
Hari ini Anton dan sekeluarga berangkat ke kota A dengan menggunakan kapal laut. Ini perjalanan ketiga kalinya Anton bersama anak dan istrinya. Anton sengaja mencari tempat tidur di dek lima agar tidak jauh dari pintu keluar kapal.
"Mama, kota A itu besarkah?" Dian, anak pertama Anton yang baru berusia enam tahun bertanya dengan penasaran.
"Ia sayang, lumayan besar. Meskipun tidak sebesar ibu kota Jakarta." Anton yang menjawab pertanyaan Dian.
"Di sana apa ada taman bermain, Ayah? Apa ada sungai seperti di kampung? Apa ada kebun juga, Ayah?" Dian lanjut bertanya dengan antusias.
"Hum, di sana ada taman bermain. Sangat banyak, sungai ada tapi tidak di pakai untuk mandi seperti di kampung. Kalau kebun, di sana ada juga kebun tapi tidak seramai di kampung, disana yang berkebun terhitung." Anton kembali menjawab pertanyaan anaknya.
"Kalau tidak bisa di pakai mandi lalu kita mandinya bagaimana, Ayah? Apa disana kita tidak perlu mandi?" Dian kembali bertanya dengan memasang raut muka yang kebingungan. Membuat Anton dan Namlia tertawa. Anton mengelus kepala anaknya. "Mandinya di dalam rumah sayang, pakai air krang. Kalau mau mandi-mandi nanti ayah akan ajak kalian mandi di kolam nanti." Anton menjelaskan.
Dian memang tidak tahu dengan keadaan di kota, ia dulu ke kota saat usianya baru menginjak setahun dan dua tahun. Sekarang usianya sudah menginjak enam tahun. Anton ingin memasukkan Dian di taman kanak-kanak di sana.
"Sudah yah, pembicaraan selesai sampai disini! Ini sudah malam! Karena kamu sudah selesai makan, sekarang kamu tidur yah! Lihat tuh kedua adik perempuan mu, mereka sudah tertidur." Anton lanjut berkata membujuk Dian untuk istrahat.
Dian menggeleng. "Dian, belum mau tidur Ayah! Dian belum ngantuk!" ucapnya sambil memasang muka cemberutnya, dan melipat kedua tangannya di dada. Sikapnya itu kembali membuat Anton dan Namlia tertawa.
"Baiklah kalau begitu!" Anton mengalah. "Ayah akan mengajakmu untuk melihat suasana malam hari di tengah laut ini, ok!" ucap Anton sambil menggendong putranya itu. "Yeah! Dian mau..mau.. Ayah..!" seru Dian dengan antusias.
"Ssttssstt! Jangan teriak! Nanti adikmu terbangun!"
Anton pun segera berdiri masih dengan menggendong anaknya. "Sayang, aku ajak Dian ke dek tujuh yah. Kamu istrahat lah dengan kedua putrimu." pamit Anton. "Iya sayang, hati-hati yah!" sahut Namlia.
Anton pun membawa Dian ke dek tujuh. Mereka duduk di salah satu kapal kapal kecil yang terdapat pada sisi kanan kapal.
"Ayah, pemandangannya sangat indah. Dian, ingin punya kapal sendiri nanti kalau besar." ucap Dian dengan tersenyum bangga.
"Baik, jadilah anak yang pintar! Biar jadi anak yang sukses kedepannya!" Anton menyemangati anaknya.
"Ayah, Dian mengantuk. Anginnya membuat Dian ingin tidur." ucap Dian lagi sambil menguap.
"Kau ngantuk? Tidurlah!"
Dian mengangguk sambil menguap lebar. Ia pun tertidur di pangkuan ayahnya. Setelah di rasa cukup lama Anton membiarkan Dian tertidur dalam pangkuannya. Ia pun menggendong Dian masuk kembali ke dalam kamar kapal dengan hati-hati dan pelan-pelan agar ia tidak terbangun.
Melihat suaminya sudah datang, Namlia menanyakan tentang anaknya itu. " Apa dia sudah tidur?" Anton mengangguk. Namlia merapikan tempat tidur di samping kedua putrinya untuk tempat tidur putranya tersebut.
Setelah siap, Anton membaringkan tubuh Dion dengan pelan-pelan. "Kamu belum tidur, istriku?" Anton bertanya sambil menyelimuti putranya. Lalu Ia duduk di samping istrinya. "Mana bisa aku tidur, jika tidak ada suamiku di samping ku! Ini bukan di rumah, tapi di atas kapal! Mana boleh aku tidur sembarangan tanpa ada yang mengawasi ku! Apalagi ada kedua putriku disini. Jika kami tidur semua siapa yang akan menjaga kami?" Namlia menjawab dengan manjanya kepada suaminya.
Anton terkekeh kecil. "Kamu ini, ada-ada saja! Kita berada di dalam kelas. Bukan di deretan ekonomi. Seharusnya tidak jadi masalah jika kalian tidur semua." Anton menjelaskan sambil membelai kepala istrinya dan mengecupnya lembut. "Sekarang tidurlah! Aku sudah berada di samping mu!"
"Dengan senang hati, suamiku sayang! Selamat malam, muach." Namlia mencium singkat bibir Anton lalu berbaring di samping putranya itu.
Anton juga ikut berbaring di samping istrinya. Ia memeluk tubuh istrinya dari belakang, mendekapnya dengan erat. "Beraninya kamu menggodaku! Untung saja ini di atas kapal, jika tidak_"
Namlia memotong ucapan suaminya dengan cepat. "Jika tidak, kenapa Tuan? Apa Tuan menginginkannya?" Namlia sengaja terus menggoda suaminya itu.
"Sudahlah, tidurlah!" Anton pasrah, ia memang tidak bisa beradu mulut jika sudah menyangkut hal sensitif begitu dengan istrinya.
"Ok," sahut Namlia dengan terkekeh. Ia pun mulai tertidur, begitu juga dengan Anton.
.. ..
__ADS_1
Malam ini Halim terpaksa menemani Denis ke Club untuk menemui Samnia, kekasih Denis.
"Makasih Bang, Abang mau menemani Denis ke sini. Abang memang yang terbaik!" puji Denis
"Sudahlah, tidak usah banyak memuji. Itu sana Samnia." Halim menunjuk Samnia yang duduk di tempat biasa di setiap datang ke Club. "Pergilah temui dia!"
"Abang tidak ikut masuk?"
"Tidak, Abang di luar saja, ingin jalan-jalan di sekitar sini!" ucap Halim.
"Ok, jangan jauh jauh jalannya, Bang!" sahut Denis.
"Hum, kalau Abang belum datang kesini nanti, setelah kalian berdua selesai berbicara, langsung pulang saja yah. Jangan nungguin Abang!"
"Memangnya Abang mau kemana?" Denis bertanya penasaran.
"Gak kemana-mana! Masuklah sana! Jangan buat Samnia menunggumu lama!" ucap Halim sambil mendorong Denis masuk kedalam Club.
Denis akhirnya menemui Samnia. Dan mereka berbicara hangat layaknya sepasang kekasih yang saling jatuh cinta. Sedangkan Halim ia pergi ke sisi Club. Ia mengamati orang-orang yang masuk melalui pintu yang di jaga ketat oleh dua orang penjaga.
Kalau tidak salah ingat, waktu malam itu Halima berlari dari arah ini. Bagaimana Halima bisa keluar, jika penjagaannya saja seperti ini? Apa malam itu mereka sedang lalai dalam berjaga? Atau dia di sengaja di bawa keluar sama salah satu pelanggannya? Halim membatin.
Halim terus mengamati mereka. Ia melihat Halima sedang keluar dengan seorang pria. Namun Halim bisa melihat dengan jelas jika Halima mengikuti pria itu dengan terpaksa.
Halim mengikuti arah kemana mereka pergi, tanpa di ketahui oleh Halima.
Mereka pergi ke hotel? Untuk apa? batin Halim
Setelah mereka pergi dari meja resepsionis, Halim mendatangi resepsionis tersebut. Ia menanyakan tentang pasangan yang baru pergi itu.
"Iya Mas! Bagaimana, apa ada yang bisa di bantu?" tanya sang resepsionis dengan tersenyum.
"Em, begini Mba. Boleh nanya, wanita yang baru saja mengambil kunci kamar itu, berada di kamar no. berapa ya, Mba?" Halim bertanya dengan wajah datar, namun sebenarnya ia sangat gugup.
"Oh, maksud Mas, nona Halima?" sang resepsionis bertanya untuk memastikan.
"Iya, Halima. Kamarnya no. berapa ya, Mba?"
"Ada hubungan apa Mas dan nona Halima kalau boleh saya tahu? Maaf, kami tidak bisa memberikan informasi apapun kepada orang luar!" ucap sang resepsionis menjelaskan.
"Saya, temannya. Saya di suruh kesini menemuinya. Namun sayangnya, saat sampai disini ternyata saya terlambat datang. Dia sudah keburu masuk, saya ingin menyusul tapi, saya tidak tahu no. kamarnya." ucap Halim berbohong.
"Oh, seperti itu rupanya, nona Halima berada di kamar no. 718 di lantai tiga sebelah kanan." Akhirnya sang resepsionis percaya dengan ucapan Halim dan memberi tahu no.kamar Halima.
"Oh, terima kasih Mba. Em, boleh minta tolong lagi, Mba?" Halim lanjut bertanya.
"Boleh Mas, silahkan katakan saja!"
"Boleh berikan saya kunci duplikat kamar tersebut." ucap Halim ragu-ragu.
Untuk apa minta kunci duplikat nya? Apa benar Mas ini hanya temannya? Atau pacarnya? Udahlah kasihkan saja! sang resepsionis membatin, sambil melihat Halim ragu-ragu.
"Oh, tunggu sebentar yah Mas!"
__ADS_1
Sang resepsionis mengambil kunci duplikat dari dalam laci yang isinya adalah kunci duplikat di setiap kamar yang ada di hotel ini. Yang masing-masing telah disimpan sesuai dengan no. kamar. Setelah dapat kuncinya, ia memberikannya kepada Halim.
"Ini Mas, mohon nanti kembalikan lagi kepada saya kuncinya ya, Mas!" ucap sang resepsionis sambil menyerahkan kunci tersebut. Halim menerimanya. "Terima kasih, Mba!" sahut Halim.
Setelah melihat anggukan kepala sang resepsionis, Halim segera pergi menuju lift, yang membawanya ke lantai tiga. Setelah sampai di sana, ia melihat angka-angka yang ada di depan pintu kamar yang hanya berada di deretan sebelah kanannya saja.
"Ini dia, kamar nomor 718."
Apa yang kulakukan ini benar? Ini sebenarnya salah, tapi aku mencari pembenaran sebelum aku akan membantu dia. batin Halim.
Dengan perasaan takut, ragu, gugup, dan gemetar Halim membuka kunci kamar secara pelan-pelan. Lalu ia membuka pintunya dengan pelan-pelan juga. Gelap suasana yang pertama dilihat Halim saat masuk, hanya sedikit cahaya yang menerangi dari balkon kamar.
Ia terus melangkah dalam kegelapan, mendekati pintu kamar. Halim mulai mendengar suara orang yang sedang berbincang. Namun ia tidak mendengar suara Halima. Ia hanya mendengar suara pria. Dengan sangat pelan dan tanpa suara, Halim membuka sedikit pintu kamar tersebut. Ia melihat seorang pria yang sedang berbicara melalui sambungan telepon genggamnya tanpa pakaian atas, ia hanya memakai handuk yang melingkar di pinggangnya. Kemudian Halim melihat Halima yang baru datang menggunakan handuk yang bermodel baju tidur.
"Sudah selesai menelfon?" Halima mendekati pria tersebut dan melingkarkan tangannya ke leher pria itu.
"Hum, sudah selesai!" sahut sang pria sambil mengecup bibir Halima. Halima membiarkan pria itu menciumnya. Namun di detik selanjutnya Halima sengaja menghindari ciuman pria itu yang semakin menuntut untuk lebih.
Halima mendorong tubuh pria tersebut dengan pelan.
"Kamu gak sabaran sekali," ucap Halima sambil tersenyum dan melangkah menuju meja yang tersedia dua gelas dan satu botol minuman arak.
"Kamu benar aku sudah tidak sabar, ingin memakan mu!" sahut pria itu sambil melangkah mendekati Halima.
Halim bisa melihat dengan jelas jika Halima menuangkan beberapa kali tetes obat ke dalam gelas kosong yang ada di depannya, baru Halima menyimpan kembali botol mini obat itu kedalam sak depan handuknya itu.
Halima membuka tutup botol arak nya dan menuangkan kedalam gelas yang berisi obat tersebut kepada pria yang ada di belakangnya yang sekarang sudah memeluknya.
"Ini, minuman mu! Sebaiknya kita minum dulu, jangan terburu-buru!" ucap Halima sambil memberikan gelas itu kepada pria tersebut. Pria itu mengambilnya sambil tersenyum. "Baiklah! Aku ikuti cara main mu!" sahut pria tersebut.
Halima kembali menuang minuman kedalam gelas kosong satunya untuk dirinya. Lalu mengangkat nya. "Mari bersulang!" Mereka pun bersulang. Pria tersebut meminum minumannya dalam satu kali teguk. "Mau nambah minumnya?" tanya Halima. Pria tersebut mengangguk. Halima kembali menuangkannya. Lagi-lagi pria itu meminumnya dalam sekali teguk. Sedangkan Halima baru meminum tiga kali teguk minumannya.
Halima mulai melihat dari tingkah laku pria tersebut jika obatnya sudah mulai bereaksi. Halima mengambil gelas pria tersebut dan menyimpannya di atas meja, berikut dengan gelas minumannya.
Ia mulai merapatkan diri pada pria itu, dan memulai menciumnya.Tak tinggal diam, pria tersebut membalas ciuman Halima dengan mulai kehilangan kesadaran.
Ia melepas ciumannya dan membawa Halima ke atas ranjang. Ia kembali mencium bibir Halima yang berada di bawahnya. Dan di saat ia memberikan tanda di leher Halima, kesadaran pria tersebut habis. Ia tertidur dengan nyenyak.
"Syukurlah obat itu cepat bereaksi!" ucap Halima sambil mendorong tubuh pria tersebut ke sampingnya. Baru ia bangun. Di saat itulah Halima baru tersadar jika pintu kamarnya terbuka sedikit.
Halim segera bersembunyi di balik dinding kamar, saat Halima berjalan mendekati pintu.
"Tidak ada orang, mungkin si tua bangka itu tidak menutup pintu dengan rapat." gumam Halima sambil keluar dari kamar berjalan menuju meja dapur. Halima menuang air dan meminumnya.
"Pekerjaan ini sangat menjijikan! Jika dari awal ku tahu si bajingan itu membawaku di tempat pelacuran, aku tidak akan sudi menerima tawarannya untuk bekerja! Brengsek kamu Kevin! Kamu membuatku terperangkap di lembah dosa ini!"
Hati Halim tersentuh saat melihat Halima terduduk lemah di lantai sambil menangis sendu.
"Brengsek kamu Kevin, aku membencimu dengan segenap jiwaku. Aku membencimu..!"
Lama Halima merenungi nasib buruk nya, ia kembali berdiri dan menghapus air matanya.
"Sekarang aku harus tidur di samping pria mesum itu. Setelah dapat uang besok baru aku kembali ke Club, jika tidak pasti kena marah lagi dari bos. Untung saja perjanjian denganku hanya sekali pakai. Jika tidak mampus lah aku!"
__ADS_1
Gumam Halima sambil masuk ke dalam kamar. Ia menutup pintunya dengan rapat. Saat itulah Halim menggunakan waktunya untuk keluar dari kamar hotel tersebut.