Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 207


__ADS_3

Di luar ruangan rawat Syakila.


”Geo.” sapa Anton, Denis, dan Rosalina.


”Paman Anton, Paman Denis, Mama. Terima kasih, sudah datang. Tunggu sebentar lagi baru kita masuk ke dalam. Biarkan Syakila tenang dulu. Sekalian, kita tunggu Beni datang.” ucap Geo.


Mereka semua mengangguk.


Di dalam ruangan.


”Jika kamu tidak bisa lepaskan aku. Lepaskan Geo.” ucap Sardin. Lebih tepatnya, Sardin meminta Syakila untuk memilih. Syakila harus menegaskan pendiriannya.


Syakila terdiam.


”Bagaimana?” tanya Sardin lagi.


”Kakak akan mengalah demi kamu, yang penting kamu bahagia.” lanjut Sardin berucap. Saat Syakila masih terdiam.


Syakila melihat Sardin dengan sedih. Apakah Sardin bermaksud memang ingin menikahi wanita yang di jodohkan sama orang tuanya?


”Aku akan menepati janjiku pada kakak. Aku akan menikah sama kakak.” jawab Syakila.


”Kakak tidak mau. Kamu sudah tidak mencintai kakak. Kamu menikah dengan kakak hanya semata-mata karena janji, kan?”


”Tidak, kak. Syakila mencintai kakak. Bukan hanya karena sebuah janji makanya Syakila menikah dengan kakak. Kila gak bisa menahan cemburu melihat kakak dengan wanita lain. Syakila mencintai kakak.” jawab Syakila.


”Kila yakin?” Sardin memastikan.


Syakila mengangguk.


Ini sudah jalan ku. Geo juga sudah melepaskan ku. Aku sudah tidak ada pilihan lagi. Tapi...aku tidak bisa hilangkan cinta ku pada Geo yang baru mekar di hatiku. benak Syakila.


”Apa buktinya?”


”Kakak ingin bukti apa? Bukan kah kakak sangat mengenal Kila?” Syakila bertanya kembali.


Sardin tidak menjawab. Ia memiringkan wajahnya mendekati wajah Syakila. Ia mencium bibir Syakila.


Syakila melihat Sardin, matanya terpejam menciumnya. Syakila mulai memejamkan mata, menikmati kelembutan bibir Sardin.


Ia membalas ciuman Sardin. Tangannya di kalungkan di leher Sardin.


Sardin membuka matanya, ia senang Syakila membalas ciumannya. Matanya kembali terpejam. Ciuman itu semakin dalam.


Aku sudah menemukan buktinya. Terima kasih, kamu masih mencintai kakak. Dengan begini, kamu bisa melupakan Geo jika sudah bersama ku. benak Sardin.


”Um..” lenguhan yang keluar dari bibir Syakila.


Sardin menggigit pelan bibir bawah Syakila dan melepaskan ciumannya. Syakila membuka matanya.


”Jika kita sudah menikah , aku ingin melakukan lebih dari ini.” ucap Sardin, dengan lembut.


Syakila terdiam. Ia teringat akan ucapan Geo yang sama persis seperti ucapan Sardin.


”Lusa aku akan kembali ke kota S. Apa kamu akan ikut?”


Syakila teringat perkataannya pada Sardin, jika Sardin pergi ke kota S, dia akan ikut bersama. Entah Geo akan setuju ataupun tidak, dia akan tetap pergi ikut Sardin.


Saat itu dia belum menyadari perasaannya terhadap Geo.


”Iya. Aku ikut kakak.”


”Satu bulan setelah kita berada di sana, kita akan menikah.” ucap Sardin. Lebih tepatnya ia bertanya pada Syakila, apakah dia akan setuju menikah dengannya setelah sebulan lamanya mereka tiba di kota S, atau tidak.


”Iya.” jawab Syakila.


Sardin tersenyum bahagia. Akhirnya, impian lamanya untuk menikah dengan Syakila akan menjadi kenyataan.


.. ..


Di luar ruangan.


Geo tersenyum kecut mendengar percakapan Sardin dan Syakila di dalam sana. Ia sengaja menyuruh mamanya, Beni, Anton, Denis untuk duduk di bangku, di depan ruang rawat lainnya.


Ia sengaja menyuruh mereka agar mereka tidak mendengar pembicaraan Syakila dan Geo.


Dia sudah ikhlas untuk bercerai. Dia tidak mempertahankan aku seperti dia mempertahankan Sardin.


Tapi, itu bagus juga! Dia tidak akan merasa kehilangan aku. Tidak seperti aku ini. Baru begini saja, aku sudah merasa kehilangan. Dan rasanya aku tidak akan membiarkan dia pergi. benak Geo.


Ia menoleh melihat Beni. Lewat kode mata, ia menyuruh Beni memberi tahu pada mereka semua untuk masuk ke dalam ruangan.


Setelah memberi kode, Geo membuka pintu ruangan. Tangannya memegang sebuah map. Ia sempat cemburu yang melihat Sardin dan Syakila begitu dekat.


Apalagi posisinya Syakila yang duduk di sisi ranjang dan Sardin duduk berjongkok di hadapan Syakila.


Sardin segera berdiri dan duduk di ranjang sebelah ranjang Syakila.

__ADS_1


Syakila melihat Geo. Pandangannya turun ke tangan Geo. Tatapannya lama memandang map coklat yang di pegang Geo.


Apakah itu surat....su...surat... Hah...hatiku sangat sakit, padahal baru menebak isinya. benak Syakila.


Pandangannya naik ke wajah Geo. Di tatapnya wajah pria itu yang sudah satu tahun menjadi suaminya. Matanya berkaca-kaca.


Dia ingin berlari memeluk pria itu. Tapi, itu bukan hanya keinginannya semata. Syakila benar-benar berdiri dan memeluk erat tubuh Geo.


Geo terkejut. Jujur dia ingin membalas pelukan erat wanita itu, tapi, itu tidak mungkin. Syakila bukan istrinya lagi.


Geo mengangkat tangannya, melepaskan pelukan Syakila. Tetapi, ia urungkan niatnya itu saat melihat gelengan kepala Sardin.


Ia membiarkan Syakila memeluknya, tanpa membalas pelukan Syakila. Dia menganggap pelukan Syakila adalah pelukan terakhir mereka setelah mereka akan berpisah di ruangan itu.


Perlahan, Geo merasakan tubuh Syakila bergetar, wanita itu ternyata sedang menangis.


Tidak lama kemudian, Beni, Rosalina, Denis, dan Anton masuk ke dalam ruangan.


Syakila melepas pelukannya pada Geo. Dan menghapus air matanya. Dia tetap berdiri di hadapan pria itu.


”Syakila, bagaimana keadaan mu?” tanya Anton.


”Baik, Om.” jawab Syakila.


”Syakila.” panggil Geo.


”Hum.” singkat ia menyahuti, melihat Geo.


Geo menelan saliva nya dengan kasar. Rasanya ia tidak ingin mengucapkan kata cerai pada Syakila secara langsung.


”Syakila..Syakila binti Halim, engkau sekarang bukan istriku lagi. Pernikahan kita telah selesai. Dirimu bebas dari tanggung jawab ku.” Geo melafalkan kata cerainya dengan lancar. Meskipun ada rasa gugup.


Raut wajah Syakila kembali bersedih. Sakit... hatinya sangat sakit sekarang. Tubuhnya lemas seketika. Ia terduduk, menunduk di lantai. Dia menahan tangis.


Geo ingin membantunya berdiri, namun, ia tahan niatnya. Dia sendiri harus kuat. Dia tidak boleh lemah hanya karena kesedihan yang di rasakan Syakila.


Rosalina maju menghampiri Syakila. Meskipun Syakila bukan anak mantunya sekarang, tapi, Syakila tetap menjadi anaknya. Ia mengelus punggung Syakila yang menangis itu.


Denis dan Anton bingung melihat Syakila yang menangis dan sedih saat Geo menceraikan dirinya. Bukan kah selama ini Syakila menginginkan perceraian dari Geo? Mengapa kini dia sedih saat mendapatkan keinginannya? Apakah Syakila sudah merubah perasaannya terhadap Geo?


Geo memberikan map yang dipegangnya tadi pada Syakila. ”Ini adalah surat cerai kita. Tinggal kamu tanda tangan. Nanti akan ada yang datang di rumah mu untuk mengambil berkas cerai kita.” ucapnya.


Syakila mengambil map tersebut dengan tangan yang gemetar melihat Geo. Dia ingin menatap wajah rupawan Geo untuk terakhir kalinya.


”Urusan ku sudah selesai di sini. Aku permisi!” Geo bergegas pergi dari ruangan Syakila.


Tangis Syakila pecah saat Geo tidak berdiri di hadapannya lagi. Tubuhnya dia sandarkan di pelukan Rosalina.


”Ya, halo, Mah.” sapa Geo.


”Geo. Mama sudah menerima surat perceraian yang kamu kirimkan untuk Mama. Kami sudah melihatnya. Apakah itu serius, Nak? Sebenarnya, Mama tidak menyukai perceraian. Tapi, jika memang hal ini yang terbaik. Mama tidak bisa menantang keputusan kalian berdua.”


”Iya, Mah. Maaf, selama Geo menjadi anak mantu Mama, Geo banyak kekurangannya.”


Sarmi mendengar jelas suara tangis Syakila.


”Tidak Nak. Kami yang meminta maaf atas nama Syakila. Jika selama Syakila menjadi istrimu, Syakila banyak berbuat salah dan tidak melakukan kewajibannya sebagai istri dengan baik.”


”Tidak Mah, Syakila adalah seorang istri yang baik dan sempurna.”


”Nak, meskipun kalian sudah bercerai. Mama memohon sama kamu untuk mengantar Syakila kembali ke kota S. Sekalian ada yang ingin Mama bicarakan dengan mu.” pinta Sarmi.


Geo menoleh kebelakang, melihat Rosalina, mamanya. Seakan meminta tanggapan mamanya itu atas keinginan Sarmi.


Rosalina mengangguk.


”Baik, Mah. Geo yang membawa Syakila ke kota A dengan baik. Geo juga akan memulangkan Syakila ke kota S dengan baik.”


”Terima kasih, Nak. Mama sudahi dulu telfonnya. Assalamu 'alaikum!”


”Iya, Mah. Wa 'alaikum salam.” sahut Geo. Telfon terputus. Ia menghela nafas. Setelah memasukan hapenya ke saku celana, Geo melangkah pergi dari sana.


”Sudah, jangan menangis lagi. Semuanya sudah terjadi, tidak perlu di sesali. Kalian berdua pantas mendapat kebahagiaan dari pasangan yang kalian cintai.” ucap Rosalina, menenangkan Syakila yang masih menangis itu.


”Maafkan Syakila, Mah. Selama tinggal di rumah Mama, Syakila merepotkan Mama.” ucap Syakila.


”Tidak sayang. Justru Mama yang minta maaf, Mama tidak memperhatikan kamu dengan baik selama menjadi anak mantu Mama.”


Syakila mengangguk.


”Mama juga berterima kasih, padamu dengan tulus. Berkat kesabaran dan keteguhan hatimu dan semangat mu, akhirnya Geo bisa sembuh dari sakit dan taruma yang di deritanya.”


Syakila kembali mengangguk.


”Mama punya butik di kota S. Mama akan memberikan butik itu padamu, mohon kamu terima ya. Itu sebagai rasa terima kasih Mama, kamu merawat Geo.” lanjut Rosalina berucap.


Syakila melihat Rosalina. ”Tidak, Mah. Syakila tidak akan menerimanya. Maaf, Syakila menolak. Syakila ikhlas merawat Geo, karena itu adalah tanggung jawab Syakila sebagai istri.”

__ADS_1


”Mama juga member....”


”Maaf, Mama. Syakila tetap menolak. Syakila tahu Mama ikhlas memberikannya pada Syakila. Tapi, Syakila tidak bisa menerimanya. Mama jangan kecewa.” pangkas Syakila.


”Baiklah, Mama tidak akan memaksamu.” Rosalina mengalah.


”Em... baiklah! Bagaimana kalau sekarang kita pulang saja. Syakila juga sudah boleh pulang kan?” tanya Denis pada Syakila.


Syakila mengangguk. ”Iya. Ayo kita pulang.” jawabnya.


Mereka pun keluar dari rumah sakit.


.. ..


Di kantor Geo.


”Yang bertanggung jawab pada proyek di kota B dan proyek di kota P, tidak boleh pulang. Kita akan lembur membahas dan merancang pembangunannya sampai selesai.” titah Geo pada karyawannya.


Setelah memberi perintah, Geo meninggalkan lantai dua belas itu. Dia pergi ke lantai paling atas di perusahaannya.


”Apa? Bagaimana pak Geo mengubah keputusan dengan cepat? Bukan kah ini seharusnya besok siang baru kita akan bahas?” komentar salah satu karyawan Geo yang bekerja di lantai dua belas itu.


”Iya. Benar! Ini jadwal nya aku tulis dalam agenda. Besok, jam dua tepat, baru kita akan rapat membahas proyek di kota B.” komentar si karyawan yang bertanggung jawab pada proyek kota B tersebut.


”Iya, aku juga mencatat jadwal yang di berikan langsung sama pak Geo, bahwa besok jam empat sore akan ada rapat membahas terkait proyek di kota P.” sambung karyawan yang bertanggung jawab pada proyek di kota P.


”Apa kalian tidak melihat raut wajah sang direktur umum itu? Wajahnya begitu dingin. Biasanya juga berwajah dingin, tapi beberapa Minggu ini, dinginnya sangat menusuk.”


”Mungkin pak direktur lagi putus cinta. Kalian tahu kan kalau Dawiyah sudah meninggal? Dari situlah perubahan di wajah direktur kita.”


”Iya. Dia yang sakit hati, kita karyawan yang kena imbas.”


”Ya, nasib sebagai karyawan. Terima saja! Lagi pula, kerjakan hari ini ataupun besok sama saja.”


Komentar-komentar para karyawan di lantai dua belas itu, sepeninggal Geo.


.. ..


Di lantai paling atas perusahaan Geo.


Geo berdiri sambil memegang sebotol anggur di tangannya yang penutupnya telah terbuka. Dia memandang pemandangan yang dapat di jangkau dari atas sana.


Dia masih terpukul dengan kenyataan bahwa dia sudah resmi bercerai dengan Syakila. Wanita yang sukses membuat hatinya bergetar.


Senyum Syakila yang pernah wanita itu tampakkan padanya, terngiang di matanya. Sesekali Geo meneguk anggur. Ia tidak menangis, tapi matanya berkaca-kaca. Dia bertekad tidak akan menangis.


Pandangan matanya sangat sedih serasi dengan kesedihan di raut wajahnya. Putus asa, dia seakan putus asa.


Wanita yang ingin dia perjuangkan, malah dia lepas dengan mudah.


”Sialan dengan namanya janji! Kalau tidak ada kata janji-janji yang terucap, ini semua tidak akan terjadi!” ketus Geo bergumam.


.. ..


Perjalanan pulang.


”Om, singgah di rumahnya mama Rosalina dulu. Syakila ingin mengambil barang-barang Syakila.” titah Syakila pada Denis, yang menyetir mobil.


”Tidak perlu, sayang. Semua pakaian dan barang-barang mu yang lainnya, sudah ada di rumahnya Om. Beni yang mengantarnya ke rumah, atas perintah Geo.” ucap Denis.


Syakila terdiam. Dia tidak menyangka jika Geo sudah merencanakan dengan baik perceraian mereka.


Apa dia tidak ingin melihat ku lagi? Makanya dia mengeluarkan aku dengan cepat dari kediamannya? benak Syakila.


”Apa yang kamu pikirkan?” tanya Sardin.


Syakila menggeleng dengan cepat.


”Nanti kamu lihat barang mu itu. Kalau ada yang ketinggalan, nanti Om akan pergi mengambilnya.” ucap Anton.


”Iya, Om. Nanti Syakila akan cek.” jawab Syakila. ”Berarti Syakila akan tinggal sementara di rumah Om Denis?” tanyanya.


”Iya. Kamu tinggal bersama Om. Kamu tidur di kamar orang tuamu.” jawab Denis.


Syakila mengangguk mengerti. Ia tidak mungkin akan tinggal di rumah om Anton. Kamarnya sudah penuh terisi dengan anak-anak om sendiri dan anak buah om juga anak buah yang menjaga jualan almarhum ayahnya.


Lagi pula, akan jadi tidak enak nantinya jika tinggal di rumah om Anton, bersama Sardin.


Denis mengentikan mobil tepat di depan toko kosmetik Halim. Semua orang turun dari mobil. Mereka pergi ke rumah Denis.


”Maaf, Syakila langsung ke kamar. Syakila mau istirahat dulu.” pamit Syakila, setelah mereka duduk beberapa menit di kursi.


”Oh, iya. Kamu istirahat lah.” jawab Anton.


Syakila beranjak berdiri dari duduknya dan melangkah ke kamar orang tuanya dulu.


Sardin melihat punggung Syakila dengan sedih. Dia tahu, wanita itu akan menyendiri selama beberapa hari untuk menstabilkan emosi dan pikirnya.

__ADS_1


Jika kamu ingin menangis, menangis lah! Setelah besok, aku tidak akan membiarkan mu menangis lagi. Kekasih ku. benak Sardin.


.. ..


__ADS_2