Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 98


__ADS_3

Di ruang guru SD negeri 1.


Syakila duduk bersandar di kursi tempat mejanya sendiri di ruang para guru. Ia melepaskan penat dan lelahnya.


”Hah, Alhamdulillah, akhirnya semua selesai. Huft, baru kali ini aku mengajar sangat melelahkan. Sangat berbeda waktu mengajar di kota S.”


Jurina tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat dan mendengar kesah Syakila.


”Bu Asya, sepertinya tampak lelah. Yuk, kita ke kantin para guru untuk makan siang, sekalian bersantai sedikit di sana.” ucapnya mengajak.


”Bu Jurina, panggil saya dengan Asya saja, Bu. Dan maaf, untuk ajakannya, aku menolak.”


”Oh, hatiku sedih kamu menolak ajakan ku. Hum, kalau begitu, kamu juga jangan memanggilku dengan ibu Jurina, cukup memanggil ku saja dengan Rina. Itu adalah nama panggilan ku.”


”Oh, baiklah, Rina. Untuk tawaran mu, bisakah besok baru kita ke kantin bersama-sama? Sekarang aku harus pulang.”


”Oh, baiklah, Asya. Aku akan menunggu hari esok, semoga kamu menepatinya.”


Syakila merapikan mejanya, ia berdiri sambil menyandang tasnya. Ia melihat Jurina.


”Aku sudah berjanji, pasti aku tepati. Aku duluan pulang ya Rina, sampai ketemu besok.” pamitnya.


Jurina tersenyum dan mengangguk. ”Ok,”


Syakila meninggalkan ruang guru. Ia berjalan kaki sendirian pergi ke gerbang sekolah. Ia tahu jika supir Geo sedang menunggunya di sana sesuai dengan instruksi dari Geo sendiri.


Trrtrtrrt


”Aduh, siapa yang menelpon ini?”


Syakila meraih handphone dari tasnya. Ia melihat di layar Dian memanggil. Ia mengangkatnya.


”Ya, Dian, ada apa?”


”Kakak, kakak sudah pulang belum? Aku lagi nunggu kakak di depan pagar ini.”


”Hah, Dian, kakak lupa memberitahu mu jika kakak di antar dan di jemput oleh supir pribadi suamiku. Maaf yah, kamu pulang gih, gak usah nungguin kakak.”


”Yah, kakak gimana sih! Aku udah nungguin kakak dari lima belas menit yang lalu, masa kakak gak mau pulang bersama ku.” ucap Dian dengan kesal namun bernada manja.


”Dian sayang, kakak minta maaf sekali, kakak memang sudah pulang ini lagi berjalan ke arah gerbang. Tapi, kamu lihat kan ada sebuah mobil yang berplat nomor GA 1501 di sana. It__


”Iya kak, aku melihatnya.” sahut Dian memangkas ucapan Syakila. Ia melihat mobil tersebut berada beberapa centi dari tempatnya.


”Hum, itu mobil suamiku. Kamu pulanglah duluan, tunggu kakak di rumah mu. Kakak akan kesana bersama suami kakak.”


”Oh, benarkah kak? Kakak gak bohong?”


”Tentu saja kakak tidak bohong, sayang.”


”Baiklah, aku pulang duluan ya, kak. Aku tunggu kakak di rumah.” ucap Dian dengan senang.


”Iya, hati-hati saat berkendara, jangan ngebut!”


”Iya, kakak. Assalamu 'alaikum.”


”Hum, wa 'alaikum salam.” sahut Syakila.


Tut tut tut telpon terputus. Syakila memasukan kembali hape kedalam tas. Ia bergegas menuju gerbang. Ia melihat mobil Geo. Syakila mendekati mobil tersebut.


Obi, supir pribadi Geo turun dari mobil setelah melihat Syakila, ia membukakan pintu mobil untuk Syakila.


”Terima kasih, Mang Obi.” ucap Syakila. Ia masuk ke dalam mobil.


”Sama-sama, Nyonya.”


Obi masuk ke dalam mobil, ia menjalankan mobilnya.


”Mang, apa sudah lama Mang Obi nungguin Syakila di gerbang sekolah?”


”Iya, Nyonya, sesuai perintah dari tuan Geo. Saya mengantar sekaligus menunggu Nyonya sampai pulang.”


”Hah, aku tidak salah dengar, Mang? Berarti Mang Obi menunggu ku sudah selama lima jam disana.” ucap Syakila. Ia terkejut mendengar ucapan Mang Obi.


”Iya, Nyonya.”


”Maaf Mang Obi, aku sudah merepotkan.”

__ADS_1


”Tidak, Nyonya. Itu adalah pekerjaan ku.”


”Mang, lebih baik berikan aku nomor ponsel mu. Jadi, Mang Obi tidak usah menunggu Syakila selama itu, jika Syakila sudah pulang, Syakila akan menelfon.”


”Maaf, Nyonya. Saya tidak berani memberikan nomor ku, kecuali atas perintah dari tuan Geo.”


”Hum, baiklah, nanti aku sendiri yang akan bicara pada Geo.”


Selama bertahun-tahun bekerja sebagai supir pribadi tuan Geo. Dan sudah mengantar wanita yang pernah dekat dengan tuan Geo, baru wanita ini yang baik hatinya, ia juga tulus. Tapi sayangnya, wanita ini hanya menjadi penyembuh saja untuk tuan Geo. Harapan ku kedepannya semoga wanita ini yang akan terus menjadi Nyonya muda di rumah kediaman Albert.


Ia melirik Syakila dari kaca spion. Wanita itu sedang tertidur. Obi menjalankan mobil dengan kecepatan sedang dan menjalankan penuh hati-hati agar tidur Nyonya nya tidak terganggu.


Setelah menempuh beberapa menit dalam perjalanan, kini mereka sampai di kediaman Albert. Mang Obi tidak berani membangunkan Syakila. Ia sengaja tidak mematikan mesin mobil.


Ia membuka pintu mobil dengan sangat pelan agar tidak mengganggu tidur Syakila. Ia keluar dari mobil. Ia kembali menutup pintu mobil dengan pelan pula.


Ia menghampiri Geo yang duduk di teras rumah.


”Di mana Syakila?” tanya Geo. Pandangannya ke mobil.


”Tuan, Nyonya sedang tidur di dalam mobil, saya tidak berani untuk membangunkannya.” jawab sang supir.


”Hum, tidak usah di bangunkan. Apa kamu tahu di mana rumah omnya berada?”


”Iya, Tuan. Saya pernah mengantar Nyonya besar kesana.”


”Hum, bawa aku ke mobil, dan bawa kami ke rumah omnya Syakila.”


”Baik, Tuan.”


Obi mendorong kursi roda Geo. Ia membuka pintu mobil belakang dengan pelan, ia memapah Geo naik ke mobil. Setelah itu, ia kembali menutup pintu mobil dengan pelan. Obi juga kembali masuk kedalam mobil. Ia kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Geo melihat Syakila yang tertidur nyenyak bersandar di dinding pintu mobil. Ia memperbaiki letak posisi tidur Syakila dengan baik. Ia meletakkan kepala Syakila di pahanya. Ia membelai pelan wajah Syakila.


Mungkin dia kelelahan dalam mengajar makanya ia tertidur dengan nyenyak seperti ini. Bahkan sentuhan ku tidak ia rasakan. Ia sangat tidak berwaspada, bagaimana jika supir ku yang tidak patuh dengan ku dan mengambil kesempatan ini untuk menyakitinya? Aku akan menghukumnya nanti karena hal ini.


Ia masih melihat wajah teduh dan cantik Syakila. Ia tampak mengerut ketika melihat kening Syakila tiba-tiba mengerut. Syakila nampak gelisah.


”Tidak.. jangan...ayah.. ayah..” igauan Syakila.


”Syakila, bangun Syakila!”


”Ge..Geo, Ka.. kamu ngapain? Jangan terlalu dekat dengan ku.” ucap Syakila dengan gugup.


Ia mendorong tubuh Geo dengan pelan. Menit selanjutnya ia tersadar dengan kehadiran Geo di sampingnya. Dan posisi dirinya yang berbaring di paha Geo. Ia bangun dan duduk memberi jarak dirinya dengan Geo.


”Ka..kamu sudah lama disini? Kita..kita mau kemana?”


”Maaf, Nyonya, sekarang kita dalam perjalanan ke rumah Anton. Maaf, tadi saya melihat Nyonya tertidur, jadi saya tidak berani membangunkan Nyonya saat kita sudah sampai di rumah. Tuan juga tidak ingin membangunkan tidur Nyonya, jadi Tuan berpikir, jika Tuan ikut naik ke mobil dan pergi ke kediaman Anton. Sesampainya di sana, baru Tuan akan membangunkan Anda, Nyonya.” ungkap Obi menjelaskan.


”Oh, ma..maaf, aku tidak sadar jika aku tertidur dalam perjalanan.” ucap Syakila.


”Kamu mimpikan apa barusan? Apa yang terjadi dengan ayah mu?” tanya Geo.


”Apa kamu sudah makan siang, Geo?” Syakila balik bertanya kepada Geo, mengabaikan pertanyaan darinya.


”Belum.” jawab Geo dengan datar. Ia tahu Syakila sengaja mengalihkan pembicaraan.


”Mang Obi, tolong berhenti di tempat makan. Perut saya sangat lapar.” ucap Syakila kepada sang supir.


”Baik, Nyonya.”


Beberapa menit kemudian Mang Obi mengehentikan mobil di depan restoran.


”Nyonya, di depan sana ada restoran. Nyo__”


”Geo, Mang Obi, temani aku makan.” ucap Syakila memangkas ucapan Obi.


”Maaf, Nyonya, saya akan menunggu disini. Terima kasih tawarannya.” sahut Obi sopan.


”Aku tidak mau dengar alasan! Temani aku makan!”


Mang Obi melirik Geo. Geo mengangguk.


”Baiklah, Nyonya.” ucap Obi.


”Kalian berdua makanlah, aku menunggu di sini. Bungkusan aku makanan saja.” ucap Geo.

__ADS_1


Syakila mengerut. ”Tidak, kamu juga harus turun menemani ku makan.”


Geo menatap Syakila dengan tajam. Syakila menjadi gugup. Mang Obi melirik Geo dari kaca spion.


Aduh Nyonya, Anda terlalu berani memerintah tuan Geo. Nyonya sudah tahu bagaimana amarahnya tuan Geo jika marah, tetapi kenapa Nyonya sengaja membuatnya marah?


”A..aku tahu, kita sudah sepakat orang-orang tidak boleh tahu hubungan kita. Kamu tenang saja, jika ada orang yang bertanya tentang ku, aku akan menjawab aku adalah pelayan pribadi mu.” ucapnya.


Geo menghela nafas, ”Syakila, kamu sangat tahu kelemahan ku! Kamu juga tahu dengan penyakit ku! Apa kamu tidak pikir jika penyakit ku kumat di sana, bagaimana?”


Dan lagi pula, apakah kamu tidak malu berjalan dengan orang yang duduk di kursi roda seperti ku? Dan apakah kamu tidak akan malu jika aku histeris di depan banyak orang akan merusak reputasi mu? Kamu akan di cemooh sama orang.


Syakila menatap Geo dengan serius menatap kedua bola matanya.


”Geo, apakah kamu percaya padaku?”


Geo terdiam. Mang Obi juga ikut terdiam, ia juga ketakutan dan sangat gugup. Nyonya terlalu berani, pikir Mang Obi.


”Aku percaya padamu, Geo. Kamu tidak akan melakukan hal itu jika berada di dekat ku. Jadi, kamu percayalah padaku semuanya akan baik-baik saja. Tolong, temani aku makan perutku sudah sangat lapar sekali.”


Apa! Syakila mempercayai ku? Aku, di dalam restoran sana banyak orang, pria dan wanita. Kulitku tidak bisa menerima dengan hawa kulit orang lain. Tapi, aku melihat tatapan matanya penuh dengan keyakinan dan penuh harapan aku menemaninya makan. Apa aku harus percaya jika semuanya akan baik-baik saja?


”Aku mohon! Temani aku makan.” pinta Syakila lagi memohon. Pandangannya mengiba.


”Baiklah, jangan salahkan aku jika semuanya berantakan. Aku sudah memperingatkan mu.”


Syakila tersenyum senang, ”Iya, aku yakin semua akan baik-baik saja.” ucapnya penuh keyakinan.


”Mang Obi, bantu aku turunkan Geo dari mobil, aku akan menyiapkan kursi rodanya.”


”Baik, Nyonya.”


Syakila keluar dari mobil, ia menyiapkan kursi roda Geo. Mang Obi memapah Geo dan mendudukkannya di kursi roda.


”Biar aku saja yang mendorong kursi rodanya. Dan Mang Obi, jangan panggil aku Nyonya, panggil aku dengan namaku saja.”


Mang Obi terkejut, ia melirik Geo dengan takut dan gugup.


”Ma..maaf, Nyonya, sa..saya tidak berani.”


Syakila melihat Geo, Geo mengerti arti dari tatapan Syakila. Ia menghela nafas.


”Turuti ucapannya, Mang Obi.”


Mang Obi terperanjat mendengar ucapan Geo yang dengan mudahnya menuruti ucapan Syakila.


”Ba..baik, Tuan.”


Syakila tersenyum. Ia mulai mendorong kursi roda Geo. Mereka telah sampai di depan pintu restoran, Mang Obi mendahului jalan. Syakila melihat tangan Geo mulai gemetar saat memasuki pintu restoran. Ia menunduk dan mendekatkan bibirnya ke telinga Geo.


”Jangan gugup, tenangkan hati mu, jangan banyak berfikir!” bisiknya.


Geo menelan kasar salivanya. Ia benar-benar gugup, apalagi ia melihat tatapan mata para pengunjung lain sedang menatapnya. Ia mulai berkeringat. Syakila menyadari itu. Ia tetap menenangkan hatinya. Ia mempercepat langkahnya menghampiri Mang Obi yang sudah duduk di kursi.


Syakila duduk di hadapan Mang Obi, dan Geo berada di samping kirinya. Ia mengambil tisu yang ada di atas meja dan menyeka keringat yang keluar dari permukaan wajah Geo. Geo masih gugup, badannya masih gemetar.


Syakila memegang tangan Geo untuk menenangkannya. Ia kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Geo.


”Jangan takut! Lihatlah, sekarang kita sudah berada di dalam restoran duduk bersama para pengunjung lain. Bukan kah ini semua tidak apa-apa? Semua akan baik-baik saja. Tenangkan hatimu, jangan banyak berfikir yang tidak-tidak.”


Geo melepaskan tangan Syakila yang memegangnya. Ia menautkan jarinya dan jari tangan Syakila dan menggenggamnya erat, Syakila membalas genggaman tangan Geo.


Geo mengangguk, ”Pesanlah makanan mu, pesan saja makanan yang ingin kamu makan.” ucapnya dengan sedikit gugup.


Syakila mengangguk, ia memanggil salah satu pelayan wanita yang bekerja di restoran itu. Ia pun memesan makanan untuk dirinya dan untuk Geo juga Mang Obi. Tangan kirinya masih tetap bergenggaman dengan tangan Geo.


Mang Obi tersenyum bahagia di dalam hatinya. Ini pertama kali bagi Geo keluar dan menampakkan dirinya di hadapan masyarakat umum selama ia sakit. Ia juga sangat bersyukur Syakila benar-benar bisa membantu Geo, dan ia juga berharap agar penyakit Geo ini bisa sembuh total dan tidak anti lagi dengan wanita.


Makanan yang di pesan Syakila sekarang telah tertata rapi di atas meja. Mereka makan dengan diam. Syakila bisa merasakan jika Geo sudah mulai tenang dan tidak gugup, terasa dari genggaman tangan Geo yang sudah tidak gemetar lagi. Syakila tersenyum senang dalam hatinya sambil menikmati makanan di hadapannya. Ia menyuapi Geo dengan tulus, ia tahu Geo gak akan memakan makanannya dengan tangan kiri. Jadi, Syakila mengambil inisiatif menyuapi Geo.


Syakila, terima kasih, mulai sekarang aku akan mempercayai kamu, apapun yang kamu lakukan, yang kamu katakan, aku akan mempercayai mu.


”Alhamdulillah, akhirnya perutku kenyang. Mang Obi, Geo, apakah kalian juga kenyang?” ucap Syakila. Mereka telah menghabiskan makanan di atas meja.


”Hum, aku sudah kenyang. Terima kasih, Syakila.” sahut Geo.


Mang Obi kembali terperanjat kaget.

__ADS_1


Apa? Tuan Geo mengucapakan kata terima kasih! Apa aku tidak salah dengar? Selama ini tuan tidak pernah mengatakan kata terima kasih meskipun itu pada Beni sekalipun, bahkan pada mantan pacarnya, ia tidak pernah mengatakan kata terima kasih. Tapi ini, terhadap Syakila, luar biasa!


”Terima kasih, Nona, saya sudah kenyang.” sahut Mang Obi.


__ADS_2