
Kini mereka telah sampai di kebun, Sarmi menyambut mereka dengan senang hati. Karena hari ini entah mengapa perasaan Sarmi hanya ingin berbahagia saja.
"Assalamu 'alaikum, Ibu." ucap Syakila menyapa mamanya.
"Assalamu 'alaikum, Tante." ucap teman Syakila menyapa Sarmi
"Wa 'alaikum salam." sahut Sarmi dengan ramah. Kebetulan sekali Sarmi telah menyiapkan makan siang pas mereka datang.
"Kalian sudah makan belum sebelum pergi ke sini? Kebetulan Tante sudah menyiapkan makanan. Ayo kita rame-rame.” ajak Sarmi.
"Kami sudah makan, Tante." jawab mereka dengan kompak.
"Kalau begitu Tante, Syakila, dan Om makan dulu, yah! Kalian bisa duduk dulu di gode gode.” ucap Sarmi.
"Iyah Tante!" jawab mereka lagi kompak.
"Papah, Syakila, ayok kita makan bersama.” ajak Sarmi. ”Mama sudah menyiapkan semuanya disana."
Syakila dan Halim mengikuti langkah Sarmi. Mereka duduk bersama untuk menikmati santapan sederhana yang di masak oleh Sarmi.
"Kalian tidak mengajak Fatma kesini?" Sarmi Sarmi bertanya karena ia tidak melihat kehadiran anak pertamanya itu. Padahal sebelumnya ia bilang akan kesini hari ini.
"Tidak, Fatma sudah pulang ke rumah bibi setelah kami selesai bicara tadi." sahut Halim.
"Papah, sudah beritahu Syakila dan Fatma tentang kepergian mu ke kota A." Sarmi bertanya lagi.
"Iya Mah, Papa sudah beritahu kami." Syakila yang menjawab. Sarmi melihat suaminya, suaminya mengangguk mengiyakan.
Apa yang membuat Fatma betah sekali tinggal bersama bibinya, yah? Dia jarang sekali untuk menemui kami, apa karna bibinya lebih segalanya dari kami?
batin Sarmi.
Memang dalam Tiga bersaudara hanyalah kondisi Sarmi yang sederhana di bandingkan adik dan kakaknya. Kakaknya Edi adalah seorang tentara di kota A, sedangkan adiknya ia termasuk agen minyak tanah di desanya juga ia memiliki bis untuk beroperasi mengantar jemput penumpang ke desa dan ke pasar.
Mereka sekarang sedang makan dalam diam. Setelah selesai makan. Syakila bergabung dengan teman-temannya, ia mengajak teman-temannya untu pergi ke rumah atas. Mereka bermain disana.
Sedangkan Sarmi, Halim, dan Ibunya Sarmi sedang berbincang-bincang, di gode gode.
"Papah, sudah mengambil tiketnya?" tanya Sarmi
"Iyah, Mah. Papah sudah mengambilnya," Halim sambil mengeluarkan tiket tersebut dari sak celananya lalu memperlihatkannya kepada istri dan ibu mertuanya.
Sarmi mengambil dan melihat serta membacanya, setelah Sarmi melihatnya, ia memberikan itu kepada ibunya.
"Kenapa bukan namamu, Pa yang tertera di tiket?” tanya Sarmi dengan bingung memandang suaminya.
"Iyah, sebenarnya itu tiket untuk Anton, tapi ia urungkan niatnya untuk kembali ke kota A, dari pada tiketnya hangus, ia memberikannya padaku." ucap Halim menjelaskan.
__ADS_1
"Jadi, sebentar Papa tidak tidur disini. Papa, akan tidur di kampung, karena besok pagi-pagi sekali Papa harus tiba di pelabuhan. Anton sudah menghubungi pihak loket untuk mengganti nama Anton ke namaku dalam tiket ini." lanjut Halim menjelaskan.
"Oh begitu. Jadi, mulai sebentar malam kita akan berpisah, Papa.." Sarmi mulai berkaca-kaca. Ia sudah membayangkan hidupnya akan terasa hampa tanpa kehadiran suami disisinya.
Halim menyadari itu. Ia segera merangkul pundak istrinya, menyandarkan kepala istrinya pada bahunya. Ia bisa memahami kesedihan istrinya sekarang. Karena ia juga merasakan kesedihannya.
"Sabar, Mama. Papa, tidak akan lama perginya. Papa akan segera kembali untuk membawa kalian semua kesana. Kita akan hidup bersama-sama disana." ucap Halim menenangkan hati sang istri.
Bukannya tenang, Sarmi justru menumpahkan air matanya. Ia memeluk tubuh suaminya itu dengan erat. Halim hanya bisa mengelus-elus punggung istrinya untuk memenangkannya.
Tanpa sadar air matanya juga ikut menetes membasahi pipinya. Ia segera menghapus air matanya sebelum ada yang menyadarinya.
"Papah, Mama nanis enapa." Yuli bertanya kepada papanya karena ia mendengar suara tangisan mamanya.
Halim meraih tubuh kecil anak ke tiganya itu, ia mendudukkannya di pangkuannya. "Mama tidak apa-apa sayang, Mama hanya sedang sakit perut." Halim memberi alasan kepada anaknya sambil mencium pucuk kepalanya.
"Oh, Mama cakit pelut, Mama matan tida cuci tangan, Mama cakit pelut." sahut si Yuli.
Halim tertawa kecil mendengar ucapan anaknya itu.
"Anak pintar, jadi kalau mau makan itu, sebelumnya harus cuci tangan dulu, biar perutnya tidak sakit seperti Mama." ucap Halim mengajari anaknya.
"Iya Papa." sahut Yuli. "Tuh Mama, dengar tuh ucapnya Yuli sebelum makan harus cuci tangan, biar gak sakit perutnya." ucap Halim mencandai sang istri.
Sarmi mengangkat kepalanya dari bahu sang suami, ia menyeka air matanya. Ia tersenyum melihat Yuli yang masih duduk di pangkuan suaminya.
"Sebelum ke kampung, Papa carikan Mama kayu bakar lagi yah." ucap Halim memandang Sarmi.
"Kita sama-sama saja mencari kayu bakarnya, Papa." sahut Sarmi. Halim mengangguk.
Halim membujuk Yuli agar ia berdiri dari pangkuannya, karena Yuli enggan untuk berdiri saat di suruh berdiri.
"Yuli, Yuli sama nenek dulu yah, Papa dan Mama mau cari kayu bakar sebentar. Kalau tidak ada kayu bakar, nanti kita tidak bisa makan.” ucap Halim.
Yuli yang mengerti ia langsung berdiri dan berpindah duduk di pangkuan neneknya. Setelahnya Halim dan Sarmi pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.
"Apa yang membuat mu menangis tadi, Mah?” tanya Halim.
"Tidak ada Pa," sahut Sarmi berbohong.
"Kalau tidak ada, mengapa menangis? Apa ini karna keberangkatan Papa kesana?" tanya Halim selidik. "Papa tidak ingin Mama membohongi diri Mama, apalagi di saat-saat Papa akan berangkat. Jujurlah selalu pada Papa, utarakan semua yang Mama rasakan."
Sarmi menghentikan langkahnya, Halim ikut berhenti. "Sebenarnya Mama hanya merasa hampa, jika tidak ada Papa di samping Mama, Mama akan kesepian. Mama akan kehilangan bantal kepala Mama." ucap Sarmi sambil mengelus lengan suaminya. Karena lengan itulah yang menjadi bantal kepalanya.
Halim menarik nafas dalam-dalam, ia memeluk tubuh istrinya seketika, saat mendengar ucapannya.
"Papa mengerti apa yang Mama rasakan, karena Papa juga merasakannya disini." sahut Halim sambil mengambil tangan istrinya dan meletakkannya di dadanya. "Karena hati Mama dan hati Papa sudah menyatu semenjak kita menikah." ucap Halim.
__ADS_1
"Tapi Papa perginya akan lama, masa enam bulan pasti akan berlalu dengan tidak mudah, Pa. Lalu, bagaimana jika hati ini rindu? Sementara kita tidak memiliki apa-apa untuk berkomunikasi." ucap Sarmi dengan sedih.
Halim melepas pelukannya, ia memegang kedua bahu Sarmi. ”Lalu, Apa Mama mau Papa membatalkannya?"
Sarmi terdiam, ia memandang wajah suaminya lekat lekat. "Untuk kelangsungan hidup kita, Mama melepaskan Papa dengan doa-doa Mama. Semoga Papa sukses disana dan cepat kembali pada kami disini."
"Iya, aamiin.” Halim mengamini doa istrinya. ”Terima kasih atas doanya Mama. Papa akan segera kembali untuk kalian, karena kalian kehidupan Papa.” Halim meraih tubuh istrinya kembali dan membawanya dalam pelukannya. Ia mengecup pucuk kepala istrinya.
"Sudah, ayo kita cari kayu bakarnya, keburu masuk senja nanti." ajak Sarmi ."Papa dan Syakila juga temannya harus pulang ke kampung sebelum malam tiba."
”Iya, sayang!”
Halim melepas pelukannya dan mereka kembali berjalan masuk kehutan untuk mencari kayu bakar. Setelah mereka mengumpulkan banyak kayu bakar mereka langsung pulang. Kepulangan mereka di sambut riang oleh Yuli dan Ita.
"Hole... Papa, Mama atang...!" seru mereka. Halim dan Sarmi tersenyum melihat keriangan anak mereka. Halim segera menurunkan kayu-kayu bakar yang di pikul dari pundaknya.
Sarmi menyuruh suaminya untuk istrahat sebentar sebelum ia pulang ke kampung. Sarmi mengambilkan air minum untuk suaminya. Setelahnya ia memanggil Syakila dan teman-temannya yang berada di rumah atas untuk bersiap pulang. Sarmi melihat Syakila mengajari temannya untuk menanam dan merawat bunga. Sarmi mendekati mereka.
"Asya, turun Nak! Ajak temanmu sekalian. Sudah waktunya kalian untuk pulang ke kampung!”
"Iya Mama, sebentar lagi." sahut Syakila tanpa memandang mamanya, tangannya masih asyik memasukkan tanah-tanah kedalam galiannya tadi untuk menanam bunga.
"Jangan lama ya, Papa sudah menunggu kalian!" perintah Sarmi.
"Iya Mama." sahut Syakila. Sarmi segera turun kebawah. Ia duduk di samping suaminya.
"Mana Syakila dan teman-temannya?" tanya Halim karena ia belum melihat kehadiran anak keduanya itu beserta temannya.
"Sebentar lagi mereka datang, Papa!" sahut Sarmi. "Papa jaga diri yah sampai disana, terutama jaga hati Papa, jangan sampai mudah di rayu sama wanita lain." Sarmi berkata sambil menundukkan kepalanya.
Halim terkekeh mendengar kejujuran istrinya itu. Ia menatap istrinya yang menunduk, ia memegang dagu Sarmi lalu mengangkat wajahnya agar Sarmi melihat dirinya.
"Di hati Papa hanya ada satu nama, satu wajah, yaitu wajah mu, dan namamu, Sarmi." ucap Halim. Ia mengecup kedua pipi istrinya, kening lalu ia mencium bibirnya, ia menghisap, *******, lalu menggigit sebentar bibir bawah istrinya itu kemudian ia melepaskan ciumannya.
"Mama harap, akan selalu begitu Pa. Mama tidak ingin posisi Mama tergantikan oleh wanita lain di hati Papa." ucap Sarmi.
Halim mengangguk. ”Yakinlah Mah, cinta, hati, jiwa, dan raga Papa hanya milik Mama seorang. Papa sangat mencintai Mama.”
Halim dari jarak tidak jauh, ia melihat Syakila dan temannya sudah datang dari rumah atas.
"Anak-anak sudah datang, Papa pamit sekarang yah, Mah!" ucap Halim dengan sedih. ”Jaga diri Mama, selama Papa tidak berada di samping Mama." pesan Halim. Sarmi mengangguk.
"Syakila, ayok pamit sama Mama!" perintah Halim. Syakila mengangguk. "Mama Syakila pulang ke kampung dulu, nanti Syakila kesini lagi besok." pamit Syakila.
"Iya sayang! Hati hati di jalan ya, Nak!" sahut Sarmi. Teman-teman Syakila juga ikut berpamitan. Mereka semua menyalim tangan Sarmi lalu segera pergi. Sarmi terus memandang punggung mereka hingga tidak terlihat lagi.
Cepatlah kembali suamiku, kami merindukan mu disini, akan selalu merindukanmu.
__ADS_1
batin Sarmi.