Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 180


__ADS_3

Di kediaman Albert.


Syakila pergi ke balkon yang berada di lantai dua. Ia mengingat kembali perkataan Geo barusan.


Bagaimana bisa Geo mencintai ku? Bukan kah dia selalu bilang dia mencintai Dawiyah dan ingin menikahinya. Lalu..mengapa kini dia bilang mencintai ku?


Jika benar dia mencintai ku...dia tidak akan melepaskan aku kan? Ya kan?


Ia kembali teringat kata-kata Geo yang selalu bilang untuk melanjutkan pernikahannya dan tidak ingin melepaskannya.


Jika dia benar mencintai ku...itu berati perkataan nya selama ini adalah benar! Tidak! Aku tidak boleh bersama dia! Aku tetap akan bercerai dengan Geo dan menikahi Sardin, pria yang ku cintai.


”Sebelum Geo terlanjur mencintai ku dengan lebih, aku harus secepatnya membuat dia berjalan dan cepat pergi dari rumah ini. Menyelesaikan kesepakatan dan pergi!” gumamnya.


Di kamar Geo.


Geo mengunci pintu kamarnya dan mengambil laptop miliknya. Ia kembali duduk di atas ranjang.


Ia menyalakan laptop, mengecek email-email yang masuk. Ada berbagai jenis email yang masuk ke akunnya dan itu dari orang-orang penting yang bekerja untuknya.


Ia membaca dan membalas email-email tersebut.


Setelah selesai membalas email-email yang penting, ia mengirimkan email kepada Beni.


”Apakah kamu yang mengizinkan Marlina keluar dari kota pusat?” Geo.


Ting! Geo segera membuka dan membaca balasan chating dari Beni.


”Iya. Dia memohon padaku untuk mengizinkan dia pergi ke kota A. Dia khawatir padamu dan ingin melihatmu. Dia berjanji tidak akan melukai Syakila, makanya aku mengizinkan dia. Kenapa? Apa dia membuat ulah di sana?” Beni.


”Tidak! Dia tidak membuat ulah! Hanya saja aku malas melihat mukanya di sini.” Geo.


”Hum! Aku mengerti! Aku memberikan dia waktu hanya seminggu di situ, setelah itu dia kembali ke kota pusat. Bagaimana keadaan mu?” Beni.


”Kenapa mesti seminggu? Kenapa gak memberikan dia waktu tiga hari saja sih! Aku baik- baik saja sekarang. Bagaimana kondisi di sana? Apakah memerlukan bantuan ku untuk membereskan masalah di sana?” Geo.


”Tidak perlu! Kamu istirahat saja baik-baik di sana. Masalah di sini hampir selesai. Tapi, aku gagal untuk mengambil kembali perusahaan kecil yang sudah di manipulasi oleh Antonio. Beni.


”Tidak masalah! Biarkan saja dia bersenang-senang dengan perusahaan tidak penting itu! Geo.


”Baiklah, Geo, aku sudahi dulu chat kita ini. Masih ada urusan yang harus ku selesaikan.” Beni.


”Hum! Kamu jaga dirimu dengan baik di sana. Jika butuh bantuan ku, telfon mama untuk berbicara denganku. Jika tidak kirim email saja padaku.” Geo.


”Ok.” singkat Beni membalas.


”Jika kamu kembali ke kota A. Belikan aku sebuah ponsel keluaran baru dari sana, belikan langsung dengan kartunya. Kamu langsung simpan kontak yang penting saja yang berkaitan dengan pekerjaan di kontak ku dan nomor kontak penting lainnya. Geo.


”Oh, ok! Ada yang lain lagi?” Beni.


”Tidak ada!” jawab Geo.


Ia langsung mematikan laptopnya dan menyimpan kembali laptop tersebut pada tempatnya.


Ia melihat tas Syakila yang berada di atas meja. Tangannya meraih tas tersebut dan ingin memeriksanya.


Geo menarik kembali tangannya yang hampir membuka resleting tas Syakila. ”Sudahlah! Tidak perlu memeriksa ponselnya.” ia berlalu dari meja tersebut.


Ia membuka kembali kunci kamarnya dan berbaring di ranjang.


Sampai kapan aku akan berakting lumpuh! Aku harus memikirkan cara yang tepat untuk berjalan, tapi, sebelumnya aku harus membuat Syakila mencintai ku. benaknya.


Klik! Bunyi pintu terbuka.


Geo segera memejamkan mata, berpura-pura tidur.


Syakila masuk ke dalam kamar. Ia melihat Geo yang sudah tertidur. Ia mendekati Geo.


”Geo, kamu tidak boleh jatuh cinta padaku! Tidak boleh!! ucapnya pelan. Ia memutar badan dan pergi ke kursi sofa.


Geo membuka mata, melihat punggung Syakila. Mengapa kamu melarang ku jatuh cinta padamu? Karena Sardin? Syakila, aku tidak akan menyerah! Kamu milikku! benaknya.


Syakila membaringkan dirinya di kursi sofa, menyamping, menghadap punggung sofa, membelakangi Geo.


Sepertinya sofa itu akan menjadi tempat tidurnya lagi. Sial! Kalau saja mama tidak memaksa memasukkan kursi sofa sialan itu di kamar. Syakila pasti tidur bersamaku di ranjang ini. benak Geo.


Geo kembali memejamkan mata ketika melihat Syakila berbalik badan.

__ADS_1


Syakila melihat Geo, Di saat dia bangun, baru aku bicara tentang kemoterapi dengannya. Aku akan bertanya pada bibi Samnia barangkali ada tempat rekomendasi yang bagus darinya. benaknya.


Ia memejamkan mata, mengistirahatkan kan dirinya.


Di ruang keluarga.


”Marlina, Tante beritahu kamu untuk kebaikan mu sendiri. Tante tidak ingin Geo semakin membencimu.” Rosalina menasehati Marlina.


”Tapi Tante, Marlina cuma khawatir padanya. Marlina tidak berniat membuat Geo marah atau membenci Marlina. ” wajahnya di buat sedih.


Rosalina mengelus punggung Marlina dengan sayang, ”Tante tahu niat mu baik. Emosi Geo masih belum stabil. Kamu yang sabar, kalau Geo sudah sembuh, kamu bebas seperti dulu lagi untuk bertemu dengan kakak mu itu.”


Marlina terdiam, Dia bukan kakak kandung ku. Dia hanya kakak tiri ku dan pria yang ku cintai. Kalau bukan karena Syakila... Geo pasti sudah terpikat oleh ku. benaknya.


”Kenapa mukamu cemberut?” tanya Rosalina, saat melihat muka Marlina yang cemberut. ”Kamu baru datang, kamu sudah makan?” tanya Rosalina lagi.


”Sudah Tante.” jawab Marlina.


”Kalau kamu ingin istirahat, kamu pergi ke kamar biasa mu, ya. Tante tinggal dulu ke atas. Tante ingin istirahat. Kamu istirahat juga yah.”


”Iya, Tante.”


Rosalina berdiri dan melangkah menuju kamarnya di lantai atas.


Marlina masih duduk dengan wajah cemberutnya di kursi tersebut. Beberapa menit kemudian, ia beranjak berdiri dan pergi ke kamarnya.


Sebelum Rosalina pergi ke kamarnya, ia sempatkan diri untuk menengok Geo di kamar pribadi anaknya tersebut.


Ia membuka pintu. Rosalina terkejut, wajahnya berubah sedih melihat Syakila dan Geo yang terpisah tempat tidurnya.


Apakah mereka selalu tidur terpisah? Ini tidak boleh di biarkan begitu saja! Hubungan mereka tidak akan berkembang jika begini terus! benaknya.


Ia melangkah masuk ke dalam kamar, menghampiri Syakila. Ia berjongkok dan memukul ringan pipi Syakila tanpa bersuara.


Tidur Syakila terganggu, perlahan ia membuka matanya. Ia terkejut melihat Rosalina sudah berdiri di hadapannya.


Ia terburu-buru bangun dan duduk. Syakila begitu gugup memandang Rosalina dan melirik Geo yang masih tertidur di ranjang.


Aku lupa mengunci pintu saat masuk tadi! Sial! Sekarang mama tahu aku dan Geo tidur di tempat berbeda. benak Syakila.


”Setiap malam kalian tidurnya terpisah?” Rosalina mengecilkan suaranya agar tidak menggangu tidur anaknya.


Namun, Geo sudah terbangun dan sedang melihat dan mendengar percakapan Syakila dan Rosalina.


Syakila semakin gugup. Mulutnya tertutup rapat memandang Rosalina.


”Mama mengira hubungan kalian berdua memang sudah betul-betul membaik! Tetapi Mama tertipu dengan sikap romantis kalian di hadapan Mama! Mama kecewa!!”


”Ma..bu..bukan begitu! Syakila...”


”Mama yang salah, Mama sudah salah mengerti sikap romantis kalian berdua selama beberapa bulan terakhir ini! Apa Mama yang terlalu berharap lebih padamu? Pada pernikahan kalian ini?” pangkas Rosalina.


”Ma...maaf, Syakila... Geo...”


”Apa? Kesepakatan? Perjanjian? Lalu apa artinya ucapan mu akan terus berada di sisi anakku? Apa arti ucapan mu, kamu dan Geo sudah saling percaya dan menerima satu sama lain? Hah?! Apa!!?” meskipun nada suaranya terdengar marah, namun, Rosalina tetap mengecilkan suaranya. Ia tidak ingin Geo terganggu tidurnya.


Geo juga ingin mendengar jawaban apa yang akan Syakila berikan untuk pertanyaan itu. Ia diam mendengarkan saja pembicaraan Syakila dan mamanya.


Syakila menunduk, ia memang pernah berbicara seperti itu pada Rosalina juga di hadapan Geo. Tapi, ia hanya ingin menenangkan Rosalina saja saat itu.


Saat Rosalina khawatir, gelisah, tentang Geo ketika penyakitnya kambuh. Apakah dia harus mengatakan alasan yang sebenarnya dia berbicara begitu saat itu? Atau harus membuat alasan baru lagi untuk menutupi kebohongan itu?


”Ma..maaf. Waktu itu Mama sedang sakit dan perasaan Mama sedang tidak tenang. Mama begitu khawatir yang berlebihan kepada Geo. Syakila tidak bermaksud membuat Mama kecewa...”


”Tidak bermaksud membuat Mama kecewa? Lalu menurut mu, apa sekarang Mama tidak terlihat kecewa? Mama sangat kecewa Syakila! Mama kecewa!!” Rosalina melangkah pergi dari kamar Geo dengan kekecewaan yang mendalam.


”Mah...” Syakila berdiri dan menahannya.


”Mama tidak ingin mendengar alasan bohong mu lagi! Mama sudah tidak banyak berharap lagi pada pernikahan mu dengan anakku! Terserah apa mau mu, lakukan saja sesukamu.” Rosalina berlalu pergi dari kamar Geo.


Ia sengaja membuat Syakila merasa bersalah pada dirinya dan juga pada Geo. Dengan begitu, Syakila bisa menghargai Geo dan pernikahannya.


Syakila terdiam, badannya tiba-tiba lemas, ia terduduk di lantai. Maaf kan aku Mah! Maaf. Mungkin ini lebih baik. Aku tidak bisa mencintai putramu. benaknya.


Geo memandang Syakila dengan datar. Ia juga tidak tahu ingin berbicara apa sekarang. Ia terlihat sedih dan berkali-kali menghela nafas berat


Ia seakan bisa merasakan jarak di antara mereka berdua semakin menjauh. Haruskah dia menyerah saja pada cintanya?

__ADS_1


”Maaf, Mah. Maaf..” lirih terucap dari bibir Syakila. Air matanya mewakili rasa bersalah pada dirinya.


Ia menghapus air matanya, berdiri, berjalan mendekati meja. Ia mengambil ponsel dari tasnya. Ia melihat Geo, pria itu masih tertidur. Ia kembali duduk di kursi sofa. Ia menelfon Sardin.


”Halo sayang.” Sardin menerima telfon dari Syakila.


”Kak...kak Sardin.” suaranya terdengar sedih.


”Syakila, ada apa? Kamu sedang menangis? Apa yang terjadi? Beritahu kakak!” Sardin menjadi khawatir.


Geo sengaja memejamkan mata untuk menguping percakapan Syakila dengan Sardin.


”Kakak. Mama Rosalina menangkap ku tidur terpisah dengan Geo, di kamar.” ungkap Syakila.


”Bagaimana bisa?”


”Syakila lupa mengunci pintu kamar saat masuk. Dan mama Rosalina juga mendadak masuk ke kamar. Akhirnya dia tahu Syakila tidur di sofa dan Geo tidur di ranjang sendirian.”


Aku bisa merasakan jika Syakila menyesal. Apakah sesalnya itu karena mulai menyukai Geo atau hanya rasa bersalahnya saja pada Rosalina?


”Syakila. Apa kamu takut tante kecewa padamu?” tanya Sardin.


”Iya. Syakila tidak ingin membuat mama Rosalina kecewa. Tapi sekarang, mama malah kecewa padaku.” air mata kembali mengalir di pipinya.


Sardin menghela nafas, ”Lalu, apa yang ingin kamu lakukan sekarang? Syakila, tante sangat berharap pada pernikahan kalian seperti pasangan yang lain. Syakila, kakak bisa mengalah untuk mu, untuk pernikahan mu.”


”Kak, kakak sadar dengan apa yang kakak bicarakan ini?” Syakila tidak senang.


Sardin terdiam. Kakak sangat sadar, Kila. Kakak tahu kamu orangnya paling cepat simpati dan empati pada orang. Takutnya, karena rasa empati mu, hati mu luluh dan mengikuti keinginan Rosalina. benaknya.


Syakila menghapus air matanya. ”Kak, mungkin ini awal dari perpisahan kami. Syakila tidak ingin mama Rosalina berharap pada Syakila. Syakila memang tidak ingin membuat mama Rosalina kecewa, tapi, Syakila lebih tidak ingin kakak mengalah dan menyerah pada Syakila.”


Geo begitu sedih mendengar ucapan Syakila barusan. Syakila benar-benar sangat mencintai Sardin. Ia bisa berbuat apa saja untuk Sardin. Dan itu adalah hal yang membuat Geo iri pada Sardin. Cinta... perhatian...yang tidak ia dapatkan dari Syakila.


Sardin menghela nafas. ”Apa besok Ade pergi mengajar?” ia sengaja mengubah topik.


”Iya, Kak. Kakak, jangan mengubah topik! Kak, berjanjilah pada Syakila, kakak tidak akan menyerah pada Syakila. Kakak tunggulah Syakila, tidak lama lagi. Ok?”


Sardin tersenyum tipis, ”Ok. Kakak berjanji. Kamu jangan risau kan hati dan cinta kakak. Kakak selalu mencintai mu... selamanya.”


Syakila tersenyum, ”Terima kasih, kak. Syakila mencintai mu.”


”Kakak tahu. Em... Kila, kakak sudahi telfonnya yah? Kakak ingin membantu paman dulu.”


”Iya, kak. Hati-hati bekerja.”


”Iya, sayang.” tut tut tut! Sardin langsung memutuskan telfon.


Syakila kembali menyimpan handphone ke dalam tas dan pergi ke kamar mandi. Ia mencuci mukanya.


Biar sudah mencuci muka, tapi, masih terlihat jelas di mata dan wajahnya jika ia baru saja menangis.


Ia keluar dari kamar mandi. Ia melihat Geo sudah terbangun. Tatapannya bertemu dengan tatapan Geo.


”Syakila? Apa kamu sedang menangis?” tanya Geo. Ia berpura-pura tidak tahu hal apapun.


”Geo, kamu sudah bangun.” Syakila berjalan mendekati Geo. Ia duduk di bibir ranjang.


”Ada apa? Mengapa menangis?” tanya Geo lagi.


”Syakila tidak apa-apa. Hanya ada debu yang masuk ke dalam mata ku. Aku tidak apa-apa.” jawab Syakila, berbohong.


Kamu tidak pernah jujur padaku untuk perasaan mu. Tidak nyaman kah untuk mu berbagi perasaan dengan ku? benak Geo.


”Benar, tidak apa-apa? Aku yakin itu bukan karena debu, tapi, kamu memang baru habis menangis.” Geo berharap agar Syakila terbuka padanya.


Syakila mengangguk, ”Tidak apa-apa. Geo, ikutlah dengan ku untuk melakukan kemoterapi. Kamu harus melatih kaki mu untuk berjalan.”


Geo terlihat murung, ia tersenyum masam. ”Hum, aku ikuti ucapan mu. Mengapa kamu menangis?” sekali lagi Geo menanyakan perihal yang membuat Syakila menangis.


Syakila tersenyum yang di paksakan. ”Aku tidak menangis. Sudah ku bilang kan, mataku kemasukan debu. Dan aku mengucek mataku hingga air mataku keluar dan terlihat menangis.”


Geo terdiam, menghela nafas.


”Em... baiklah..besok, setelah Syakila pulang dari mengajar, Syakila akan singgah ke tempat bibi Samnia dan bertanya padanya untuk mencarikan aku tempat kemoterapi yang paling bagus. Ok?” ucap Syakila.


Geo tersenyum masam, ”Ok.”

__ADS_1


__ADS_2