Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 51


__ADS_3

Hari ini Halim tiba di pelabuhan kota B. Dengan tersenyum bahagia ia melangkahkan kaki turun dari kapal dengan penuh semangat.


Ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan anak dan istrinya. Kerinduan pada mereka sudah berada di ujung kepala Halim. Tidak terbendung lagi.


Setelah turun dari kapal, ia mencari mobil milik adik iparnya. Karena, adik iparnya memang seorang supir yang mengantar para penumpang dari pelabuhan ke tempat tujuan para penumpang.


Halim mengedarkan pandangan ke seluruh pangkalan mobil yang berbaris rapi.


”Itu dia.” Halim tersenyum.


Ia mempercepat langkahnya untuk sampai ke mobil. Ia menepuk bahu kanan seorang pria yang berdiri membelakangi nya dengan bersandar di pintu mobil sambil berbincang dengan sesama supir mobil.


Pria itu berbalik untuk melihat siapa gerangan yang telah menepuk pundaknya.


”Abang, Abang sudah datang?” ucap pria tersebut sambil memeluk erat tubuh Halim dengan bahagia. ”Bagaimana kabar Abang? Saya kira Abang akan melupakan kampung halaman Abang di waktu yang lama.”


Halim membalas tersenyum. ”Alhamdulillah, kabar Abang baik-baik saja. Bagaimana bisa Abang melupakan kampung halamannya, Abang? Jika, anak dan istri Abang berada disini.”


”Oh iya, benar-benar. Aku lupa hal itu!” sahut pria tersebut. ”Mari masuk Abang! Saya antar Abang ke kampung.”


Pria itu tidak membutuhkan persetujuan dari Halim lagi, ia langsung mengambil tas Halim dari tangannya dan memasukkan kedalam mobil. Ia pun masuk dan menyuruh Halim untuk segera masuk.


”Masuk, Bang!”


Halim segera masuk. Pria itu segera menjalankan mobilnya dengan pelan keluar dari pangkalan mobil. Setelah sampai pada jalan besar, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang mengantar Halim ke rumahnya di kampung.


”Bagaimana keadaan kota, Bang? Apa kegiatan Abang selama di sana? Apa Anton memperhatikan Abang dengan baik? Maksud saya, apa Anton tidak sewenang-wenang terhadap Abang?” Ia melirik Halim sebentar dan fokus kembali pada setir.


”Keadaan kota, yah baik-baik saja. Abang disana menjual kosmetik, Alhamdulillah, sekarang sudah menjadi jualan Abang sendiri. Dan, mengenai Anton, dia pria yang baik, memperhatikan para karyawan dengan baik dan bijaksana.” Halim melihat adik iparnya. ”Sewenang-wenang? Tentu saja, tidak! Ia sangat menghargai karyawannya.” jelas Halim.


”Oh ya, Bang. Istri dan anaknya Abang, sekarang tinggal di kampung, tidak di kebun lagi.”


Deg!


Halim memandang adik iparnya dengan bingung. ”Sudah lama kah mereka tinggal di kampung? Siapa yang membawa mereka dari kebun ke kampung? Apakah anak, istri, juga mertua Abang baik-baik saja?” Halim mencerca adik iparnya dengan pertanyaan. Halim khawatir.


”Abang jangan panik dulu! Mereka tinggal di kampung baru seminggu yang lalu, anak dan istri Abang, baik-baik saja. Tapi... kondisi kesehatan ibu mertua Abang, yang tidak baik. Kebetulan Sabtu yang lalu, saya pergi ke kebun. Membantu mertuaku panen jagung. Jadi, aku mampir sebentar di kebun mu. Saya melihat ibu mertua mu sudah kurang sehat, beliau batuk dan demam. Jadi, saya mengusulkan pada istri mu, untuk tinggal ke kampung sementara waktu, sampai mertuamu pulih kembali. Tapi, selama di kampung, kondisi mertuamu semakin menurun.” jelas sang adik ipar.


”Apa sudah di bawa periksa ke dokter?” Halim semakin khawatir mendengar kondisi mertuanya.


”Iya, dua hari yang lalu. Tapi, ibu mertuamu minta pulang di rumah saja, beliau tidak ingin di rawat di rumah sakit.”


”Mengapa ibu tidak mau di rawat di rumah sakit?” tanya Halim penasaran.


”Itu... karena...karena_”


”Karena biaya yang tidak cukup?” Halim menebak.


Si adik ipar mengangguk pelan untuk menjawab.

__ADS_1


Halim menghela nafas kasar. ”Bukankah, Mila sangat mampu untuk membiayai rumah sakitnya?”


Sang adik ipar tersenyum kecut. ”Seharusnya iya. Kamu kan tahu, bagaimana adik ipar mu yang satu itu.” jelasnya.


”Astaghfirullah!” Halim hanya bisa beristighfar.


Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka. Masing-masing terdiam dengan pemikirannya.


Dari awal Sarmi menikah denganku, ibu memang selalu ingin ikut dengan Sarmi. Meskipun Mila meminta ibu untuk tinggal dengannya, tapi ibu menolak. Meskipun Mila anak bungsu, tapi ibu lebih suka tinggal bersama Sarmi. Dengan Sarmi, Sarmi dapat mengerti keinginan ibunya. Juga, Sarmi tidak marah atau pun menyuruh nyuruh Ibunya untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Pernah, ia tinggal bersama Mila. Namun, hanya dua hari saja, ibu kembali lagi dengan Sarmi. Apa ibu yang menolak di biayai atau memang Mila yang tidak ingin membiayai biaya rumah sakit ibu?


batin Halim.


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, kini mereka sampai di depan rumah Halim. Halim segera turun dari mobil, setelah ia membayar ongkos mobilnya kepada sang adik ipar.


Meskipun sang adik ipar menolak, tetapi Halim memaksanya untuk menerima. Sebab, itu memang mata pencaharian dari sang adik ipar. Sang adik pun mengambil uangnya dengan tidak enak hati. Setelah Halim turun. Sang adik ipar kembali menjalankan mobilnya, untuk kembali memuat penumpang.


Halim melangkah kerumah. Pintu rumah sudah terbuka, namun ia masih mengetuk pelan daur pintu yang sudah terbuka itu, agar penghuni rumah tahu jika ada orang di luar.


Tok tok tok


Halim mengetuk pintu dengan memasang wajah sedih, saat melihat Sarmi memangku ibunya. Mila beserta suami, kakak Sarmi beserta istri, dan anak-anak Halim, semua berkumpul di depan melihat kondisi ibu.


Ketukan pintu menyita perhatian mereka semua, mereka menoleh. Ada rasa bahagia dan sedih saat Halim bertatapan mata dengan sang istri tercinta. Ia ingin memeluk tubuh istrinya itu namun, situasi tidak membenarkan itu.


Anak-anak Halim sangat antusias melihat kedatangan Halim. Tidak terkecuali Fatma. Ia tetap duduk dengan tenang di sisi Mila, bibinya itu.


”Hore, Papa datang!” seru Hardin, Ita, Yuli, dan Endang.


Syakila, ia memandang wajah papanya yang sudah di rindukan itu dengan menangis bahagia. Ia langsung menghambur di pelukan Halim, saat Halim menurunkan Endang dari gendongannya. Halim membalas pelukan anaknya itu.


”Syakila rindu Papa. Terima kasih, Papa sudah datang, Papa memang memenuhi janji Papa pada Syakila. Syakila sayang Papa!”


Halim tersenyum masih memeluk tubuh Syakila. Ia membelai rambutnya dengan lembut.


”Papa juga sangat rindu pada kalian semua.” sahut Halim. ”Sudah, jangan menangis! Papa selalu menepati janji Papa, bukan?”


Syakila mengangguk pelan di pelukan papanya. Halim melepaskan tubuh Syakila. Ia membantu menghapus air mata Syakila di pipinya. Fatma yang melihat itu hanya acuh saja.


Apa anak pertama ku tidak merindukan aku? Dia acuh saja dari tadi. Ia benar-benar menuruni sifat kakeknya. Aku tidak yakin, jika dia mau ku ajak tinggal bersama nanti ke kota.


batin Halim. Ia memandang Fatma yang hanya meliriknya saja. Halim geleng-geleng kepala.


”A-apa i-itu Ha-Halim yang da-datang, Na-nak?” si ibu bertanya dengan terbata dan mata terpejam. Suaranya sangat pelan sekali.


Mendengar suara sang ibu mertua yang menanyakan dirinya. Halim langsung mendekati ibu mertuanya. Ia duduk di samping Sarmi, sang istri yang sudah sangat ia rindukan. Halim mengambil jemari tangan ibu mertuanya yang lemah dan gemetar itu dan menggenggamnya pelan.


”Iya Bu, ini Halim Bu. Halim sudah datang, Ibu... Halim bawa ibu kerumah sakit yah.” ucap Halim dengan penuh kelembutan.


”I-ibu ti-tidak apa-apa. Ja-jangan bawa ibu ke rumah sakit. Su-suami ibu menahan i-ibu. I_”

__ADS_1


”Ibu...ibu bicara apa? Jangan bicara macam-macam Bu.” sela Sarmi dengan suara yang menahan tangis.


”Na-nak, i-ibu su-sudah bilang. I-ibu a-akan menunggu Ha-Halim da-datang ba-baru ibu akan pergi dengan tenang.” ucap sang ibu dengan terputus-putus dengan suara lemahnya.


”Bu, jangan bicara lagi.” Halim mengangkat tubuh mertuanya yang lemah itu. ”Halim akan membawa ibu kerumah sakit sekarang.”


”Ti-tidak Nak Halim. Ibu su-sudah di tu-tu-tunggu sama su-suami ibu. Ibu mi-minta maaf su-sudah menolak mu. Tu-turunkan i-ibu.”


Halim pun menurunkan ibu mertuanya dengan wajah sedih. Sarmi kembali memangku kepala sang ibu. Dan ibu memegang tangan Halim.


”Jaga Sarmi dengan baik dan jaga cucuku dengan baik Halim.” ucap sang ibu. Di akhir kalimatnya juga bersamaan dengan nyawanya yang terputus. Satu kata yang terucap tanpa terbata, satu kata yang menjadi pesan terakhir dari sang ibu mertua untuk Halim.


”Iya ibu, Halim akan menjaga Sarmi dan cucumu dengan baik.” bisik Halim pada jenazah sang ibu mertua.


Mereka melepaskan kepergian sang ibu dengan tenang. Meskipun mereka merasa kehilangan tetapi tidak seorang pun yang menangisi kepergian sang ibu. Bukan karena mereka yang tidak ingin menangis. Tapi, sang ibu selalu memberitahu mereka di setiap hari, jika dirinya pergi suatu saat nanti. Ia tidak ingin jenazahnya di tangisi, meskipun itu cucunya sendiri.


Mereka hanya memasang wajah sedih mereka untuk melepaskan kepergian sang ibu. Berita meninggalnya sang ibu pun sudah di siarkan dari Masjid. Dan, para pelayat sudah mulai berdatangan, memenuhi rumah Halim dan Sarmi untuk menyampaikan dukanya. Tidak menunggu lama dari jam meninggalnya, jenazah almarhum langsung di mandikan, di kafani, di shalat kan, lalu di bawah di tempat peristirahatan terakhirnya setelah selesai shalat Ashar.


Setelah selesai pemakaman, para pelayat langsung pulang ke rumahnya masing-masing. Halim, Sarmi dan anak-anak juga adik dan kakak dari Sarmi dan dari Halim pun pulang ke rumah Halim. Sarmi membuatkan teh untuk keluarganya yang sedang berkumpul. Sebelumnya, ia membawa tas yang di bawa suaminya ke dalam kamar.


”Apa ibu sudah lama sakitnya, Mama?” tanya Halim pada sang istri.


”Dua Minggu yang lalu ibu sudah sakit-sakitan. Ibu sempat pingsan dua kali saat di kebun. Kebetulan adik ipar Papa datang menjenguk kami, ia mengusulkan kami untuk tinggal sementara waktu di kampung. Setelah kami ke kampung ibu langsung di bawa ke rumah sakit sama adik ipar Papa. Uang yang Papa kirimkan habis untuk biaya pengobatan. Dan, ibu langsung meminta pulang ke rumah. Ibu tidak ingin di rawat di rumah sakit lagi.” jelas Sarmi.


”Mengapa ibu minta pulang sedangkan ibu masih butuh pengobatan? Apa sudah tidak ada yang mampu membantu membiayai pengobatan ibu?” pandangan Halim tertuju pada Mila adik Sarmi dan kakaknya Sarmi.


Sarmi, Mila, dan kakaknya Sarmi tahu kemana arah pembicaraan Halim. Mila dan kakak Sarmi terdiam dan menunduk. Sarmi tidak ingin ada perselisihan di antara saudara ipar itu. Ia pun mencairkan suasana.


”Ibu sendiri yang meminta untuk tidak di rawat lagi, sayang.” ucap Sarmi. Halim memandang sang istri. Sarmi menggeleng saat Halim melihatnya. ”Ibu sudah menyerah dengan penyakitnya, ibu sering bilang jika suami ibu sudah menunggunya di sana. Dan ibu bertahan hanya untuk menunggu kedatangan mu, Papa.” jelas Sarmi.


”Astaghfirullah! Jadi, jika Papa belum datang hari ini, ibu akan tetap bertahan menunggu sampai Papa datang? Begitu?” Halim berucap tidak percaya.


”Iya, itu keinginan ibu.” sahut Sarmi.


”Astaghfirullah!” Halim hanya bisa beristighfar.


”Kami sudah menitip pesan pada Beni untuk menyampaikan pada Papa untuk pulang dulu ke kampung. Kebetulan, Beni hari ini berangkat ke kota A. Tapi, Alhamdulillah. Kami senang melihat Papa sudah datang dan keinginan ibu terkabul ingin bertemu dengan Papa sebelum ajak menjemputnya.” jelas Sarmi lagi.


Halim menghela nafas. Entah apa artinya. Ia meraih gelas tehnya dan meminumnya. Melihat Halim meminum tehnya, yang lain juga ikut meminum teh mereka.


”Selama satu Minggu kedepan kalian tidur disni saja, yah. Setelah tujuh hari ibu baru kalian boleh pulang kerumah kalian masing-masing.” pinta Halim pada saudara Sarmi dan saudaranya. ”Kalau mau pulang kerumah, cukup untuk bergantian saja. Tidurnya disini.”


”Iyah, tidak masalah.” sahut mereka serempak.


Setelah mereka menghabiskan tehnya. Sarmi dan Mila juga adik ipar dari suaminya, sedang berada di dapur untuk memasak makan malam. Mereka mengerjakan semuanya dengan saling membantu. Sedangkan Halim ia berkumpul dengan para lelaki lain untuk mengobrol ringan tentang keseharian mereka masing-masing.


Pembicaraan mereka memakan waktu lama, namun tidak terasa bagi mereka yang sedang bercakap-cakap. Mendengar suara adzan Maghrib mereka pergi menunaikan shalat di Masjid, sekalian mereka menanti shalat Isya di sana baru pulang kerumah.


Disaat mereka datang dari Masjid, makan malam sudah terhidang kan, di susun rapi di lantai yang beralaskan tikar seadanya itu. Dan disitu para istri dan anak-anak sudah duduk dengan baik menunggu kedatangan mereka untuk makan.

__ADS_1


Mereka pun makan dalam diam dan tenang. Sampai mereka menyelesaikan santapan mereka. Setelah selesai makan, para wanita membersihkan dan merapihkan semua piring kotor. Dan menyapu lantainya hingga bersih dan memasang kasur tipis untuk tempat tidur anak-anak mereka.


Sedangkan para lelaki juga mencari posisi sendiri untuk beristirahat. Dan Halim, ia masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Ia sangat lelah sekali. Setelah para wanita menyelesaikan pekerjaannya, mereka juga mencari posisi tidur masing-masing di samping anak-anak mereka. Sedangkan Sarmi masuk istrahat di dalam kamarnya sendiri mendampingi suaminya.


__ADS_2