
Di rumah sakit, di ruangan rawat inap Syakila.
Geo membuka pintu ruangan dengan pelan. Ia melihat hanya Sardin seorang diri di dalam ruangan itu menemani Syakila.
Ia melangkah masuk ke dalam ruangan. ”Mama ku belum datang ke sini?” tanyanya pada Sardin. Ia terus melangkah dan duduk di sisi ranjang Syakila.
”Eh..Geo. Kamu sudah datang? Em...iya. Tante belum datang. Hanya Beni yang datang tadi mencari mu. Dan aku bilang padanya kalau kamu pergi ke kantor. Dia pun pergi menyusul mu, setelah mengucapkan terima kasih padaku.” ungkap Sardin.
”Oh..iya. Mungkin ada hal yang ingin dia bahas dengan ku. Aku juga tidak bertemu dengannya di kantor. Ruangan ku dan ruangan dia berbeda.” alibi Geo, menutupi kebohongannya. ”Bagaimana Syakila? Apa ada perubahan?”
”Belum ada! Aku juga bingung, apa yang membuatnya enggan untuk sadar? Mungkinkah almarhum Halim yang menahannya untuk kembali pada kita, yang sudah mempermainkan perasaan Syakila?”
”Jangan ngaco kalau berbicara!” ketus Geo menegur Sardin.
”Itu karena kamu gak tahu, kalau Syakila sangat dekat dengan almarhum ayahnya, Halim daripada sama saudaranya dan ibunya, Sarmi.” ungkap Sardin. Ia menjeda ucapannya.
Geo melihat Sardin dengan serius. Ia memang tidak tahu tentang Syakila sebelum dia mengenal Syakila. Jadi, ia ingin mendengarkan cerita Sardin dengan seksama tentang Syakila.
”Mungkin di alam sana Syakila mencurahkan hatinya yang di patahkan sayapnya oleh kita berdua pada Halim. Dan Halim, merasa kasihan dan mencegah anaknya kembali pada kita.”
Sardin menghela nafas. ”Tempat curahan hati Syakila adalah Halim. Apapun yang di alami yang di rasakan oleh Syakila, tempat pelariannya adalah Halim. Sejak meninggalnya Halim. Syakila menutup diri dan memendam semua perasaannya sendirian. Dia tidak pernah menceritakan perasaannya pada siapapun, ataupun berkeluh kesah pada seseorang. Dia pandai menyimpan perasaannya.”
Sardin melihat Geo. Geo masih serius memandang dan mendengarkan ceritanya, tanpa menanggapi.
”Setelah kami bertemu kembali di kota S selama beberapa tahun terpisah, perlahan-lahan Syakila sudah mulai menceritakan perasaannya pada ku. Kami berdua adalah teman dekat semasa kecil di kampung dan di sekolah. Dan kami mengikat satu janji untuk saling mengunci hati pada orang lain. Syakila dan aku sama-sama orang yang menepati janji...”
”Untuk itukah, Syakila menutup pintu hatinya dariku?” pangkas Geo, bertanya.
Sardin mengangguk. ”Iya. Dan karena janjinya dengan almarhum ayahnya, Halim untuk memenuhi segala permintaan Rosalina maupun Albert yang datang pada mereka suatu saat nanti, jika mereka berdua datang menagih janji. Makanya, Syakila memutuskan ku dan menikah dengan mu.”
Sardin menjeda ucapannya sejenak. Ia melihat Syakila lalu kembali melihat Geo.
”Syakila memilih menikahi mu hanya karena semata-mata memenuhi janjinya pada almarhum ayahnya, Halim. Bukan karena untuk menebus hutang ayahnya pada ayah mu. Bukan juga takut pada ancaman kalian yang ingin memenjarakan Sarmi. Meskipun Sarmi seorang janda, ia mampu membayar hutang Halim pada ayah mu dengan harta yang di milikinya. Usaha almarhum Halim ada di kota ini, di jaga oleh anak buah paman ku, di bawah pengawasan pamanku sendiri. Tiap bulan, dari penghasilannya di kirim ke nomor rekening masing-masing anak-anak Halim juga ke rekening Sarmi sendiri.” ungkapnya.
Iya...dan karena kartu kredit itu yang sering di gunakan Syakila untuk berbelanja, aku salah paham padanya. Menyebutkan wanita matre. Aku mengira kartu kredit itu pemberian darimu berikut dengan uangnya.Ternyata aku salah. benak Geo.
Sardin dan Geo menoleh ke arah pintu, saat mendengar suara pintu terbuka. Mereka melihat Rosalina yang berjalan masuk dengan membawa bekal di tangannya.
”Bagaimana keadaan Syakila? Apakah ada perubahan?” tanya Rosalina. Ia menaruh rantang makanan di atas meja.
”Belum! Dia masih setia dengan tidur panjangnya” jawab Sardin dan Geo.
”Kalian berdua makanlah saja dulu.” titah Rosalina pada Sardin dan Geo.
”Iya.” jawab keduanya, yang memang sudah lapar.
Geo mengambil rantang makanan yang ada di atas meja. ”Ayo, kita duduk di kursi panjang.” ajaknya pada Sardin.
Mereka berdua berjalan ke kursi panjang dan duduk berhadapan. Geo membuka rantang makanan. Ia memberikan piring satu pada Sardin dan satu pada dirinya.
Dia menyuruh Sardin menyendok makanan dulu, baru Geo menyendok makanannya sendiri. Mereka makan dengan tenang.
Rosalina melihat Syakila dengan sedih.
Kapan kamu akan bangun, sayang? Bangunlah! Mama ingin mendengar suaramu. Mama ingin mendengar tawamu. Bangunlah, sayang! benaknya.
.. ..
Di kediaman Denis.
Sehabis makan malam, Anton, Serlina, Denis, Hamid, Halima dan Samnia duduk di teras rumah.
Anton dan Serlina berkunjung ke rumah Denis. Yang kebetulan, Hamid dan Halima juga berada di rumah Denis dan sedang makan malam. Anton dan Serlina juga ikut bergabung makan malam bersama mereka.
”Jadi, hubungan Geo dan Syakila benar-benar sudah berakhir?” tanya Hamid.
”Iya, sudah. Tinggal menunggu Syakila tanda tangani surat cerai yang di pegang oleh Geo.” jawab Denis.
”Tanpa perlu adanya ke pengadilan lagi?” tanya Hamid lagi.
”Tidak. Pernikahan mereka juga belum tercatat dalam negara. Hanya secara hukum agama saja. Pernikahan mereka tidak sah dalam hukum negara dan buku surat nikah mereka juga tidak sah. Tidak ada tanda tangan dari Syakila sendiri.” ungkap Serlina.
”Tadi sore, aku melihat kerapuhan hati Geo.” Anton menunduk, saat bersuara. Wajahnya sedih.
Denis, Hamid, Samnia, Serlina, Halima melihat Anton dengan serius. Tanpa bertanya ataupun membuat suara apapun. Mereka semua menunggu kelanjutan cerita Anton.
”Geo. Sebenarnya, pria itu tidak ingin menceraikan Syakila. Dia sangat mencintai Syakila. Hati ku sedih saat melihat Geo yang menangisi kisah cintanya di pusara ayahnya, Albert.” ungkap Anton. Ia menghela nafas, sambil melihat langit hitam di atas sana.
__ADS_1
”Apa? Geo menangis? Di kuburan?” Hamid, Denis, Samnia, Serlina, dan Halima bertanya tidak percaya.
Anton melihat mereka satu persatu sambil mengangguk sedih. ”Aku juga tidak percaya, jika aku hanya mendengar dari cerita orang saja. Tetapi, ini aku lihat sendiri saat aku pergi ke pusara Halim. Aku mendengar ucapannya dan melihatnya menangis. Ku kira dia adalah pria yang sangat kuat, tetapi, dia juga ternyata memiliki sisi hati yang rapuh.”
Sunyi, ucapan Anton tidak ada yang menanggapi sama sekali. Mungkin saja, tidak ada bahan kata yang tepat untuk di ucapkan, untuk menanggapi perkataan Anton, mengenai Geo.
”Tapi, dia terpaksa berbesar hati untuk menceraikan Syakila. Melepaskan Syakila, untuk kebahagiaan Syakila.”
”Kenapa dia duluan menandatangani surat cerai itu? Kenapa tidak menunggu Syakila sadar? Bisa saja saat Syakila sadar, Syakila berbalik mencintainya, dan mensahkan pernikahan mereka. Ya, kan?” tanya Halima.
”Geo juga pernah berjanji pada ku, jika dalam satu bulan dia tidak berhasil membuat Syakila mencintai nya, dia akan menceraikan Syakila. Mungkin itu yang membuat dia yakin untuk bercerai sekarang.” jawab Anton.
Semua terdiam.
”Kita hanya bisa mendoakan agar Geo mendapatkan pengganti yang terbaik lagi dari Syakila. Yang dapat mencintainya.” ucap Serlina, kemudian.
”Aamiin!” mereka semua mengamini ucapan Serlina tersebut.
.. ..
Di kota S, kediaman Sarmi.
Sarmi duduk sendirian di teras rumah. Ia masih memikirkan suara wanita yang mirip suara Syakila, yang berbicara dengannya beberapa hari ini ketika dia menelfon.
Pemikirannya sangat kuat sekali, jika dia adalah orang lain. Suaranya memang mirip dengan Syakila. Tapi, ada beberapa hal yang dia tangkap, yang membuktikan jika orang itu bukan Syakila.
Tetapi, dia mempercayai Anton, Denis, Geo, dan Serlina yang mengatakan jika dia adalah Syakila. Tidak mungkin mereka akan membohongi dirinya.
”Apakah mungkin mereka membohongiku? Selama aku telfon, saat aku menanyakan Samnia, mereka selalu bilang Samnia sedang sibuk. Apakah benar begitu?” gumamnya.
”Mama masih memikirkan suara wanita yang mirip dengan suaranya Syakila?” tanya Hardin. Ia menarik kursi dan duduk, menemani mamanya itu.
Ia baru selesai makan dan melihat pintu rumah masih terbuka saat ia pergi ke depan, menonton tv. Ia pun pergi ke teras melihat siapa yang duduk di teras rumah. Dan ternyata dia adalah Sarmi, mamanya.
”Iya. Perasaannya Mama sangat kuat jika wanita itu bukanlah Syakila.” jawab Sarmi.
”Jika Mama masih kurang yakin, ulang telfon saja, dan tes dia menggunakan warna kesukaan ku. Di situ Mama akan tahu, apakah dia Syakila atau bukan?” usul Hardin.
”Iya, kamu benar! Baiklah, besok baru Mama akan ulang telfon Geo. Mama akan berpura-pura menanyai apa warna kesukaan mu padanya. Sekarang ini, mereka pasti sudah tidur.” ucap Sarmi.
”Iya. Jika dia langsung menjawab Coklat dan merah, berarti dia memang kakakku. Dan sekarang, Mama masuklah beristirahat. Gak baik begadang di malam hari.”
Sebenarnya, Hardin juga curiga hal itu Mah. Makanya Hardin mengusulkan Mama untuk mengetes Syakila seperti itu. benak Hardin.
”Semoga kakak di sana baik-baik saja!” gumamnya.
Hardin segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu serta menguncinya. Ia pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
.. ..
Di rumah sakit, di ruangan Syakila.
”Mama, sebaiknya, Mama pulang istirahat di rumah saja. Di sini, ada Geo dan Sardin yang menemani Syakila.” ucap Geo pada Rosalina.
”Iya, Tante. Tante pulang istirahat saja. Syakila, kami berdua yang jaga. Kalau Syakila sudah sadar, kami akan mengabari Tante.” sambung Sardin.
”Yah, baiklah! Saya menurut. Saya titip anak perempuan saya. Kalau ada apa-apa, kabarin saya. Tinggal dia anak perempuan ku.” jawab Rosalina.
”Iya, Mah!”
”Iya, Tante!”
”Kalau begitu, Mama pulang dulu. Kalian berdua juga jaga diri baik-baik.” ucap Rosalina.
”Iya,” jawab Sardin dan Geo.
Rosalina beranjak keluar dari ruangan rawat inap Syakila.
”Sardin. Kamu tunggu di sini. Aku antar mamaku ke halaman parkir.” pamit Geo pada Sardin.
”Iya.”
Geo keluar mengejar mamanya. Sardin melihat Syakila.
”Syakila, sayang! Apa yang membuat mu enggan untuk bangun? Hum? Kamu tidak merindukan kakak?”
”Syakila, kakak merindukan suara manja mu ketika bermanja pada kakak. Kakak merindukan tawa mu, kakak merindukan mu, Kila. Bangunlah, lihatlah kakak.”
__ADS_1
Sardin mulai mengajak Syakila berbicara lagi. Geo mendengar ucapan-ucapan Sardin. Ia tidak mengantar Rosalina ke halaman parkir rumah sakit.
Ia sengaja keluar, memberikan Sardin waktu untuk berbicara pada Syakila. Karena ia berpikir, Sardin pasti enggan mengajak Syakila berbicara jika ada dirinya di sana.
Dan itu benar saja. Selama Geo dan Sardin berada di ruangan itu, di antara mereka berdua tidak ada yang mengajak Syakila untuk berbicara.
Dan sekarang, di saat hanya Sardin sendirian di dalam sana, ia mengajak Syakila berbicara.
”Syakila, ada banyak hal yang ingin kakak ceritakan padamu. Bukan kah kamu selalu antusias mendengarkan cerita dan keluhan kakak? Bagaimana kakak akan mencurahkan isi hati kakak, jika kamu tidak bangun dan mendengarkan kakak?”
”Kakak mohon! Bangunlah! Dengarlah keluh kesah kakak.” Sardin menggenggam jemari tangan Syakila dan menciumnya.
Geo tidak mendengar suara Sardin lagi yang mengajak Syakila bicara dari sepuluh menit yang lalu. Ia pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruangan.
Dengan cepat Sardin menarik tangannya dari tangan Syakila. ”Tante sudah pulang?” tanyanya pada Geo, yang sudah berada di sisi kiri Syakila.
”Iya. Aku menemani mama ku sampai supirnya datang, baru aku kembali kesini.” alibi Geo, berbohong.
”Oh.” hanya itu sahutan Sardin.
Suasana berubah hening seketika. Di antara Geo maupun Sardin tidak saling bicara lagi. Mereka berdua hanya fokus melihat wajah Syakila yang tidur dengan pikirannya masing-masing.
”Geo, apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?” Sardin membuka suaranya setelah beberapa menit dari keheningan yang tercipta.
Geo melihat Sardin. ”Tanya apa? Jika aku bisa jawab, aku akan jawab. Jika aku merasa tidak perlu menjawabnya, aku tidak akan jawab.”
”Kamu masih mencintai Syakila?”
”Pertanyaan itu, tidak perlu aku jawab. Kamu, sebagai seorang lelaki, kamu pasti paham padaku.” jawab Geo.
”Jika begitu, aku anggap kamu memang mencintai Syakila.”
Geo tidak menanggapi, ia hanya melihat wajah Syakila.
” Jujur, aku juga sangat mencintai Syakila. Tapi, aku bisa melihat dan merasakan cinta mu lebih besar dari cintaku pada Syakila. Dan aku juga bisa merasakan, Syakila menaruh rasa juga padamu.”
Geo melihat Sardin, namun, tidak menanggapi.
”Kamu pasti bertanya kenapa aku sampai mengatakan hal itu kan?” Sardin menghela nafas, ”Geo, sebenarnya di malam penyerangan di gedung itu, aku cemburu dan aku marah sama kamu, sama Syakila. Aku marah sama Syakila yang tidak pedulikan keselamatan dirinya hanya demi melindungi kamu. Aku marah sama kamu, karena kamu telah berhasil membuat Syakila memperhatikan mu.”
Sardin menjeda ucapannya. Geo masih melihat Sardin dengan serius. Ia tidak menghiraukan uraian kata Sardin. Dia hanya menangkap Syakila menyukainya.
” Wanita yang berani melindungi seseorang dengan nyawanya sendiri, bukankah karena orang itu sangat istimewa di hati wanita tersebut? Iya kan?” tanya Sardin pada Geo.
Geo masih tidak menanggapi, justru bayangan Syakila yang melindungi dirinya malam itu kembali terbayang di matanya.
”Hal itu tidak bisa di tafsirkan jika Syakila memiliki rasa terhadap ku. Justru aku iri dengan besarnya cinta Syakila untukmu. Dan aku iri dengan cinta kalian, cinta kalian sampai menyatu ke dalam jiwa dan nafas kalian. Di saat Syakila sakit, kamu merasakan. Di saat kamu sakit, Syakila juga dapat merasakan. Aku iri dengan cinta ini.” ucap Geo, kemudian.
”Aku sangat mengenal Syakila. Aku tahu jika dia menyukai mu. Tapi, dia wanita yang selalu teguh dengan janji. Dia pasti akan menunaikan janjinya padaku, menikah denganku. Aku tidak ragu akan cinta Syakila padaku. Dia mencintai ku. Tapi, aku meragukan jika dia tidak mencintai mu. Dia mencintai kita berdua.” Sardin melihat Syakila.
Geo juga melihat Syakila.
Drrrtrt! Suara nada dering handphone Sardin berbunyi.
Sardin melihat di layar hapenya. ”Orang tuaku menelepon. Aku keluar dulu, menerima panggilannya.” pamit Sardin.
Geo mengangguk.
”Halo, wa 'alaikum salam, Mah.” Sardin menjawab telfon ibunya sambil berjalan ke luar ruangan.
Geo melihat Syakila. Ia menggenggam jemari tangan Syakila. ”Apakah yang di katakan Sardin adalah benar?” tanyanya pada Syakila, meski ia tahu, dia tidak akan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya itu.
”Jika benar, aku berterima kasih padamu, karena aku sudah ada di hatimu. Jika hal ini yang membuat mu bimbang untuk kembali. Aku mohon padamu, kamu tidak perlu bimbang. Aku tahu, kamu orang yang menepati janji. Janjimu denganku sudah selesai, sudah terpenuhi. Janjimu pada ayahmu juga sudah kamu penuhi. Di antara kita sudah tidak ada janji lagi. Tinggal janjimu dengan Sardin. Aku tidak apa-apa, jika kamu menikah dengan Sardin. Mendengar kamu yang mencintai ku, sudah cukup bagiku.” ucap Geo. Ia mencium jemari tangan Syakila dan mencium kening Syakila. ”Cepat sadarlah dan penuhilah janjimu pada Sardin. Itu adalah hutang mu dengannya.”
Geo segera melepas tangannya yang menggenggam tangan Syakila dan menarik dirinya dari Syakila saat mendengar ganggang pintu yang di putar.
Ia duduk di kursi dengan bersedekap dan bersandar di kursi sambil melihat Syakila. Matanya masih terlihat berkaca-kaca.
Pintu ruangan terbuka. Sardin masuk ke dalam ruangan. Ia kembali duduk di tempatnya semula.
”Kamu mengantuk? Matamu berair. Tidurlah, jika mengantuk.” ucap Sardin pada Geo.
”Iya. Aku tidur dulu! Jika kamu ngantuk, kamu tidur saja. Untuk Syakila tidak perlu terlalu khawatir, dari pihak rumah sakit akan datang tiga jam sekali untuk melihatnya.” tutur Geo. Ia berbaring di ranjangnya, ranjang yang dulu Sardin tiduri saat di rawat.
”Iya.” jawab Sardin.
Ia melihat Geo telah memejamkan matanya. Tangan kanannya, ia taruh di atas keningnya.
__ADS_1
Sardin pun berbaring di ranjang, ranjang yang di gunakan Geo saat di rawat, di ruangan itu. Ia memiringkan badannya menghadap Syakila.