai, ia keluar dari kamar melangkah menuju ke dapur.


”Aku akan memasak sandwich untuk menu sarapan pagi ini dan membuat jus jeruk untuk minumannya.” gumamnya lagi setelah ia berada di dapur.


Ia mulai menyiapkan bahan untuk membuat sandwich dan beberapa buah jeruk untuk membuat jus. Dalam waktu dua puluh lima menit, ia telah selesai membuat sarapan juga jusnya dalam empat porsi.


Syakila menata makanan dan minuman dengan rapi dan menutupnya dengan tudung saji. Setelah itu ia keluar dari dapur.


Dengan bersenandung kecil ia melangkah dari dapur menuju kamar. Suasana hati yang di rasakan wanita ini sangat bagus.


Ia membuka pintu kamar, pertama yang ia lihat saat masuk adalah pria tampan yang masih berbaring di ranjang. Ia terus melangkah masuk ke dalam kamar dan menuju kamar mandi.


Trrtrtrrt


Ia menoleh melihat hapenya di atas sofa yang terus berdering, saat itu juga Geo terbangun. Syakila melihat ke layar.


Nomor baru? Nomornya siapa ini?


”Halo, disini dengan Syakila, ini dengan siapa yah?” sapa Syakila dengan lembut. Ia mengangkat telfon tersebut.


Geo tidak berniat mencuri dengar pembicaraan Syakila dengan nomor tidak di kenal itu. Ia hanya mendengar ucapan-ucapan Syakila saja yang berbicara dengan penelpon tersebut.


”Ya, halo, ini dari pihak sekolah SD negeri 1. Terkait lamaran kerja dari saudara Syakila, kami dari pihak sekolah menerima lamaran Anda. Silahkan Anda datang pada pukul 08.00 pagi ini untuk memulai mengajar dan sekaligus membicarakan hal yang lainnya.” sahut si penelepon di sebrang sana.


”Oh, iya, baik, saya akan kesana. Terima kasih atas informasinya.” balas Syakila.


”Iya, sama-sama. Kalau begitu, saya akhiri panggilan ini.”


”Iya.”


Panggilan terputus.


”Alhamdulilah, semuanya berjalan lancar. Tidak di sangka begitu langsung di terimanya aku menjadi salah satu guru di SD itu. Kak Sardin, mama, papa, Syakila sangat senang hari ini.” gumam Syakila dengan riang. Senyum terus menghiasi bibirnya.


Ia menyimpan kembali handphone di atas sofa. Ia lanjut melangkah ke kamar mandi. Ia mandi dengan bersenandung kecil. Geo tersenyum kecil melihat tingkah dan mendengar senandung riang Syakila.


Gadis itu, begitu ceria pagi ini. Sepertinya suasana hatinya sangat baik.


Ceklek


Geo berpura-pura tidur ketika mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Syakila telah selesai mandi dan berganti, ia sedang menyisir rambut panjangnya. Setelah usai, ia mendekati ranjang Geo.


Aku akui pria ini memang tampan. Ah, sudahlah ketampanan yang dimilikinya tidak sebanding dengan wajah tampan dari kak Sardin.


”Geo, bangun Geo. Ini sudah pagi.”


Syakila membangunkan Geo dengan menggoyangkan bahunya dengan pelan. Geo yang memang sudah terbangun, ia berpura-pura menggeliat.


”Hum,”


”Ayo bangun!” ucap Syakila lagi.


Perlahan Geo membuka mata. Tatapannya bertemu pandang dengan tatapan Syakila. Syakila tersenyum manis padanya.


Wanita ini ku akui memang cantik, lihatlah senyumnya. Aku tergoda dengan senyum manisnya itu.


”Syakila,” ucapnya.


”Hum, bangunlah, aku akan membantu mu mandi setelah itu kita turun untuk sarapan.”


”Ok,”


Syakila membantu Geo bangun dan ia juga memandikan Geo. Setelah selesai mandi, ia memakaikan pakaian untuk Geo. Usai berganti, Syakila mendorong kursi roda Geo menuju dapur.


Langkah mereka berpapasan dengan langkah Rosalina yang menuju dapur. Rosalina tersenyum melihat dua sejoli itu.


Semoga mereka berdua selalu bersama seperti ini.


”Geo, Syakila.” sapanya.


”Mama,” sahut Syakila dan Geo.


”Hum, ayo kita ke dapur bersama-sama.” ajak Rosalina.


”Iya, Mah.”

__ADS_1


Mereka bertiga melangkah bersama pergi ke ruang dapur. Rosalina dan Syakila duduk di kursinya masing-masing. Geo sendiri duduk di kursi rodanya.


Mereka mengambil sarapannya dan memakan sarapan mereka dengan diam.


”Mama, Geo, mulai hari ini, Syakila akan mengajar di sekolah SD negeri 1. Syakila akan pergi pada jam delapan pagi di setiap harinya.” ucap Syakila.


Mereka telah selesai makan, dan Syakila juga telah membersihkan dapur dan meja makan. Ia kembali duduk di tempatnya, karena Rosalina dan Geo masih berada di meja makan.


”Oh, baguslah, selamat untuk mu.” sahut Geo dengan senyum manisnya.


”Iya, terima kasih, Geo.” balas Syakila dengan tersenyum pula.


”Oh, jadi, kamu kemarin pergi keluar untuk mencari pekerjaan, Syakila. Mengapa kamu tidak bilang ke Mama? Mama bisa merekomendasikan kamu untuk bekerja di perusahaan milik Geo.” ucap Rosalina.


”Eh, iya Mama, maaf, Syakila tidak memberitahukan ini kepada Mama. Mama tidak usah repot-repot, Syakila hanya tertarik untuk mengajar, Syakila tidak tertarik untuk bekerja di perusahaan.”


”Kenapa kamu tidak tertarik bekerja di perusahaan? Kamu tidak tertarik atau tidak ada bakat untuk kesana?” kini Geo yang menyahuti.


”Bukan, bukan begitu, untuk bakat, aku ada. Cuman, dari kecil keinginan ku itu adalah ingin mengajar.” jelas Syakila.


”Oh, begitu. Baiklah, selamat untuk mu, Nak.” sahut Rosalina.


”Iya, Mama. Terima kasih banyak.”


”Untuk pulang perginya ke sekolah tempat mu mengajar, biar supir ku yang akan mengantar dan menjemput mu.” ucap Geo.


”Em, itu..itu tidak perlu, Geo. Terima kasih, aku perginya naik taksi saja, dan pulangnya aku bersama anak kemenakan ku. Aku pulangnya akan singgah ke rumah om ku sebentar. Nanti om ku yang antar aku pulang kerumah.”


”Syakila, kamu wanita yang bersuami. Suamimu hanya mengkhawatirkan kamu saja, makanya ia menawarkan supirnya untuk mengantar dan menjemput mu. Kamu tidak perlu merepotkan keluargamu.” sahut Rosalina.


”Em, baiklah Mah, aku terima tawaran Geo. Tetapi, bolehkan aku singgah di rumah Om ku setelah pulang dari kerja? Soalnya anak kemenakan ku minta aku mengajari mereka secara pribadi.”


”Oh, tidak masalah.” sahut Geo dan Rosalina bersamaan.


”Baiklah, Geo, Syakila, Mama akan pergi ke perusahaan dulu. Geo, Mama akan menempatkan seseorang untuk membantumu di rumah semetara Mama dan istrimu berada di luar.” lanjut Rosalina berucap.


”Hum,” sahut Geo.


Rosalina melangkah keluar dari dapur. Ia pergi ke kamarnya untuk mengambil tas dan jasnya. Setelah itu, ia pergi ke perusahaan di antar oleh supir pribadinya.


”Kamu gimana? Mau kedepan untuk menghirup udara atau kembali ke kamar?” tanya Syakila.


”Oh, aku akan antar kamu kesana.”


”Hum,”


Syakila mengantar Geo kedepan.


”Kamu tunggu disini, aku ke kamar dulu untuk mengambil tasku.”


”Hum,”


Syakila pergi ke kamarnya. Sepertinya, ia sudah ke asyikan naik dan turun kelantai atas menggunakan lift, meskipun sekarang kakinya telah sembuh. Syakila mengambil tasnya, ia keluar dari kamar. Ia melihat jam pukul 07 : 10 pagi.


”Masih ada waktu untuk menikmati secangkir teh hijau. Aku buat teh dulu, sekalian untuk Geo.”


Ia melangkahkan kaki menuju dapur, ia membuat dua cangkir teh hijau. Ia memegangnya dengan hati-hati sampai ke depan. Ia berhenti tepat di depan pintu rumah. Ia sedang mendengar pembicaraan Geo dengan seseorang.


Siapa pria itu? Em, sepertinya itu salah satu anak buah Geo.


”Ingat, antar istri ku dengan hati-hati ke sekolah. Dan tunggu dia sampai waktunya pulang. Keselamatannya ada di tangan mu. Jika ada sesuatu terjadi, maka kamu yang akan menanggungnya. Kamu mengerti?”


”Mengerti, Tuan.”


”Bagus, setengah jam lagi siapkan mobilnya. Kamu pergilah!”


”Baik, Tuan.”


Hati Syakila jadi tersentuh mendengar pembicaraan mereka.


Hah, apa ini tidak berlebihan? Geo, dia mengkhawatirkan aku, benarkah itu? Jadi, dia ingin berubah sikap itu memang benar. Bukan tipuannya belaka.


Ia lanjut melangkah.


”Ehm, Geo, aku buatkan secangkir teh hijau ini untuk mu. Masih ada waktu ku untuk bersantai, jadi aku membuat teh hijau.” ucap Syakila.


Ia menaruh teh hijau milik Geo di hadapannya. Ia duduk berhadapan dengan Geo.


”Terima kasih, sebenarnya aku tidak pernah meminum teh hijau di pagi hari. Aku hanya meminum kopi. Tapi, karena kamu sudah membuatnya, aku akan meminumnya.”


Geo mengambil cangkirnya, ia meminum tehnya seteguk, dua teguk, ia letakkan kembali.

__ADS_1


”Oh, maaf, aku tidak tahu itu. Mulai besok, aku akan membuat kan kopi untuk mu.”


”Tidak usah, sudah lama juga aku tidak meminum kopi. Jika kamu suka meminum teh, saat kamu buat untuk dirimu, tolong buat kan juga untuk ku, kapan pun itu.”


”Oh, baiklah. Oh, iya, Geo, sepulang dari sekolah hari ini, kita akan pergi ke rumah om ku. Apa kamu sudah siap?”


”Tentu saja.”


”Hum, ini sudah hampir jam delapan. Aku akan berangkat dulu. Jika kamu lapar, aku ada menyimpan sandwich di dalam laci atas dapur. Nanti, minta seseorang saja yang ambilkan.”


”Hum, terima kasih. Kamu pergilah, jangan sampai terlambat di hari pertama mu mengajar.”


Pria ini sudah tahu mengucapkan kata terima kasih. Biasanya tidak.


Syakila meminum habis tehnya.


”Hum, aku pergi. Assalamu 'alaikum.”


Ia meraih tangan kanan Geo dan menyium punggung telapak tangannya. Dalam kesempatan itu Geo menahan kepala Syakila. Ia mencium kening Syakila dengan lembut.


Deg


Jantung Syakila berdebar, ia tersipu malu. Geo melepaskan tangannya yang dari kepala Syakila.


”Wa 'alaikum salam.” sahut Geo.


Syakila pergi meninggalkan Geo tanpa menoleh padanya lagi. Ia masuk ke dalam mobil pribadi Geo. Geo tersenyum kecil melihat wajah Syakila yang tersipu malu. Ia masih duduk di teras menikmati tehnya sambil melihat ke layar handphone untuk mengecek perkembangan perusahaannya.


.. ..


Di kota pusat.


”Beni, aku senang sekali kamu datang kesini. Ada hal apa yang membuat mu tiba-tiba datang ke kantor ku?” ucap Antonio.


”Apakah kamu tidak tahu jika proyek yang kamu tangani ini bermasalah?” sahut Beni.


Antonio mengernyit heran.


”Sudahlah, kamu juga tidak pernah serius menjalankan perusahaan mu. Kamu taunya hanya menghamburkan uang dan bersenang-senang saja. Aku datang kesini untuk menyelesaikan sedikit masalah proyek mu dan memberitahukan mu sesuatu.” ucap Beni lagi.


”Oh, sepertinya itu sangat penting? Ada hal apa?” sahut Antonio antusias.


”Perusahaan mu dan perusahaan Geo sudah tidak saling berhubungan lagi. Kerja sama di antara kedua perusahaan ini telah selesai. Aku akan membantu mu untuk menangani proyek mu dan setelah selesai, jika kamu tidak serius dalam mengelola perusahaan mu, aku dan Geo tidak akan ikut campur. Dan kebangkrutan mu tidak akan berpengaruh untuk perusahaan Geo.”


”Apa-apaan ini, Beni? Bagaimana bisa kamu membiarkan kerja sama antara perusahaan ku dan Geo putus? Dan apa ini, kamu mengancam ku? Kakak mu sendiri? Kita ini saudara satu ibu, Beni! Seharusnya kamu membantu ku.” ucap Antonio dengan marah.


”Saudara? Sejak kapan kamu memperlakukan ku seperti saudara? Kamu hanya memperhatikan Marlina yang lahir dari satu ibu dan satu ayah. Sedangkan saya, kamu abaikan, kamu acuhkan. Bahkan kamu melemparkan ku kepada Rosalina memisahkan aku dengan ibu yang melahirkan ku!” sahut Beni dengan marah.


”Rupanya kamu masih mengingat hal itu, bukan kah itu sudah berlalu? Aku juga sudah meminta maaf padamu dan menjelaskan alasanku, mengapa aku memperlakukan mu seperti itu.”


Beni tersenyum kecut, ”Heh, penjelasan? Penjelasan apa? Penjelasan bahwa kamu sakit hati dengan ayah ku, Albert! Aku bahkan curiga jika kamu yang mencelakai ayah ku!”


Antonio berdiri sambil menggebrak meja dengan kuat.


”Brengsek! Jangan asal menuduh! Aku memang membenci Albert tapi aku tidak membunuhnya!” elak Antonio.


”Kenapa kamu marah jika kamu tidak membunuhnya? Aku hanya berasumsi saja, kamu ingat itu kata-kata ku yang barusan. Aku pergi!”


Beni keluar dari ruangan Antonio. Antonio menghamburkan barang-barang yang ada di atas mejanya.


”Kurang ajar! Sekarang dia sudah mulai curiga! Aku harus waspada padanya. Argh, aku sengaja untuk membuat perusahaan ini bangkrut biar perusahaan Geo di sana juga ikut bangkrut. Sekarang, semuanya sia-sia!”


Antonio duduk di kursinya. Beni pergi menemui asisten Antonio yang menangani proyek. Ia mengadakan rapat mendadak untuk membicarakan tentang permasalahan yang mereka hadapi.


Setelah dalam kurang lebih dua jam dia berada di ruang rapat perusahaan Antonio, kini ia keluar dengan keringat yang bercucuran di keningnya. Ia melonggarkan dasinya.


”Huf, panas sekali berada di dalam meskipun ada beberapa buah ase di dalamnya. Mereka semua merepotkan sekali, syukurlah ini masih bisa di tangani.”


Beni keluar dari perusahaan Antonio, ia pergi ke kediaman Albert yang berada di ibu kota tersebut. Rumah sebesar itu hanyalah beberapa pembantu saja yang tinggal di dalamnya untuk mengurus rumah tersebut.


Kini ia telah sampai di rumah Albert, ia masuk dan terus melangkah ke kamarnya. Ia langsung merebahkan dirinya ke atas kasur.


”Sekarang aku akan istrahat dulu, mumpung lagi disini aku akan gunakan hariku untuk bersantai dulu.”


Ia mengeluarkan hape dari saku celana, ia menggeser layar tersebut dan menggulir ke galeri. Ia melihat foto-foto Syakila yang di kirim dari Rosalina waktu ia menyelidiki tentang Syakila. Dan juga foto-foto yang di kirim oleh anak buahnya dalam penyelidikan itu.


”Syakila, bagaimana kabar mu? Baru sehari aku disini, aku sudah merindukan mu. Merindukan senyummu, merindukan suaramu.”


Tanpa sadar ia tertidur.


.. ..

__ADS_1


__ADS_2