Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 93


__ADS_3

Di pemakaman umum.


Syakila, Dian, Denis, dan Anton berjalan bersama memasuki pemakaman umum. Syakila membawa sekantong plastik kelopak bunga mawar untuk di taburi di atas gundukan kuburan ayahnya. Anton melihat sekeliling area pekuburan.


Syukurlah orang yang datang berziarah sore hari ini sangat ramai. Jadi, jika ada anak buah dari anak Kevin tidak akan jadi masalah untuk Syakila.


”Paman, Syakila tidak ingat jelas dengan letak kuburan ayah. Sepertinya dulu kuburan ayah berada di sekitar sini, tapi, mengapa tidak terlihat sekarang? Seingat ku dulu di sekitar kuburan ayah belum ada kuburan lain.” ucap Syakila.


”Syakila, kuburan urutan ke lima ke atas dari kuburan di depan mu itu, itu adalah kuburan ayahmu. Memang wajar jika kamu sedikit lupa, sudah bertahun-tahun kamu meninggalkan kota ini, dan sekarang sudah banyak kuburan lain di sekitar kuburan ayah mu.” jelas Anton.


Syakila melihat kuburan tersebut, ia membaca papan nisannya. Dan benar saja, papan itu bertuliskan nama Halim di sana. Ia mempercepat langkahnya untuk segera sampai di kuburan ayahnya. Ia duduk bersimpuh di depan kuburan Halim.


”Papa, maaf kan Syakila, Syakila baru sempat mengunjungimu.” ucapnya.


Ia memegang nisan yang bertuliskan nama Halim itu. Ia mengusap usap nama ayahnya dengan lembut. Matanya berkaca-kaca, teringat kembali kenangan manis ayahnya di saat ia masih kecil.


”Ayah, aku merindukan mu.”


Syakila menaburkan kelopak bunga-bunga di atas kuburan ayahnya.


”Syakila, ayo kita bacakan Yasin dan doa untuk sang pemilik kubur.” ucap Denis.


Syakila mengangguk.


Denis memberikan buku Yasin kecil kepada Syakila dan Dian juga Anton. Mereka semua membacakan Yasin untuk sang pemilik kubur juga doa.


”Aamiin.” ucap mereka semua sambil mengusap wajah mereka mengakhiri doanya.


Papa, apa papa tahu? Sekarang Syakila akan mulai mengajar lagi di kota ini. Papa, seandainya papa masih hidup, apa papa akan bangga dengan Syakila yang seperti ini? Papa, kini hanya kenangan dan bayang-bayang mu saja yang masih segar di ingatan Syakila. Syakila rindu sama papa, sangat rindu, pa.


”Para peziarah kubur yang lain sudah mulai meninggalkan kuburan. Kita juga harus pulang, sudah mau masuk waktu Maghrib.” ucap Anton.


”Hum, iya, Om.” sahut Syakila.


Papa, Syakila pulang dulu, nanti Syakila akan berkunjung lagi kesini.


Syakila beranjak berdiri menyusul Denis, Anton, dan Dian. Mereka semua keluar dari pekuburan bersama dengan peziarah kubur lainnya. Syakila berjalan sambil melamun dengan wajah sedih. Denis dan Anton menyadarinya, namun, mereka berdua membiarkan Syakila begitu saja. Mereka berdua dapat memahami perasaan Syakila saat ini.


”Bos, coba lihat gadis yang bersama Anton dan Denis. Siapa dia? Sepertinya dia orang baru di kota ini, dan selama mereka berkunjung di kuburan Halim, baru ini aku melihat kehadiran gadis itu. Apa jangan-jangan dia salah satu anaknya Halim?” ucap salah satu anak buah dari Vian, adik dari Kevin.


Vian memperhatikan Anton, Denis, Dian, dan seorang gadis di antara mereka yang sedang berjalan ke arah mobil yang berwarna silver.


”Kamu benar, jangan ada yang gegabah! Jangan sampai mereka Anton dan Denis menyadari kita sedang memantau mereka! Untuk cewe itu, biar jadi urusan ku!” sahut Vian.


Pandangannya terus menatap sosok gadis tersebut meskipun gadis itu telah masuk ke dalam mobil dan mobil tersebut berjalan perlahan meninggalkan area pekuburan.


”Ayo kita pergi dari sini!” ucapnya lagi.


Mereka masuk ke dalam mobil, Vian meraih handphone dari sakunya. Ia mengetik sebuah pesan dengan cepat.


”Antonio, coba tebak! Hari ini kami melihat seorang gadis di antara Denis dan Anton berkunjung ke kuburannya Halim. Bagaimana menurut mu?” Vian.


Ting! Notifikasi pesan masuk. Vian segera membaca dan membalasnya.


”Hah, setelah sekian lama, akhirnya muncul juga salah satu anaknya Halim! Bagus, aku akan segera kesana untuk melihat gadis itu.” Antonio


”Sepertinya, kamu sangat semangat sekali, Antonio? Apa kamu yakin itu adalah anaknya Halim?” Vian.


”Tentu saja! Tentu saja aku yakin, Vian! Dia pasti anaknya Halim, kalian jangan gegabah dalam bertindak!” Antonio.


”Beres!” Vian.


Ia dan Antonio sama-sama tersenyum licik di tempat yang berbeda.


.. ..


Di kediaman Albert.


”Sudah jam segini, mengapa Syakila belum juga pulang?” tanya Rosalina khawatir.


”Tidak usah khawatir Tante, dia aman di tempat omnya. Jika dia menghubungi ku untuk menjemputnya di saat aku berada di bandara, aku akan menghubungi Geo atau Tante untuk pergi menjemput Syakila.” sahut Beni.

__ADS_1


”Hum,” ucap Geo dan Rosalina.


Ting! Bunyi suara tanda pesan dari hape Beni dan Geo bersamaan. Geo dan Beni sama-sama melihat ke layar hape mereka.


Geo mengerut dengan wajah cemberutnya melihat notifikasi dan membaca pesan yang masuk di hapenya. Sedangkan Beni, ia membaca pesan tersebut dengan senyum.


”Kak Beni, maaf kak, Syakila belum bisa pulang sekarang. Kakak tidak usah khawatirkan Syakila, Syakila pulang nanti di antar sama om Denis. Tolong kakak bilang ke mama untuk tidak usah menunggu Syakila makan malam, karena Syakila di tahan sama om Anton dan bibi tidak bisa pulang sebelum makan malam.” Syakila.


”Baiklah, kamu bersenang-senang lah di rumah Om mu. Kakak akan memberitahu Tante untuk tidak khawatir dan menunggumu saat makan tiba. Kebetulan sekali om mu yang akan mengantar mu pulang, karena kakak tidak bisa juga menjemput mu kesana. Kakak akan berangkat ke kota pusat jam setengah delapan ini.” Beni.


”Hah, kakak mau pergi kesana berapa hari? Yah, jadi gimana dong kalau Syakila akan keluar, siapa yang akan antar Syakila, kak Beni?” Syakila.


”Hahaha, kenapa? Bukankah ada supir pribadi Tante dan Geo? Kamu bisa menyuruh mereka berdua untuk mengantar mu kemana pun kamu pergi. Kakak belum tahu akan selama berapa hari di kota pusat, kenapa?” Beni.


”Gak kenapa-napa kak, cuman, kalau gak ada kakak di rumah itu berarti aku gak ada teman ngobrol yang baik.” Syakila.


”Kan ada Geo, ada Tante, mereka berdua bisa di ajak ngobrol baik-baik kok, Kila.” Beni


”Huh, kalau bicara sama mama aku gak sedekat itu kak. Apalagi bicara dengan Geo? Yang ada perang mulut kak, bukan saling berbicara!” Syakila.


Geo menggertakan kedua giginya, tangannya juga mengepal erat. Ia melirik Beni dengan tajam.


Kurang ajar! Bisa-bisanya wanita itu mengabaikan aku, suaminya sendiri hanya untuk pria lain! Dia kira aku gak khawatir dengan keadaannya sekarang, dia tidak menghubungi ku dia malah menghubungi Beni. Apa dia bilang? Kalau bicara sama aku yang ada bertengkar terus? Gadis ini memang, dia benar-benar minta jantung setelah ku kasihkan hati. Gadis gak berperasaan!


Ia lanjut membaca SMS antara Beni dan Syakila saat notifikasi pesan masuk yang terekam di hapenya.


”Jangan bilang begitu, Syakila. Dia itu masih suami mu. Baiklah, Syakila, Kakak pamit yah, Kakak pergi ke kamar dulu untuk bersiap.” Beni.


”Iya, kak. Kak, hati-hati di jalan yah.” Syakila.


”Iya, Kila sayang.” Beni.


Hati Geo memanas membaca pesan itu apalagi di bubuhi dengan emoticon love.


Brengsek! Mengapa tiba-tiba aku jadi panas begini membaca pesan mereka berdua?


”Ehm, Tante, Geo, Syakila baru saja mengirimkan SMS padaku,” Dia bilang, ”Tante, dan Geo tidak usah khawatir tentangnya dan tidak usah menunggunya untuk makan malam. Syakila di tahan oleh om dan bibinya, setelah makan malam baru omnya akan mengantar dia pulang.” ucap Beni.


”Em, Tante. Tante tidak usah menyiapkan makanan untuk Beni, Beni akan bersiap untuk pergi ke kota pusat.” ucap Beni menahan langkah Rosalina.


”Oh, baiklah. Tante ke dapur dulu.” sahut Rosalina.


”Iya Tante.” ucap Beni.


Rosalina berjalan ke ruang dapur.


”Oh iya, Geo, aku sudah mengatur keuangan perusahaan Antonio ke perusahaan mu. Juga aku sudah mengurangi jumlah uang yang akan masuk pada kartu kredit milik Antonio. Jika dia tahu ini, dia pasti akan semakin marah padamu dan akan berusaha lebih menyakiti mu lagi. Jadi, kamu harus berhati-hati.” ucap Beni lagi.


”Hum, aku sudah tahu hal itu. Jika kamu sudah sampai di sana, jangan kamu mengatakan kondisiku padanya. Jika kamu bertemu dengan Dawiyah, katakan padanya aku menunggu dia datang padaku untuk penjelasannya. Dan jika Marlina ingin ikut kamu kesini, biarkan saja dia.” sahut Geo.


”Baik, sesuai ucapan mu. Aku pergi ke kamar dulu.”


Beni berdiri dari duduknya.


”Beni, tunggu!”


Geo menahan langkah kaki Beni. Beni terhenti di tempat berdirinya dengan membelakangi Geo.


”Ada apa?” tanya Beni tanpa menoleh pada Geo.


”Apa perasaan mu serius pada Syakila? Apa kamu tidak bisa mencari wanita baik yang lebih segalanya dari Syakila?”


Beni menyeringai, ”Syakila adalah gadis yang terbaik yang pernah ku temui. Aku tidak akan menyesal menaruh perasaan padanya, dan aku pasti salah satu pria yang beruntung jika bisa menikahinya. Aku pergi!”


Beni melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Geo terdiam. Apa benar Syakila gadis baik yang seperti mama dan Beni ucapkan? Mengapa aku tidak bisa merasakan kebaikan yang ada padanya? Apa itu karena aku yang membatasi diriku untuk wanita lain, juga karena aku yang sudah terlanjur membenci wanita? Makanya aku tidak bisa melihat kebaikan pada diri Syakila? Apakah benar begitu? Pikir Geo.


Tidak, aku tidak boleh tersentuh hanya karena ucapan Beni juga dengan mama! Cuma Dawiyah, wanita satu-satunya yang tulus padaku. Dawiyah, aku masih memberimu kesempatan, datanglah padaku dan beri penjelasan padaku, mengapa kamu lari saat pertunangan kita? Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari ku? Antonio menekan mu dan mengancam mu seperti apa sehingga kamu berani lari dariku?


Beni datang dengan mendorong kopernya. Ia melihat Geo yang sedang melamun. Ia mendekatinya. Ia memegang bahu kanan Geo.


”Geo, aku pergi dulu. Kamu jaga dirimu baik-baik disini, dan jika ada masalah dengan perusahaan, kamu datanglah ke kantor temani Tante.” ucap Beni.

__ADS_1


Geo menepis tangan Beni dari bahunya. Wajahnya berubah menjadi datar.


”Beni, apa kamu sedang mengolok-olok ku? Kamu sangat tahu dan paham kondisi ku saat ini.”


”Tidak Geo, aku sama sekali tidak mengolok mu. Aku hanya memberitahukan mu akan tanggung jawab mu. Kamu harus berusaha bangkit, jangan berdiam dan pasrah dengan keadaan mu. Aku pergi sekarang, sampaikan pada Tante jika aku sudah berangkat.”


Tanpa menunggu jawaban dari Geo, Beni berjalan keluar rumah. Ia pergi ke bandara seorang diri.


Apa maksud ucapan Beni? Apa dia akan meninggal ku disini sendirian untuk mengurus perusahaan? Apa dia tidak peduli lagi padaku? Bagaimana mungkin dia berbicara begitu padaku? Dia sangat tahu kelemahan ku sekarang. Dia memintaku untuk memimpin kembali perusahaan, apa aku bisa?


Setelah kepergian Beni, Rosalina datang dari arah dapur. Ia menghampiri Geo.


”Geo, apa Beni masih di kamarnya?”


”Tidak Mah, Beni, dia baru saja berangkat.”


”Oh, kalau begitu, mari kita ke dapur, Mama sudah memasak kan makanan kesukaan mu.”


”Hum,”


Rosalina mendorong kursi roda Geo pergi ke dapur. Mereka sedang menikmati makan malamnya.


.. ..


Di kediaman Anton.


Keluarga Anton, keluarga Denis, beserta Syakila dan beberapa anak buah Anton, termasuk karyawan yang menjaga kedua toko Halim, mereka semua baru saja selesai menikmati makan malam.


”Tante, Bibi, ini sudah malam, Syakila harus pulang sekarang. Jika tidak, orang di rumah akan khawatir nantinya karena Syakila belum juga pulang.” ucap Syakila.


”Baiklah, biar Om yang antar kamu pulang.” tawar Anton.


”Em, Anton, biar aku saja yang antar Syakila pulang. Aku sudah tahu rumahnya.” tawar Denis.


”Baiklah, kamu pakai mobilku saja, sekalian antar anak dan istrimu ke rumah mu dulu, baru lanjut antar Syakila.” ucap Anton.


”Baiklah,” sahut Denis.


”Syakila, sering-seringlah datang kemari. Kami adalah keluarga mu satu-satunya, jangan jaga jarak mu dengan kami. Dan ingat, tanpa sepengetahuan dari kami, kamu tidak boleh pergi ke kuburan ayah mu sendirian! Mengerti!?” ucap Anton.


”Iya, Om. Syakila mengerti dan akan ku ingat. Syakila pulang dulu. Assalamu 'alaikum.” sahut Syakila. Ia mencium punggung telapak tangan Om dan bibinya.


”Wa 'alaikum salam. Hati-hati di jalan.” sahut Serlina dan Anton.


Syakila memegang tangan si kembar keluar dari rumah Anton. Samnia menggendong putri kecilnya. Anton menemani Denis sampai ke mobil. Mereka semua masuk ke dalam mobil. Denis menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Anton kembali masuk kedalam rumahnya.


”Pa, apa menurutmu Syakila akan berdiam diri saja, atau akan menyelidiki ini semua secara sembunyi-sembunyi dari kita?” tanya Serlina dengan cemas memandang Anton.


Mereka lagi duduk di teras rumah. Anton menghela nafas.


”Papa juga tidak tahu, tetapi, jika dia ingin menyelidiki ini, dia akan membutuhkan bantuan ku atau Denis. Dia tidak akan bertindak sendirian, Mama jangan terlalu cemas. Syakila bukan anak kecil lagi, dia bisa menjaga dirinya.”


”Iya, Pa.”


”Sebaiknya kita masuk untuk istrahat,” ajak Anton.


Serlina mengangguk. Mereka masuk kedalam rumah. Denis menghentikan mobil di depan rumahnya. Ia membawa istrinya sampai di rumah, Syakila membantu si kembar turun dari mobil dan membawanya ke rumah.


”Mama, Papa antar Syakila pulang dulu. Mama istrahat lah.” ucap Denis pada istrinya.


”Iya, Pa. Papa hati-hati saat berkendara.” sahut Samnia.


”Hum,” sahut Denis. Ia melihat ke anak kembarnya. ”Rey, Roy, kalian pergilah ke kamar kalian dan beristirahat.”


”Iya, Papa.” sahut si kembar.


Mereka berlari ke kamarnya. Syakila dan Denis juga Samnia tersenyum melihat kelucuan yang di tampakkan oleh si kembar itu.


”Kami pergi, Mama.” ucap Denis lagi berpamitan.


Samnia mengangguk. Denis dan Syakila keluar dari rumah. Samnia menutup dan mengunci pintu. Denis dan Syakila berjalan bersama ke mobil, mereka segera masuk ke dalam mobil. Denis menghidupkan mesin mobil, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang mengantar Syakila pulang ke kediaman Albert. Tanpa mereka ketahui ada sebuah mobil yang sedang mengikuti mereka secara diam-diam dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2