Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 85


__ADS_3

Ketika keheningan tercipta dengan diamnya Syakila dan Rosalina, Beni datang ke dapur. Tetapi, ia berhenti tepat di depan pintu dapur saat ia melihat Syakila dan Rosalina sedang duduk berdua di meja makan.


Sepertinya Tante dan Syakila sedang berbicara serius. Aku akan mendengar pembicaraan mereka.


”Syakila, bisa kah kamu berjanji pada Mama untuk tetap berada disisi Geo?” kembali Rosalina bertanya.


Jika aku mengatakan ia, berarti aku harus memenuhi janjiku. Tidak, ini tidak benar. Aku tidak boleh mengikat diriku dengan berjanji lagi pada orang.


Syakila menarik tangannya dari pegangan Rosalina.


Rosalina tercengang. ”Syakila!”


”Mama, maaf kan Syakila jika Syakila bersikap egois. Syakila tidak bisa menjanjikan apa-apa ke Mama.”


”Apa maksudmu, Syakila?”


”Mama, bukankah pernikahan Syakila dan Geo hanya sebagai sarana untuk kesembuhan Geo?”


Rosalina terdiam. Ia menunduk, apa yang di bilang Syakila itu benar, pikir Rosalina.


”Jangan lupa akan perjanjian antara papamu dan suamiku, Syakila.”


”Mama, seperti yang Mama tahu keluargaku mampu untuk membayar hutang papaku. Mama lah yang bersikeras untuk menikahkan Syakila dengan Geo, karena tidak ada wanita yang mau untuk menikah dengan Geo kan Mah?”


”Syakila, jaga bicaramu!”


”Mama, maafkan ucapan Syakila, Syakila tidak bermaksud menghina Geo. Mama, untuk berjanji tetap berada disisi Geo, Syakila tidak dapat menjanjikan itu. Tapi, Syakila bisa berjanji untuk membantu Geo pulih seperti semula. Tapi...tapi tentu saja ada imbalannya.”


”Syakila, apapun yang kamu minta, yang kamu butuhkan, Mama akan menyanggupinya, asalkan kamu bisa membantu Geo dan terus berada di sisi Geo.”


”Mama, Syakila tidak menginginkan uang ataupun harta kekayaan keluarga Albert untuk imbalan. Syakila hanya meminta satu permintaan sebagai imbalannya.”


”Apa itu Syakila?”


”Seperti yang Mama tahu, Geo dan Syakila menikah bukan karena cinta. Syakila menikahi Geo karena perjanjian Syakila dengan almarhum papaku sebelum beliau meninggal. Jadi, jika Geo sudah sembuh, maka pernikahan kami juga selesai, utang papaku juga lunas.”


”Kamu sedang bernegosiasi dengan ku, Syakila?"


”Bukan Mama, dalam pernikahan ini Mama mengambil suatu keuntungan, aku juga ingin mengambil keuntungan itu. Maafkan Syakila jika Syakila egois.”


”Mama tahu pernikahan kalian karena terpaksa, tapi Mama berharap kalian bisa saling mengenal dan jatuh cinta, hingga kalian bersama-sama menjaga rumah tangga kalian. Tetaplah berada disisi Geo, meskipun dia sudah sembuh, Kila. Mama mohon!”


Syakila menggeleng, ”Maaf, Syakila tidak mencintai Geo, Geo juga tidak mencintai Syakila. Jadi, tidak ada alasan untuk tetap menjaga pernikahan yang tidak sehat ini Mama. Bagaimana? Jika Mama setuju Syakila akan membantu Geo, jika tidak... Mama pasti sudah tahu maksud Syakila.”


Sebaiknya aku setuju saja, aku yakin dengan berjalannya waktu Syakila dan Geo pasti sama-sama jatuh cinta dan akan memilih untuk mempertahankan rumah tangga mereka daripada mengakhiri pernikahan.


”Baiklah, Mama setuju. Setelah Geo sembuh, pernikahan kalian juga berakhir.”


Beni yang mendengar pembicaraan mereka berdua tampak murung. Ia tidak setuju dengan itu.


Mengapa dengan begitu mudahnya Tante menyetujui permintaan Syakila?


Syakila tersenyum bahagia, ” Mama janji?”


”Iya, Mama janji!” sahut Rosalina.


”Terima kasih, Mama.” senyum terus terukir di bibir Syakila.


Baguslah, Mama sudah setuju. Aku akan berusaha untuk membuat Geo cepat pulih. Aku sudah tidak sabar untuk kembali, kembali ke kota S dan menikah dengan kak Sardin. Aku akan mengabari ini pada kak Sardin.


”Ehm,” Beni melangkah masuk ke dapur sambil berdekhem.


Rosalina dan Syakila menoleh melihat Beni. Beni tersenyum pada mereka, ia duduk di samping Rosalina.


”Syakila, Tante, apa kalian berdua sudah makan?”


”Iya sudah,” sahut Syakila dan Rosalina. ”Bagaimana keadaan Geo, Beni? Kamu belum makan, makanlah Beni.”


Rosalina membuka tudung saji untuk Beni. Syakila mengambilkan piring dan air cuci tangan juga air minum untuk Beni.


”Geo, baik-baik saja, Tante. Sekarang ia lagi tidur.” sahut Beni sambil menyendok makanan.


”Beni, kamu makanlah! Tante, Syakila kembali ke kamar dulu.”


”Iya, istirahat lah!” sahut Rosalina.


Syakila beranjak keluar dari dapur meninggalkan Beni dan Rosalina.


”Tante, mengapa Tante menyetujui permintaan Syakila? Apa Tante tidak akan takut jika nantinya penyakit Geo akan lebih parah lagi dari ini jika Syakila meninggalkannya nanti? Apalagi di saat Geo sudah mempercayai dan mencintai Syakila.”


”Kamu mendengar pembicaraan kami berdua?” Beni mengangguk sambil mengunyah makanan di mulutnya. ”Tante percaya dengan kebersamaan mereka tiap hari mereka berdua akan saling mengenal satu sama lain dan perasaan cinta akan tumbuh di hati mereka. Jadi, mereka akan memilih untuk mempertahankan pernikahan mereka nantinya. Itulah mengapa Tante mengiyakan ucapan Syakila.” jelas Rosalina.


”Tante, Syakila bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta. Sekarang, hati dan jiwanya di penuhi oleh Sardin, kekasihnya. Tante mengiyakan ucapan Syakila, menurut Beni, Tante sudah memberikan peluang bagi Syakila untuk kembali dengan kekasihnya.”

__ADS_1


Rosalina terdiam. Ia tidak berfikir sampai kesitu.


”Kamu lanjutkan saja makan mu.”


Aku yakin Syakila dan Geo pasti akan saling jatuh cinta.


Beni melanjutkan makannya, setelah selesai makan, ia membersihkan meja makan dan mencuci piring kotornya sendiri.


”Kamu sudah selesai makan, Tante pergi istrahat dulu. Kamu juga istrahat lah.”


”Iya Tante,”


Rosalina dan Beni sama-sama keluar dari dapur dan mereka pergi ke lantai dua ke kamarnya masing-masing.


.. ..


Sesampainya di kamar, Syakila mendekati ranjang Geo. Ia melihat Geo yang sedang tertidur. Setelah melihat Geo, ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Usai membersihkan diri, Syakila berbaring di sofa panjang yang menjadi ranjangnya semenjak menginjak kediaman Albert tersebut. Ia memandang langit-langit kamar sambil memikirkan sesuatu.


Siapa gadis yang berfoto dengan Geo itu yah?


Apa gadis itu Yulia atau Dawiyah?


Syakila memiringkan badannya menghadap ranjang Geo.


Gak nyangka pria seperti dia menjalani hidup yang tidak mudah di waktu kecil, padahal ia punya segalanya.


Bagaimana dia menjalani kehidupannya yang hanya berada di ruang lingkup rumah saja yah?


Sepertinya dia lelaki yang kesepian dan butuh perhatian juga kasih sayang. Kedua orang tuanya adalah orang yang sibuk. Apakah dia di rawat oleh art di rumah ini? Tapi, semenjak aku masuk di rumah ini...aku tidak melihat ada art disini.


Eh, tunggu! Mengapa aku memikirkan pria angkuh itu?


”Ugh,”


Syakila bangun dari baringnya dan berjalan mendekati ranjang Geo saat mendengar suaranya.


”Ugh.”


Syakila menempel kan pipinya ke wajah Geo.


”Badannya sangat panas, mengapa ia panas? Apakah karena lukanya sudah terlanjur infeksi sebelum di obati tadi?”


”Bajunya terlalu tebal,”


Syakila mencari pakaian yang agak tipis di lemari pakaian Geo. Ia mengambil baju tersebut dan menggantikan pakaian Geo, lalu ia mengompres Geo menggunakan air hangat.


”Minum,”


Syakila menuang air di gelas lalu ia membantu Geo meminumkan airnya. Syakila terus mengompres Geo, ia juga selalu membantu Geo meminum air saat ia meminta minum.


Geo membuka mata, ia melihat Syakila. ”Bisakah kamu mengambilkan aku makanan? Aku lapar.”


”Iya, tunggu sebentar.”


Syakila kembali melangkah ke dapur. Ia membuka tudung saji.


”Semuanya sudah dingin. Sebaiknya aku panasin dulu.”


Syakila memanaskan nasi dan sup ayam untuk Geo. Setelah panas, ia menyiapkannya di piring dan mangkok. Syakila menatanya di nampan. Lalu ia kembali ke kamar.


Ia meletakan nampan itu di atas meja. Ia melihat Geo yang kembali tertidur.


"Geo, makanan mu sudah siap.”


Geo membuka matanya, ”Bantu aku duduk.” Syakila membantu Geo duduk. ”Ada meja kecil di samping dinding nakas, ambilkan.”


Syakila mengambilkan. Ia memberikannya pada Geo. Geo menaruh meja kecil itu di hadapannya. Seakan mengerti, Syakila mengambil makanan Geo dan meletakkannya di atas meja kecil tersebut.


Geo memakan makanannya menggunakan tangan kiri, karena telapak tangan kanannya sedang terluka.


”Mari, biar aku suapi kamu. Gak baik makan pakai tangan kiri.”


Syakila mengambil sendok di tangan kiri Geo. Ia menyuapi Geo dengan lembut. Hingga makanan itu habis. Syakila mengambilkan air minum untuk Geo. Setelah selesai makan, Syakila kembali ke dapur membawa piring kotor kesana. Syakila kembali ke kamar. Ia melihat Geo masih duduk bersandar di atas ranjang.


”Kamu belum tidur?”


”Sebentar lagi baru aku tidur, kamu ingin tidur, tidurlah.”


”Aku belum ingin tidur, kalau kamu belum tidur.”


Geo memicing menatap Syakila, ”Kenapa?”

__ADS_1


”Tidak kenapa-napa, badan mu masih panas. Jika kamu berbaring aku akan kembali mengompres mu.”


”Terserah mu.” sahut Geo.


Syakila pergi ke duduk di sofanya. Ia meraih handphone dan mengaktifkan handphonenya. Di saat handphone Syakila berbunyi, handphone Geo juga berbunyi. Geo mengambil handphonenya. Syakila terkejut melihat 12 panggilan tidak terjawab dari Sardin dan satu pesan dari Dian.


Geo melihat Syakila dengan marah saat melihat 12 panggilan dan 1 pesan masuk di hapenya. Ia kembali melihat handphonenya. Ia membuka pesan tersebut.


”Kakak, mengapa kakak tidak jalan-jalan kerumah lagi?” Dian.


Geo nampak melihat Syakila membalas pesan Dian, ia juga mengirim pesan pada Sardin. Geo membacanya.


”Dian, maaf kakak belum ada kesempatan lagi untuk jalan-jalan ke rumah. Nanti kalau kakak akan ke sana kakak akan memberitahu mu.”


”Kak Sardin, maaf Kila baru aktifkan handphone. Kakak jangan khawatirkan Kila yah, kila disini baik-baik saja.”


Syakila tersenyum membaca balasan Sardin dan Dian. Sedangkan Geo, ia nampak tidak senang membaca pesan-pesan Syakila bersama Sardin dan Dian.


”Ok, aku tunggu kunjungan kakak ke rumah. Oh iya kakak, Om Denis tadi datang ke rumah. Om Denis bercerita banyak tentang kakak.” Dian.


”Hum, kakak tahu Om Denis akan menemui Om Anton. Kamu belum tidur, sudah jam berapa ini? Hum? Besok kamu akan ke sekolah kan? Ayo tidur sana!” Syakila.


”Ok, kakak. Dian istrahat dulu.” Dian.


Syakila hanya membacanya saja. Ia pindah chatting dengan Sardin.


”Pantas saja kakak hubungi nomormu gak aktif. Mengapa Kila belum tidur malam-malam begini?” Sardin.


”Kakak juga mengapa belum istirahat?” Syakila.


”Kakak tidak bisa tidur sebelum mengetahui keadaan mu baik-baik saja. Kakak sedang memikirkan mu.” Sardin.


”Kakak jangan terlalu memikirkan Kila, Kila disini baik-baik saja. Karena Kila baik-baik saja, sekarang kakak istrahat yah. Kila tidak ingin penyakit kakak kambuh.” Syakila.


”Ok, sekarang sudah larut malam. Kakak akan istrahat, Kila istrahat juga yah. Kakak merindukan mu, Kila.” Sardin.


”Kila juga merindukan kakak.” Syakila berucap pelan namun, masih bisa tertangkap oleh pendengaran Geo. Syakila tidak membalas chat Sardin. Ia meletakkan handphone dan melihat Geo, yang ternyata Geo sedang melihatnya dengan tatapan marah.


Kenapa dia menatap ku seperti itu?


”Bantu baringkan aku, aku mau istrahat.”


Syakila menurut, ia mendekati Geo dan membantunya membaringkan tubuh Geo. Syakila menyelimuti Geo, ia meraba air kompres sudah dingin. Ia menuang air panas sedikit ke dalam air tersebut hingga airnya menjadi hangat. Ia kembali mengompres Geo.


Geo memejamkan matanya.


Mengapa aku tidak senang membaca pesan wanita ini dengan Sardin? Pesan itu sungguh mengganggu ku.


Syakila kembali duduk di sofa. Sepuluh menit kemudian, Syakila kembali mendekati ranjang Geo. Syakila mendekatkan pipinya ke wajah Geo. Tanpa ia sadari Geo terkejut dalam tidurnya. Geo membuka mata. Geo belum tertidur, ia hanya memejamkan mata saja. Geo tersenyum kecil melihat wajah Syakila yang dekat dengan wajahnya, ia kembali memejamkan mata ketika Syakila menarik kembali wajahnya.


”Syukurlah demamnya sudah turun. Aku ngantuk sekali.” Syakila menguap. ”Lebih baik aku tidur di samping Geo, jangan sampai demamnya kembali tinggi,”


Ia membaringkan tubuhnya di ranjang Geo. Ia langsung tertidur dengan lelap, entah karena lelah atau karena memang ranjangnya yang empuk sehingga membuatnya cepat tertidur. Geo juga ikut terlelap.


Keesokan paginya. Geo terbangun lebih awal dari Syakila. Ia tersenyum melihat wajah terlelap Syakila, Geo memperhatikan secara detail wajah Syakila.


Sangat cantik.


Ia terus memperhatikan wajah teduh dan damai Syakila. Mata Syakila bergerak-gerak. Geo berpura-pura tidur. Ia tahu Syakila akan terbangun. Benar saja, kini Syakila telah terbangun. Ia duduk bersandar di ranjang. Ia melihat Geo yang masih tidur.


Ia beranjak dari ranjang Geo setelah puas melihat wajahnya. Syakila pergi ke kamar mandi. Geo membuka mata setelah mendengar pintu kamar mandi tertutup dan mendengar bunyi air mengalir.


Geo melihat bercak darah di kasurnya.


”Darah? Apa wanita itu sedang datang bulan? Oh pantas saja, kemarin ia bersikeras ke pasar untuk membeli kebutuhannya sendiri. Ternyata ia membeli softex.”


Sedangkan Syakila yang berada di kamar mandi terkejut saat ia melepas pakaiannya.


”Wah gawat! Pasti ada bercak darah di kasur Geo. Semoga Geo belum bangun. Aku harus cepat-cepat mandi.”


Syakila bergegas mandi. setelah ia mencuci bersih celana dan softex nya. Celana ia jemur di jemuran yang di sana sedangkan softex ia membuangnya di tempat sampah.


Setelah ia selesai mandi, ia keluar dari kamar mandi dan mengambil pakaian ganti juga mengambil softex dan kembali masuk ke kamar mandi. Setelah ia bergantian, ia mendekati ranjang Geo. Ia melihat Geo yang masih tertidur dan melihat noda darah di kasur.


Syakila menghela nafas lega.


Syukurlah Geo belum bangun.


Ia menutup noda darah tersebut. Lalu ia membangunkan Geo. Geo terbangun, untuk pagi ini Geo menuruti ucapan Syakila. Ia tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Sebab itulah ia menurut saat Syakila menyuruhnya langsung mandi.


Di saat Geo berada di kamar mandi, Syakila mengganti sprei ranjang dengan yang baru dan seprei yang kotor itu ia simpan ke tumpukan pakaian kotor.


Setelah selesai mengurus ranjang Geo, baru Syakila kembali masuk ke kamar mandi membantu Geo untuk mandi.

__ADS_1


__ADS_2