Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 117


__ADS_3

Di kediaman Sarmi, kamar Syakila.


Geo terbangun karena merasakan lapar. Ia melihat Syakila yang sedang tidur menyamping menghadap ranjang, ia tidur di sofa.


”Syakila,” panggilnya.


Syakila masih belum merespon.


”Syakila,” panggilnya lagi.


Syakila membuka mata, melihat Geo yang berada di ranjang.


”Kau sudah bangun?” tanya Geo.


”Hum,” sahut Syakila pelan. Ia mengubah posisinya, ia duduk menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata, di punggung sofa.


Wajahmu cantik alami, Syakila. Bahkan di saat kamu bangun dari tidur, bisakah aku menikmati ayunya wajahmu saat terbangun seumur hidup ku, Syakila?


”Jika kamu masih mengantuk, tidur lagi.”


Syakila kembali membuka matanya, ”Tidak, ada apa?” tanyanya.


”Aku lapar, bisakah kamu memasakkan makanan untuk ku? Aku ingin makan masakan mu.”


”Baiklah, bentar, aku cuci muka dulu.” sahut Syakila sambil berjalan ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Syakila keluar dari kamar mandi, ia menghampiri Geo yang masih berbaring di ranjang.


”Mari bangun, kita sama-sama ke dapur. Kamu ingin makan apa?” ucapnya sekaligus bertanya.


Ia memapah tubuh Geo dan mendudukan Geo di kursi roda.


”Hum, aku, terserah, apa yang kamu masak, pasti ku makan.”


”Baiklah, aku akan masakan kamu sesuai dengan bahan yang ada di kulkas.” singkat Syakila menyahuti.


”Hum,”


Syakila mendorong kursi roda keluar dari kamar dan pergi ke dapur. Mereka berdua terkejut, di sana anggota keluarga telah berkumpul dan sedang menikmati makanan.


”Kak Geo, kak Syakila, mari bergabung makan bersama.” ucap Hardin dengan tersenyum senang melihat kedatangan kedua kakaknya itu. Kekhawatirannya pun tanpa beralasan. Kedua kakaknya baik-baik saja.


Sontak, semua mata memandang ke arah Syakila dan Geo. Menit berikutnya, mereka kembali melihat makanannya.


”Em, kalian lanjut lah makan, aku akan memasak makanan untuk Geo dulu. Dia ingin makan, tapi, ingin aku yang buatkan makanan untuknya.” sahut Syakila. Ia terus mendorong kursi roda Geo hingga ke tempat posisi kursi rodanya berada.


Semua terdiam, tidak ada yang menyahuti ucapan Syakila. Syakila membuka kulkas, ia melihat ada kerang dan beberapa macam sayur mayur. Ia mengambil kerang tersebut dan satu ikat sayur dan bahan lainnya untuk di olah menjadi makanan.


Geo memperhatikan Syakila yang sedang memasak itu. Semua anggota keluarga telah selesai makan, tetapi, mereka semua masih tetap berada di tempat duduknya masing-masing.


Fatma membersihkan meja makan, ia menyisakan dua buah piring dan nasi di atas meja. Ia pula menggantikan air cuci tangan yang kotor dengan yang bersih untuk air cuci tangan Syakila dan Geo.


Setelah beberapa menit, kerang yang di masak Syakila telah masak, sayur juga telah matang, ia menyendok nya ke dalam piring dan menaruhnya di atas meja makan. Ia duduk di bangku kosong di samping Geo.


Ia menyendokkan makanan buat Geo.


”Makanlah,” ucapnya sambil meletakkan makanan Geo di hadapannya.


”Hum, terima kasih, sayang.” sahut Geo.


Syakila hanya tersenyum menanggapi, ia juga menyendok makanan untuk dirinya sendiri.


”Mama, ade, kakak, kakak ipar, kami berdua makan dulu.” ucapnya lagi pada anggota keluarganya yang masih berada di meja yang sama.


”Iya, makanlah, kami akan disini menemani kalian.” sahut semua orang.


Syakila dan Geo memakan makanannya. Semua anggota keluarga memperhatikan mereka berdua, apalagi Fatma. Ia melihat Syakila dan Geo dengan tatapan sedih, iba, dan entahlah pandangan apa yang ia tampakkan.


Syakila, Geo, jika orang-orang tidak tahu kebenaran tentang kalian berdua, kemesraan, perhatian, kebersamaan yang kalian tunjukan itu, orang akan benar-benar menganggap jika kalian adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Jika orang melihat kalian dengan jeli, mereka akan tahu, kalian hanyalah bersandiwara menjadi kekasih yang saling mencintai dan bahagia.


Syakila menyadari tatapan Fatma yang beda seperti biasanya, bukan hanya Syakila, Geo dan Sarmi juga Johansyah, suami Fatma sendiri menyadari tatapan Fatma itu.


Ada apa dengan Fatma? Mengapa ia menatap Syakila dan Geo seperti itu? Johansyah dan Sarmi sama-sama membatin.


Kenapa dengan kakak Fatma? Apa ada yang salah dengan muka ku dan muka Syakila? Mengapa ia memandang kami berdua seperti itu? batin Geo.

__ADS_1


”Kakak, ada apa? Mengapa kakak melihat kami berdua seperti itu?” Syakila langsung mempertanyakan nya pada Fatma.


”Em, ti...tidak apa-apa. Maaf, aku tidak ada maksud yang lain, aku hanya sedang bertanya-tanya saja pada diriku. Apakah kalian berdua memang saling mencintai seperti yang terlihat sekarang?” ucap Fatma menyahuti.


Sarmi terdiam dalam kagetnya, ia melihat Fatma dan melirik Syakila dan Geo.


Apa Fatma menyadari sesuatu? Apa dia bisa melihat juga bahwa tidak ada cinta di antara Syakila dan Geo?


Geo dan Syakila saling pandang, menit berikutnya, mereka berdua sama-sama tertawa kecil melihat Fatma.


”Kakak, apa yang kakak bicarakan? Kakak jangan terlalu banyak berfikir.” ucapnya bersamaan.


Fatma tersenyum kecut, ”Iya, maaf, aku salah sangka pada kalian berdua.” sahutnya singkat.


”Iya, kak. Gak apa-apa.” sahut Syakila.


Syakila dan Geo melanjutkan makannya.


Apa kak Fatma menyadari sesuatu yang beda dari kami berdua? Tapi, kami tidak pernah menampakkan hal yang patut untuk di curigai. Lalu, ah..sudahlah...mungkin aku juga terlalu banyak berfikir. ucap Syakila dan Geo dalam benaknya.


Geo memakan makanannya dengan lahap dan itu membuat Sarmi tersenyum senang. Sejak kemarin, Geo tidak berselera makan, tetapi hari ini, ia memakan makanannya dengan lahap. Kerang dan sayur yang di masak Syakila di habiskan semua.


Mereka berdua telah selesai makan. Syakila membersihkan meja makan. Anggota keluarga masih tetap berada di tempat duduknya masing-masing. Setelah Syakila membersihkan meja makan, ia duduk kembali di tempatnya.


”Mama, setelah ini, aku akan mengajak Syakila berjalan-jalan. Mungkin pulangnya agak malam, jadi, kalian makan malam lah saja dulu, tidak usah menunggu kami.” ucap Geo seketika.


Sarmi mengerut dalam diamnya.


Apa benar mengajaknya jalan? Atau itu hanyalah sebuah alasan untuk membawa Syakila bertemu dengan Sardin? Jika seperti itu, maka, tidak ada artinya aku melarang Syakila menjenguk Sardin atau pun menahan hapenya.


”Hardin, ambilkan hapenya Syakila di dalam lemari meja hias di dalam kamarnya Mama.” perintahnya pada Hardin.


”Iya, Mah.” sahut Hardin. Ia beranjak berdiri dan melangkah ke kamar mamanya untuk mengambil handphone Syakila.


”Syakila, Mama mengizinkan mu menjenguk Sardin, tetapi, kamu harus tahu tentang tanggung jawab mu terhadap suami mu. Hapemu juga Mama akan kembalikan padamu.” ucap Sarmi pada Syakila.


Syakila tersenyum senang, ”Terima kasih, Mama. Syakila janji, Syakila akan memperhatikan tanggung jawab Syakila dengan baik.”


Geo tersenyum tipis, namun terlihat sedikit kecut, seperti senyum yang di paksa.


Tidak lama kemudian, Hardin datang dengan membawa handphone Syakila di tangannya.


”Ini, Mah.”


Hardin memberikan handphone Syakila pada Sarmi. Sarmi mengambilnya, Hardin kembali duduk di tempatnya.


”Ini hapemu,”


Sarmi menyerahkan handphone Syakila padanya. Syakila mengambil handphonenya sembari tersenyum lebar. ”Terima kasih, Mama.” ucapnya.


Sarmi tersenyum sedikit menanggapi ucapan terima kasih dari anaknya itu.


Ting. Notifikasi nada pesan di handphone Geo berbunyi. Semua mata melihat ke arah Geo. Geo melihat dan membaca pesan tersebut.


”Tuan, saya sudah berada di depan.”


”Mama, kami akan kembali ke kamar dan bersiap untuk pergi.” ucap Geo kemudian.


”Baiklah, kalian berdua hati-hatilah di jalan. Syakila, jaga suamimu.” sahut Sarmi.


”Iya, Mah.”


Syakila berdiri, ia mendorong kursi roda Geo kembali ke kamar.


”Geo, aku mandi dulu yah, boleh?”


”Hum,” sahut Geo.


Syakila pergi ke kamar mandi.


”Tunggu sebentar lagi, kami akan ke sana. Antar kan kami di G.A. mall nanti.” Geo.


Geo mengirim pesan kepada anak buahnya yang ada di luar yang sedang menunggunya di dalam mobil.


”Siap, Tuan.”

__ADS_1


Geo membaca balasan dari anak buahnya tersebut. Ia tidak membalasnya lagi, ia menoleh, melihat ke arah kamar mandi saat mendengar suara pintu terbuka.


Syakila sudah tampak cantik dan segar. Rambut basahnya terurai berantakan di saat Syakila membuka handuk yang menggulung di kepalanya itu. Syakila berjalan ke meja hiasnya, ia menyisir rambutnya.


Syakila tidak menyadari jika Geo terus memandangi dirinya. Ia mengoleskan sedikit lipstik di bibirnya dan memakai parfum. Geo sangat suka dengan aroma yang tercium dari tubuh Syakila yang bertaburan di ruangan kamar.


”Apa kamu juga ingin mandi, Geo?” tanya Syakila. Ia berbalik, menoleh, melihat ke arah Geo. Syakila tersadar, jika Geo sedang menatapnya. Syakila menunduk.


”Tidak, gantikan bajuku saja.”


Tanpa bersuara Syakila melangkah ke lemari pakaian, ia mengambil pakaian Geo. Setelah itu, ia menggantikan pakaian Geo. Setelah selesai menggantikan pakaian Geo, Syakila melangkah pergi, ia tidak nyaman, Geo terus saja memandangnya.


Geo menahan tangan Syakila, deg deg deg hati Syakila berdebar. Ia gugup, ia menoleh melihat Geo. Geo menarik tangan Syakila, wajahnya begitu dekat dengan Geo, tanpa berpikir panjang, Geo mencium bibir Syakila.


Syakila terkejut, ia membelalakkan kedua matanya. Lagi-lagi Geo mencium bibirnya tanpa permisi. Syakila melepas tautan bibir Geo, Geo menahan kepala Syakila. Sehingga ciuman yang di lancarkan semakin dalam.


Ada sesuatu rasa yang meminta lebih dari sekedar ciuman. Geo melepaskan ciumannya, ia menempelkan jidatnya pada jidat Syakila. Syakila tidak memberontak, debaran jantungnya semakin kencang dan tidak karuan.


Ada apa ini? Ciuman Geo lembut dan seakan ia meminta lebih dari itu. Aku merasakan sesuatu di bawah sana...ada yang mengganjal. Geo, apakah kamu... Tidak, aku tidak boleh sembarang bergerak.


Hal itu juga yang di rasakan oleh Geo.


Syakila, bisakah kamu merasakan tubuh ku menginginkan mu? Kamu benar-benar bisa membangkitkan gairah ku, Syakila.


”Syakila, jika saja keadaanku tidak seperti ini, aku akan membawamu di bawah tubuh ku.” ucapnya pelan.


Syakila terkejut, ia terdiam. wajah Geo menjauh dari wajah Syakila, ia menatap Syakila yang terkejut menatapnya.


Apa maksud ucapan Geo? Dia...


Syakila menggeleng. ”Geo__”


”Stssst, jangan berpikiran macam-macam. Aku menghargai mu, meskipun kondisi ku tidak seperti ini, aku tidak akan memaksa mu untuk ku tiduri.” ucap Geo memangkas ucapan Syakila.


”Sebaiknya, kita keluar sekarang. Supir ku sudah lama menunggu kita di luar.” ucapnya lagi.


Tanpa bersuara, Syakila mendorong kursi roda Geo keluar dari kamar. Syakila terus mendorong kursi roda Geo hingga ke mobil.


Syakila di bantu dengan anak buah Geo, menaikan Geo ke dalam mobil. Setelah di pastikan, Tuan dan Nyonya nya aman, anak buah Geo memerintahkan sang supir untuk menjalankan mobil.


Sang supir menjalankan mobil menuju mall G.A. mall. Syakila terdiam, memikirkan ucapan Geo. Geo menyadari perubahan sikap Syakila.


”Apa kamu masih memikirkan ucapan ku tadi?” tanya Geo.


”Tidak,” jawab Syakila dengan berbohong tanpa melihat Geo. ”Kamu mau mengajak ku kemana?”


”Aku akan mengajak mu pergi berbelanja.”


”Aku sedang tidak ingin berbelanja.”


”Kalau begitu kita pergi nonton, bagaimana? Kebetulan ada film cinema yang baru tayang.”


Kening Syakila mengerut, ”Apa kamu sedang mengajak ku kencan, Geo?”


Geo tertawa kecil, ”Iya, anggap saja kita sedang berkencan. Apa kamu keberatan?” tanyanya.


Syakila terdiam.


Jika aku menolak, ia akan berpikir jika aku tidak ingin jalan bersama dia yang duduk di kursi roda. Ia akan berpikiran aku malu di lihat oleh orang-orang jika jalan bersama dia. Tapi, aku benar-benar tidak ingin berbelanja ataupun nonton. Tapi...


Syakila tersenyum, ”Baiklah, kita pergi nonton. Tapi, apa kamu gak takut bertemu dengan wanita-wanita yang ada di sana nanti?”


”Tidak, selama ada kamu di sisiku, di dekat ku, aku merasa tenang. Jadi, aku tidak perlu khawatir.”


Syakila sedikit senang mendengar ucapan tulus yang keluar dari bibir pria itu. Ia mengulum senyum menghadap kaca jendela mobil.


Sang supir dan anak buah Geo terkejut mendengar suara tawa Geo. Selama ini mereka tidak pernah mendengar Geo tertawa, tapi sekarang, mereka mendengar langsung gimana lelaki yang jarang dekat dengan wanita itu sedang tertawa bahagia.


Nyonya, Anda bisa mengubah Tuan, seperti ini. Selama ini, jangan kan untuk mendengar suara tertawanya Tuan, melihat senyumnya saja tidak pernah. Semoga Nyonya dan Tuan selalu hidup bersama selamanya.


”Kalian berdua, kalian dengar kan apa yang di ucapkan istriku tadi? Kami ingin pergi nonton, jadi, bawalah kami ke bioskop yang terbagus di kota ini.” ucap Geo kepada anak buahnya dan supirnya.


”Baik, Tuan.” sahut ke dua pria yang duduk di kursi depan mobil itu.


Sang supir memutar arah, ia mengambil arah jalan yang akan membawa mereka ke tempat bioskop yang terbagus dan yang paling banyak di minati oleh masyarakat untuk di tonton.

__ADS_1


Geo merasakan sedikit bahagia hari ini. Ini, pertama kalinya ia berjalan berdua dengan Syakila. Lebih senang lagi Syakila tidak keberatan dirinya berjalan di khalayak ramai dengan seorang pria cacat seperti dirinya.


__ADS_2