
Di perjalanan ke bioskop.
Mobil terus melaju membelah jalanan kota S menuju bioskop. Geo melirik Syakila yang berada di sampingnya, gadis itu memusatkan perhatiannya kepada jalanan-jalanan yang di lalui.
Wanita ini, berbeda sekali dengan wanita yang pernah dekat denganku. Saat mereka jalan dengan ku, mereka akan bermanja dan banyak bercakap-cakap dengan ku, meskipun itu bukan hal yang penting, mereka tetap bercerita padaku daripada hening. Tapi, wanita di sebelah ku ini, dia malah duduk menjaga jarak dariku dan menganggap ku tidak ada. Wanita ini juga menolak berbelanja saat ku ajak, jika saja itu mereka yang ku ajak berbelanja, mereka dengan senang hati mengiyakan. Tapi, wanita ini malah menolaknya begitu saja.
”Apa masih lama sampainya?” tanya Geo, pada anak buah dan supirnya.
”Sebentar lagi sampai, Tuan.” sahut sang supir.
Syakila melirik Geo, pria itu ternyata sedang melihatnya, padahal ia sedang bertanya kepada bawahannya.
”Apa kamu bosan?” tanya Geo pada Syakila.
”Tidak,” jawab Syakila.
”Apa pemandangan di jalan itu sangat asyik? Atau ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu, makanya kamu menatap jalanan itu sambil berfikir? Bicarakan saja padaku, jangan sungkan.”
Syakila menghela nafas, pandangannya masih menatap jalanan. ”Tidak keduanya dan tidak ada yang harus di bicarakan.” sahutnya. Ia menoleh, melihat Geo, ”Kenapa?”
”Tidak juga, hanya saja aku merasa, aku jalan seperti seorang diri saja. Sunyi, sepi, hening begitu terasa, padahal ada kamu disini, di sisiku.”
Kening Syakila mengerut.
Apa maksud ucapannya ini? Kalau tidak ingin sunyi yah ajaklah orang untuk berbicara. Disini ada anak buahnya, ada supirnya yang bisa di ajak bicara selain aku. Apakah dia mengharapkan aku yang berbincang-bincang dengannya?
”Tidak ada hal yang ingin aku bicarakan padamu, jadi, diam lebih baik 'kan?”
Geo menaikan sebelah alisnya dan menghela nafas.
Wanita ini, mengapa aku sampai tertarik dengan wanita yang ada di samping ku ini? Dia matre, murahan, tidak berperasaan. Tapi, mengapa aku begitu tertarik sama dia? Dia sudah menggetarkan hatiku ini.
”Tuan, kita sudah sampai.” ucap sang supir sambil menghentikan mobil di halaman parkir bioskop.
”Hum, turunlah. Kita semua pergi nonton.” sahut Geo.
Sang anak buah dan supir saling memandang dengan terkejut. Apakah ini memang tuan mereka? Ini bukan karakternya, pikir mereka berdua.
”Baik, Tuan.” ucap mereka kemudian bersamaan.
Mereka berdua turun dari mobil. Syakila juga turun dari mobil, ia melihat begitu banyak orang di sekitar bioskop, padahal hari ini bukan hari Minggu.
Begitu ramai pengunjung disini, padahal, hari Minggu, dua hari lagi.
Ia menutup pintu mobil dan memutari mobil. Ia ingin membantu Geo turun dari mobil. Namun, pria itu telah turun dari mobil di bantu oleh supir dan anak buahnya.
”Mama...Mama...lihat deh orang itu! Dia keluar dari mobil di bantu oleh orang lain. Apa dia lumpuh, Mah? Apa dia gak bisa jalan lagi?” tanya seorang anak kepada ibunya sambil menunjuk Geo.
Semua mata yang mendengar ucapan anak kecil itu menoleh, menatap, melihat, arah yang di tunjuk anak kecil tersebut, termasuk ibunya anak itu.
”Hus, pelan kan suaramu. Gak boleh bicara begitu.” sahut si ibu pada anak tersebut, ia menutup mulut anaknya itu.
”Orangnya ganteng, tapi sayang, dia duduk di kursi roda...”
”Iya, ya, padahal begitu ganteng. Sepertinya juga orang kaya, sayangnya kakinya lumpuh...”
”Kalau lumpuh begitu, mending duduk di rumah saja, bikin susah orang lain saja...”
”Meskipun ganteng, kaya, tapi kalau lumpuh begitu, aku juga gak akan mau menerima dia sebagai suami ku, meskipun di iming-iming hadiah-hadiah yang banyak.”
Syakila, Geo, sang supir, dan anak buahnya mendengar komentar-komentar yang di lontarkan oleh sesama pengunjung bioskop yang melihat kondisi Geo.
Syakila melihat Geo, pria itu sedang menahan amarah dan malu memandang mereka yang berkomentar. Tangannya terkepal kuat. Syakila menghampiri Geo, ia berdiri di depannya.
Ia memberikan senyum manisnya untuk Geo hingga memamerkan keindahan lesung di pipi dan di dagunya. Tangannya menggenggam lembut tangan Geo yang terkepal. Geo terpana akan senyum yang di pancarkan oleh Syakila, membuatnya tenang, kepalannya perlahan melemah.
”Abaikan ucapan mereka, mereka hanyalah tau berkomentar saja. Mereka tidak tahu yang sebenarnya kamu alami. Anggap saja ucapan mereka adalah motivasi untuk mu.” ucapnya pelan.
Geo tidak bersuara, ia tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan wanita di depannya itu. Ia balik menggenggam tangan Syakila yang menggenggamnya.
”Ayo kita masuk.” ajaknya.
Syakila berjalan di samping Geo dengan bergandengan tangan. Anak buah Geo berjalan di belakang Geo sambil mendorong kursi rodanya. Dan sang supir, ia berjalan di belakang Syakila.
”Tuan, Nyonya, tunggulah disini, aku akan membeli tiketnya.” ucap sang anak buah.
”Pergilah,” sahut Geo. Ia melirik Syakila yang duduk jongkok di sampingnya. Pandangan wanita itu terpusat pada satu hal, bibirnya mengulum senyum.
__ADS_1
”Mengapa? Apakah tempat ini mengingatkan kamu pada sesuatu atau seseorang?”
Syakila menoleh, melihat Geo. ”Iya, kamu benar.” sahutnya dengan tersenyum tipis.
”Apa dia Sardin?” tanya Geo lagi dengan datar.
”Bukan,”
”Bukan? Jadi, sama siapa?” tanya Geo penasaran.
”Sama guru ku, guru silat. Dia yang pertama kali mengajak aku nonton kesini.” ungkap Syakila.
”Guru mu? Romantis sekali dia mengajak anak muridnya untuk nonton!”
”Guru ku emang romantis orangnya, dan juga baik hati. Sebenarnya, dia bukan hanya mengajak aku, dia juga mengajak yang lainnya. Tapi, aku tidak tahu mengapa mereka tidak datang. Jadi, yah tinggal kami berdua yang nonton pada saat itu.” Syakila menjelaskan sambil tersenyum.
”Apakah begitu?”
Syakila mengangguk, ”Iya.”
”Mungkin saja guru mu itu sengaja mengatur untuk berkencan dengan mu.”
”Eh, tidak__”
”Tuan, Nyonya, ini tiketnya. Mari kita masuk dari pintu sana, filmnya lima menit lagi akan diputar.” ucap sang anak buah tersebut memangkas ucapan Syakila sambil memamerkan empat buah tiket nonton di tangannya.
”Ok, ayo kita masuk.” ajak Geo.
”Iya,”
Mereka pergi ke arah pintu yang di tunjuk anak buah Geo tadi, mereka masuk bersamaan. Lampu bioskop masih menyala terang. Para pengunjung yang menonton memasuki ruangan dan mengisi bangku bangku yang ada di sana.
Geo, Syakila, dan anak buah Geo mengambil bangku yang tersusun dua buah bangku. Syakila duduk bersama Geo di urutan paling pertama pojok kiri. Sedangkan bawahan Geo duduk di belakang mereka berdua.
”Geo, aku keluar sebentar untuk membeli minuman dan popcorn. Apa kamu gak apa-apa aku tinggalkan sebentar?” ucap Syakila sambil memandang Geo.
”Kamu duduklah saja, biar anak buah ku yang membelikannya.”
”Tidak, aku ingin membelinya sendiri.”
”Baiklah, tunggu sebentar.” Geo mengeluarkan dompetnya, ia mengambil salah satu kartu kreditnya. ” Pakailah ini untuk membeli minuman dan popcorn.”
Geo menjadi murung, ”Mengapa kamu selalu menolak uang dari ku? Kamu lebih senang menggunakan uang dari laki-laki yang bukan sah mu?”
Syakila mengerut, ”Laki-laki bukan sah ku? Maksudmu apa?” tanyanya sambil menatap kedua mata Geo.
”Bukan apa-apa! Pergilah beli minuman dan popcorn. Aku tidak apa-apa menunggu disini.”
Syakila masih memandang Geo, ia benar-benar berfikir keras, di mata Geo, dia wanita seperti apa? Geo membuang muka, Syakila pergi keluar tanpa berkata apa-apa lagi.
Ia berjalan menuju tempat minuman dan popcorn sambil memikirkan perkataan Geo.
Apa sebenarnya maksud ucapan Geo? Aku menggunakan uang siapa? Wanita seperti apa aku ini di matanya? Apa aku begitu buruk baginya?
Bruk! Syakila menabrak salah satu pengunjung di sana karena ketidak fokusannya.
”Eh, ma..maaf, aku tidak sengaja. Maaf yah!” ucapnya sopan sambil melihat orang yang ditabraknya itu.
”Iya, aku maafkan! Lain kali, hati-hati lah saat berjalan, fokus pada langkah mu.” sahut pria itu. Ia melihat Syakila.
Wanita ini...cantik...
”Iya, aku memang salah, aku melamun sambil berjalan. Sekali lagi maaf.”
”Baiklah, tidak usah dipikirkan lagi. Namaku Antonio, kamu siapa?” ucap Antonio.
”Em, aku..namaku Syakila. Maaf, aku harus pergi.” sahut Syakila, ia beranjak dari sana tanpa menunggu sahutan Antonio.
Antonio mengerut melihat punggung Syakila
Syakila... Syakila... Sangat cantik...
Senyum merekah, terukir di bibir Antonio. Ia melihat Syakila yang berjalan ke arah pembelian minuman dan popcorn, ia mengikuti langkah Syakila dengan cepat.
Syakila memesan empat buah minuman dan dua kotak popcorn. Ia mengeluarkan sejumlah uang dari dompetnya untuk membayar pesanannya.
”Mba, beri aku dua botol minuman yang sama dengan wanita di depan ku ini, juga satu kotak popcorn. Dan ini uangnya, sekalian aku membayar kan pesanan wanita ini.” ucap Vian sambil menyodorkan kartu kreditnya kepada penjual tersebut.
__ADS_1
Syakila menoleh kebelakang, melihat siapa pria di belakangnya ini yang mau membayarkan pesanannya. Antonio tersenyum manis saat Syakila melihatnya.
”Kamu? Kamu tidak perlu membayarkan pesanan ku. Terima kasih sebelumnya.” ucap Syakila. Ia kembali menoleh kepada si penjual. ”Mba, pesanan ku, aku sendiri yang bayar, ini uang ku.” Syakila memberikan uang senilai seratus ribu rupiah.
Setelah Syakila mengambil uang kembalinya, ia pergi dari sana tanpa mempedulikan Antonio. Antonio tersenyum miring melihat kepergian Syakila.
Lumayan! Menarik! Trik yang sering di gunakan wanita, awalnya jual mahal, setelah itu... heh!
Antonio kembali fokus pada di depannya, setelah ia melihat Syakila yang hilang dari balik pintu bioskop yang menayangkan film sinema. Setelah ia mengambil kembali kartu kreditnya, ia pergi menemui Vian yang sudah menunggunya.
”Kenapa kamu lama sekali?" tanya Vian, saat Antonio duduk di sampingnya.
”Antri,” singkat Antonio menjawab. Ia memberikan minuman ke Vian. Film telah di putar beberapa menit yang lalu.
Di sisi sebelah bioskop.
Syakila membagikan minuman kepada Geo dan dua anak buahnya, ia juga memberikan satu kotak popcorn pada mereka. Kemudian, ia duduk di tempatnya. Ia melihat raut wajah Geo yang masih datar, ia acuh saja. Lampu di ruangan mulai di padamkan dan layar tancap telah menyala.
Film sinema yang mereka nantikan akhirnya di putar juga. Mereka semua serius menonton film tersebut sambil mengunyah dan meminum minuman mereka. Film telah berputar satu jam lebih, Geo sesekali melirik Syakila yang serius menonton.
”Apa kamu suka filmnya?” bisik Geo pada Syakila.
”Lumayan!”
”Filmnya sebentar lagi akan selesai. Apakah ada tempat tujuan khusus untuk kamu datangi? Aku akan mengantar mu kesana.”
”Tidak ada. Bukankah hari ini agenda mu mengajak ku jalan? Mengapa harus aku yang tentukan kemana aku pergi?”
”Kalau begitu, setelah ini kita akan pergi berbelanja sekaligus makam malam, lalu kita pulang.”
”Baik, oh ya, tapi, aku hanya menemanimu berbelanja saja. Dan hari ini aku menuruti mu jalan, besok maukah kamu mengikuti ku jalan?”
Geo tertawa kecil, ” Kamu mengajak ku kencan lagi besok? Kita akan terlihat seperti pasangan yang serasi.” bisiknya lembut pada telinga Syakila.
Syakila terdiam sesaat, perasaannya menghangat, ”Em, bu..bukan ken..kencan. A..aku...”
”Tidak apa-apa! Aku akan mengikuti mu besok kemanapun kamu pergi.” bisik Geo lagi memangkas ucapan Syakila.
”Em, ka..kamu terlalu de..kat, te..telingaku menjadi panas dengan bisikan mu.” ucap Syakila pelan sambil mendorong badan Geo menjauh darinya.
Geo tersenyum tipis melihat reaksi Syakila. Wanita itu terlihat gemetar, gugup, dan tidak fokus menonton, meski tatapannya ke layar besar itu.
Syakila, apakah kamu sedang malu? Sedang berdebar sekarang? Bisakah aku menyimpulkan meskipun sedikit, hati mu mulai terisi oleh ku?
Deg deg deg jantung Syakila masih berdebar. Meskipun pandangannya tertuju dengan film di hadapannya, akan tetapi, pikirannya tidak terfokus pada film itu.
Ada apa dengan ku? Mengapa aku merasakan seperti ini. Ini bukan pertama kalinya juga hatiku berdebar seperti ini jika di berdekatan dengannya. Bahkan, di saat dia tiba-tiba mencium ku dengan lembut, perasaan seperti ini juga muncul.
Di luar pintu
Nampak beberapa buah pria sedang berjaga-jaga di depan pintu tersebut. Salah satu di antara mereka sedang mengetik sesuatu pada layar ponselnya.
”Bos, kami telah melihat perempuan yang kamu maksud. Kami sedang berjaga menunggu perempuan itu keluar dari dalam bioskop.”
Ia mengirim pesan kepada anak buah Antonio yang di tugaskan oleh Marlina untuk mencari Syakila.
”Bagus! Jangan lepaskan target! Jangan kalian mengambil tindakan padanya! Share lokasi kalian, aku segera kesana!”
Mereka adalah para preman di kota S yang di bayar oleh empat anak buah Antonio atas suruhan Marlina.
Setelah tiba di kota S, ke empat anak buah Antonio tersebut menyebar. Mereka menyewa para preman jalanan untuk membantu mencari Syakila dengan menyebarkan foto-foto Syakila pada mereka.
Di saat Syakila bertabrakan dengan Antonio, mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang berada di sana, termasuk para preman ini.
”Hei, bukan kah wanita itu, wanita yang kita cari? Lihatlah foto ini, dan lihatlah dia!” ucap salah satu preman tersebut pada temannya yang lain sambil menunjuk Syakila.
”Iya, benar! Dia adalah wanita ini! Bagus, kalian ikuti dia, aku akan melaporkan ini pada bos.” sahut salah satu di antara mereka, yang merupakan atasan mereka.
Setelah ia memberitahu kan keberadaan Syakila pada bawahan Antonio, mereka berjaga-jaga di depan pintu yang bertuliskan sinema itu untuk menunggu target mereka keluar dari sana.
Beberapa menit berlalu, para preman tersebut melihat pintu yang di jaganya terbuka lebar. Bersamaan dengan pintu-pintu yang lainnya terbuka, karena pemutaran filmnya selesainya bersamaan.
Syakila, Geo dan anak buahnya keluar dari ruangan bioskop. Para preman, mereka sigap melihat satu per satu wajah-wajah yang di lihatnya. Namun, mereka belum menemukan wajah Syakila di antara beribu wajah yang berlalu lalang di hadapan mereka.
”Bos, mereka telah masuk ke mobil. Itu mereka yang sana, mobil Mercedez warna hitam. Ayo cepat kita susul mereka.” ucap salah satu dari preman tersebut yang melihat Syakila masuk ke dalam mobil.
”Ayo, cepat! Jangan sampai kita kehilangan mereka!”
__ADS_1
Mereka semua bergegas melangkah ke mobil mereka, mereka mengejar mobil Geo yang baru keluar dari halaman parkir bioskop.