
Di rumah Tia.
”Apa gak sebaiknya masuk ke dalam rumah saja, Nak?” tawar ibu Tia.
”Tidak, aku di sini saja. Apa ada keperluan lain? Jika tidak, aku akan pergi. Yang penting aku sudah mampir ke rumah ibu.” ucap Geo.
”Oh, aku buatkan minuman dulu untuk mu.” ibu Tia masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, dia kembali keluar dengan membawa segelas jus jeruk di tangannya. ”Minumlah dulu jus nya, baru kamu pergi.” ucapnya sambil tersenyum.
Geo mengambil dan meminumnya setengah.
”Nak Geo. Terima kasih, sudah menolong anak saya waktu itu. Jika tidak ada kamu, ibu tidak tahu apa yang akan terjadi pada anakku.” ucap ibu Tia.
”Tidak perlu sungkan. Tapi, ibu tahu dari mana nama ku? Bukankah waktu itu aku langsung pergi?” Geo penasaran. Dia memejamkan matanya, kepalanya sedikit pusing.
”Oh, ibu mendengar wanita yang bersama mu waktu itu memanggil mu dengan menyebutkan namamu.” jawab ibu Tia.
Kepala Geo semakin pusing. Dia menghabiskan minumannya dan berdiri. Tubuhnya terhuyung.
Ah, kepalaku tiba-tiba pusing. Aku harus pergi dari sini. benak Geo.
”Ibu, terima kasih, minumannya. Aku harus pergi.” Geo berjalan namun, jalannya gontai.
”Iya, Nak. Tapi, kamu...”
”Apa ibu yang membuatkan aku minuman?”
”Bukan, Tia yang buatkan. Ibu cuma mengantarkan. Kenapa?” si ibu penasaran.
Geo menggeleng. Dia memegang kepalanya yang pusing.
”Ah, Nak. Apa kepala kamu sakit? Kamu istirahat dulu di rumah ku, setelah merasa baikan, baru pulang.” tawar si ibu.
”Tidak ibu. Aku harus pulang.” tolak Geo. Dia berjalan dengan gontai ke mobilnya.
”Tapi, Nak...”
”Ibu, biar Tia yang menyusul nya.” pangkas Tia. Dia berjalan mengejar Geo. Dia memegang tubuhnya Geo yang hampir jatuh. ”Biar aku bantu kamu.” Tia sengaja merapatkan tubuhnya di tubuh Geo.
Sebagai lelaki normal dan dalam pengaruh obat perangsang, tentu saja nalurinya sebagai lelaki akan liar. ”Lepaskan aku!” bentak Geo.
”Yakin, aku lepaskan kamu? Kamu berdiri saja tidak mampu!” Tia membuka pintu mobil belakang Geo dan memasukkan Geo ke dalam mobil.
”Keluar lah!” usir Geo. Kesadarannya mulai menurun. Nafasnya sudah mulai memburu.
Tia menyeringai, ”Yakin aku keluar?” dia melepaskan kancing baju Geo dan meraba dadanya.
”Keluarlah, sebelum kesabaran ku habis!” bentak Geo lagi.
Tia tidak peduli. Dia menindih tubuh Geo. Dia bisa merasakan tubuh bagian bawah Geo yang bergerak-gerak.
Geo sangat merasa risih pada sentuhan wanita di atas tubuhnya itu. Dia memegang kedua tangan Tia dan menjepitnya dengan satu tangannya. Dia menatap Tia dengan tajam. Pancaran matanya menginginkan kepuasan.
Tia tersenyum, Geo berhasil dia taklukan dengan pengaruh obat yang dia larutkan ke dalam jus Geo. ”Hari ini aku milik mu.” ucapnya pelan, penuh sensual.
Geo menyeringai. Dengan sisa kesadarannya, dia membuka pintu mobil dan mendorong tubuh Tia keluar dari mobil, dengan kasar.
”Cih, wanita murahan! Apa ini perangkap nya?” geram Geo. Dia mengunci semua pintu mobilnya. Dia meraih hapenya dari saku celananya. Dia menghubungi seseorang.
”Ya, Tuan?” sapa si penerima telepon.
”Datang ke jalan biawan, sepuluh meter dari mall. Bawakan dengan bajuku.”
”Baik, Tuan.” telfon terputus.
Geo membuka baju yang dia kenakan, yang sudah di sentuh Tia dan membuangnya sembarang.
Diluar mobil.
Tok tok tok! ”Geo, buka pintunya. Kamu akan menderita jika tidak mengeluarkannya. Biarkan aku membantu mu. Buka pintunya, Geo!” teriak Tia.
”Sial! Aku kira dia sudah terbuai! Saat menggenggam tangan ku, ku kira dia yang akan menyerang ku duluan. Tidak ku sangka, dia malah menolak dan mendorong ku keluar dari mobilnya. Untung saja lorong ini sangat sepi dari keramaian.”
Tok tok tok! ”Geo! Apa kamu ingin mati tersiksa? Bukalah pintu mu, aku hanya akan membantu mu mengeluarkan nya saja. Aku tidak akan menuntut apa-apa!” Tia masih berusaha membujuk Geo agar membukakan pintu mobilnya.
Geo di dalam sana acuh saja. Dia sangat jijik mendengar suara-suara Tia.
Tia terkejut mendengar sebuah mobil berhenti di belakang mobil Geo. Keningnya mengerut melihat tiga orang pria berjas hitam yang keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya.
Siapa mereka? Tampangnya menakutkan! Kenapa mereka menuju ke arah ku? benak Tia.
”Geser wanita itu dari jalan ku!” titah salah satu di antara mereka, pria yang berada di tengah.
”Siap!” sahut dua pria lainnya, yang berada di kedua sisi pria itu. Mereka menahan Tia.
”Hei! Siapa kalian? Lepaskan aku!” berontak nya.
”Suaranya berisik! Bawa dia ke rumahnya.” titahnya.
Kedua pria itu menyeret paksa tubuh Tia.
”Lepaskan aku! Geo, tolong aku!” teriaknya meminta bantuan.
Dua pria itu terus menyeret paksa Tia.
”Hei! Apa yang kalian lakukan pada putriku? Lepaskan putriku!” teriak ibu Tia.
Dua orang pria itu melepaskan kasar tubuh Tia di dalam rumah Tia sendiri. Mereka kembali ke mobil Geo.
”Bagaimana Bos?”
”Mungkin tuan pingsan di dalam! Apa kalian membawa kunci serep mobil ini?” tanya sang bos.
__ADS_1
”Tidak Bos!” jawab kedua pria itu.
Sang bos berdecak, ”Awas!” dia menyuruh dua pria itu mundur dari dirinya. Dia melihat batu yang ukurannya sedikit besar. Dia mengambilnya.
”Bos, ingin merusak kaca mobil kesayangan tuan?” tanya dua pria itu.
”Diam!” bentak si bos. Dia menghancurkan kaca pintu mobil Geo yang depan. Kacanya hancur. Dia memasukkan tangannya dari belahan kaca dan membuka kunci pintu mobil. Pintu terbuka.
Dia masuk ke dalam. Dia melihat Geo yang tidur telanjang dada. Dia berpindah ke kursi belakang.
Apa yang sudah di lakukan wanita tadi pada tuan? benaknya.
Dia membuka pintu mobil belakang. ”Tuan? Apa Tuan mendengar ku?” dia membangunkan Geo.
Geo membuka matanya yang terasa berat.
”Tuan? Tuan terkena bius obat perangsang?” anak buah Geo terkejut saat menyadari kenapa tuannya seperti itu.
”Antar aku pulang. Istriku sudah menunggu ku.” ucap Geo.
Rupanya tuan menyakiti dirinya sendiri agar masih sadar. benaknya.
”Baik, Tuan. Tapi, tidak menggunakan mobil ini. Kita pindah mobil. Dan berhentilah mencubit kulit Tuan sendiri.” titah sang anak buah. Dia cemas melihat perut Geo yang kulitnya sudah hampir terkelupas.
Dia memapah tubuh Geo ke dalam mobilnya. Dia memasukkan Geo di bangku belakang.
”Pakaikan bajuku.” titahnya.
Anak buah tersebut mengangguk. Dia membantu Geo memakai pakaiannya. Setelah itu dia keluar.
”Kalian, bawa mobil tuan ke bengkel. Ganti kacanya dengan kaca yang sama.” titahnya pada dua pria tersebut.
”Baik.” kedua pria itu masuk ke dalam mobil Geo dan menjalankannya.
Anak buah Geo masuk ke dalam mobil setelah dia memandang rumah Tia. Dia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
Beberapa menit dalam perjalanan mereka sampai di depan rumah Sarmi.
Hardin yang sedang berada di teras rumah khawatir dan bingung melihat anak buah Geo yang memapah tubuh Geo. Dia berdiri dan mendekati anak buah Geo. ”Ada apa dengannya?” dia membantu anak buah Geo memapah Geo masuk ke dalam rumah.
”Tidak apa-apa. Tuan hanya mengalami pusing ringan. Tidak perlu khawatir.” jawab anak buah Geo.
Di kamar Syakila.
Mereka membawa Geo ke kamar. Membaringkan Geo di atas ranjang.
”Pergilah! Tinggalkan aku sendirian.” titah Geo.
Anak buahnya telah keluar.
”Tapi, kak ipar?”
Geo melihat Hardin.
Geo mendengar suara air gemericik dari kamar mandi. Dia bangun dari ranjang. Dia mengunci pintu kamar.
Dia mengetuk pintu kamar mandi. ”Syakila, buka pintunya.” suaranya serak.
Pintu kamar mandi terbuka. Syakila heran melihat Geo. ”Ada apa dengan mu?” tanyanya khawatir.
Bukannya menjawab, Geo mendorong tubuh Syakila masuk kembali ke dalam kamar mandi. Dia menekan tubuh Syakila di dinding kamar mandi.
”Ge..Geo, ada apa?”
”Aku menginginkan mu.” bisiknya.
Syakila terkejut. Lebih terkejut lagi kini bibirnya Geo telah menempel di bibirnya. Geo menciumnya, ******* bibirnya dengan lembut.
Syakila terbuai dengan ciuman lembut Geo. Tangannya terangkat, melingkar ke leher belakang Geo. Dia membalas ciuman Geo. Mereka saling menikmati tautan bibir mereka.
”Geo, apakah harus di sini?” tanya Syakila setelah ciuman mereka berhenti.
Geo tersenyum melihat Syakila. Dia merasakan nafas Syakila yang memburu, detak jantung Syakila yang berdetak seirama dengan jantungnya. Dia juga dapat melihat jika Syakila mendambakan dirinya, dari pandangan mata Syakila saat ini.
Geo kembali menyerang bibir Syakila, menciumnya. Di sela-sela ciumannya, dia membuka bajunya sendiri juga membuka ikat pinggangnya. Membuangnya dengan asal di lantai kamar mandi.
”Aku tidak akan melakukannya di sini. Tapi, jika kamu mau lakukan di sini, aku akan melakukannya untuk mu.” ucap Geo. Dia menggendong tubuh Syakila dan membawanya ke ranjang.
Geo membuka celananya. Membuat dirinya polos tanpa sehelai pakaian di tubuhnya.
Wajah Syakila memerah malu melihat tubuh polos Geo. Dia memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Dulu, Geo sering di mandikan olehnya, tetapi dia tidak pernah memperhatikan bentuk tubuh suaminya itu. Dan dulu, di saat memandikan Geo, Geo masih mengenakan celana pendek. Tetapi sekarang, melihat tubuh Geo yang benar-benar polos membuatnya malu.
Geo tersenyum kecil melihat Syakila yang malu. Dia naik ke atas ranjang, menindih tubuh Syakila. ”Buka tangan mu, sayang. Lihatlah aku, wajah suami mu, Geovani Albert.”
Syakila membuka kedua tangannya. Dia melihat Geo. Pandangan mata pria di atasnya itu begitu lembut dan mendamba.
Syakila menarik kepala Geo dan mendaratkan ciumannya ke bibir Geo. Geo melepaskan handuk yang melilit tubuh Syakila, hingga tubuh wanita di bawahnya itu polos.
Geo melepas ciuman bibirnya. Ciumannya turun ke leher Syakila. Meninggalkan tanda di leher jenjang wanita itu.
”Ah!” kata yang keluar dari bibir Syakila.
Membuat Geo semakin bergairah. Ciumannya turun ke dada Syakila, dia juga meninggalkan tanda di sana.
”Um... Geo...ah! aku..aku tidak nyaman.”
”Ssttssttt! Itu karena sensasi yang kamu rasakan. Bekerja samalah dengan ku. Aku akan membuat mu nyaman. Aku akan mulai.” bisik nya.
”Argh! Geo, sa...sakit!” kedua tangannya menggenggam erat jemari tangan Geo saat merasakan sensasi itu.
__ADS_1
”Um...maaf, aku juga sakit. Ini adalah yang pertama bagi kita berdua. Aku akan pelan.” bisiknya.
Geo memulai aktivitasnya. Dengan pelan-pelan dia memacu kudanya. Membuat Syakila nyaman. Geo melakukannya hingga tiga kali.
”Terima kasih, sayang. Seluruh jiwa raga mu adalah milikku. Dan seluruh jiwa ragaku adalah milikmu.”
Syakila mengangguk.
Geo memeluk tubuh Syakila dan mencium kening Syakila, baru dia melepaskan dirinya dari atas tubuh Syakila.
”Ayo, mandi bersama. Setelah itu kita pergi ke bandara.” ajak Geo.
Syakila mengangguk. Dia bangun dari ranjang. Dia melilitkan handuk ke tubuhnya. Dia melihat kasur di saat turun dari ranjang. ”Ah, tunggu! Aku cuci sprei ini dulu. Baru kita mandi.”
Geo melihat sprei, darah perawan Syakila tercetak di sana. Geo tersenyum. Dia mendekati Syakila dan mencium kening wanita itu.
Syakila mempertahankan dan menjaga mahkota nya dengan baik. Bahkan, di saat Syakila menjadi istrinya dulu. Demi mempertahan kehormatannya, dia rela melukai dirinya. Dia tahu, Syakila menjaganya untuk siapa. Tetapi, dia bersyukur ternyata Syakila mempertahankannya hanya untuk dirinya seorang. Karena dialah yang mengambil mahkota Syakila.
”Bawa sekalian ke kamar mandi. Aku akan mencucinya. Dan kamu ulang mandi.” tutur Geo.
Syakila mengangguk. Dia membawa sprei itu ke kamar mandi. Dan benar saja. Geo yang mencuci sprei itu dan Syakila mandi.
Setelah Syakila selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi. Meninggalkan Geo di kamar mandi.
Syakila Telah selesai berganti. Dan Geo baru saja keluar dari kamar mandi. Syakila terpukau melihat ketampanan pria itu. Wajahnya bersemu merah saat mengingat penyatuan mereka beberapa menit yang lalu.
”Kenapa? Aku tampan?” goda Geo, setalah tersadar jika Syakila melihatnya tanpa kedip.
”Ah, em..kamu simpan di mana sprei nya? Aku akan menjemurnya. Kamu pakailah baju.” Syakila jadi salah tingkah di goda pria itu.
”Masih di dalam kamar mandi, sayang. Apa kamu gak akan malu di goda adikmu saat melihat mu menjemur sprei nya di luar?”
Syakila menghentikan langkahnya yang sudah memegang pintu kamar mandi. Dia berbalik melihat Geo. ”Lalu?”
Geo tersenyum. ”Nanti aku yang akan menjemur nya, setelah memakai pakaian.” ucapnya.
”Baiklah! Kalau begitu kamu pakailah bajumu. Aku menunggumu di luar.”
”Iya.”
Syakila keluar dari kamar. Dia pergi ke teras rumah. Di sana ada Hardin dan mamanya.
”Kak, apa Geo baik-baik saja?” tanya Hardin.
”Iya, dia lagi mandi. Mah, kami akan berangkat ke kota A hari ini, sekarang setelah Geo selesai mandi dan berganti.” ucap Syakila.
”Iya, tidak apa-apa. Em, Syakila bisa ikut Mama ke kamar sebentar?”
”Iya, Ma.” Syakila beranjak berdiri dan mengikuti langkah mamanya yang masuk ke dalam kamar Sarmi.
Syakila duduk di pinggir ranjang melihat Sarmi yang sedang mencari sesuatu dari laci di dalam lemari pakaian.
Kening Syakila mengerut melihat yang di pegang oleh mamanya itu. Sarmi duduk di samping Syakila. ”Apa itu Ma?” Syakila penasaran.
”Bukalah!”
Syakila membukanya dan membacanya. Dia terkejut, ”Ma, ini...”
”Iya, seperti yang kamu lihat dan baca. Geo memberikannya dengan ikhlas padamu. Dia ingin memberikannya langsung padamu, tapi dia tahu kamu akan menolak. Makanya Geo memberikan pada Mama. Dan Mama baru punya kesempatan memberitahu ini padamu.”
”Ma, apa yang harus aku lakukan dengan ini?”
”Dia sudah memberikannya padamu. Kamu terima dan simpan baik-baik. Kelak, kamu bisa mewariskannya pada anak-anak mu.”
”Iya, Ma. Kalau begitu, Mama simpan di lemarinya Mama dulu. Nanti baru Syakila ambil.”
”Iya. Kamu hati-hati selama di kota A. Jaga dirimu baik-baik dan jaga suamimu. Perhatikan dia, jangan membuatnya marah, dan lakukan tugasmu sebagai istrinya. Apa kamu paham?”
"Iya, Ma. Syakila paham.”
”Ayo, keluar. Mungkin suami mu sudah bersiap.”
Syakila mengangguk. Sarmi dan Syakila keluar dari kamar, mereka kembali ke teras. Rupanya benar, Geo telah menunggu Syakila di teras rumah. Syakila dan Sarmi duduk.
”Apa kalian sudah mau berangkat?” tanya Sarmi.
”Iya, Ma. Pesawat sudah menunggu kami di bandara.” jawab Geo.
”Baiklah, kalian pergilah. Hati-hati di jalan. Jaga diri kalian selama di sana. Pesan Mama, jagalah kepercayaan di antara kalian berdua. Saling jujur dan terbuka akan perasaan kalian pada pasangan. Saling menghargai dan saling menghormati. Yah?”
”Iya, Mama. Kami pergi dulu.” Syakila dan Geo mencium tangan Sarmi.
”Sampaikan maaf kami pada om Johan dan bibi Biah, karena tidak sempat berpamitan.” lanjut Geo berucap.
”Iya.” sahut Sarmi.
”Assalamu 'alaikum!”
”Wa 'alaikum salam.” sahut Sarmi dan Hardin.
Syakila dan Geo pergi ke mobil. Mereka masuk ke dalam mobil. Perlahan, mobil tersebut bergerak maju meninggalkan halaman rumah Sarmi.
”Rumah berkurang lagi rame nya dengan perginya Syakila dan Geo.” ucap Hardin.
”Kamu tidak pergi ke rumahnya Nesa?”
”Mama mengusir Hardin?”
”Tidak. Ayo, masuk ke dalam rumah. Kamu gendong Lina, biar mamanya bisa bantu mama masak.”
Mereka berdua masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
.. .