Takdir Syakila

Takdir Syakila
eps 124


__ADS_3

Di kediaman Sarmi.


Sarmi sangat resah sekali, sudah beberapa jam yang lalu ketiga anaknya pergi mencari Syakila, tetapi di antara mereka bertiga belum ada yang kembali ke rumah, atau menghubunginya untuk sekedar memberi informasi. Apakah mereka sudah menemukan Syakila atau belum?


Ia duduk dengan tidak tenang, berdiri pun juga tetap gelisah. Ia mondar-mandir sendirian di depan televisi yang sedang menyala. Ia benar-benar khawatir, Syakila tidak ada di rumah sakit, Syakila juga belum datang kerumah. Lalu, kemana perginya gadis itu?


Brum!!


Sarmi membuka pintu rumah dengan cepat ketika mendengar deru suara mobil yang terhenti. Ia keluar dan melihat Ijan sedang menurunkan Geo dari dalam mobil. Ia hanya melihat Ijan dan Geo saja yang turun dari mobil tersebut. Ia tidak melihat Syakila, wajahnya berubah menjadi murung.


Apakah ini artinya Geo tidak menemukan Syakila? Bagaimana dengan Hardin? Fatma dan Johansyah? Apakah mereka juga tidak menemukan keberadaan Syakila? Syakila anakku, kamu di mana, nak? Apa yang membuatmu tidak pulang ke rumah?


”Mama, ”


Geo menyapa Sarmi yang berdiri di pekarangan rumah dengan wajah sedih. Ia menyiratkan Ijan untuk pergi dari tangannya yang naik ke atas. Ijan pergi setelah ia mengangguk paham atas isyarat yang di berikan tuan nya.


”Geo... Syakila....”


”Mama, masuklah ke dalam. Di luar terlalu dingin, gak baik untuk kesehatan jika terlalu lama terkena angin malam.” pangkas Geo datar.


Sarmi menurut, ia memutar badan, masuk kembali ke dalam rumah. Apa yang di katakan anak mantunya itu benar, apalagi ia pernah menderita penyakit paru-paru basah. Geo mendorong kursi rodanya sendiri menyusul Sarmi masuk ke dalam rumah. Ia menutup pintu.


”Kamu tidak menemukan Syakila? Di mana Hardin, Fatma, juga Johansyah?” tanya Sarmi. Wajahnya masih terlihat sedih.


”Aku tidak mencari Syakila sampai ke taman. Aku hanya mencarinya di rumah sakit, dan di tempat karate Syakila dulu. Tetapi, Syakila tidak berada di kedua tempat itu. Adik ipar dan kakak ipar sedang mencarinya di taman. Barangkali saja Syakila berada di sana untuk menyendiri.” ungkap Geo dengan tenang.


”Nak, apa kamu dan Syakila bertengkar sebelumnya?” ragu-ragu Sarmi bertanya.


Geo melihat Sarmi. Mama mertuanya itu sedang menatapnya dengan wajah sedih dan pandangan sayu, mengharap sebuah jawaban yang jujur darinya.


”Tidak, Mah. Mengapa Mama berpikir aku dan Syakila akan bertengkar? Kami berdua baik-baik saja, Mah.”


”Lalu, mengapa kamu menyuruh Syakila mengunjungi Sardin? Apakah Syakila membuat kesalahan padamu? Apa kamu harus menyuruh Syakila pergi di saat kamu marah padanya?”


Sarmi tetap bersikap tenang di hadapan Geo, namun, ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang terluka. Matanya berkaca-kaca, masih melihat Geo.


”Mama, apa yang Mama pikirkan tentang ku? Mana mungkin aku berbuat begitu pada istriku, sendiri!!”


Sarmi terdiam. Ia menunduk.


Jika mereka berdua tidak bertengkar, apa alasan Geo menyuruh Syakila pergi ke rumah sakit untuk menjenguk mantan pacarnya?


”Mama, Mama jangan banyak berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak ingin Mama salah paham padaku. Aku menyuruh Syakila pergi ke rumah sakit karena ada seseorang yang sedang mengikuti mobil kami saat kami keluar dari bioskop. Aku berpikir jika mereka itu salah satu musuhku yang sedang memburu ku. Aku tidak ingin melibatkan Syakila di dalamnya. Jadi, aku menyuruh dan mengantarkan nya ke rumah sakit.” ungkap Geo.


Sarmi masih terdiam. Perlahan air matanya jatuh membasahi pipinya mendengar tuturan Geo. Ia tidak ingin mempercayai ucapan Geo itu, Geo hanya memberi sebuah alasan yang konyol. Bagaimana bisa Geo memiliki musuh dalam kota ini, sementara Geo tinggal di kota A? Pikir Sarmi.


”Tapi, tidak di sangka, orang yang memburu ku ternyata...dia ingin memburu Syakila. Ia di suruh oleh seseorang untuk melukai Syakila.” lanjut Geo berucap.


”A..apa? Orang itu..i..ingin melukai Syakila?” ucap Sarmi gugup dalam keterkejutannya, matanya terbelalak.


”Iya, orang itu mencari Syakila, bukan aku. Aku menangkap salah satu dari orang itu dan menginterogasi nya. Dia mengaku di bayar untuk mencari Syakila oleh seseorang. Aku sedang berusaha mencari tahu siapa orang itu!”


Geo berhenti berbicara, ia melihat Sarmi yang sedang menunduk sambil memikirkan sesuatu, wajahnya sedikit pucat.


”Apa ada yang ingin Mama ceritakan padaku? Apa sebelumnya keluarga ini pernah menyinggung seseorang?” tanyanya kemudian.

__ADS_1


Sarmi mendongak, melihat Geo. Di pikirannya terlintas kembali peristiwa yang merenggut nyawa suaminya di kota A. Apa dia pantas menceritakan hal itu pada Geo? Sementara ini, Sarmi telah menutupi peristiwa itu selama beberapa tahun. Bahkan, ia tidak menceritakan hal itu pada anaknya yang lain. Ia juga menyuruh Syakila dan Fatma untuk tidak membicarakan hal itu pada adiknya yang lain dan membahas itu di masa depan. Lalu, haruskah ia menceritakan hal itu pada Geo? Bahkan, Johansyah, anak mantunya yang lain tidak mengetahui hal itu.


Apa aku harus menceritakan segalanya pada Geo? Bagaimana mereka bisa tahu posisi kami di kota ini sekarang? Apakah benar-benar keturunan atau saudara dari almarhum Kevin sudah mengetahui keberadaan kami dan sekarang sudah mulai mengincar keluargaku untuk balas dendam?


Sarmi menoleh ke arah pintu saat mendengar suara motor yang berhenti di depan rumahnya. Ia tahu suara motor itu adalah suara motor anaknya dan anak mantunya.


Pintu terdorong terbuka dari luar, Fatma segera masuk ke dalam rumah dan duduk membanting dirinya di kursi samping Sarmi. Tidak lama kemudian, Johansyah masuk. Ia duduk di samping istrinya.


”Kalian tidak menemukan Syakila?” tanya Sarmi.


Fatma menggeleng lemah. Hardin segera masuk ke dalam rumah, ia membanting helmnya ke lantai. Membuat semua orang di ruangan itu terkejut.


”Hardin!! Mana sopan santun mu?!” tegur Sarmi dan Fatma.


Hardin mengabaikan Fatma dan Sarmi. Jelas terlihat amarah di wajahnya. Ia mendekati Geo.


Bhugh!!


Ia meninju pipi kiri Geo dengan kuat. Sudut bibirnya berdarah. Sarmi, Fatma, Johansyah, bahkan Geo sendiri terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Hardin.


”Hardin!! Apa yang kamu lakukan?!” hardik Sarmi.


Hardin mengabaikan bentakan mamanya.


”Apa yang sudah kamu lakukan pada kakakku?!” tanyanya pada Geo. Suaranya meninggi, tangannya mencengkram kerah baju Geo.


Tangan Geo terkepal kuat, kedua rahangnya mengeras kuat. Tatapannya tajam menusuk memandang Hardin.


Orang ini jika aku tidak membalasnya dia akan berkesempatan lagi untuk memukulku. Apa dia kira dengan keadaan ku yang seperti ini aku tidak bisa menghajarnya?


Bhugh!!


Bhugh!!


Ia membalas meninju muka Hardin dua kali dan ia mendorong tubuh Hardin dengan kuat menjauh dari dirinya. Hardin terjatuh di lantai, kedua sudut bibirnya keluar darah.


”Jangan kamu mengira dengan keadaan ku seperti ini, aku tidak bisa membalas mu?! Kamu terlalu meremehkan aku, Hardin!! Jangan mengira aku bisa mentolerir semua perbuatan mu!” ucapnya. Ia menyeka darah yang ada di sudut bibirnya.


”Hardin! Geo! Apa-apaan kalian berdua ini?” bentak Sarmi. Ia mendekati Hardin yang terjatuh di lantai. Ia membantu Hardin berdiri. Johansyah dan Fatma menyaksikannya dengan ketakutan di wajahnya. Mereka tidak ingin ikut campur, mereka takut melihat wajah membunuh yang terpancar dari wajah Geo. Apalagi mereka sadar diri, jika mereka tidak tahu bela diri apapun.


Hardin melepaskan tangan mamanya dari lengannya. Ia menyeka darah dari kedua sudut bibirnya. Ia kembali berjalan ke arah Geo.


”Hardin!!” teriak Sarmi saat Hardin kembali melayangkan tinjunya pada Geo, Geo menghindar.


Geo menangkap tangan Hardin. Ia ingin meninju muka adik iparnya itu, namun, ia menahannya. Karena Sarmi jatuh lemas di lantai memandang mereka berdua yang sedang beradu kekuatan.


”Aku memang duduk di kursi roda, tapi jangan remehkan aku!! Camkan itu!!” ucapnya. Ia kembali mendorong tubuh Hardin menjauh darinya. Namun, kali ini buka dorongan kuat, hanya membuat tubuh Hardin bergeser kebelakang.


”Sudah, sudah!! Berhenti!! Apa yang kalian ributkan? Tidak kah kalian khawatir dengan tidak pulangnya Syakila?!” ucap Sarmi dengan tegas, suaranya meninggi.


”Ini semua karena dia, Mah!!” sahut Hardin dengan masih dipenuhi amarah sambil menunjuk Geo.


”Dia sudah membuat kakak menderita, karena dia kakak putus dengan pria yang kakak cintai, karena dia kakak tidak bahagia, karena dia juga sekarang kakak menghilang. Dia tidak pantas untuk kakak!! Tinggalkan kakak ku, Geo!!”


Fatma dan Johansyah tidak menduga akan perkataan yang terucap dari mulut adiknya itu. Begitu juga dengan Sarmi, ia berdiri meski kakinya masih gemetar untuk berdiri. Ia mendekati Hardin.

__ADS_1


Plak!!


Sarmi menampar pipi Hardin dengan keras. Fatma terkejut melihatnya.


Selama ini, aku tidak pernah melihat mama begitu marah begini kepada kami, anaknya. Meskipun kami bersalah, mama tidak pernah main tangan. Hardin memang keterlaluan sekali.


”Apa kamu sadar dengan ucapan mu, Hardin? Siapa kamu yang menginginkan perceraian untuk Syakila? Apa kamu tidak memikirkan reputasi kakak mu saat bicara lancang begitu?” ucap Sarmi.


”Minta maaf pada kakak ipar mu. Sekarang!!”


”Ta...tapi Mah__”


”Stop!! Mama tidak ingin mendengar ucapan mu yang membantah!! Cepat minta maaf pada kakak ipar mu!!” tegas Sarmi menyangga ucapan Hardin.


”Tidak akan!! Dari awal, kakak tidak bahagia dengannya. Dia pria kasar dan suka pemaksaan. Syakila akan menderita bila bersamanya terus.” sahut Hardin sambil memandang tajam Geo. Ia pergi meninggalkan ruangan itu setelah berucap. Ia pergi ke kamarnya masih d Ngan di baluti amarah.


Geo terdiam melihat Sarmi. Ia tidak menyangkal akan ucapan Hardin. Syakila memang tidak bahagia bersamanya sejak awal menikah. Lelaki yang di cintai Syakila juga bukan dirinya. Tapi, selama beberapa Minggu ini dia banyak berubah demi Syakila. Dia juga membuka hatinya yang kosong untuk Syakila, hingga wanita itu mengisi seluruh relung hatinya.


Meskipun begitu, ia tidak ingin membuat wanita yang di cintainya itu tidak bahagia. Dia akan mengalah, melepas, untuk kebahagiaan wanita itu. Apalagi di antara mereka memang sudah di rencanakan akan berpisah. Orang tua Syakila, mengetahui hal ini sekarang ataupun nanti sama saja nilainya. Jadi, biarlah Sarmi mengetahui hal itu sekarang. Syakila, wanita itu sangat baik, lembut, penuh cinta dan kasih. Sementara dirinya...dia pria egois, jahat...


Sarmi menangis, apa yang di katakan anak lelakinya itu benar. Syakila memang tidak bahagia dengan pernikahannya bersama Geo. Tetapi mereka berdua telah menikah dan dalam kehidupan mereka, mereka tidak mengizinkan perceraian.


”Mama, Mama yang tenang, yang sabar! Ucapan Hardin itu tidak penting.” ucap Fatma sambil memeluk, membelai punggung mamanya itu. Matanya berkaca-kaca.


”Fatma, di mana Syakila? Kemana perginya dia? Mama sangat khawatir padanya sekarang, Mama tidak terlalu memikirkan ucapan Hardin. Mama memikirkan keselamatan Syakila, ini sudah larut malam. Dimana dia sekarang, handphonenya juga gak aktif. Anak itu tidak pernah seperti ini.” ucap Sarmi masih dengan berderai air mata.


”Mama...” hanya itu kata yang mampu di ucapkan Fatma. Ia tidak tahu ingin menanggapinya bagaimana.


”Aku akan bercerai dengan Syakila setelah aku sembuh. Aku tidak akan menghalangi kebahagiaan Syakila.” ucap Geo.


Fatma dan Sarmi terkejut melihat ke arah Geo. Mereka tidak menyangka Geo akan menganggap serius ucapan Hardin.


”Ta..tapi__”


Ucapan Sarmi tersanggah dengan kepergian Geo dari ruangan itu. Geo pergi ke kamarnya.


”Ba.. bagaimana bisa Geo bicara seperti itu...dia dan Syakila... tidak...” lirih Sarmi berkata.


Fatma dan Johansyah saling memandang dengan sedih dan bingung. Apa yang harus mereka lakukan sekarang?


”Mama, sebaiknya kita istrahat malam ini. Besok, jika Syakila belum kembali ke rumah, kita lapor polisi saja, biar polisi yang mencari keberadaan Syakila.” ucap Fatma dengan lembut.


”Untuk ucapan Geo, tunggu kedatangan Syakila. Mereka akan saling berbicara. Aku tahu dalam kehidupan kita, perceraian di larang. Tapi, jika takdirnya Syakila seperti itu, kita tidak bisa menentang takdir dari yang kuasa. Kita hanya bisa mengikuti jalan takdirnya itu.” lanjut Fatma berucap.


Sarmi terdiam. Memikirkan ucapan Fatma. perlahan, tanpa berkata-kata, ia memaksa kakinya yang masih gemetar lemas itu berdiri. Ia melangkah masuk ke kamarnya tanpa bersuara sedikitpun. Hanya suara Isak tangis yang terdengar.


Fatma berdiri dari jongkoknya. Ia melihat suaminya, ia tersenyum sedikit melihat suaminya tersenyum untuk menenangkan dirinya.


”Sebaiknya kita istrahat sekarang, biarkan Hardin, Geo, dan mama menenangkan dirinya malam ini. Semoga besok, semuanya baik-baik saja.” ucap Johansyah.


Fatma mengangguk, ia mengikuti langkah kaki suaminya yang menuntun dirinya kembali ke kamar. Sebelum meninggalkan ruangan itu, ia menoleh sekali lagi melihat kamar mamanya yang tertutup rapat itu.


Kali ini mama benar-benar marah. Untuk kedua kalinya aku melihat mama seperti ini, marah, menangis, tidak berdaya seperti ini. Pertama waktu meninggalnya papa dan ini...Papa apa yang harus kami lakukan? Ya Allah...perbaikilah semuanya, agar semua baik-baik saja. Aku tidak ingin adikku bercerai dengan suaminya. Aku tidak ingin adikku dan kakak iparnya terus bersalah paham. Aku tidak ingin melihat mama bersedih dan rapuh.


”Iya, semoga semuanya baik-baik saja besok.” ucapnya kemudian.

__ADS_1


”Iya, kita beramal amal saja. Semoga saja sesuai dengan harapan kita. Kita adalah satu keluarga, aku juga tidak menginginkan keluarga ini berantakan.” sahut Johansyah.


__ADS_2