
Keesokkan paginya.
Syakila bangun lebih awal, ia pergi ke kamar mandi, mencuci muka dan menyikat giginya. Setelah itu, ia pergi ke dapur.
Ia sedang memasak sarapan pagi untuk dirinya, Beni, Geo, dan Rosalina, mama mantunya. Beberapa menit ia berada di dapur, kini ia telah selesai memasak sarapan dan menatanya di atas meja.
Ia kembali ke kamar, ia melihat Geo masih tertidur. Ia terus melangkah ke arah lemari pakaian, mengambil baju ganti dan handuk. Lalu, ia pergi ke kamar mandi. Ia sedang mandi.
Ia telah selesai mandi dan berganti pakaian. Ia terus melangkah ke meja hias, ia menyisir rambut dan memakai handbody lotion dan memakai parfum. Ia telah bersiap.
Ia melihat Geo masih tidur, ia mendekati ranjang, ”Geo, bangunlah!” ucapnya pelan, membangunkan Geo.
Geo terbangun.
”Pergilah mandi! Aku akan menyiapkan pakaian ganti mu, lalu, turunlah ke dapur untuk sarapan.” ucap Syakila, sambil berjalan ke arah lemari pakaian.
Ia mengambil pakaian ganti Geo, lengkap semua, lalu menaruhnya di atas ranjang, di bawah kaki Geo. ”Aku duluan ke dapur. Cepatlah, kami menunggu mu di sana.” ucapnya.
”Biar cepat, mandikan aku, Asya!” sahut Geo.
”Jangan banyak bicara! Aku pergi dulu!” ucap Syakila. Ia melangkah keluar dari kamar dan pergi ke dapur.
”Gadis itu, wanita bukan sih? Gak bisa bangat romantis gitu!” gumam Geo. Ia bangun dan turun dari ranjang. Ia pergi mengunci pintu kamar dan pergi ke kamar mandi. Ia sedang mandi.
Setelah selesai mandi, ia memakai pakaian yang di siapkan oleh Syakila. Setelah ia bersiap, ia duduk di kursi roda. Ia membuka kunci pintu dan keluar dari kamar. Ia turun ke dapur melalui lift.
Geo sudah terbiasa melakukan aktivitasnya sendiri. Syakila hanya membantu menyiapkan keperluannya saja. Hal itu membuat Rosalina dan Beni sangat senang. Mereka yakin, Geo akan segera sembuh seperti semula.
Di dapur.
Kini Geo telah sampai di dapur. Ia melihat Rosalina, mamanya dan Beni sedang tersenyum padanya. ”Selamat pagi, Mama, Beni.” sapa nya.
”Selamat pagi, sayang!” sahut Rosalina.
”Selamat pagi, Tuan Geo!” sahut Beni.
Syakila sedikit terpukau melihat penampilan Geo, pria itu mengenakan jas, dasi, dan memakai jam tangan, terlihat rupawan. Sementara ia tadi hanya menyiapkan Geo celana panjang hitam dan baju lengan panjang putih. Ia masih melihat pria yang duduk di depannya itu.
”Ada apa Syakila?” tanya Geo.
Syakila mengalihkan pandangannya, ”Ah, em, itu, tidak ada apa-apa.” jawabnya, dengan gugup.
Geo tersenyum, Apakah kamu terpukau dengan penampilan ku sekarang? Syakila, jika kamu tetap menjadi istriku. Kamu tidak akan rugi mendapatkan suami yang tajir, rupawan, dan tampan ini. Cepatlah, kamu mencintaiku. benaknya.
”Ya sudah, sekarang kita makan, jangan sampai kalian terlambat ke tempat kerja di hari pertama kalian bekerja.” ucap Rosalina.
”Siapa yang berani memarahiku di kantor Mah?” tanya Geo, dengan tegas.
Syakila melirik Geo, Sombong sekali, mentang-mentang itu kantor adalah miliknya. Kalau bos nya tepat waktu, para karyawan juga akan tepat waktu kan? Jadilah contoh yang baik untuk para karyawan mu! Jangan semena-mena dan sok berkuasa begitu. benaknya.
”Ah, Mama lupa, kalau kamu bos nya di sana.” ucap Rosalina, sambil tersenyum. ”Ayo, semuanya di makan sarapannya.” ucapnya lagi.
Tanpa bersuara, mereka semua memakan sarapannya. Mereka makan begitu menikmati sarapan yang dimasak oleh Syakila. Hingga makanan semuanya habis tidak tersisa. Kini, mereka semua telah selesai makan.
”Syakila, biar Mama saja yang membersihkan meja makan, kamu pergilah bekerja.” ucap Rosalina, mencegah Syakila yang mengumpulkan piring kotor.
”Mama benar, aku sudah mau berangkat, sekarang. Asya, kamu berangkat nya bersama ku.” sambung Geo.
”Baiklah,” ucap Syakila mengalah.
”Mama, kalau begitu, kami berangkat dulu.” ucap Geo dan Syakila, berpamitan.
”Tante, Beni juga berangkat kerja dulu.” ucap Beni, berpamitan.
”Iya, sayang! Kalian bertiga pergilah bekerja.” sahut Rosalina.
Beni, Syakila, dan Geo pergi dari dapur. Rosalina membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor.
Di perjalanan.
”Kamu mengajarnya jam berapa?” tanya Geo.
”Biasanya jam sembilan. Kenapa?”
__ADS_1
Geo melihat jam tangannya, pukul 07 : 30. ”Ini baru setengah delapan. Bisakah kamu menemani ku sebentar ke kantor ku?” tanyanya.
Syakila terdiam sejenak, Ini adalah hari pertamanya masuk ke kantor. Apakah dia sedikit ragu untuk bertemu dengan para karyawannya di kantor? Apa dia butuh semangat dan dukungan dariku? benaknya.
Ia tersenyum, ”Baiklah, aku ikut kamu ke kantor.” ucapnya, menyetujui.
Geo tersenyum senang, ”Terima kasih!” sahutnya.
Beni tersenyum senang sambil melirik Geo dan Syakila dari kaca spion dalam mobil.
Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar! Sudah lama aku menantikan Geo kembali ke perusahaan untuk memimpin kantornya sendiri. Alhamdulillah, sekarang masanya sudah tiba! Semangat lah, Geo! benaknya.
Beni memutar arah mobil, memasuki area kantor. Ia terus menjalankan mobil di area parkir khusus untuk mobil.
”Apakah ini kantor mu?” tanya Syakila, sambil melihat bangunan tinggi di depannya yang bertuliskan ”GA 'grub” di paling atas dari gedung dua belas tingkat itu.
”Iya, ayo, turun!” jawab Geo.
Syakila segera turun, Beni membantu Geo turun dari mobil. Syakila mendorong kursi roda Geo dan Beni berdiri di samping Geo. Mereka bertiga berjalan memasuki kantor.
”Selamat pagi, Pak!”
”Selamat pagi, Pak!”
”Selamat pagi, Pak Geo, Pak Beni!”
”Selamat pagi Pak Beni. Selamat pagi, Pak Geo. Selamat datang kembali di kantor! Kami siap bekerja di bawah perintah Bapak.” ucap kepala HRD di kantor tersebut.
Semua karyawan Geo yang bekerja di kantor tersebut, berbaris rapi menyambut kedatangan pimpinan mereka, menyambut Geovani Albert.
Syakila, Geo, dan Beni mendengar sapaan dari karyawan kantor, yang tiada henti. Semua karyawan Geo nampak ramah-tamah. Dan mereka seakan tidak takut pada Geo. Namun, juga tidak berani bersikap kurang ajar pada Geo, mereka semua menghargai dan menghormati Geo. Apakah karena Geo pimpinan mereka? Yang menentukan berapa banyak gaji mereka?
Tidak! Geo memang tegas, arogan, tetapi, ia ramah terhadap para karyawannya yang sudah membantunya mengembangkan perusahaan yang di bangunnya dari titik awal. Jika ada karyawan yang tidak betul dalam bekerja atau tidak menepati waktu, maka tetap di hukum dan di tegur oleh Geo.
”Selamat pagi, untuk kalian semua! Bagaimana kabar kalian semua?” ucap Geo, bertanya.
”Alhamdulillah, kabar kami baik semua, Pak.” jawab sang kepala HRD, mewakili semua karyawan dan staf yang bekerja di kantor tersebut.
”Iya, Pak.” sahut semua para karyawan. Setelah itu, mereka membubarkan diri, kembali ke tempat kerjanya masing-masing.
Syakila takjub melihat para karyawan Geo yang senantiasa setia mengabdi di perusahaan Geo. Mereka juga tidak nampak menyindir ataupun menatap Geo dengan tatapan jijik atau tidak suka pada Geo, padahal mereka melihat sendiri, jika bos mereka duduk di kursi roda.
”Ayo, kita ke ruangan ku.” ucap Geo.
”Eh, aku tidak tahu di mana ruangan mu.” sahut Syakila, ia melihat jam dinding besar yang tergantung pada dinding di kantor Geo. Pukul 08 : 30. ”Geo, ini juga sudah jam setengah sembilan, aku harus pergi ke sekolah.” ucapnya.
Geo melihat jam tangannya, benar ucapan Syakila, ”Baiklah, kamu pergilah ke sekolah, supirku akan mengantar mu.” ucapnya.
”Baiklah, terima kasih. Kamu semangat lah dalam bekerja.”
”Iya. Oh, iya, kamu pulangnya jam berapa?”
”Aku mengajar selama dua jam. Jika di sekolah gak ada kerjaan lagi, aku pulang. Tapi, terkadang aku menggantikan jadwal mengajar guru lain yang tidak sempat mengajar. Kenapa?”
”Jika kamu sudah pulang, kamu datang ke kantor ku, kita pulang ke rumah sama-sama.”
”Baiklah, kita lihat saja nanti. Aku pergi dulu.” ucap Syakila, berpamitan.
”Hum,” singkat Geo menjawab.
Syakila melenggang pergi dari kantor Geo. Ia pergi ke sekolah, tempat via mengajar di antar oleh supir Geo yang ada di kantor.
”Orangnya sudah pergi. Ayo, kita ke ruangan mu.” ucap Beni, sambil mendorong kursi roda Geo.
”Hum,” singkat Geo menyahuti.
Mereka pergi ke lantai paling atas di gedung itu, lantai dua belas, menggunakan lift khusus. Kini mereka tiba di lantai dua belas.
Beni mendorong kursi roda Geo ke ruangan CEO. Sepanjang perjalanan ke ruangannya, Geo teringat dengan sikap manja Dawiyah padanya dulu.
Sewaktu mereka masih sepasang kekasih. Setiap hari, Dawiyah selalu berkunjung ke kantor Geo, ia bebas keluar masuk sesukanya di perusahaan itu.
Tangan Geo mengepal. Beni memperhatikan itu, ”Kenapa? Kamu teringat kenangan mu dengan Dawiyah? Kamu masih memikirkan wanita itu?” tanya Beni, penasaran.
__ADS_1
”Tidak usah bahas itu! Darahku bisa memanas, dan di sini, tidak ada Syakila yang bisa menenangkan aku. Aku tidak memikirkan wanita itu. Hanya saja, kenangan itu terngiang sendirinya. Rupanya, aku harus membiasakan seperti ini.”
”Baguslah, aku kira kamu masih memikirkan wanita itu. Oh, iya, aku baru sadari, tadi, di hadapan banyak karyawan wanita yang hadir di situ, kamu terlihat tenang-tenang saja. Apakah karena ada Syakila di samping mu?”
”Kamu ingin terjadi sesuatu padaku?”
”Ah, buka itu! Jangan salah paham! Aku...”
”Aku tahu maksud mu. Aku sudah mulai tenang berhadapan dengan hawa kulit lain, gurunya Syakila memberikan aku obat alergi. Tinggal aku membiasakan diri menerima hawa kulit orang lain. Aku ingin kehidupan mu normal seperti pria pada umumnya.” ucap Geo, mengungkapkan.
”Oh, berarti obat-obatan dari guru nya Syakila sangat hebat!” sahut Beni. Ia membuka pintu ruang CEO, ia mendorong kursi roda Geo masuk ke dalam, ”Selamat bergabung kembali di perusahaan ini. Ruangan mu sudah lama menantikan kehadiran mu. Bukan kah kamu juga merindukan ruang kerja mu ini?” ucapnya.
”Hum, aku ingin mengganti beberapa barang yang ada di sini. Seperti kursi, meja, sofa, dan ranjang tidur ku, semua harus di ganti. Jangan mengganti warna! Warna, motif, dan ukuran tetap sama. Kamu bisa mengurusnya kan?”
Beni terdiam sesaat, Kamu sama saja membunuh ku secara perlahan, Geo! Bagaimana mungkin aku bisa mendapatkan barang dengan warna yang sama, ukuran yang sama, dan motif yang sama seperti itu? benaknya.
”Iya, aku akan mengurusnya, segera!” sahutnya, menyanggupi.
Geo pergi ke mejanya, ia menggeser kursi yang tidak di butuhkannya itu. Ia mulai melihat file-file dan dokumen yang ada di atas meja itu.
Beni memanggil beberapa orang ob pria untuk mengeluarkan kursi, sofa, dan ranjang Geo. Setelah itu, Beni pergi ke mall-mall untuk mencari barang-barang itu di sana.
Geo sangat fokus membaca file yang ada di atas meja. File yang membutuhkan tanda tangannya, ia membacanya dengan teliti baru ia tandatangani.
Jam terus berganti, file dan dokumen belum ia periksa semuanya. Ia melihat ke arah pintu saat mendengar pintu terbuka.
Ia melihat Beni yang datang bersama beberapa orang lain yang membawa masuk barang-barang.
Pertama-tama Beni memasang ranjang di ruang istirahat pribadi Geo. Untuk posisi sofa, kursi dan meja, Geo sendiri yang mengatur posisinya.
Ia merubah tata letak barang-barang dalam ruangannya. Hingga waktu kini menunjukan pukul dua belas siang.
”Geo, kamu ingin makan apa?” tanya Beni.
”Apa saja.” jawab Geo.
”Ok, kalau gitu aku pesan makanan di kantin kantor saja yah.”
”Terserah!”
Beni berjalan ke arah telfon, ia menelpon kantin untuk membawakan dua porsi makanan di ruangan CEO. Setelah menelfon, ia duduk di kursi sofa.
”Kamu belum menyelesaikan memeriksa file-file dan dokumen itu?” tanyanya, sambil melihat file dan dokumen di atas meja, di hadapan Geo.
”Iya, setelah makan nanti, kamu bantu aku untuk memeriksa nya. Yang membutuhkan tandatangan ku, kamu pisahkan. Yang masih dalam tahap revisi, kamu pisahkan dan kembalikan pada yang bertugas di dalamnya.”
Tok tok tok! ”Tuan, makanan sudah siap!”
Beni dan Geo mendengar suara dari pihak kantin, di luar pintu.
”Masuk!” ucap Beni. Ia melihat Geo, ”Ok, makanan sudah datang. Kita makan dulu baru lanjut kerja.” ucapnya lagi.
Makanan telah di tata di atas meja. Karyawan kantin itu pergi dari ruangan Geo. Geo mendorong kursi rodanya sendiri ke meja makan.
”Ayo makan!” ucap Beni, saat Geo hanya melihat makanannya saja. ”Ada apa? Kamu tidak suka? Aku pesankan makanan yang lain?” tanyanya.
Geo menghela nafas, ”Tidak perlu! Kamu makan sajalah dulu.” sahutnya.
”Lalu, kamu? Masa aku makan sendirian!”
”Aku tidak biasa makan tanpa ada Syakila. Aku akan menunggunya datang, baru makan.” ucap Geo.
Beni terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menyahuti Geo. ”Terserahlah! Aku makan duluan.” ucapnya. Ia memakan makanannya.
Geo kembali ke mejanya, ia mengaktifkan cctv di laptopnya. Ia terkejut melihat Syakila yang sedang duduk di ruang informasi.
”Beni, kamu hentikan makan mu dulu! Syakila sudah datang, ia lagi duduk di ruang informasi. Pergi jemput dia!” ucapnya.
”Apa kamu sedang merindukan Syakila, Geo? Jika Syakila sudah sampai di perusahaan, dia akan segera di bawa ke sini oleh sang petugas, bukan menunggu di ruang informasi. Bukan kah kamu sudah memberitahu petugas yang berjaga sebelumnya?” sahut Beni.
”Oh, iya, aku lupa! Ini sudah jam ganti sif. Aku kebawa dulu!” ucapnya lagi.
Beni langsung berdiri, dan bergegas masuk ke lift. Ia menekan angka 1 dalam lift tersebut.
__ADS_1