
Malam hari, di kediaman Albert.
Syakila dan Rosalina sedang memasak, mempersiapkan makan malam di dapur.
Geo sedang duduk di teras rumah sambil menunggu Beni yang belum pulang dari perusahaan.
Geo melihat sebuah mobil berbelok arah masuk ke halaman parkir kediaman Albert. Dia tahu itu Beni.
Dia melihat Beni turun dari mobil. Wajahnya nampak kesal. Beni berjalan ke arahnya.
”Geo? Sedang pikirkan apa duduk sendirian di sini? Mama di mana?” sapa Beni. Dia duduk bersandar di samping Geo.
”Tidak ada. Aku hanya mencari udara segar saja di luar. Mama ada di dapur. Kenapa kamu baru pulang jam segini? Apa ada kerjaan yang rumit?”
”Huh! Jangan bilang lagi, kedua sekretaris ku lebih rumit dari pekerjaan yang berat. Mereka berdua sungguh membuat ku kerepotan. Mereka berdua sama sekali tidak bisa di andalkan. Pekerjaan ringan mengulang pendataan di buat dalam diagram garis saja tidak paham! Kepalaku pusing menghadapi mereka. Apalagi pakaiannya yang begitu seksi, huh....buatlah peraturan baru di perusahaan dalam hal pakaian dan hubungan dalam bekerja.” keluh Beni.
Geo terkekeh. ”Bukankah seru di dampingi dua gadis cantik dan seksi? Nikmatilah pemberian mama. Untuk peraturan itu sudah ada dalam pemikiran ku. Malam ini, aku akan menambah peraturan kerja di perusahaan. Apakah perlu membatasi perasaan di antara para pekerja?” Geo meminta pendapat pada Beni.
”Sudahlah! Biarkan saja kalau ada perasaan suka sesama para pekerja, hanya tekankan saja untuk tidak membawa perasaan pribadi ke kantor. Waktunya kerja, kerja dengan betul. Kalau ingin pacaran, tunggu di jam istirahat dan di sepulang dari kerja, baru pacaran. Itu saja.” tutur Beni berpendapat.
”Ok!” Geo setuju.
”Geo, ngomong-ngomong, aku masih penasaran dengan surat lamaran kerja yang kamu minta padaku buatkan, sama meja dan kursi yang kamu tambahkan di ruangan mu. Untuk siapa kamu siapkan itu?” Beni penasaran.
Geo tersenyum kecil, ”Kamu penasaran?”
Beni mengangguk.
”Sayang ku, Beni, Geo. Ayo masuk makan, makan malam sudah tersedia.” ajak Rosalina.
”Iya, Ma.” Beni dan Geo berdiri dan melangkah masuk ke dalam rumah, mengikuti langkah Rosalina ke dapur.
”Mama. Mama tahu, Beni baru saja mengeluh padaku jika wanita yang Mama siapkan untuk Beni. Mereka sudah membuat kepala anaknya Mama ini, pusing.” adu Geo.
”Hah! Apakah karena itu kamu pulang dari perusahaan selalu terlambat, sayang?” tanya Rosalina pada Beni.
”Hah! Beni pulangnya selalu di jam segini kah setelah hadirnya dua wanita itu? Rupanya kamu benar-benar menikmatinya, Beni.” goda Geo.
”Apaan, sih?” bentak Beni.
Geo hanya terkekeh melihat wajah kesal adiknya itu.
”Iya, Ma. Mereka sangat merepotkan! Beni merasa satu ruangan dengan cewek-cewek di club. Ma, setelah selesai masa percobaan, bolehkan Beni memecat mereka berdua?” tanya Beni.
”Apa di antara mereka berdua tidak ada yang dapat menarik hatimu, selama beberapa minggu ini mereka bekerja bersama mu?” Rosalina menjawab dengan bertanya balik.
”Tidak ada, Ma.” jawab Beni.
”Kalau memang begitu, terserah kalian saja deh. Kalau mau pecat ya pecat. Kalau mempertahankan, ya pertahankan. Mama cuma mencarikan jodoh saja buat kalian. Kalau kalian tidak suka, apa Mama bisa memaksa kalian?” tutur Rosalina.
”Lagian, Mama kira tampang kami begitu jelek kah, sehingga sulit mencari wanita? Makanya Mama sampai membuka audisi cari menantu segala!” omel Beni dan Geo, bersamaan.
”Ya...ya...Mama ngaku salah! Mama tidak akan membuka audisi apapun lagi. Tapi, Beni, dalam tahun ini kamu belum mengenalkan calon mantu Mama, Mama akan tetap mencarikan jodoh buat kamu.” kekeh Rosalina.
”Kok Mama cuma menegaskan padaku saja! Geo?” protes Beni.
”Geo sudah mengenalkan mantu untuk Mama. Tinggal kamu yang belum.” Rosalina membela Geo.
”Hah! Masa sih!” Beni tidak percaya.
Mereka telah memasuki ruang dapur. Kening Beni mengerut melihat wanita yang sedang mencuci tangannya di tempat cuci piring.
”Geo, bukankah kamu sudah kembalikan Ani ke perusahaan? Lalu, siapa dia?” bisik Beni pada Geo.
Geo tidak menjawab. Dia menarik kursi dan duduk. Beni juga menarik kursi dan duduk, sambil terus memperhatikan gadis yang di lihatnya itu. Dari postur tubuh belakangnya, dia nampak familiar. Tetapi, dia tidak ingin salah dalam menebak.
Syakila telah selesai mencuci tangannya dan mengeringkannya di handuk kecil, yang tergantung di samping rak piring. Syakila berbalik dan berjalan ke meja makan.
Beni terkejut melihatnya. Dia beralih melihat Geo. Kedua mulut Beni terbungkam rapat. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk berbicara.
”Hai, kak Beni! Lama tidak bertemu. Bagaimana kabar kakak?” sapa Syakila, bibirnya tersenyum manis melihat Beni.
__ADS_1
”Sya.. Syakila! Ini... benaran kamu? Bukankah kamu dan Sardin sudah menikah? Tapi, kamu..di sini...” Beni masih terkejut dan tidak mengerti dengan situasi ini.
”Syakila, Beni adalah adikku. Kamu jangan panggil dia kakak. Panggil dia adik ipar atau sebut namanya saja!” protes Geo.
”Em...ok!” Syakila menurut.
”Beni, Syakila kembali menikah dengan Geo, setelah Sardin meninggal dunia. Geo sengaja menyembunyikan pernikahannya dari kita.” ungkap Rosalina.
”Sardin telah meninggal! Aku turut berduka cita atas kepergian Sardin, kak ipar.”
Beni tersadar saat Geo menelfonnya, menyuruhnya untuk membersihkan apartemen.
”Oh, pantas saja Geo menyuruh Beni untuk membersihkan apartemen dan mengganti semua perabotan lama. Ternyata, untuk pengantin baru.” goda Beni.
”Diam lah!” Geo membentak Beni. ”Ayo, semua makan saja.” ucapnya lagi. Dia menyendok makanannya.
Rosalina, dan Beni juga menyendok makanan mereka.
”Apartemen?” kening Syakila mengerut melihat Geo. Selama hampir setahun dia menikah dengan Geo, dia tidak pernah mendengar kalau Geo memiliki apartemen.
”Sayang, nanti baru aku jelasin ke kamu. Sekarang kita makan saja. Ok?” ucap Geo.
Syakila mengangguk. Dia mengambil makanan dan mulai memakannya.
”Sayang, kamu harus makan sayur yang banyak untuk menambah nutrisi tubuh mu. Sayur ini juga bagus untuk kesuburan rahim mu. Mama gak sabar ingin menggendong cucu.” Rosalina menaruh sayuran di piring nasi makan Syakila. Senyumnya melebar melihat Syakila.
”Ukhuk...ukhuk!” Syakila tersedak. Wajahnya memerah karena malu.
”Sayang, ini minum dulu.” Geo memberikan minumannya pada Syakila.
Syakila mengambil dan meminumnya. Dia meletakkan lagi gelas di atas meja, setelah merasa lega di kerongkongannya.
”Pelan-pelan saja makannya sayang. Mama juga, jangan menggoda anak mantu Mama terus. Dia ini orang nya pemalu, Mama. Bukan kah Mama sudah tahu itu?” omel Geo.
”Oh, Mama lupa sayang. Maaf!” Rosalina tampak menyesal.
”Geo, Mama gak salah. Mama berkata benar. Syakila saja yang makannya tidak hati-hati.” Syakila membela Rosalina.
Gadis ini jelas-jelas tersedak karena ucapan mama. Tapi, dia malah membela mama. benak Geo.
”Hum, lanjut makan.” ucap Geo.
Syakila melanjutkan makannya. Geo telah selesai makan. Dia masih duduk di tempatnya. Memperhatikan wajah cantik istrinya.
Syakila meneruskan makannya. Dia tahu Geo sedang memperhatikan dirinya saat ini. Untuk itulah dia selalu menunduk memakan makananya.
Beni dan Rosalina telah selesai makan.
”Geo, ke depan yuk. Ada yang ingin aku diskusikan sama kamu.” ajak Beni. Dia telah berdiri dan berjalan keluar dari dapur.
”Sayang, aku ke depan dulu, temani Beni. Kalau sudah selesai, kamu tunggulah aku di kamar. Kamu sudah ingat kata sandinya, kan?”
Syakila mengangguk. Geo berdiri dan keluar dari dapur, dia menyusul Beni.
.. ..
Di depan, di teras rumah.
”Kamu ingin bicarakan apa? Kalau masalah perusahaan, tunggu di perusahaan dulu baru bicarakan dengan ku. Ini di rumah, kita bahas kan urusan pribadi saja.” tutur Geo.
”Sekarang aku sudah tahu untuk siapa meja dan kursi di ruangan mu, juga surat lamaran kosong itu. Kamu yakin ingin menjadikan Syakila sebagai sektretaris mu?”
”Kenapa tidak yakin?” Geo melihat Beni.
”Kamu tidak takut Syakila akan ribut dengan dua wanita yang bekerja di ruangan mu? Lagi pula, apa Syakila punya pengalaman kerja untuk menjadi sekretaris mu? Dia bersekolah dan kuliah mengambil jurusan spd, sesuai jurusannya, dia hanya mengerti tentang pelajaran dan mengajar.” tutur Beni.
”Dia tidak ku tempatkan sebagai sekretaris yang mengurus dokumen atau mencatat harian kerjaku. Dia sebagai asisten pribadiku, yang mengurus diriku saja. Yah, paling tidak kalau ada Syakila di dalam ruangan ku, aku akan tenang dalam bekerja. Dua wanita yang mama berikan, membuat ku tidak konsentrasi bekerja. Mereka selalu saja berusaha menggaet, menggoda, merayuku saja. Kerjanya juga kurang becus! Rasanya ingin ku pecat, tetapi, peraturan perusahaan yang di tetapkan sama almarhum papa melarang ku untuk memecatnya, sebelum tiga bulan masa percobaan berakhir.” raut wajah Geo berubah kesal membicarakan dua wanita yang bekerja dalam ruangannya.
Beni terkekeh. ”Ku kira cuma aku saja yang pusing menghadapi dua wanita yang mama berikan. Ternyata, aku dan kamu tidak jauh berbeda. Yah... nikmati sajalah pemberian mama..” ejeknya.
”Rese loh!” Geo menendang kaki Beni.
__ADS_1
Beni hanya tertawa mengejek Geo. ”Oh, iya. Geo, kamu membelikan apartemen itu untuk Dawiyah dulu. Apa itu adil buat Syakila, jika kalian tinggal di sana? Aku yang selalu mengikuti mu, aku tahu kamu dan Dawiyah banyak mengukir kenangan di sana. Apa kamu tidak akan terganggu, nantinya?”
”Tidak. Aku sudah sembuh total dari penyakit dan trauma ku. Makanya aku menyuruh mu untuk mengganti semua perabotan dan lemari serta ranjang dan kasur, biar aku membangun kenangan baru di apartemen itu bersama Syakila, istriku.”
”Masih ada yang ingin kamu bicarakan dengan ku?” tanya Geo.
”Hum? Tidak ada lagi. Kenapa? Buru-buru ingin menemui kakak ipar? Gak sabar untuk bekerja malam?” goda Beni.
”Beni, setelah ku pikir-pikir. Aku akan menikahkan kamu segera dengan salah satu kandidat yang mama berikan untuk mu.” ucap Geo. Lebih tepatnya itu adalah ancaman buat Beni agar tidak menggoda dirinya lagi.
”Eh! Gak, gak! Masuklah sana!” usir Beni.
”Bagus!” Geo berdiri dari duduknya. Dia masuk ke dalam rumah.
Geo melihat mamanya duduk sendirian di ruang keluarga menonton televisi. Dia menghampiri mamanya. ”Mama belum istirahat?” Geo duduk di samping mamanya.
”Belum mengantuk. Kamu masuk sendiri, di mana Beni?”
”Masih duduk sendirian di teras rumah.” jawab Geo, matanya menatap layar televisi.
”Kamu tidak naik istirahat? Jangan biarkan istrimu sendirian di dalam kamar. Naiklah, temani istrimu.” titah Rosalina.
”Mama, Mama dulu tidak begini sama Geo. Kenapa sekarang Mama berubah?”
”Dulu, Syakila enggan bersentuhan dengan mu. Dan juga dulu kamu masih sakit. Beda dengan sekarang. Kamu dan Syakila saling mencintai dan Syakila tidak menjaga jarak lagi darimu. Mama sangat mengerti dengan perasaan pengantin baru. Pergilah, buatkan Mama cucu.” senyum Rosalina mengambang di sudut bibirnya.
”Jika ada Syakila, Mama jangan menggoda Syakila dengan hal-hal seperti ini.” nasehat Geo.
”Iya. Pergilah, naiklah istirahat.” titah Rosalina.
”Iya, Mama juga istirahat. Jangan kelamaan nonton filmnya. Geo ke kamar dulu.”
Geo pergi ke kamarnya setelah melihat anggukkan kepala mamanya.
Beni masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu. ”Loh, Mama belum istirahat?” dia duduk di samping Rosalina.
”Belum mengantuk. Jika kamu ingin istirahat, istirahatlah. Jangan hiraukan Mama. Mama masih ingin menonton film.” ucap Rosalina.
”Mama nonton saja. Beni akan temani Mama di sini.” Beni pindah tempat duduk di kursi sofa panjang, dia membaringkan dirinya di kursi tersebut.
”Lebih baik, masuk ke kamar saja, sayang!”
”Mama lanjut nonton saja. Beni tetap di sini, menemani Mama.” kekeh Beni.
Rosalina terdiam. Dia membiarkan Beni menemaninya di ruang keluarga.
.. ..
Di kamar Geo.
Geo membuka pintu kamarnya. Dia tidak melihat Syakila di atas tempat tidur. Dia melihat ke kamar mandi saat mendengar suara gemericik air.
Dia membuka bajunya dan berganti pakaian tidur. Dia duduk bersandar di ranjang sambil menunggu Syakila keluar dari kamar mandi.
Geo tersenyum sendiri mengingat betapa arogannya dia dulu memperlakukan Syakila, saat dirinya masih sakit. Dia cuek dan selalu mengabaikan Syakila.
Kadang Geo menghela nafas sesal saat bayangan dirinya yang menindas Syakila berkali-kali, tergambar di matanya.
Namun, Syakila tetap bertahan di sisinya meskipun sikapnya sangat keterlaluan terhadap wanita itu. Dan karena kesabaran dan tekad Syakila, yang menginginkan kesembuhan dirinya, agar Syakila terlepas dari tangannya, membuat Geo perlahan-lahan memperhatikan Syakila. Dia mulai tertarik dengan Syakila. Dari rasa ketertarikan timbullah perasaan yang tidak biasa untuk Syakila. Dia jatuh cinta pada Syakila.
Geo mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dia melihat ke arah kamar mandi. Syakila keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi dan handuk yang dililitkan di kepalanya.
Syakila berjalan ke arah lemari pakaian dan mengambil baju tidur. Dia berjalan kembali ke kamar mandi. Tidak lama kemudian, Syakila kembali keluar dari kamar mandi. Dia telah mengenakan baju tidur yang sama dengan yang di pakai Geo. Handuk yang melilit di kepala Syakila telah di gunakan Syakila untuk mengeringkan rambutnya.
Syakila duduk di meja hiasnya. Dari pantulan cermin, dia melihat Geo yang terus menatapnya. Dia berbalik, mendongak, melihat Geo. ”Ada apa? Kamu tidak pergi mandi?”
”Aku akan pergi mandi, setelah aku mengeringkan rambut mu.” Geo berdiri dan mengambil hairdryer.
”Tidak usah! Aku bisa lakukan sendiri, pergilah mandi.” Syakila mengambil hairdryer dari tangan Geo.
”Baiklah!” Geo mengalah dan menurut. ”Aku pergi mandi dulu.” dia mencium pucuk kepala Syakila sebelum pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Syakila tersenyum melihat punggung Geo. Dia kembali melihat dirinya di cermin. Dia berhias seadanya untuk suaminya tersebut.