
Di perjalanan.
”Berhenti di restoran, yang di depan itu!” titah Geo pada supirnya.
”Baik, Tuan!” jawab sang supir.
”Tidak perlu! Bawa aku kembali ke sekolah saja. Aku ingin pulang, sampai di rumah bibi ku, baru aku makan.” tolak Sardin.
”Sayangnya, kamu tidak berhak untuk menolak tawaran ku!”
Sardin menggaruk kepalanya. Ia tidak dapat menolak Geo. Ia pun sebenarnya sudah lapar, saat keluar tadi, ia tidak sarapan.
Mobil berhenti di depan restoran. Supir turun dari mobil dan membantu Geo turun dari mobil.
Sardin juga ikut turun dari mobil. Ia mengikuti langkah Geo dan supirnya yang masuk ke dalam restoran.
Geo dan Sardin duduk berdua di satu meja. Sedangkan sang supir, duduk sendirian dengan jarak dua meja dari mejanya mereka.
”Pelayan!” tangan Geo terangkat ke atas, memanggil salah satu pelayan restoran tersebut.
Sang pelayan datang dengan membawakan daftar menu dari restoran itu. ”Silahkan, Pak, ini menu makanan dan minumannya.” ia memberikan daftar menu itu pada Geo.
Geo mengambil dan memberikan daftar menu itu pada Sardin, ”Pesanlah makanan dan minuman yang kamu suka!” titahnya.
”Kamu pesan saja makanan dan minuman yang kamu makan. Apapun yang kamu makan, itu juga yang akan aku makan.” Sardin mengembalikan buku menu itu pada Geo.
”Baiklah! Cap cay goreng seafood, paket ikan nila asam manis, es mokacino untuk tiga porsi. Dua porsi bawa kemari, satu porsinya bawa pada meja itu.” Geo menunjuk meja yang di duduki oleh supirnya.
Sang pelayan mengikuti arah tunjuk Geo dan mengangguk mengerti. Ia pun mencatat pesanan Geo.
Sardin melihat Geo seakan tidak percaya. Pria yang terlihat dingin, dan selalu menunjukkan wajah datar itu ternyata memiliki sifat hangat.
Pantas saja anak buahnya selalu menghormati dia. Dia memiliki sisi baik di balik wajah dinginnya itu. Apa benar Syakila tidak tertarik dengan Geo yang tampan, cool, mapan, dan berharta ini? benaknya.
”Baiklah! Apa masih ada yang ingin di pesan, Pak?” tanya sang pelayan tersebut.
”Tidak ada! Itu saja!”
”Baik, tunggu sebentar ya, Pak! Pesanannya akan kami siapkan!”
”Hum!”
Pelayan itu pergi dari sana. Ia menyiapkan pesanan Geo.
”Kenapa? Kamu sedang berpikir apakah Syakila tidak tertarik sedikitpun padaku?” ucap Geo.
Sardin tersenyum kecil, ”Kamu menebak jalan pikiran ku dengan tepat! Tapi, pertanyaan itu akan ku tanyakan nanti pada Syakila.”
”Jika kamu punya kesempatan untuk bertemu dengan Syakila, tanyakanlah padanya. Aku juga ingin tahu, mengapa dia tidak tertarik sedikitpun padaku? Setelah kamu mendapatkan jawabannya, tolong beritahu aku!”
Sardin terdiam sesaat. ”Apa kamu mencintai Syakila, terlepas dari perjanjian yang di lakukan antara Halim dan Albert?” ia penasaran akan perasaan Geo kepada Syakila.
”Apa kamu mencintai Syakila?”
Sardin terkejut, Geo melempar pertanyaan itu padanya. ”Iya, aku mencintainya! Sangat mencintainya.” jawabnya jujur. ”Bagaimana dengan mu?”
”Apa yang membuat mu mencintainya?” tanya Geo lagi.
”Dia berbeda dari wanita yang pernah aku temui. Aku kenal dia dari kecil, dan kami berpacaran dari kecil. Dia cantik, baik, setia, dan bukan wanita yang matre. Kecantikannya terpancar dari kelembutan, kebaikan hatinya. Senyumnya sangat menawan.” ia tersenyum sendiri mengkhayalkan Syakila.
Geo sedikit cemburu, ia tidak suka ada pria lain yang mengkhayalkan istrinya, Syakila.
”Ekhem! Apa kamu tidak takut berbicara seperti itu di hadapan ku? Di hadapan suaminya Syakila sambil mengkhayalkan istriku itu?”
Sardin tersenyum, ”Dan kamu! Apa kamu tidak takut jika aku mengambil kesempatan ini untuk merebut Syakila darimu? Membuatnya semakin membenci mu dan secepatnya pergi darimu!”
”Awalnya aku ingin menghancurkan mu, karena Syakila begitu mencintai mu! Tapi, sekarang, aku tidak perlu melakukan hal itu. Namun, sifat cemburu ku tidak bisa tertepis begitu saja. Apa yang membuat Syakila begitu mencintai mu?”
Sardin melihat Geo dengan serius. ”Kenapa? Kamu ingin menjadi seperti aku agar di cintai Syakila? Apa menurutmu aku akan memberitahu padamu, apa yang Syakila sukai dari ku?”
”Kamu bukan pria yang picik, aku percaya padamu!”
Sardin tertawa.
”Permisi, Pak! Ini pesanannya!” pelayan tersebut menata makanan dan minuman di atas meja. ”Silahkan di cicipi, Pak!” ia tersenyum, melihat Sardin dan Geo.
”Hum, terima kasih!” sahut Sardin dan Geo.
Pelayan tersebut pergi menghampiri meja supir Geo dan memberikan makanan dan minumannya. Setelah itu, ia pergi dari sana.
”Kamu tidak perlu menjadi aku untuk di cintai Syakila. Jika dia mencintai mu, dia akan mencintai mu apa adanya. Aku...Syakila adalah wanita yang pendiam. Dia sangat baik dan penyayang. Dia juga tipe wanita yang setia dan selalu menepati janji.” ia menjeda ucapannya.
Geo mendengarkan Sardin sambil memakan makanannya.
Sardin berwajah sedih, ia tersenyum kecut. ”Jika bukan karena janjinya pada almarhum ayahnya dulu, dia tidak akan menikahi mu. Tapi, sebelum ayahnya meninggal, beliau mengikat janji dengan Syakila untuk menyetujui dan menerima apapun permintaan dari Albert maupun Rosalina, jika mereka berdua datang untuk menagih hutang.” ungkapnya.
Geo menghentikan makannya. ”Kamu makanlah dulu. Habis makan baru kita lanjut bicara.”
Sardin mulai memakan makanannya, dan Geo melanjutkan makannya.
__ADS_1
Dia teguh dengan janjinya! Jika begitu, dia akan tetap menikah dengan Sardin. Secara tidak langsung, Sardin mengatakan padaku, aku dan Syakila sudah mengikat janji untuk bercerai, maka aku harus menepati janjiku itu. Tapi, itu tidak akan terjadi!! Syakila istriku, milikku!! benak Geo.
Syakila, aku merindukan mu! Sangat rindu, kakak ingin bertemu dengan mu. Tinggal hari ini dan besok aku berada di sini. Aku kira kita akan bertemu hari ini dan menghabiskan waktu bersama. Ternyata tidak! Suami mu ini..dia mencintaimu dengan caranya sendiri. Aku tidak yakin jika dia mau menceraikan kamu. benak Sardin.
.. .. ..
Di kediaman Albert.
Syakila tidur dengan gelisah di kamarnya. Ia bangun dan berjalan ke arah jendela. Ia melihat di pagar rumah. ”Apa mereka berdua tidak capek berdiri terus di sana? Tidak kah mereka berdua untuk istirahat, makan siang, setidaknya!” ia mendengus kesal.
”Apa kak Sardin sudah datang ke sekolah? Apakah sudah bertemu dengan Antonio? Apakah Antonio akan mengatakan yang dia ketahui pada kak Sardin?”
”Argh! Geo sialan! Aku membencimu!” ia begitu frustasi. Ia ingin pergi keluar tapi di halangi oleh kedua pria yang bertugas menjaga pintu pagar.
Ia teringat akan pintu dinding yang ada di belakang taman bunga. Ia berjalan ke lemari pakaian Geo. Menggeledah dengan pelan isi lemari pakaian itu, kiranya ia bis menemukan sesuatu di sana.
Ia melihat ada laci kecil di dalam tumpukan celana Geo. Ia membuka laci itu. Di lihatnya ada laptop.
Syakila mengambil laptop itu dan menaruhnya di atas meja hias, ia pun duduk di kursi. Ia membuka laptop itu dan menyalakannya.
Ia terkejut, ternyata ada cctv di kediaman Alber yang terhubung dengan laptop di hadapannya itu.
Ia membuka video yang telah lalu secara acak. Ia melihat Geo berjalan keluar rumah, pergi ke taman dan terus berjalan melewati taman.
”Ini adalah jalan yang ku lewati tadi.” matanya terus menatap layar laptop.
Geo sampai di dinding yang membuat Syakila penasaran itu. Syakila memperhatikan Geo dengan seksama. Di lihatnya Geo menggeser pot bunga yang berada di urutan tengah dan pintu dinding itu pun terbuka.
Syakila tersenyum senang. ”Akhirnya aku tahu cara membuka pintu itu. Tapi, pintu itu akan membawa ku kemana nanti?” ia sangat penasaran. Namun, ia tahu, ia tidak akan menemukan jawabannya dari tangkapan cctv.
Ia menutup laptop dan menaruh kembali laptop itu ke dalam laci lemari.
”Kalau aku tidak melewati dinding itu, aku tidak akan tahu kemana tujuan dari arah itu.” gumamnya.
Ia keluar dari kamar dan turun ke bawah dengan terburu-buru.
”Syakila, kamu sudah turun? Tadinya Mama ingin pergi ke kamar mu. Kamu belum makan apapun dari pagi. Apa kamu tidak lapar?” ucap Rosalina, ia berpapasan dengan Syakila di ujung tangga turun.
”Maaf, Mah! Syakila tidak lapar!”
”Kamu marah sama Geo, jangan lampiaskan pada dirimu, Nak! Kalau gak makan, kamu gak akan ada tenaga.”
Syakila menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah seseorang yang menuruni anak tangga.
Ia melihat Beni yang rapi. ”Beni, kamu ingin keluar?” tanyanya.
”Iya,”
Rosalina dan Beni saling memandang. Mereka berdua tidak tahu dan terlihat bingung untuk menjawab Syakila.
”Bagaimana, Beni? Apa kamu sedang buru-buru?” tanya Syakila lagi.
Beni menghela nafas, ”Em...” ia benar-benar ragu untuk menjawab, ia menggaruk alisnya sambil berfikir. Apa dia bawa saja Syakila? Tapi, dia takut tanpa seizin Geo. ”Syakila, maaf, ya. Aku sedang terburu-buru! Kamu nanti berbelanja nya sama Tante saja, kebetulan Tante sore ini akan pergi berbelanja.” ia melihat Rosalina, ”Ya kan, Tante?” tanyanya.
Senyum Syakila memudar, ia tahu Beni tidak akan membawanya keluar dari rumah, Beni takut pada Geo.
”Em...” Rosalina tidak meneruskan ucapannya, Syakila segera memangkasnya.
Syakila menghela nafas, ”Baiklah! Tidak usah banyak memberiku alasan, pergilah! Aku tidak akan keluar bersama mu. Aku tahu, kamu dan juga Mama takut untuk membawaku keluar, takut pada Geo.” ia berjalan dengan cepat menuruni anak tangga. Ia terus berjalan keluar rumah, ia pergi ke taman.
Beni dan Rosalina sama-sama menghela nafas.
”Tidak apa-apa, Tante! Dia tidak akan, dia mengerti dengan posisi kita.” ucap Beni.
”Kamu mau kemana?”
”Ingin mencari Geo, Tante! Handphonenya sampai sekarang belum bisa di hubungi.”
”Kamu ingin mencarinya kemana? Tante ikut kamu yah.”
”Tidak usah, Tante! Biar Beni saja, Tante temani Syakila saja di rumah. Biar ada orang juga yang bisa di ajaknya berbicara.”
”Baiklah! Kamu hati-hati di jalan!”
”Iya, Tante! Beni pergi dulu! Assalamu a'laikum!” pamit Beni.
”Wa 'alaikum salam!”
Beni pergi. Ia menyempatkan waktu melihat Syakila yang duduk jongkok di depan bunga. Lalu ia pergi.
Mama tidak ikut Beni keluar? Kalau Mama tidak keluar, bagaimana bisa aku keluar dari pintu itu? Mama pasti sedang memperhatikan ku. benak Syakila.
.. ..
Di restoran.
Sardin, Geo, dan sang supir telah selesai makan. Namun, mereka tetap berada di tempatnya masing-masing.
”Aku mencintai Syakila! Aku tidak akan melepaskan dia untuk pria lain!” ucap Geo, dengan tegas.
__ADS_1
Benar apa dugaan ku! Geo tidak akan melepaskan Syakila. benak Sardin.
Ia menghela nafas, ”Tidak masalah untuk ku! Aku tidak akan berebutan dengan mu! Dia bukan barang yang harus di perebutkan. Aku menghormatinya, menghargainya, mencintainya. Tidak ingin menyakitinya. Apapun keputusannya, aku akan menerimanya. Seperti aku, melepaskan dia untuk menikah dengan mu.” ia tak kalah seriusnya bicara pada Geo.
Geo terdiam, ucapan Sardin seperti sebuah sindiran untuk dirinya yang berbuat kasar pada Syakila, tidak menghargainya, tidak menghormatinya.
”Jika sudah tidak ada yang perlu di bahas lagi, sebaiknya antar aku kembali ke sekolah.” ucap Sardin.
Geo melambaikan tangan, namun, bukan untuk memanggil pelayan.
Sang supir datang menghampiri. ”Saya akan membayar makanannya dulu, Tuan!” ucapnya.
Dia mengerti dengan lambaian tangan Geo. Dan dia juga mengerti ucapan Geo yang tidak bersuara itu. benak Sardin.
Ia pun pergi membayar makanan dan minuman yang mereka makan tadi. Setelah itu, supir tersebut kembali menghampiri Geo dan Sardin.
Ia mendorong kursi roda Geo keluar dari restoran. Sardin mengikuti di belakangnya. Mereka masuk ke dalam mobil.
”Kembali ke sekolah.” ucap Geo.
”Baik, Tuan!” sahut sang supir. Ia menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.
Sepanjang perjalanan, Geo dan Sardin sama-sama terdiam.
Syakila, apa yang akan kamu lakukan nanti jika Geo tidak akan menceraikan mu? Ku harap, kamu tidak akan melakukan hal bodoh!
GEO, aku harap! Kamu tidak akan menahan Syakila. Kamu belum tahu dia. Jika dia sudah berkata dan bertekad, meskipun kekuatan mu besar, Syakila tidak akan diam dan menerima keputusan mu. benak Sardin.
Apakah rasa sayang, rasa menghargai, rasa hormat Sardin yang membuat Syakila begitu mencintai Sardin? Bukan kah, beberapa bulan ini aku sudah menghargai, Syakila kan? Tapi, tetap saja Syakila tidak mencintai ku! Jika cara lembut tidak berguna, cara kasar akan berguna kan? Jangan salah kan aku berbuat begini, Syakila! Kamulah yang membuat ku untuk kasar padamu. Kamu takut aku, membenci ku, tidak masalah untuk ku! Yang penting kamu tetap istri ku, tetap di samping ku! benak Geo.
Sardin dan Geo sama-sama menghela nafas kasar. Mobil berhenti di depan sekolah, tempat Syakila mengajar.
”Jangan mengurung Syakila! Jangan membatasi ruang lingkupnya! Biarkan dia tetap mengajar. Dia tidak akan membenci mu jika kamu menghargai keputusan nya!” nasehat Sardin. Ia membuka pintu mobil dan segera keluar, tanpa menunggu sahutan ataupun jawaban Geo.
Geo berwajah datar! ”Jalan! Kembali ke rumah!” titahnya pada sang supir.
Sang supir mengangguk dan lanjut menjalankan mobilnya.
Sardin melihat mobil Geo yang melaju. Ia tersenyum, ” Aku harap, Syakila tidak membenci mu, Geo! Aku melihat besarnya cinta mu pada Syakila, seperti besarnya cintaku pada wanita itu. Tapi, cara mu mencintainya salah! Kamu baik, tampan, dan punya segalanya, cocok untuk Syakila.” gumamnya.
Ia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam. ”Argh! Kenapa kepala ku mendadak sakit begini?” tangannya memegang erat kepalanya. Kepalanya sangat sakit ia rasakan. Ia berusaha tenang, dan tidak emosi.
Tangannya terus memegang kepalanya. Ia mengambil handphone dari saku nya. Menghubungi seseorang. Telfon tersambung.
”Dian! Tolong ambilkan obat Paman di dalam koper pakaian Paman. Tolong antar kan pada Paman obat itu, kepala Paman sakit lagi.”
”Baik, Paman! Paman sekarang ada di mana?” tanya Dian.
”Paman ada di depan sekolah tempat Syakila mengajar.”
”Ok, Paman! Paman jangan kemana-mana! Dian dan papa segera ke sana!” tut tut tut! Telfon terputus.
”Argh! Sakit sekali!” jeritnya. ”Syakila! Aku butuh kamu!” gumamnya. Kepalanya begitu sakit! Rasa sakitnya, menusuk, tidak dapat ia menahannya.
Beberapa menit berlalu.
Tok tok tok!
Sardin melihat ke jendela mobil. Ia melihat Dian dan Anton mengetuk jendela mobilnya dengan khawatir.
Sardin membuka pintu mobil.
”Sardin! Geser ke sana!”
Sardin berpindah posisi, Anton masuk. Ia mengambil botol obat dan botol air minum dari tangan Dian.
Ia membuka penutup air minum, ”Ini, minum air dulu!” ia memberikan Aqua itu pada Sardin.
Sardin mengambil dan meminumnya.
Anton mengeluarkan tiga butir obat yang berbeda dari botol obat. Lalu ia memberikan obat itu pada Sardin. ”Sekarang, minumlah obat mu!”
Sardin mengambil dan meminum obatnya. Anton mengambil botol Aqua dan menutupnya. Ia membiarkan Sardin memejamkan mata sambil bersandar.
”Dian! Kamu pulang lah! Bawa motor dengan hati-hati! Papa akan membawa mobil, Paman mu tidak bisa menyetir.” ucap Anton pada anaknya, Dian.
”Iya, Papa! Dian pergi dulu.” pamit Dian.
”Hum!” sahut Anton.
Dian pergi dari sana, menyalakan motor dan mulai menjalankan motornya.
Anton melihat Sardin. Pria itu masih memejamkan mata. ”Bagaimana? Kepala mu masih terasa sakit?” tanyanya.
”Masih, Paman!”
”Kalau begitu, kamu berbaringlah!” Anton memencet tombol, kursi Sardin perlahan menurun, membentuk ranjang. ”Istirahatlah! Jangan banyak berfikir!”
Sardin mengangguk. Ia mengistirahatkan dirinya.
__ADS_1
Anton mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankannya.